"Oke, kalau gitu sepulang sekolah nanti aku harus ke klub musik."

"Aku BENCI sekali laki-laki kotor macam kau."

"Oh, kau sudah menghilang, ya…"


Bandaged Melody

Chapter 8 – Another Black

-At School's Library

PLEASE INSERT YOUR STUDENT CARD HERE

OR

TYPE YOUR IDENTITY BELOW

Taito sudah memikirkan hal ini sejak awal rencana.

Perpustakaan Vocalo High mengharuskan para siswanya menggunakan kartu pelajar mereka setiap masuk perpustakaan sehingga komputer dapat secara otomatis mencatat secara real time siapa saja yang datang, dan untuk pengunjung luar Vocalo High, mereka harus mengetik identitas mereka secara manual pada komputer yang disediakan di bawah mesin tempat penyisipan kartu pelajar.

Dan mau tak mau, Taito menggunakan cara pertama.

CLICK-PIP

SHION TAITO

3RD GRADE

3:30 PM

Pintu kaca perpustakaan otomatis terbuka.

Ia langsung bergerak ke kolom novel, mengambil acak buku yang ada di sana, kemudian mencari tempat duduk kosong.

Sedetik kemudian ia tersenyum melihat judul novel yang diambilnya, "Red Symphony".

Hahaha, tepat sekali dengan apa yang telah kulakukan pada Lily.

Whatever. Aku akan membacanya sebentar, lalu keluar kira-kira setengah jam lagi.

Mata Taito bergerak cepat memindai setiap kalimat yang tercetak dalam buku. Ternyata topik novel thriller itu hebat juga, menceritakan seorang gadis berkepribadian ganda yang hidup bersama kedua orangtua angkatnya di sebuah kawasan ghetto di New York, di mana mereka tak bisa merawat gadis itu secara semestinya dan akhirnya gadis itu tumbuh menjadi pembunuh brutal yang mengerikan. Orang-orang memanggilnya "Bloody Smile".

Tak terasa sudah pukul 3.55, Taito yang terbawa arus imajinasinya segera beranjak dari perpustakaan. Ia melangkah ke ruang musik dengan pikiran yang sedikit mengganjal.

Oh ya, aku lupa sesuatu.

Ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya – kantung plastik berisi empat buah biskuit imut untuk Hiyama-sensei titipan dari Lily.

Dengan tatapan kosong, Taito meremas makanan renyah itu hingga hancur seluruhnya, lalu membuangnya ke tempat sampah.

Remaja tujuh belas tahun itu tersenyum puas.

Hei, kau pintar juga rupanya, Lily.

Kau memprediksikan kematianmu sendiri melalui biskuit-biskuit itu.

Ya, empat, 「四」"Shi". Taito menganggapnya sebagai「死」"Shi" juga, yang berarti "Mati".


Kegiatan klub pun berlangsung dan belum ada reaksi dari kediaman Lily atas apa yang terjadi. Klub berjalan dengan kondusif dan ceria. Saat menjelang akhir waktu klub, Hiyama-sensei bahkan mengizinkan para siswanya mencoba membuat grup band. Sebelumnya memang tidak ada grup band yang terbentuk di Vocalo High, melainkan grup vokal.

Seselesainya klub dalam perjalanan pulang, Taito masih bersikap normal, bahkan raut wajahnya antusias. Hiyama sensei yang memperhatikannya dari belakang setir ikut tersenyum.

Hingga saat ponsel Hiyama-sensei berbunyi, Taito ikut tersentak.

"Oh-hahahaa, hai, Rocket!" ia tertawa kecil menanggapi sapaan seseorang di seberang telepon. "Bagaimana, sudah dapat universitas yang cocok?"

"…hm, mereka baik-baik saja, kok. Shion-kun sekarang tinggal bersamaku."

"…tentu saja boleh! Kapan?"

"…baiklah, kami menunggumu, Rocket-senpai. Hahaha… Tapi aku-…"

Taito hanya bisa heran. Dengan siapa masternya berbicara?

