After The Weeding
Novel Remake, karya Kim Ji-Oh
Min Yoongi
X
Park Jimin
MINYOON/MINGA/YOONMIN FANFICTION
RATED BERUBAH – UBAH SEWAKTU – WAKTU!
IF YOU DON'T LIKE. DON'T READ IT !
IF YOU WANT COPAS, WITH AUTHOR NAME JUSEYO
Genderswitch for Min Yoongi and other characters!
Happy reading~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
After the Wedding
Chapter 7
Suatu Sore Milik Mereka
Lepas dari keseharian yang monoton tidak membutuhkan usaha yang besar. Sedikit perhatian dan ketulusan sudah lebih dari cukup.
.
.
.
"Nyonya, hari ini Anda harus ke Seong Bok-Dong. Pak Direktur berpesan agar Nyonya tidak melupakan janji itu."
"Suamimu menjual saham dan membeli gedung di daerah Gang Nam, ya? Walaupun wajahnya begitu, uangnya banyak, ya."
"Benar. Ia rajin mengumpulkan uang sejak masih muda. Nanti lubang penghasilan uangnya akan bertambah besar. Eh, anakmu sudah diterima di TK Riri, ya? Enaknya."
"Ya ampun. Tidak usah bilang-bilang, dong. Aku kan sudah menunggu sejak anakku baru delapan bulan. Mungkin aku sedang beruntung karena hanya perlu menunggu setahun. Kau juga harus memesan tempat cepat-cepat. Jangan diam saja dan panik sendiri."
"Harus begitu, ya? Sebenarnya aku sudah memesan tempat di TK Seong Shin. Salah satu keluargaku bisa menyediakan tempat di sana. Tapi, sepertinya aku juga harus memesan tempat di TK Riri. Akhir-akhir ini semuanya pergi ke sana."
"Nyonya, hari ini Anda harus ke Seong Bok-Dong… jangan lupa…"
"Benar, kan? Akhir-akhir ini semuanya ke Riri. Guru di sana lumayan, fasilitasnya juga lebih bagus. Kepala sekolahnya lulusan perkembangan anak di Chicago."
"Kepala sekolah yang itu? Bukan. Kepala sekolah itu hanya dipakai sebagai frontliner di sana. Katanya, kepala sekolah yang asli adalah istri kedua seorang pria yang bermain uang di Gang Nam. Orang-orang takkan datang kalau seorang istri kedua memimpin sebuah sekolah, jadi ia mempekerjakan orang lain sebagai frontliner."
"Benar? Pantas saja. Kalau begitu, kepopuleran Riri pasti tidak akan tahan lama."
"Benar, bodoh. Makanya, pesan tempat di sana-sini. Jadi, nanti kau tinggal pilih mana sekolah yang bagus untuk anakmu!"
"Ke Seong Bok-Dong... Pak Direktur… jangan lupa…"
"Ya ampun, hohohohohoho… benar juga. Terima kasih, ya. Informasi yang sangat berguna."
"Dasar, tidak perlu berterima kasih. Anak ini. Hohohohoho… ini gunanya teman. Kita harus saling menolong."
"…ke Seong Bok-Dong..."
"Kepalaku sakit."
"Kenapa, Yoongi? Kau sakit apa?"
"Kau tak bisa tidur lagi?"
"Tidak bisa tidur atau tidak mau tidur? Atau tidak ada yang menidurkanmu? Benar, kan?"
"Hihihi, benar?"
Yoongi sedang makan siang bersama teman-temannya yang biasa ditemuinya sekali atau dua kali seminggu. Tiga sampai empat orang temannya langsung menikah setelah lulus kuliah, sementara yang lain belum, sehingga mereka tidak bisa bertemu di siang hari karena harus bekerja. Kecuali Yoongi, mereka semua sudah memiliki satu atau dua orang anak, sehingga topik pembicaraan mereka selalu mengenai hal-hal yang sama.
Suami siapa yang menghasilkan uang paling banyak, TK atau kelompok bermain mana yang paling terkenal akhir-akhir ini. Mereka melanjutkan pembicaraan dengan menggunjingkan kejelekan orang lain jika sudah bosan dengan kedua topik yang selalu diulang-ulang itu. Yoongi, yang merasa tidak cocok dengan topik-topik pembicaraan tersebut, duduk diam dan hanya mendengarkan celotehan mereka bak sedang dikucilkan.
