The World Has Changed
Created by : Angelalfiction
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Character : GoM, OC, Kagami.T
Genre : Action, Fantasy, Sport, Romance.
Chapter 2
Kuroko POV
Saat aku melangkah masuk ke dalam rumahku, aku bisa mendengar suara nenekku berteriak yang langsung membuatku panik seketika.
"BAA-CHAN!"teriakku. Namun saat aku mendobrak pintu rumahku, mataku langsung di sajikan pemandangan yang seharusnya tidak kulihat. Kedua orang tuaku tergeletak di lantai dengan darah yang menggenangi tubuh mereka.
"Ttt-tidak mungkin...kaa-san...tou-san..." air mataku pun mulai menetes perlahan. Apa yang sedang terjadi di rumah? Kenapa kedua orang tuaku tewas?
"Tidak! Tetsuya!"
Baa-chan? Kenapa dia ada di hadapanku? Dan kenapa wajahnya memandangku pilu? Kenapa dia tidak mendekatiku sama sekali?
JLEB...
Tak lama kemudian aku merasakan sesuatu menembus dada kiriku. Rasanya sangat sakit sekali. Sebelum kesadaranku menghilang, aku bisa mendengar suara teriakan histeris nenekku sebelum kesadaranku menghilang sepenuhnya.
"TIDAK! Tetsuya!"
Normal POV
"Lalu bagaimana dengan keluargamu disini? Apa mereka semua mati seperti terakhir kali kau melihat mereka?"tanya Meiko antusias. Kuroko pun segera menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, Meiko-chan. Sekarang mereka baik-baik saja di rumah. Awalnya kupikir itu hanya mimpi buruk. Tapi, sama seperti Akashi-kun; saat kita semua berada di ruang kepala sekolah, dan saat aku melihat Meiko-chan di kelas yang akan kami tempati membuatku sadar jika mimpi itu nyata. Hanya saja jiwaku yang berpindah ke dunia yang lainnya."ucap Kuroko yang mengakhiri ceritanya.
"Tetsu...tapi ceritamu barusan kedengarannya tidak ada penyiksaannya deh..." komentar Aomine.
"Aomine-kun memang benar. Tapi aku mati di tusuk pisau juga bukan? Itu yang ku maksud sama dengan ceritamu."jelas Kuroko. Aomine yang mendengar penjelasan Kuroko pun langsung sweatdrop di tempat.
"Baiklah, karena Sei-kun, Aomine-kun, Kise-kun, dan Kuroko-kun sudah bercerita, aku ingin-..."
"Hei, Meikocchi! Aku belum cerita, ssu!" teriak Kise yang langsung memotong perkataan Meiko. Di sebelahnya, Kagami langsung menyikut pinggang Kise.
"Itte! Kagamicchi Hidoi!"
"Ck...bagus Kagami nodayo..."
"Ihh...Midorimacchi juga, Hidoiii..." rengek Kise lagi. Melihat Kise yang akan terus-terusan merengek, Akashi pun segera berdiri dari tempat duduknya dan menggebrak meja tempat mereka berkumpul saat ini.
BRAKK...
"Huaa! Uppss..."
"Kalian semua diam!"ucap Seijuro yang langsung menatap tajam semuanya. Tapi, tatapannya pun langsung berhenti pada Midorima.
"Kau sudah bercerita Ryouta. Justru saat ini aku ingin mendengar bagaimana seorang yang selalu hidup sesuai saran Oha Asa bisa mati?"
"Eh? A-aku lupa nodayo..."
"Mido-chin memasang wajah bohong tuh Aka-chin..."
"Murasakibara! Urusai nodayo!"
"Eh? Midorimacchi curang ssu! Ayo ceritakan!"
"Tidak, ini memalukan!"
"Baiklah! Jika Midorima tidak mau menceritakannya, biar aku saja yang bercerita!" teriak Kagami.
Krik...
