After The Weeding

Novel Remake, karya Kim Ji-Oh

Min Yoongi

X

Park Jimin

MINYOON/MINGA/YOONMIN FANFICTION

RATED BERUBAH – UBAH SEWAKTU – WAKTU!

IF YOU DON'T LIKE. DON'T READ IT !

IF YOU WANT COPAS, WITH AUTHOR NAME JUSEYO

Genderswitch for Min Yoongi and other characters!

Happy reading~

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

After the Wedding

Chapter 9

Tidur Siang di Tengah Hujan

.

.

.

.

.

Malam Berhujan

Mata, keingintahuan, keingintahuan… yang bisa melihat menembus sisi gelap dari sebuah kenyataan dan sebuah benda. Keingintahuan yang sudah menjadi kebiasaan membuat kita dapat melihat sisi baru dari sebuah keseharian

.

.

.

Tuk. Tuk. Tuk tuk.

Jimin langsung membuka matanya saat mendengar ketukan di jendela mobilnya. Ia melihat ke sekeliling dengan kebingungan untuk sesaat. Ah… tepi sungai, Aria, hujan deras, lalu istriku. Istri yang masih tertidur di pelukannya.

Tuk. Tuk tuk tuk.

Terdengar suara tidak sabar dari luar. Terlihat seseorang dari kaca jendela mobil yang berembun. Jimin sedikit membuka jendela mobilnya. Seorang paman tua yang memakai jas hujan dan topi terlihat sedang berdiri di tengah hujan yang masih turun dengan deras. Siapa dia?

"Ada apa?"

"Ada apa? Ya ampun, lihat orang yang sedang tidak sadarkan diri ini! Lihat, Anak Muda. Sekarang sudah jam berapa? Kenapa masih membawa mobil dan memarkirnya di sini? Sepertinya ini mobil Seoul, cepat pinggirkan mobilmu! Gawat kalau sungainya sampai meluap! Untung aku ke sini untuk melihat jaring ikanku. Kalau tidak, mobilmu bisa terseret air sungai yang meluap! Cepat pinggirkan mobilmu, cepat!"

Ya ampun, hampir saja terkena musibah.

Tidak lucu kan kalau di Koran esok hari menampilkan berita sepasang suami istri meninggal karena terseret air sungai yang meluap?

"Baiklah. Terima kasih."

Jimin sangat berterima kasih pada paman itu, tapi juga tidak suka melihat paman yang memandangi istri yang berada di pelukannya dengan penasaran, sehingga ia cepat-cepat menutup kembali jendela mobilnya. Jimin membaringkan istrinya di kursi sebelahnya dan menyelimutinya dengan jasnya. Ia pun mulai memundurkan mobil setelah merapikan bajunya.

Paman tua yang baik itu menunjukkan arah kepada Jimin dengan cahaya lenteranya. Mereka masih berada di jalan yang tidak terlihat seperti jalanan, tapi setidaknya mereka masih hidup. Mobil Jimin pasti sudah berantakan. Walaupun begitu, yang penting mereka selamat.

"Di mana rumah Anda? Saya akan mengantarkan Anda." Jimin menghentikan mobilnya di sebelah paman tua yang telah berjasa— bagaimanapun, paman itu adalah penyelamatku — dan menawarkan untuk mengantarnya.

Paman tua yang menghentikan langkahnya, berpikir sejenak, lalu mengatakan sesuatu yang mengejutkan. "Mungkin jembatan kanal yang terhubung dengan jalan raya menuju Seoul sudah sangat berbahaya sekarang. Daripada pergi ke sana dan membahayakan diri sendiri, lebih baik kalian tidur di rumahku, Anak Muda. Rumahku memang akan terlihat menyedihkan bagi orang sepertimu yang memiliki mobil sebagus ini, tapi rumahku adalah tempat yang paling bagus menghangatkan badan di hari seperti ini, karena aku masih memiliki sistem penghangat tradisional. Sepertinya kau juga mengajak istrimu ke sini. Rumahku si atas sana, rumah yang lampunya masih menyala itu, lho. Ikuti aku pelan-pelan, ya."

