"Shion Taito-kun. Masih ingat aku?"

"Aku akan bersembunyi melindungimu."

"Ibumu penyebab semua ini."


Bandaged Melody

Chapter 14 – Pouring Snow

.

Taito yang sekarang sedang berbicara dengan polisi tak tahu, kalau ada dua pria di lantai atas yang saling baku hantam 'demi' dirinya.

Sepuluh menit…

DOR!

Kedua pria yang telah sama-sama berdarah sana-sini, sejenak menghentikan kegiatan mereka setelah mendengar suara tembakan dilepas.

"TAITO?!"

"DIAM. Jangan tanya darimana aku mendapatkan peluru."

Tanpa disangka, Hiyama-sensei malah tertawa tanpa melepaskan kunciannya pada lengan Gakupo yang sekarang mengerang kesakitan.

"Memangnya kau berani membunuhku, hm? Tanganmu gemetar, otakmu sudah tak bekerja baik, dan kuyakin kesadaranmu sudah hampir nol."

"…Taito, kita akan menyerahkan dia hidup-hidup ke polisi.."

"Nah, dengarkan kata sahabat baikmu ini."

KRET

Gakupo mengerang lebih keras, tangan kirinya sebentar lagi patah.

"…hentikan…" bulir keringat membasahi dahi Taito. Entah kenapa ia memang merasa ragu untuk menembak Hiyama-sensei, padahal sekarang Gakupo-lah yang menjadi korban.

Aku bukan terlahir untuk menjadi pembunuh, tapi…

aku sudah membunuh.

Nggak, itu beda situasi.

Aku memberikan cintaku buat orang yang sangat salah.

Aku… tolol.

DOR!

"…Ta…"

Berhasil.

Tembakannya mengenai Hiyama-sensei. Lebih tepatnya bagian tengah perut dan langsung membuat Hiyama-sensei tumbang. Namun selanjutnya, Taito malah terbatuk keras dan pistol otomatis terhempas dari genggaman.

"TAITO!"

Susah payah Gakupo meringis menahan nyeri sambil menghampiri sahabatnya yang benar-benar sudah di ambang batas. Ia sendiri babak belur sekarang; kakinya terkilir, pipinya tergores benda tajam dan sudut bibirnya berdarah, membiru.

"Kau berhasil. Kau berhasil, Taito." Gakupo lega sekali. "Dia hanya pingsan, kurasa. Kita aman dan bisa dengan mudah menjelaskannya ke polisi. Sejak kapan kau belajar menembak?"

Taito tak menjawab dalam senyumnya, empat detik.

"Bisa kaupastikan sesuatu? Kurasa aku… membunuhnya."

Gakupo menggeleng, lalu mengecek tubuh Hiyama-sensei.

"Nggak, kawan. Jantungnya masih bekerja."

Kata-kata Gakupo barusan membuat Taito memejamkan mata dengan ekspresi sulit ditebak, entah apa yang ia pikirkan.

"Sekarang, aku benar-benar harus membawamu ke rumah sakit." Gakupo membantu sahabatnya berdiri. "Kau akan dirawat intensif, sembuh, dan segalanya akan baik-baik saja."

.

"…begitu?"

"SIALAN!- -"

Taito terlepas dari rengkuhan Gakupo dan kembali terkapar.

"Nyawamu ada berapa, sih, guru mesum?!" Gakupo terpaksa meninju Hiyama-sensei yang sialnya kembali sadar, secara berulang-ulang hingga memuntahkan darah cukup banyak. Betul apa yang Gakupo katakan, di saat 'sekarat' seperti ini, Hiyama-sensei masih kuat melawan.

Kedua pria itu kembali bergulat. Taito meringis. Dengan tersengal kehabisan tenaga, ia beringsut mengambil benda yang tadi sempat digunakannya.

"Jangan! Taito! Kalau begini kaulah kriminalnya! Aku bisa melumpuhkan - - kkh.."

