After The Weeding
Novel Remake, karya Kim Ji-Oh
Min Yoongi
X
Park Jimin
MINYOON/MINGA/YOONMIN FANFICTION
RATED BERUBAH – UBAH SEWAKTU – WAKTU!
IF YOU DON'T LIKE. DON'T READ IT !
IF YOU WANT COPAS, WITH AUTHOR NAME JUSEYO
Genderswitch for Min Yoongi and other characters!
Happy reading~
.
.
.
.
.
.
.
.
CHAPTER 5
.
.
.
.
.
.
.
Flashback Start
Lima puluh hari setelah Yoongi pertama kali bertemu dengan Jimin, ada sebuah festival di kampus Yoongi. Biasanya, mahasiswa tahun ketiga tidak berpartisipasi dalam festival seperti itu; mereka hanya bermain atau malah tidak datang sama sekali ke kampus dan pergi ke tempat lain. Namun, manusia-manusia yang seperti patung ini tidak berniat untuk bermain walau sudah memasuki tahun ketiga. Yoongi dan teman-temannya malah sibuk membuat seafood sejak pagi.
Yoongi pergi ke pintu gerbang utama untuk menemui Jimin sekitar jam satu siang. Jimin berdiri di 'Pintu gerbang utama', walau pintu itu takkan terlihat jika banyak orang berkumpul di sana. Kenapa ia berdiri di Panggung Bodoh? Pikir Yoongi yang merasa terkejut saat melihat Jimin.
"Hihihi."
Jimin berdiri di 'Panggung Bodoh'— area di depan pintu gerbang utama yang sangat menarik perhatian— bersama orang bodoh lain yang sedang menunggu pacar mereka dengan tegang. Si bodoh tampan yang mengenakan celana jins biru keabu-abuan dan polo shirt berwarna khaki. Kulit pucatnya, menurut Yoongi membuatnya sempurna. Jimin bagai dibingkai aura emas saat berdiri di tengah-tengah orang bodoh lainnya yang memakai celana jins biru dan kaus putih, Jimin sangat mencolok bagi Yoongi.
"Jimin!"
"Halo."
Jimin meletakkan tangannya di pundak Yoongi dengan natural saat memberi salam pendek pada Yoongi. Seperti salamnya, gerak tubuhnya juga sangat sederhana.
Hari itu, Jimin terlihat paling 'manly' di antara 'anak laki-laki' di sekelilingnya yang masih sangat muda. Ia jauh lebih tinggi dibanding yang lain, bentuk tubuhnya juga bagus. Singkatnya, Jimin adalah nutrisi berprotein tinggi bagi mata perempuan-perempuan di hari itu, dan hebatnya Jimin merangkul Yoongi dan menarik Yoongi ke pelukannya. Kebanggaan memuncak di hati Yoongi.
"Kau pasti sibuk. Maaf, ya, karena memintamu datang ke sini."
"Tidak, aku memang ingin datang."
Ini adalah hari ketiga festival, yang bagi Yoongi adalah dimana ia menghabiskan waktu dengan bekerja dari pagi. Namun, kedatangan Jimin mengubah hari itu menjadi seperti mimpi. Ya, seperti sebuah mimpi…
Yoongi memperkenalkan pria tampan yang menemaninya kepada teman-temannya. Ia serasa ingin terbang saat melihat Jimin yang tidak memperlihatkan reaksi apa pun saat dikenalkan dengan teman Yoongi yang cantik dan seksi. Jimin pernah berkata bahwa satu-satunya perempuan di matanya adalah Min Yoongi.
"Dasar, mereka melakukan hal yang tak berguna."
"Apa? Apa maksudmu, Jimin?"
Perkataan sarkastis yang sangat tiba-tiba. Jimin berkata seperti itu dan menertawakan pasangan yang berada di sekitar mereka. Alasan mengapa ia berkata seperti itu adalah…
"Aku sudah membereskan barang-barang yang ada di dalam, jadi cepat pulang. Cuci kaki dan tidur!"
Hah!
Berbeda dengan Jimin yang dapat mengabaikan hal sepeti itu, wajah Yoongi memerah. Ia hanya bisa menunduk menatapi kakinya untuk beberapa saat dan berjalan cepat.