"Ah, terima kasih banyak. Kalau begitu, kami akan menginap sehari."

"Bagus, bagus. Ikuti aku."

Jimin mengikuti penyelamatnya yang masih dapat berjalan dengan cepat. Pada saat bersamaan, Jimin menelepon beberapa orang. Kantor, bibi yang bekerja di rumahnya, lalu Seong Bok-Dong. Jimin memberitahukan keberadaannya dan alasan ia berada di sana. Sepertinya hujan tidak turun sederas ini di Seoul. Semuanya sangat terkejut. Hujan regional.

Malam masih belum terlalu larut, tapi suasana di sekitar terasa seperti sudah tengah malam— mungkin bukan hanya karena hujan, melainkan juga karena langit di pedesaan lebih cepat gelap— saat mereka tiba di sebuah pinggiran daerah permukiman yang sangat kecil. Anak-anak paman itu telah meninggalkan rumah, sehingga hanya ia dan istrinya yang tinggal di sana hari ini.

Rumah paman itu— pasti ia hanya merendah waktu bilang rumahnya terlihat menyedihkan— bisa dikatakan sebagai hotel mewah jika dibandingkan dengan rumah keluarga kandung Jimin di Geo Je-Do. Kamar mandi yang terus-menerus dialiri air hangat, kamar hangat dan terlihat menyenangkan, istri paman yang tersenyum malu untuk menutupi rasa terkejutnya. Bahkan, anjing penjaga pun langsung keluar dari kandangnya yang kering dan nyaman saat melihat mobil dan orang asing yang datang.

Pemandangan yang sangat menakjubkan.

"Maaf karena saya datang tiba-tiba. Bibi, Paman telah menyelamatkan nyawa saya untuk menginap di sini. Saya mohon bantuannya."

"Ya ampun, ya ampun, bantuan apa, sih. Walau kau bersedia untuk menginap sehari, Bibi tidak bisa menyediakan apa-apa, lho. Jangan terlalu sopan. Bibi jadi merasa tidak enak. Cepat masuk ke dalam. Kau bisa kena flu kalau berlama-lama berada di tempat yang lembab."

Jimin memarkir mobilnya di sepetak ladang kosong, lalu menggendong Yoongi. Jimin menggendong Yoongi tanpa membangunkannya, berusaha membawanya ke ruang utama dan berusaha agar Yoongi tidak kehujanan, sehingga Jimin harus bergerak cepat tapi tetap lembut. Bibi rumah membantu Jimin melepas sepatu Yoongi.

"Ya ampun, cantik sekali. Istrimu? Kau pintar memilih istri. Setelah dilihat-lihat, kau juga terlihat sangat elegan. Masih belum punya anak, ya? Ya ampun, anak kalian pasti cantik. Kalian harus cepat-cepat punya anak. Ya ampun, lihat jari kakinya. Jari kakinya cantik dan panjang seperti jari tangan."

Bibi mengantar mereka ke sebuah kamar yang dilengkapi tempat tidur murahan dari besi sambil terus berbicara. Walaupun, terlihat murahan, tempat tidur itu dilengkapi selimut cantik yang bersih dan bermotif bunga. Jimin tidak perlu mengkhawatirkan udara dingin dari luar lagi karena udara hangat menyelimuti kamar ini.

"Anak lelakiku dan istrinya menggunakan kamar ini setiap mereka datang saat perayaan Myung Jeoul, tapi aku sudah membersihkannya hari ini, jadi kalian bisa menginap semalam di sini. Aku mengeset pemanas agar mengeluarkan uap hangat, jadi kalian tidak akan kepanasan. Kalian belum makan, kan? Cepat mandi dan makanlah. Bangunkan istrimu. Bibi masak nasi dulu, ya."

"Terima kasih banyak, Bibi."

