After The Weeding
Novel Remake, karya Kim Ji-Oh
Min Yoongi
X
Park Jimin
MINYOON/MINGA/YOONMIN FANFICTION
RATED BERUBAH – UBAH SEWAKTU – WAKTU!
IF YOU DON'T LIKE. DON'T READ IT !
IF YOU WANT COPAS, WITH AUTHOR NAME JUSEYO
Genderswitch for Min Yoongi and other characters!
Happy reading~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
After the Wedding
Chapter 8
Tidur Siang di Tengah Hujan
Seberapa banyak pasangan suami istri yang dapat berbincang-bincang dengan benar? Berapa menit dalam sehari yang mereka habiskan untuk saling menatap dan berbagi cerita? Perbincangan yang menyadarkan bahwa rambut di bagian tengah kepala suami sudah mulai menipis dan keriput di ekor mata istri mulai mendalam. Berapa banyak pasangan yang tiba-tiba tersadar akan hal ini?
.
.
.
"… Iya, jangan tunggu kami hari ini. Tidak. Ibu, bukan karena Yoongi tidak mau pergi, kok. Bahkan, ia tidak tahu aku sedang menelepon Ibu sekarang… tidak, tidak usah menelepon. Ia sedang bersamaku… Ibu! Kalau Ibu terus begini! … Iya, maaf karena aku berteriak. Pokoknya, hari ini kami akan pulang ke rumah… iya, sampai jumpa."
Jimin harus mengatakan hal yang tak pernah ia ingin katakan kepada ibunya demi istrinya yang terlihat bahagia. Jimin meninggikan suaranya, bahkan berteriak. Walaupun begitu, ia ingin mendengar suara tawa istrinya lagi dan ingin merasa semuanya menjadi spesial seperti sore ini, sampai ia rela menyakiti ibunya.
Perasaan Jimin bercampur aduk. Suasana hatinya membuat Jimin berharap ia adalah seorang perokok.
Ia tidak merokok dan minum alkohol berkat ajaran ibunya. Ibunya mengatakan hal-hal seperti itu tidak berguna. Sebenarnya, Jimin ingin mencobanya, tapi ia tidak mau mendengar omelan ibunya yang selalu terngiang-ngiang di telinganya, jadi ia tidak pernah mencoba minum dan merokok. Kalau dipikir-pikir, ini semua berkat ibunya. Tapi, terkadang Jimin iri melihat seorang perokok yang sedang menghembuskan asap penuh nikotin. Tepat seperti saat ini.
Jimin membuka pemutar CD di mobilnya dengan malas-malasan. Mahler, lagu yang sering ia dengarkan. Namun, sore ini tidak cocok dengan simfoni milik Mahler yang berbau darah dan kemuraman. Jimin mulai mengutak-atik CD changer-nya. Turandot. Nessun Dorma..? ini juga tidak cocok. Setelah beberapa kali memilih lagu dan tidak puas dengan penilaiannya, akhirnya Jimin berhasil mendapatkan lagu yang menurutnya sesuai dengan Susana hari ini.
Shin Young Wook. Vocalist.
Biasanya, Jimin mengkritik bahwa warna vokal penyanyi wanita ini terlalu halus dan tidak bertenaga, tapi hari ini suara Shin Young Wook terdengar sangat lembut. Suaranya lentur seperti daun pohon willow mengingatkan Jimin akan sosok istrinya yang lembut dan menciptakan perasaan yang tidak biasa. Keseharian yang melelahkan semakin menjauh, yang ada hanya tawa istrinya yang terdengar seperti sebuah lagu. Jimin memandangi sosok istrinya yang berjalan tenang di pinggir sungai. Senyum istrinya. Istri yang ia cintai…
Dan Jimin terus memandangi Yoongi sampai ia tertidur …
.
.
.
Yoongi terkejut melihat awan hitam yang mulai mendekat. Jimin sedang tertidur diiringi melodi Aria yang lembut saat Yoongi kembali ke mobil. Jimin meletakkan lengannya di dahinya dan sama sekali tidak bereaksi saat Yoongi masuk mobil. Yoongi duduk di kursi depan, membersihkan lumpur yang menempel di sepatunya dengan tisu basah. Sementara Yoongi membersihkan sepatunya dengan cermat, Jimin masih tertidur tenang.
