"Gakupo pernah bilang, Itou-senpai seperti berandalan."
"Kau yakin kau sudah menghapus semua jejak?"
"Jangan jadi cengeng. Aku justru khawatir kalau kau nangis terus seperti ini, lho."
Bandaged Melody
Chapter 9 – Endless Coffin
-Monday, February 13th
"Jadi hari ini Sensei nggak bisa ikut klub?!" seruan Luka mengalahkan desas-desus tentang Lily yang menjadi topik hangat hari itu, Gakupo sampai harus membungkam bibir Luka.
"Mm. Beliau ada rapat." Taito mengiyakan, melirik Gakupo. "Sebagai gantinya, nanti akan ada alumni yang datang, namanya Itou Haruka."
Seperti yang diduga, Gakupo langsung berdecak. "Ngapain sih, dia."
"Kata Sensei sih kita nggak perlu khawatir, tapi-"
"Dia berandalan dan sering kena kasus. Kau harus hati-hati." dirangkulnya Luka, Taito yang ucapannya diputus hanya mengangguk karena memang itu yang akan diucapkannya.
"Lebih penting lagi, tahu, 'kan, kalau Lily meninggal Jum'at kemarin?" Gakupo mengalihkan pembicaraan. "Orangtua Lily merasa bersalah, mereka mengira Lily bunuh diri."
Luka menghela nafas, "Wajar, sih. Mungkin Lily sudah tahu kalau ternyata banyak teman yang nggak suka padanya? Aku sih, biasa saja."
"Yah, aku juga nggak suka perempuan macam dia, kelihatan seperti drama queen." Gakupo menimpali. "Hari Minggu kemarin saat pemakaman pun nggak banyak yang datang."
Taito kaget, dirinya tersadar kalau Lily juga perlu dimakamkan setelah apa yang ia lakukan pada gadis itu. "Jadi kau… uh… kalian datang?"
"Iya. Sensei bilang kau masih tidur karena kecapekan mengerjakan tugas, beliau nggak berani membangunkanmu."
KRIIIIING~
Bel masuk memisahkan mereka bertiga.
"Bye, honey." Gakupo mengecup pipi Luka, lalu meninju pundak Taito dan langsung kabur setelah melihat ekspresi meringis sahabatnya itu.
Gakupo dengan enggan melihat ke wajah yang kini berada di hadapannya dan Taito yang tak lain, Itou Haruka. Kakak alumni itu benar-benar datang. Perawakannya tinggi - setinggi Gakupo, keren, pakaiannya cukup rapi, dan ada tato kecil di lengan berbentuk bunga. Tato ala yakuza.
"Yoroshiku!" ia mengakhiri perkenalannya yang tadi sudah diucapkan, lalu membungkuk sedikit dan mengamati Taito dengan sangat seksama. "Mata kananmu… kau ini bajak laut, ya?"
Ekspresi Gakupo tidak senang, meskipun begitu Taito tetap berusaha menjawab sopan. "Ini… penyakit, Senpai. Terserang kanker dan harus diangkat."
"Heee~ sou ka." ia lalu menoleh ke arah Gakupo, tersenyum jahil. "Sok keren amat, sih."
Gakupo mendecak, Itou-senpai yang memperhatikan hanya tertawa enteng,
"Temanmu ini selera humornya buruk sekali! Aku hanya bercanda, kok. Yoroshiku, ne…?"
"Kamui. Kamui Gakupo." jawab Gakupo cepat. Itou-senpai hanya manggut-manggut.
Hal yang seharusnya terhindar dari benak Gakupo terjadi. Luka menghampiri Taito, bertanya kapan klub akan dimulai karena anak-anak sudah berkumpul.
Itou-senpai terus memperhatikan Luka, hingga Taito harus membuat tindakan pencegahan. "Megurine Luka, Senpai. Dia pacar Kamui." tukasnya sebelum Gakupo bereaksi.
"Oooh! Sayang sekali, padahal aku… sudahlah. Kalian cocok, lho."
Pernyataan barusan tidak membuat Gakupo senang, baru saja ia akan berkata sesuatu-
"Baiklah, suruh mereka masuk, Shion." Itou-senpai menggosok telapak tangannya satu sama lain. "Aku akan buktikan kalau aku bisa mengalahkan sensei dalam hal mengajar."
Gakupo mendengus kesal.
"Aku nggak sudi diajar berandalan," bisiknya pada Taito. "Untuk hari ini aku bolos klub, ya. Biarkan Luka ikut, tapi please, awasi dia, man."
Taito hanya tersenyum. "Oke."
.
.
Ekspresi para siswa takjub ketika Itou-senpai menunjukkan keahliannya bermain drum. Begitu klub berakhir pun, tanggapan mereka bermacam-macam. Ada yang pro dan kontra.
Gakupo kembali ke ruangan untuk menemui Luka, Taito mengacungkan jempol.
"Did he do anything to her?" Gakupo setengah berbisik, Luka sudah kembali di genggaman tangannya. Taito menggeleng.
"Sikap antusias yang wajar, honey. Cewek-cewek lain juga." ujar Luka meyakinkan.
Tanpa Taito sadari, sang kakak alumni terus memperhatikannya dengan tatapan sulit dimengerti. Luka kebetulan melihat, mencolek Taito, memberi tahu kalau dirinya diperhatikan.
"Oh, ya, Senpai, terima kasih banyak untuk hari ini!" Taito akhirnya menghampiri Itou-senpai, sementara Gakupo memilih keluar ruangan auditorium, bersiap pulang bersama Luka. Kini di dalam auditorium hanya ada Taito dan Itou-senpai.
"Tentu saja!" kakak kelasnya itu bersemangat, berjalan ke arah pintu, memukul-mukul pintu yang terbuat dari kaca itu. "Hmm, cukup tebal."
Hah? Apa maksudnya?
.
CEKREK
Senyum Taito menghilang dan bibirnya pucat seketika.
"Sensei bilang kau nggak punya pacar, dan kelihatannya memang begitu." suara Itou-senpai berubah dingin. "Lalu bisa kau jelaskan padaku darimana kau mendapat luka-luka gigitan kecil di lehermu itu? Orang lain mungkin nggak memperhatikannya, tapi aku bisa lihat, lho. Kau menggoda sensei, ya? Bilang saja, aku nggak akan membocorkan ke siapa-siapa…" ia mendekat.
SHIT. Dia tahu.
Alasan apapun pasti nggak berguna.
Nggak ada jalan lain, aku harus menghilangkan orang ini.
Taito memilih berjalan mundur, mencoba meraih vas keramik yang terletak di meja sudut ruangan. Dan seperti dugaaannya, Itou-senpai semakin mendekat.
Sedikit lagi, kau akan terjaring umpanku, Senpai.
Akan kuhancurkan kepalamu.
.
ZRET-BLUK! PRAAANG~
Rencana Taito gagal, vas itu malah jatuh ke area jauh dari jangkauannya dan pecah berantakan akibat dorongan Itou-senpai yang tiba-tiba. Kakak kelasnya itu menyeringai puas dengan Taito yang terbaring di bawah naungan tubuhnya.
"Hei, ngomong, dong. Sensei saja boleh menikmatimu, aku nggak boleh?" – membuat Taito panik setengah mati, nafasnya memburu. Ia menendang-nendang tapi tidak berhasil.
Itou-senpai mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya; sebuah alat suntik.
"AAAAARGHH!" Taito meraung seraya terus menendang sekencang yang ia bisa.
"Aku baru sekali, sih, memakai ini, untuk bersenang-senang dengan mantanku dulu. Cewek itu menolak terus setiap aku mengajaknya, sih." Ia tertawa. Tubuhnya yang besar tak terelakkan oleh Taito. "Makanya aku terpaksa pakai cara kasar. Begitu juga denganmu."
SRUUT
Taito berteriak nyeri, jarum suntik itu menembus nadi lehernya. Seketika tendangannya melemah dan tubuhnya kaku. Ia masih bisa mendengar dan merasakan, tapi tidak bisa bergerak.
Itou-senpai berbisik, "Bagaimana rasanya tinggal serumah dengan guru idola itu, hah?"
Taito dapat merasakan kulit bibir Itou-senpai mulai menjamahi bibirnya, kemudian lehernya, Sementara tangannya membuka kancing seragam Taito, satu demi satu… dan terpampanglah tubuh berkulit bersih dengan beberapa tanda keunguan.
"Kau indah…" katanya dengan nada yang terdengar menjiikkan oleh Taito. "Pantas saja sensei suka padamu, Shion. Kau seperti boneka porselen yang langka."
Bukan suka yang seperti itu, dasar mesum brengsek.
Kumohon, siapapun…
Bunuh orang ini!
"N… o…"
"Ah-hahahaaa… Hanya 'No'? Ayo, coba bicaralah yang lain."
Pupil mata Taito membesar, cairan suntik tadi menguasai aliran darahnya.
.
JEGLEK
DRAP DRAP DRAP DRAP-
SET
Beberapa orang terdengar masuk ke dalam ruangan yang terkunci dari dalam itu, dan entah melakukan apa pada Itou-senpai hingga sekarang si kakak alumni tampak terbaring tak berdaya di sisi kiri Taito. Ia dengan samar-samar melihat orang-orang tersebut mengelilinginya.
Melihat Taito yang tak sadar akibat pengaruh obat, tanpa bicara apa-apa, salah seorang dari mereka memakaikan jaket pada Taito, lalu menggendongnya. Sementara beberapa orang lainnya memapah alumni yang ternyata memang berperilaku buruk itu ke luar ruangan.
"Sisanya biar kami yang urus, Hiyama-sensei. Tolong segera bawa Shion-kun pulang."
"Cih, berandal ini. Sudah lulus saja masih buat onar juga, dasar anak bajingan. Apa dia lupa kalau di auditorium ini terpasang tiga CCTV?! Ampun.."
"Sudah, sudah, Ryuuga-sensei! Ck, Minamoto-sensei, apa kita harus lapor polisi?"
"Telepon saja orangtuanya! Aku penasaran, setelah pengaruh biusnya hilang, kira-kira bagaimana jadinya, ya…? Bocah ini perlu diterapi, Minamoto-sensei."
"Aku setuju denganmu, Ryuuga-sensei! Mikazaki-sensei tidak usah terlalu khawatir.."
- Afternoon, 7pm
Uuung…
Ukh…!
Hmphf!
DRAP DRAP-
BLAM!
Taito terduduk, memuntahkan isi perutnya ke dalam water closet. Tangannya yang mencengkeram pinggir WC terlihat tegang. Efek pusing pasca pingsan di bawah pengaruh obat tadi agaknya membuat Taito mual luar biasa. Begitu mendengar semua suara tersebut, Hiyama-sensei yang sedang memasak makan malam bergegas naik ke kamar Taito di lantai atas. Langkahnya lalu terhenti di depan pintu kamar mandi yang terletak dalam kamar.
Setelah mual dan muntahnya mereda, Taito susah payah beranjak untuk mencuci wajah dan berkumur. Hiyama-sensei masih berdiri di tempatnya dengan pandangan bersalah.
BRUK
Taito terjatuh lemas, kakinya gemetar hebat dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Namun ia tak segera berdiri lagi, malah dibenamkannya wajahnya di antara kedua lutut.
"I don't wanna go to school anymore."
Gumaman Taito terdengar seperti orang ketakutan yang menahan tangis.
Hiyama-sensei akhirnya mendekat perlahan. Saat telapak tangannya baru saja menyentuh lengan Taito,
"DON'T!"
Taito menepis tangan Hiyama-sensei kuat-kuat hingga masternya itu kaget.
Anak itu kembali berteriak-teriak ketika Hiyama-sensei memegang lengannya untuk menenangkannya. Namun bukannya tenang, ia malah tambah meraung memberi penolakan.
"PLEASE! DON'T TOUCH ME! PLEEEEASEE! NO!"
"Hei, Taito!" Hiyama-sensei berusaha menahan tubuh kurus yang terus meronta itu. Kini ia mencengkeram pergelangan tangan Taito yang terasa amat tegang, menandakan Taito benar-benar takut dan kemungkinan besar belum sepenuhnya sadar.
"NOOOOOO-!"
PLAKK!
Hening.
"IT'S ME!" giliran Hiyama-sensei yang harus mengeraskan suaranya. "IT'S ME, NOT HIM."
Taito menatap Hiyama-sensei bingung.
"Ma…ster..?" suaranya bergetar. "Ma-maaf, a-a-ku pikir…"
"Sssh. Ya. Ini aku. Maaf aku terpaksa menamparmu barusan."
Dengan tatapan kosong, Taito membawa jemarinya yang masih gemetar ke mulut, mulai menggigiti kukunya. Sama seperti yang sering dilakukan mendiang ibunya dahulu.
Hiyama-sensei tidak mencegahnya.
.
"Tenanglah."
Nafas Taito terdengar berat.
Dugaan Hiyama-sensei benar, sebutir airmata mengalir dari sudut mata butler kecilnya itu. Taito sendiri sadar bahwa sekarang ia menjadi amat rapuh dan cengeng, tapi apa daya...
Kenapa, sih, ada saja hal nggak enak yang terjadi padaku.
.
Merasa sudah dapat 'dijinakkan', Hiyama-sensei mengelus rambut Taito lembut.
"Cobalah mengingat apa yang terjadi."
"I can't."
"Just try, Taito-"
"I can't!"
"LISTEN!" Hiyama-sensei mulai tak sabar. "Kau pasti bisa mengingat apa yang terjadi, apapun itu! Aku nggak akan marah! Ceritakan padaku!"
.
"Dia mengunci pintu ruangan… lalu dia menyuntikku… membuka bajuku… mencium-"
Hiyama-sensei lantas mendekapnya.
"Ini salahku. Maaf. Aku sudah berjanji melindungimu waktu itu, tapi…,"
"…maafkan aku, Taito.."
Pandangan Taito kosong dalam dekapan sang master. Tubuhnya masih gemetar, tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
.
.
-Late Night
"SIALAN! APA MAUMU?! SIAPA KAU?"
Teriakan yang takkan terdengar oleh siapapun di dalam gang sempit dan gelap itu.
"Kumohon jangan anggap aku lemah, Senpai."
"Cukup! Aku tahu siapa kau! Aku janji nggak akan menyebarkannya pada siapapun!"
CLEP
"Bangsat…"
CLEP
"Berapa kali.. lagi.. kau akan menyuntikku, hah? Menjijikkan, jangan... tersenyum-"
.
ZRUTTTT-BLUK
"Senpai? Ya ampun, lemah sekali, sih. Baru dua… oh, sudah enam kali, ya."
.
Bukanlah masalah bagi Taito untuk menyelinap keluar ketika Hiyama-sensei tertidur akibat kelelahan mengurus dirinya tadi, lalu pergi ke apotek, membeli set peralatan suntik beserta obat bius dengan memakai uang yang selalu ditransfer Zeito-ojisan ke rekening siswa miliknya tiap bulan. Taito beralasan untuk praktek Sains ketika sang apoteker bertanya.
Bukan masalah pula untuk menemukan Itou-senpai, Taito hanya menggunakan instingnya menuju ke klub terkenal itu, dimana semua anak gaul dan tak sedikit juga remaja berandalan biasa menongkrong di sana. Instingnya tepat, dengan mudah Taito berpapasan dengan Itou-senpai di jalan remang-remang dekat daerah itu, langsung memukul tengkuknya, menyeretnya ke gang kecil yang tak jauh dari sana untuk menghabisinya.
Taito merapatkan jaket, kembali berlari pulang dengan perasaan puas.
-Tuesday, February 14th, Morning
Suara gemerisik kertas memenuhi ruang makan.
"Haaah~" Hiyama-sensei meregangkan tubuhnya. "Maaf aku harus membawa semua ini selagi makan, Taito. Akhir-akhir ini persaingan nilai makin terlihat ketat saja..."
Taito hanya mengangguk sambil tetap khidmat mengunyah sandwich buatannya.
"Kau sepertinya benar, Sukone Tei dan Megurine Luka, ya. Makin lama nilai mereka saling berkejaran. Hmmm… eh? Sukone-san sepertinya menyukaiku. Dia selalu membuat pesan rahasia di lembar jawabannya, kemarin juga seperti ini. Nih."
Sensei, S.U.K.I :3 - BERCANDA, HEHEE!
Spontan Taito mendekat ke sisi Hiyama-sensei, melihat tulisan 'godaan' tersebut...
"Oh, dia juga akan berakhir seperti Lily."
Hiyama-sensei tak tahan mencium butler kecilnya itu.
"Aku senang saat sisi posesifmu muncul begini. Membuatku merasa dicintai sepenuhnya." ia berbisik. "Oke, Sukone hanya bercanda, kok. Istrahatlah di rumah sampai perasaanmu tenang. Kau tahu, kan, aku nggak pernah memaksamu untuk ke sekolah!"
Taito pun memberi kecupan terakhir di pagi itu meskipun hatinya jadi sedikit kesal,
"Yes, Your Highness."
.
Sepeninggal Hiyama-sensei ke sekolah, Taito masih belum dapat menenangkan pikiran sebagaimana mestinya karena ketika ia baru saja akan ke lantai atas, seseorang menekan bel.
"Ohayou gozaimasu! Saya Kasane Teto dari…-"
Ah, Kasane-san. Taito dengan samar dapat mengingat nama tersebut – salah seorang detektif swasta yang menangani peristiwa kebakaran keluarganya tempo hari. Ia datang bersama seorang pria, yang Taito yakin adalah sang "Pak Ketua".
.
"Sensei baru saja berangkat, Matsuda-san." Taito berkata sopan pada pak ketua detektif yang ternyata bernama Matsuda Takumi. Ia kemudian mempersilahkan dua orang dewasa itu untuk duduk. Sesaat kemudian Taito membuatkan dua cangkir teh.
"Sou desu ne," Kasane-san yang cantik tersenyum ramah. "Kami tidak akan lama, Shion-kun. Tadi Hiyama-san memberi tahu saya kalau kau sedang tak enak badan hari ini."
Oh. Tunggu, kenapa Master nggak memberi tahuku kalau mereka akan datang?
"Ya. Kami hanya ingin memberi tahumu sesuatu yang sangat penting." Matsuda-san menatapnya tajam. "Saya ingin kau kuat menerimanya, Shion-kun."
DEG. DEG. DEG.
Taito membeku ketika Kasane-san menyodorkan plastik berisi sebuah benda yang mereka sebut 'barang bukti' ke hadapannya.
"Kami sudah melakukan penyelidikan, tidak satupun pintu atau lemari di rumahmu yang menggunakan kunci ini, Shion-kun." tutur Matsuda-san hati-hati.
Ya, benda itu adalah sebuah kunci.
Taito memicingkan mata, tertarik bertanya lebih jauh. "Apa yang membuat anda mencurigai kunci ini, sedangkan mungkin banyak benda logam lain yang juga tak terbakar..?"
"Karena kami menemukan ini di bagian atap dekat jendela loteng, di mana para polisi dan kamipun memastikan bahwa api berasal dari sana. Tentu skenarionya akan jadi lebih mudah jika kunci ini adalah kunci salah satu ruangan rumahmu, Shion-kun." Matsuda-san menjawab jelas, mata cerdasnya tampak tenang.
"Pertama; kemungkinan ada orang jahat, mungkin orang dekat keluargamu yang memiliki kunci ruangan sama, dengan mudah menyelinap masuk rumah dan memulai aksinya. Kemudian saat hendak keluar kembali, kunci ini terjatuh. Dan kedua; Shion-san pernah membuat duplikat kunci rumah, lalu entah bagaimana duplikat tersebut ada di lokasi kejadian, jadi hanya secara kebetulan ada di sana dan tak ada hubungan apa-apa dengan kebakarannya."
"Tapi," ia melanjutkan. "Seperti yang saya katakan tadi, sayangnya kunci ini tak cocok dengan satupun benda yang ada di rumahmu. Ini membuat segalanya makin rumit."
Taito menghela nafas berat. Bagaimana tidak, segala bukti yang dipaparkan Matsuda-san sama persis dengan cerita Akaito dalam mimpinya; api yang berasal dari loteng.
"Satu lagi adalah, kabel pendingin ruangan yang tampak sengaja digunting." lanjut Matsuda-san lagi. "Kabel berwarna putih yang cukup tebal."
Taito ingat, ayahnya memang memasang pendingin ruangan di loteng karena terkadang di sana dijadikan kamar darurat jika banyak saudara yang datang menginap, dan, ya, kabel itu memang tebal selayaknya kabel mesin pendingin ruangan.
Tapi untuk apa si pelaku memotong kabel?
"Api yang dihasilkan dari hubungan arus pendek listrik lebih cepat menjalar, Shion-kun. Ingat, kan, kabel terbuat dari tembaga?" Kasane-san membuka petunjuk.
Pikiran Taito tersentak, ditatapnya mata Kasane-san dalam-dalam. "Jadi, kesimpulannya… memang ada yang sengaja memotong…"
"Benar."
.
Suasana menjadi hening karena Taito diam, Matsuda-san dan Kasane-san juga sepertinya sudah memberikan semua informasi yang harus mereka sampaikan.
.
Taito menutup pintu dengan perasaan gundah, mobil Matsuda-san terdengar menjauh.
"Saya mohon jangan segan menghubungi kami apabila kau sudah dapat menebak-nebak siapa pelakunya, Shion-kun. Kuatlah. Kebenaran harus diungkap."
Ia menghela nafas sekali lagi mengingat kata-kata Kasane-san tadi.
Ah! Ia teringat sesuatu—
"R."
-Afternoon, 4pm
BLAM!
Taito kaget dan langsung terbangun dari duduk santainya sambil menonton televisi. Hiyama-sensei masuk dengan tangan berlumuran darah, membuat Taito tersentak.
"Relax, ini bukan darahku." Hiyama-sensei menuju wastafel. "Megurine jatuh dari balkon lantai 3, sekarang Minamoto-sensei sedang membawanya ke rumah sakit. Aku nggak begitu paham karena yang melihat hanya sedikit, tapi menurut beberapa teman, dia sedang asyik membaca di sana. Setelah itu ada suara teriakan, dan kami menemukannya terkapar di depan lobi. Untungnya dia hanya mengalami cedera punggung dan pelipis robek."
Taito meraih ponselnya yang sedari tadi diabaikan. "Kau yakin dia jatuh, Master?"
1 Mail Received, 1 Voicemail Received
Gakupo; [ACCIDENT. LUKA. NEED HELP PLZ]
"Taito, aku nggak tahu kau di mana sekarang, atau kau absen hari ini? Luka kecelakaan. Kurasa seseorang sengaja mendorongnya. Pagar semen balkon hanya sebatas pinggang, tapi kalaupun dia terpeleset nggak mungkin akan langsung jatuh, dan Luka bukan orang gila yang berniat bunuh diri. Aku yakin dia didorong. Kuharap kau mendengar pesan ini."
Hiyama-sensei yang ikut mendengar pesan suara dari ponsel Taito yang sengaja di-loudspeaker, terbelalak. Taito merapatkan bibir.
"Tidak salah lagi, Master. Sukone Tei. Dia benar-benar berniat membunuh Megurine-chan." tutur Taito serius. "Dan lagi, dia menyukaimu, Master."
Pria berkacamata itu menghela nafas berat.
"Aku harus melakukannya lagi, kan?" Taito tersenyum misterius, sementara sang master memejamkan mata. Kedua tangan kekarnya menggenggam erat sisi wastafel.
Tidak ada percakapan lagi. Taito bergegas membuka website sekolah melalui ponselnya, dan setelah menemukan apa yang dicarinya, ia mengambil jaket dan sebuah cutter.
"Wait, Taito!-"
"Master, please. Master juga nggak akan menghentikanku, 'kan? Aku sudah biasa dengan kematian." ia berkata enteng dan dingin, langkahnya terhenti sejenak di depan pintu.
"I'll be back. I love you!"
.
.
-Afternoon, 5:30pm
Tei yang berasal dari keluarga berada selayaknya kebanyakan siswa Vocalo High, pasti memiliki kendaraan pribadi. Taito ingat, selama ini Tei selalu mengendarai scooter merah.
Dan ternyata memang benda itulah yang dilihatnya ketika sampai di rumah Tei.
Taito tersenyum puas karena pekerjaannya akan jauh lebih mudah melihat motor yang terparkir di luar, mungkin Tei sudah mengeluarkannya untuk pergi.
CTIK CTIK-
Nah, nikmati perjalananmu, gadis sialan. Kau lebih buruk dari dia.
-Wednesday, February 15th
"Aku takut, jadi banyak kejadian di sekolah setelah kebakaran keluarga Shion; kematian Lily-chan, si alumni – Itou Haruka, dan Tei-chan secara beruntun, kecelakaan Luka-chan…"
"Iya, mengerikan, deh. Lily bunuh diri, Itou-senpai sih, menurut mereka, dibunuh. Tapi polisi belum menemukan pelakunya karena nggak ada jejak. Lalu dengar-dengar, rem motor scooter Tei-chan nggak berfungsi, karena menurut olah tempat kejadian perkara, saat Tei-chan hendak mengerem, nggak bisa. Akhirnya dia menabrak kencang tiang listrik dan… meninggal."
"Hiih! Ya Tuhan, aku harap nggak jadi korban selanjutnya. Karena ini seperti…,"
"Seperti apa?"
"Kutukan. Peti mati yang nggak akan ada habisnya."
Taito mengulaskan senyum mendengar kata-kata terakhir.
Dengan langkah seringan kapas ia menuju ruang kelas, sambil tetap tersenyum riang menyambut hari Rabu bulan Januari yang masih bersalju.
a/n:
Wow. Bisa juga aku bikin plot ginian. It's fun! XD
Kebanyakan nonton film thriller slasher, sih.
Ahahaha—
Oke, RnR please~ :D
==Rin==