Kiyoteru setan.

Pikiran Taito gelap. Karena sekarang, entah bagaimana, Gakupo dalam posisi tercekik.

"Jangan pernah kalian remehkan aku." Hiyama-sensei menyeringai mengerikan, darah jelas menetes-netes dari perut dan mulutnya tapi tangannya kuat mencekik Gakupo. "Kau pernah dengar bahwa pembalasan dendam adalah hal yang manis? Aku bersumpah nggak akan mati sebelum dendamku terbalas. Kamui ini hanyalah kutu pengganggu."

Tangan Taito gemetar menyentuh pistol yang sekarang sudah tak dapat dirasakannya lagi, tangannya mati rasa.

Bola mata Gakupo mulai mengarah ke atas.

Kiyoteru, kau…

"Akulah yang akan selamat dengan luka kecil ini, makhluk kotor. Kau nggak akan bertahan dalam satu menit, begitupula sahabatmu yang pemberani ini."

betul-betul…

"Ucapkan selamat tinggal padaku, Shion Taito. Kamui Gakupo akan mendahuluimu."

IBLIS!

DOR!

.

.

"…Taito,"

.

"Bicaralah padaku…"

.

.

"Gaku..po. Kau menangis, bodoh."

Gakupo terkesiap.

"Aku nggak peduli. Kau berhasil, kita selamat. Kita selamat, Taito. Dia…"

"Mati."

"…ya."

"Aku… menang, Gakupo. Aku berhasil… ya?"

Senyum terulas dari bibir Taito yang pucat luar biasa, bersamaan dengan sirine polisi terdengar sayup dari kejauhan.

"Bangsat..." Gakupo kembali terisak, tangan kanannya gemetar menadah kepala Taito. "Polisi selalu saja datang di saat semuanya sudah usai."

"Yang penting… kau tetap… hidup dan… penjahatnya mati." mata Taito menatap lurus sahabatnya dengan nafas patah-patah. "Syukuri itu, dong."

"Bisa kau ganti kata 'kau' dengan 'kita'? Sedari tadi kau membuatku khawatir. Kau akan hidup, Taito. Kau akan menjadi saksi pernikahanku dengan Luka. Kau akan… hidup…"

Seakan tahu akan ditinggal, Gakupo tak peduli harus menangis hingga wajahnya merah.

"Kubilang… penjahatnya… mati…," Taito terbatuk. "…aku."

"Jangan bicara bodoh! Kau hanya korban! Aku paham semuanya. Megupo Lily, Itou Haruka, Sukone Tei. Kematian mereka berhubungan dengan waktu ketika kau masih berpacaran dengan guru itu. Aku tahu semuanya, Taito. Aku tahu. Dan, oh, kau tahu, aku berhasil merekam semua ini dengan ponselku. Ini akan mudah, Taito. Ini barang bukti yang amat berharga dan para polisi akan mempercayai kita."

"…haha. Terima kasih.. sudah mau... repot-repot." Taito tertawa pelan, dan bagaimanapun, bersyukur. "Kau bersahabat… dengan pembunuh, Gakupo. Aku pantas… mati seperti ini."

"Hei, sudahlah. Polisi sebentar lagi datang, dan aku nggak akan membocorkan perbuatanmu hingga aku mati." airmata Gakupo makin tak terbendung. "Bestfriends don't tell."

"Berjanjilah… kau akan menikah dengannya. Aku nggak… mau… hanya omong kosong."

"…hah?"

"Promise me." Taito terbatuk lagi. "Kau akan jadi bapak…, hidup bahagia, dan… semoga kau bisa melupakan… kekacauan hari ini. Aku… minta maaf."

Satu menit.

"Aku janji." Gakupo tak melepas tangannya dari tangan sahabatnya yang mulai dingin. "Aku janji, Taito."

"Arigatou."

.

.

Gakupo meraung di tengah dua manusia yang sudah tak bernyawa. Satu manusia terkapar begitu saja, satunya lagi berada dalam dekapannya.