Krik...
Krik...
Suasana di tempat itu pun mendadak sunyi saat semuanya mendengar teriakan Kagami.
"Eh, jangan bilang kalian berdua mati di tempat yang sama?" tanya Kuroko.
"Lebih tepatnya bersamaan nodayo..."
"Hee? Bagaimana ceritanya, ssu?"
"Jadi...saat lucky itemku terjatuh..."
Midorima POV
"Eh, maafkan aku tuan..." perempuan yang menyenggol lengan kananku pun segera ber ojigi saat lucky itemku terjatuh di perempatan jalan raya.
"Biar saya yang mengambilnya."
Tanpa kusuruh lagi, perempuan itu segera kembali ke tengah-tengah perempatan dan bergerak untuk mengambil lucky itemku yang terjatuh. Tapi detik itu juga, mataku langsung membelalak kaget saat melihat rambu lalu lintas yang sudah berganti warna menjadi hijau.
"No-nona awas!"teriakku. Namun tampaknya perempuan itu tidak mendengarnya. Mau tidak mau, akhirnya aku segera lari menghampiri perempuan itu dan mendorongnya ke pinggir jalan.
Aku pun segera menutup mataku. Awalnya kupikir, aku yang akan tertabrak truk yang sudah sangat dekat denganku. Tapi, tiba-tiba aku merasa tubuhku di dorong oleh seseorang.
"Hoi, bodoh! Kau mau mati hah?!"
Saat aku mendengarnya, aku langsung membuka mataku. Kagami?!
"Ke-kenapa kau disini, nodayo?!"
"Menolongmu lah! Masa-..."
TIN...TIN...TIN...
"HUAAA...!"
BRAK...
"Kyaa!"
Normal POV
"Kupikir awalnya Kagami sudah mendorongku ke pinggir jalan, tapi ternyata dia malah mendorongku ke arah yang berlawanan nodayo."Midorima pun mengakhiri ceritanya.
"Pppfft...HAHAHAHAHAHA..."Aomine yang mendengarkan cerita Midorima dengan detail pun langsung tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha...itu sih kalian yang cari mati!"teriak Aomine.
"Aku memang selalu sial jika berdekatan dengan Kagami, nodayo."
"Hoi! Itu kan salahmu! Ngapain di tengah jalan merem kayak gitu!"
"Hei, sudah-sudah! Aku ingin mendengar cerita Atsushi-kun."Meiko pun segera melerai Midorima dan Kagami dan langsung menatap Murasakibara dengan puppy eyesnya.
"Eeh? Aku? Tidak ada yang spesial dari cerita tentang kematianku..."
"Yah, Murasakibaracchi curang ssu! Murasakibaracchi pengecut!"
"Eh? Siapa yang pengecut?" Murasakibara pun mulai menatap tajam Kise.
"Kenapa kalian penasaran sih?" ucap Murasakibara tidak terima. Baru saja Murasakibara ingin beranjak dari tempatnya,
WHUUSH...
Sebuah penggaris besi 20cm pun melesat ke arahnya. Untung saja penggaris besi itu segera meluncur ke meja di hadapannya dan menancap di situ.
"Ceritakan!"titah Akashi yang langsung di jawab dengan anggukan cepat Murasakibara.
"Huuh...baiklah...ceritaku simpel saja. Tak sependek Kise-chin ataupun sepanjang Aka-chin. Waktu itu, aku baru saja membeli sepuluh Maibou dan keripik kentang. Jadi saat itu aku membeli 20 snack." jeda Murasakibara.
"Karena toko tempat aku membeli kehabisan stok kantong plastik, jadi sebagian aku menaruhnya di tas, sebagian aku pegang. Karena kerepotan membawanya dan kebetulan juga aku ingin naik kereta, salah satu Maibouku terjatuh ke rel. Dan yang selanjutnya terjadi kalian bisa menebaknya."
