After The Weeding
Novel Remake, karya Kim Ji-Oh
Min Yoongi
X
Park Jimin
MINYOON/MINGA/YOONMIN FANFICTION
RATED BERUBAH – UBAH SEWAKTU – WAKTU!
IF YOU DON'T LIKE. DON'T READ IT !
IF YOU WANT COPAS, WITH AUTHOR NAME JUSEYO
Genderswitch for Min Yoongi and other characters!
Happy reading~
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
.
.
.
Yoongi bodoh. Sebentar lagi pasti ia akan mengajakmu makan malam bersama. Tolak. Jangan…
"Kau ada janji malam ini?"
Yoongi tentu tidak terkejut walaupun petir menyambar tepat di sampingnya. Pria ini bilang apa, sih? Apa aku salah dengar? Yoongi telah berlatih menggoda lelaki di sekitar rumahnya sebagai latihan pendewasaan diri, dan biasanya ia tidak pernah bersikap sebodoh ini, namun sepertinya ini bukanlah hari 'biasa'— ini adalah hari 'spesial'.
"Apa? Tidak. Aku tidak ada janji."
"Kalau begitu ayo makan malam bersama. Kau suka apa?"
Apa pria ini begitu yakin bahwa takkan ada yang menolak jika diajak makan dengannya? Park Jimin mencuri kesempatan dengan cara bicaranya yang sangat datar. Yoongi mengedip-ngedipkan mata, hendak mengatakan sesuatu.
"Makan malam bersama? Cuma berdua?"
"Berdua!"
Pria tampan itu mengajak makan malam bersama sambil tersenyum, seakan itu akan menjadi hal yang sangat menyenangkan, sehingga Yoongi tak bisa menolak dengan dingin dan berkata 'tidak bisa' atau 'tidak mau' kepadanya. Selain itu, ia merasa berutang pada Jimin karena pria itu akan berinvestasi di perusahaan kakaknya. Mungkin tidak ada salahnya makan malam sekali dengannya.
"Anda masih sangat muda, tapi sudah menjadi direktur sebuah perusahaan. Kapan anda mulai berbisnis?"
Yoongi mengetahui bahwa Jimin setahun lebih muda dari kakaknya, saat mereka menikmati masakan blowfish di daerah Shinsa-dong. Yoongi heran seorang pria yang berumur 27 tahun sudah menjadi pemimpin sebuah perusahaan—pastilah Jimin membuka usaha sendiri seperti kakaknya. Namun, Jimin malah terlihat kaget saat mendengar pertanyaan itu, dan memandang Yoongi dengan penasaran.
"Katanya bisnisku dimulai sejak tahun 1962," Jimin menjawab, sambil berpura-pura berpikir keras untuk mengingat-ingat tahun pendirian perusahaannya. Sementara Yoongi—karena tidak bisa berhitung—terlihat bingung. Perusahaan direktur muda ini sudah berusia 30 tahun lebih? Apa maksudnya, sih?
"Yoongi-sshi, apa Anda tidak membaca berita di Koran?"
"Iyaa. Aku tidak tahu kenapa orang-orang mau membaca Koran. Tidak ada gambar berwarna, tidak ada gambar lucu, yang ada hanya angka dan grafik."
Jimin, yang sudah memperkirakan jawaban itu, hanya bisa tersenyum getir, sedangkan Yoongi masih meneruskan celotehannya tentang berita ekonomi di Koran yang 'tidak berguna'. Kenapa berita ekonomi menggunakan banyak istilah dalam bahasa inggris yang sulit… tidak banyak orang yang dapat mengerti seluruh isi berita… dan lain-lain.
"Yoongi-sshi pasti akan mengenalku kalau bersabar sedikit untuk membaca berita ekonomi selama empat hari."
"Benar?"
"Ehm, karena aku salah satu orang yang senang bermain di bagian itu."
Yoongi, yang sedang menikmati blowfish segar dipotong tipis-tipis sampai terasa meleleh di mulutnya, tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menatap Jimin.
"Benar Anda sering masuk Koran?"
"Kadang juga di TV."
"Berita ekonomi?"
Jiming mengangguk. Yoongi harus mengakui bahwa orang di depannya adalah sosok yang luar biasa.
Sejujurnya, Yoongi hanya membaca artikel gosip artis dan jadwal acara TV di Koran. Ia bahkan tidak pernah menonton berita TV. Ia sudah cukup sibuk belajar dan mengerjakan tugas, hingga waktu 24 jam terasa kurang baginya.