Yoongi menutup pintu mobil dengan hati-hati agar Jimin tidak terbangun. Terisolasi. Suasana di dalam mobil yang diiringi alunan Aria yang lembut dan menenangkan, sangat berbeda dengan dunia luar yang terlihat berantakan akibat hujan deras. Yoongi menurunkan sandaran kursi Jimin dengan hati-hati. Jimin terlihat sangat lelah. Yoongi menghela napas saat memandangi wajah suaminya yang sedang tidur.
Kita harus pergi ke Seong Bok-Dong.
Namun, entah mengapa Yoongi tidak tega membangunkan suaminya dan mengajaknya ke Seong Bok-Dong.
Kalau mereka terlambat sampai di sana, Ibu akan…
Yoongi menggeleng-gelengkan kepalanya sekuat tenaga untuk menghapus kata 'Seong Bok-Dong' yang dari tadi terus terngiang di telinganya.
Jangan pikirkan hal lain sore ini. Jangan takut karena nanti akan dimarahi karena aku telat. Benar.
Yoongi menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil yang dilapisi kulit yang sejuk. Ia menatap wajah suaminya penuh sayang. Kata 'tampan' merupakan hal yang selalu muncul di kepalanya jika ia memandangi… suaminya. Yoongi tidak pelit dalam memberikan pujian kepada suaminya waktu mereka masih berpacaran. Kalimat seperti alis hitam tebal, hidung lancip, tulang pipi tinggi, dan warna bibir yang mirip warna lipstik Lancome No. 229.
Pujian yang membuat teman-teman Yoongi iri. Bahkan, Yoongi masih tidak percaya bahwa pernikahannya dengan pria seperti itu sudah akan memasuki tahun ketiga. Hati Yoongi tidak pernah terbebas dari rasa khawatir selama menjalani bahtera rumah tangga dengan Jimin, tapi sebenarnya Yoongi tahu Jimin tidak pernah selingkuh selama ini, karena walaupun cinta mereka yang berkobar saat mereka masih berpacaran sudah memudar, gairah di antara mereka tidak pernah memudar.
Konyol. Kenapa bisa begini?
Yoongi pernah membuat patung marmer yang menyerupai wajah suaminya, sebuah karya seni mungil yang dipahat dengan penuh cinta. Yoongi memberikan patung tersebut kepada Jimin, tapi ia tidak tahu di mana Jimin menyimpannya. Yoongi tidak pernah melihat patung itu di ruang kerja Jimin maupun di mobilnya. Mungkin telah hilang.
Keheningan mengalir untuk sesaat setelah sebuah lagu selesai mengalun. Yoongi mengulurkan tangannya untuk melepas dasi Jimin karena dasi itu terlihat menyesakkan. Lagu Aria yang menyedihkan kembali mengalun.
"Hmm…"
Jimin terbangun dan terlihat kebingungan. Yoongi segera menarik tangannya, tapi Jimin menangkap tangan Yoongi dan tak kunjung melepaskannya.
Ah, alasan. Harus membuat alasan.
"Aku takut kau merasa tidak nyaman saat tidur, jadi aku melepas dasimu."
"Iya."
Yoongi mengartikan 'iya' yang keluar dari mulut Jimin sebagai tanda bahwa Jimin sudah cukup puas dengan penjelasannya. Namun, kenapa Jimin tidak kunjung melepas tangan Yoongi? Kenapa Jimin terus menggenggam tangan Yoongi dan menatap matanya? Padahal, hari ini Yoongi mengenakan cincin kawin mereka. Yoongi mengerahkan tenaganya dan mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Jimin. Namun, sia-sia.
"Diam sebentar."
"Kenapa? Lepaskan aku. Maaf karena telah membangunkanmu. Karena sekarang kau sudah bangun, lebih baik kita ke Seong Bok-Dong."
"Hari ini kita tidak perlu ke Seong Bok-Dong."
"Hah? Kenapa? Kapan kau menelepon Ibu?"
