"Aku berencana langsung memberikan ini padanya setelah lulus nanti."

"Apakah tadi itu sakit..?"

"Please, just… stay with me, Master."


Bandaged Melody

Chapter 11 – Mist

-Friday, February 17th, Morning

"Beranilah, sayangku… anakku…"

.

"Hmm,"

Taito mengerjap-ngerjapkan mata, suara mendiang ibunya barusan seakan menyuruhnya untuk segera bangun. Ia meraih eyepatch-nya di meja kecil samping tempat tidur.

Ah, tangannya menyentuh secarik kertas.

[Ohayou! Kuharap perasaanmu sudah lebih baik. Maaf ya, tadi Minamoto-sensei menelepon karena ada rapat mendadak pagi ini sebelum kelas dimulai, untuk membicarakan… kau tahulah, tentang kecelakaan. Begitulah. Oh ya, dan karena buru-buru, aku sendiri bahkan nggak sempat sarapan. Jadi, kau makan sereal yang ada saja, ya. MAKAN YANG BANYAK, DAN MINUM OBATMU! xoxo]

Taito mengulaskan senyum.

Aku percaya padamu, Master. Semua kartuku ada padamu.

Salju turun deras, termometer ruangan menunjukkan angka minus enam derajat.

Taito menarik rapat kaus kakinya –

Lho? Aku nggak ingat.., pasti Master yang memakaikan ini.

Hihi, aku jadi seperti anak kecil yang benar-benar kedinginan dan jatuh sakit.

Ia lalu beringsut lepas dari kasur kemudian turun ke bawah untuk membuat sereal karena perutnya berbunyi. Udara dingin memang membuat siapapun cepat lapar.

Selama sarapan sembari menonton siaran berita, Taito tak bisa fokus karena telinganya terus berdenging seakan ada yang salah pada saluran pendengarannya. Begitu pula ketika selesai mencuci peralatan makan, ia memegangi kepala akibat terasa pening. Hingga akhirnya dengingan itu menghilang, tetapi sekarang pikirannya menerawang entah ke mana.

.

Dengan tatapan kosong, sepasang kakinya membawanya melangkah menuju kamar, membuka laci meja belajar, dan mengambil sesuatu dari sana.

.

Kedua kakinya lagi-lagi menuntunnya ke sebuah ruangan yang familiar baginya. Hati dan pikirannya seperti tak sadarkan diri. Sesampainya di ruangan itu, ia memperhatikan benda besar di hadapannya, berjalan perlahan… lalu dengan tenang tangannya bergerak, mencoba mencocokkan benda yang diambilnya dari kamarnya tadi ke benda besar tersebut.

KRRK…

Tidak cocok, benda kecil di tangannya tidak mau bergerak memutar.

Mata Taito memindai seluruh sudut ruangan dengan jeli, tiap menemukan benda yang harus dibuka dengan benda kecil di genggaman, ia langsung mencoba mencocokkannya.

Oh tidak, ternyata semuanya tak cocok.

Taito menyorongkan tangan ke kolong ranjang. Hei, masih ada benda di sana, sebuah koper. Perlahan ditariknya keluar, dan sekali lagi ia melakukan hal yang sama seperti tadi.

KREK

.

.

Taito meringkuk.

Sungguh, ia tak tahu apakah harus menyesali tindakannya lima detik lalu, atau bersyukur karena telah melihat kenyataan di depan matanya.

Nafasnya sesak, syok berat setelah benda kecil itu berhasil membuka sebuah koper berwarna metal berisikan Magnum revolver 44 enam inci beserta beberapa pelurunya, selembar foto dua orang perempuan muda yang cantik, sebuah paspor, dan akta kelahiran.

[Hiyama Akiko]

Nama itulah yang tertera pada tiap dokumen.

Tentu saja Taito bukannya kaget tanpa alasan. Matanya menangkap sebaris coretan kecil di lembar belakang paspor yang lagi-lagi berupa angka, bertuliskan "241224", dan di lembar foto tadi, ia mengenali dengan jelas salah seorang perempuan di sana. Rambutnya cokelat kemerahan dengan panjang sedada.

