"Aku tahu ini klise, tapi… kau masih punya aku, lho."

...

"Yoroshiku onegaishimasu, Hiyama-san! Tolong jaga keponakanku! Hanya dia yang kumiliki sekarang."

...

"Sen-"


Bandaged Melody

Chapter 5 – Deep Blue Sea

"Shion-kuuun, aku akan berangkat. Teman-temanmu ada di sekolah, mereka tertarik pada kasus kemarin. Tapi kau sebaiknya jangan ke sana dulu."

Pukul 9.

Suara Hiyama-sensei tidak lantas membuat Taito melepas selimut, dan malah menutupi kepalanya sehingga terlihat seperti kepompong.

"Hei, bocah," Hiyama-sensei akhirnya masuk. "Sudah kuduga ada yang aneh denganmu sejak sarapan tadi."

Merasa tak perlu lagi bersikap kaku, Taito akhirnya membuka selimut.

"Apakah Sensei mau menunggu? Aku akan bersiap."

Gurunya terbelalak. "Kau yakin?"

Taito mengangguk.

"Aku harus berbicara pada mereka, terutama Gakupo dan Miku."

"….aku nggak yakin, tapi baiklah."


-At School

Setelah Hiyama-sensei memarkirkan mobilnya di halaman belakang akibat gerbang depan dipenuhi mobil polisi, ia langsung menuju ruang Kepala Sekolah. Sementara itu Taito langsung dikerumuni teman-teman sekelas yang bertanya macam-macam dan menyampaikan belasungkawa.

Sampai akhirnya keadaan sudah lebih tenang, Gakupo memeluk sahabatnya itu dengan mata berkaca-kaca. Tak hanya memeluk, ia juga menepuk-nepuk pundak Taito.

"Sakit! Hei, aku sedang diperban!"

"Biar saja, dasar lemah." Gakupo melepas pelukannya. "Kukira kau nggak selamat."

Taito terkekeh. "Harusnya, ya. Tapi aku terlalu keren untuk mati, dan Tuhan tahu itu."

"Sialan. Masih sempat bercanda di saat keadaanmu sedang begini."

"Habis Hiyama-sensei baik sekali padaku, mood-ku jadi membaik."

"Yap, memang. Kau beruntung, man. Kau sudah seperti anak asuhnya saja sekarang. He's the real deal for every problems. Padahal usianya masih muda."

"Uh-huh, bisa dibilang begitu, ya.."

"Tunggu, kuralat pernyataanku. Kau bukan anak asuh, tapi pacar. Yap."

Mendadak Taito teringat kejadian aneh semalam. Ia menutup telinganya.

"Aku tak dengar~"

"Oh, dan Zatsune kesal padamu karena kau membuatnya khawatir. Dia bilang sudah berulang kali menghubungi ponselmu tapi tak pernah kau respon. Kalian sudah pacaran, 'kan?"

Taito menatap Gakupo tajam. "Ya. Aku harus bicara padanya soal itu."


-At Vocalo Senior High School, Gymtastic Hall

"Hei,"

Gadis berambut hitam panjang itu – Zatsune Miku – menoleh ke asal suara yang tidak asing baginya.

"Kata Gakupo kau menunggu di sini."

"Jahat."

"Apa..?"

"Aku sudah meneleponmu entah berapa puluh kali, tapi-"

"Layar ponselku rusak terkena panas."

Miku terdiam. Taito berjalan mendekat.

"…..maaf."

Taito tersenyum. "Kau nggak perlu minta maaf. Bukan salah siapa-siapa."

Miku merasa tenang, ia mulai berani menatap wajah Taito.

"Kata Sensei, kau terluka."

"Ya, dan aku diperban. Mau lihat?"

"Eh.. ng-nggak usah!" Miku menutup matanya karena ngeri.

Seakan tak mendengarkan perkataan Miku, Taito membuka mantel dan resleting jaketnya, lalu menyibakkan kaus yang dipakainya.

Miku perlahan membuka mata.

"It's fine, sudah lebih baik, kok." Taito tersenyum, lalu kembali merapikan pakaiannya.

"…hmm." Miku menggenggam tangan Taito. "Ngobrol di luar, yuk. Aku ingin melihat keadaan."

Sekolah terlihat sepi. Tentu saja, sedang libur Natal. Seharusnya tidak ada orang kalau saja peristiwa kebakaran tidak menimpa keluarga Shion. Sekolah menjadi agak ramai oleh orang-orang tak dikenal, kebanyakan dari mereka adalah anggota polisi dan detektif swasta. Alasan utamanya adalah, karena Hairaito merupakan salah satu penyumbang terbesar di sekolah.