"Iya."
Iya, iya… dan iya lagi. Seharusnya ia mengatakan padaku apa yang terjadi. Biasanya, Jimin akan berbiara dengan dialek Kyun Sangdo yang membosankan jika ia melihat aku, istrinya sendiri, kesal setengah mati.
"Cerewet."
Kalau Yoongi digolongkan sebagai seorang cerewet, mungkin ia adalah orang cerewet yang paling pendiam di seluruh dunia. Yoongi selalu menelan kembali ribuan kalimat uang ingin diucapkannya, tapi bagi Jimin, Yoongi hanyalah orang cerewet. Aku merasa dituduh!
Yoongi tidak pernah sadar bahwa Jimin hanya ingin menggoda dirinya saat memanggilnya cerewet ketika mereka masih berpacaran. Akan tetapi, Yoongi sudah terlanjur kesal dengan tuduhan tidak beralasan itu. Bahkan, Yoongi tidak menyadarinya hingga saat ini, karena kemampuan berkomunikasi Jimin memang sangat buruk.
"Kapan kau masuk?"
"Sekitar tiga puluh menit yang lalu. Tadi mendung sekali, jadi aku masuk ke dalam mobil. Angin sangat kencang, awan hitam bergerak cepat… sepertinya hujan deras akan berlangsung lama."
"Iya."
"Kau tidak mau pulang?"
"Kau mau pulang?"
"…"
"Kita tidak perlu ke Seong Bok-Dong. Aku sudah menelepon Ibu saat kau di luar. Kau mau memandang hujan dulu sebelum pulang? Sepertinya hujan di sini sangat berbeda dengan hujan di tengah kota. Lalu, kita bisa makan malam di Seoul kalau kita pulang terlalu larut."
"Benar? Memandang hujan di sini lalu pulang ke rumah? Lalu makan di luar? … tapi Seong Bok-Dong."
"Tidak apa. Kalau kau memang khawatir, kita bisa pergi ke sana sekarang. Tapi… aku lebih memilih memandang hujan di sini."
"aku, aku juga! Aku mau melihat hujan. Kabut tebal sudah terlihat di tepi sungai. Pasti cantik, deh… a… ayo lihat."
"Iya."
Lagi-lagi hanya mengatakan 'iya'.
Yoongi hanya bisa memajukan bibirnya mendengar kata-kata pilihan suaminya yang membosankan. Yoongi pasti takkan memajukan bibirnya seperti itu jika ia tahu Jimin sedang memandangi wajahnya sejak tadi. Jimin mengusap bibir bawah Yoongi dengan jari panjangnya. Yoongi membelalakkan matanya karena terkejut. Jimin tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke wajah Yoongi. Ia geli melihat Yoongi yang selalu lebih dulu bertindak daripada berpikir.
"Kenapa? Kau kesal?"
Berbicara dengan nyaman bersama Jimin, saling berpandangan, berada dalam jarak sedekat ini sampai bisa merasakan hembusan napas Jimin, senyuman Jimin. Entah sudah berapa lama. Ketegangan Yoongi yang sebelumnya tidak pernah hilang, perlahan mencair. Orang ini, orang yang kucintai dan kunikahi. Orang ini. Entah sudah berapa lama.
"Kau harus mengatakannya padaku, Yoongi."
Suara rendah Jimin menyadarkan Yoongi dari pikirannya dan membawanya kembali ke kenyataan. Yoongi berusaha keras untuk mengumpulkan seluruh konsentrasinya.
Tidak, kau takkan tahu walau kukatakan. Tidak, kau takkan mengerti. Aku hanya akan terlihat bodoh pada akhirnya. Selalu begitu.
Yoongi memang kekanakan, selalu bersikap seperti anak berusia tujuh tahun. Semakin Jimin bertanya, semakin kesal wajah Yoongi. Namun, Jimin akan semakin senang menggoda Yoongi jika Yoongi terlihat memajukan bibirnya atau sedang kesal.
"Yoongi, kau tidak mau bicara?"
"Tidak ada yang ingin kubicarakan."
"Tapi sepertinya banyak yang ingin kau ungkapkan."
