The World Has Changed
Created by : Angelalfiction
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Character : GoM, OC, Kagami.T
Genre : Action, fantasy.
Semuanya terjadi di saat orang itu memberi kami pilihan...
"Hohoho...jadi, apa yang kalian pilih...kalian mati di dunia ini dan bertemu Meiko atau...ingatan tentang Meiko menghilang dan kalian menjalani kehidupan kalian seperti semula?"
Kami semua tentu saja ingin bertemu Meiko! Mana mungkin kami memilih menghilangkan Meiko dari ingatan kami? Maka dari itu aku memilih...
"Mana mungkin kami menghilangkan Meiko dari ingatan kami? Tentu saja kami memilih mati dan bertemu dengan Meiko."
"Baiklah...selamat bersenang-senang..." dan nenek itu pun segera meninggalkan kami yang tengah mematung di tempat kami berdiri sekarang.
"Apa...yang baru saja ku ucapkan tadi?"
"Mana ku tahu nanodayo! Kau yang mengucapkannya Akashi!"
"Tch...lagipula nenek itu terlihat gila! Mungkin ucapannya barusan hanya mengada-ada saja. Bukannya jelas-jelas kita melihat dengan mata kepala kita sendiri jika Meiko sudah mati?"
"Aominecchi benar, ssu! Meikocchi mati di hadapan kita. Jadi, bisa di bilang Meiko sudah kembali bersama Kami-sama. Apa Mungkin di dunia ini ada dunia pararel seperti cerita-cerita, ssu?"
"Kurasa tidak Kise-kun. Jika dunia pararel ada, seharusnya kita sudah berpindah-pindah sejak dulu atau ada berita mengenai makhluk dari masa depan."
"Hmm...yang dikatakan Kuro-chin masuk akal juga..."
"Jadi, jika ini tidak masuk akal kenapa harus di perdebatkan? Lebih baik kita kembali ke dalam dan menemui orang tua Meiko."
"Hm, kata Kagami benar nodayo. Lebih baik kita segera kembali"
"Hm, ayo..."
Sebelumnya kami memang tidak tahu apa-apa dan kami hanya menganggap kedatangan nenek itu sebagai angin lalu. Tidak ada yang berarti.
Chapter 1
Akashi POV
"Tokki-san, tolong jemput saya-..."
"Ma-maaf tuan muda! Saya sudah tidak bekerja lagi."
PIP...telepon itu pun segera terputus yang langsung membuat tanda tanya yang sangat besar di kepalaku. Tokki-san bukannya pelayan kami yang paling setia?
Pada akhirnya aku pun berlari dari gerbang kediaman keluarga Fukudachi menuju rumahku. Begitu sampai, aku bisa melihat segel yang mengelilingi pintu rumahku.
'Rumah disita'
Mataku pun terbelalak kaget. Apa yang terjadi?
PLUKH...
Tiba-tiba sesuatu menepuk pundakku, membuat diriku segera membalikkan tubuhku dan menatap seseorang yang menepuk pundakku barusan.
"Anda, Akashi Seijuro anak dari pemilik rumah ini?"
"Benar. Ada apa ini?"
"Ayah anda terlibat hutang dengan perusahaan kami! Karena ayah anda melarikan diri, maka sebagai gantinya anda yang akan kami incar sebagai anak dari pria bodoh itu."
Apa?! Jadi orang itu mendidikku dengan keras hanya untuk melunasi hutang bodoh ini?!
"Maaf, ini tak ada hubungannya denganku."
"Kau itu anaknya! Cepat! Lunasi hutang ayahmu sekarang juga!"
Ck...berdiri di tempat seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah. Satu-satunya jalan yang terlintas di otakku hanya satu.
Melarikan diri. Tentu saja itu yang kupilih.
"Hei, mau kemana kau?! Cepat kejar dia!"
Saat ini jalan buntu tetap mengikutiku. Aku tidak tahu harus kemana dan tidak tahu bagaimana aku harus bersembunyi. Ini semua terlalu mendadak.
DORR...
Aku tidak menduga kalau para orang-orang berpakaian hitam itu akan menembakku. Saat besi panas itu menembus dada kiriku, kesadaranku pun segera menghilang...
.
.
.
"Seijuro..."
Suara ini...seperti sangat familiar...
"Seijuro..."