Ia tak peduli apapun.

Taito sahabatnya, sahabat baiknya.

"Aku mendengar teriakan laki-laki! Di ruang tengah!"

Mendengar satuan polisi sudah sampai di tempat dan mulai memasuki rumah, Gakupo dengan tegar berdiri hendak menyambut para polisi. Dibopongnya tubuh dingin Taito ke halaman depan, tak peduli guyuran salju yang deras.

"Anda berdua baik-baik saja?!"

"…"


-Sunday, February 19th, Morning

Kalau saja Gakupo melewati tiga hari kemarin dengan normal seperti biasa, ia tentu paham jika malam kemarin adalah malam dengan mimpi paling buruk baginya.

Hari Jum'at, merupakan hari pengakuan Taito kepadanya.

Hari Sabtu, semuanya terjadi begitu saja.

Dan hari Minggu ini, para polisi telah menunggunya.

Kalau saja Gakupo bukan pria dengan mental kuat, pastinya ia sudah akan berakhir di rumah sakit jiwa.

"Gakupo,"

Pemuda delapan belas tahun itu menoleh ke asal suara.

"Papa akan mengantarmu. Untuk jaga-jaga bila nantinya kau diperlakukan seperti penjahat."

Ah, Gakupo bersyukur sekali meskipun dirinya ikut terlibat langsung, sang ayah, Kamui Hideto, masih mau mengerti kondisinya.

"Pa,"

"Hm?"

"Gomennasai."

Namun, dilihatnya mata sang ayah berkaca-kaca.

"Bukan apa-apa. Kau hanya membela sahabatmu. Jika Papa jadi kau, hal yang sama pasti akan Papa lakukan juga." Hideto tersenyum pahit. "Ingat pertemuan pertama kalian di sekolah dasar dulu…? Dan, yah, anggap saja garis kehidupan Taito-kun nggak begitu bagus."

Kali ini Gakupo tak bisa menahan wajah sendunya. Perasaan marah, sedih, dan kecewa…

"Terkadang, suatu persahabatan erat memang diawali dengan pertikaian."

.

.

"Jadi, aku akan mulai dari awal. Apa hubungan Anda dengan Shion Taito, Kamui-kun?"

Suara bersahaja seorang wanita, Kasane Teto - detektif polisi yang menangani kasus keluarga Shion - bertanya menyelidik pada Gakupo.

"Dia sahabat saya."

"Lalu, apa yang bisa Anda jelaskan mengenai kematiannya? Sumbatan peluru di lengan?"

Kali ini, Matsuda Takumi - sang kepala detektif - yang bicara. Setelah sempat dibuat berpikir panjang tentang teka-teki semua ini, pikiran pria empat puluh tahunan itu mulai terang, kasus yang ditanganinya kini mulai menunjukkan jalan keluarnya. Ia sendiri kaget dengan tewasnya Taito, yang bahkan belum sempat ia tanyakan kembali; sebenarnya ada apa dengan sebuah kunci yang diketemukannya bersama Kasane tempo hari.

"Itu hasil tembakan Hiyama Kiyoteru. Taito meninggal karena penyakit kelainan jantung yang diidapnya. Dia tak boleh terlalu lelah, dan kemarin…"

Gakupo gemetar, Kasane-san, seperti biasa, sabar menunggu.

"Kemarin… semuanya terjadi begitu saja. Ceritanya panjang, Bu, Pak."

"...oke. Baiklah. Kurasa kami akan menggunakan metode isolasi untuk mengorek keterangan dari Anda, dan kuyakin Anda tak keberatan, Kamui-kun." Matsuda melipat lengan di dada. "Dan kami berterima kasih Anda telah merekam aktivitas kemarin."

Terserah, pikir Gakupo tak acuh, disangkanya Matsuda meledek dan hendak menjadikannya tersangka.