Lelaki ini, lelaki ini, pasti ia juga punya sisi seperti itu…
Aaah, sebenarnya Yoongi malu, tapi setelahnya Yoongi malah tersenyum sendiri. Park Jimin, kau baru saja mendapat poin tinggi.
Kampus yang biasanya terasa sempit dan menyesakkan itu terasa seperti Negara asing yang indah saat Yoongi berjalan dengan Jimin. Menaiki tangga yang dilalui setiap pagi dengan susah payah terasa seperti menaiki tangga ke sebuah benteng kuno jika dilalui bersama Jimin. Seperti seorang putri yang berjalan dengan elegan, putri yang didampingi pangeran tampan dan dapat diandalkan.
Pikiranku konyol? Yoongi menengadahkan kepalanya untuk memandang Jimin dan tersenyum padanya. Perempuan yang sedang jatuh cinta. Yoongi adalah perempuan yang sedang jatuh cinta pada pria tampan.
"Mau pergi ke tempat sepi tidak?"
"Ah, tempat sepi di hari terakhir festival… Jimin, kau pikir tempat seperti itu ada? Hihihi, oke. Taman kampuspasti penuh, kau juga tidak bisa masuk ke perpustakaan, kira-kira di mana, ya, yang sepi…"
"Mobilku."
Benar. Mobil yang diparkir di gang sempit depan kampusnya sangat sepi. Audi A5 berwarna hitam. Kaca mobil yang berwarna gelap. Bangku mobil dari kulit yang dingin. Lalu, suara napas Yoongi terdengar canggung di sela-sela keheningan.
Ini bukan pertama kalinya Yoongi duduk berduaan dengan Jimin di mobil Jimin, tapi entah kenapa suasana hari itu terasa berbeda. Yoongi merasa seperti ada sesuatu yang sedang berlangsung. Jimin juga terdiam, tidak seperti biasanya. Yoongi mulai merasa bersemangat karena instingnya mengatakan ini akan menjadi hari yang sempurna. Yoongi mulai bertingkah tidak sabar seperti siswi SMP.
"Jimin, kau mau bicara apa?"
"Ini."
Senyum terpancar dari wajah Jimin, seakan ia sedang berterima kasih kepada Yoongi karena Yoongi telah memecah kesunyian. Dengan hati-hati, Yoongi menerima dan membuka kotak kecil yang tiba-tiba diberikan Jimin. Dari besarnya, Yoongi dapat memperkirakan apa isi kotak itu. Ia berharap isisnya adalah cincin pasangan yang 'sederhana'. Namun, ternyata isinya permata berlian biru yang dikelilingi delapan berlian putih berkilauan. Harusnya Yoongi tahu apa arti 'sederhana' bagi Jimin. Yoongi merasa konyol. Hadiah seperti itu terlalu mewah baginya yang masih kuliah, tapi Yoongi tidak dapat mengelak bahwa cincin itu memang cantik.
"Ca… cantik sekali. Jimin, benar ini untukku? Benar? Benar?"
"Cerewet. Benar itu untukmu. Kalau kau bertanya lagi, aku ambil lagi, lho!"
"Ya ampun, kenapa bisa begitu? Park Jimin! Kau tidak boleh mengambil kembali barang yang sudah kau berikan! Ah, cantik. Cantik sekali…"
Cincin itu memang cantik, tapi Yoongi tidak sanggup mengeluarkan cincin bermata besar itu dari kotaknya. Ia hanya memegangi kotak tersebut dan berceloteh ke sana kemari.
"Cantik sekali. Mahal, ya?"
"Kalau mahal kenapa? Mau pamer ke teman-temanmu?"
"Tiiidak."
Berlian sebesar ini. Seharusnya Yoongi mengeluarkannya dengan hati bahagia, mengenakannya di jarinya, lalu melambaikan tangannya di depan Jimin sambil bertanya apakah cincinnya terlihat cantik.
Namun, karena matanya disilaukan dan hatinya digetarkan oleh cahaya biru… bukan… karena Yoongi kampungan, ia merasa ragu-ragu. Tatapan mata Jimin bertambah gelap seiring dengan Yoongi yang mengulur-ulur waktu. Sebenarnya Yoongi ingin memberanikan diri untuk mengeluarkan cincin itu sebelum Jimin semakin salah paham, tapi tubuhnya tidak mau mengikuti kata hatinya.
