"Dia akan baik-baik saja. Dia anak yang kuat, sama seperti Kaito dan Akaito."

"But he's still a child, Raito. Our son. Melihat wajahnya tadi saja sudah membuatku ingin membunuh diriku sendiri. Andai aku berhenti minum saat mengandungnya-"


Bandaged Melody

Chapter 2 – A Little Vivid Light

Hairaito merasa ciut melihat tubuh anaknya dipasangi berbagai macam selang. Dokter berkata, tadi mereka hampir saja kehilangan Taito kalau sedikit lebih lama. Ia memuji sikap Meiko yang bertindak cepat.

Ia menyeret kursi di salah satu sisi ruangan, menempatkannya di samping tempat tidur Taito, lalu duduk di sana. Tangannya mengelus kepala Taito perlahan.

"Why don't you wake up..?" bisiknya lembut.

Ajaib. Merasakan sentuhan tangan ayahnya, Taito perlahan membuka mata.

"Dad..?"

Hairaito merasa kacamatanya berembun mendengar suara parau itu. "Hei, Purpy."

Meskipun Hairaito tahu Taito paling benci dipanggil 'Purpy' hanya karena ia menyukai warna ungu, alasannya karena terdengar seperti 'Burp' (sendawa). Tapi kemudian Meiko menjelaskan kalau itu adalah panggilan kecil, panggilan sayang orangtua pada anaknya. Mendengar penjelasan sang ibu, Taito mau tak mau menerimanya.

Menurut Taito, Kaito sendiri memiliki panggilan paling jelek sedunia yang didapatnya saat ulang tahun ke 9. Meiko memanggilnya 'Mr. Cream' karena Kaito amat menyukai es krim. Akaito yang masih kecil terang-terangan mengatakan itu seperti nama maskot badut salah satu merek sereal susu, tapi Hairaito menganggapnya lucu dan terdengar lembut, persis karakter Kaito. Padahal panggilan Akaito sendiri adalah 'Fang' (taring), dikarenakan gigi taringnya yang terlihat lebih menonjol dari gigi lain. Hairaito menganggap itu terdengar keren dan jahil, karena ia yang memberi julukan begitu. Tadinya Akaito kesal pada ayahnya karena 'Fang' terdengar aneh. Ia menjuluki dirinya sendiri 'Fire', walaupun tak ada seorangpun yang sudi memanggilnya begitu. Akhirnya mereka lebih sering menggunakan "panggilan sayang" itu untuk saling ejek apabila sedang bertengkar.

"Where's Mom?" Taito terdengar menggumam.

"She's home, kakak dan adikmu sendirian di rumah."

"Di rumah? Memangnya ini di mana?"

Ayahnya tersenyum. "Rumah sakit. You collapsed, Purp."

"Oh," Taito memutar matanya ke sekeliling ruangan. "Aku nggak bisa lihat jelas, Yah."

"Kau masih belum stabil."

"Tapi aku sudah bangun..."

"Dokternya bilang kau boleh pulang dua hari lagi jika kondisimu membaik."

"Nggak- Aku mau pulang, Yah. Di sini kelihatan sepi, aku takut."

"I'm here, okay? Aku tak akan ke mana-mana. Ibu nanti akan ke sini lagi menjagamu."

"Ibu akan ajak Kaito dan Akaito juga?"

Hairaito mengusap matanya yang berair.

"Ya, tentu saja."


-Seven years after that day

"Taito-kun~!"

Taito baru saja akan menyalakan motornya ketika mendengar seseorang memanggil. Gakupo, salah satu teman sekelas sekaligus sahabatnya itu tampak memegang sebuah buku sambil berlari ke arahnya.

"Ah, Gakupo."

Pria berambut panjang itu menyodorkan buku yang tadi dipegangnya. "Dari Zatsune."

"Catatan?"

"Yap." Gakupo mengangguk. "Kau sudah 3 hari absen, jadi dia memberikan ini padamu."

Taito tertawa. "Kenapa nggak dia saja yang memberikan ini langsung padaku?"