"Apakah Anda generasi kedua keluarga konglomerat?"
"Yah, bisa dikatakan begitu."
"Aduh! Berarti aku pasti terlihat menyedihkan sekali, deh. Masa aku tidak mengenal orang seterkenal Anda."
"Haha. Tidak apa, kok. Aku Cuma merasa sedikit sedih."
"Sedih?"
"Biasanya, aku tidak pernah menceritakan diriku sedetail ini kepada orang lain. Aku berusaha lebih keras dari biasanya, tapi ternyata reaksi Yoongi-sshi tidak terlalu hangat, aku jadi sedih."
Orang yang mendengar perkataan Jimin pasti akan merasa bersalah, apalagi Jimin mengatakannya dengan penuh kerendahan hati.
Yoongi mulai memandang pria di depannya dengan perasaan baru. Ia sepantaran dengan Oppa, tapi kenapa ia sangat berbeda dengan Woobin-Oppa? Sosok Jimin sekarang benar-benar terlihat berbeda.
"Anda banyak mempunyai teman wanita, ya?"
Yoongi bertanya seperti itu, karena berdasarkan pengalamannya, pria hebat pasti sudah ada yang punya.
"Teman? Aku tidak berteman dengan perempuan. Apa Yoongi-sshi punya banyak teman lelaki, ya?"
Oooh. Kenapa percikkan apinya malah melayang ke arahku?
"Tentu saja aku punya banyak teman!"
Sebenarnya Yoongi memang memiliki banyak teman lelaki. Mulai dari teman lelaki di tempat les seninya saat ia SMP, teman SMA, teman di organisasi kampus, sampai teman yang ditemuinya di acara kencan buta. Namun sayang, hanya sedikit yang berlanjut menjadi hubungan serius.
Yoongi menceritakan semuanya kepada Jimin, yang hanya bisa tercengang mendengar kecepatan Yoongi berbicara. Sejak itulah, Jimin mulai meledek Yoongi itu cerewet. Mereka masih belum tahu bagaimana ke depannya, tapi yang pasti reaksi Jimin saat itu sangat bersahabat.
"Aku iri kepada Ketua Tim Min."
"Woobin-Oppa? Kenapa?"
Terlalu tiba-tiba. Jimin berkata dengan mulutnya sendiri bahwa ia generasi kedua keluarga konglomerat, wajah tampannya bisa memutar balikkan dunia, tapi kenapa ia iri pada Oppaku?
"Ia takkan pernah bosan karena ada adik cantik yang berceloteh terus di sampingnya."
"Huh, Direktur Park, Anda tidak punya adik?"
Ia takkan berkata begitu kalau ia punya adik. Haah, Oppa malah sering mengusir adiknya ini, karena ia bilang telinganya sakit mendengar celotehanku. Tunggu, tadi ia bilang aku cantik? Orang ini?
Yoongi terbelalak setelah mendengar pujian tidak terduga itu, dan terus menatap Jimin. Jimin lalu mengatakan sesuatu yang membuat mata Yoongi makan terbelalak.
"Sepertinya tidak apa kalau kita bicara lebih santai. Tadi kulihat kau juga bicara dengan sangat santai pada kakakmu."
Oppa memang lebih tua delapan tahun dariku, tapi kami kan memiliki hubungan darah. Sedangkan orang ini hanya orang asing.
"Direktur Park boleh kok bicara lebih santai padaku. Aku kan lebih muda."
Yoongi tidak menganggap perkataannya ini sebagai sebuah penolakan—ia berpikir, sudah sewajarnya ia memperlakukan Jimin dengan sopan. Tapi dari sisi Jimin, ini terdengar sebagai sebuah penolakan. Timbul satu kerutan vertikal baru di tengah dahi Jimin.
.
.
.
.
.
"Terima kasih karena sudah membelikan makan malam yang enak."
Yoongi mengucapkan terima kasih dan memberi salam dengan sopan saat mereka keluar dari restoran. Yoongi membungkukkan badan dengan dalam, karena ia menganggap Park Jimin rekan yang sangat penting bagi bisnis kakaknya.
Sampai saat itu, Yoongi masih menganggap pria ini sebagai rekan kakaknya, bukan seorang pria tampan. Namun, pikiran itu segera berubah dalam waktu kurang dari setengah jam.
