"Beranilah, sayangku… anakku…"
"Jadi, apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
"Ya? Aku di sini, lho. Dari mana saja kau ini? Kau bisa terserang demam nanti…"
Bandaged Melody
Chapter 12 – Lemonade Drops
"Good evening, my little butler."
Mendengar suara itu, Taito merapal kalimat penyemangat dirinya sendiri dalam hati..,
Be brave, Taito.
"Jangan takut, ini gaya baru." Hiyama-sensei melepas kacamatanya sehingga makin menunjukkan parasnya yang rupawan, "Pernah dengar 'bondage', hm, honey?"
EH?!
Jadi, Master ingin…
"Hahahaha… senang-senangnya nanti saja, deh. Sekarang, aku ingin mengajakmu bermain game. Lebih tepatnya survival game."
Taito membeku di tempat.
"Aku hanya memberi dua pilihan padamu, butler kecil."
Hiyama-sensei mengisi revolver Magnum 44-nya dengan sebutir peluru, kemudian memutar dan menutupnya kembali dalam sekejap.
"Satu. Kau kuberi waktu lima belas menit untuk mencari tiga buah benda temuanmu tadi pagi yang menjadi bukti dari semua ini dengan syarat, tiap lima menit, kau harus sudah kembali ke sini dengan satu benda temuan, dan apabila lebih dari lima menit, maka bersiaplah menerima hukuman. Dan yang kedua,"
Diarahkannya mata pistol tersebut ke dahi Taito.
"Bermain Russian roulette denganku, di sini, sekarang. Apabila kau beruntung dan dalam dua kali berturut-turut lolos peluru, aku akan menyerahkan diriku pada polisi, mengakui semua perbuatanku – tentu saja, dan semuanya akan menjadi a sweet happy ending."
Taito menelan ludah, sebutir keringat dingin jatuh melewati tulang pipinya.
Dua, tidak-
Apa yang kupikirkan?! Goblok!
Kalau aku memilih yang pertama, tetap nggak menjamin dia nggak akan menyakitiku…
Tapi baiklah. Setidaknya aku mati karena berusaha.
.
"Satu." Taito berkata lugas. "Aku pilih yang pertama."
"Terlalu mudah, memang." tawa Hiyama-sensei. "Tapi tetap saja kau nggak cukup pintar karena meninggalkan sidik jari di koperku, Sayang."
"Kenapa kau-"
"Jangan bicara dulu, deh. Akan kujelaskan setelah semuanya berakhir; kau yang menang atau aku yang menang. Aku janji, akan kujelaskan semuanya."
Tangan Hiyama-sensei bergerak melepaskan selotip yang digunakannya untuk mengikat Taito. Anak itu meringis, perih, merasakan bagaimana lem selotip itu dengan kuat ikut mengangkat sel kulit mati dan sebagian bulu di tangan dan kakinya.
Hingga akhirnya Taito tak kuat menahan emosinya,
"Fuck you."
Mata remaja itu membulat, berkilat, jelas menyorotkan kekesalan.
"Memangnya apa yang pernah kulakukan padamu?!" dadanya penuh amarah. "Kukira kau orang baik, Master, kenapa… kenapa kau…"
Hiyama-sensei termenung sejenak.
"Hei, kau masih memanggilku 'Master' juga. Ternyata cinta itu memang buta, ya." ia menghela nafas, diraihnya wajah Taito lembut, "Pernah dengar kata 'akting'?"
Taito tak kuat lagi. Matanya bertemu langsung dengan Hiyama-sensei, tapi tatapannya kosong, tak kuasa menerima kenyataan yang ternyata berbeda seratus delapan puluh derajat.
"Kau bohong…"
"Bohong?"
"Kau bilang kau mencintaiku dan aku percaya hingga sekarang. Kau bohong kalau kau bilang hanya akting. Segala perlakuanmu terhadapku menjelaskan semuanya, Master…"
Tanpa rasa takut sedikitpun Taito mencengkeram kaus Hiyama-sensei.
"Ini bohong, kan?! Kumohon, jangan berubah sekarang, Master, kumohon…"
.