PIP.

Telepon ditutup, Taito mencari-cari pandangan Hiyama-sensei.

"Itou Haruka, kakak kelas." Hiyama-sensei mengerti gerak-gerik Taito. "Dia sedang 'menganggur' sekarang, kuliahnya dimulai pertengahan Maret. Dia ingin berkunjung hari Senin melihat perkembangan klub musik, katanya."

Taito mengingat sesuatu. "Gakupo pernah bilang, Itou-senpai seperti berandalan."

"Aku juga menganggapnya begitu. Makanya teman-temannya memanggilnya 'Rocket', dia juga menyuruhku memanggilnya dengan sebutan itu. Tapi dia keren dalam kesenian."

"Tadi aku mendengar Master ada rapat hari Senin. Berarti kegiatan klub ditiadakan?"

"Nah. Kebetulan dia ingin berkunjung, jadi aku menyerahkan klub padanya. Jangan khawatir, dia nggak akan mengerjai kalian dengan tingkahnya, kok."

"Kau mempercayainya, Master?"

"Sebetulnya nggak terlalu, sih..," Hiyama-sensei menghela nafas. "Aku ingat betul dia dulu pernah menaruh tiga bangkai kecoa ke dalam tas seorang siswi hingga anak itu menangis trauma dan ketakutan – menurutku tindakan yang cukup jahat, tapi bagaimanapun, kemampuannya dalam bermain drum dan biola luar biasa."

"Dia sinting, ya?" Taito meledek. "Seperti… freak."

"Tenang, kupikir dia sudah cukup dewasa semenjak lulus. Lagipula aku akan terus mengontrol klub selama rapat, memastikan dia nggak berbuat hal yang aneh-aneh pada kalian."

Terhentinya percakapan Hiyama-sensei seiring dengan nada ponselnya yang kini berdering lagi. Taito kembali was-was.

"Ya, halo?"

Taito menelan ludah karena ekspresi Hiyama-sensei berubah menjadi serius.

Mulut masternya itu kini terbuka, dan tak memberi respon apa-apa pada si penelepon.

"Baik. Terima kasih." – telepon ditutup.

Taito masih berusaha tenang.

"Master?"

Hiyama-sensei tetap fokus menyetir.

"Master, dari siapa?" desak Taito, menggoyangkan lengan Hiyama-sensei.

"We talk at home, Taito."

Mata Taito membulat.

.

.

Taito benar-benar merasa bahwa tindakannya pada Lily ketahuan oleh Hiyama-sensei karena sekarang masternya itu mendesaknya ke kasur dengan posisi terkunci.

Ia tak dapat bergerak di bawah naungan tubuh masternya itu.

"Ke mana kau saat jam pulang sekolah tadi sebelum klub dimulai?"

Taito merasa nafasnya tercekat di tenggorokan. "Aku… di perpustakaan."

Hiyama-sensei mendekatkan wajahnya pada Taito.

"Aku percaya padamu," katanya pelan. "Lalu sejak jam berapa kau ada di perpustakaan?"

"…sejak kelas bubar aku langsung ke sana, Master."

"Nah, sekarang kau bohong. Aku sedang mengobrol dengan Okumura-sensei di depan perpustakaan hingga kira-kira pukul 3, dan aku nggak melihat ada kau."

Entah mengapa sekarang Taito ingin menangis.

Bukan perasaan bersalah akibat ia menghabisi nyawa Lily, tapi menangis karena rencananya ternyata berjalan dengan cacat. Ia meninggalkan rantai yang terputus.

"Jadi kurasa kau tahu siapa yang menelepon tadi, dan kami membicarakan apa."

Hiyama-sensei diam, begitu pula Taito.

"Jawab aku." bisiknya tajam. "Kira-kira orang tadi membahas apa?"

Hiyama-sensei mengeraskan suaranya, setengah membentak.

"I said ANSWER me, Taito."