Jelas sekali, tanggal di mana keluarganya hancur.

Dan wanita itu, tak salah lagi, mendiang ibunya ketika masih muda dulu.

Taito mencengkeram karpet bulu kuat-kuat karena nafasnya benar-benar sesak. Tentu saja tak ada siapapun selain dirinya di tempat itu, jadi ia harus bertahan sendiri.

Jadi, inikah yang dimaksud Ibu…

Astaga, Tuhan, kumohon…

Kumohon katakan padaku kalau semua ini nggak benar!

.

Seiring dengan penemuannya yang mengejutkan, setelah berhasil lepas dari sesak-nafas-akibat-syok yang dideritanya, kini Taito berusaha bangkit.

Apa yang…

Harus…

BLUK

Dengan mata nanar, Taito kembali tergeletak di karpet.

Pikirannya sudah benar-benar kacau.

Gakupo.

Dengan terpontang-panting, Taito berlari kembali ke kamarnya, meraih ponsel, berniat mengetikkan pesan kepada sahabat karibnya itu, tapi sebelum jemarinya sempat bergerak…

Gakupo: [Where r u?! Kau sering sekali bolos akhir-akhir ini. Apa yang dia lakukan padamu, sih?! Mengurungmu di rumahnya dan melarangmu ke sekolah? Kau harus masuk besok! Absenmu bisa makin parah, lho.]

Taito membalasnya secepat kilat,

Re; Gakupo: [Kafe Leaf afterschool. Please, akan kuceritakan semuanya di sana.]

Sedetik kemudian tangannya mendingin. Ia harus pergi secepat mungkin dan menceritakan segalanya pada Gakupo sebelum pemilik rumah itu pulang.

Tuhan, bantu aku. Kumohon. Aku nggak mau mati konyol di sini.


"Hmmh, orang-orang akan mengira aku menyakitimu. Lihat dirimu, kau seperti orang stress." celetuk Gakupo serius melihat Taito yang terlihat tidak tenang dan ketakutan.

"Kau tahu, aku berhasil sampai ke sini dengan perjuangan sebelum Sensei pulang ke rumah. Aku nggak tahu apa yang harus kulakukan, sumpah."

.

Mata tajam Gakupo menatap Taito ngeri setelah anak itu berhasil menceritakan semuanya – semua penemuannya pagi ini, meski dengan suara parau dan terbata-bata.

"Fuck!" Gakupo nyaris berteriak. "Dia… astaga, Tuhan! Aku nggak… Oh shit! Damn fuck!" ia terus-terusan berbisik mengumpat. Taito hanya bisa menunduk dan menjentikkan kukunya.

"Lalu apa yang akan kau lakukan?"

"Aku nggak tahu!" tiba-tiba suara Taito berubah serak. Gakupo otomatis kaget.

"Oh, please, Taito, jangan-" tangan Gakupo memukul meja, pelan.

Perlahan sebulir air bening mengalir dari mata kiri Taito.

"Come on, man. Kau membutuhkan bantuan." Gakupo melembutkan suaranya. "Kau ini laki-laki, kan?! Oke, oke, aku paham kondisimu. Tapi kau—akh. Dia sengaja melemahkanmu, Taito. Dia sudah merencanakan semua ini sejak lama, itu yang kusimpulkan. Dia sengaja membuatmu jatuh ke pelukannya, kemudian ketika semua ini ketahuan, kuyakin kau nggak akan rela mengakui kalau dia pelakunya."

"Memang," cetus Taito pelan. "Aku benar-benar mencintainya, aku nggak-"

"JUST CUT THAT CRAP!"

Seluruh mata pengunjung kafe melihat ke arah Gakupo. Namun hanya sebentar, setelah itu seperti robot, mereka kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing. Gakupo tetap membungkukkan badan sedikit pada mereka sebagai permintaan maaf.

"Lihat dirimu, silly little shit. Walaupun belum jelas dia orangnya, tapi semua bukti itu mengarah kepadanya! Orang yang menghancurkan keluargamu! Kau masih bilang kau mencintainya?" ia berapi-api. "Aku paham kau bingung sekali saat ini. Kusarankan kau segera menelepon kedua detektif itu, lalu menceritakan semua penemuanmu pada mereka, dan akan menjadi akhir yang bahagia, percaya, deh. Walaupun memang nggak mudah, tapi aku yakin itu."