"Ya. Aku bohong."
.
"Aku amat sangat mencintaimu, Taito. Aku berusaha menyembunyikan segalanya serapi mungkin, hingga hari ini kau berhasil membongkar semuanya, yang juga berarti akan mengubah segalanya. Ini tolol, tapi aku benar-benar merasa tersiksa karena aku mencintai dan membencimu secara bersamaan. Harusnya kau ikut terbakar bersama mereka waktu itu."
Jemari Taito yang masih mencengkeram kaus Hiyama-sensei bergetar.
"Kenapa kau..?"
"Karena sorot matamu mengingatkanku padanya, tapi sifatmu membuatku nyaman."
"'Padanya'?"
"Well SHUT UP!"
"Master…, kumohon, jelaskan semu-"
"Kuberi kau waktu lima belas menit."
Taito menatap masternya itu dengan pandangan pasrah,
Ia tak punya pilihan.
"GO! NOW!"
.
.
Ruang tamu.
Balik sofa.
Bawah meja.
.
Balik televisi.
.
Lemari buku.
.
"TIGA MENIT!"
Jangan-jangan…
Ruang musik.
Lemari pajangan.
.
"Tidak ada…"
Tiba-tiba kulit betis Taito terkelupas sendiri, ada sesuatu yang mengoyaknya dari dalam. Darah menetes-netes dan ia meraung kesakitan.
"Kau pikir untuk apa aku mengikatmu dengan selotip, hah?!" seruan puas Hiyama-sensei terdengar dari lantai bawah. "Micro-blade yang kutanam di dalam tubuhmu akan bereaksi atas kontrolku selama lima menit lewat satu detik, Taito! Kau akan hancur apabila tak segera kembali ke sini tiap lima menit!"
Taito menggigit bajunya keras-keras untuk menghindari teriakan karena menahan sakit. Ia tak mau tenaganya habis akibat berteriak.
"Ma…st…"
Dengan bersimbah darah, keringat dan air mata – secara harfiah, terhuyung-huyung Taito berusaha berdiri, meraih kain taplak meja hiasan, dan dengan hati-hati membalut luka sayatan di betisnya. Luka itu lumayan parah.
"TUJUH MENIT!"
.
Cepat atau lambat, aku akan jadi gila.
Masterku sendiri menyiksaku…
.
"WAKTU BERJALAN TERUS, TAITO."
.
Taito terhentak lalu terjatuh ketika lagi-lagi, kali ini kulit telapak kaki kirinya, terkoyak. Ia tengah mencari ke kamar mandi dan dapur, namun hasilnya kembali nihil.
Astaga,
Halaman belakang.
Begitulah, dengan mengikuti instingnya yang tidak terlalu kuat, dengan susah payah Taito menuju halaman. Cara berjalannya yang terpincang membuat darah seperti muncrat dari telapak kakinya setiap kali ia melangkah. Kini lantai rumah itu dipenuhi bercak merah.
.
SREK SREK
ZRAK—
Jemari Taito kembali bergetar ketika akhirnya ia berhasil menarik sebuah koper berwarna silver keluar dari semak-semak bunga,
Bunga tulip ungu.
.
"SISA SATU MENIT!"
.
BRUAK
"Berhasil, ya?"
Taito terengah-engah hebat, posisinya jatuh tersungkur keras tepat di hadapan Hiyama-sensei dengan koper silver dalam pelukannya.
"Hebat, seperti yang kuharapkan dari keluarga Shion. Cerdas. Aku suka sekali."
"Aku hanya berhasil menemukan ini."
"Memang hanya itu. Hihihi... dan kau tahu apa?"
"…"
"Micro-blade yang terakhir, kutanamkan di nadi tangan kirimu. Andai saja kau menghabiskan waktumu selama lima belas menit tadi, mungkin sekarang kau sudah mati."
Hiyama-sensei menekan tombol berwarna merah dari alat kontrol berukuran mini di tangannya yang merupakan tombol untuk deaktivasi micro-blade dalam tubuh Taito, dan tak lama kemudian Taito terbatuk keras.
