"Thank you, Dad! Aku akan menjaganya baik-baik."

...

"Ini malam Natal terhebat, terima kasih."

...

"Taito.. kau harus.. keluar.."

"NIICHAN! PEGANG AKU ERAT-ERAT!"


Bandaged Melody

Chapter 4 – Black Foreground

-December 25th

Taito tersadar. Matanya masih terlalu berat untuk bisa membuka. Ia bisa mendengar sayup-sayup suara orang-orang di dekat ruangan tempatnya terbaring sekarang…

"Kami menemukan kejanggalan. Memang terjadi akibat hubungan arus pendek, tapi bentuk fisik kedua kabel yang putus jelas tampak seperti sengaja dipotong seseorang."

"Ya, aku yakin ada seseorang di balik semua ini, Ketua."

"Aku setuju. Hiyama-san, aku butuh keterangan dari siswa Anda. Dia belum siuman?"

"Belum, dan saya rasa kalau sudah bangun pun dia pasti masih terguncang, Pak Ketua."

"Kalau begitu hubungi aku saat dia sudah lebih tenang. Kasane-san, berikan kartu namaku padanya. Aku harus memberi tahu kebenarannya pada anak itu."

"Ini, silahkan. Kami mohon kerja sama Anda, Hiyama-san."

"Baik. Terima kasih atas bantuannya."

Terdengar suara pintu mobil ditutup.

Taito berusaha membuka mata.

Cahaya terang, tapi masih terlihat blur.

Ia menunggu…

Ah, rupanya sebuah ruangan kamar yang bersih, luas dan terlihat mewah.

Tapi di mana?

Tadi aku mendengar "Hiyama-san"… jangan-jangan ini…

"Hei, kau sudah melek rupanya. Oh, ya. Ini rumahku."

Benar.

"Kau pingsan setelah lelah menangis kemarin." jelas Hiyama-sensei. Tangannya meraih sebuah tas panjang yang ditaruh di atas lemari pakaian.

"Nih. Kau hampir melupakan benda ini. By the way, selamat Natal!"

Gitar Akaito. Peninggalan satu-satunya di hari Natal yang suram itu.

"Selamat Natal, Sensei. Terima ka- - -akh!"

"Wow, wow! Tidak, jangan bergerak terlalu cepat seperti itu!"

Taito meringis, di sekitar dada dan punggungnya terasa perih. Lengannya juga demikian.

"Kau 'kan habis 'terbakar' sedikit kemarin. Lihat?" tunjuk Hiyama-sensei, ia membuka selimut yang masih menutupi tubuh Taito. "Kata dokter, perbannya boleh dilepas sebulan lagi. Lukamu nggak parah, hanya terpapar panas. Tapi karena areanya cukup luas, jadi tetap butuh waktu penyembuhan yang lama. Kau seperempat-mumi sekarang."

Lelucon itu terasa pahit.

"Sensei, terima kasih sudah membawakan gitarku." Taito tidak berani menatap gurunya yang telah amat baik padanya itu.

"Nggak masalah. Oh ya, aku sudah mem-posting kejadian kemarin pada teman-teman sekelas lewat Friendbook. Mereka sangat kaget, apalagi Kamui, Hatsune dan Zatsune."

Ia terdiam beberapa detik. "I feel really sorry for your loss, Shion-kun."

Taito tak ingin mendengar apapun lagi dari peristiwa itu. Ia memaksa tersenyum.

"Pemakaman keluargamu akan diurus oleh saudara ayahmu, katanya."

"Maaf, Sensei, 'katanya'?"

"Yah, jadi semalam, selesai Misa, ada seorang pria galak yang mengaku pamanmu, datang ke lokasi peristiwa. Dia bilang padaku bahwa dia yang akan mengurus semuanya – peti mati, upacara kematian, penguburan – dengan nada seolah tak peduli, dan hanya ingin cepat berakhir. Dia mengaku namanya Shion Zeito."

"…oh, Zeito-ojisan.."

"Apakah tabiatnya memang seperti itu?"

Diam. Taito enggan menjawab.

Pamannya yang satu itu jarang terdengar kabarnya. Semenjak jabatannya naik sebagai manajer perusahaan asing terkenal di usianya yang masih 23 tahun, ia menjadi terlalu bangga dan menganggap bisa hidup sendiri. Ia memilih untuk tidak menikah karena benci wanita dan anak-anak. Mereka hanya akan menghabiskan uangku, katanya waktu itu.

Taito mencoba menghilangkan pikiran negatif di otaknya, tapi tidak bisa.

Hiyama-sensei mungkin benar. Dia hanya ingin segalanya cepat berakhir.

Zeito-ojisan sangat jarang mengunjungi kami.