Taito menggigit bibirnya keras-keras hingga membekas merah. Gakupo melihatnya prihatin, tak tahan dengan sikap sahabatnya itu, ia menggenggam pundak Taito.

"Jadi," ia menatap Taito lekat-lekat. "Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"

"…telepon Matsuda-san…, laporkan semuanya." Taito berucap ragu.

"Apa? Ulangi lagi, aku belum yakin."

"Telepon Matsuda-san dan laporkan semuanya!"

"Bagus. Cuci muka, sana. Kau benar-benar bukan seperti Taito yang kukenal. Kau terlalu lemah." Gakupo menampar pelan Taito bolak-balik. "Kembalilah, man."

Taito menghela nafas panjang, masih diikuti pandangan prihatin dari pria berambut ungu panjang di hadapannya.

"Kau tahu, sebaiknya kau men-setting tombol panggilan cepat di ponselmu. Taruh nomor ponsel detektif itu di keypad 1, nomorku di keypad 2, dan nomor pamanmu di keypad 3, sehingga saat terjadi sesuatu yang nggak diinginkan, kau bisa langsung…" Gakupo memberi sugesti. Taito mengangguk-angguk pelan sambil melakukan apa yang diperintah Gakupo.

"Oke, beres." Taito berusaha tersenyum.

"Sekarang kembalilah ke markas orang itu. Lakukan semua rencanamu, makin cepat makin baik, kan? Aku akan sangat bersyukur sekali jika dia bukan pelakunya, atau mungkin hanya orang suruhan. Jadi, cepatlah bertindak agar semuanya menjadi jelas, Taito!"

Taito mengangguk pasti.

"Dan kuharap segalanya berjalan lancar, Taito. Ingat, jadilah pemberani."

.

.

Saat melewati gerbang rumah, jantung Taito kembali berdebar karena melihat mobil sedan hitam terparkir di garasi.

Ah, iya. Master sudah pulang.

Padahal tadinya aku masih mau mencari bukti lainnya di rumah ini.

Lalu gimana, ya…

Taito mengurungkan niatnya menelepon Matsuda-san dan lebih memilih untuk menemukan barang bukti lain. Kalau saja Gakupo tahu akan hal ini, sahabatnya itu pasti akan marah besar. Ia sendiri paham kalau seharusnya tindakan preventif adalah hal pertama yang harus dilakukan, tapi entah kenapa otaknya memikirkan jalan keluar lain.

Dengan perlahan Taito membuka pintu depan.

"Tadaima…"

Tak ada jawaban.

Bagus. Setelah ini akan ada kejadian nggak enak.

Tuhan…

Tolong…

Nafasnya memburu tanpa suara, Taito melepas syalnya. Lalu seperti adegan dalam film horror, Taito berjalan setengah berjingkat ke dalam rumah.

"Mm-master?" – tak dapat menyembunyikan rasa takutnya, kaki Taito sampai gemetar di tempat.

SRETT

"Ya? Aku di sini, lho. Dari mana saja kau ini? Kau bisa terserang demam nanti…" suara bisikan lembut itu makin lama terasa makin menakutkan di telinga Taito,

Seiring dengan tubuhnya yang sekarang tak berdaya dalam rengkuhan orang tadi.


"Jangan bermain dengannya, deh. Pasti bakal nggak asyik karena matanya hanya satu."

"Hus, jangan mengejek begitu, dong. Kasihan. Bayangkan kalau kau ada di posisinya, gimana? Dia sama seperti kita, kok. Lagipula dia sebenarnya keren, kan?"

"Aku setuju sama Yuka-chan. Kita harus berteman dengannya. Ren-kun jangan begitu, ah. Eh, atau mungkin kau takut kalah keren darinya, ya..?"

"Apaan, sih! Nggak! Aku 'kan memang cowok paling ganteng di sekolah ini."