Ia memuntahkan benda sekecil butir beras; si micro-blade.
Benda yang hampir membunuhnya.
"Barang ini keren juga. Bisa menciutkan ukurannya dan menyelam di pembuluh darah."
"Kau melukaiku."
"Hanya luka sobekan kecil dan bukan di area tubuh yang begitu vital, kan? Jangan cengeng. Diperban juga nantinya akan sembuh sendiri."
"Brengsek…"
Hiyama-sensei menatap Taito melalui ekor matanya.
"Kata-katamu tajam juga sedari tadi, butler kecil."
"Sekarang aku sudah menemukan yang kau suruh, jadi jelaskan semuanya padaku."
"Ah, percuma. Aku yakin walaupun kau sudah tahu aku pelakunya pun, kau masih akan tetap mencintaiku. Percuma, Taito. Akupun mencintaimu, jadi… entahlah. Aku bingung."
"Kau nggak akan melukaiku kalau kau mencintaiku."
"Hahaha… ingat aku menggigit lehermu di dalam mobil malam itu?"
.
Gakupo, kau benar.
.
"Begini, biar kuluruskan. Aku hanya benci pada orang yang nggak konsisten, aku benci waktu kau memutuskan untuk memanggilku 'Master', tapi kau sendiri lupa. Jangan membuat janji kalau akhirnya kau melupakannya. Itu, ya, itu kekerasan. Well, namanya juga 'hukuman'."
"Kau menyedihkan. Kau pikir berapa banyak orang pelupa di dunia ini, hah?!"
"…ya. Aku memang menyedihkan."
"Sekarang aku butuh penjela-"
"Tapi tetap nggak lebih menyedihkan darimu, tukang nangis, penakut dan manja yang terus-terusan butuh tangan orang lain untuk berdiri. Kau sungguh mirip dia."
"Kau nggak tahu apa-apa…"
"Oh, ya, tentu! Memangnya apa yang kutahu tentang masa lalumu? Hal apa yang membuatmu rapuh? Aku nggak peduli. Dunia nggak tersedia untuk orang lemah, Taito."
"Maksudmu, kau harus menghilangkan seluruh keluargaku dulu untuk membuatku menjadi pribadi yang lebih kuat?!"
Hiyama-sensei mendekat.
"Itulah tugas seorang guru. Mengajarkan."
"Guru yang gila."
"Setidaknya dengan cara yang 'gila' ini, aku mendapat hadiah ganda. Pertama, dendamku terbalas, dan kedua, aku mendapatkan dirimu."
"Dendam apa?! …kau gila!"
"Kau juga. Untuk apa kau membunuh orang-orang itu hanya karena mereka menyukaiku? Itu kecemburuan yang abnormal."
"…"
"Sudahlah. Kita sama-sama aneh. Toh, kalau aku ditangkap nantinya, aku juga pasti akan membocorkan semua pembunuhan yang sudah kau lakukan. Double dead end."
"Kau bahkan belum menceritakan apapun padaku!"
"Ah, ya, ya, kembali ke topik." Hiyama-sensei berdehem pelan. "Jadi-"
ZRRRR~
Taito terbelalak kaget, pupil matanya mengecil. Hiyama-sensei tertawa geli.
"Itu hanya getaran mesin traktor yang lewat, please…"
Aku lelah, astaga, Tuhan…
Terlalu banyak hal buruk hari ini.
Sakit…
.
"Dammit! Pingsan lagi?! Fuck! Tubuhmu terbuat dari apa, sih?! Lemah!"
"Ayah nggak mau memaksamu, Taito. Tapi kau benar-benar harus ke dokter gigi. Nggak ada Kaito dan Akaito, kok. Nggak akan ada yang meledekmu."
"Ck."
"Come on. Setelah itu kita akan beli es krim dan beberapa snack. Kau perlu konsumsi yang dingin setelah cabut gigi."
"…benar, Yah?"
"Yep. Atau mungkin nonton film kalau kau mau?"
"Mm-hm! Kita akan naik apa, Yah? Mobilnya 'kan dipakai…"
"Gampang. Naik bis saja, lalu pulangnya naik taksi. Kita akan pulang sebelum Ibu, adik dan kakakmu pulang dari nonton rugby."