Aku ragu apakah setelah peristiwa ini ia mau merawatku.

"Hmm.. sudahlah, santai saja!" Hiyama-sensei mengibaskan tangan.

"Yang terpenting sekarang adalah kondisimu, karena setelah kau sembuh, Kepala Detektif memiliki segudang pertanyaan buatmu, dan… mau tidak mau, kau harus menghadiri pemakaman keluargamu, lusa, Shion-kun."


-December 27th, After Burial

"Kau sudah besar, ya."

Taito melirik ke sebelah kirinya. Lehernya terasa sakit jika dipakai menengok, jadi untuk sementara ia hanya bisa melirik.

"Ojisan?"

"Yap." si pemilik suara – Zeito-ojisan – hampir saja merangkul Taito kalau saja tidak ingat luka bakar yang diderita keponakannya itu. "Oh ya, gomen, gomen.."

Zeito menghela nafas. Ia ikut berdiri bersama Taito, bersandar di pagar pembatas pinggir kolam kuil Hanakawa. Kuil itu besar dan indah sekali.

Taito melepas pandangannya jauh ke dasar kolam yang berair bening.

"Kau diam saja sejak acara pemakaman."

Tentu saja aku diam. Aku kehilangan segalanya, Taito berkata sebal dalam hati.

"Aku tahu ini terdengar klise, tapi… kau masih punya aku, lho."

Kaget, Taito spontan menengok. Ia bahkan lupa lehernya masih sakit.

"Hah? Waktu itu kau bilang kau benci anak-anak."

"Apa?—Oh, ya, dulu leluconku keterlaluan." Zeito terkekeh. "Ada alasannya kenapa aku bilang begitu. Kau nggak akan tahu bagaimana rasanya dicampakkan wanita satu anak yang bilang mencintaimu dan mengajakmu menikah. Di hari pernikahan ia kabur dengan pria lain. Kurasa ayahmu belum sempat bercerita karena kalian masih dianggap terlalu muda."

TUK. Taito merasa kepalanya diketuk pensil.

"Setelah itu aku butuh waktu lama untuk move on, makanya aku berhenti mengunjungi keluarga kalian lagi, karena kalian terlalu sempurna buatku. Kau tahu, ayahmu adalah orang paling baik sedunia yang pernah kukenal. Aku bersyukur ia terlahir menjadi kakakku."

"Dan ibumu, man... Dia mama hot! Cantik, pintar memasak, lulusan terbaik di kampusnya dulu, sayang sekali dia pencemas akut. Tapi dia tetap ibu yang sempurna, kan?"

"Sejujurnya, aku berencana mengunjungi kalian sebagai kejutan di hari Natal, tapi… sudahlah."

Taito menggigit bibir atasnya. Ternyata pamannya memiliki segudang masa lalu yang tidak menyenangkan, itu sebabnya ia menjadi pribadi yang serampangan seperti ini.

Tiba-tiba tangan Zeito mengacak-acak rambut Taito.

"Lagipula kau bukan anak-anak lagi." Ia tertawa ringan. "Kau sudah cukup besar untuk tinggal di rumahku. Aku percaya kau nggak akan merepotkan.."

Suara langkah seseorang menghentikan pembicaraan Zeito.

"Oh! Jadi kau di sini,"

"Sensei.."

"Ah, ya, kemarin aku belum memperkenalkan diri secara sopan," Zeito mengelap tangannya di jas, padahal tidak kotor. Taito ingat, pamannya memang suka bercanda. Tak heran jika Hiyama-sensei menyebutnya 'pria galak'. Mungkin kemarin ia terlalu sedih dan emosi.

"Shion Zeito. Terima kasih, Hiyama-san, sudah menjaga keponakanku ini."

Hiyama-sensei tersenyum simpel menyambut jabatan tangan Zeito.

"Kurasa ia akan tinggal denganku, paling tidak seminggu sebelum aku pindah ke Hokkaido selama setahun untuk urusan bisnis. Setelah itu kau hidup sendiri di rumahku."

Taito memandang Zeito dengan tatapan menolak. Baru saja ia menemukan sisi sesungguhnya – sisi baik dari pamannya itu, tapi Zeito sudah akan meninggalkannya lagi.

"Eh, tapi tidak! Bagaimana kalau penyakitmu kambuh?" Zeito membuat ekspresi berpikir yang konyol. "Aku akan sewa babysitter saja, deh."

Hiyama-sensei tertawa. Taito meninju lengan Zeito.

"Kalian paman dan keponakan yang kompak, ya." puji Hiyama-sensei, membuat Zeito tak tahan untuk mengacak-acak rambut Taito lagi.

"Kalau boleh, Shion bisa tinggal dengan saya saja."