"Tidak."
Jimin terus bertanya kepada Yoongi, tapi ia sedikit ragu meneruskan interogasinya, karena ia tidak ingin menghancurkan sore yang spesial ini. Jimin telah memutuskan: ia menghela napas panjang, merapikan rambut Yoongi yang menempel di dahi, bangun sebentar, lalu duduk kembali di kursinya dengan tenang. Cantik…
Kilat melintas di langit dengan cepat. Yoongi merasa tegang, dan duduk semakin dalam di kursinya. Sebentar lagi pasti terdengar suara petir. Benar!
Bunyi petir itu sangat mirip lagu kemarahan Dewa Petir Kilat, yang diperdengarkan oleh penduduk pribumi saat keduanya menghabiskan bulan madu di Maladewa yang tergeletak di Samudra Hindia. Suara petir yang menggelegar bagaikan menyusup ke dada dan kepala Yoongi.
"Jimin, aku teringat bulan madu kita."
"Iya, aku juga."
"Pertunjukan drum… yang bagus tapi menakutkan."
"Boduberu."
"Benar, nama drum itu Boduberu!"
Flashback Start
"Permisi?"
Jimin memilih Maladewa sebagai lokasi bulan madu mereka. Sebenarnya, Jimin berencana untuk pergi ke sebuah vila pinggir pantai di Malibu, Los Angeles, dan ingin beristirahat di sana selama sekitar seminggu. Namun, Yoongi salah membaca antara Malibu dan Maladewa saat memesan tiket pesawat, sehingga mereka berdua harus pergi ke arah yang benar-benar berlawanan. Bahkan, peri yang pergi mencari surga tropis akan merasa bosan dan kelelahan karena jalan sulit yang harus ditempuh untuk tiba di Maladewa.
Mereka harus menghabiskan waktu selama empat jam di dalam pesawat dari Singapura, dan tiba di kepulauan Maladewa di tengah malam yang gelap. Mereka menunggu kebingungan di bandara internasional Maladewa, di sebuah ruang tunggu yang lebih cocok dikatakan sebagai ruangan di terminal bus kampung. Tidak ada sarana transportasi yang masih beroperasi di tengah malam, sehingga mereka tidak tahu bagaimana cara menuju tempat resort yang telah mereka pesan.
"Permisi? Apa Anda berdua Mister dan Mistress Park yang datang dari Korea?"
Terdengar seseorang yang berbahasa Inggris dengan logat yang sangat aneh. Ternyata dewa penyelamat mereka telah datang. Ia seorang Muslim berkulit gelap khas Asia Selatan dan memiliki mata bulat yang bersinar. Dewa penyelamat. Ternyata, dewa penyelamat itu adalah pemandu yang dikirim oleh resort yang telah mereka pesan. Berkat dewa penyelamat itu, Jimin dan Yoongi dapat naik kapal menuju Pulau Male dan beristirahat dengan cukup di sebuah hotel mewah.
Setelah matahari terbit keesokan harinya, Jimin dan Yoongi menikmati surga di hadapan mereka sepuasnya. Mereka naik helikopter selama tiga puluh menit dari Pulau Male menuju pulau yang memancarkan cahaya biru. Koral berwarna-warni terlihat dari permukaan laut keunguan, pasir putih membentang luas, resort mewah memancarkan suasana tropis yang eksotis. Bahkan keindahan surga yang sering muncul dalam mimpi mereka tidak dapat dibandingkan dengan keindahan tempat ini.
"Waah, tempat ini benar-benar surga untuk bermalas-malasan."
Udara terasa hangat dan air laut begitu menyegarkan, bahkan pasir di pulau itu juga penuh kehangatan. Busa hangat memenuhi Jacuzzi bungalow yang mereka tempati. Rasa kantuk langsung mengalir saat Yoongi melihat tempat itu. Ia ingin tidur nyenyak dan tidak ingin bangun lagi. Bagi orang seperti Yoongi, tempat ini adalah surga yang tidak ada tandingannya.
Sebenarnya, tidur bukanlah alasan utama yang mendorongku pergi mengelilingi setengah bumi untuk menuju tempat ini.