"Ya ampun, ya ampun, tidak usah berkata begitu."

Tempat tidur besi itu mendecit dengan sangat keras saat Jimin merebahkan tubuh istrinya di atasnya. Begitu kerasnya sampai Yoongi terbangun dari tidurnya.

"Jimin, ini di mana…?"

Ekspresi Yoongi langsung mengeras saat mendengar penjelasan singkat Jimin, tapi akhirnya wajahnya melembut lagi.

"Kita hampir terkena masalah besar. Untunglah. Aku akan keluar untuk menolong Bibi, kau mandi duluan, ya. Aku juga akan meminjam baju ganti kepada mereka."

Jimin menggenggam tangan istrinya yang terlihat ingin buru-buru keluar kamar. Yoongi berbalik heran, dan Jimin menatapnya canggung. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat, tapi Jimin ingin menyelesaikan pembicaraan mereka, karena istrinya adalah orang yang sangat penting dan tidak perlu hidup dengan selalu mengkhawatirkan hal tidak penting itu.

"Yoongi."

"Ya?"

Jimin memeluk istrinya dan menciumnya sekilas. "Aku juga mencintaimu."

"Iya."

"Hanya kamu. Jadi, jangan bertanya lagi… bagaimana bisa aku bersabar untuk hidup denganmu."

"Iya."

Yoongi menjawab dengan setengah hati dan bergegas keluar ruangan.

Apa aku tidak menjawab PR yang ia berikan dengan benar? Jimin hanya bisa menghela napas panjang.

"Haah… Yoongi, apa yang harus kulakukan? Apa yang harus…"

Krieeet.

Tempat tidur terus berdecit, membuat Jimin khawatir Yoongi tidak dapat tidur nyenyak di tempat seperti ini. Jimin bangun dan melepaskan kasur di atasnya. Sepertinya masalah tidak terletak pada kasur itu. Jimin memeriksa setiap bagian tempat tidur dengan teliti.

Tak. Tak. Krieet…

Jimin menekan-nekan beberapa bagian dengan seluruh tenaganya, sampai akhirnya terdengarlah suara decitan tersebut. Sesuai perkiraannya, ternyata baut tempat tidur sudah kendur. Aku memerlukan obeng. Jimin teringat kotak perkakas di mobilnya.

.o.

"Eh, kenapa kau hujan-hujanan begitu? Harusnya kau pinjam payung padaku."

Saat kembali dari mobilnya untuk mengambil obeng, Jimin berpapasan dengan paman pemilik rumah yang memakai celana training kuning dan sedang duduk di lantai ruang utama sambil merokok. Sebenarnya Jimin ingin langsung kembali ke kamar, tapi ia merasa itu bukan tindakan yang sopan. Jimin pun membungkuk dengan santun dan duduk di samping paman itu. Hujan masih mengguyur halaman, sedangkan bau sup tho jang memenuhi seantero rumah.

"Hujan tidak turun sederas ini di Seoul."

"Kau sudah menghubungi orang rumah? Wajar, sih, hujan memang turun lebih deras di sini dibandingkan di tempat lain. Kita tidak bisa berpatokan dengan perkiraan cuaca. Orang sepertiku sih sudah terbiasa, tapi para pendatang tidak tahu apa-apa tentang ini dan langsung terisolasi di sini. Karena itu, aku selalu pergi keluar dan mengecek keadaan saat cuaca seperti ini untuk jaga-jaga."

"Aku ingin berterima kasih sekali lagi. Jika paman tidak ada, entah apa yang akan terjadi padaku dan istriku. Aku bahkan merinding walau hanya membayangkannya."

"Anak muda ini benar-benar sopan, ya. Walaupun begitu, tidak usah sesopan itu padaku. Setelah dilihat-lihat, sepertinya kau memiliki kedudukan yang tinggi di Seoul, walaupun orang kampung seperti kami tidak akan tahu pekerjaan seperti apa yang kau miliki, sih."