Bodoh, bodoh, Min Yoongi!
Jimin menggenggam tangan kanan Yoongi. Yoongi dapat melihat kecemasan Jimin di balik topeng yang dipakai pria itu.
Oh, Tuhan. Pria ini sedang cemas?
Setelah mengetahui kecemasan Jimin, Yoongi mulai merasa lega dan dapat tersenyum kepadanya. Yoongi tersenyum sangat lebar sampai matanya menghilang saat Jimin memakaikan cincin itu di jari manisnya, saat cincin yang dingin itu tersemat dengan aman di jari Yoongi, Jimin menghela napas lega, sementara debaran jantung Yoongi pun mulai melambat.
Pas sekali. Wajar kalau perempuan terharu jika ada seorang lelaki yang memilihkan cincin yang pas sekali ukurannya, padahal lelaki itu hanya mengira-ngira ukuran jari perempuannya.
"Jimin, aku takkan melepaskan ini seumur hidupku. Kalau aku mati lebih dulu, aku akan membawa cincin ini ke peti matiku. Ingat, ya."
Yoongi berbicara dengan nada bercanda untuk melupakan makna cincin yang sangat berat itu, seraya meletakkan tangannya di dadanya yang sepertinya telah rusak karena dari tadi terus berdebar. Namun, Jimin— seperti biasanya— mengejutkan Yoongi dengan wajah yang datar.
"Itu cincin kawin."
"…!"
"Tutup mulutmu, Ikan Mas."
"Menikah? Kapan…?"
"Segera!"
"Segeraaa? Tapi aku harus lulus kuliah dulu. Kampusku tidak mengizinkan mahasiswinya menikah. Aku harus lulus dulu, Jimin."
"Kau tidak butuh ijazah dari kampus itu. Memangnya orang yang bergelut dalam bidang seni harus punya ijazah?"
Itulah cara Jimin melamar Yoongi. Yoongi bukannya tidak pernah berpikir tentang pernikahan, tapi ia merasa pernikahan merupakan hal yang masih sangat jauh. Karena itulah, ia sangat terkejut saat menerima lamaran Jimin. Terlebih, Yoongi masih kuliah di Universitas SM. Ia tidak boleh menikah semasa kuliah. Pernikahan merupakan sesuatu yang sangat mendadak bagi Yoongi yang sedang bersiap-siap untuk mendapatkan ijazah.
Namun, Yoongi berpikir untuk tetap mengambil risiko demi pria yang sangat tampan seperti Jimin.
Memang semua orang bisa mengambil risiko? Yoongi bodoh.
"Hmm… Hee, menikah… oke."
"Perjanjian verbal tidak bermakna."
"Huh! Oke, kalau memang perkataanku tidak dapat dipercaya, ayo lakukan dengan ciuman!"
Janji pernikahan yang dilakukan dengan ciuman. Janji yang ditandatangani dengan ciuman dan seakan telah disahkan.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
AJHUMMA KAMBEK YEAY ! BINGUNG YA? HAHAHA... LANJUTKAN BACANYA YAA~ KALIAN PASTI BERTANYA – TANYA. JIMIN ITU SEPERTI APA KEKEKEKE~ SABAR YAHH... NANTI KESINI – SINI MAKIN JELAS KOK ^^
JIMIN CINTA KOK AMA YOONGI. CUMA DISINI PERANNYA JIMIN ITU SOK JAIM" GITU /? YA GITU LAH. SETIAP ORANG NUNJUKIN CARA YANG BERBEDA UNTUK MENUNJUKKAN KECINTAANNYA /EA
CERITA INI MEMANG BANYAK FLASHBACKNYA, KLO MASIH GA MUDENG. DI RE-READ :'D HEHEHE
DISINI JIMIN SONGONG BENER GA? RASANYA PENGEN NABOK JIMIN/? /GA
HAHA... SEKIAN YAA~ PYONG!
.
.
THANKS FOR READING
REVIEW PLEASE?
GOMAWO YANG UDAH REVIEW. MAAF GABISA DI BALES DISINI ATAU PAKE MESSAGE. SOALNYA AJHUMMA ON CMA SHARE FF AJA TT
