"Jangan takut, ini gaya baru."
"Ma…st…"
"Kau gila."
Bandaged Melody
Chapter 13 – Ghost
-Saturday, February 18th, Morning
Taito mengerjapkan mata.
Ia seperti sudah tidur – lebih tepatnya pingsan – lama sekali.
Suasana sudah terang, seterang pikirannya yang mulai aktif mengulang memori kelam semalam. Detik ini, Taito benar-benar tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.
"Shion Taito-kun."
Mata ungu gelap Taito terbelalak.
Suara itu…
Tidak, bukan milik masternya.
Lalu - - -
"Masih ingat aku?"
Itu…
Astaga!
Tidak mungkin!
"Senp-"
"Aku cuma ingin menyelesaikan 'kegiatanku' sore itu, kok."
"Tapi kau sudah-"
"Sudah… apa?" suara tadi mendekat, menunjukkan orang yang memilikinya. "Mati?"
Taito ketakutan. Ia bahkan tak sanggup bergerak se-inci pun. Luka-luka sayatan semalam masih belum mengering, dan lagi, hampir seluruh bagian tubuhnya memar.
"Nggak perlu capek-capek berdiri atau lari, kau sudah payah, tuh." orang yang dikenalnya sebagai Itou Haruka-senpai, kakak alumni yang pernah hampir melecehkannya tempo hari di auditorium sekolah yang seharusnya sudah mati dibunuhnya, meledeknya. "Lagipula di rumah ini hanya ada kita berdua, kan? Pacarmu si Kiyoteru itu ke mana, ya?"
"Kumohon, jangan mendekat…" nafas Taito sesak, ia baru saja siuman dari pingsan dan kini sudah harus menghadapi hal buruk lagi.
Ia butuh obat untuk penyakit jantungnya.
"Hahahahahaha…" sosok Itou-senpai makin mendekat, tertawa puas melihat Taito yang hanya terkapar sambil terus meracau. "Ini akan asyik."
ZRUTT
Tangan itu dengan lembut membuka kemeja putih penuh bercak darah yang masih dkenakan Taito sejak kemarin,
"Kumohon…"
Meraba-raba setiap bagian tubuhnya,
"Ja-ngan…"
Mencengkeram lembut pergelangan tangannya,
"…"
Dan ketika sesuatu yang basah menyentuh lehernya,
"Master…,"
Sontak sosok Itou-senpai tertawa halus.
"Mastermu nggak di sini," bisiknya lembut. "Kau sangat mencintainya, ya?"
Kedua belah kaki Taito yang masih menyatu, bergerak membuka perlahan atas gerakan tangan Itou-senpai.
Air mata Taito menitik,
Apa yang bisa ia lakukan…
.
Aku kotor.
.
Aku kotor.
.
Aku kotor.
.
Master…
.
"Bagaimana rasanya diperkosa pria lain, hm?"
"…"
"Nggak lama lagi kau akan mati, menangis sesunggukan seperti itu sementara kondisimu hampir sekarat sejak tadi sebelum aku 'menyerang'mu."
Taito sudah tak mampu berbicara sekarang. Nafasnya pun hampir-hampir tak ada. Itou-senpai, sekali lagi, tertawa puas sekali melihat Taito yang memang sekarat.
"Oke, sekarang aku puas." ia berdiri, mengusap dahinya yang sedikit berkeringat akibat aktivitasnya barusan. "Ja, pecundang."
Lalu, sosok itu pergi begitu saja. Benar-benar pergi. Ia keluar ruangan, lalu entah ke mana.
.
Taito masih sadar meskipun tak mampu bergerak. Ia memberi sugesti pada dirinya sendiri untuk mengakhiri semua ini di jalur yang tepat.
DEG.
"…ak-h…!"
Seakan Tuhan memberi kekuatan padanya, sekarang jantungnya terasa nyeri. Sangat nyeri hingga ia harus berguling menahan sakit. Sakit yang tak tertahankan membuatnya mau tak mau harus bergerak, atau paling tidak, mengeluarkan suara.