"Dia malu. Kau tahulah, gadis yang sedang jatuh cinta." Gakupo berdecak. "Tapi jujur deh, dia memang menyebalkan. Dia terus memaksaku agar memberikan ini padamu, kalau tidak, dia mengancam akan mengatakan perasaanku yang sebenarnya pada Megurine."

Tawa Taito bertambah.

"Tapi, hei, memang kau nggak suka padanya?"

"…..entahlah. Dia nggak begitu sering ngobrol denganku, sih. Kau sendiri? Kenapa masih belum bilang suka pada Megurine?"

"Sulit. Dia selalu terlihat sempurna, dan lagi kakaknya ketua klub vokal."

"Kau harus mencobanya, man. It's now or never. Bukankah Mikuo juga naksir dia?"

"Si Hatsune playboy sialan itu. Ya, aku nggak akan membiarkannya."

"Oke, oke. Tapi bisa saja lho dia mendahuluimu. Kau harus-"

Dada Taito terasa nyeri.

"Tai..to?"

Ia mengunci stang motornya, lalu berlari kembali ke dalam gedung sekolah tanpa berkata apapun lagi. Gakupo mengikuti dari belakang.

Taito menuju toilet, mengeluarkan tube kecil berisi obat dari dalam ransel, lalu buru-buru meminumnya. Dokter yang selalu menanganinya memberi sejumlah obat untuk membantu kinerja jantung yang harus dikonsumsi setiap hari.

Sepuluh detik.

Taito mengambil nafas panjang, lalu menyalakan keran dan membasuh wajahnya.

"Wow, are you okay?" Gakupo yang menyaksikan itu dari depan toilet menatap sehabatnya tak percaya. Ya, dia tahu kalau Taito mengidap penyakit jantung, tapi ia belum pernah melihatnya seperti ini.

"Don't ever…" Taito terengah-engah. "talk about this in front of her."

"Her? You mean Zatsune?" Gakupo tersenyum jahil. "Jadi kau…"

"Yah, karena ternyata dia baik padaku,"

"But man, ini buruk. Kau sudah sering bolos kelas karena penyakitmu, dan kambuh saat sekarang kau kembali masuk sekolah. Bagaimana kalau kebetulan ada Zatsune di sekitar sini dan ia tak sengaja melihatmu begini? Dia pasti menangis seperti adegan dalam opera sabun."

Taito tersenyum geli membayangkannya. "Sudah, deh…"

"Right, kalau sudah begini kau nggak akan bisa mengendarai motor dengan baik. Come on man, aku akan menemanimu pulang."

Taito hanya menurut. Rumah Gakupo berjarak sekitar 30 menit dari rumahnya, tapi tak ada pilihan lain. Gakupo benar, matanya mulai kabur tanda ia butuh istirahat segera.

Baru saja mereka akan berjalan kembali menuju tempat parkir, mereka berpapasan dengan seorang guru musik – Hiyama Kiyoteru.

"A, Kamui-kun, Shion-kun. Kalian belum pulang?"

Dan melihat wajah Taito yang makin pucat dan gerak tubuhnya terlihat makin error, mau tak mau Gakupo menjelaskan semua yang terjadi.

"Souka." Hiyama-sensei membetulkan letak kacamatanya. "Kamui-kun, tolong segera hubungi orangtua Shion. Aku akan bilang pada Pak Yamada supaya menjaga motor Shion sampai orangtuanya datang. Setelah itu silahkan kau pulang, Shion akan kuantar."

"Hai', Sensei."

Gakupo seketika merasa tenang. Ia meninju ringan pundak Taito, "Jaa, be careful, dude."


Beberapa menit kemudian, Taito sudah mendapati dirinya berada di jok mobil Hiyama-sensei. Pria berumur 25 tahunan itu terus mengajak Taito mengobrol agar tetap sadar selama perjalanan, dan bahkan ia bertanya soal mata kanan dan bekas luka jahitan di tangan kiri Taito. Taito menjawab semuanya tanpa keberatan, kecuali untuk luka jahitan.

"Well.. gomen, Shion-kun."