"Siap."
.
.
"Tetap sakit."
"Ayah nggak bilang kalau nggak akan sakit, kan?"
"…"
"Hahaha… duh, kau ini cowok! Ayolah, jagoan! Akaito pasti akan meledek habis-habisan melihatmu mengeluh begini. Dan, heei.., jangan lihat orang lain dengan pandangan seperti itu, nggak sopan! Lebih baik habiskan es krimmu, nanti meleleh, lho."
"Habis, cewek petugas kasir itu sedari tadi melihat ke Ayah terus."
"Masa iya?"
"Iya, pas dia melihat Ayah pakai cincin, dia mengangkat alis begitu, tapi masih tetap melihat Ayah. Jangan-jangan dia suka Ayah."
"Hmm. Kalau gitu, yuk, sebaiknya segera pilih film."
SRET-
DUK
"Yah?"
"Berlindung di bawah bangku itu, ayo!"
"Wow-hwaah! What happened?!"
"Just follow me!"
.
.
"Taito?"
"…nggh…."
"Hei, hei, ssh.. it's okay. Hanya gempa biasa. Ini pertama kalinya bagimu."
"Tanahnya…goyang…"
"Gempa memang begitu. Sssh... Ayah nggak akan ke mana-mana. Tunggu hingga ada pengumuman aman, baru kita keluar."
"M..emang… ken..ap..a?"
"Gempa susulan. Bisa saja terjadi."
"Ng! Ukh-"
"Sssh… it's okay, buddy. It's okay. Atur nafasmu."
.
"Yah, dengar… itu?- Itu! Di sana! Yah!"
"I know, I know. Kau bisa melihat dari sini kalau kakinya terjepit rak pecah belah. Astaga. Sepertinya… Ayah harus ke sana."
"Nggak!"
"Kakinya mungkin saja patah, Purpy-"
"No! Nggak! Don't go, Daddy!"
"Dengar. Hanya dua menit, kau pun bisa melihat Ayah dari sini. Ya Tuhan, kau gemetar. Pokoknya, jangan keluar. Paham? Tetap di sini hingga Ayah kembali. Ayah pasti kembali."
"Mm."
"Great. Tetaplah di sini dan kita akan langsung pulang setelah keadaan aman. Ayah nggak akan kehilanganmu, mengerti, pria kecil?!"
"O-okay. I love you, Daddy."
"I love you more than anything, buddy. Jangan menangis terus, cobalah atur nafasmu. Kau membuat Ayah khawatir. Kau ini jagoan, kan?"
"H-hm."
.
"Nona yang di sana, Anda bisa melihatku~?"
"Aku tak bisa menggerakkan kakiku. It's stuck."
"Aku coba mengangkatnya, ya! Gerakkan kaki Anda sebisa mungkin!"
"Okay."
"Right. Hitungan ketiga…one, two, thr-eeee!"
.
"Terima kasih banyak!"
"Untung tidak patah atau sesuatu yang buruk, ya. Rak pecah belah, lho."
"Ya, syukurlah. Aku baru saja pulang kuliah ketika disambut gempa ini. Duuh."
"Oh, jadi kau kuliah, ya?"
"Betul. Anda sendiri? Errr.. hangout bersama pacar?"
"Hahaha. Aku sudah menikah, aku kesini bersama putraku yang kelas 2 SD dan baru saja cabut gigi. Nah, sekarang aku harus menemuinya lagi. Aku sudah berjanji akan kembali untuknya dalam dua menit, dia sedang ketakutan. Kau lihat pria kecil di seberang itu, Miss?"
"…oh! God, maafkan aku berbicara terlalu lancang, Sir. Aku kira Anda…, well, lupakan."
"It's fine, hahahaha. Baiklah, kal-"
ZRRR~
ZRUUUKKK
DRRRRR
"TAITO!"
"Sir! Masih terlalu bahaya untuk keluar!"
.
"Sir!"
"Anakku ada di sana, Missy!"
"Aku akan membantu Anda!"
.