Lagi-lagi suara ini terus-terusan memanggilku seakan-akan menarikku. Ah, aku mengenalnya! Dia ibukku yang meninggal. Apa aku sudah mati?
"Seijuro, turuti perkataan ibumu. Sejak kapan kau menjadi pemalas seperti ini."
"Ssst...Shinjirou, anak kita sedang bermimpi buruk. Biar aku saja yang membangunkannya..."
T-tunggu dulu! Kenapa ada suara Tou-san dan Kaa-san berbicara? Mataku pun secara perlahan terbuka...dan aku pun membelalakan mataku takjub. Benarkah pengelihatanku ini? Kaa-san, dia tersenyum sambil duduk di sebelahku di kasur yang sedang ku tempati. Sedangkan Tou-san, dia sedang berdiri di pintu kamarku. Aku menduga ruangan ini adalah kamarku karena aku baru saja terbangun dari kasur yang ada di kamar ini.
"Tou-san, Kaa-san? Ada apa ini? Kenapa?"
"Hmm...tuh kan, anak kita baru saja bermimpi buruk. Sudahlah Shinjirou kau mandi duluan. Nanti kau bisa turun ke ruang makan. Disana aku sudah memasak makanan."
"Hm..." Tou-san pun menuruti perkataan Kaa-san dan segera pergi dari pintu kamarku.
"Aku...tidak apa-apa Kaa-san."ucapku. Tangan Kaa-san pun segera membelai kepalaku.
"Hmm...baiklah jika kau tidak mau bercerita dengan Kaa-san. Kalau sudah mandi, segera turun ke ruang makan yah, Seijuro." ucap Kaa-san yang langsung keluar dari kamarku.
Hmm...aku pun segera mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Kamarku ini juga berbeda walaupun isinya tetap sama. Sejak kapan kamarku mengecil? Aku pun segera bangkit dari kasur dan beranjak menuju kamar mandi. Setibanya di dalam, aku pun tersentak. Kamar mandi juga berubah. Apa keluarga Akashi menjadi miskin?
Setelah mandi, dengan handuk yang masih melilit di pinggangku beserta rambutku yang masih basah, aku pun segera melihat kalender yang biasanya ku pakai untuk mencatat jadwal kegiatanku. Hmm? Hari pertama masuk ke sekolah Tokyo Gakuen? Dan saat membuka lemariku, aku bisa melihat sebuah seragam menggantung di balik pintu lemariku. Inikah seragam sekolahku yang baru?
Tanpa memikirkannya lebih lanjut, aku pun segera memakai seragam itu dan mengambil Agenda yang selalu menjadi pengingatku. Setelah aku membukanya, aku pun segera mencari halaman yang biasa kupakai untuk mencatat jadwal mata pelajaran.
Ketika semua hal yang biasa kulakukan saat ingin berangkat sekolah sudah beres, aku mulai beranjak dari kamarku menuju ruang makan yang anehnya tepat di depan pintu kamarku. Ini lebih mengejutkan lagi! Aku mengedarkan pandanganku untuk melihat ruangan yang kali ini lebih besar dari kamarku sedikit. Ruang tamu, ruang makan, sekaligus ruang keluarga yang digabung menjadi satu. Semiskin apakah keluargaku yang sekarang?
"Kenapa kau mematung seperti itu Seijuro? Cepat duduk." masih dengan nada suaranya yang tegas, Tou-sanku pun menyuruhku untuk duduk di meja yang sudah berisi makanan. Aku pun segera menurut dan duduk di seberang tempat dirinya duduk.
"Tou-san, apa pekerjaan Tou-san saat ini?" tiba-tiba pertanyaan itu pun terlontar dari mulutku.
"Hm? Tou-san tetap menjadi pemilik Kedai bersama dengan Kaa-sanmu. Ada apa Seijuro?"
Hah? Kedai? Bukankah Tou-san membenci berjualan? Bukankah Tou-san menyukai dunia politik? Bukankah Tou-san-...
"Seijuro, hari ini tampaknya kamu selalu terdiam. Kenapa sayang? Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?" tiba-tiba Kaa-san datang menghampiri meja kami dan segera menatapku khawatir yang hanya ku jawab dengan sebuah gelengan kepala.
"Tidak ada Kaa-san. Aku tidak apa-apa..."