Suasana mendadak hening, Zeito mengernyitkan alis.

"Maaf..?"

Hiyama-sensei membetulkan letak kacamatanya. "Ya, seperti yang Anda bilang tadi, bahaya kalau Shion-kun harus sendirian, apalagi kalau penyakitnya kambuh."

Zeito melirik Taito yang kini hanya diam.

"Saya tidak akan kerepotan, kok. Dia anak yang baik."

"Hmm.. tapi tetap saja nggak bisa semudah itu. Aku nggak mau dicap sebagai anggota keluarga yang melepas tanggung jawab dan-"

"Shion-kun tetap menjadi tanggung jawab Anda. Hanya saja, dia akan bertempat tinggal di rumah saya."

Zeito berpikir cukup lama.

"Baiklah." mata Zeito berkaca-kaca karena semangat. "Yoroshiku onegaishimasu, Hiyama-san! Tolong jaga keponakanku! Hanya dia yang kumiliki sekarang."

Taito merasa dadanya sesak.

Bahagia sekaligus sedih.

Ia baru saja bertemu kembali dengan pamannya yang ia kira sombong namun ternyata sangat baik, kembali mendapat kehangatan keluarga, dan pamannya akan meninggalkannya lagi dalam seminggu, lalu pergi selama setahun.

Seperti sahabat lama yang bertemu sehari kemudian berpisah lagi.


Hiyama-sensei memutar kunci pintu rumahnya.

"Yak, anggap saja rumah sendiri."

Taito sekali lagi masuk ke dalam rumah mewah itu. Begitu luas, sampai-sampai ia yakin kalau ada yang berteriak takkan terdengar hingga ke luar.

"Inilah hasil kerja kerasku." Hiyama-sensei berkacak pinggang. "Setelah ayahku meninggal lima tahun lalu, kanker paru-paru akibat stress karena perceraiannya dengan ibuku, aku harus bisa survive."

Mendengar cerita itu, Taito tertarik untuk bertanya lebih dalam lagi.

"Sensei tak punya adik atau kakak?"

"Punya. Kakak perempuan, lebih tua 7 tahun dariku. Aku membantu kakakku bekerja pada bagian kepala marketing di perusahaannya – perusahaan Ayah, sih. Bisa dibilang, rumah ini hasil bekerjaku di sana sebelum mengajar di Vocalo."

"Wow."

"Yeah. Wow. Nggak semua orang marketing segigih aku. Hehehe..."

Benar, pikir Taito. Ini hebat.

"Jadi, kamarmu adalah kamar yang kemarin. Dapur ada di sana. Teh, susu, semua minuman enak dan snack lezat lainnya terletak di filling cabinet. Kau boleh mengacak-acak isi kulkas setiap hari, asal jangan lupa untuk selalu menutupnya kembali. Kau juga boleh memasak bahan makanan apapun yang ada. Atau kalau kau nggak bisa masak, panggil aku atau telepon delivery saja. Kamar mandi di sana, toilet di sana. Di atas ada ruang musik, kau boleh masuk kapan saja kau mau. Oh, dan tahu cara menyetel DVD, kan?"

"Uh…" Taito terbengong sejenak. "Ya. Karena pasti ada keterangan di remote-nya, Play, Stop, Eject.. seperti itulah."

"Anak pintar. Ayo, akan kutunjukkan koleksi Blu-Ray milikku. Mereka hebat."

Beberapa saat kemudian, Taito sudah asyik menonton "Inception" bersama Hiyama-sensei. Ia tak bisa duduk santai, terpesona dengan kualitas gambar yang begitu nyata. Sepanjang film ia duduk tegak.

Hairaito tak pernah mengizinkan anak-anaknya membeli Blu-Ray. Alasannya, benda itu akan membuat mereka kecanduan menonton film dan lupa belajar. Sepertinya ia benar.

Taito seperti lupa kalau baru tiga hari peristiwa mengerikan itu terlewati. Sekarang ia benar-benar dalam kondisi mood yang bagus, Hiyama-sensei berhasil membuatnya tidak seperti 'tamu' di rumah itu.

Perasaannya kembali menghangat, ia melihat gurunya itu seperti ayahnya – tidak, bukan.

Ayah nggak seasyik ini.

Seperti teman dekatnya.

"Anoo.. Sensei, soal wawancara dengan Kepala Detektif…"

"Mm-hm?"

"Aku sedang tidak ingin berbicara banyak, jadi apa boleh aku menemuinya kapan-kapan saja, tidak dalam waktu dekat ini?"

Hiyama-sensei tersenyum penuh arti. "Aku mengerti. Bisa diatur. Sekarang sebaiknya kita makan, sudah jam 7."

"Hai'! Arigatou, Sensei."