"Ah, tidak. Sepertinya Paman seumuran dengan ayah kandungku. Jadi…"

"Ayah kandungmu sudah meninggal?"

"Iya."

"Walaupun begitu, kau telah tumbuh menjadi anak yang sopan. Ia pasti sangat bahagia di surga. Pasti, pasti…"

Meski paman itu bilang bahwa ayah Jimin ada di surga, Jimin yakin ayahnya takkan pernah bisa menginjakkan kaki di sana. Namun, Jimin tidak berkomentar apa-apa, karena ia tidak ingin terkesan mempertanyakan kata-kata paman tersebut. Jimin tidak mau memberi tahu seorang paman— yang menganggap bahwa semua manusia memiliki hati yang baik dan hangat— bahwa orang jahat juga eksisi di dunia. Ekspresi Jimin berubah menjadi gelap. Ia hanya dapat menatap jejak air hujan di halaman tanpa berkata apa-apa.

.

.

.

"Lalala… Kim Jimin, Kim Jimin. Kakak ipar melahirkan anak lelaki yang dianggap keponakan. Lalalala… Kim Jimin, Kim Jimin. Kakak ipar melahirkan anak lelaki yang dianggap keponakan."

"Nggak, sudah kubilang nggak! Dasar, kuhabisi semua! Sialan! Keluar kalian! Bibi, bilang ke anak-anak bandel itu! Anak-anak nggak tahu diri! Kuhabisi semua. Bilang, Bi!"

"Jimin, kamu kenapa, sih? Pulang saja, yuk. Jangan begitu, dong. Masa mau menghabisi orang lain. Menakutkan. Jangan begitu."

"Kenapa, kenapa! Kenapa nggak bilang. Bilang sekali saja ke mereka. Kenapa! Kenapa!"

"Menakutkan. Jangan begitu. Jangan begitu, Jimin."

Menakutkan. Menakutkan, Jimin…

Jika bibinya mau menjelaskan, Jimin kecil tidak akan setrauma itu. Jika bibinya menjelaskan itu… namun, bibinya tidak pernah menjelaskan. Bibinya hanya berkata 'menakutkan', memasang wajah sedih dan berkata 'menakutkan'. Sama seperti Yoongi yang selalu berkata 'menakutkan'.

Bibi pasti memberikanku dengan mudah pada dua orang kaya yang datang dari Seoul, karena aku bukan anak kandungnya, melainkan hanya keponakannya. Tidak, ia mengirimku ke tempat yang jauh sampai tidak dapat melihatku karena aku anak kandungnya, bukan keponakannya. Benar.

Ketika duduk di kelas dua SMA, Jimin nyaris tidak dapat memberikan penghormatan terakhir saat bibinya meninggal. Jimin mendapat kabar itu dengan sangat mendadak. Ia pun bergegas kembali ke tempat kelahirannya, dan untunglah ia masih sempat memberikan penghormatan terakhir. Sebenarnya, Jimin tidak ingin datang, tapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Orang lain memandangnya dengan perasaan tidak enak. Jimin bertukar salam dengan saudara tirinya dan beberapa sepupunya dengan setengah hati, lalu langsung bergegas kembali ke Seoul.

Huuuh…

Dalam perjalanan kembali ke Seoul, Jimin menyempatkan diri untuk mendatangi makam seorang ayah yang paling tidak becus di dunia. Sampai sekarang, Jimin tidak mengerti kenapa saat itu ia mau mendatangi makam ayahnya. Ayah yang wajahnya tak dapat ia ingat, walau ia telah berusaha keras untuk mengeluarkan secercah kenangan…

Sepetak makam ayahnya berada di tanah milik orang lain. Makan tersebut tidak terlihat seperti makam lagi, hanya gundukan tanah penuh rumput yang sudah tumbuh selama belasan tahun, dan jejak kaki binatang liar. Hanya Jimin yang terkadang datang untuk meletakkan satu pak rokok dan segelas alkohol ke tanah dan menyalakan sebatang rokok untuk ayahnya… Jimin mencabuti rumput di makam ayahnya dengan tangan kosong.