Kolam renang pribadi yang terletak tepat di depan kamar tidur mereka memantulkan cahaya langit kebiruan nan menyilaukan, membuat rasa kantuk Yoongi makan tak tertahankan dan membuatnya berbicara sendiri. Namun, Yoongi yang selama ini menganggap bahwa beristirahat adalah 'tidak melakukan apa-apa', tidak punya pilihan selain tidur.
Namun, sepertinya, arti kata beristirahat bagi Jimin sangat berbeda dengan Yoongi. Jimin berlari mengelilingi pulau dari pagi hingga malam. Ia juga selalu pergi ke pantai untuk menyelam.
"Jimin, kita kan ke sini untuk beristirahat. Kenapa kau malah sibuk sekali, sih?"
"Kalau tidak begitu, aku jadi tidak ada kerjaan."
"Waaah, kita kan punya hak untuk tidak melakukan apa-apa."
"Kau saja yang pakai hak itu. Aku jadi sakit kalau tidak mengerjakan apa-apa."
"Apa? Bulan madu macam apa ini? Mungkin hanya kita pasangan suami istri yang menghabiskan bulan madu secara terpisah."
Keduanya saling menggerutu, tapi sebenarnya mereka tidak keberatan sama sekali. Mereka adalah dua orang yang memiliki persepsi berbeda akan makna 'beristirahat', dan mereka merasa akan lebih baik jika menghabiskan waktu sendirian, daripada harus mengikuti cara pasangan mereka. Ah, tapi bukan berarti mereka tidak menghabiskan waktu bersama-sama sekali.
"Pulau tak berpenghuni?" tanya Yoongi.
"Iya. Sepertinya mereka akan mengantarkan kita menggunakan kapal di pagi hari dan menjemput kita malam harinya. Kita akan segera bosan kalau berada di pulau ini terus-terusan, mau coba ke sana?"
"Aku 100% setuju asal tidak kelaparan dan bisa tidur nyenyak!"
Pulau tak berpenghuni itu tidak jauh berbeda dengan pulau yang mereka tempati, hanya ukuran lebih kecil. Cahaya matahari yang sama, pasir putih yang sama, tapi hanya mereka berdua yang ada di pulau kecil itu. Apa yang dipikirkan pasangan pengantin baru yang lain saat mereka ke sini? Tidur siang? Menyelam? Jogging? Hihihi. Ada satu jawaban yang lebih masuk akal dan pasti disetujui oleh semua pasangan.
Di pulau tak berpenghuni itu, Yoongi dan Jimin menjalani bulan madu mereka semalaman.
.o.
Sesuai janji, tibalah perahu yang datang untuk menjemput mereka saat hari mulai gelap. Mereka kembali ke resort diiringi angin yang menyegarkan. Sesampainya di resort, meja makan malam yang indah telah menunggu mereka di depan bungalow yang mereka tinggali. Makanan laut yang baru ditangkap dari Samudra Hindia, berbagai macam buah yang bisa dibilang mewah di pulau ini, dan sayuran segar. Fajar yang mulai tenggelam dan lilin batok kelapa yang menyela terang diletakkan di sekeliling meja makan, seperti mimpi. Semua perempuan pasti hanya bisa mengeluarkan kekaguman dari mulutnya jika disambut makan malam seromantis ini.
"Seperti mimpi."
"Untunglah."
Ya ampun. Jimin masih saja mengungkapkan perasaannya hanya dengan satu kata. Namun, reaksi Jimin yang tidak peka tidak memengaruhi perasaan Yoongi saat itu.
Cahaya bulan, yang lebih terang dari cahaya bulan di kota mana pun, menyirami mereka berdua. Tidak lama kemudian, pertunjukkan kebudayaan tradisional Maladewa yang dipersembahkan khusus untuk keduanya pun dimulai. Pertunjukkan agung yang sudah ada sebelum Islam memasuki kehidupan masyarakat Maladewa.
