"Don't ever… talk about this in front of her."

"Her? You mean Zatsune?"

"Yah, karena ternyata dia baik padaku,"

...

"Hiyama Kiyoteru. Dia guru musik yang keren, Yah. Miku dan teman-temannya memuja dia. Umurnya memang masih muda, sih."

"Ya, dia orang baik, Yah. Dan cerdas."


Bandaged Melody

Chapter 3 – Nightmare Before Christmas

-December 11th

"Aku sayang Ayah! Aku sayang Ayah! Aku sayang Ayah!..."

Akaito berputar-putar di ruang keluarga sambil memeluk benda yang masih terbungkus plastik berlapis itu.

Ya, gitar Gibson yang dijanjikan ayahnya sebagai hadiah lulus tes seleksi siswa baru Vocalo High. Begitu tahu dari website sekolah kalau anaknya lulus, ia langsung meluncur ke website lain, dan mengklik "BUY NOW" pada gambar gitar yang direncanakannya.

Dan lagi, kelulusan yang mengejutkan, nama Akaito ada di urutan nomor 5.

"Fang, sudahlah, kau bisa muntah nanti berputar terus begitu." Kaito menasihati adiknya walaupun ia tahu Akaito takkan menurut.

"What's the matter, Creamy? Kau akan kupinjamkan juga kok, pastinya…" Akaito memutuskan kata-katanya, "….setelah kau mengalahkanku main paintball."

Kaito memutar bola mata. "Terlalu mudah."

"Baiklah. Tapi aku tak percaya sebelum kau menang. Come on, lawan aku!"

Merasa tertantang, Kaito baru saja akan mengikuti adiknya ke halaman depan ketika terdengar suara mobil mendekat ke arah rumah.

"A-YAAAAAH~!"

"Hei! Kau berisik!"

Akaito tidak peduli. Selesai memarkir mobil, Akaito langsung menghambur senang ke pelukan ayahnya.

"Thank you, Dad!" ucapnya tulus. "Aku akan menjaganya baik-baik."

"Eh, sudah datang ya? Cepat sekali! Aku baru memesannya 2 hari lalu."

Akaito tidak melepas pelukannya dan mulai terisak.

"Well, well.. Jagoan bertaring kita menangis! Hei, kau sudah 14 tahun! Hahaha…"

Taito yang menyaksikan semua itu dari balik jendela kamar hanya tersenyum. Ia melepaskan pandangan sejenak dari komik yang sedang dibacanya.

Bangga.

Adiknya yang nakal ternyata merupakan anak yang gigih.


Taito memandang kartu undangan acara amal yang dipegangnya.

[NIGHT WITH VOCALO HIGH]

Come and spread the joy of Christmas!

Date: December 24th 2024

Time: 15pm – 20pm

Chaperone: Hiyama Kiyoteru (Music & Vocal Teacher)

Megurine Luki (3rd Grade, Head of Vocal Club)

Place: "Egao" House of Children

"Aku pasti datang!" seru Gakupo yang tiba-tiba muncul di sampingnya. "Aku akan memberi penampilan spesial pada Megurine Luka-ku!"

Taito mengacungkan jempol. "Itu baru namanya semangat!"

"Habis, kakaknya 'kan nanti jadi pembimbing kita. Aku nggak mau membuat kesan buruk di depannya."

"….tunggu. Maksudmu 'penampilan spesial'?"

"Oh ya. Aku lupa. Jadi, selama acara berlangsung, Hiyama-sensei memperbolehkan kita solo. Untuk menghibur anak-anak, pastinya."

"Lalu yang mau ikut tampil solo, harus daftar ke mana?"

"Ke Luki-senpai. Tapi kalau untuk anak kelas kita, SMS aku saja, nanti biar aku yang mengabarinya langsung, hehehee. Hei, sebentar. Kenapa kau bertanya? Kau mau daftar?"

DEG.

Wajah Taito memanas. "Aku… hanya bertanya."

"Hmm, aku mengerti. Tadi Zatsune juga bertanya padaku apakah kau akan ikut solo atau nggak."

Taito menoleh, Gakupo menjulurkan lidah.

"Aku tahu perasaanmu, man." katanya sambil menepuk pundak Taito. "Ikut saja."