"Daijoubu, Sensei," Taito akhirnya bercerita. "Aku terjatuh dari atap rumah pohon."

"My God! Apa yang kau lakukan, hm?"

"Adikku mengajakku mengejar kucing di atas rumah pohon saat itu, dan pada saat kami hendak turun…-"

"Bukankah ada kakak dan orangtuamu di rumah?"

"Ayah dan ibu pergi ke pernikahan teman ibu, dan kakak sedang tidur akibat kelelahan sehabis latihan vokal. Oh, dia juga bersekolah di Vocalo High, Sensei."

Hiyama-sensei memicingkan matanya, namun berusaha kembali ke topik pembicaraan.

"Hm, sepertinya aku bisa menebak. Kalian berdua menyelinap keluar untuk menangkap kucing itu, kan? Karena sepertinya tak mungkin kakakmu mengizinkanmu berbuat sesuatu yang aneh-aneh, apalagi saat orangtua kalian tidak di rumah, dan pada saat kalian hendak turun, entah bagaimana kau terjatuh."

DING.

"….ah… ya, Sensei. Aku menginjak bagian tangga kayu yang sudah lapuk."

Taito tersenyum. Gurunya ini luar biasa.

...

"Onii-chan! Ayo ikut aku! Kucingnya ada di atas!"

"Kaito-niichan akan melihat kita, Akaito. Sudahlah.."

"Dia tidur. Kelelahan sepertinya. Ayolah~ ikut aku!"

TAP TAP TAP TAP TAP

"Lihat? Aku menamainya Kuro."

" Kage lebih bagus. Dia selalu terlihat seperti bayangan dari jendela kamarku."

"Hm, kalau gitu, Kagero bagaimana?"

MIAW~

"Waa, dia mengeong! Niichan, dia Kagero!"

MIAW~

"Taito-niichan, turun yuk. Aku ingin mandi. Badanku penuh bulu Kagero."

"Oke. Aku juga nggak mau ayah dan ibu menemukan kita di sini. Apalagi Kaito-niichan."

SRUT SRUTT

"Oniichan! Jangan terlalu cepat, tangganya memang menempel ke pohon dan licin akibat lumut, tapi kau justru bisa terpeleset."

"Ha-ha, ini mudah!"

ZRUTTTT

"Oniichan~! Posisimu masih terlalu tinggi untuk bisa merosot ke bawah!"

"Yang turun belakangan, dia pecundang! Hahaha.."

ZRUT

"Hooi, Akaito, aku menemukan undakan tangga yang tidak berlumut!"

"NO! DON'T! Niichan, jangan injak i-"

TRAK

ZRUTTTTTT—

BRUK

"TAITO-NIICHAN! ! !"

"Seperti ada yang berteriak.."

.

"Ayah, ibu.. oh, mereka belum pulang."

.

"Taito…"

.

.

.

"ASTAGA, AKAITO, APA YANG KAU LAKUKAN?"

"Aku su..dah menyuruhnya… untuk… turun pe..lan..pelan…"

"Taito, hei, Taito… ya ampun. Tuhan, kumohon…"

"Ma..af…"

"Taito, Taito, kumohon, kau bisa mendengarku?!... Dia tidak bernafas."

"Aku a…kan.. tele..pon.. 707.."

"Mereka takkan bisa mendengarmu dengan jelas kalau kau terus menangis. Biar aku yang telepon, kau jaga kakakmu."

"Kalian tahu apa yang kalian lakukan?!"

"Ini salahku, Yah. Aku lalai menjaga mereka."

"Ti…dak.. aku yang… mengajak niichan untuk… ke ru..mah pohon.."

"Andai aku tidak pergi tadi.."

...

"I see," Hiyama-sensei berdehem. "Siapa nama kakakmu yang bersekolah di Vocalo?"

"Kaito, Sensei."

"Ngg… Ah, ya! Si Pangeran Es. Ya, ya. Ya ampun, mengapa aku tak pernah menyadari kalau nama keluarga kalian mirip.."

"Pangeran… Es?"