Tuhan, kumohon. Jangan biarkan aku….
…kumohon…
Taito menangis lembut sembari menahan sakit sehingga otomatis seluruh tubuhnya gemetar. Ia sudah benar-benar lelah dengan semua ini. Satu yang terpikir di benaknya; ia harus menelepon seseorang. Akhirnya, syukurlah, dengan susah payah pemuda itu beringsut ke meja telepon. Membutuhkan waktu hampir lima belas menit untuk meraih telepon yang hanya berjarak satu meter dari tempatnya tersiksa saat ini.
Ia lalu menekan nomor seseorang yang amat sangat dikenalnya.
"Ya..?"
Suara bariton jernih di seberang sana memberi Taito kekuatan.
"Ga - -"
"TAITO?! Bicara padaku, kawan!"
"…kh…"
"Astaga, hei, hei, kau kenapa?!"
"To…lo-"
Taito tidak kuat, sakit ini membuat seluruh ototnya menegang. Telepon tanpa kabel itu jatuh begitu saja bersamaan dengan tubuhnya yang kini menghantam lantai, sementara Gakupo yang masih berada di sekolah panik bukan main.
Bahkan di saat seperti inipun, sahabatnya itu menangkap pesannya dengan baik. Setidaknya, sekarang Taito memiliki secuil harapan dalam kesakitan.
Tolong, Gakupo.
Tolong aku…
.
.
ZREK
"TAITO! KAU DI MANA?!"
.
"TAITO!"
.
"Oh, Tuhan… hei, hei, oh, tidak. Tidak, kawan, jangan begini. Bertahanlah."
Gakupo berhasil merangsek masuk dan menemukan Taito tergeletak dengan mata terbuka sedikit, terlihat menyedihkan. Anak itu bernafas hanya sedikit-sedikit, seperti mayat.
Dengan rusuh, Gakupo membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah benda yang telah dipersiapkan. Paling tidak, benda itu dapat menyelamatkan nyawa Taito walaupun kecil kemungkinannya. Sebuah tabung oksigen.
Suasana penuh kegelapan sementara.
"Ayolah. Ini, bernafaslah. Kumohon, kawan. Taito."
Gakupo bersyukur sekali Taito akhirnya dapat kembali mengambil nafas panjang.
"…dia di… sini."
"Uh…" Gakupo lemas, berpikir akan melihat kematian tak diinginkan di depan matanya sendiri. "Siapa, 'dia' siapa? Aku akan ambilkan obatmu. Kamarmu yang mana?"
Taito menunjuk, Gakupo berlari ke arah tersebut secepat kilat, lalu kembali membawa tube kecil berisi obat dan segelas air.
"Maaf aku meneleponmu, Gakupo. Kau seharusnya nggak di sini…" akhirnya Taito dapat berbicara jelas setelah meminum obat. "Harusnya akulah yang menyelesaikan ini sendirian…"
"Urusai. Nggak ada waktu untuk minta maaf, kau sekarat. Aku harus menelepon ambulans. Kau harus dirawat intensif."
"Di sini bahaya. Percayalah padaku, kau nggak aman, Gakupo. Kau harus kembali ke rumahmu. Dia… bisa berada di mana saja… dia… me…"
Gakupo terpaksa menampar, karena dikiranya Taito masih meracau.
"DIA SIAPA?!" bentak Gakupo khawatir.
Taito membawa wajahnya kembali ke arah tatapan Gakupo.
"Itou Haruka."
"Astaga, aku paham sekarang. Kau… di…?"
"…mm." Taito menangis lagi. "Padahal lukaku belum sembuh. Ceritanya panjang."
"Dia sudah mati. Taito, itu bukan dia."
"Lalu siapa? Hantu nggak mungkin melakukan perbuatan macam ini."