"Tidak, bukan seperti itu, kok. Kepalaku sakit karena tidurku tidak nyenyak."
"Kenapa tidurmu tidak nyenyak?"
"Hihihi. Suami yang melakukan itu sepanjang malam… enaknya!"
Bukan seperti itu, bukan seperti itu. Aku bilang bukan seperti itu.
Teman-temannya yang entah sedang memikirkan apa terhadap suami Yoongi terus menggoda Yoongi, membuat Yoongi teringat Jimin kemarin malam.
Suami yang selalu bersikap menakutkan di tempat tidur.
Teman-teman Yoongi berbagi senyum mencurigakan saat melihat Yoongi yang terdiam dan tenggelam dalam dunianya sendiri. Tiba-tiba Yoongi mengangkat kepalanya dan melihat ke sekitar. Tertulis kata 'sudah terlambat, kawan' di wajah teman-temannya. Duduk bersama mereka semakin menjadi sulit bagi Yoongi.
"Ah, begini… hari ini aku harus ke rumah mertua. Aku duluan, ya. Maaf."
Yoongi merasa tidak nyaman mengatakan ini, walaupun bukan alasan belaka, melainkan kenyataan. Teman-teman Yoongi mulai berceloteh tenang mertua Yoongi.
"Mertua? Pantas! Kepalamu pasti sakit sekali."
"Ya ampun… mertua itu musuh. Memang ada masalah apa lagi hari ini? Pokoknya, kau pasti menderita, deh."
"Lho, kenapa? Mertua anak ini kan berpendidikan. Yoongi tidak akan tertimpa musibah seperti kita."
"Iya juga, sih. Ibu mertua Yoongi kan keren sekali. Benar-benar seperti seorang bangsawan."
"Ayah mertuanya juga baik sekali. Ia pasti terlihat seperti raja-raja Eropa kalau berkumis."
Yoongi, yang tidak membalas perkataan teman-temannya, akhirnya mengambil tasnya dan bangun dengan canggung dari kursinya. Ia lari dari tempat itu bak telah diusir dari sana. Di belakangnya, terdengar teman-temannya mulai menjelekkan mertua mereka masing-masing. Topik itu adalah hidangan pencuci mulut yang paling pas untuk ibu-ibu muda tersebut.
Walaupun begitu, mereka selalu menjelek-jelekkan mertua mereka pasti lebih bahagia dariku.
Kumohon, aku tidak boleh sampai terjatuh. Sakit kepala dahsyat menyerang Yoongi. Matanya berkunang-kunang, ia ingin muntah. Udara luar yang segar pasti membuatku lebih baik.
Tahan sedikit lagi. Sedikit lagi.
Usaha Yoongi membohongi dirinya sendiri langsung runtuh saat handphone-nya berdering di depan pintu masuk restoran, yang seakan menyuruh Yoongi untuk segera mengangkat panggilannya. Pasti… suaminya. Yoongi mengangkat handphone-nya sambil bersandar di pintu kaca restoran seakan ingin pingsan. Untunglah pintu utama restoran terbuka secara otomatis, membiarkan Yoongi menghirup udara segar sepuasnya ke dalam paru-parunya.
"Ha, halo?"
"Di mana?"
"Ah, aku akan segera ke Seong Bok-Dong. Segera."
"Aku tanya kau di mana?"
"Aku tidak lupa. Aku akan segera ke Seong Bok-Dong, sekarang."
"Iya, tapi kau di mana?"
"Cheong Dam-Dong. Tadi aku makan siang dengan teman-temanku. Aku tidak lupa, kok!"
Sebenarnya, aku sangat ingat sampai kepalaku serasa ditusuk-tusuk. Benar, benar.
"Cheong Dam-Dong? Kalau begitu, datang ke depan kantorku. Kita pergi bersama."
"Aku tidak lupa. Tidak lupa!"
"Hati-hati di jalan."
[Tuutt…]
Kau tidak percaya perkataanku? Jadi, kau pikir lebih baik kita pergi bersama? Aku benar-benar tidak lupa.
.o.
