After The Weeding
Novel Remake, karya Kim Ji-Oh
Min Yoongi
X
Park Jimin
MINYOON/MINGA/YOONMIN FANFICTION
RATED BERUBAH – UBAH SEWAKTU – WAKTU!
IF YOU DON'T LIKE. DON'T READ IT !
IF YOU WANT COPAS, WITH AUTHOR NAME JUSEYO
Genderswitch for Min Yoongi and other characters!
Happy reading~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
CHAPTER 6
Hal yang jelas-jelas ada tapi sering diabaikan, hal yang dianggap lebih baik tidak ada karena ketidaktahuan diri sendiri, beberapa hal penting yang kita salah pahami selama hidup: udara, kesetiaan antara manusia, percintaan, dan lain-lain.
.
.
.
"Hah."
Yoongi menghela napas panjang sambil memandangi es batu yang sudah mencair. Janji bodoh yang dibuatnya sewaktu ia masih muda dan lugu mengikatnya sampai sekarang.
Yoongi kembali ke kamar dengan ragu-ragu setelah meminum segelas air dingin. Ia melihat suaminya di tempat tidur. Yoongi berusaha untuk tidak mengeluarkan suara apa pun saat berpakaian. Ia duduk di tempat tidurnya dengan hati-hati. Tiba-tiba terdengar suara berat Jimin.
"Kenapa tidak memakai cincinmu?"
"Ah… jariku bengkak dan sakit paginya kalau aku memakai cincin itu saat tidur…"
Suamiku belum tidur, padahal kukira ia sudah terlelap. Kenapa tiba-tiba bicara tentang cincin? Yoongi benar-benar bingung.
"Ke sini."
Jimin mengulurkan tangan dan menarik lengan Yoongi. Cincin Yoongi ada di tangan Jimin. Di dalam kegelapan, tangan Jimin hanya terlihat seperti silhouette hitam pekat. Sedangkan tangan Yoongi seperti tangan mungil anak TK di atas tangan Jimin. Sangat kecil jika dibandingkan dengan tangan Jimin.
Jimin menggenggam tangan istrinya yang mulai gemetar. Tangan cantik istrinya yang selalu dipegangnya saat mereka masih berpacaran. Namun, sekarang tangan istrinya selalu gemetar jika di sampingnya.
Sial.
Jimin menahan kata umpatan tersebut di tenggorokannya dan mendekatkan cincin itu ke tangan istrinya.
"?"
Yoongi mengepalkan tangannya. Suaminya ingin memakaikannya cincin, tapi istrinya malah mengepalkan tangannya yang gemetar. Kenapa? Bagaimana Jimin harus menerima kenyataan ini?
"Ini kan cincinmu. Jangan menyia-nyiakannya. Pakai lagi."
"Aku tidak menyia-nyiakannya. Aku menyimpannya di sana. Akan aku pakai lagi besok pagi."
"Ujung-ujungnya kau pasti lupa. Pakai kalau kusuruh."
"Aku pakai besok pagi. Aku takkan lupa."
Istrinya melawan seperti anak kecil. Percakapan yang kekanakan. Kekesalan Jimin menutupi rasa bersalahnya. Jimin berbicara dengan nada yang mengintimidasi.
"Kau kenapa, sih!"
"…"
"Kau sedang melawan? Kalau suamimu menyuruhmu memakai cincin ini, pakai cincinnya walau hanya pura-pura. Jangan Cuma bilang tidak mau!"
"…"
Aku tidak melawan, bukan juga karena tidak mau. Aku begini karena paginya jariku pasti sakit. Cuma karena itu.
Yoongi menahan emosinya, sementara Jimin melepaskan kepalan jari Yoongi satu per satu dan akhirnya memakaikan cincin itu di jari Yoongi. Jimin menghembuskan napas pendek penuh kepuasan. Yoongi merasakan beban yang teramat sangat dari cincin yang tersemat di jarinya.
Beban pernikahan. Beban dari suaminya yang tak dapat disingkirkan. Napasnya sesak.
Jimin menggenggam tangan istrinya dan terjerumus dalam pergolakan batin yang kuat untuk sesaat. Semua milik Yoongi membuat Jimin terlena lagi. Rasa salah dan malu yang timbul karena menginginkan istrinya yang sedang tidur sudah lama menghilang.
Malam musim panas sangat pendek. Harus memutuskan dengan cepat.
Saat itu Jimin tidak dapat mengingat apa pun kecuali kegilaannya. "Jangan...," tolak Yoongi lemah. Namun, Jimin tak peduli. Tidak, ia tidak ingin mengingat apa-apa. Ingatan apa pun itu. Jimin bertekad menjadikan saat ini sebuah titik permulaan bagi jiwanya. Ia takkan melupakan saat ini sampai akhir hayatnya.
"Aku mencintaimu. Yoongi, aku mencintaimu."
Pengakuan Jimin memenuhi ruangan. Namun, pergolakan badan Jimin yang sangat hebat telah membuat istrinya kehilangan kesadaran, sehingga pengakuan itu hanya menjadi gema yang menghilang di kegelapan.
.o.
Akhirnya, Yoongi jatuh ke dalam dunia tidur tanpa mimpi yang tak berujung. Tidur yang sangat dalam. Tidur yang manis yang membebaskannya dari tubuh yang lelah. Tidur yang membuatnya tak ingin bangun lagi. Yoongi sedang terkapar di ujung alam bawah sadarnya, tapi ia tetap merasakan beban yang takkan pernah ia maafkan.
"Ngg… tidak mau. Jangan ganggu aku."
Jangan ganggu aku. Kumohon. Aku tidak ingin bangun. Biarkan aku sendiri.
Jimin menghela napas pendek karena penolakan Yoongi yang sedang tenggelam dalam tidur manis. Ia pun bangun karena harus berangkat kerja. Ia sarapan, ganti baju, dan membaca empat Koran yang datang pagi itu, tapi istrinya masih tetap tidur. Akhirnya, niat Jimin untuk meminta maaf atas kejadian kemarin malam, dan niat untuk menanyakan apa istrinya kesakitan, menjadi sia-sia. Walaupun begitu, ia masih dapat melihat luka-luka Yoongi yang masih terlihat jelas. Luka yang dibuat oleh Jimin.
Haruskah kugigit lidahku sampai mati?
Jimin buru-buru keluar dari kamar seakan ingin lari dari perasaan bersalah dan kejam yang telah memakan semua energi di pagi harinya. Ia mendengar suara mimpi buruk istrinya dari sela-sela pintu yang tertutup.
"Kumohon, jangan ganggu aku. Kumohon… tinggalkan aku…"
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Kambek nih~ gabanyak omong deh. Ini nyolong wifi sekolah yang super lemot TT
.
.
THANKS FOR READING
REVIEW PLEASE?
GOMAWO YANG UDAH REVIEW. MAAF GABISA DI BALES DISINI ATAU PAKE MESSAGE. SOALNYA AJHUMMA ON CMA SHARE FF AJA TT