Gakupo menepuk dahinya.
"Itu hologram."
Taito terdiam. Tentu saja ia tahu apa itu hologram dan bagaimana cara benda hebat di era canggih itu bekerja. Prinsip kerja hologram seperti kostum badut.
Ia hanya terlalu takut dan bingung tadi hingga tak menyadari…
"Sudah dapat jawabannya?"
Taito menekuk lutut, memeluknya.
"Itu hanya cara si guru brengsek itu untuk membuatmu tambah stress, ketakutan dan lemah seperti sekarang ini, Taito. Itu dia. Pria yang tadi memperkosamu itu dia."
"…kenapa, ya..?" Taito malah tertawa sarkastis. "…ah, tapi masih ada teka-teki."
"Dan kau masih penasaran ingin mengetahuinya?"
"Tentu saja! Ini menyangkut keluargaku. Gakupo, aku berterima kasih padamu sudah menyelamatkanku, tapi aku akan sangat berterima kasih lagi kalau kau pergi dari sini. Kau nggak aman di sini. Beberapa jam lagi mungkin dia pulang, dan… kau sudah melihatku dalam keadaan begini, 'kan? Dia pasti nggak akan segan-segan menghabisi siapapun."
Menghela nafas, Gakupo pun ikut pusing. Taito benar. Ia tak aman di sini, namun bagaimanapun Taito sahabatnya yang berharga.
"Aku akan bersembunyi melindungimu."
"Ngg-"
"Dengar. Oke, kemungkinan terbunuh pasti ada. Tapi karena itu jugalah aku ingin jadi saksi, Taito. Saksi atas semua kebrutalan ini. Kurasa aku juga perlu merekam setiap kata yang keluar dari mulut guru itu. Dan yang pasti, aku nggak mau kau mati, bodoh. Kuyakin kita berdua akan selamat, dia pun akan berakhir di penjara."
Oh, Taito menyayangi sahabatnya juga, tapi ini jelas seperti menggali lubang kubur.
"Jangan bertindak sembarangan. Cari tempat yang aman, Gakupo."
Hiyama-sensei sampai di rumah dengan tenang seakan tak terjadi apa-apa. Sementara itu, Taito yang sebisa mungkin mandi dan berganti pakaian, juga bertindak seakan tak terjadi apa-apa. Ia punya rencana lain.
Dan Gakupo, dengan status yang masih 'aman', duduk di balkon lantai atas tanpa suara.
"Wow, aku terkejut kau masih hidup setelah pertunjukan kecilku tadi pagi."
"Aku juga terkejut Master masih menganggapku ada. Butuh waktu lama untukku mengetahui siapa yang berlaku sekotor itu tadi pagi, dan jawabannya satu; hologram."
Hiyama-sensei terkekeh, langsung dikuncinya pintu rumah.
"Bahkan di saat terluka parah secara fisik dan mentalpun kau masih dapat berpikir logis."
"Terserah. Aku butuh penjelasan. Itu saja. Setelah itu, kau 'kan bisa langsung membunuhku, Master." Taito berkata tak sabar. "Kau bisa melakukan apapun padaku."
"Oke."
Dengan gayanya yang tetap santai, Hiyama-sensei duduk berhadapan dengan Taito. Diisinya pula Magnum miliknya hingga penuh, supaya setelah ia selesai menjelaskan, ia bisa langsung menembak Taito di tempat. Taito pun paham tanpa harus dijelaskan.
Ini jadi seperti dongeng pengantar tidur ke alam baka.
"Ibumu penyebab semua ini."
Taito kaget, tapi tetap diam. Ia akan terus diam semengejutkan apapun kisahnya.
"Kau sudah lihat foto, paspor, dan akta itu, kan? Itu milik kakakku. Orang paling malang, paling kusayangi dan paling hebat yang pernah kukenal. Dia seusia ibumu, si Meiko sialan itu… hm. Dia hanya beruntung. Yah, sudahlah. Dia juga sudah mati."