Jimin memarkir mobil di depan kantornya dan menunggu istrinya di sana. Ia tidak tega membiarkan Yoongi yang badannya sedang sakit naik ke kantornya yang terletak di lantai paling atas. Mobil Yoongi mulai tampak sepuluh menit kemudian.
Tiiin tiiin…
Suara klakson yang pendek dan rendah membuat Yoongi memperlambat laju mobilnya, sebelum akhirnya berhenti di samping mobil Jimin. Yoongi membuka jendela mobil sehingga Jimin dapat melihat wajahnya.
"Ke sini."
Yoongi memarkir mobilnya dengan tenang, lalu menghampiri Jimin. Jimin mengamati Yoongi dengan mata tajamnya untuk melihat apakah Yoongi sempoyongan atau tidak. Yoongi, yang tetap bercahaya walau berada di area parkir gedung pencakar langit yang kelam, berjalan ke arah Jimin. Kaki mulus Yoongi mengenakan two pieces Chanel berwarna hijau mint. Jimin sangat menyukai kaki Yoongi yang dapat membuat matanya terasa segar. Istri yang cantik.
"Hai?"
Aroma manis langsung memenuhi mobil saat Yoongi membuka pintunya. Yoongi tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya. Ia duduk di kursi depan sambil merapikan roknya.
"Pasang sabuk pengaman."
Yoongi berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan ketegangannya, tapi Jimin sudah terlanjur melihat tangan Yoongi yang gemetar. Sial. Padahal, ia tiba ke sini dengan selamat, tapi sekarang ia bahkan tidak bisa memasang sabuk pengaman karena gemetar. Yoongi berusaha memasang sabuk pengamannya beberapa kali, tapi sia-sia. Jimin menahan emosi, lalu memasangkan sabuk pengaman istrinya. Sekujur tubuh Yoongi menjadi kaku saat tangan Jimin menyentuhnya, membuatnya menahan napas. Konyol.
Senyum penuh kesinisan terbesit sesaat di bibir Jimin, tapi Jimin langsung membuang muka saat istrinya meliriknya diam-diam. Kesunyian yang canggung menyelimuti kedua orang itu untuk beberapa saat.
Jalan Gang Nam tetap penuh sesak dengan mobil walaupun sekarang masih hari Jumat siang. Terlalu sesak. Lama-kelamaan Jimin merasa muak melihat mobil-mobil yang berlalu-lalang di sekitarnya. Ia juga makin merasakan keberadaan istrinya di sampingnya. Lebih baik aku pergi ke tempat sepi dan melajukan mobilku dengan kencang di sana. Bisakah aku melupakan keberadaan istriku jika aku menikmati kecepatan mobil?
"Jimin, mau ke mana?"
"Ke Misari saja."
Jimin berputar arah dengan tiba-tiba. Yoongi hanya bisa memandangi suaminya dengan perasaan setengah lega dan setengah bingung. Kenapa tiba-tiba mau ke Misari…?
Jalanan ke arah sebaliknya masih dipenuhi dengan mobil, tapi lampu merah tidak menyala terlalu lama, sehingga tanpa terasa mereka telah memasuki daerah stadion Olympic. Jarum speedometer makin tak terkendali dan terus menuju ke arah kanan, tapi Jimin tetap tidak bisa mengabaikan keberadaan istrinya. Istri yang duduk di sampingnya bak bayangan. Aroma manis yang mengalir dari tubuh Yoongi juga membuat Jimin gila.
"Aku… tidak lupa kalau hari ini aku harus ke Seong Bok-Dong. Aku pasti pergi ke sana walau kau tidak mengantarku. Benar."
"Oke."
"Tanya saja ke teman-temanku. Aku bilang pada mereka bahwa aku harus ke rumah mertua, jadi aku harus pulang lebih dulu. Saat itu kau meneleponku. Benar."
Percayalah, Jimin.
"Iya."
Semakin Yoongi menjelaskan semuanya, Jimin merasa Yoongi semakin terlihat menyedihkan. Jimin lebih memilih Yoongi mengguncang-guncangkan bahunya dan bertanya kenapa ia hanya menjawab oke dan iya seakan sudah mengerti segalanya.