"Atsushi-kun tertabrak kereta?"
"Betul Meiko-chin."
Setelah Murasakibara menyelesaikan ceritanya. Ruangan itu pun mendadak hening. Semuanya hanya berani saling melirik diakibatkan tidak ada satupun yang memiliki pokok pembicaraan yang harus dibahas. Melihat ke tujuh pemuda itu hanya saling melirik saja membuat Meiko mendesah kecil.
Meiko POV
Ruangan itu pun tetap sunyi sekalipun aku sengaja mendesah supaya mereka ada yang menegurku dan suasana kembali. Ck? Apa yang mereka pikirkan yah?
Jujur, sebenarnya kedatangan mereka ke duniaku membuatku shock setengah mati. What the hell? Mereka yang jelas-jelas berasal dari anime bisa berada satu dunia dengan pengarang mereka? Ini baru yang namanya WOW.
Oh ayolah...kenapa suasana di ruang tamu Midorima ini semakin sunyi saja sih! Mana-...
TOK...TOK...TOK...
"Ah, tampaknya ada tamu nodayo! Aku akan membukakan pintu dulu nodayo!" Midorima pun segera pergi dari meja yang saat ini menjadi tempat kami berkumpul.
Baru saja mereka kembali dengan pikiran mereka masing-masing, Midorima bersama sang tamu pun mendatangi ruangan tempat kami berada sekarang.
"Jadi ini teman-temanmu Midorima-kun?"
"Be-benar bibi."
Eh? Siapa dia?
Dengan sekali tatap, seakan mengerti tatapanku, Midorima yang berjalan di belakang bibi itu pun memberikan isyarat tangan ke arah kami. Kira-kira bunyi isyarat tangan itu :
'Dia mengaku sebagai bosku. Katanya aku ini kerja sambilan menjadi asistennya di apotik dekat sini.'
Dan setelah mengerti, kami pun hanya bisa ber-ooh-ria di tempat kami masing-masing.
"Ku pikir Midorima-kun sakit jadi aku berkunjung ke rumahmu. Ternyata sedang kerja kelompok ya?"
"Benar, bibi nodayo."
"Ahahaha...begitu."tawa Bibi itu.
Aku yang duduk di hadapan bibi itu pun segera memandangnya intens. Kenapa rasanya aku sangat mengenalnya yah? Tapi itu dimana?
"Apa kau ibunya Mikaya Ai nyonya Mikaya?"tiba-tiba Akashi yang duduk di sebelahku menyahut. Heee?! Jadi firasatku itu benar?
Aku segera menatap sekelilingku. Gara-gara ucapan Akashi yang mendadak itu, semuanya langsung menatap bibi itu intens sepertiku.
"Hahahaha...kalian mengenal anakku yah? Hmm...tentu saja kalian mengenalnya. Anakku kan seorang model."bibi itu pun mulai mengobrol panjang lebar mengenai putrinya sementara kami mendengarkan bibi itu. Beberapa ucapannya ada yang tidak ku mengerti. Siapa Kurosuki Hotanda?
"Kurosuki Hotanda? Siapa dia?"aku pun segera memotong cerita bibi itu.
"Ooh dia...dia adalah sahabat putriku di trendy agency milik kaa-sanmu, Meiko."
"Eh, kau mengenalku?"
"Tentu saja. Siapa yang tidak mengenal putri-nya Koto Hana? Hahahaha..."bibi itu pun mulai tertawa.
Sedangkan...aku hanya bisa facepalm di tempatku sekarang. Oh..tidak. Aku baru ingat. Di duniaku sendiri kan aku tidak pernah mendatangi kantor Kaa-sanku. Jadi, aku tidak mengenal Mikaya Ai disini.
"Hmm...baiklah. Kurasa Midorima-kun tidak kenapa-napa. Jadi, besok Midorima-kun bekerja ya!"setelah berucap seperti itu, bibi itu pun mulai berjalan menuju ke arah pintu.