"Lima tahun lalu, ketika itu kau masih berusia dua belas, kan? Entah kau masih ingat atau tidak kalau waktu itu kalau ibumu akan mengunjungi temannya yang akan menikah di Korea. Kakakku juga. Oh, kakakku adalah kolega ibumu di SMA. Mereka berdua sama-sama pintar dan cantik. Hingga akhirnya ibumu menikah dengan si rambut abu-abu itu, dan memiliki kau, kakakmu dan adikmu. Dia terlalu beruntung. Kakakku memilih untuk tidak menikah karena pria yang dicintainya berselingkuh. Miris. Kasihan."
"Waktu mereka akan berangkat, pesawat sudah siap terbang, ayahmu dapat kabar dari temannya di Korea kalau cuaca sedang benar-benar buruk. Badai salju terus berkecamuk. Dia jadi khawatir dan melarang ibumu pergi. Dan kau tahu apa yang terjadi? Kakakku bersikeras. Ia bahkan sempat nekat berkata akan berangkat tanpa ibumu. 'Akan kusampaikan salam pada Hana-chan. Tenang saja, Mei-chan. Turuti suamimu.' katanya waktu itu. Akupun ikut khawatir, aku juga meneleponnya dan melarangnya pergi, tapi dia begitu tangguh. Aku menyayanginya karena ini, tapi jika saatnya tidak tepat, aku malah sebal. Aku marah padanya dan berkata 'cari mati'. Dan dia balas, 'aku nggak akan kenapa-apa, Ruru cengeng'. Entah mengapa firasatku tidak enak. Sejam menunggu di lobi bandara, ia benar-benar berangkat."
Hiyama-sensei menghela nafas berat.
"Kurasa kau sudah tahu akhir cerita ini."
"Kecelakaan pesawat."
"Begitulah. Aku nggak tahu mengapa ibumu terlalu sombong sewaktu aku mengantarmu pulang ke rumah karena kolaps, dia seperti nggak mengenalku. Padahal nama keluarga kami sama. Dia melupakan kakakku. Dia melupakan sahabatnya yang meninggal."
"Ibu memang seperti itu. Ibu punya penyakitnya sendiri. Ibu dipaksa melupakan sebagian memori buruk yang membuatnya rapuh. Psikiaternya selalu berkata begitu."
"…oh?"
Sekarang, Taito tak tahan…
"Ini bukan salahnya! Kau naif! Kau hanya menyalahkan Ibu atas kematian Akiko-san!"
"Tetap saja, bocah." Hiyama-sensei menggocek Magnum-nya pada posisi siap. "Ibumu terlalu beruntung karena hidup bahagia, sedangkan kakakku yang malang harus mati."
"Kau benar-benar brengsek, Kiyoteru. Menulis tanggal saat kau menghancurkan keluargaku di paspor peninggalan Akiko-san, dan berharap bisa merasa tenang dengan 'pembalasan dendam', membuatku kacau…,"
"Persetan."
Hiyama-sensei mengarahkan pistolnya tepat ke dahi Taito.
"Sekarang-"
"Kau belum menceritakan peristiwa malam itu. Asal kau tahu, aku nggak akan mati tenang sebelum aku tahu semuanya, dan pasti itu akan mengganggumu, Kiyoteru. Aku akan mengganggumu hingga kau gila dan mati kebingungan."
"…oh, benar juga."
Pemuda dua puluh lima tahun itu kembali duduk, meskipun begitu pistolnya masih tetap dalam posisi siap.