Selanjutnya aku hanya makan dalam diam sementara mataku memperhatikan interaksi Tou-san dan Kaa-san yang terlihat sangat harmonis. Apakah seperti ini yang di sebut 'keluarga'?
####################################################################
Normal POV
"...aku sebenarnya masih bingung dengan kejadian yang baru saja ku alami pagi itu. Tapi setelah bertemu dengan kalian di ruang kepala sekolah dan saat di kelas aku melihat Meiko, aku langsung mengerti maksud dari nenek yang menghampiri kita waktu itu." Akashi pun menyudahi ceritanya. Meiko dan yang lainnya pun segera menganggukan kepala mereka sambil bergumam 'ooh...'.
"Ehm...jika Akashi di tembak, maka aku disiksa." gumam Aomine. Meiko yang mendengar gumaman Aomine pun langsung menatap Aomine penuh harap.
"Disiksa?! Bagaimana rasanya?!"
"Eh, Aomimecchi disiksa, ssu? Bagaimana ceritanya?"
"Ck...merepotkan sekali. Tapi, baiklah...ini merupakan cerita yang awalnya sama seperti Akashi. Berawal saat aku pulang dari rumah Meiko..."
####################################################################
Aomine POV
"Tolong...jangan ambil tasku..."
Sial...kenapa saat moodku jelek ada pencurian tas seperti ini sih? Awalnya aku tidak ingin menolongnya. Tapi, setelah melihat ke belakang dan samping kiri-kananku yang ternyata sepi, akhirnya aku pun segera berlari ke penjahat yang masih menarik tas gadis itu dan segera menonjok wajahnya. Penjahat itu pun terpental dan aku segera mengambil tas gadis itu dan menyodorkannya ke depan wajahnya.
"Ini tasmu..."ucapku tak minat.
"Te-terima kasih. Tapi..."
BUAKH... Sesuatu memukul tengkukku yang saat itu juga membuat kesadaranku menghilang.
"Nggh..."
"Siapa namamu?"
"Ngh...kau siapa?"
"Aku adalah polisi yang akan menginterogasi anda."
Aku segera membelalakan mataku saat mendengar apa yang baru saja orang yang ada di hadapanku katakan. Perasaan bukan aku yang menjadi penjahat! Seingatku sih begitu...
"A-apa? Saya tidak mencuri tas perempuan itu kok!"teriakku spontan.
"Tas? Maaf, kasus anda adalah pengedaran narkoba. Tas yang anda maksud itu ini bukan?"
"I-iya..."
"Di dalamnya ada ganja dan yang paling parah ada crocodile. Dan kabarnya anda akan memasukkannya dalam restaurant-restaurant di Jepang. Saksi mata kami memberitahu bahwa anda menerimanya dari sang pengedar."
"Pak, ini pasti ada kesalahan..."
"Maaf, Mafia yang kami tangkap juga mengatakan kalau anda adalah kerabatnya. Ini anda bukan?"
Polisi itu pun segera menyodorkanku foto yang membuat mataku terbelalak. Foto itu! Bukannya itu saat-saat dimana aku akan menonjok penjahat yang ingin merampok perempuan itu?! Kenapa terlihat seperti aku bersalaman dengan si penjahat dan...kenapa di foto itu seolah-olah gadis yang ku tolong tidak ada di sana?
"Apa-apaan ini? Saya tidak bersalah!" teriakku lagi-lagi spontan. Apa-apaan ini?! Kenapa aku mendadak menjadi penjahat kelas kakap?!
"Tolong, tahanan nomor 21xx tidak mengaku. Harap di bawa ke ruangan selanjutnya."
"He-hei, aku tidak bersalah! T-ttunggu! Lepaskan aku! aku mau di bawa kemana? Hei tunggu aku ini siswa Touo Gakuen!"
Tampaknya teriakkanku barusan hanya menjadi sia-sia karena aku sudah dibawa menuju ruang yang kelihatannya seperti ruang penyiksaan. Haaaa?!
"Jika anda tidak mengaku, maka anda akan kami cambuk." ini tidak nyata bukan?
"Sudah ku katakan, aku tidak mengenal mereka! Aku ini siswa Touo Gakuen!"
CTAK...
"ARGH!"
"Bukti yang menyatakan jika anda adalah tersangka sudah sangat kuat. Jadi jawab saja apa yang kami inginkan!"