"Terus, apa yang kau jawab tadi?" Taito tidak sabar.

"Ya aku bilang 'nggak tahu.' Lalu dia langsung pergi."

Taito tertunduk. Senang.

"Jadi…?"

Taito memejamkan mata.

"Baiklah. Daftarkan aku."


"Kau juga dapat ini, Niichan?" Taito langsung bertanya pada kakaknya begitu sampai di rumah.

"Yaa, tentu saja. Tapi sepertinya aku nggak datang." jawab Kaito sambil mengunyah es krim Turki-nya. "Aku ada janji dengan Miku."

"Ah, souka.."

"Mm? Memangnya kau mau ikut?"

"Ya, aku sudah daftar- eh, bukan, maksudnya Gakupo mendaftarkanku,"

DEG.

"Eh, bukan, maksudku, iya, aku ikut pergi ke sana-"

Kaito tersenyum penuh arti melihat wajah adiknya memerah.

"Siapa gadis itu?"

DEAD END.

Terkadang Taito benci dengan orang-orang cerdas, mereka selalu bisa menebak apa yang dipikirkan seseorang, apalagi jika orang itu salah bicara.

"Hahaha… ayolah, jangan malu." Kaito tertawa geli. "Habis, aku hanya bertanya apakah kau ikut, kau malah jawab 'sudah daftar'. Setahuku hanya siswa yang ingin tampil menyanyi solo yang harus daftar…dan itu pasti karena kau ingin tampil di depan gadis yang kau sukai."

"Bukan! Aku ingin menghibur anak-anak,"

"Lalu kenapa kau gugup sekali menjawab pertanyaanku?"

Taito terpojok. Ya, karena terlalu gugup.

"Wajahmu terpanggang, tuh." Kaito cekikikan. "Ayolah, aku takkan mengatakannya pada siapapun,"

DEG DEG DEG DEG DEG - - - -

"WOAH!"

"Niichan, shut up!"

Taito berusaha membekap mulut kakaknya yang terus berteriak karena tak percaya setelah ia berbisik, 'Zatsune Miku'.

"Dia itu jagoan, lho. Sabuk hitam karate!"

"Ya, aku tahu. Cuma.. dia nggak begitu ngobrol denganku, jadi.. yah."

Kaito tampak berpikir.

"Oke, kalau begitu nanti aku akan bilang Ayah untuk mengantarmu dulu ke panti asuhan, setelah itu baru aku menemui Miku-" Kaito mengangkat alis. "Hatsune Miku, bukan Zatsune."

"Aku akan bawa motor sendiri. Bagaimana kalau nanti acaranya selesai terlalu malam? Aku harus mengantarnya pulang."

"Hanya sampai jam 8, kan? Kecuali kalau…"

Wajah Taito kembali memerah tanpa sadar.

"Nggak! Aku nggak akan berbuat apa-apa!"

"Hai', hai'. Wakatta. Hanya saja, kata-kata itu akan percuma kalau sehabis acara amal kau pergi ke suatu tempat bersama teman-temanmu, dan tak sengaja minum-minum di sana."

"Ya kalau memang seperti itu aku nggak akan ikut mereka. Lagipula minum-minum nggak baik buat kesehatan jantungku!" Taito menelan ludah. "Aku akan langsung pulang, kok."

"Oke. Tapi yang jelas aku harus tetap mengontrolmu untuk menghindari kalau kau terserang 'hentakan' lagi."

"…..baiklah. Arigatou, Niichan."

"Kau harus persiapkan armor-mu, Bung. Apa yang akan kau nyanyikan nanti.., dan…" Kaito mengambil ancang-ancang kabur. "…mungkin berlatih ciuman."

Taito terdiam mematung.


-December 24th , Afternoon

Meiko dan Akaito memandang Taito dengan kagum.

"Niichan, kau akan ganteng sekali dengan setelan itu!"

Meiko memeluk anak kesayangannya. "Tampilkan yang terbaik, Sayang."

Taito menggembungkan pipi sambil mengacungkan jempol.

"Oke, aku berangkat, Bu. Ayah nggak akan suka bensinnya terbuang akibat menunggu kelamaan." Ia memberi pelukan terakhir pada Meiko, lalu berlari ke mobil. Kaito sudah masuk terlebih dulu.