"Ya." pemuda berambut ungu tua yang sekarang warnanya kusam itu hanya mengangguk pelan. "Lakukan saja apa yang Bapak dan Ibu inginkan."

Kedua detektif polisi itu memberikan tatapan tak percaya mendengar jawaban pasrah Gakupo.

"…apa?" Gakupo tak tahan, airmatanya luluh. "Bapak tahu, saya mengalami 'Malam Minggu' terburuk dalam sejarah hidup saya. Saya kehilangan sahabat saya, tangan saya hampir patah, babak belur, dan bahkan saya mendengar hal menyimpang dari guru dan sahabat saya."

"Tunggu, 'hal menyimpang'? Maksud Anda..?"

"Taito berpacaran dengan Hiyama Kiyoteru. Mereka homoseksual, Bu, Pak. Sekarang, tanpa mengurangi rasa hormat, tolong segera lakukan saja prosedurnya."

.

.

Dua jam.

Gakupo keluar ruang isolasi dengan gontai, kakinya gemetar.

Hideto yang melihat Gakupo telah menyelesaikan tahap interogasi, mematikan rokok dan langsung menghampiri putranya itu. Gakupo seketika menggelesot, menangis disaksikan banyak polisi.

"Sudah berakhir, Nak," Hideto menepuk-nepuk punggung putra tunggalnya. "Sudah berakhir."

.

.

.


-8 years passed-

.

- December 24th 2033, Gakupo and Luka's Wedding.

Zatsune Miku's POV.

Wanita berambut pink lembut itu sesekali memutar tubuhnya, gaun putih mewahnya mengembang indah. Beberapa detik lagi hidupnya akan berubah.

"Luka-chan,"

Zatsune Miku. Sejak enam tahun lalu, namanya berubah menjadi Hamada Miku. Tanpa berkata-kata, Luka langsung memeluk Miku, erat.

Hei, Miku menangis.

Ia punya seribu kata di balik airmatanya, tapi entah… sulit diucapkan di saat seperti ini.

"…aku tahu." Luka ikut menangis. "Aku tahu. Tapi, kau harus ingat kalau dia memang sudah lama… meninggal, kaupun sudah punya si kembar sekarang, 'kan?"

Miku menyusut hidung, "Sulit. Aku hanya menyesal kenapa waktu itu aku pergi tanpa jejak darinya, dan kini kenangan itu seperti hantu yang terus memburuku."

Luka mengangkat wajah Miku hingga tegak ke tatapannya. "Kuatlah."

Miku menggigit bibir.

"Kau sudah punya keluarga, ingatlah mereka. Kini kau milik seorang Usui dan si kembar. Apa jadinya jika mereka tahu kalau ibunya sedang di sini dan mengingat pria lain? Shion-kun sudah benar-benar nggak ada, Miku-chan. Sudah delapan tahun. Kuatlah."

Miku berusaha tersenyum. "Iya, aku payah sekali." ia lalu menyeka airmatanya. Luka, sekali lagi, memeluk Miku dan mencium pipi sahabatnya itu.

"Bagaimanapun aku bersyukur bisa mengenalmu, Miku-chan. Meskipun kita baru saling mengenal setelah kejadian itu, tapi…" Luka memutus kata-katanya. "Aku bersyukur."

.

.

Satu hal yang Miku sesali..,

Pesta pernikahan Gakupo dan Luka, mengapa harus diadakan di malam Natal? Malam paling buruk bagi siapapun yang mengenal dan dekat dengan keluarga Shion – terutama Kaito dan Taito.

"Mama, ada apa?" Shoko memperhatikan wajah Miku yang lesu sejak tadi, begitupula Sho. "Papa bilang, kita akan pulang selepas acara. Papa ingin mengobrol lebih banyak dengan Kamui-san."

Miku tersenyum, menggeleng. "Mama hanya sedikit pusing, terlalu banyak orang di sini!"