"Kau tak tahu? Dia berpacaran dengan Hatsune dan setiap hari Rabu mereka seperi pasangan spesial di kantin, karena selalu memesan semangkuk es krim cokelat dan vanilla lalu dimakan berdua. Sweet. Hahaha. Teman-temannya menjuluki mereka 'Pasangan Biru', 'Putri Tosca', dan 'Pangeran Es'. Benar deh, mereka itu."

"Oh.. Ya, aku tahu dia berpacaran dengan Hatsune-senpai, tapi soal panggilannya, aku belum tahu, Sensei."

"Kaito itu juga muridku, lho. Aku senang mengajarnya, dia cerdas tanpa cacat sedikit pun. Tahun ini dia akan lulus, ya."

"Hmm…"

"Sama sepertimu. Kau jenius, Taito. Sampai sekarang aku mengagumi cara belajarmu karena kau sering... uh… absen. Seharusnya para guru tak perlu bilang 'pertahankan prestasimu'! Tapi seharusnya 'pertahankan kesehatanmu agar prestasimu makin meningkat!'. Karena kupikir memberi catatan klise seperti itu adalah cara yang agak bodoh. Tiap siswa berbeda, kan?" Hiyama-sensei melirik Taito dari balik kacamatanya.

Taito perlahan tersenyum. Ia kagum sekali. Perasaannya menjadi hangat.

"Adikku juga akan masuk ke Vocalo tahun ini, Sensei. Akaito."

"Good! Shion Brothers." Hiyama-sensei tertawa renyah. "Kuharap dia juga sama bersinar seperti kakak-kakaknya."


Meiko tidak mengeluarkan ekspresi panik saat menyambut Taito dan Hiyama-sensei. Ia malah berterima kasih yang amat sangat pada guru muda itu.

"Get in." Meiko mendorong punggung Taito seketika setelah Hiyama-sensei pamit.

"Mom, I'm okay. See? Aku cuma mendapat 'hentakan' kok. Lagipula aku sudah minum obatku tadi."

"Semuanya?"

"Semuanya. 3 pil per hari, kan?"

Meiko menggigit bibir. Taito melesat ke dapur, ia mencium aroma enak.

"Niichan di mana?"

"Mengerjakan tugas akhir di rumah Hatsune bersama teman lainnya, dan sekalian mengambil motormu di sekolah."

"Wow, apa yang Ibu buat? Ini keren!"

"Hei—oh, baiklah. Itu kue jahe, latihan untuk natal nanti."

"Natal masih jauh, sekitar 4 bulan lagi. You're Super-Duper-Mom!" Taito memuji ibunya tulus. Kue jahe itu enak sekali, meskipun dapur jadi berantakan.

"Thankyou, Sweet Purpy."

Mendadak Taito cemberut. Meiko menempelkan telunjuknya pada ujung hidung anak kesayangannya itu.

"Di sini tertulis, 'PUSH TO SMILE'."

Taito tak tahan untuk tersenyum. Ia memeluk ibunya dari belakang. Setelah semua kejadian itu, Meiko senang dipeluk, membuatnya merasa tenang.

"By the way, tadi itu benar gurumu? Kok muda sekali."

"Ya, Hiyama Kiyoteru. Guru musik. Kudengar usianya masih 25 tahunan." ujar Taito dengan mulut penuh kue. "Dia cerdas. Semua siswa mengaguminya termasuk aku."

"Hmm.. kakakmu tak pernah menceritakannya."

"Masa? Padahal Hiyama-sensei jelas-jelas memuji dia tadi."

"Ya…, oh, atau aku lupa ya?"

"Nggak, Ibu nggak lupa, kok. Yang ada di otak Kaito-niichan kan hanya Hatsune Miku." nada bicara Taito mengejek, membuat Meiko tergelak.

RRING~

Ponsel Meiko berbunyi sementara tangannya kembali sibuk membentuk adonan. Taito mengambilnya.

"Mail, Purp?"