BLAM...
"Ehm...jadi, apa lagi yang ingin kita diskusikan hari ini? Aku sebentar lagi akan di jemput."ucapku sambil memandang Kiseki no Sedai sekali lagi.
"Kurasa ada yang aneh disini...Ryouta, apa kau tidak menjadi model disini?"Berkat ucapan Akashi itu, aku pun segera memandang Kise. Apa yang di ucapkan Akashi itu benar?
"Itu yang sedari tadi ingin ku ceritakan, ssu! Aku tidak menjadi model disini! HUAAA! Aku benar-benar tidak eksis disini, ssu! Pantas saja saat kita berjalan menuju apartemen Midorimacchi, gadis-gadis yang ku sapa langsung memandangku aneh! HUAA!"rengek Kise.
Hmm...pantas saja.
"Oke, baiklah. Pembicaraan kita sampai di sini saja."Akashi pun segera berdiri dari tempat duduknya.
"Hueee...kenapa tidak ada yang menanggapi penderitaanku, sih ssu?"
"Jawabannya pasti sama kok Kise-kun." Kuroko yang sedari tadi tidak terlihat pun mulai menampakkan dirinya di sekitar kami.
"Huee...Kurokocchi Hidoi!"
"Sudahlah, yang penting Tetsu sudah menanggapi ucapanmu Kise."sahut Aomine dengan wajah tak minat.
"Ck..tapi itu tidak membuatku merasa terhibur, Aominecchi!"teriak Kise. Aku yang masih duduk di tempatku yang tadi pun mulai menggeleng-gelengkan kepalaku melihat mereka bertiga. Tampaknya aku harus melerai mereka berdua...
"Cukup, Aomine-kun! Kise-kun! Yang jelas, senin kita berkumpul lagi di atap sekolah pada istirahat pertama." jelasku sebelum Akhirnya aku juga bangkit berdiri dan mengikuti Akashi yang bergerak ke tempat sepatu kami berada. Tak lama kemudian, akhirnya Kagami, Aomine, Kuroko, dan Kise pun mengikuti pergerakanku. Kami pun berpamitan dengan Midorima sebelum keluar dari apartemen miliknya.
-SKIP TIME-
.
.
.
Aku segera beranjak dari kasurku menuju kalender. Hmm...hari Minggu?
TOK...TOK...TOK...
"Meiko-chan!" dari ujung pintu kamarku, Kaa-san pun segera menerjang tubuhku sehingga kami terpental ke kasurku kembali.
"Kaa-san, sakit! Kau menimpaku!"teriakku.
"Oh...maaf sayang! Hmm...kau mau tidak sesekali mengunjungi kantor kaa-san?"
"Eh? Kaa-san mau mengajakku?"
"Iya. Dan...kebetulan teman Kaa-san ada yang ingin meminta artis untuk membintangi rancangan baju musim semi terbarunya. Apa kau mau, Meiko-chan?"
"Eh, tentu saja aku mau kaa-san! Kalau begitu kaa-san tunggu saja di luar! Aku mau mandi dulu!"
Tak mau mengulur waktu lagi, aku pun segera mendorong kaa-sanku keluar kamarku dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Aku sangat senang sekali! Karena hari ini aku akan pergi bersama kaa-san!
-SKIP TIME-
.
.
.
Normal POV
"Ahahahaha...jadi, ini putrimu Hana? Ku pikir dia salah satu artis milikmu."ucap Tenny, salah satu designer asing kenalan Hana. Hana pun menanggapi ucapan Tenny dengan senyum.
"Iya. Cantik kan?" ucap Hana sambil mendorong Meiko ke depan. Tenny pun mulai menilai Meiko dari bawah sampai atas.
"Hmm...lumayan. Nah, sekarang anakmu akan di pasangkan dengan Kurosuki Hotanda."ucap Tenny yang langsung melirik kertas jadwalnya. Sementara di bagian Meiko, dia tampak sedang...berjengit kaget.