Setelah keberanian dan suaranya terkumpul, Taito bersuara. "Megupo. Megupo Lily."

"Uh-huh." pandangan Hiyama-sensei berkilat. "And why you did that?"

Pertanyaan barusan sukses membuat airmata Taito mengalir, takut.

"Jangan mulai menangis." ia menggenggam pundak Taito. "Apa alasanmu?"

Taito tak sanggup menjawab. Hiyama-sensei membiarkannya.

Satu menit.

.

"I love you, and I won't let anyone to love you except me, Master…"

Wajah Taito memerah, tangisannya sesunggukan seperti anak-anak.

Matilah aku, Master akan membenciku dan membuangku ke jalanan.

Atau mungkin ia akan balas membunuhku?

Di luar semua pemikiran buruk itu, Hiyama-sensei membisikkan sesuatu tepat di telinganya, pelan sekali,

"Kau yakin kau sudah menghapus semua jejak?"

Taito tersentak kaget luar biasa.

Hiyama-sensei membuat seulas senyum, lalu memeluknya erat. "Aku sudah bisa menebak kau akan melakukan itu suatu saat nanti, dan ternyata memang benar."

Kini tangis Taito mereda. Tangannya bergerak, balas memeluk masternya.

"Tentu saja, Master. Aku nggak meninggalkan setitik sidik jari pun."

"Aku justru takut kalau nantinya polisi mencarimu," tukas Hiyama-sensei akhirnya. "Aku benar-benar nggak peduli pada gadis genit itu, aku hanya peduli padamu."

Dan, satu ciuman Hiyama-sensei membuat perasaannya jauh lebih tenang.

"Thank you, Master."

Masternya menciumnya lagi.

"Tidak, terima kasih telah menghilangkan gadis itu untukku."


-Sunday, February 11th, Afternoon

Suara air mengalir dari wastafel, Taito sedang mencuci peralatan masak dan piring bekas sarapan dan makan siang tadi. Sebenarnya ia agak curiga karena sejak pagi Hiyama-sensei tidak ada di kamar, mobilnya pun tak ada. Bukan masalah baginya kalau harus memasak makanan sendiri, yang menjadi masalah baginya adalah:

Ke mana Masterku pergi?!

"Hai,"

Taito hampir saja melompat kaget mendengar suara setengah bisikan itu tepat di belakang tubuhnya. Hiyama-sensei memeluknya dari belakang.

"This." Hiyama-sensei meletakkan sebuah kotak kecil tepat di telapak tangan Taito yang hanya diam merajuk. "Jangan marah dulu, dong. Coba buka."

Taito menghela nafas, namun tangannya bergerak, menurut.

SRAK- - - SRET SRET

Ia memandang benda itu tak percaya.

Ponselnya yang hampir terlupakan karena rusak berat akibat terpapar suhu tinggi, kini kembali sempurna seperti baru.

"…Master memperbaikinya? Sejak kapan?"

"Yah," Hiyama-sensei mengangguk pelan. "Tadinya aku mau belikan yang baru, tapi kupikir aku nggak bisa berbuat seenaknya begitu. Karena pasti ponsel ini akan menjadi kenangan bagimu tentang keluargamu—semuanya. Untung saja ahli perbaikan di pusat servisnya jenius. Dalam waktu dua minggu, si canggih ini sudah kembali."

Antara sedih dan bahagia, perasaan Taito saat ini.

Ya, kenangan buruk memang menyakitkan, tapi tak pantas juga untuk dilupakan.

"Terima kasih banyak, Master."

Hiyama-sensei tersenyum penuh arti, lalu berbisik, "Kau harus membayarnya malam ini."

Dan wajah Taito mendadak terasa panas.

Tapi kemudian ia tahu apa yang harus dilakukan. Ia membalik badannya hingga berhadapan dekat dengan Hiyama-sensei, lalu berjinjit untuk membisikkan sesuatu,

"Kalau mau, Master nggak harus menunggu sampai malam."