Tak lama kemudian, mereka tiba di tempat tujuan Jimin. Tempat itu ternyata daerah pinggiran sungai yang, jangankan jalanan beraspal, jalanan tanah pun sudah tidak terlihat di sana. Tempat hangat yang dipenuhi pohon-pohon besar, rumput-rumput tinggi yang tumbuh di mana-mana, serta suara air dan burung. Damai, tenang.
"Kau tidak apa-apa? Semalam…"
Jimin akhirnya menanyakan hal yang telah dipikirkannya seharian saat Yoongi sedang terisap oleh pemandangan di sekitar mereka. Yoongi mengedip-ngedipkan matanya dan menoleh.
"Aku kesulitan menghadapi mertua. Sulit, melelahkan dan menyakitkan… tapi aku tidak pernah menolak melakukan hal yang harus kulakukan. Kupikir kau tahu tentang itu," kata Yoongi.
"Aku tidak sedang membicarakan itu."
"Maaf."
Bahu istrinya yang masih juga membelakanginya menjadi lemas untuk sesaat. Aku sudah meminta maaf, seharusnya aku merasa lega. Tapi aku tidak merasa lega sama sekali. Jimin sendiri tahu jawabannya: karena ia akan tetap melakukan hal itu lagi walau ia bisa memutar waktu kembali ke malam tadi. Tidak, aku mungkin akan melakukan lebih.
Benar, aku orang seperti ini. Aku hanya akan berbuat seperti itu padamu. Karena aku tidak punya pilihan lain. Maaf, Yoongi.
"Aku… ke tepi sungai sebentar, ya."
"Oke."
Yoongi terlihat seperti model yang keluar dari majalah fashion saat berjalan menerobos rerumputan tinggi menuju tepi sungai. Yoongi selalu bersinar cerah. Yoongi yang memberikan kesan asing saat berada di tempat yang terlihat seperti peternakan dan sangat sunyi ini. Yoongi selalu terlihat manis.
Sepatu hak tingginya terus terbenam di tanah. Ia menjerit kecil dan tertawa sendirian sambil terus berjalan ke tepi sungai. Jimin berpikir untuk lebih sering berjalan-jalan ke daerah pinggiran sungai seperti ini. Ia sangat senang mendengar suara tawa istrinya.
"Maaf."
Jimin tidak tahu kenapa ia meminta maaf. Namun, Yoongi merasa lebih lega saat menerima permintaan maaf tersebut, karena Jimin hanya meminta maaf saat benar-benar merasa bersalah. Entah alasan apa yang membuatku meminta maaf, entah karena masalah apa, yang penting permintaan maafku sudah cukup.
Mari lupakan sejenak semua permasalahan rumit dan habiskanlah sore di tempat yang damai ini. Benar, nikmati saat ini, air jernih, suara angin, bau rumput segar, cahaya matahari yang menyilaukan… mari nikmati itu semua dan lupakan semuanya sejenak. Benar.
Sebenarnya, tidak ada alasan khusus yang menyebabkan kedinginan menyelimuti mereka berdua. Semua hanya disebabkan oleh terhentinya percakapan hangat di antara mereka, yang entah dimulai sejak kapan. Ketulusan cinta yang selalu mereka tunjukkan saat masih berpacaran pun menjadi jarang terlihat. Mereka berdua sangat menderita. Dua orang yang semakin menjauh tanpa alasan khusus. Walaupun begitu, gairah mereka tidak pernah berubah. Namun, gairah merupakan ikatan yang terlalu lemah, sehingga mereka hanya bisa saling menatap sambil bertanya-tanya sendiri kapan ikatan itu terputus.
Jika kami bertengkar hebat…
Namun, pertengkaran membutuhkan alasan yang kuat.
Mereka berdua selalu begitu. Walaupun memutuskan untuk menikah setelah masa pacaran yang singkat, mereka tidak pernah bertengkar hebat, karena Yoongi tidak menyukai konflik, dan Jimin sendiri tidak suka hal-hal yang merepotkan. Kalau begitu, siapa yang akan lebih dulu memulai pertengkaran? Mereka 'lagi-lagi'— selalu begitu sejak awal.
