"Kukira kau nggak selamat."

"Aku sudah meneleponmu entah berapa puluh kali, tapi-"

"Yang kau minum tadi akan membuat semuanya lebih mudah."


Bandaged Melody

Chapter 6 – Dried Petal

-December 28th, Morning

Salju agak mereda ketika Taito terbangun dan mendapati dirinya masih tak berpakaian. Di hadapannya ada orang yang kini ia percayai sebagai pelindungnya – Hiyama Kiyoteru – masih terpejam. Perlahan tapi pasti, jemari Taito terangkat, perlahan menyentuh pipi sang pelindung.

Sensei, aku milikmu.

Aku akan melakukan apapun atas kebaikanmu.

Memasak untukmu tiap hari?

Membersihkan rumah?

Memanggilmu dengan sebutan khusus selain 'Sensei'?

Taito memikirkan ide terakhirnya, itulah yang akan dilakukannya sebagai permulaan.

"Hmmh~"

Setengah menggeliat, orang itu membuka mata dan mengambil posisi duduk.

"A, kau sudah bangun. Ohayou."

"Ohayou gozaimasu, Master."

Mendadak Hiyama-sensei membuka seluruh matanya. "Apa?"

"M-master." Taito mengulangi ucapannya, membuat Hiyama-sensei tertawa geli.

"Kau…kau memanggilku apa?"

Taito tidak mengulanginya lagi. "Apa Sensei nggak suka dengan panggilan itu?"

"Suka, aku suka sekali, kok. Terdengar keren." Hiyama-sensei meyakinkannya. "Tapi kenapa tiba-tiba?"

"Kupikir aku harus melakukan sesuatu yang… something that count. Seperti itulah." Taito menelan ludah ketika hendak mengatakan ini, "…dan semakin meyakinkanku kalau aku… memiliki Sensei, dan sebaliknya."

Mereka berdua terdiam, satu menit.

Perlahan Hiyama-sensei merengkuh Taito.

"Aku bahagia kau tidak menganggap perasaanku main-main," Ia berbisik.

"Ya, Shion- maksudku Taito-kun," bisiknya lagi, Taito meresapi pelukannya mendengar orang itu menyebut nama depannya. "Ya. Kau milikku. Aku milikmu. Aku Master-mu."


-December 31st, At Afternoon

"Ini enak!" mata Hiyama-sensei berbinar mengunyah cupcake buatan Taito.

"Aku senang kau menyukainya, Master."

Taito memperhatikan wajah Hiyama-sensei – yang sejak kemarin lusa mulai dipanggilnya Master – tampak puas dengan cupcake buatannya.

"Hmm, kenapa cupcake?"

"Uh… karena ini akhir tahun, jadi kupikir aku harus membuat sesuatu yang… manis."

Masternya tertawa. "Ya, ini sangat manis." tukasnya. "Dan lezat."

Taito tersenyum bahagia.

"Hari ini ada perayaan tahun baru di sekolah, dan kali ini aku mengizinkanmu ikut. Kita berangkat jam 10 malam nanti. Acaranya random saja, kok. Hanya barbekyu dan kembang api."

.

.

-At Night

Dari luar gedung sekolah seperti tidak tampak ada perayaan, bahkan gerbangnya dikunci. Akhirnya Hiyama-sensei memutar ke area kebun belakang sekolah… dan benar saja.

"Itu mobil Hiyama-sensei!"

"Apa dia mengajak Shion-kun juga, ya?"

"Entah, kita lihat saja."

"Hei, itu dia!"

Teman-teman sekelas Taito melambai-lambaikan tangan mereka. Wajah Taito menjadi sumringah, naluri alaminya langsung membuat kedua kakinya otomatis berlari ke kumpulan itu. Hiyama-sensei berjalan pelan di belakangnya, lalu ikut bergabung dengan para guru.

"Kami bersyukur kau baik-baik saja, Shion-kun."

"Ya, ah, tapi sayang malam ini Zatsune-chan nggak datang. Dia merayakan tahun baru di Shinjuku bersama keluarga besarnya."

Mendengar nama itu, senyum Taito membeku.

Pandangannya menangkap sosok dua orang tengah mengobrol. Salah satu dari mereka, perempuan berambut pink, menyadari kalau dirinya diperhatikan. Megurine Luka. Ia tersenyum sejenak, lalu menggandeng laki-laki di sampingnya dan berjalan ke arah Taito.