Hal yang terjadi berikutnya, di luar ekspektasi Hiyama-sensei. Taito yang masih berjinjit pada awalnya hanya mengecup bibir masternya itu, namun lama-kelamaan gerakannya semakin menjadi. Ia sampai mengalungkan kedua lengannya pada pundak Hiyama-sensei.

"He-heiii," Hiyama-sensei mencuri bicara di sela-sela ciuman sambil sedikit tertawa geli. "Baiklah, kau yang mulai. Kau pikir kau bisa mengalahkanku, hmm?"

Giliran Hiyama-sensei yang balas memagut Taito.

Hiyama-sensei melepas ciumannya sejenak. Kini wajah Taito benar-benar membara merah, nafasnya terengah dan matanya sayu. "Apakah bayaranku sudah cukup, Master?"

Merasa tertantang, Hiyama-sensei mulai membuka pakaian sehingga memperlihatkan bentuk tubuh proporsionalnya.

"Ow yeahh!" serunya semangat, diikuti pandangan berharap Taito dari wajahnya yang masih merah, "Tentu saja belum, my little butler."

Taito kembali berbicara pelan, "Then do me here as you wish, Master."

Seiring dengan jemari sang master yang bergerak perlahan membuka tali celemek yang dipakai remaja tanggung itu.


-At Midnight

"Taito…"

Suasana di jalan depan rumah itu sepi, Taito hanya seorang diri di sana, tapi ia merasa ada seseorang yang memanggil namanya.

Ia menoleh ke belakang.

"Onii- - -"

Sosok Kaito tersenyum ramah, dan tanpa basa-basi Taito langsung menghambur ke pelukan kakak tersayangnya. Ia merasa tak harus malu berpelukan seperti itu karena alam sadarnya mengatakan kalau semuanya hanyalah mimpi.

"A-a-aku kangen sekali," Taito tak tahan, wajahnya terbenam dalam dekapan Kaito dan airmatanya secara otomatis mengalir deras. "Sekarang aku sendirian."

Kaito menepuk-nepuk kepala adiknya lembut, lalu melepas pelukannya.

"Jangan jadi cengeng." Kaito membungkuk sedikit, tangannya mengelap airmata adiknya yang tak kunjung berhenti mengalir. "Aku justru khawatir kalau kau nangis terus seperti ini, lho."

Taito mulai cengengesan meski sulit menghentikan tangis.

"Ano ne, oniichan," ia kembali memulai pembicaraan. "Sebenarnya aku nggak sepenuhnya sendirian, sih.., tapi tetap saja.."

"Aku tahu, kok." Kaito tersenyum.

"Tapi… apa menurutmu nggak aneh?—Maksudku.., cowok-cowok?"

Kaito tambah tersenyum, namun Taito merasa raut wajah kakaknya berubah kaku. "Cinta bisa datang pada siapa saja!" tukasnya enteng. "Seaneh apapun itu, kau tetap adikku. R."

"Hmm…" Taito menggumam. "'R'? Apa itu?"

Namun tiba-tiba Taito teringat sesuatu. "Akaito di mana?"

TAP TAP TAP TAP TAP- -

GREP

"Oh my God…" Taito meremas rambut Akaito yang sekarang memeluknya erat. "Kau senang sekali berlari seperti itu, sih!" ujarnya gemas.

"Niichan, aitakatta!" suara riang Akaito terasa indah di telinga Taito.

"Me too, Fang." balas Taito tanpa diikuti protes Akaito, semakin meyakinkan dirinya kalau semua kejadian itu hanya mimpi. "Kaito-niichan, Akaito di sin-"

Kaito tidak ada.

"Tapi tadi ada Kaito-niichan di belakangku, lho…" hati kecil Taito ingin menangis lagi.

"Sekarang 'kan ada aku." Akaito menggenggam tangan kakaknya erat.

"Ya, benar! Ada kau!" Taito berusaha merespon seriang mungkin.