"Yah, aku membajak rumahmu, menyelinap lewat atap sementara keluargamu yang bahagia itu sedang berkumpul menghangatkan diri di malam Natal di ruang keluarga. Aku memotong kabel pendingin ruangan hingga membuatnya korslet dan mengeluarkan api, lalu begitulah. Berakhir. Semuanya. Dan, ya, bodohnya aku sudah menjatuhkan kunci koperku di atap waktu itu. Sebelum membakar rumahmu, aku memang sengaja membawa kunci itu sebagai, yah, sebut saja jimat keberanian. Aku juga menuliskan tanggal malam itu di paspor kakakku sebagai pengingat. Pengingat bahwa dendamku akan terbalas, dan, memang terbalas."
Ia menghela nafas, tersenyum pada Taito.
"Sayonara."
.
DOR!
"Tidak secepat itu, guru mesum sialan."
Magnum Hiyama-sensei berhasil terlepas dari tangannya sendiri akibat sentakan. Gakupo-lah yang menembakkan panah dart dari lantai atas. Ia memang sudah terlatih dalam memanah, jadi bukan masalah. Dan lagi, dart memang hanya mainan, tapi ujungnya tajam. Panah itu tepat menancap tembus di tangan kanan Hiyama-sensei.
"Kau… oh, hahaha… pantas saja Taito bisa selamat."
Ah, ya! Gakupo melupakan Taito sejenak. Meskipun panahannya berhasil, tembakan Hiyama-sensei tetap mengenai lengan kiri Taito.
"Jadi ada penyusup berkeahlian sniper di rumah ini, ya…" Hiyama-sensei tertawa mengerikan, darah menetes-netes dari tangan kanannya seketika setelah dart dicabut. "Kau hebat, Kamui. Bisa sangat setia pada sahabatmu. Tapi tetap saja kau bodoh. Kaupun akan mati."
.
Ketiga laki-laki itu diam di tempatnya masing-masing.
Kamui Gakupo yang siap sedia,
Hiyama Kiyoteru yang sudah membeberkan segalanya dan berambisi ingin menghabisi nyawa kekasih sekaligus anak muridnya sendiri namun gagal,
Dan Shion Taito yang kini meringis menahan sumbatan peluru di lengan kirinya.
Suasana mulai menegang.
Pistol Magnum masih tergeletak di lantai dan berjarak sekitar lima langkah dari tempat Taito sekarang. Hiyama-sensei tersenyum mengerikan lagi, dan…
Gakupo hanya bisa melihat dari atas, bagaimana sahabatnya benar-benar terkapar kehilangan semangat hidup, sementara gurunya kembali meraih pistol.
Gakupo berpikir cepat,
"TAITO! LARILAH!"
DOR!
Dugaan Gakupo benar, Hiyama-sensei malah menembak ke arahnya karena mungkin guru itu berpikir Taito sudah lemah dan akan mudah untuk dihabisi. Untung saja peluru meleset.
Gakupo dan Hiyama-sensei saling berkejaran, Gakupo berulang kali berhasil melewati tembakan hingga akhirnya berbelok ke balkon lantai atas. Taito beringsut mati-matian menuju meja telepon untuk menghubungi polisi.
Gakupo benar, aku nggak seharusnya mati.
Nggak.
.
Jlek.
Peluru habis, Hiyama-sensei mengerang kesal. Sekarang ia tak punya waktu lagi untuk mengambil cadangan peluru di kamarnya. Dengan langkah seribu ia memburu Gakupo untuk menghabisinya dengan tangan kosong.
"Oh, pelurumu habis, Kiyoteru?" Gakupo tertawa melecehkan ketika dirinya berhasil diketemukan Hiyama-sensei dengan tangan kosong. "Baiklah, mari selesaikan secara laki-laki."
a/n:
Satu pertanyaan retorik: Kok aku bisa aja sih, bikin alur kayak gini? :"D
Yah, iya bener, Hiyama-sensei itu siscon. Tapi cuma di ceritaku doang kok. XD
Oh iya, di chap selanjutnya ada kejutan. Hiyama-sensei nyawanya unlimited, gak mati-mati. Soalnya katanya orang jahat matinya lama kan, yak?
...sudahlah.
RnR, minna?
Thank you!
==Rin==