"Huuu~"

"Iya deh, maaf. Aku hanya bercanda."

"Tapi bercandamu keterlaluan, tahu!"

"Te-hee! Maaf, maaf! Aku suka dia, kok. Dia pintar dan bisa main piano lebih bagus dariku. Aku menganggapnya saingan terberatku! Tapi tetap saja, kadang-kadang mengesalkan."

"Eh, ngomong-ngomong, pada saat perayaan hari Ayah kemarin 'kan ayahnya Taito-kun datang ke sekolah, ya. Sepertinya aku pernah melihatnya, dia seperti salah satu aktor film."

"Hhh-hahahhaa… Gou-chan mengada-ada, deh. Ayahnya Taito-kun memang kelihatan masih muda dan keren sekali, sih. Tapi aku nggak yakin kalau dia aktor."

"Nah, iya! Kakakku sampai memujinya berulang-ulang, bahkan ketika di mobil pun dia membicarakannya terus. Berisik dan nggak asyik banget, deh."

"Ya ampun, Ren-kun, kakakmu ngefans ayahnya Taito-kun ya… hahaha…"

"Biasalah, cewek. Oh iya, Gou-chan, Gakupo-kun mana? Kok belum datang?"

"E-eeeh? Kenapa bertanya ke aku?"

"Yuka-chan, lihat, lihat, mukanya memerah!"

"Bu-bukan berarti aku… urgh, kaliaaaaan!"

.

.

"Kerjamu main rubik terus, sih. Gabung bersama kami, yuk!"

"Hng?"

"Ih, Taito-kun ini. Aku bilang, ayo gabung main bersama kami. Kata Ren-kun, kita butuh satu orang lagi. Baru ada aku, Gou-chan, dan Gakupo-kun."

"Hmm.. memang kalian main apa?"

"Baseball. Tapi kali ini akan beda, karena lawan kita anak kelas 5 dari SD sebelah!"

"Heee?! Kalian yakin—tunggu, kau juga beneran ikut, Yuka-chan?!"

"Tentu saja! Kami mengajakmu main karena kau pernah home run, ingat? Waktu pelajaran olahraga dua minggu lalu? Ren-kun menaruh kepercayaan padamu."

"…"

"Sudahlah, hihi! Cepaaat…"

"Hei—jangan tarik begitu-"

.

.

"SIAL!"

"Sudahlah, kita hanya kalah satu angka. Kita bisa bertanding lagi kapan-kapan."

"Ck, tadinya aku ragu kau mengajaknya main. Home run waktu itu hanya kebetulan saja. Dia payah dalam olahraga, penglihatannya nggak cukup baik."

"Astaga, Gakupo-kun, jangan begitu!"

"Iya, bagaimanapun dia sudah bermain bagus tadi."

"Kau bilang begitu hanya karena nggak mau disalahkan akibat sudah mengajaknya."

"Berisik!"

"Sudah, sudah! Kalian ini! Ren-kun benar, Taito-kun sudah bermain bagus kok tadi."

"Dasar. Kalian terlalu baik padanya."

"Kaulah yang terlalu berlebihan, Gakupo-kun!"

"Aku nggak peduli. Kita kalah gara-gara dia!"

"Hei, tunggu, tunggu! Gakupo-kun! Ren-kun, hentikan dia!"

.

ZRUK

"Kau lebih pantas bermain dengan mainan payahmu ini daripada bermain dengan kami."

"Kembalikan!"

"Kami kalah gara-gara kau! Dasar mata satu!"

PRAK

"Ggghhh…"

.

"Astaga, mereka berkelahi!"

"Kalian berdua, berhenti!"

"Panggil Sayaka-sensei! Cepatlah!"

"Taito-kun, sudah cukup! Wajah Gakupo-kun berdarah!"

"Dia mulai… duluan!... Dia… membanting… rubikku hingga pecah…"

"Haha, cengeng! Padahal akulah yang terluka di sini,"

SREK

"Aaaakkh!"

"TAITO-KUN, TELINGAMU!"

"GAKUPO-KUNNN! YA TUHAN, CUKUP!"

"A-"

"Sayaka-sensei, tolong! Mereka berkelahi hebat!"