"Mau kutraktir minum teh? Tidak apa, kan? Kalau sibuk…"
"Walaupun sibuk, aku harus tetap pergi untuk minum teh yang dibelikan Yoongi-sshi."
Yoongi memang menawarkan lebih dulu, tapi sebenarnya ia hanya ingin mengikuti saran kakaknya. Setidaknya kau harus membelikannya teh kalau makan bersamanya. Itu baru namanya sopan. Namun, kakaknya juga menyuruh Yoongi untuk tidak terlalu mendesak, karena Direktur Park adalah orang yang sibuk.
Jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan dengan hati-hati.
Peringatan dari Woobin-Oppa juga melintas di kepala Yoongi. Ia bertanya-tanya apakah caranya mengajak Jimin sudah tepat. Sepertinya tidak ada yang aneh. Masih belum.
"Aku mau pesan lemonade. Direktur Park, di bagian belakang menu ada alkohol dan cocktail, jadi silakan pilih sesuka Anda. Aku yang traktir, kok."
"Lemonade di sini enak? Aku tidak bisa minum alkohol, jadi aku pesan lemonade saja."
Di luar perkiraan.
Yoongi mengira, orang dengan badan yang berotot seperti Jimin pasti suka minum. Tipe pria keren yang senang menikmati ketenangan sambil minum alkohol sendirian. Jimin adalah pria yang terlihat seperti itu, tapi ternyata ia tidak bisa minum.
Entah mengapa, lemonade hari ini tidak terlalu enak. Namun, Jimin tetap terlihat elegan saat memegang gelas lemonade itu dan menyeruputnya perlahan, seperti sedang meminum minuman beralkohol dari Skotlandia.
Kenapa tangan pria bisa secantik ini?
Pujian itu keluar dengan sendirinya saat Yoongi melihat tangan Jimin yang sedang memegang gelas lemonade. Tangan Jimin memang besar dan terlihat kuat seperti tangan kebanyakan pria, tapi tidak ada kerutan kasar di sana, bahkan kukunya terlihat sangat bersih dan rapi. Singkatnya, jarinya yang panjang dan tangannya yang lembut pasti dapat menarik perhatian semua orang. Tangan orang yang hidup bak bangsawan yang tidak mengenal kesulitan.
"Tangan Anda sangat indah."
Sepertinya pujian tulus dari Yoongi terdengar seperti aku makhluk luar angkasa di telinga Jimin, karena Jimin hanya bisa memandangi Yoongi saat mendengarnya.
"Aku serius, kok. Begini-begini, aku mahasiswi jurusan seni, lho. Kemampuan mengobservasiku dapat di andalkan."
"Ah, begitu, ya."
Begitu, ya? Apanya? Apanya yang 'begitu, ya'? Tangannya yang indah? Atau kemampuan mengobservasiku yang bagus karena aku mahasiswi jurusan seni?
Ketidakjelasan jawaban Jimin malah menambah ketertarikan Yoongi padanya. Apalagi, semua jawaban yang dilontarkan oleh Jimin selama makan malam selalu seperti itu: "benar", "begitu, ya", "iya", dan lain-lain. Sepertinya jawaban membingungkan itu membuat Yoongi semakin memperhatikan perkataan dan sikapnya. Mungkin memang begitulah cara Jimin berbicara, atau mungkin Jimin memang tidak pedulian.
Yoongi juga tak dapat melupakan begitu saja kejadian sebelumnya. Yoongi menceritakan semua hal tentang dirinya saat makan dan minum lemonade bersama, tapi Jimin sendiri hampir tidak bercerita apa-apa. Yoongi terus berkicau sendirian, tapi anehnya, ia merasa mereka berdua sudah berbagi cerita yang cukup panjang.
Senyum tipis Jimin kadang terlihat, tatapan matanya antusias saat mendengar cerita Yoongi. Selain itu, kerutan di ujung mata Jimin membuat matanya yang kuat menjadi lebih lembut saat tersenyum.
Berbincang-bincang tidak harus selalu mengeluarkan suara, kan? Bagi Yoongi, dapat menghabiskan waktu bersama Jimin sudah lebih dari sebuah perbincangan yang panjang. Dengan kata lain, Park Jimin sudah mencuri hati Yoongi.