"A-apa..."
"Dimana letak persembunyian bosmu?"
"Aku tidak tahu..."
CTAK...
"ARGH! Hhh...hhh...hhh..." lalu-...
Normal POV
"Cukup!/Cukup, ssu!"spontan Meiko dan Kise berteriak membuat Aomine menghentikan ceritanya.
"Kenapa? Aku memang mengalaminya, kok."
"Rasa di cambuk itu seperti apa, ssu?"
"Kau mau tahu nodayo? Coba saja sendiri..."
"Ihh...Midorimacchi hidoi, ssu...aku kan penasaran! Dari pada ngerasain, mending bertanya kepada orang yang sudah pernah merasakannya. Iya kan, ssu?"
"Rasanya seperti kulitmu dikupas secara paksa."ucap Aomine ogah-ogahan.
"Cukup Aomine-kun. Ceritamu terlalu mengerikan."ucap Kuroko.
"Tapi, aku penasaran dengan caramu mati, Daiki..."tiba-tiba saja Akashi berbicara yang membuat semuanya segera menengok ke arah Akashi.
"Serius Sei-kun? Ceritanya seram loh..."
"Tapi kau tidak mengalaminya kan? Untuk apa merasa takut?"
"Baiklah, setelah aku selesai di cambuk, aku pun di lempar ke dalam penjara dengan tubuh yang berlumuran banyak darah. Di situ kepalaku mulai terasa pusing di akibatkan darahku yang tidak berhenti mengalir..."
Aomine POV
NGIUNG...NGIUNG...
"Harap waspada! Ada penyusup!"
Suara sirine yang kencang pun mulai mengisi pendengaranku. Ck siapa yang peduli?
"Hei! Terima kasih ya!" ucap seseorang di balik jerujiku. Aku yang sedang sekarat itu pun mencoba melihat siapa yang sedang mengajakku berbicara. Astaga! Dia perempuan yang ku tolong itu! Dengan mata yang terbelalak aku pun bengong menatap perempuan itu.
JLEB...spontan aku meringis tertahan saat aku merasakan lagi-lagi sesuatu menusukku. Bedanya benda ini menusuk tepat di jantungku. Rasanya sangat nyeri...
"Terima kasih sudah menyembunyikan Mafia seperti kami!" di tengah kesadaranku yang tipis, aku bisa melihat perempuan itu tersenyum lembut padaku sebelum akhirnya dia pergi menjauh.
Normal POV
"Kasian sekali Aominecchi, ssu. Berniat baik tapi malah mendapat sial..."gumam Kise saat Aomine mengakhiri ceritanya.
"Yaa..begitulah... Tapi, jika kalian bertanya soal keluargaku, tidak ada yang berubah. Rumahku tetap sama, ayah dan ibuku tetap sama. Itu saja."
"Nah, siapa lagi yang ceritanya seru?"
"Aku, ssu!"
"Memangnya Kise-chin kenapa?"
"Aku tertabrak bus. Heheehehe..."
Langsung saja semuanya sweatdrop saat mendengar cerita Kise yang bisa di bilang sangat-sangat singkat itu.
"Ha...ha...ha...lucu-lucu..."tawa Meiko hambar. Sementara Kise yang melihatnya hanya bisa cengengesan di tempat.
"Aah! Cerita Kise nggak seru banget! Huuu!"
"Huu!"
"Eh, kenapa semuanya menyorakiku, ssu! Katanya lucu!"
"Dasar Aho nodayo! Maksudnya Meiko itu kebalikan dari kata lucu!"
"Ooh, begitu hehehehe..."
"Ehm, ano...kalau ceritaku sih sama seperti Aomine-kun"sahut Kuroko tiba-tiba.
"Eh beneran Tetsu?"
"Tapi aku nggak di cambuk. Melainkan, di rumahku sedang terjadi perampokkan. Dan awalnya sama seperti Akashi-kun dan Aomine-kun. Berawal saat aku pulang dari rumah Meiko. Saat itu..."
.
.
.
TBC
Seru nggak? Hehehe...maaf agak singkat. Di chapter kedua Angel akan buat Midorima, Murasakibara, dan Kagami bercerita kehidupan mereka sebelum mereka berada di dunia yang sekarang. Dan satu lagi, maaf di chapter ini jika kurang jelas.
Di review yaa!