BLUK

Taito memejamkan matanya seketika. Kasur empuk itu membuatnya seperti meleleh. Punggungnya masih terasa perih ketika ia merebahkan tubuhnya, tapi ia tak peduli.

Taito melirik jam, setengah sembilan.

Ia terus memejamkan mata tanpa membetulkan posisi tubuhnya yang masih membentuk pola huruf "T".

Ngantuk…

Ia mengingat percakapannya dengan Hiyama-sensei saat makan malam tadi. Gurunya itu bilang, ia boleh masuk sekolah kembali kapanpun ia siap.

Dan saat ini, entah mengapa ia merasa sangat mengantuk.

Aku nggak mau sekolah lagi.

Harusnya Akaito menjadi siswa baru kelas 1, dan aku akan kelas 3.

Niichan juga akan wisuda SMA.

Tapi sekarang aku sendirian.

Aku akan di sini terus hingga Sensei bosan, setelah itu mungkin aku akan ikut saja Zeito-ojisan ke Hokkaido, mencari pekerjaan sambil kuliah di sana…-

Taito terlelap dengan setitik airmata bening mengalir dari mata kirinya.

Nande..?


-At Midnight

Panas. Seperti ada yang memelukku.

ZRUUT- - -

Ah, ya. Aku lupa melepas jaket tadi. Tapi tunggu, siapa yang membuka jaketku?!

SRET

Apa aku akan mandi? Sepertinya bajuku terbuka.

.

..

...

Tu-tunggu! Ada yang…

Taito setengah sadar, membuka matanya dan melihat bayangan seseorang sibuk menjamahi tiap bagian tubuhnya.

Gelap.

Padahal ia ingat betul tadi tidak mematikan lampu.

Mimpi..?

Taito mendesah kecil karena merasa aneh ketika orang itu menggigit pelan lehernya.

Rasanya... seperti nyata.

Bibir orang itu menjelajahi bibir Taito, turun ke dagu, leher…

Ketika akhirnya menemukan siluet jelas, Taito tak percaya pada apa yang dilihatnya.

"Sen-"

Ucapannya terhenti ketika orang itu mulai memagut bibirnya.

Taito terengah-engah, orang itu bersemangat sekali.

Tuhan…


-December 28th, Morning

"Tidurmu nyenyak semalam?"

Taito diam.

Ia takut.

Walaupun tadi pagi saat bangun, pakaiannya masih lengkap seperti ketika tidur.

Dan lampu kamar masih menyala.

Mimpi? Tapi kok..

"Hei, aku bertanya, lho."

Taito menggigit bibir.

"Ya, aku…" Tangannya terkepal. "..tidurku nyenyak, Sensei. Terima kasih."

"Jangan kaku begitu, 'kan sekarang ini rumahmu."

Taito memutar-mutar garpu. Spaghetti-nya masih utuh, ia tak bernafsu makan.

"Sepertinya ada sesuatu yang mengganggumu," Hiyama-sensei berkata prihatin. "Kau baik-baik saja? Mau kubuatkan susu atau makanan lain, hm?"

"Eh.. tidak.. aku oke-oke saja, Sensei." Taito jadi merasa tidak enak.

Ya, pasti cuma mimpi. Tapi kenapa mirip sekali dengan Hiyama-sensei..?

Ada apa sih denganku?

Gurunya menghela nafas. "Kau harus makan, pokoknya habiskan itu. Kalau kau sakit bisa gawat. Pastinya kau nggak mau merepotkan pamanmu kan, kalau harus masuk rumah sakit?"

Hihi… Iya, ya. Sudahlah, hanya mimpi buruk.

"Hai', Sensei!"

Sambil mengacungkan jempolnya, Hiyama-sensei beranjak ke wastafel untuk cuci piring.

Taito masih beruntung tidak memperhatikannya,

karena selama gurunya berbalik badan,

senyum tipis terulas di bibir pria muda berkacamata itu...

"Gotcha."


a/n:

Pengakuan jujur, aku udah pernah bikin ginian, rate M juga.

Tapi tetep ajaaaaa TT A TT aku deg-degan tiap sampe di bagian "itu", kokoro ini gak kuat!

Masalahnya otakku juga jadi ngebayangin, aku merasa pervert (_ _) /gak

Padahal aku suka Y, dan sering mencoba berkarya bikin fiction Y kayak teman-temen author lain,

tapi ujung-ujungnya deg-degan pas sampe scene iykwim dan akhirnya ku-drop.

Tapi nggak kok buat yang ini ;)

Oh, dan FYI, aku dapet referensi dari manga sama anime.

UDAH AH! =/ / /=

Waiting for review, kritik dan pertanyaan! Makasih banyak, minna! ^w^

==Rin==