"Hai, Shion-kun," sapanya ramah. "Bareng Hiyama-sensei?"

"Heh, kurasa itu hal yang nggak perlu kau tanyakan, honey." Gakupo melepaskan tangannya sejenak dari Luka untuk memeluk Taito. "Aku senang kau kembali, buddy. Bagaimana perasaanmu?"

"Yah, cukup kuat."

"Oh… ya, semenjak kemarin." nada bicara Luka prihatin. "Tapi hari ini kau harus bergembira, lho. Kau sudah ada di sini dengan kami."

"Yup. Dan…, ada apa di tas itu?"

Pertanyaan Gakupo membuat Taito tersadar kalau sejak tadi ia membawa tas kertas.

"Aku membuat ini tadi siang untuk dimakan bersama,"

Taito membuka tas kertasnya perlahan, namun Gakupo sudah keburu menyambarnya. Luka ikut mengintip sambil tertawa geli.

"CUPCAKE! ASTAGA, INI IMUT SEKALI, SHION-KUN!"

"MEMANGNYA SEJAK KAPAN KAU BISA MASAK?"

Luka dan Gakupo berteriak-teriak sehingga menarik perhatian teman-teman lain. Dan bisa ditebak, mereka langsung mengerubuti cupcake Taito. Tak lama kemudian, pujian-pujian tulus keluar dari mulut mereka. Gakupo mengacak-acak rambut Taito. Luka dan teman-teman lain tampak asyik ber-selfie dengan si cupcake, membuat pose wajah imut dan lucu.

"Teman-teman!" suara Gumi, ketua organisasi siswa yang merupakan siswi kelas 3-A sekaligus penyelenggara acara tersebut membahana. "Ayo berkumpul sebentar."

"Sebelum menjadi tanggal 1 Januari, aku ingin berterima kasih pada kalian semua, termasuk adik-adik kelas, karena sudah bekerja sama dengan baik tahun ini."

"Terima kasih banyak pada bapak dan ibu guru sekalian atas kesabarannya membimbing dan mengajar kami tahun ini."

"Terima kasih juga kepada Pak Yamada," Gumi menghentikan kata-katanya sejenak, melihat pada sang tukang kebun. Beliau tersipu senang. "Karena tanpa izin dari beliau kita tidak akan bisa berkumpul di sini." – disambut tawa teman-temannya, lalu bertepuk tangan untuk pria setengah baya yang ramah itu.

"Dan yang paling penting, aku ingin menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Shion."

Mendadak hening.

Gumi dan seluruh teman melirik ke arah Taito.

"Mari kita berdoa sejenak untuk keluarga Shion, dan Shion-kun, kami semua berharap lukamu cepat sembuh agar kau bisa mengikuti pelajaran kembali bersama kami, di sini."

Suara Gumi memang ringan, namun terdengar berkharisma. "Berdoa dimulai."

"Selesai." Gumi mengangkat wajahnya dan kembali semangat. Matanya tampak seperti ingin memberi kekuatan pada Taito. Taito tersenyum sambil sedikit membungkuk sopan.

"Aku juga sangat berterima kasih kepada Hiyama Kiyoteru-sensei. Terima kasih banyak telah menjaga Shion-kun hingga saat ini, Sensei! Kami menitipkan teman kami pada Anda!"

Hiyama-sensei tertawa santai sambil mengangkat gelasnya yang berisi sirup jeruk. Anak-anak bertepuk tangan dan bersiul untuknya.

"Akhir kata, aku ingin mengucapkan ini sejak lama! Aku sayang kalian semua! Oh, dan terima kasih Shion-kun, cupcake-mu enak sekali!" sekali lagi tepuk tangan dan suara siulan menggema.

"Hei, dua menit lagi!"

"Ayo bersiap!"

"…LIMA.."

"EMPAT"

"TIGA"

"DUA"

"SATU!"

"AKEMASHITE OMEDETOU~!"

Bunyi terompet, kembang api dan sorak-sorai lagi-lagi bergemuruh. Luki-senpai dibantu seorang guru olahraga meluncurkan kembang api ke angkasa.

Taito menghitung ledakan bunga api di angkasa, jumlahnya 5 buah.

Jeda beberapa detik, Luki-senpai baru meluncurkan kembang api selanjutnya.

Lima…

Taito tersadar.

Ayahnya, Ibu, Kaito, Akaito, Zeito-ojisan.