Mereka berdua berjalan ke arah rumah, yang masih utuh.

"Niichan, kau mau tahu, nggak?" Akaito bersuara, pelan. "Hari itu…"

Taito berhenti, berjongkok, merapatkan tubuhnya pada Akaito.

"Ceritakan padaku."

Wajah sendu Akaito tak dapat disembunyikan.

"Aku… mendengar suara gemeretak di loteng, lalu… api tiba-tiba muncul dari atas, menghancurkan fondasi kayu dan berhamburan ke ruang keluarga… dan… ibu yang berjarak agak jauh dariku dan Kaito-niichan berteriak agar kami semua pergi ke luar ruangan sementara ayah mengambil tabung pemadam api… ibu tetap di dalam terkepung api… dan saat ayah kembali ke dalam, aku nggak mendengar suara mereka lagi dari luar karena ayah menutup pintu ruang keluarga… nggak ada lagi api."

"…lalu karena penasaran, aku meninggalkan Kaito-niichan yang menelepon 707 dengan ponselnya, aku berusaha mengintip ke dalam, dan saat aku membuka pintu… api terasa meledak menyambarku… dan aku nggak ingat apa-apa lagi… R."

Lagi-lagi 'R'. Apa sih itu?

Sementara mendengarkan penjelasan adiknya, sudut mata Taito menangkap dua sosok manusia di seberang kanan. Ia menoleh,

"Dad- Mom,"

Tersadar, ia kembali menengok ke adiknya, namun Akaito menghilang.

Hati Taito lagi-lagi terasa perih. Ia berdiri, lalu berjalan menyongsong kedua sosok tadi.

Aku kuat.

Ya, aku kuat.

Ia lalu berlari, berlari…

BLUK

"I miss you so much, sweetheart." Meiko mengelus-elus rambut Taito yang sekarang ada di pelukannya dan Hairaito. Ia lalu tak henti menciumi dahi anak tengahnya itu.

"Me too, Mom." balas Taito tertahan. "I miss you too. I'm fine."

"Pastikan kau hidup sehat, Purpy." suara ayahnya parau, "Kami selalu ada, buddy. Di jiwa dan pikiranmu. Kami nggak akan pernah benar-benar meninggalkanmu."

"Of course, Dad." – saat Taito mengangkat wajah untuk memberi senyum pada ayahnya, Hairaito sudah menghilang. Tangan kanan Taito terkepal. Meiko memeluknya kembali.

"Tinggal kita berdua di sini." Meiko menggenggam erat tangan Taito yang masih terkepal. "Bagaimana kalau berkeliling sebentar? Waktu Ibu nggak lama, sayang."

Meiko menyisipkan lengannya pada Taito, kemudian mereka berjalan perlahan.

"Bu," Taito membuka pembicaraan. "Bagaimana pendapat Ibu tentang… Sensei?"

Meiko terdiam beberapa detik.

"Dia orang… baik." katanya simpel, tetapi terasa mengganjal bagi Taito.

Hanya itu?

"Cinta bisa datang pada siapa saja, sweetheart." akhirnya Meiko tersenyum, kata-katanya sama dengan Kaito. "Dan, jalan apapun yang kau pilih, kau tetap putraku yang manis. Aku akan selalu mencintaimu apapun kondisimu, sayang."

Tiba-tiba wajah Meiko berubah dingin dan suram.

"Mom..?"

Terdengar suara gemuruh dari belakang mereka. Pemandangan pada hari silam itu – rumah yang terbakar – kini terpampang jelas di hadapan Taito.

Meiko yang masih berada di sampingnya perlahan berubah menghangus, Taito hanya bisa memandang ibunya dengan ngeri. Ia berteriak memanggil-manggil ibunya.

"Stay alive, sweetheart…" tangan Meiko yang meleleh menyentuh pipi kiri Taito yang kini panik bukan main, berusaha menyusun kembali bagian tubuh ibunya yang hancur.

Tak ada gunanya.