"Begitu?" Sho tiba-tiba melompat manja ke pangkuan ibundanya. "A-aah, aku ngantuk, Ma. Aku mau pulang sekarang saja. Bilang Papa, ya, Ma? Onegai~?"

Shoko yang melihat kelakuan saudara kembarnya, protes. "Ih, ini Mamaku, tahu! Lagipula 'kan kau laki-laki, anak laki-laki biasanya sama Papa, bukan Mama!"

"Kalian berisik sekali!"

Suara pria yang tak lain adalah Hamada Usui, suami Miku dan ayah dari Sho dan Shoko, membuat kedua anak kembarnya pindah haluan.

"Papa terlalu lama deh, mengambil minumnya! Kasihan Mama, kelamaan menunggu. Kami 'kan mau main sama Kamui-san! Aku jadi keburu ngantuk, nih!"

"Hai', hai'. Gomen. Sekarang Papa sudah di sini. Nih, es krim kalian."

"Yatta~! Ayo, Shoko, kita ke ayunan! Kamui-san memanggil kita, tuh!"

"Jangan lepas dari Kamui-san, ya, jangan merepotkan!"

"Haaai'!"

Sepeninggal putra-putrinya, Usui duduk di sebelah Miku. Aneh, istrinya seakan tak menghiraukan keberadaannya.

"Ada apa?"

Miku mengakui, ia memang payah betul dalam urusan melupakan kenangan.

"Akan kuceritakan nanti."

Usui mengangguk, lalu hanya terdiam, berusaha mengerti.


Jalan bebas hambatan di malam Natal seakan tak ada bedanya, di Jepang sekalipun. Keluarga Miku baru dapat sampai di rumah kembali pukul dua dini hari.

"Tahu begini, tadi menginap saja di hotel dekat kediaman Kamui. Kasihan anak-anak."

Miku hanya tersenyum merespon ujaran suaminya barusan.

"Oh, ya, kau kenapa, sih?" Usui memposisikan tubuhnya ke hadapan Miku, tadinya ia berbaring ke arah berlawanan. "Kaubilang akan cerita padaku 'nanti', 'kan."

Miku malah menangis, airmata bergulir perlahan disaksikan Usui di hadapannya.

"Kau sakit?" Usui panik. "Sebenarnya kenapa-"

"Maaf."

Usui terheran.

"Maaf, Usui-kun. Apa yang bisa membuatku menghilangkan dia dari otakku, ya?" Miku terisak. "Mungkin setelah ini aku butuh waktu sendiri…"

"…oh." Usui menghela nafas, paham.

Satu menit dalam keheningan…

"Tak masalah, kau tahu. Melupakan kenangan buruk memang sulit. Semakin dilupakan biasanya malah akan semakin menjadi-jadi."

Sungguh, Miku merasa kejam. Kini ia berada dalam dekapan Usui sehingga membuatnya mengutuk dirinya sendiri, bisa-bisanya ia masih saja membicarakan pria lain – yang bahkan sudah tak hidup lagi – dalam dekapan suaminya yang terbilang sempurna.

"Kau mau tahu ide dariku?"

Perkataan Usui barusan membuat Miku membawa tatapan sembabnya ke mata hitam legam milik Usui.

"Hiduplah dalam kenangan. Jika kau tak bisa melupakannya, hiduplah bersamanya."

Miku tambah menangis, sadar bila segala sesuatu dalam kehidupan memang begitu adanya, hakiki, dan tak dapat ditawar.

"Dalam kehidupan juga begitu, 'kan? Hanya ada dua pilihan. Lupa atau ingat, baik atau buruk, terang atau gelap. Semua tergantung diri kita."

Ya.

Miku memeluk erat Usui. Mau tak mau, suka tak suka, bayang-bayang kenangan buruk itu akan selalu ada. Miku hanya tinggal menyesuaikan diri dengannya.

"Semua orang punya masa lalu buruk. Tak masalah."

Ya.