Air mata mengalir dari matanya, air mata yang tidak diketahui penyebabnya, entah karena sedih atau marah. Jimin terus-menerus mencabuti rumput, tapi hamparan rumput di atas makam orang tidak becus itu tidak kunjung habis. Ia terus membohongi dirinya bahwa air yang terus mengalir di wajahnya bukanlah air mata, melainkan keringat, karena Jimin tidak punya air mata untuk orang mengerikan seperti itu.

Sial.

Bagaimana mungkin orang ini memerkosa dan menghamili kakak iparnya yang sudah menjanda?

Orang yang paling tidak becus sedunia. Surga? Hah! Tidak lucu.

Bibi… adalah kembang desa tercantik waktu masih muda. Namun, Bibi… bukan… Ibu dalam ingatan Jimin adalah perempuan desa yang memiliki mata penuh kepedihan… tidak kurang tidak lebih. Sosok yang berkata pada Jimin dengan wajah sedih bahwa Jimin 'menakutkan'.

Kulit wajah bibinya menghitam karena terlalu sering terkena sinar matahari, tapi entah mengapa hanya wajah putih pucat yang ada dalam ingatan Jimin. Mata besar yang dibingkai bulu mata panjang, serta hidung mungil tapi lancip. Bibir kering pecah-pecah, tapi akan terlihat sangat cantik saat tersenyum.

Wajah yang sudah lama dilupakan oleh Jimin. Wajah yang sengaja dilupakannya. Jimin mengira telah melupakan semua hal tentang bibinya, tapi ternyata ingatan Jimin masih sangat segar. Sial!

Dasar, setelah kupikr-pikir, istriku sangat mirip dengan Ibu. Wajah putih dan mungil. Mata besar yang langsung menarik perhatianku saat aku pertama kali melihatnya, alis tebal yang melengkung dengan halus, hidung lancip, dan senyum malu-malunya.

Benar-benar tidak dapat dibedakan. Apa karena itu? Karena darah yang mengalir dalam tubuhku bahkan memengaruhi cara memilih seorang perempuan? Karena aku darah daging ayahku?

Kotor. Badan dan hatiku kotor.

.

.

.

"Jimin, masih belum mandi? Kenapa malah di sini? Sup tho jang-nya enak, lho. Cepat mandi dan keluar. Kita harus makan bersama Paman dan Bibi. Jimin?"

"…"

"Kau kenapa? Ya ampun, kau menangis?"

"Huh. Siapa yang menangis! Aku terlalu serius memandangi hujan turun, mataku jadi sakit karena itu. Aku mandi dulu."

Semua sudah berlalu. Sekarang, Jimin bukanlah anak lelaki yang keluar dari perut kakak ipar ayahnya dan diperlakukan sebagai keponakan, melainkan orang yang telah mempelajari segala hal dan tidak takut akan apa pun. Ia anak dari seorang ayah yang baik dan penyayang, serta seorang ibu yang rasional dan berpendidikan. Ia Park Jimin. Benar.

.o.

Sepertinya menu makanan di desa mana pun selalu sama. Kimchi selada yang cukup matang, mentimun musim panas yang lembut, kacang-kacangan, ikan teri, sup tho jang, nasi putih, dan ikan bass mentah (sejenis ikan kembung yang dapat di temukan di sungai Han Gang bagian selatan) yang biasanya akan dikeluarkan saat tamu datang.

Paman pemilik rumah dan istrinya duduk berhadapan dan berbagi cerita tanpa henti. Mereka bilang, sudah lama mereka tidak makan masakan seenak ini. Suara hujan deras membuat seusana menjadi lebih hangat, sehingga mereka semakin menikmati makan malam yang penuh kebebasan ini. Yoongi, yang belum pernah makan ikan air tawar, memandang piring berisi ikan bass dengan penuh sangsi. Walaupun begitu, ia tetap mengambil sepotong dan mengolesinya dengan sambal pedas manis sebelum memasukkannya ke dalam mulut. Tiba-tiba Yoongi merasa mual.