Semua yang dilihat Taito sekarang adalah terbakar, hangus, hancur dan hitam.

Ia terduduk memegangi kepalanya – suara ayah, ibu, kakak dan adiknya bercampur.

"R! R! R…!"

APA ITU 'R'? INISIAL NAMA SESEORANG?!

TAPI KENAPA?!

Karena suara mereka terus berputar di sekeliling Taito, ia berteriak sekeras mungkin.

SIAPAPUN…

KELUARKAN AKU DARI SINI!

.

ZREK—

Taito terbangun, nafasnya ngos-ngosan seakan habis berlari. Matanya terbuka sepenuhnya dan ia mendapati dirinya dalam pelukan Hiyama-sensei.

"Kau berteriak dalam tidurmu," ia mengelus punggung Taito. "Mimpi apa?"

Remaja itu belum mampu menjawab, perasaannya masih emosional.

"That's just a dream…" Hiyama-sensei berkata menenangkan seraya mengelus rambutnya. "Pukul 5, kau masih bisa tidur dua jam lagi."

"Nggak, Master, aku… sebaiknya aku mandi sekarang."

Mengiyakan, Hiyama-sensei menepuk pahanya sendiri. "Baiklah. Aku akan membuatkan teh. Gunakan waktumu sebaik mungkin, Taito."

"Hmm, terima kasih, Master."

Pikiran Taito terasa diacak-acak.

Apa… Siapa itu 'R'?

Pelaku di balik semua ini?

.

.

Seselesainya Taito mandi, menenangkan diri dan bersiap-siap, Hiyama-sensei tampak masih sibuk dengan lembaran dokumen yang sepertinya terdiri dari lembar tugas siswa.

"Kau sudah siap?" tanya Hiyama-sensei dibalas anggukan Taito. "Oke, beri aku lima menit. Aku sudah mengoreksi ini semua sejak malam, tapi ternyata memang nggak bisa."

"Kenapa Master nggak minta tolong padaku?" Taito mendekat.

"Ini esai, Taito." Hiyama-sensei memainkan pulpennya. "Kau pasti tahu betapa malasnya mengerjakan soal model esai, kan? Begitu juga para guru, cukup berat juga mengoreksi jawaban siswa yang berbeda-beda."

Taito lalu tersenyum. Bagaimanapun, ia senang memperhatikan master sekaligus guru dan kekasihnya ini ketika sedang dalam ekspresi serius.

Cool…

"By the way, kau kenal Megurine Luka?" – membuyarkan lamunan singkat Taito.

"Mm-hm. Pacarnya Gakupo. Jadi dia temanku juga."

Taito mendekat lagi setelah Hiyama-sensei memberi kode dengan tangan.

"Dia pintar, ya, ternyata. Kamui-kun beruntung." puji Hiyama-sensei. Taito mengangkat alis melihat nilai yang ditorehkan Hiyama-sensei pada lembar tugas Luka, 100.

"Kau harus berhati-hati padanya." lanjut Hiyama-sensei sambil tertawa sedikit.

"Hmm." mulut Taito dipenuhi kraker yang dicomotnya di samping Hiyama-sensei, tangannya dengan cepat mengambil selembar kertas secara acak. "Dia juga, ya? Sukone Tei..? Wow, 98! Dia jelas saingan Megurine-chan!"

"Hei! Jangan diacak lagi! Aku sudah menyusunnya berdasarkan nama." Hiyama-sensei merebut kasar kertas itu dari tangan Taito yang sekarang menjulurkan lidah padanya.

"Yes, Your Highness-a—h, hei! Turunkan akuuu-!"

Protes Taito mengambang, Hiyama-sensei menggendongnya untuk segera berangkat.

Master, daisuki…


a/n:

It's like, "Nah looh… ketauan kaan~" XD

Dan aku berusaha keras semanis mungkin buat adegan terakhir.

Udah gitu aja. :3

As always, RnR please, minna 3

==Rin==