"Jaga Gibson-ku baik-baik! Aku sudah berbaik hati meminjamkannya padamu, Niichan!" seru Akaito. Taito kembali mengacungkan jempol ke arah adiknya.

"Akan kujual, Fang. Uangnya akan kuberikan pada tunawisma. It's Christmas!" ledek Kaito tiba-tiba, membuat Hairaito terbahak.

"Aku nggak bicara padamu, Ugly Chrreamy!"

"Tapi aku serius, lho-"

"Sssh, Hey, boys…" Hairaito mengatur nafas, ia masih merasa geli. "Sudahlah…"

Mobil menjauh. Akaito yang mengepalkan tinjunya ke arah Kaito. Meiko melambaikan tangan.

"Jadi, anak-anak, jam berapa aku harus menjemput kalian?"

"6. Aku hanya menemani Miku belanja dan keliling mall kok, Yah."

"Mm-hm, Taito?"

"Jam… 8."

"Okey-dokey. Pastikan ponsel kalian dalam keadaan hidup."


20 menit. Mereka sampai di depan sebuah bangunan megah bergaya Victoria. Hampir tidak terlihat seperti panti asuhan kalau tidak ada papan besar bertuliskan 「笑顔 HOUSE OF CHILDREN」- "RUMAH ANAK [SENYUMAN]"

Baru saja Taito akan membuka pintu mobil, matanya langsung tertuju pada seorang gadis yang mengenakan mantel hitam dan bersyal merah di depan pintu gedung. Ia terlihat sendirian, gerak-geriknya menandakan ia sedang menunggu.

Taito melirik jam tangan. 14.47.

"Wuuuw~" Kaito merangkul adiknya. "Kau jadi orang pertama! Segera temani dia, Purp. Dia kesepian."

Hairaito ikutan menoleh.

"Cepat turun!" desak ayahnya menahan senyum. "Jangan jadi pengecut begitu!"

Akibat didorong-dorong dan tangan Kaito secara sengaja membuka pintu mobil di sisi Taito, ia terjatuh.

Gadis itu kaget.

Taito ingin protes keras, tapi entah bagaimana mobil ayahnya sudah menjauh, menyisakan dirinya yang teronggok di aspal seperti orang linglung.

"Semoga berhasiiii—iil!" suara Kaito terdengar menyebalkan, tapi ia tak punya waktu untuk membalas kakaknya. Mobil SUV itu sudah berbelok dan hilang dari pandangan.

"Uh… kau… baik-baik saja?" gadis itu, yang tak lain adalah Zatsune Miku, berlari ke arah Taito yang masih setia duduk di aspal.

TIDAK! Taito menjerit dalam hati.

"Ah, ya, ya, aku.." Ia berdiri, sibuk membersihkan mantel ungu gelapnya. "Aku Shion, Shion Taito."

Miku bengong sejenak. "Aku bertanya apakah kau baik-baik saja, bukan namamu. Kita 'kan sekelas."

DONG.

"Oh… ya, aku nggak luka, kok." ucapnya grogi. "Kau masih sendirian?"

"Ya, seperti yang kau lihat." Miku membalas enteng, seakan tak menghiraukan momen awkward yang terjadi barusan. Taito merasa tenang. Perasaan gugupnya lama-lama menghilang.

"By the way, tadi itu kakakmu, kan? Dia nggak ikut acara ini?"

"Yah, begitulah. Dia ada janji dengan Hatsune-senpai."

"Oh, ya, ya." Miku menghela nafas. "Pasti asyik sekali menghabiskan malam Natal bersama orang yang dicintai."

Tangan Taito membeku.

"A-aku akan tampil solo nanti!" tiba-tiba saja ucapan itu keluar dari mulutnya.

"Wow! Pasti akan keren!" seru Miku, matanya berbinar. "Kau mau nyanyi apa?"

"Lihat saja nanti, ini akan jadi kejutan." ungkap Taito akhirnya. Ia merasa tak perlu gugup di depan Miku yang ceria. "Penampilan untuk orang yang disukai, semacam itulah."

Namun tanpa Taito sadari, perlahan wajah Miku memerah.


