After The Weeding

Novel Remake, karya Kim Ji-Oh

Min Yoongi

X

Park Jimin

MINYOON/MINGA/YOONMIN FANFICTION

RATED BERUBAH – UBAH SEWAKTU – WAKTU!

IF YOU DON'T LIKE. DON'T READ IT !

IF YOU WANT COPAS, WITH AUTHOR NAME JUSEYO

Genderswitch for Min Yoongi and other characters!

Happy reading~

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

After the Wedding

Chapter 10

Senang Bertemu Denganmu, Nak

.

.

.

.

.

Sebuah kenyataan penting mengenai cinta yang sudah ada dari dulu, 'kita takkan dapat mencintai jika takut terluka'. Itu adalah pernyataan yang tepat. Itu bukan salah cinta, melainkan salah seseorang yang tidak menyadari bahwa dirinya adalah sosok yang sangat lemah.

.

.

.

Pagi cerah yang telah menjelang, begitu cerahnya hingga tidak akan ada yang percaya bahwa semalam turun hujan yang sangat deras. Cahaya matahari musim panas yang menyengat menyinari seluruh penjuru desa, membuat rerumputan terlihat makan hijau. Keadaan mobil Jimin tidak separah yang ia bayangkan. Ia malah sempat berpikir bahwa mungkin hujan telah membantunya membersihkan mobilnya. Jimin, memakai setelan yang telah disetrika oleh istrinya, sedang berada di luar untuk memeriksa mobilnya. Jimin tidak menyangka istrinya bisa menyetrika karena bibi yang bekerja di rumah merekalah yang mengerjakannya. Kemeja yang kemarin basah terkena air hujan sekarang sudah mengering dengan sempurna, celana panjang yang ia kenakan juga terlihat sangat rapi.

.o.

"Anak Muda, walaupun hujan sudah berhenti, genangan air ada di mana-mana. Kau harus hati-hati saat menyetir, ya. Walaupun mobilmu terlihat bersih, biasanya kondisi mobil-mobil baru tidak akan terlalu bagus jika kemasukan air. Kau harus segera ke car center kalau sudah sampai Seoul. Aku yakin kau lebih tahu akan hal ini."

"Iya, aku akan melakukan sesuai dengan nasihat Paman. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."

"Iya, lalu ada satu hal lagi, Anak Muda. Sekali-kali, ajak istrimu ke rumah sakit."

"Hah?"

"Kalau dilihat dari kejadian kemarin malam, sepertinya kau akan segera mendengar berita baik. Jangan menganggap orang tua ini hanya berbicara yang tidak-tidak, ajaklah ia ke rumah sakit. Harus, ya!"

"Ah, aku…"

"Hahaha, kaget, ya? Aku kan bukan dokter, untuk apa sekaget itu? Yang penting, kau harus ajak ia ke rumah sakit. Hohohoho…"

Yoongi hamil? Mungkin. Anak! Selama ini Jimin tidak pernah mempersalahkan keluarganya yang masih belum memiliki anak, tapi sekarang hatinya berbunga-bunga saat melihat mata penuh keyakinan paman tua itu.

Anak. Anakku. Anak yang dilahirkan Yoongi. Anak kami!

"Jimin."

"Yoongi, kau sudah siap?"

"Iya, ayo pulang. Jimin, kau masih sempat ke kantor, kok. Mudah-mudahan jalanan sudah mengering."

"Tidak usah mengkhawatirkan kantor. Aku sudah menelepon kantor kemarin. Tidak apa asal sore ini aku ke sana. Ayo beri salam sebelum pulang."

Jimin memandang istrinya yang tidak memakai riasan wajah sama sekali. Istrinya terlihat sangat cantik hari ini. Istrinya adalah perempuan yang selalu bersinar walaupun tidak sedang berada di tengah kota.

Mereka mengucapkan terima kasih kepada istri pemilik rumah yang sangat baik, dan kembali menuju Seoul. Seperti yang mereka khawatirkan, jalanan masih digenangi air hujan, membuat Jimin kesulitan menyetir. Untunglah ia masih dapat mengendalikan mobilnya dengan baik. Satu jam kemudian, mereka sudah keluar dari Misari melalui jalanan yang kosong melompong. Sungai Han Gang, yang dipenuhi air bercampur tanah merah semakin mendung saat mereka sudah mendekati Seoul. Namun, perasaan mereka tetap bahagia.

"Yoongi, kau mau ke rumah sakit?"

"Rumah sakit? Kenapa?"

"Sebaiknya kita langsung ke rumah sakit kalau sudah sampai Seoul."

"Kenapa tiba-tiba kau mau ke rumah sakit? Apa karena masalah kemarin? