"Bagaimana rasanya tinggal serumah dengan guru idola itu, hah?"

"Kami sudah melakukan penyelidikan, tidak satupun pintu atau lemari di rumahmu yang menggunakan kunci ini, Shion-kun."

"Oh, dia juga akan berakhir seperti Lily."

"Kutukan. Peti mati yang nggak akan ada habisnya."


Bandaged Melody

Chapter 10 – Naked Eye

Taito mengikuti pelajaran hari itu dengan santai. Ia tak pernah mencoba menghilangkan memori buruk yang baru saja terjadi Senin lalu. Namun karena si pelaku sudah menghilang dari dunia – dan dia sendiri yang menghilangkannya, itu cukup membuat Taito tenang.

Tapi tentu saja belum, orang penghancur keluargaku belum kutemukan.

Hmm~! Pasti "R" itu.

Ponsel yang diletakkan di laci meja berpendar tanda ada pesan. Ia tak men-settingnya dalam mode getar ketika berada di kelas, karena pasti tetap akan menimbulkan suara.

Gakupo; [Need to talk afterschool. Aku sedang dalam resiko bunuh diri, lol]

Taito mengernyitkan alis, tapi kemudian tersenyum maklum. Jemari Taito dengan lincah bergerak di layar sentuh,

Gakupo; Re; [Ok. Just try to calm yourself, dude.]

.

.

Dan begitulah. Sepulang sekolah, Taito mengirim pesan pada Hiyama-sensei kalau ia akan pergi menjenguk Luka bersama Gakupo. Masternya itu mengizinkan, untungnya.

Gakupo terkekeh ketika Taito mengenakan helm.

"Biasanya itu dipakai Luka, lho." Ia lalu menyalakan mesin motor kerennya. "Come on."

"Okay."

.

Sekitar lima belas menit dan mereka sampai di rumah sakit. Kini di depan mata kedua sahabat itu terdapat seorang gadis berambut pink sedang terpejam, wajah cantiknya terlihat tenang meskipun penuh luka gores, kepalanya dibalut perban, leher dan lengan kirinya digips.

"Dia sudah berjuang, Man." Gakupo menggenggam tangan Luka. "Aku ingat betul kemarin jantungnya sempat berhenti. Syukurlah kemudian kembali sadar."

"Terus, dia nggak bilang apa-apa padamu saat itu?"

"Oh, ya, ya! Ini dia yang ingin kuceritakan padamu. Nggak di sini,"

"Baiklah," Taito menyeret langkahnya ke luar bangsal.

"Gimana kalau di kafe Tosca? Agak jauh dari sini, tapi tempatnya nyaman."

.

.

-Afternoon, 6pm

Gakupo menyeruput cappuccino-nya.

"Mungkin setelah ini aku bakal memesan cocktail, lalu meracau seperti orang edan," ujarnya miris. Taito menepuk pundak Gakupo yang sekarang terus menatap kosong.

"Hei, dia bilang apa kemarin? Kembali ke topik, dong."

"Heheh," Gakupo merogoh sakunya, memperlihatkan sebuah kotak mungil berwarna merah pada Taito. "Aku berencana langsung memberikan ini padanya setelah lulus nanti."

Sebuah cincin, tepatnya cincin pertunangan.

"Jadi, aku nggak akan memaafkan orang itu. Karena Luka terus bergumam…"

"…'dia mendorongku'."

DEG.

Taito mendengarkan dengan seksama.

"Dan aku nggak percaya waktu dia bilang, 'Sukone Tei-chan'. Setelah itu dia tertidur kembali karena obat penenang yang diberikan dokter, sebelum aku sempat meyakinkannya."

GOTCHA!

"Tapi kudengar kemarin dia juga kecelakaan motor, ya? Remnya nggak berfungsi sehingga menabrak tiang dan tewas seketika?"

"Yah, itu juga yang kudengar dari anak-anak sekelas…"

"Heh, begitu, ya." Gakupo menyeringai. "Meskipun aku tetap kasihan padanya, sih. Aku lebih suka perbuatannya ketahuan, dipenjara sambil menanggung malu seumur hidup akibat percobaan pembunuhan ini. Tapi, yah, Dewa Kematian mengambil orang yang berhak."

Taito mendadak tertawa geli mendengarnya. Gakupo sampai heran, karena tetap saja pernyataan yang dilontarkannya barusan bukan bahan tertawaan.

"I'm sorry, I'm sorry." ringis Taito menahan perasaan gelitik di otaknya. "I'm sorry."

Gakupo menghela nafas heran. "Hmmh."

.

Sebagaimana layaknya sahabat, sepanjang waktu mereka malah ngobrol kesana-kemari. Taito bersyukur melihat Gakupo yang dapat kembali bercanda alami seperti biasa.

"By the way, ada ingin kutanyakan, deh. Sedikit pribadi, sih."

Perkataan Gakupo tersebut entah kenapa membuat jantung Taito berdebar.

"Kau putus dari Zatsune?"

.

"Kalau kau nggak mau membicarakannya, ya, nggak usah. Santai saja." Gakupo berdehem. "Aku hanya penasaran."

Mungkin aku bisa menyimpan kartuku pada Gakupo…,

"Sebenarnya… dia nggak pernah menghubungiku lagi sejak aku kolaps di lapangan waktu itu, dan…" Taito menjentikkan kuku. "…sudahlah. Aku juga nggak peduli."

"Uh-huh? Nggak peduli karena..?"

Taito mengumpulkan nafas.

.

"Hiyama-sensei."

.

TAP. TAP.

Gakupo mengetukkan sendok cappuccinonya ke alas cangkir yang terbuat dari kain. Suasana menjadi canggung, begitulah yang dirasakan Taito sekarang.

"Hfff… hi... hihihii…" tiba-tiba Gakupo terkikih pelan. "Ya ampun, ternyata aku benar, kan? Kau ingat apa yang pernah kubilang, 'kau sudah seperti pacarnya', waktu itu?"

Taito tak bisa mengelak lagi…

"Kau masih mau berteman denganku setelah tahu… aku… aneh?"

Gakupo terperangah.

"Sampah apa yang kau katakan barusan, sih?!" serunya emosi, "I'm here, dude! Pria bijak berumur delapan belas tahun yang akan selalu nempel di hidupmu seperti bakteri di usus."

Taito kembali tertawa, kali ini dengan terharu.

"Thanks."

"Nggak perlu berterima kasih, dasar bodoh. Seperti teman baru saja."

Mata tajam Gakupo memandangi Taito dengan tatapan lucu.

"Yah, bisa kulihat sensei ternyata pacar yang baik. Kau nggak berubah menjadi lebih kurus atau lebih pucat setelah semua kejadian itu. Tubuhmu masih… seperti dulu."

"Hng," Taito salah tingkah, bagaimanapun ini adalah pengakuan yang lumayan memalukan karena Gakupo adalah seorang straight – bahasa kasarnya, 'normal'.

Gakupo menunjuk pangkal lehernya sendiri, memberi kode pada Taito. "Lehermu?"

Taito meraba area yang dimaksud Gakupo, menyentuh bekas luka gigitan masternya yang meninggalkan bekas timbul di sana. Taito menatap Gakupo panik.

"Terlihat sejelas itu, ya?" nada bicara Taito meninggi.

"Ya Tuhan," Gakupo menatap sahabatnya itu prihatin. "Apa yang dia lakukan padamu?"

Padahal tadinya Taito menebak-nebak ekspresi Gakupo akan tertawa meledeknya atau apa, namun Gakupo malah serius.

"I-ini…" Taito menutup bekas luka itu dengan jaket.

"Apa? Itu termasuk kekerasan, tahu."

"Well, dia… menandaiku, hehe-"

"Apanya yang 'hehe'? Dia melukaimu! Ini kekerasan, masalah serius, man." Gakupo mendekat, berbisik. "Dia menyundutmu dengan rokok, menggigit, atau ngapain?"

"G-gigit." Taito terbata. "Hei, Hiyama-sensei nggak jahat! Ini terjadi waktu pesta tahun baru di sekolah, aku terlalu asyik padahal waktu sudah terlalu larut. Dia begitu marah."

"Ya, ya, dia memang baik, tapi ini… ugh… ck, terserah kaulah, kalau sedang dalam cinta, sakitpun terasa biasa saja, ya?"

.

.

Tepat pukul setengah delapan malam.

"Wow, kaca film di jendela kafe ini luar biasa. Aku nggak menyangka sudah malam, pemandangannya sama seperti tadi!" Gakupo lantas beranjak dari duduknya.

Taito sontak ikut kaget, ia asyik bercengkrama hingga benar-benar lupa memperhatikan ponsel – yang sialnya masih dalam mode silent – untuk memberi kabar pada Hiyama-sensei.

14 Missed Calls, 9 Mails Received

Terlalu takut untuk membuka semua pesan tersebut karena Taito yakin seluruhnya dari sang master, tangannya mendadak dingin.

"Akan kuantar kau pulang, deh. Sensei pasti akan kalang kabut menunggu murid kesayangannya terlambat pulang ke home sweet home, hihi… cepatlah, sudah malam, nih."

"Hm, aku akan panggil taksi saja."

"Aku tahu kau polos, tapi jangan terlalu bodoh gitu, dong! Aku nggak mau sensei marah padaku besoknya karena nggak bertanggung jawab setelah mengajakmu berkeliling hari ini, lagipula memangnya kau punya uang berapa lagi untuk naik taksi, hah?!"

Iya, ya.., tapi kalau aku minta jemput sekarang, dia pasti akan marah di jalan.

Sial, aku takut!

Taito mematung lama, hingga Gakupo harus menyeretnya ke luar ruangan.

.

.

"Aku pulang…, Master..?"

Pukul sembilan. Dengan dihantui rasa takut, Taito mencari-cari Hiyama-sensei; ruang tamu, ruang televisi, dapur…

Taito deg-degan ketika melihat pintu kamar masternya tertutup, dan ia terlalu takut untuk membukanya. Ada suara orang mengetik di komputer terdengar.

TOK. TOK.

"Master, kau di dalam? Maafkan aku, tadi ponselku masih dalam mode silent karena harus ke rumah sakit menjenguk Megurine-chan, seperti yang kubilang dalam pesan yang kukirim padamu tadi sore. Lalu ke kafe sebentar untuk menemani Gakupo menenangkan dirinya. Tadi dia mengantarku pulang. Kau nggak perlu khawatir, Master…"

Taito menghela nafas lega karena selama ia bicara, suara ketikan tersebut berhenti.

"Aku benar-benar minta maaf, Master." jemari Taito tergelincir turun di permukaan pintu karena suara ketikan itu berlanjut kembali. Ia pun mengeraskan suaranya,

"Good Night, Master! I love you."


-Thursday, February 16th

Waktu sarapan. Tidak ada suara apapun di ruang makan selain dentingan sendok, garpu, dan pisau ketika menyentuh permukaan piring.

"Jadi," Hiyama-sensei memecah keheningan. "Ke sekolah hari ini?"

Taito mulai memberanikan diri menatap wajah sang master.

"Hei, aku nggak marah padamu, kok. Aku mendengar penjelasanmu semalam di depan kamarku, dan… yah, aku mengerti, kok." Ia menyeka mulutnya dengan serbet makan. "Kemarin aku cukup kelelahan, makanya aku nggak merespon."

"Oh." suara Taito tercekat. "Still, I'm sorry. Dan aku sedang nggak ingin ke sekolah."

"Mm-mm. It's fine. Kalau begitu aku berangkat, ya. Jangan lupa minum obatmu."

Lalu seperti biasa – ciuman pagi hari. Namun ketika baru saja Taito menutupkan pintu, ia teringat; bertanya pada Hiyama-sensei mengapa masternya itu tak memberi tahunya lebih dulu jika kedua dektektif swasta – Kasane-san dan Matsuda-san – akan datang hari Selasa lalu. Sayangnya Hiyama-sensei sudah keburu menyalakan mesin mobil.

Ah, nanti saja saat pulang, deh. Duuh, aku ini pelupa sekali!

.

Taito melangkahkan kakinya ke tangga, menuju ruang musik di lantai atas.

Dengan perasaan kosong ia membuka penutup tuts piano, memainkan lagu "A Thousand Years", kemudian kembali bosan. Akhirnya ia menyalakan televisi dan memilih saluran secara acak, tapi entah kenapa otaknya sedang benar-benar hampa hari ini.

Iseng, dengan membiarkan televisi menyala ia kembali ke ruang musik dan menjelajahi ruangan itu hingga ke paling sudut. Siapa tahu ia menemukan sesuatu yang menarik selain seperangkat drum, gitar-gitar mahal, piano, dan lemari kecil berisi binder lembaran partitur.

Pandangannya tertuju pada lemari kaca berisi koleksi pajangan; mobil dan motor sport mewah, miniatur, dan yang paling penting adalah plakat dan piala-piala prestasi Hiyama-sensei. Jumlahnya dua belas buah. Ada pula sebuah pajangan yang dianggapnya sangat tidak menarik, yaitu sebuah jam weker digital berbentuk daun. Taito sudah memperhatikan jam itu sejak ia mulai tinggal di rumah ini, tapi tak sedikitpun ia berani membuka lemari kaca tersebut, bahkan untuk sekedar bertanya, "Bolehkah aku membukanya?" pun ia merasa tidak berani.

Entah kenapa hari ini rasa penasaran menguasai dirinya untuk 'mengacak-acak' isi lemari yang kini dipandanginya lekat-lekat itu.

.

Nekat, ah…

Taito akan bersyukur sekali apabila pintu kaca geser lemari tersebut terkunci, yang berarti akan otomatis menghapus niat isengnya memegang benda-benda pajangan tersebut.

Tapi ternyata tak terkunci. Dengan mudah Taito membukanya, dan kini sudah ada sebuah miniatur Big Ben di tangan. Ia meneliti salah satu simbol negara Inggris yang terkenal tersebut dengan mata berbinar dan tak henti-hentinya memuja dalam hati.

Detail sekali! Keren!

.

Satu per satu benda ditelitinya, tak lupa ia menyusun mereka lagi ke posisi masing-masing. Hingga ia menyorongkan tangannya pada benda terakhir yang paling tidak menarik…

Benar-benar hanya jam weker digital biasa. Apa yang istimewa?

Taito membolak-balik badan jam. Hei, ada sebaris angka di bawahnya.

19.6.2019

Tanggal? Tanggal apa? Taito mengerutkan bibir. 2019, berarti enam tahun lalu bila dihitung dari tahun ini.

Ah! Pada bulan Desember tahun lalu, 2024, Hiyama-sensei pernah bercerita tentang kematian ayahnya lima tahun lalu.

Oh… Mungkin ini pemberian ayahnya Master.

Taito akan menaruh jam itu kembali ketika melihat sebuah kenop kecil di sisi kanan jam. Ia coba menekannya, dan kaget begitu ada suara yang terdengar dari sana.

"Ruru-chan! Ohayou! Hari ini menyenangkan? Aku menyayangimu, Ruru kecil."

Ia mematung, masih kaget mendengar suara itu yang ternyata adalah suara seorang wanita. Jam weker itu ternyata memiliki fitur perekam suara.

Taito menekannya sekali lagi.

"Ruru-chan! Ohayou! Hari ini menyenangkan? Aku menyayangimu, Ruru kecil."

Dan ia hampir saja tertawa setelah berpikir dan menyadari "Ruru-chan" yang dimaksud adalah Hiyama-sensei, mungkin saja panggilan kecil dari nama depannya, "Kiyoteru".

Imutnya! Jadi begitu, ya.., 'Ruru'…

Lalu siapa wanita yang berbicara ini, ya?

Ibunya Master?

Taito kembali memastikan tanggal yang tertulis, 19 Juni 2019.

Sudahlah, sebaiknya aku beranikan diri bertanya pada Master nanti sore.

Perlahan ia memasukkan jam weker itu ke tempatnya semula, lalu turun kembali ke ruang tengah untuk menonton televisi yang ditelantarkannya.

.

.