Genderang yang sangat besar mulai masuk ke atas panggung. Para penduduk pribumi menarikan gerakan-gerakan primitif khas pulau itu dengan semangat, diiringi alunan musik misterius. Tanpa disadari, jantung mereka pun berdetak seirama dengan alunan musik yang misterius. Boduberu. Nama genderang raksasa itu adalah Boduberu.
End of Flashback
Present Time…
Waktu yang kosong itu diisi oleh kenangan-kenangan akan tarian liar, yang mirip petir di tempat terpencil ini. Keduanya tenggelam dalam kenangan masing-masing. Tempat impian mereka berdua, yang tersenyum sambil memandangi langit biru dan awan tebal. Akhirnya, mereka saling menatap, sambil mengingat sosok mereka yang bercahaya saat berada di pulau di tengah Samudra Hindia.
"Kilat dan petir sudah berhenti, tapi hujan… masih turun. Kupikir kilat, petir, dan hujan merupakan satu kesatuan, ternyata mereka terpisah. Benar, kan?"
"Hmph!"
"Jangan tertawa. Benar, aku adalah orang Seoul yang mengira bahwa beras keluar dari buah pohon padi. Jangan tertawa!"
"Po, Pohon padi? Hahaha…"
Jimin tertawa sendirian melihat pipi Yoongi yang memerah karena malu. Hujan bertambah deras, seakan menyambut suara tawa Jimin. Jimin kemudian menyalakan wiper mobil dengan kecepatan penuh. Lalu, Jimin dan Yoongi tiba-tiba saling bertatapan bak sedang terhipnotis.
Aria yang menyedihkan. Tetesan hujan yang turun dengan deras di atas atap mobil. Suara itu. Suara tetesan hujan memendam suara napas Jimin dan Yoongi. Kehangatan yang keluar dalam setiap hembusan napas mereka membuat kaca mobil berembun. Semuanya jadi terlihat putih. Sesuatu yang tidak dapat dihindari.
"Yoongi."
"Iya."
Jimin mengangkat Yoongi dan mendudukkannya di pangkuannya. Ketenangan suara Yoongi membuat Jimin sangat terpana. Kerutan baru muncul di tengah dahi Jimin. Tiba-tiba Yoongi mengecup kerutan itu.
"Jimin, waktu aku pertama kali melihatmu… alis ini, aku benar-benar menyukai alis ini. Waktu itu juga ada kerutan di sini. Aku ingin sekali menghaluskannya dengan seterika. Jangan cemberut seperti itu. Kau selalu meninggalkan kesan yang dalam pada orang lain, jadi orang-orang akan ketakutan mendekatimu jika kau memasang muka kencang seperti itu. Kau tahu? Aku merasa kau semakin menjauh dariku. Kita sudah hidup bersama selama tiga tahun, tapi kau masih terasa asing bagiku. Masih,,, bahkan bertambah… aku jadi sedih. Aku mengasihani diriku sendiri dan jadi membencimu. Mem… benci. Terus-terusan…"
Bukan ini yang kuharapkan. Aku tidak tahu Yoongi menyimpan perasaan seperti ini. Tanpa air mata, dengan ekspresi yang mengoyak-ngoyak hatiku, ia berkata seperti itu. Yoongi!
"Aku hanya seseorang yang cerewet, seseorang yang bodoh. Aku mengenal keluarga mertua dengan cara yang konyol. Aku hanya seorang pemaksa yang kekanakan. Bagaimana bisa kau bersabar untuk hidup bersamaku? Kau lelaki hebat. Kau masih muda, pintar, penghasilanmu juga sangat besar. Bahkan, wajahmu sangat tampan. Bagaimana bisa orang sehebat itu bersabar dan hidup bersamaku? Aku ingin tahu. Ingin tahu, sungguh…"
"…"
Karena cinta. Harusnya aku berkata padamu bahwa aku memilih untuk hidup bersamamu karena aku hanya mencintaimu seorang. Namun, akhirnya, Jimin tidak bisa mengatakan hal itu karena ada sesuatu yang membuat lidahnya kelu. Kenapa? Kenapa aku tidak bisa berkata apa-apa, Yoongi?
"Jangan begitu. Kau bilang ingin membunuh siapa? Menakutkan, jangan begitu."