Mereka datang ke sekolah untuk mengorek berbagai keterangan dari Hiyama-sensei, Luki-senpai, dan Hatsune-senpai. Mereka dianggap orang-orang yang kenal dan dekat dengan korban, karena muncul desas-desus yang berkata bahwa peristiwa tersebut direncanakan seseorang. Zeito-ojisan juga seharusnya datang, tapi sosoknya belum terlihat.

"Kau tahu," Taito membuka pembicaraan kembali. "Aku pusing melihat mereka."

"Mereka di sini untuk membantumu. Kalau mereka melihatmu ada di sini, pasti akan langsung ramai. Untungnya tadi Kamui-kun menyuruh anak sekelas berkumpul di halaman belakang agar tak terlalu terlihat mencolok jika kau datang. Dan ternyata kau benar-benar datang hari ini."

"Ha-ha. Yah. Tapi… entahlah. Aku ingin melupakannya. Total. Yang sudah, biarlah berlalu."

Miku menghela nafas. "Menurutku sih nggak bisa. Kau harus tahu kebenaran yang sesungguhnya, Taito-kun."

"Mm."

"Dan kuingin kau ingat kalau kau butuh seseorang, aku akan selalu ada. Kapanpun."

Miku menyandarkan kepalanya ke bahu Taito. Perlahan, Taito tersenyum tenang.

"Hei, itu Kamui-kun. Ngapain sih, dia?" Miku melihat ke seberang lapangan, Gakupo membentuk ekspresi konyol sambil membentuk simbol hati dengan tangannya.

"Dia sedang teler, biar saja." Taito tersenyum geli.

"Oh ya, jadi kapan ponselmu…uh… diperbaiki? Aku punya hak untuk terus tahu keadaanmu."

Mendadak Taito tertawa geli, namun hatinya bahagia. "Memangnya kau ibuku?"

Miku mencubit lengan pacarnya.

"Aku cuma gadis jelek yang menjadi kekasih seorang pangeran berbalut perban."

Giliran Taito yang mencubit hidung Miku.

"H-hei! Dingin!"

"Aku masih belum tahu kapan, tapi yang jelas secepatnya karena sesungguhnya aku ini manusia gadget dari Planet Zoid."

DEG.

Miku tertawa geli.

Ia masih terus tertawa, tidak menyadari Taito yang mulai bernafas tidak normal.

Ia baru menyadarinya ketika kepalanya merosot dari bahu Taito karena tubuh pacarnya terantuk ke bawah.

Taito terjatuh, posisinya jongkok. Miku spontan berteriak panik.

"Taito-kun!"

Pandangannya mulai blur, ia tak bisa bernafas normal.

"TAITO-KUN! Kamui-kun! Kamui-kuuun~! ! ! Tolong!"

Taito terbatuk-batuk memegangi dadanya.

Ia ingat, tadi pagi sudah meminum obat.

Sakit.

Dingin.

Tidak…

Ia tak dapat merasakan apa-apa lagi, ia hanya bisa mendengar. Segala yang dilihatnya menjadi putih.

"Taito!"

"Astaga! Bagaimana ini?!"

"Taito-kun.. ba…ngunlah…"

Miku menangis. Gakupo panik, namun suaranya menjauh. Teman-teman yang tersisa di sekolah mengerubunginya, berteriak-teriak panik.

"Shion-kun!"

"Kamui sedang memanggilkan Hiyama-sensei,"

"Lalu mana guru itu? Shion sedang sekarat! Nafasnya pelan sekali!"

PLAK

"JAGA MULUTMU!"

"Zatsune-chan.."

"Minggir semuanya! KUBILANG MINGGIR!"

Tubuhnya terasa terbang, ia benar-benar tak dapat merasakan apapun selain melayang.


Hangat…

Hah? Jalanan?

Taito perlahan membuka mata. Ah, rupanya sedang di mobil.

"Sens-"

"Jangan bicara."

Taito menoleh. Hiyama-sensei menyetir dengan ekspresi serius.

"Harusnya hari ini kau masih istirahat."

"Tapi aku sudah baikan."

Hening.

Tiga detik.

"Kau baru saja kolaps dan bilang 'sudah baikan'? Coba ulangi lagi."

Ups.

Taito tertunduk. Ini salahnya karena memaksakan diri, padahal jelas-jelas tadi pagi Hiyama-sensei melarangnya ikut.

"Kubilang ulangi lagi, Shion-kun."

"…gomennasai."

"Terserah."

Kata-kata terakhir membuat Taito ingin masuk lubang.

Hiyama-sensei sudah sangat-sangat-sangat baik padanya, dan sekarang ia malah membuat masalah lagi, seperti cari mati.

Taito merapatkan kain tebal yang membungkus tubuhnya, lalu melirik ke indikator AC mobil. Tulisan "OFF" berpendar.