Mandi pukul lima sore dengan air hangat yang tercurah lembut dari shower terasa sangat nyaman di kulit Taito. Luka-luka akibat kebakaran lalu itu sudah tidak terasa perih, tapi tekstur kulitnya masih lebih halus dari kulit normal. Dokter menyarankannya untuk selalu berhati-hati menjaga lukanya yang sudah tidak perlu diperban sejak bulan lalu.

Ponsel Taito yang diletakkan di meja kaca dekat wastafel kamar mandi berdering. Taito segera mematikan shower dan menyambar handuk.

Master: [Dinner outside today. Prepare!]

SWIIISH~

Angin musim dingin masuk melalui jendela kecil kamar mandi yang tertutup kawat kasa gelap, membuat tubuh Taito yang masih bertelanjang dada bergidik kedinginan. Ia segera meletakkan ponselnya kembali di meja kaca dan mengambil pakaian untuk bersiap-siap.

Oh, ya. Jangan sampai aku lupa lagi hal yang tadi pagi ingin kutanyakan,

Termasuk tentang kunci, mungkin?

Dan si "R", dia siapa—

.

.

.

Astaga…

Taito terbelalak seketika. Ia berjalan dengan tatapan kosong ke kasur lalu duduk di sana. Seperti baru saja ada yang melempar bom Molotov ke hadapannya – ia merasa lemas sekali.

"Ruru-chan…"

.

Nggak mungkin dan memang nggak akan pernah mungkin!

.

.


-At Steak 'n Break Restaurant

Taito merasa seluruh badannya dingin.

"Hey," Hiyama-sensei menggerakkan tangannya tepat di depan mata Taito yang menerawang. "Kau tampak nggak sehat. Ada apa, hm?"

Nafas Taito terasa sesak. "I'm okay, Master. "

"You sure? Setelah ini mau beli milkshake rasa bluberi?"

Taito terperangah.

Master bahkan hafal minuman kesukaanku.

"Mm? Ayolah, habiskan, dong!" suara Hiyama-sensei meninggi agar Taito setidaknya kembali bersemangat. "Atau mau kusuapi?"

Spontan kedua wanita yang duduk di meja sebelah Hiyama-sensei dan Taito terkikik geli.

"Master!" bisik Taito keras menahan malu.

"Ehh—hehehehe, makanya, habiskan makananmu, Taito."

"Iya, iyaa…"

Berusaha tersenyum, bulir air bening mengambang di mata Taito.

Master sangat baik padaku, dia memang sempurna.

Ya Tuhan, aku jahat sekali sempat menduga yang bukan-bukan.

Tapi rasa takut ini… berarti apa?

.

.

JEGLEK

"Terima kasih, Master. Perutku penuh, hahaha…"

"Nah, kan, sudah kuduga milkshake bluberi adalah obat yang mujarab."

Sekali lagi mereka berdua tertawa. Hiyama-sensei menutup pintu depan lalu menguncinya. Taito bergegas ke kamar untuk menyiapkan pelajaran esok hari, ia berniat masuk sekolah guna mengisi ketertinggalan absen.

Selesai mempersiapkan segalanya, ia pergi menggosok gigi. Pantulan dirinya di cermin kamar mandi terlihat sendu padahal perasaannya sedang bagus. Taito memaksa membuat raut wajah senyum yang konyol sehingga pantulan wajahnya menjadi lucu, ia terkekeh pelan sendiri tanpa suara. Perlahan ia membuka cermin yang juga merupakan lemari tempat peralatan mandi disimpan, menaruh kembali sikat dan pasta giginya di sana…

Dengan cepat Taito menutup cermin ketika ia merasa ada tangan seseorang menggerayang hendak memeluk tubuhnya dari belakang. Ia tersentak.

"Hihi, sorry. Kau sedang memikirkan apa, sih, sampai sekaget itu melihatku."

"Siapapun akan kaget kalau seseorang muncul tiba-tiba tanpa suara seperti itu, Master!"

"Hmmh~ right, right. Aku hanya ingin membuat kejutan manis." Hiyama-sensei mempererat dekapannya, menghirup dalam-dalam aroma kemeja pergi yang masih dikenakan Taito. "Aku sudah seminggu ini sibuk terus, kan? Kurasa malam ini kita bisa…"

.

.