"Mm-hm. Dad. 'Hari ini makan di luar, suruh anak-anak bersiap',"

"Oh, okay then." Meiko mencuci tangan. "Aku akan merapikan kekacauan ini. Kau segera mandi, bangunkan adikmu juga. Bilang padanya agar melanjutkan tidur di mobil."

"Oke. Hah? Akaito tidur? Memangnya dia habis ngapain?"

"Main paintball bersama Kagamine, dan dia dikalahkan oleh bocah kelas 6 SD itu. Sampai-sampai kembarannya, si Rin, mengejeknya pecundang bertaring."

Taito tertawa. "Ya ampun…"


-At Dinner

"…..jadi, begitu aku sudah mendapat angle yang tepat untuk menembaknya, entah bagaimana dia lebih cepat. Arrgh.. lain kali aku nggak akan kalah dari Len." nada bicara Akaito terdengar sangat kesal. Ia menjejalkan daging steak ke mulutnya.

"Jangan terlalu banyak bermain, pria kecil. Sebentar lagi kau akan tes masuk Vocalo, di sana kemampuan menembakmu tak berguna." Ayahnya memberi tanggapan sinis.

Kaito tertawa. "You hear that, Fang."

"Stop calling me like that, Creamy!"

"Hei, hei. Kita sedang makan." lerai Hairaito. "Dan lagi, anak-anak, ini tempat umum."

Hairaito memperhatikan Taito. Anak tengahnya itu sedari tadi hanya diam.

"Kudengar tadi kau diantar gurumu pulang, Purp?"

Taito terdiam sedetik. "Hmm? Oh, ya, tadi sedikit kambuh. Tapi aku oke-oke saja, kok."

"Ya, dan aku yang mengambil motormu di sekolah. Kau tahu, kau beruntung sekali bisa ngobrol banyak dengannya." Kaito menimpali.

"Dengannya?" Hairaito mengernyitkan alis.

"Hiyama Kiyoteru. Dia guru musik yang keren, Yah. Miku dan teman-temannya memuja dia. Umurnya memang masih muda, sih." ujar Kaito lagi.

"Ya, dia orang baik, Yah." Taito akhirnya bicara. "Dan cerdas."

Kaito mengacungkan jempol. Taito mengikuti.

"Oh, dan dia spesialis musik rock dan klasik." Kaito melirik Akaito. Seperti yang diharapkan, mata adiknya itu berbinar semangat.

"Good! Aku akan membuat grup band dengannya nanti." seru Akaito sambil mengepalkan tangan.

"Sebelum itu, kau harus banyak belajar. Kurasa orang pintar seperti dia tidak akan mau menerima murid yang bisanya cuma… menembak. Ibu penasaran apakah dia akan berkomentar, 'Oh, jadi kau adik Kaito dan Taito? Kemampuanmu hanya segini? Sayang sekali, padahal kakak-kakakmu pandai', rasanya akan seperti apa, ya?" ledek Meiko.

"Mom!-"

"Ibumu benar. Pokoknya kalau sampai saat pulang kerja Ayah melihatmu masih main, jangan berharap kau bisa dapat kunci rumah pohon dalam setahun."

Akaito cemberut. "Fine! Aku akan buktikan!"

"Deal, young man. Sekolah dimulai awal Januari, kemungkinan tes masuk dua bulan sebelumnya, paling tidak awal November. Kalau kau bisa masuk Vocalo, aku akan memberikanmu Gibson."

Kaito tersedak. Meiko terbatuk. Garpu yang dipegang Taito jatuh ke lantai kayu. Akaito terbelalak, ia merasa bagai ada seseorang yang meledakkan confetti di atas kepalanya.

"A..apa?" Hairaito kaget. "Apa salahnya dengan gitar keren itu?"

"Nggak, nggak apa-apa, Dad." Akaito tersenyum. Ia tahu kalau ayahnya sudah berkata, maka itulah yang akan dilakukannya.

Akaito bertekad, ia akan serius belajar!


a/n:

What a happy family, huh? :'3

Yossh! Waiting for review dan kritik yang membangun~ and feel free to ask anything, minna ^^

==Rin==