Suasana menjadi ramai saat Gakupo membawakan lagunya yang bernada beat semangat. Apalagi sehabis bernyanyi ia menyatakan perasaannya langsung pada Luka, di depan anak-anak. Mereka saling bersorak dan bertepuk tangan, "Megurine onee-chan, terima saja!" – dan disambut dengan anggukan antusias Luka.

Taito tertawa senang, ia menghampiri sahabatnya sesaat setelah turun panggung.

"Akhirnya! Kau hebat, man!"

Gakupo ikut tertawa. "Yeah, I did it. Sekarang aku butuh waktu pribadi dengannya."

"Oke, aku nggak akan mengganggu kalian."

"Sehabis ini kau yang tampil, 'kan? Launch your ammunition, good luck!"

Beberapa saat kemudian, dengan gitar Gibson milik Akaito, Taito sudah duduk di kursi perform di atas panggung. Anak-anak saling berbisik, "Kakak itu keren, poninya hampir menutupi mata kanannya yang pakai eyepatch! Seperti jagoan misterius di film-film!"

Suasana hening. Taito menemukan sosok Miku, melihat ke arahnya, dan memulai.

Hanamichi o usuku terashite

Yosegizaiku oto o kanadeta

Adeyaka na jougen no tsuki

Kumo ni kieta, kasa mo nai no ni

...

Mata mereka bertemu. Taito sampai ke bagian reff.

Owaranai ame no naka de dakishimete

Anata ga kotae o kakushiteiru no nara

Kawaranai koe de douka sasayaite

Kowareta kokoro o semete tsutsunde

Terus, dan terus.. pandangan mereka berdua seperti tak terlepas. Lagu hampir berakhir.

Haruka tooku hanarete, sore wa totemo hakanaku

Kako mo ima mo subete o takushiteiku nara...

Owaranai ame no naka de dakishimete

Anata ga kotae o sagashiteiru no nara

Yukitsubaki akaku somaru hanabira ni

Koyoi o azukete mayoi tsuzuketa…

Lagu selesai. Taito melepas gitar dari pangkuannya.

Suasana masih hening.

"Terima kasih," Taito membungkuk sopan.

Tanpa disangka, tepuk tangan mengalir deras dari anak-anak. "Oniichan, keren! Aku sukaaaa!"

Sampai di belakang panggung, tiba-tiba saja segerombolan teman mengerubungi Taito, ada yang menonjok pelan, ada yang mengacak-acak rambutnya…

"Kau hebat!"

"Kau hot!"

"Artis baru!"

Dan teman-teman perempuan berteriak-teriak,

"Shion-kuuuun! Sekarang kami fans-muuu!"

Taito hanya tertawa, sementara teman-temannya menggiringnya ke halaman – yang nanti akan diadakan acara api unggun dan barbekyu – lalu menyuruhnya bernyanyi lagi.

"Nanti akan ada sesi nyanyi lagi, kok." ujar Luki-senpai yang tiba-tiba datang. Ia menyalami Taito. "Selamat, Shion-kun. Anak-anak itu demam kau."

Taito tersenyum menyambut tangan Luki-senpai.

"Kalian, kembali ke aula. Masih ada perform, Hiyama-sensei akan tampil. Setelah itu…-"

Mendengar nama Hiyama-sensei, mereka langsung bergegas kembali ke aula, meninggalkan Taito yang masih harus beres-beres.

"Keren."

Taito menghentikan langkah, menengok ke arah asal suara.

"Hei, aku nggak melihatmu ada di kerumunan," Taito menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Makasih."

"Mm." suara Miku serak. "Berapa lama kau latihan?"

Kaki Taito melangkah kembali ke belakang, sekarang ia berhadapan dengan Miku.

"Entahlah, yang jelas kilat."

Miku tertawa pelan. Ia menunduk karena merasa wajahnya berubah warna.

Taito merasa harus lebih mendekat lagi. Lagi.

"Jadi, kau sudah tahu, kan?" bisiknya. "Kurasa aku nggak perlu bilang lagi."

"…..terserah, sih.."

Giliran Taito yang terkekeh. Secara sadar, kedua tangannya memegang wajah Miku, dan menariknya sampai gadis itu tak tertunduk lagi. Ia baru menyadari kalau jarak mereka sudah sangat dekat.