Untungnya, bukan hati Yoongi yang sudah tercuri, karena saat Jimin mengantarkan Yoongi sampai ke depan rumahnya, laki-laki itu mengatakan sesuatu kepada Yoongi.
"Kau ada waktu hari Jumat?"
"Lusa?"
Tugas kuliah yang harus dikumpulkan sampai selasa minggu depan sudah menumpuk di depan mata, tapi skala prioritas di hati Yoongi mulai goyah.
Makan malam paling hanya dua jam, perjalanan ke kantor Oppa paling lama makan satu jam. Tidak apa kan, kalau menghabiskan waktu maksimal tiga jam dalam sehari?
Yoongi sudah menetapkan hati, tapi ia mengulur-ulur waktu dulu sebelum menjawab. Perempuan punya harga diri. Tidak boleh buru-buru… tidak boleh.
"Kau sibuk?"
"Iya."
"Sangat sibuk?"
"Ada tugas yang harus dikumpulkan. Sepertinya aku akan sangat sibuk sampai hari Selasa."
Aku kan tidak bohong, kenapa jadi kaku begini, ya? Apa aku seharusnya mengiakan saja?
Tidak ada penyesalan yang terlihat di wajah Jimin. Laki-laki itu hampir berjalan menjauh saat Yoongi berkata dengan terburu-buru.
"Bagaimana kalau Rabu minggu depan?"
Min Yoongi. Apa benar kau tadi perempuan yang bicara tentang harga diri? Dasar!
"Rabu. Hmm, bisa, kok. Berarti syaratnya berubah, ya?"
"Apa?"
"Orang yang mengajak harus mentraktir, lho. Benar, kan?"
Sepertinya tawar-menawar yang dilakukan dalam bisnis juga tidak lepas dari cara bercanda Park Jimin. Yoongi kesulitan menahan tawa karena ekspresi Jimin yang tidak berubah dan tetap terlihat serius saat bercanda.
"Jangan mengharapkan makanan ratusan ribu won, ya."
Park Jimin sangat tampan. Ia terlihat memabukkan saat sedang tersenyum. Seperti sekarang. Tepat seperti saat ini. Ketampanannya saat tersenyum membuat orang kehilangan akal.
"Kalau begitu, sampai ketemu Rabu minggu depan."
Yoongi ingin memberikan salam perpisahan, tapi tiba-tiba semua terasa gelap, karena Jimin yang berbadan yang lebih besar darinya menutupinya. Karena Jimin mengecup keningnya.
"Park Jimin baru saja menandai Min Yoongi. Aku akan menunggu datangnya Rabu minggu depan."
"Hah? Tanda?"
Jimin pergi begitu saja meninggalkan Yoongi yang masih kebingungan karena kecupannya, dan melambaikan tangannya tinggi-tinggi kepada Yoongi.
Beberapa hari kemudian, Jimin berkata bahwa ia hanya mengecup kening Yoongi karena takut mengagetkan Yoongi yang masih muda. Ia juga bilang, ia tahu Yoongi akan menjadi miliknya sejak pertama kali bertemu dengannya.
Janji makam malam selalu bertambah. Akhirnya, mereka selalu bertemu setiap akhir pekan—Jimin sering mengunjungi rumah Yoongi, dan tanpa disadari, Yoongi telah menjadi tunangan seorang Park Jimin.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
YAAHHH! AJHUMMA KEMBALI DENGAN FF AJHUMMA! CHAP DUA UPDATE. MAAF YA AJHUMMA TELAT BANGET UPDATENYA T_T KARENA AJHUMMA SIBUK SEKARANG. MAU UN DAN PERSIAPAN BUAT MASUK UNIV. HUHU DOAIN AJHUMMA YA. MAAF BANGET TT
AJHUMMA USAHAIN LUSA ATAU GA BESOK POKOKNYA DALAM MINGGU INI. FF INI UPDATE LAGI. MIANHAE ATAS KETERLAMBATANNYA /BOW/ OH IYA UNTUK WITHOUT YOU, THE PATH OF TEARS. MUNGKIN HIATUS DULU. NYELESEIN AFTER THE WEEDING DULU. MAAF YA TT HUHUHUHU
.
.
THANKS FOR READING
REVIEW PLEASE?
GOMAWO YANG UDAH REVIEW. MAAF GABISA DI BALES DISINI ATAU PAKE MESSAGE. SOALNYA AJHUMMA ON CMA SHARE FF AJA TT