"Ukh, ini semua hancur…"
"Permisi, hei kalian, tolong ikuti jalur evakuasi di sana."
"Kau melihat anak laki-laki setinggi ini? Dia memakai mantel hitam sama sepertiku, dan memakai eyepatch di mata kanannya. tadi di sana, tapi tidak ada. Kau melihatnya?!"
"Wow, relax. Mungkin adikmu ada di kerumunan itu."
"Pria ini kehilangan anaknya, bukan adiknya! Dia sedang panik sungguhan!"
"Oh! Maaf. Aku nggak lihat, sorry. Tunggu, aku akan minta tolong mereka untuk ikut mencari anakmu, Sir."
"Terima kasih…"
.
"TAITO! JAWAB AKU!"
"Shion Taito-kun!"
"Astaga, hei—sir—Shion-san! Cepat ke sini! Putra Anda butuh Anda!"
"TAITO! Oh God—Bagaimana bisa-"
"Aku terhempas dari sana."
"Oh…, I'm sorry, buddy. I'm so sorry."
"Can we… go home now, Daddy? I'm scared… I want Mommy…"
"Ya, I know. Kita akan segera pulang. Ibu pasti baik-baik saja."
"Ngg… kh-"
"Hei, ssh… tenanglah. Jangan menangis lagi, Ayah sudah di sini. Sssh…"
.
"Jaga putramu erat-erat, Shion-san. Dia baru pulih dari syok. Taito-kun-? Semuanya baik-baik saja, kawan kecil! Ayahmu sudah di sini. Tunggu, ya, aku akan ambilkan air untukmu!"
"Oh, terima kasih banyak! Taito, calm down, honey."
"Bapak muda, ya. Ya ampun, tadi aku mengira kalian itu kakak-adik, lho. Hei, Taito-kun? Kau aman di sini bersama kami, tunggu pengumuman dari pusat, baru kita boleh pulang. Jangan menangis lagi, nanti kau nggak ganteng lagi seperti ayahmu."
"Hahahahaha… oh iya, karena menolongku, ayahmu jadi meninggalkanmu tadi. Maafkan oneesan ini, ya, Taito-kun!"
"Mm-mm, nggak pa-pa, kak. Kaki kakak baik-baik saja?"
"Sedikit memar saja, sih, karena terjepit rak pecah belah. Tapi bukan luka serius, kok. Jangan nangis lagi, ya! Kita di sini bersama-sama."
"Oh ya, jaringan telepon belum berfungsi. Tujuh skala Richter katanya, pantas saja goyangannya kuat sekali…"
.
.
"Ya Tuhan! Aku cemas sekali, jaringan telepon masih belum berfungsi! Raito, ada apa-"
"Ssst, aku sudah berhasil menenangkannya hingga dia tertidur setelah sempat syok tadi. Tujuh skala Richter, ya? Ini pengalaman gempa pertamanya."
"Begitulah. Kaito dan Akaito juga sudah tidur. Hei, kelihatannya si ungu ini lelap sekali. Pasti kelelahan akibat terlalu banyak menangis. Sini, mau ganti aku yang menggendong?"
"Nggak usah, Sayang. Wajahmu kelihatan cukup lelah. Ya, dia takut sekali tadi, sampai-sampai mengira aku akan terpisah selamanya darinya. Oh, dan…"
"Mm-hm?"
"Dia mengucapkan 'I love you, Daddy', tadi. Biasanya dia hanya bilang begitu padamu, kan? Hihi. Untunglah dia cepat pulih setelah mengobrol dengan banyak orang di ruangan evakuasi. Dia juga ikut membantu merawat nenek yang terluka."
"Oh my God! Perubahan yang manis, Raito. Aku harap dia bisa menjadi anak yang kuat."
"Begitu pula yang kuharap, Sayang. Suatu saat ungu kecil kita ini pasti akan jadi hebat."
「質問・コーナー」
Rin udah berencana bikin "Shitsumon Corner" - tempat Rin jawab pertanyaan dan kritik - tiga chapter terakhir.