"Ku-kurosuki Hotanda?"gumam Meiko pelan.
PLUK... Baru saja bergumam, tiba-tiba sebuah tangan pun mengalungi bahu Meiko.
"Saa...inikah Meiko, kerabat kerjaku hari ini Tenny?"
Meiko POV
Su-suaranya sangat merdu dan halus...
"Iya, tentu saja."
"Wow...anak dari bosku sendiri...salam kenal, aku Kurosuki Hotanda!"
Dengan rambutnya yang berwarna cokelat muda yang berkilau beserta matanya yang berwarna hitam legam, dia membuatku sedikit terpesona. Oh, ayolah...kenapa wajahnya lebih tampan dari pada kiseki no Sedai?
"A-aku Fukadachi Meiko." jawabku dengan sedikit tergagap. Ck...kurasa aku terpesona dengannya.
.
.
.
Pagi hari di Tokyo Gakuen...
Aku memasuki kelas dengan semangat yang membara. hahaha...senang sekali kemarin ber foto dengan Kurosuki Hotanda!
"Nee...tampaknya ada yang bahagia nih hari ini..." ucap Reina yang sedang duduk di bangkunya sendiri. Aku pun segera duduk di sampingnya.
"Tentu saja."
"Kalau begitu, sebagai ratu gosip di kelas ini kau harus memberitahukan info itu padaku!"
"Aku tidak mau!"
"Hee, jadi kali ini kau mau main rahasia denganku?"
"Bukan begitu, aku ingin kau mendengarkan ini sebagai seorang sahabat. Bukan sebagai ratu gosip."
"Oh...baiklah. Jadi, apa yang ingin kau ucapkan padaku?"
"Kemarin...aku...berfoto...dengan Kurosuki Hotanda!"teriakku sambil agak berbisik pada Reina. Tapi pada detik itu juga, aku harus membekap mulut Reina karena aku tahu pasti Ia ingin berteriak.
"Hmmmph!" (lepaskan!)
Melihat dari matanya Reina, aku tahu kalau ia meminta aku melepaskan bekapan mulutnya. Jadi, detik itu juga aku melepas bekapanku dari mulutnya.
"Hah...hah...hah...kau memang hebat Meiko! Dekat dengan ketujuh murid baru yang tampan-tampan, dan sekarang...Kurosuki Hotanda! Itu hebat sekali! Aku jadi iri padamu! Tapi, tidak juga sih...aku masih lebih cantik darimu! Hahahahaha!"ucap Reina girang.
Duh...untung saja Reina tidak mengucapkannya dengan kencang.
Akashi POV
Hm...bodoh...merahasiakan? Siapapun juga pasti akan mengetahui rahasia yang kalian buat jika kalian berbicara dengan suara sekencang itu.
Kurosuki Hotanda? Pantas saja kemarin dia seharian tidak menjawab pesan dariku. Padahal kemarin aku ingin memberitahu dia bahwa kami sudah menemukan lapangan basket untuk umum di sekitar perumahan Kuroko.
Flashback...
"Bagaimana Akashi?" tanya Daiki padaku. Sementara aku hanya bisa mengerutkan alisku sembari menggelengkan kepalaku.
"Tidak di jawab."ucapku singkat.
"Lalu, apa lagi yang kita tunggu? Kita harus melihat kemampuan kita di sini bukan?" ucap Kagami. Kami semua pun setuju. Segera saja kami ber tujuh pergi ke lapangan yang Tetsu temukan itu.
"Dasar pengecut!"
BUAKH...
"Siapa yang kau bilang pengecut? Anak SMP seperti kalian tidak pantas melawan anak SMA seperti kami!"
Dari kejauhan, kami bisa melihat pertengkaran itu.
"Oi...Oi...ada yang bertengkar sama seperti waktu itu ya Tetsu?"