Sampai rumah kembali, Hiyama-sensei seakan tidak peduli. Setelah memarkir mobil, ia masuk duluan ke rumahnya, tanpa bicara apapun pada Taito.

Tapi tak lama kemudian pria itu keluar rumah lagi dan membuka pintu mobil di sisi Taito.

Raut wajahnya marah.

"Kau mau tidur di luar?!"

Taito yang masih gemetar dan merasa bersalah terus menunduk. Hiyama-sensei memegangi pundaknya.

Aneh, hingga sampai di kamar, Hiyama-sensei tak melepasnya. Bukannya melepas Taito, ia malah melepas kacamatanya yang basah akibat salju.

"Sensei.."

BLUK

Posisi mereka berdua benar-benar salah – Hiyama-sensei berada di atas Taito yang kini melihat gurunya dengan tatapan tak percaya.

Semalam…

Bukan mim- - -

"Dengar," Hiyama-sensei berusaha mengatur nafas, ia sangat emosi. "Kau bisa mati tadi."

Taito terdiam. Ya, benar. Aku nggak bisa merasakan apa-apa tadi.

"Zatsune tolol itu, kenapa dia mengajakmu mengobrol di luar kalau tahu di dalam lebih hangat? Salju jelas-jelas sedang deras hari ini."

"Sensei, chotto-!"

Taito berusaha lepas, namun tangan gurunya lebih kuat. Pemberontakan Taito sia-sia. Posisi tubuh mereka sangat dekat dan rapat.

"Dia cewek kasar, kau tahu." Hiyama-sensei mendekatkan wajahnya pada wajah Taito yang memerah tanpa sadar. "Dia bahkan menampar Yuki-kun yang berkata benar. Dia egois, hanya mementingkan emosinya sendiri dan tidak menerima realita."

Taito mencoba mengingat kejadian dan suara-suara tadi..

"Jahat."

"Apa..?"

"Aku sudah meneleponmu entah berapa puluh kali, tapi-"

"Layar ponselku rusak terkena panas."

Taito berpikir ulang, kalau Miku sungguh-sungguh menyayanginya, dia pasti tidak akan menuduh Taito yang macam-macam. Apalagi kondisi Taito sedang berkabung.

...

"Kamui sedang memanggilkan Hiyama-sensei,"

"Lalu mana guru itu? Shion sedang sekarat! Nafasnya pelan sekali!"

PLAK

"JAGA MULUTMU!"

Benar.

"Kau benar-benar sekarat tadi,"

Memang. Aku bodoh.

"Kalau tak cepat-cepat dibawa ke tempat hangat, kau bisa-"

Hiyama-sensei menempelkan dahinya ke dahi Taito, memejamkan matanya.

Entah kenapa Taito tidak memberi penolakan.

"Sensei,"

Hanya memanggil, tidak berusaha lepas atau apapun.

"Aku berusaha… melindungimu, tahu." suara gurunya memelan.

Taito terbelalak. Darahnya berdesir cepat.

"Saat menyelamatkanmu dari rumah itu, aku berpikir kau nggak akan selamat,"

"Dan barusan, kau hampir mati."

"Mungkin ini terdengar gila, tapi aku menyukaimu. Kau selalu berusaha tampak bahagia di depan orang lain, meskipun perasaanmu sedang hancur."

"Dan lagi, kau anak cerdas."

"Kau bahkan bisa bernyanyi dengan hati untuk gadis bodoh itu."

"I love you."

"You're the most unique person I've ever met."

Seperti menekan tombol rewind, ingatan Taito kembali ke segala peristiwa yang ia lalui bersama Hiyama-sensei sejauh ini.

Gurunya yang sempurna.

Perasaan tenang dan hangat saat disayangi, diperhatikan...

Segala perasaan yang ia butuhkan melebihi apapun di dunia ini.

Ayahnya orang sibuk. Ibunya selalu cemas terhadap apapun.

Kakaknya orang baik, tapi apabila diingat lagi, kakaknya-lah yang mengambil kebahagiannya di awal. Ibunya minum-minum akibat cemas akan kakaknya yang terserang demam, melahirkan dirinya yang cacat dan berpenyakit.

Pamannya, walaupun perhatian, sebetulnya ia hanya mementingkan urusan bisnis.

Adiknya, lupakan. Waktu itu adiknya hampir membunuhnya secara tidak sengaja.

Sahabatnya telah menemukan cinta, dan mungkin akan bahagia.

Kekasihnya –

– seperti yang dikatakan gurunya tadi, kekasihnya juga hampir membunuhnya secara tidak sengaja.

Mengapa aku baru sadar..

"Aku seharusnya melindungimu."

Ya.

"And I will. No—I have to. I have to protect you." suara Hiyama-sensei serak. Dahi Taito terasa basah sekarang.

Hiyama-sensei memegang kepala Taito, seakan tak ingin melepasnya.