Sudahlah.

Taito lalu terlarut dalam perayaan itu, dan sehabis bermain truth or dare, ia baru sadar kalau waktu sudah terlewati cukup lama.

Taito melihat jam tangannya. Benar, pukul 2 lewat 10 dini hari.

Menghela nafas, Taito menyeret langkahnya menjauh dari sana, menuju mobil dan kaget begitu melihat bayangan Hiyama-sensei ada di dalam. Ia mengiranya hantu. Mobil sedan itu terparkir cukup jauh dari tempat acara, dan cahaya lampu taman tidak sampai ke tempat itu.

"Bagaimana senang-senangnya, hm? Ini sudah sangat larut, nggak baik untuk kesehatanmu." Hiyama-sensei tersenyum maklum, mengharapkan sesuatu yang bahagia dari Taito, lalu menyalakan mesin. Taito menghempaskan pantatnya di jok.

"Lumayan, Sensei. Asyik."

Masternya itu terdiam dan lantas mematikan kembali mesin mobil.

"Kau memanggilku apa barusan?"

Taito mengadahkan wajahnya yang tertunduk, teringat sesuatu.

"Hei, bocah labil," tubuh Hiyama-sensei mendekat. "Kau panggil aku apa?"

Tanpa menunggu jawaban Taito, perlahan tangannya meraih wajah Taito yang masih diam, diarahkannya wajah itu ke hadapannya.

"Aku tak peduli seberapa bahagianya kau saat berkumpul dengan teman-temanmu tadi sehingga kau lupa segalanya," katanya dengan suara dingin. "Aku pemilikmu."

Taito bergetar, wajah itu semakin dekat.

"Master, gom-hngh mmp–"

Masternya tak mengizinkannya minta maaf, rupanya.

Ini seperti hukuman. Dengan tak sabar Hiyama-sensei menempelkan bibirnya pada Taito.

Ciuman masternya makin liar, lidahnya masuk dan mengacak-acak isi mulut Taito. Ia bahkan tak peduli ketika Taito mulai mendesah kehabisan oksigen.

Karena semakin kasar, Taito memukul-mukul bahu sang master untuk melepasnya, tapi tangan kurusnya bukan tandingan untuk tangan kokoh masternya itu.

Merasa iba, akhirnya Hiyama-sensei mengakhiri ciumannya. Jalinan saliva tipis tercipta di antara bibirnya dan bibir Taito seiring jarak keduanya yang mulai menjauh.

"Akhh… hhnggh… hnhh… uhuk!" Taito mengatur nafasnya yang masih terengah-engah.

Jangan lagi, kumohon.

Maafkan aku, Master.

Tanpa diduga, masternya mulai mendekat lagi – kali ini menyerang pangkal lehernya. Ia memainkan lidahnya di sana, mengecup, menghisap…

Dan ketika ia menggigitnya, Taito berteriak tertahan.

Karena gigitan masternya benar-benar kasar!

"Ma-master, gomennasai! Itai! Akkh-"

Seakan mengunyah daging, masternya semakin menjadi-jadi. Tak dipedulikannya Taito yang terus mendesah keras, berteriak, dan kini mulai menangis kesakitan. Ditahannya tubuh Taito yang menggeliat.

"Master… Ho-hontouni.. yamete– go…gomennas—AKH! Mmnngh! Mmmppphh!"

Dibekapnya mulut Taito. Ia tak berhenti, bahkan hingga cairan merah kental terpancar keluar dari bagian kulit yang dimainkannya. Entah sudah seperti apa erangan Taito saat ini.

Merasa cukup, ia menyudahi kegiatannya. Tampak bekas luka gigitan yang membiru dan berdarah di leher Taito sekarang.

"Well, well…" mulutnya dipenuhi darah. "Bagaimana kalau ciuman terakhir?"

Taito menggeleng lemah, takut. Nafasnya masih terengah-engah.

Namun masternya tak butuh jawaban. Dilumatnya kembali area bibir remaja tanggung berambut ungu gelap itu.

"Kau harusnya paham," bisik masternya selesai mereka berciuman, "Bad boy deserves punishment. Angin malam sama sekali nggak bagus buat kesehatanmu, tahu."

Saliva bercampur darah mengalir dari sisi bibir Taito.

"Gomennasai," suara Taito pelan sekali – takut, terisak, menahan sakit…

…dan merasa bersalah.