"Baiklah, aku akan bilang."

"Hei, aku-"

"Suki." ucapnya pelan. "..terima kasih sudah menyukai laki-laki bermata satu dan sakit-sakitan ini."

Perasaan Miku bercampur. Ia kembali ingin menunduk, tapi tertahan tangan Taito.

"Suki da." Taito mengulanginya lagi.

Miku memejamkan mata.

Tak ada jalan mundur. Jarak mereka sudah terlalu dekat, dekat, dekat…

…...

...

Taito melepas ciumannya dari Miku.

"Ini malam Natal terhebat," Miku mengusap matanya yang tak berhenti mengeluarkan airmata, membuat Taito berubah panik. "Terima kasih."


Pukul 8.35, dan acara belum juga selesai. Luki-senpai memberi tahu kalau ada sedikit perubahan jadwal. Anak-anak itu rupanya sangat bersemangat, tampaknya mereka lupa kalau akan ada Misa Natal jam 9.

Taito sudah mengabari ayahnya, dan untungnya beliau mengerti, bahkan berkata kalau nanti mereka sekeluarga akan menjemputnya sekalian pergi ke acara Misa. Tapi tetap saja Taito ingin pulang terlebih dahulu naik bis umum, karena sebetulnya jalan ke arah gereja dan panti asuhan berlawanan arah. Ia tak mau merepotkan ayahnya.

"Baiklah, tak ada jalan lain. Kau benar, kasihan ayahmu nanti." Luki-senpai mengangguk-angguk mendengarkan penjelasannya. "Aku akan minta tolong Hiyama-sensei."

Tentu saja gurunya itu bersedia.

Dalam perjalanan pulang, salju turun deras. Hiyama-sensei sampai harus menyetir pelan-pelan karena jalanan licin.

DEG.

Entah mengapa dada Taito kembali nyeri, padahal ia sudah minum obat.

Setengah jam.

Taito bingung karena ada pantulan cahaya oranye terang di gundukan salju dekat belokan rumahnya, seperti…

Api.

"Astaga- -"

Hiyama-sensei mengerem kencang, bergegas turun dari mobilnya tanpa mematikan mesin, begitu pula Taito.

Taito tak percaya pada apa yang dilihatnya. Ia buru-buru berlari masuk rumah sementara api terus menjilat-jilat.

Tidak ada satupun tetangga yang melihat, mereka semua pergi berlibur.

"SHION-KUN ! ! !" Hiyama-sensei berteriak dari luar, ia menghubungi pemadam kebakaran.

Taito mencari ke ruang tamu.. kamar mandi…

Ruang keluarga di tengah rumah.

Pintu ruang keluarga terbuka lebar, menampilkan pemandangan yang mengerikan.

Terbakar. Semuanya.

Ayah, Ibu, adiknya, lalu di mana—

"Taito.. kau harus.. keluar.." Kaito rupanya berada di balik pintu, kelihatannya ia berusaha keluar tapi asap sudah keburu menguasai paru-parunya. Ia terlihat lemas.

"NIICHAN! PEGANG AKU ERAT-ERAT!"

Kaito memperhatikan kayu di atas Taito hampir jatuh, tidak ada waktu lama.

Kaito mendorong adiknya.

PRAK-BRUK

Kayu berapi itu jatuh, memisahkan mereka. Kaito tidak terlihat lagi di balik amukan api.

Taito terduduk, menangis dan berteriak meratap sejadi-jadinya.

Ia tak peduli dengan usianya yang sudah 17.

Ini bahkan belum hari Natal, ini malam Natal.

Ia berharap ini hanya mimpi paling buruk yang pernah dirasakannya.

Ia terus menangis, tak sadar kalau api mulai membakar mantel yang dipakainya.

Ia tak berniat keluar dari rumahnya. Ia ingin ikut terbakar di sana, sampai akhirnya sebuah tangan kokoh memapahnya ke luar.


a/n:

Sesuai judul chapter. XD

Bakalan happy ending kok. /spoiler

As always, Waiting for review dan kritik yang membangun~

Feel free to ask anything, minna ^^

==Rin==