Tiga? Iya, tiga.. XD cerita ini akan berakhir dengan manis di chapter 14 /spoiler
Okay, tanpa berlama-lama lagi, this is it! :D
(1) Tsukine deharu-chan
"Tsuki rasa chapter 11 lebih pendek dari chapter-chapter lainnya."
Answer:
Chapter 11 itu emang sengaja isinya bertemakan "Kegalauan Taito", sama flashback pertama kali dia sahabatan sama Gakupo.
Jadi, iya, bener, emang lebih pendek dari chapter lainnya. Arigatou, Tsuki-chan! :D
(2) black roses 00 on chapter 9, 10, 11
"yang aku bingung rem scooter blong dan akhirnya menabrak kencang tiang listrik itu kenapa bisa meninggal?
ya ada kata yang sedikit kasar tapi tak masalah.
mungkin bahasa inggris atau bahasa jepang akan lebih bagus kalau pakai italic.
atau istilah entah bahasa gaul juga bisa di italic tapi gk harus kok.
mungkin klo batin bisa pakai tanda kutip 'a' seperti itu." - ch.9
"ada kata-kata yang terbalik dan kurang efektif.
tapi gk parah." - ch.10
"awalnya aku bingung dengan narasi yang di italic itu apa
taunya masa lalunya teito...
mungkin sebelum masuk ke masa lalu teito, gk tau kenapa lebih enak menggunakan kata 'itu'
dari pada 'tadi'.
klo menggunakan itu, 'Seiring dengan tubuhnya yang tidak sadarkan diri dalam rengkuhan orang itu.'
atau mungkin akah lebih halus jika 'dalam rengkuhan yang mememluknya.'" -ch.11
Answer:
Karena banyak, Rin buat secara poin aja, ya?
- Rem scooter yang blong, itu maknanya tersirat, Black-san. Perhatiin deh yang di "Tidak ada percakapan lagi. Taito bergegas membuka website sekolah melalui ponselnya, dan setelah menemukan apa yang dicarinya, ia mengambil jaket dan sebuah cutter." sama yang "Taito tersenyum puas karena pekerjaannya akan jauh lebih mudah melihat motor yang terparkir di luar, mungkin Tei sudah mengeluarkannya untuk pergi."
Black-san bisa nebak Taito ngelakuin apa? ;)
Iya, kabel rem-nya dipotong pakai cutter sama Taito. Jadinya kan, blong, deh.. hehehe...
*Sebenernya ini dari pengalaman pribadi, sih... Teman SMP Rin ada yang nabrak pohon karena hilang kontrol atas motornya sendiri, dan meninggal di tempat. Rin sendiri sempet nggak percaya waktu ngelayat ke rumahnya..
- Kata yang sedikit kasar, iya, gak masalah, kan? Makanya Rin rate fanfic ini M. :D
- Bahasa asing dan gaul memakai format italic, makasih banyak udah ngingetin, Black-san! Bener banget tuh, Rin suka lupa nge-format bahasa asing. Kalau soal bahasa gaul, nah, iya bener, nggak harus, kan? Kalau menurut Rin sih ini preferensi masing-masing author, ya. Soalnya Rin banyak belajar dari novel, mereka rata-rata pakai bahasa gaul dan sama sekali nggak di-italic. :)
- Batin memakai tanda kutip ('...'), ini juga, menurut Rin ini preferensi. Rin lebih seneng kalau penulisan batin pakai format italic, soalnya berasa lebih alami aja, Black-san. Hehehe..
Yah, Rin rasa itu udah jadi gaya menulis Rin dan nggak bisa diubah. Tiap author memang punya gaya menulisnya masing-masing, kan? XD
- Kata-kata yang terbalik dan kurang efektif, ...itu... yang mana, ya, Black-san? Bisa hubungi Rin di PM? :'/
- Pemilihan kata, oke, kedepannya Rin akan proof-read lebih intens lagi. :3
Arigatou gozaimasu, Black-san!
Rin juga ucapkan terima kasih banyak sama teman-teman lainnya yang isi review-nya mengapresiasi Rin!
Kalian luar biasa! :"D
Tunggu chapter selanjutnya, ya, minna~
==Rin==