Sang master menatapnya tajam. Tanpa berkata apapun, ia mengelap bibirnya, menyalakan mesin, lalu membawa pergi mobilnya dari tempat itu.

Di tengah perjalanan, Taito menyadari suatu hal.

Ia meraba luka gigitan masternya di leher, perlahan tangannya menyeka sisa-sisa saliva dan darah yang masih menempel di bibir dan dagunya.

Dia nggak bermaksud menyakitiku, dia menandaiku kalau aku miliknya, karena lagi-lagi aku berbuat kesalahan karena terlalu asyik berpesta tadi.

Sekali lagi maafkan aku, Master. Aku nggak akan melepasmu atau membiarkanmu pergi.

Aku ingin terus memilikimu, selamanya.

Seketika itu juga, rasa cinta Taito berubah menjadi perasaan memiliki yang masif.

.

.

Desahan demi desahan bergema di dalam kamar luas itu, beberapa saat lalu malah suaranya lebih keras.

Taito ingat pada saat Hiyama-sensei melakukan penyerangan pada dirinya tadi, ia tak lagi berteriak menolak-kesakitan, tapi justru membawa sang master ke dalam pelukannya.

"Taito…"

Hiyama-sensei yang bertubuh lebih besar terus mengecup telinga Taito yang berada di bawahnya, sambil berbisik,

"Aishiteru."

Taito kembali merasa meleleh, ia lemah terhadap hal sensitif seperti itu.

Mulutnya berisi cairan dan tubuhnya masih mengejang.

"Lihat dirimu," sang master memasukkan ruas jari telunjuk dan jari tengahnya ke dalam mulut Taito sambil tersenyum meremehkan. "Tubuh dan ekspresimu, terlalu kotor."

Dengan tubuh kurus dan pose seperti orang pasrah, kulit putih mulus yang sebagian tertutup perban, luka gigitan di leher dan cairan putih di perut, wajah yang memerah, mata yang sedikit terpejam, tangan kiri yang masih meremas bantal dan lidahnya sibuk menjilati sisa cairan di jemari tangan kanannya yang lentik- - -

"Kau seperti hewan peliharaan yang nakal,"

Panggil aku sesukamu, Master.

Gunakan aku sesukamu.

"I love you." bisiknya lagi, kali ini desahan nafas masternya membuat telinga Taito terasa hangat. Sangat hangat.

"I love you too, Master."


- January 1st, Morning

Sama seperti kemarin, hari inipun Taito bangun lebih dulu. Ia bertekad untuk memotong rumput liar di halaman belakang, walaupun belum pernah melihatnya secara langsung. Hiyama-sensei hanya sering bercerita kalau punya banyak koleksi tanaman.

Namun niatnya sirna ketika berhasil berjalan mengendap ke halaman.

"Oh my God…"

Indah.

Luas.

Tidak perlu lagi dirapikan.

Segala macam bunga; lili, mawar, tulip…

Merasa nyaman, Taito memilih duduk di rumput hijau yang luas itu. Ia meluruskan kakinya sambil bersandar di pagar besi pembatas antara taman dengan gazebo.

Ah, ada kelopak bunga tulip ungu yang mengering.

Taito tersenyum miris, memungutnya, memperhatikannya…

Aku sama sepertimu, lho.

Aku juga mengering, seluruh keluargaku menghilang.

Kekasihku—bukan, orang yang pernah mengaku menyukaiku juga ternyata egois.

Nggak ada lagi cinta buatku.

Tapi kemudian diremasnya kelopak bunga itu hingga hancur.

Nggak, aku nggak sama denganmu.

Aku masih punya Master, dia akan selalu memberikan cintanya buatku.

Dia milikku.

Taito memejamkan mata.

Baiklah!

Taito bangkit dari duduk, lalu membersihkan sisa-sisa kelopak tulip tadi dari tangannya.

Ya, aku benar-benar nggak sama sepertimu.

Aku bukan bunga yang mengering dan rapuh.

Tadinya mungkin iya, tapi sekarang…

Aku…

Aku adalah sebuah melodi.


a/n:

Tanganku gemeter.

Nggak perlu tanya kenapa, ya? :"D

Pokoknya aku gak kuat buat mendeskripsikan semua kejadian pas lagi "itu".

Terlalu… ah sudahlah. Adegan manga, sih. :"D

Yoosh! Waiting for RnR and feel free to ask everything! Arigatou minna!

==Rin==