Salju turun dengan tenang malam itu, terasa berarti sesuatu bagi Taito yang sekarang terbaring di kasur, tengah ber-french kiss dengan sang master. Rasa takut tadi masih ada.

.

"Hnngk!" ia hampir menggigit lidah masternya karena jantungnya berdebar tiba-tiba, satu kali. Terasa sangat menghentak dan cukup membuat tubuhnya merinding.

Mata Taito berkaca-kaca. Rasa takut itu semakin kuat.

R…

"Hei, hei," Hiyama-sensei di atasnya berbisik tanpa suara, memegangi kepala Taito yang berusaha keras menahan isakan. "What's wrong?"

Taito menggeleng, percuma. Mengelak hanya akan membuat isakannya bertambah. Ia berusaha menyeka airmata yang keluar menggunakan lengan, tapi sang master mencegahnya.

Hiyama-sensei menempelkan dahi dan hidungnya pada Taito.

"Apakah sakit..?" bisiknya lembut. Ia berbicara soal gigitan kecil yang tadi dilancarkannya pada leher Taito, seperti yang biasa dilakukannya. "Apakah tadi itu sakit..?"

R…

"No, I'm fine, Master." Taito bersuara pelan, airmatanya mengalir perlahan. "I'm fine. Aku nggak tahu kenapa, tapi aku baik-baik saja."

Hiyama-sensei menyentuh pipi Taito. "Kau gemetar dan dingin."

"Sungguh, aku baik-baik saja, Master." Taito mengecup bibir basah di hadapannya. "Use me as you wish, like always. I'm fine."

.

"Then… I'll put it in, okay..?" jari kurus dan panjang Hiyama-sensei mengusap lembut bibir Taito yang ikut gemetar. "Aku akan pelan-pelan."

Dan seiring dengan gerakan tubuh sang master, Taito tak kuasa menahan suara yang biasa dikeluarkannya dalam situasi seperti ini.

Jantungnya pun semakin berdebar akibat perasaan takut yang terus menerus menghantui, kedua tangannya meremas sprei kuat-kuat.

R…, Siapa kau sebenarnya..?

.

.

"Master… kau sudah… tidur…?" Taito seperti menggumam, tanpa disadari seluruh tubuhnya benar-benar menggigil hebat sekarang, posisinya memeluk Hiyama-sensei erat-erat.

"Taito!" dengan panik dan susah payah Hiyama-sensei melepas pelukan remaja tujuh belas tahun itu. "Astaga, kau—kau dingin sekali! Aku harus membawamu ke rumah sak-"

"NGGAK!"

"Kau sakit, Taito. Kenapa nggak bilang kalau kau kedinginan sejak tadi?!"

"Please, just…" Taito mencengkeram tangan Hiyama-sensei, "…stay with me, Master."

Entah mengapa kali ini Hiyama-sensei menuruti keinginannya. Biasanya kalau ia sudah berkata 'A', maka harus 'A'. Pasti ia akan langsung menggendong Taito atau bahkan mungkin menyeretnya ke rumah sakit seberapapun anak itu menolak.

Ia mendekap Taito erat, lalu menyelimuti dirinya sendiri dan Taito dengan selimut tebal.

Mustahil sekali kalau 'R' yang dimaksud adalah Master.

Sialan, kenapa pikiran buruk ini selalu saja ada, sih?!

"Master.., I love you." Taito terisak lagi karena tak bisa menyingkirkan pemikiran buruk yang terus menerus. "Apakah Master… akan tetap menemaniku tidur di sini.. sampai pagi?"

Hiyama-sensei meremas tubuh gemetar Taito yang tenggelam dalam tubuhnya. "Aku akan tetap di sini kapanpun, tenanglah. Coba pejamkan matamu." Ia mengecup dahi Taito.

"I love you more, Taito. More than you think."


a/n:

Shit, sekarang aku bener-bener nyebut ini fic kutukan.

Soalnya kalo lagi adegan mesra yang without 'that' thing, otakku ikut ngebayangin betapa manisnya mereka berdua~ lalala~ / / / w / / /

RnR aja deh pokoknya! :3 Arigachuuu minna!

==Rin==