Mungkin pertengkaran mereka terjadi saat Jimin mengajak Yoongi mengunjungi keluarga kandungnya yang tinggal di Geo Je-Do. Benar, mereka bertengkar untuk pertama kalinya hari itu. Benar. Padahal, mereka sangat senang saat berangkat ke sana.
Flashback Start
"Kau lelah? Sabar sedikit lagi, ya. Sebentar lagi sampai, kok."
"Iya, omong-omong, Jimin. Tentang Geo Je-Do. Kata orang-orang, laut di sana jernih sekali. Benar begitu? Memang lautnya sebiru itu? Secantik itu?"
"Hmph."
"Kenapa kau tertawa, Jimin? Lautnya cantik tidak?"
"Cerewet! Kalau kau ingin tahu secantik apa laut di sana, kau cukup bertanya satu kali kepadaku atau langsung saja pergi ke sana, tapi kau terus-terusan bertanya padaku! Dasar!"
"Apa, sih! Aku kan bertanya pantainya jernih atau tidak, biru atau tidak, cantik atau tidak! Pertanyaanku berbeda!"
"Ya, sudahlah."
Bagi Yoongi, seorang mahasiswi fakultas kesenian, pertanyaannya terdiri dari tiga pertanyaan yang berbeda, sedangkan bagi Jimin, pertanyaan tersebut adalah pertanyaan-pertanyaan yang sangat mengganggu dari seseorang yang cerewet. Dua orang yang sangat berbeda. Namun, saat itu rasa percaya mereka sedang semakin membesar, sehingga mereka tidak menyadari perbedaan tersebut.
Setelah melewati jalan tol dan jalan raya, mereka harus naik kapal laut selama beberapa jam untuk menemui keluarga kandung Jimin. Jimin selalu bersikap dan terlihat seperti bangsawan, sehingga Yoongi mengira akan melihat rumah vila model peternakan di Geo Je-Do.
Namun, yang terpapar di depan mata Yoongi adalah 'rumah mertua' yang ditinggali orang-orang tua kampungan yang bodoh. Belasan orang duduk berkumpul di bale-bale depan rumah tanah yang hampir ambruk— ternyata tempat seperti ini masih ada di muka bumi!— untuk menyambut Yoongi. Tentu saja mereka terlihat baik dan memperlakukan Yoongi dengan tulus.
Namun, bagi Yoongi yang sangat kebingungan, mereka hanyalah orang-orang dengan rambut acak-acakan, memiliki gaya berpakaian kampungan, dan mengeluarkan bau daging dari sekujur tubuh mereka. Yoongi yang duduk dengan canggung di tengah-tengah mereka terlihat seperti bidadari. Bidadari yang ingin terbang ke tempat yang sangat jauh. Itulah yang ada di pikiran Yoongi saat itu, bahkan Jimin pun dapat melihatnya.
"Kakak ipar, aku ingin mengajak Yoongi jalan-jalan sebentar, ya. Aku ingin menunjukkan pemandangan desa ini… tadi Yoongi juga bilang ingin melihat laut."
"Dasar bocah. Kau paksa bidadari ini ke sini. Pasti nggak suka. Pergi sana."
Yoongi hampir mengucapkan terima kasih dengan suara lantang karena mendapat kesempatan untuk terbebas dari keluarga Jimin yang berbicara dengan bahasa dan logat yang sangat sulit dimengerti. Namun, Yoongi masih bersikap aneh saat sudah meninggalkan rumah itu. Ia mengikuti Jimin yang terlihat sangat mahir berjalan di jalan berlumpur. Rasa bingung membuat Yoongi marah, membuatnya tidak menyadari kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Uwaaah! Cara orang-orang itu berbicara seperti sedang mengajak berkelahi, ya. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang mereka ucapkan, mereka tidak pernah selesai berbicara. Pokoknya, mereka itu…"
"Cukup!"
Jimin berhenti tiba-tiba dan berteriak, teriakan yang bahkan dapat menghilangkan semua semangat di sore hari. Yoongi juga ingin berteriak, tapi akhirnya ia hanya dapat memandangi wajah muram Jimin yang terlihat sangat pucat. Melihat orang yang selalu menyukai ketenangan tiba-tiba mengeluarkan emosinya dengan kasar, merupakan hal yang menakutkan dan terasa… asing.