"Uh, uugh…"

"Park Yoongi!"

"Ya ampun, ada apa ini? Ikan ini masih segar, aku baru saja menangkapnya di sungai. Mungkin kau harus melihat keadaannya."

"… Mungkin ada alasan lain kenapa ia muntah, suamiku."

"Haaah?"

Suami istri tua itu saling bertukar pandang, seakan mereka telah mendapatkan rezeki dari Tuhan, tanda mereka mengetahui sesuatu. Jimin hanya bisa bangun dan menyusul Yoongi ke kamar mandi. Ia tidak punya tenaga untuk mencoba mengerti maksud kedua orang tua itu.

"Yoongi."

"Uuugh… mungkin ini karena ikan air tawar. Terlalu amis. Uuugh…"

"Yoongi, masih mual? Iya?"

"Ah, sudah membaik, kok. Maaf, bagaimana ini?"

"Jangan khawatir. Sini."

Yoongi memencet tombol flush toilet yang terlihat menyedihkan, lalu keluar dari kamar mandi menuju pelukan suaminya. Jimin memeluknya dan membelai pundaknya. Yoongi menghela napas panjang, meresa lega.

"Aku tidak bisa makan lagi. Aku akan langsung ke kamar, jadi tolong sampaikan permintaan maafku kepada Paman dan Bibi, ya? Ya?"

"Iya."

Jimin meletakkan tangannya di belakang lutut Yoongi dan menggendongnya. Ia memandangi wajah pucat istrinya dengan penuh kekhawatiran. Ia ingin segera membawa istrinya pulang ke rumah.

"Kau mau pulang, Yoongi? Di sini tidak terlalu nyaman, ya? Mau pulang?"

"Tidak, aku akan membaik kalau sedikit beristirahat, kok. Lagipula, aku sudah tidak apa-apa. Aneh, ya? Sepertinya perutku mual karena ikan yang terlalu amis. Turunkan aku dan keluarlah, Jimin. Aku sudah tidak apa-apa, kok. Benar."

"…"

Jimin menurunkan Yoongi di tempat tidur. Kali ini, tempat tidur yang telah ia perbaiki tidak berdecit. Yoongi tersenyum tipis.

"Kenapa?"

"Tidak, tempat tidur ini. Hmph… coba pikir, deh. Kenapa kedua orang tua yang rajin itu tidak memperbaiki tempat tidur ini? Aku jadi agak curiga. Kamar ini hanya dipakai saat anak lelaki mereka dan istrinya datang, kan? Hihihi! Pasti mereka sangat khawatir karena harus tidur di atas tempat yang terus berdecit ini. Pasti kedua orang tua itu melakukan trik ini agar menantu mereka sedikit merasakan penderitaan, kan? Kau memperbaiki ini hanya dengan obeng, kan? Paman itu juga pasti bisa melakukan hal yang sama. Konyol, ya?"

"Mungkin aneh, sih."

"Benar, kan?"

"Iya."

Yoongi melihat tempat tidur ini dari perspektif yang bahkan tidak terbayangkan oleh Jimin. Yoongi dapat melihat konflik yang dialami anak lelaki dan menantu pasangan tua yang baik hati itu. Konflik. Konflik antara mertua dan menantu. Konflik yang terlihat di mata Yoongi dan Ibu Jimin.

Benar begitu? Akankah tempat tidur ini berdecit lagi saat kami pergi besok pagi?

.

.

.

.

.

TBC

Back... akhirnyaaaaa ajhumma sekarang sudah terbebas dari sekolah kyaaaaaaaaaa udah UN lega akhirnya~

Mungki ada beberapa pertanyaan ttg ff ini? Silahkan ditanyakan ya ^^

.

.

THANKS FOR READING

REVIEW PLEASE?