"Aku mencintaimu."

Taito memejamkan mata. Dadanya sesak setelah menyadari kenyataan.

Dunia seakan tak pernah adil baginya.

Segala rasa cinta yang diinginkannya, seperti meledeknya – datang dan pergi.

Tapi dengan Hiyama-sensei…

"I have to protect you, I have to protect you, I have to-"

Lima kali.

Tujuh.

Sensei…

Tak ada yang benar-benar memberikan perasaan yang ia inginkan tadi selain pria ini.

Airmata Taito mengalir.

"…protect you. I have-"

Sepuluh.

Empat belas.

Airmatanya makin deras, Taito menyadari kalau orang di hadapannya sungguh-sungguh memperhatikan, menyayangi, dan akan selalu melindunginya kapanpun.

"I have to protect you with all my life…" sambil terus berkata seakan sangat tak ingin kehilangan, Hiyama-sensei mulai mengecup dahinya, telinganya, pipinya…

Taito meleleh. Seluruh wajahnya basah oleh airmata Hiyama-sensei dan airmatanya sendiri.

Taito mengangkat tangannya perlahan, merengkuh bahu pria di depannya.

Pria itu menempelkan bibirnya sehingga bibir mereka bertemu.

Taito semakin menangis.

Hangat.

I love you too, Sensei..

Maafkan aku karena baru menyadarinya..

Saliva mereka bercampur, sementara Hiyama-sensei masih terus mengulangi kata-katanya tadi.

Mungkin sekarang sudah puluhan kali.

"Maafkan aku karena sudah berbuat lancang tadi malam,"

Benar lagi.

"Aku lepas kontrol, aku benar-benar tak ingin kehilanganmu."

Saat ini Taito seperti anak kecil yang sesunggukan.

"Tidak, Sensei.." ia akhirnya bicara. "…maafkan aku karena baru menyadarinya."

"Aku… terlalu naif."


-At Night

Hiyama-sensei menghempaskan tubuh Taito ke kasur di kamarnya.

"Sensei, yappari chotto matte-"

Gurunya tak menghiraukannya.

Setelah minum teh saat makan malam tadi, Taito tak ingat lagi apa yang terjadi.

Ya, tadi siang memang terjadi pengakuan habis-habisan, sih...

Aku juga mencintaimu, Sensei.

Aku nggak akan keberatan melakukan apapun buatmu.

Karena kau sudah sangat baik padaku.

Tapi tetap saja ia masih malu untuk melakukan hal seperti ini!

Dan lagi, teh yang diminumnya tadi rasanya agak aneh. Seperti dicampur sesuatu.

"Yang kau minum tadi akan membuat semuanya lebih mudah." Hiyama-sensei menciumi lehernya. "Mungkin kau juga nggak akan merasakan sakit."

Mendengar kata-kata barusan, wajah Taito terpanggang.

Hiyama-sensei menciumnya, lidahnya memasuki rongga mulut Taito.

"Pfft, kau harus lihat wajahmu." lidah Hiyama-sensei turun ke tulang iga, perut - - -

"SENSEI!"

"Sssh… tenanglah."

Entah mengapa ia merasa takut, gurunya bukan seperti orang yang dikenalnya.

Lagi-lagi, airmatanya jatuh saat merasakan perasaan yang aneh di area tubuh bagian bawahnya. Ia malu.

Malu juga dengan suara desahannya, terdengar nakal.

Suaraku… kenapa… suara macam apa ini ? ?

Setelah agak lama, Hiyama-sensei baru melihat kalau Taito menangis, dan lagi-lagi ia mencium bibir Taito.

"Kau harus mulai terbiasa dengan hal ini, dan…"

"…dan?"

Taito berteriak. Ada sesuatu yang melesak masuk di area bawah tubuhnya.

Sakit ! !

...

...

Taito terpejam. Apa yang terjadi barusan membuat suhu tubuhnya lebih hangat, meskipun kini ia lelah dan pinggulnya sedikit sakit.

Tak lama kemudian, ia sudah berada dalam lautan tidur yang dalam…

…sedalam perasaannya sekarang pada pria di sampingnya..

…yang mendekapnya rapat-rapat, seakan sangat tak ingin kehilangan.


a/n:

I feel filthy.

Ini gara-gara nonton MV MMD Kaito x Gakupo waktu itu.

Soalnya last scene aku buat berdasarkan MV itu, dan adegan iykwim di manga-manga Y.

Coz I have no idea selain dari kedua sumber itu. /yaiyalah!/ /plis/ (=_=lll)

Dan yang aku tahu dari Y tuh cuma 'menyerang' dan 'diserang'.

Jadi kalo prosesnya salah, maklumin yak.

Seperti biasa review, saran, kritik. Arigatou gozaimasu, minna ^^

==Rin==