"Kau bilang orang-orang itu, orang-orang itu! Hari ini kau kenapa, sih? Kau mau pamer bahwa kau orang Seoul? Mereka diam saja karena mereka orang-orang yang sangat sederhana. Kau pikir mereka diam saja karena mereka bodoh? Hah? Mereka itu orang tua! Mereka calon keluargamu!"
"Memangnya aku kenapa? Lalu kenapa kau tiba-tiba berteriak? Kau pikir aku tahu kalau ternyata kau ingin membawaku ke tempat seperti ini! Kau benar-benar jahat! Aku takkan sebingung ini kalau setidaknya kau bercerita sedikit kepadaku sebelumnya!"
Kesalahan selalu dilakukan oleh kedua belah pihak! Yoongi merasa disalahkan secara sepihak sehingga ia marah kepada Jimin. Yoongi berlari kencang meninggalkan Jimin.
Pertemuan dengan keluarga mertua tanpa perisapan apa pun. Amarah Yoongi langsung memuncak jika mengingat hal itu. Semua takkan menjadi sekacau ini kalau Jimin memperingatkannya lebih dulu. Padahal, Jimin memiliki banyak kesempatan untuk bercerita kepada Yoongi selama dalam perjalanan dari Seoul ke Geo Je-Do, tapi Jimin malah tidak memedulikan Yoongi dan mendorongnya ke lubang ini!
"Tempat seperti ini? Memangnya ini tempat seperti apa! Hah?"
Jimin mengayunkan kedua tangannya dengan kasar dan berbalik ke arah Yoongi. Suara Jimin seakan telah menelan semua pemandangan indah di sekitarnya. dalam kegelapan, Yoongi hanya dapat melihat siluet besar tunangannya. Jimin semakin menakutkan. Aku membenci diriku yang berpikir seperti ini.
"Kau bertanya seperti itu karena benar-benar tidak tahu…?"
"…"
Entah Jimin yang memeluk Yoongi lebih dulu atau Yoongi yang menangis terlalu keras sampai jatuh ke pelukan Jimin. Ingatan akan kejadian itu sangat samar-samar. Namun, yang paling pasti adalah semuanya akan menjadi lebih baik— seandainya — mereka bertengkar lebih hebat lagi sampai Yoongi memutuskan untuk kembali ke Seoul dan akhirnya hubungan mereka pun berakhir. Harusnya seperti itu. Namun, semuanya sudah berakhir. Ini konyol, tapi…
"Tatap aku, Yoongi. Ini kampung halamanku. Rumah yang tadi, adalah rumah kelahiranku. Aku tinggal di sini sampai berusia tujuh tahun. Aku tahu semua akan lebih baik jika kau bercerita lebih dulu, tapi mulutku tidak kunjung terbuka. Kau mengerti maksudku, kan?"
"Tidak. Aku tidak mengerti, Jimin."
Sebenarnya Yoongi mengerti betapa kerasnya usaha Jimin untuk menceritakan hal itu kepadanya sekarang, tapi kepala Yoongi sangat sakit dan pikirannya sedang tidak fokus karena terlalu lama menangis, sehingga ia tidak bisa berkata jujur. Yoongi hanya bisa menahan tangis dan terus-menerus berkata tidak mengerti.
"Baiklah. Lebih baik kita bicarakan ini lagi nanti."
Namun, Jimin justru tidak pernah mencoba membicarakan apa-apa lagi kepada Yoongi. Walaupun Jimin tidak mengatakan apa-apa lagi kepada Yoongi, Yoongi beberapa kali mendapat kesempatan untuk mendengar cerita tersebut. Mulai dari mulut besar pekerja di rumah mertuanya, sampai bisikan-bisikan kejam yang Yoongi dengar di reuni sekolah Jimin.
Yang ingin Jimin katakan pada hari itu adalah kenyataan bahwa Jimin diadopsi saat berumur tujuh tahun.
End of Flashback
.
.
.
.
.
TBC
I'm back~ ga coment deh hehe. Sangat sibuk ^^
.
.
THANKS FOR READING
REVIEW PLEASE?
GOMAWO YANG UDAH REVIEW. MAAF GABISA DI BALES DISINI ATAU PAKE MESSAGE. SOALNYA AJHUMMA ON CMA SHARE FF AJA TT