"Ha'i Aomine-kun!"
"Apa maksudmu waktu itu, Daiki?"
"Oh, waktu itu ada yang memperebutkan lapangan seperti ini juga. Tapi Tetsu menghadapi para anak SMA itu dan aku, Midorima, dan Kise menolongnya."
"Hmm...bagaimana jika kita yang menolong anak SMP itu? Sekalian kita melihat kemampuan kita hari ini?"ucap Kagami.
"Boleh juga. Ayo kita adu tanding dengan anak SMA itu."perintahku yang langsung di jawab dengan anggukan dari mereka ber-enam.
saat kami sudah sampai di tengah-tengah lapangan, salah satu anak SMA yang sedang tertawa pun mulai menatap kami ber tujuh.
"Siapa kalian? Kenapa kalian menatap kami seperti itu? Mau menantang kami?" dengan tampang sangar-nya, orang yang ku prediksi sebagai pemimpin dari sekelompok anak SMA Hainan, nama sekolah yang ku lihat dari seragam mereka itu pun perlahan mendekati kami.
"Tentu saja."ucapku yang menatapnya tajam. Dia pun balas dengan menatapku tajam juga.
"Huh! Kalau mau jadi pahlawan jangan disini! Lagian kalian terlihat lemah dengan rambut kalian yang terlihat berwarna itu!"
"Jangan mengejek kami dasar banci!" teriak Daiki yang ada di belakang kami. Tampaknya dia sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi.
"Jangan meremehkan kami! Buktikan saja dulu kami ini lemah atau tidak."ucapku datar.
"Cih! Anak SMA Tokyo Gakuen? Memangnya ada klub basket di sekolah itu?"
"Kami baru saja ingin membuatnya nodayo!"
"Baiklah, kita akan mulai pertandingan ini! Hei kalian anak SMP! Kalian jadi wasit kami!"
"B-baik!"
Setelah itu, aku pun mengajak semuanya untuk berunding. Di dalam diskusi kami, yang akan menjadi stater adalah aku, Midorima, Kise, Aomine, dan Murasakibara.
Pada Tip-off pertama, Murasakibara pun dengan mudah mengambil bola itu dan segera mengopernya padaku.
"Daiki!" panggilku.
"Osh!" dia pun merespon dan segera mendunk bola yang ku oper padanya. Hm...tampaknya bakat kami tidak hilang sama sekali.
Aku pun segera melirik kepada musuh kami yang tercengang dengan aksi kami. Khukhukhu...mati kalian! Kami akan memberikan perlawanan sebisa kami!
-SKIP TIME-
"Hosh...hosh...hosh...hebat! A-aku tak menyangka kalian hebat sekali! Perkenalkan, aku Urugi Satoshi. Aku adalah salah satu pemain yang terpilih untuk mewakili Jepang. Kalian tahu NBA bukan? Aku salah satunya." orang yang ku anggap pemimpin itu pun mulai berjabat tangan dengan kami satu per satu dan jabatan tangannya pun berhenti saat berjabat tangan denganku.
"Ku harap kalian bisa latih tanding dengan sekolah kami. Maaf jika kami sempat sombong. Hehehe... Oh iya! Aku masih ingin bermain dengan kalian hari ini! Kalian mau kan?"
"Tentu saja!"ucap Daiki dan Taiga bersamaan. Dengan sekali anggukan setuju dariku, permainan selanjutnya pun dimulai dengan damai.
Flasback Off...
Pandanganku pun masih tertuju pada Meiko dan sahabatnya. Apa yang mereka bicarakan sekarang? Masalahnya, kali ini mereka berbicara dengan suara yang sangat kecil.
Tapi, saat Reina maju ke depan kelas, semua anak dikelas pun segera menatapnya. Dan...pertanyaanku terjawab. Dasar ratu gosip...