"Kenapa? Kenapa? Kenapa diam saja. Katakan tidak! Kenapa! Kenapa!"
"Menakutkan. Jangan begitu. Jangan begitu, Jimin."
Suara yang Jimin pikir telah terlupakan kembali lagi ke kepalanya. Lalu, suara istrinya yang lemah terus terdengar di telinganya.
"Kenapa kau rela bersabar dan hidup bersamaku? Hah? Aku ini, aku… kau ingin tahu apakah aku masih mencintaimu? Aku, aku rela bersabar dan hidup bersamamu karena aku mencintaimu! Tapi, kau…? Kenapa kau rela bersabar dan hidup bersamaku? Kadang… aku berpikir cinta tidak bisa… bukan… pernikahan tidak bisa menyelesaikan… segala hal. Hari ini aku banyak bicara, ya? Maaf, Jimin. Sepertinya aku terbawa suasana. Maaf."
Dan aku mencintaimu.
Yoongi mengatakan ia mencintai Jimin, karena itulah ia rela bersabar dan hidup bersama Jimin. Yoongi juga berkata bahwa cinta bukanlah segalanya, bahkan Yoongi meminta maaf. Hati Jimin bagaikan akan meledak.
Rela bersabar dan hidup bersamaku?
Jimin tidak pernah mengira keberadaannya merupakan sesuatu yang begitu membebankan bagi Yoongi, hingga Yoongi harus rela bersabar untuk menahan segalanya. Kupikir ia hanya ketakutan dan sedih karena semuanya menjadi jauh lebih asing dibandingkan dengan dulu. Namun, ia bilang ia rela bersabar untuk hidup bersamaku?
Apa lagi yang tadi ia katakan? Cinta bukan segalanya?
Masalah apa yang menimpanya sampai ia seputus asa ini, hingga ia tidak bisa menceritakannya kepada suaminya sendiri? Padahal, aku sangat menyukai Yoongi yang cerewet. Selama ini Yoongi menganggap Jimin selalu meledek kecerewetannya, tapi sebenarnya Jimin selalu menikmati celotehan Yoongi. Dulu, Yoongi selalu mengutarakan apa pun yang ia pikirkan dan rasakan. Namun entah sejak kapan, mulut Yoongi mulai tertutup rapat. Sejak kapan?
Pertanyaan yang tak berujung. Pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Hujan yang turun di luar terlihat tidak biasa. Terlalu deras dan terlalu lama. Pertanyaan, pertanyaan.
Yoongi tertidur di pelukan Jimin setelah melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi PR bagi Jimin. Hari masih sore, tapi langit sudah sangat gelap. Jimin tidak tahu kepan hujan akan berhenti. Jimin tidak dapat melihat apa-apa dari kaca mobil yang berembun. Jantung Jimin berdetak seirama dengan napas Yoongi.
Sepertinya kemampuan lagu Shin Young Wook untuk menidurkan seseorang sangat bagus. Awalnya Jiminlah yang tertidur setelah mendengarkan lagunya, kali ini giliran Yoongi yang tertidur. Jimin juga mulai mengantuk. Tidur sebentar. Aku hanya perlu mengingat Yoongi berkata bahwa ia mencintaiku. Benar. Benar…
"Aku juga mencintaimu, Yoongi. Aku tidak bisa hidup tanpamu."
Pengakuan Jimin yang takkan pernah dapat di dengar oleh Yoongi hilang terisap oleh alunan Aria dan hujan yang turun dengan deras.
TBC
.
.
.
.
.
TBC
Back~ happy bhirtday to Min Yoongi a.k.a Suga ^^ maaf lama ga apdet hehe. Soalnya lagi ujian sekolah. Jadi di chapter ini saya panjangkan. Dannnnnnnnn akan nge post lagi sehabis ujian sekolah, sekitar 16 17 maret wkwk. Gomawo yang masih setia dengan ff ini
.
.
THANKS FOR READING
REVIEW PLEASE?
GOMAWO YANG UDAH REVIEW. MAAF GABISA DI BALES DISINI ATAU PAKE MESSAGE. SOALNYA AJHUMMA ON CMA SHARE FF AJA TT