Tiba-tiba Miku terpikir sebuah ide. Diambilnya tablet ponsel miliknya, dibukanya foto keluarga mereka yang diambil dalam perjalanan tadi akibat bosan terjebak macet.

"Ng? Mau kau apakan foto kita?"

"Tunggu dan lihat. Besok aku akan mencetaknya dan memajangnya di ruang tengah."

Miku lincah menggerakkan jemarinya, sepertinya menyunting foto itu. Usui menungguinya penasaran. Beberapa saat berlalu, Miku tersenyum antusias sambil memperlihatkan hasil suntingan pada suaminya.

"…Miku… ini…"

Hamada Usui, Hamada Miku, Hamada Sho, Hamada Shoko

We are happy family, together forever!

December 24th, 2033

"Sebagai pengingat jika aku bertingkah menyebalkan seperti saat ini."

Kali ini giliran Usui memeluk istrinya, erat.

"Semua orang pantas bahagia, 'kan? Shion itu orang baik, hanya saja ia sempat jatuh cinta pada orang yang salah. Kuyakin Shion juga bahagia bersama keluarganya di sana." dielusnya rambut Miku. "Aishiteru."

"Arigatou, Usui-kun." balas Miku tulus. Airmatanya bergulir lagi, bahagia luar biasa. "Aishiteru."

.

.

Meskipun bayang-bayang Taito mungkin memang tak akan pernah bisa lepas darinya,

Tapi Miku sadar, mereka di sini. Dekat sekali.

Mereka yang masih hidup, ada, dan,

Jauh lebih berharga.

.

"Sayonara, Taito-kun."

.

.

.

.

.

=Bandaged Melody, a Story About One of The Darkest Side of Life, (Not Yet) Final=


a/n:

YATTA~~!
Rin seneng buanget inih :"D

Pasti pada bertanya-tanya kenapa Rin buat endingnya dari sudut pandang Miku, kan?!

Hayo ngakuuu~
Nggak bertanya-tanya? Nggak penasaran?
Oh, yaudah.

.
.

Iya, iya, Rin jelasin deh… XD

Jadi, mungkin minna-san masih inget dong, kalo Zatsune Miku itu Rin hilangkan penokohannya sejak chapter 6, dan Gakupo sempet nyinggung Miku sedikit di chapter 10.
Iya, bener, Miku 'menghilang'. Kayak udah nggak peduli lagi gitu sama Taito sejak tau Taito penyakitnya suka ngambuh. Bikin repot aja, iya nggak?

"Kok nggak ada penjelasannya, sih, Rin?!"
Maknanya tersirat~ hehehehehee… XD Rin sengaja bikin plot yang kayak di film-film gitu, dengan cara ngilangin 'tokoh sisipan',
biar nantinya minna-san cuma terfokus sama hubungan manis Kiyo-Taito aja hahaha~ Rin baik, 'kan~?

"Trus kenapa tiba-tiba Miku muncul lagi di chap terakhir?"
Ini juga salah satu 'jurus' Rin, Rin pengen bikin plot; 'sebenarnya seberapa besar, sih, pengaruh Taito terhadap seorang Zatsune Miku..?'
Dan, iya, Miku sebetulnya sayang banget sama Taito. Tapi… telat, Bu! Taito keburu mati! HUAHAHAHA~~ *slapped*

Ya sudahlah. Toh, Rin udah bikin happy ending.
Taito wafat dengan puas di dekapan sahabatnya a.k.a Gakupo (suer ini sedih),
Gakupo nikah sama Luka (kalo ini, manis),
dan Miku nikah sama orang yang mencintainya juga (ini apalagi).

Dan...
Cerita ini belum berakhir.
Belum, kawan! Kalian lihat "(Not Yet) Final", kan?

So, stay with Rin 'till the next chapter!

==Ri-
…ettoo—Rin hampir lupa.

MAKASIH BANYAK ATAS RnR-NYA, MINNA!

==Rin==