"Hei teman-teman! Kita akan kedatangan murid baru lagi! Kali ini aku tidak tahu siapa mereka! Tapi aku bisa melihat kalau orang baru itu berjumlah-..."
"EHEM! Reina, aku bisa melanjutkannya!" wali kelas kami yang sudah berada di pintu kelas pun lagi-lagi memergoki aksi Reina yang seakan tahu semua info di sekolah ini.
"Ba-baik sensei..." cicit Reina yang segera kembali ke kursinya.
"Baiklah, kalian kedatangan murid baru. Silahkan masuk dan perkenalkan diri kalian."
Dua orang murid yang masuk ke dalam kelas pun sontak membuat keributan di kelas ini.
"KYAA! Hota-kun! Foto dong!"
"Ai-chan?! Suatu keajaiban bisa bertemu denganmu!"
Para perempuan dan laki-laki di kelas kami pun mendadak ribut saat keduanya sudah berdiri di depan kelas. Yang pria, ku tebak orang yang bernama Kurosuki Hotanda itu sedang menggaruk kepalanya dengan senyuman canggung. Sedangkan yang satunya lagi, Mikaya Ai sedang memasang tampang datar.
"Tenang!" wali kelas kami pun berteriak. Ternyata teriakan wali kelas kami cukup ampuh untuk meredakan kebisingan yang sempat tercipta barusan.
"Saya Kurosuki Hotanda. Salam kena-..."
"KYAA!"
"Mikaya Ai."
"Kalian berdua, pilih tempat duduk kalian masing-masing karena saya akan mengajar Kimia hari ini."
"Hai, sensei!" mereka berdua pun segera memilih tempat duduk mereka masing-masing.
Huh...tidak masalah jika model itu bersekolah disini. Asalkan dia tidak mendekati Meiko, tidak akan ada masalah di antara kami...
Tapi, sayangnya pemikiranku tidak sama dengan kenyataan. Di saat jam istirahat pertama, kami bertujuh memutuskan akan membuat klub basket di sekolah ini dengan memberikan proposal kepada kepala sekolah.
"Hmm...baiklah. Tapi, karena sekolah ini belum memiliki Gym, apa kalian mau untuk sementara berlatih di lapangan outdoor? Karena hanya lapangan outdoorlah alternatif tercepat yang bisa dibuat."
"Ha'i. Kami setuju. Terima kasih kepala sekolah." kami pun segera beranjak dari ruang kepala sekolah menuju atap sekolah, tempat yang sudah Meiko tetapkan menjadi tempat selanjutnya untuk perkumpulan kami.
"Mei-..." Daiki yang berjalan paling depan pun berhenti melangkah.
"Kenapa Daiki?"aku pun menatapnya bingung.
"Akashi, kau harus melihat ini."
Dengan rasa penasaran yang tinggi, aku pun segera berjalan ke depan pintu atap sekolah itu. Di ujung sana, aku bisa melihat Meiko yang di peluk seseorang. Dan pelakunya adalah Kurosuki Hotanda.
Seakan mengetahui keberadaan kami, dia yang tak lain adalah Kurosuki Hotanda melirik kami sambil mengencangkan pelukannya pada pinggang Meiko dan menyeringai pada kami. Yang kami tahu, dia telah mengibarkan bendera peperangan pada kami.
.
.
.
TBC
Yatta! Bagaimana menurut readers? Jelek? Kurang bagus? Atau lanjut? Hehehehe...(#yang lanjut gak nyambung ya?)
Hmm... Baiklah, kali ini Angel akan menjawab review kepada para guest yang membaca chapter 1!
Akashi knate yumi : Ini sudah lanjut kok! Hehehe...Midorima awalnya Angel pengen dia kerja sambilan di apotek menjadi asisten apoteker.
Shiro : huahahaha..singkat, padat, dan jelas...oke! Ini sudah update kok!
Mohon reviewnya yaa readers untuk chap ini!