.

.

"…begitulah. Maaf merepotkan Anda berdua, jadi harus menghentikan pekerjaan sementara untuk menyelesaikan masalah ini. Saya sebagai wali kelas mereka memohon maaf karena kejadian ini di luar pengawasan saya. Jujur saja, sebagai seorang wanita, tadi saya sempat tak tahan melihat darah yang keluar dari telinga Shion-kun dan wajah Kamui-kun."

"…"

"Hei, ingat apa yang Ayah bilang padamu di telepon tadi tentang sikap ksatria..?"

"But, Dad,"

"Taito, come on. Kau juga mencakarnya, kan?"

"…"

"Ayolah. Ayah harus kembali ke kantor, Purpy. Kau sudah cukup bandel. Ibumu pasti akan marah kalau Ayah menceritakannya."

"…okay."

TEP TEP

"Gomennasai."

"Tu-tunggu, tidak, dari awal sebetulnya ini salahku, Pa."

"…well, Papa sudah tahu, sih. Jadi kau juga harusnya sadar siapa yang harusnya minta maaf terlebih dulu. Kau membuat Papa kecewa, Gakupo."

TEP TEP TEP

"Maafkan aku, Taito-kun! Maafkan aku telah mengejekmu! Maafkan aku karena sudah membuatmu terluka seperti itu!"

"Ya ampun, saya benar-benar mohon maaf atas kelakuan putra saya yang satu ini, Shion-san. Dia memang sok jagoan. Saya paham apa yang dilakukan Taito-kun adalah untuk membela diri. Dan soal rubik yang pecah, akan saya ganti."

"Ah, terima kasih banyak atas perhatiannya, Kamui-san. Saya juga meminta maaf atas perilaku buruk Taito yang melukai Gakupo-kun. Tetapi sebenarnya Taito memang perlu bergaul, tidak hanya bermain sendirian saja."

.

.

"Sekarang masalah selesai. Ayah rasa lukamu nggak cukup parah."

"…maaf, Yah. Tapi benar, ya, jangan ceritakan pada Ibu."

"Oke, oke. Kau tahu, Kamui-san merencanakan sesuatu untuk kalian berdua."

"Apa?"

"Tunggu saja sampai jam pulang sekolah. Kau akan dapat teman baru, Purp. Sudah, ya! Ayah benar-benar harus kembali ke kantor. Jangan bandel lagi!"

.

.

"Papaku bilang aku harus memberikannya sendiri padamu. Nih."

"Wow, makasih banyak, Kamui-kun. Rubik ini lebih keren."

"Itu tanda permintaan maafku. Mereka benar, akulah yang terlalu berlebihan. Padahal hanya kalah satu skor. Dan, hei, panggil saja 'Gakupo'! Santai saja, hahaha…"

"Oke. Gakupo-kun, sampaikan terima kasihku pada papamu, ya."

"Pasti. Oh iya, kau kuat juga kemarin. Hebat, lho!"

"Ah, kau lebih kuat."

"Iya, sih. Kapan-kapan main baseball lagi, yuk! Nanti gantian kau yang mengajariku main rubik. Kelihatannya asyik juga."

"Boleh. Hehe…"

"Sip. Kalau gitu, yoroshiku ne, Taito-kun!"

"Hn?"

"Kita berteman sekarang. Hehe! Yoroshiku, ne!"

"I-iya, yoroshiku, Gakupo-kun."

Benar kata orang-orang,

Di saat kita sekarat,

Kita memikirkan kejadian yang lalu.

Hei, tapi memangnya aku sedang sekarat?

Taito berusaha membuka matanya yang terasa berat. Beberapa detik kemudian, ia menyadari posisinya sedang dalam keadaan terikat di ruang tamu, kakinya disatukan menggunakan selotip hitam, begitu pula tangannya.

Harusnya aku mengikuti apa yang dibilang Gakupo padaku tadi…

Sekarang, apa yang harus…


a/n:

Hwaaaah~

Aku sengaja bikin adegan Gaku-Tai pake berantem dulu, biar asik XD

RnR, minna! ;D

==Rin==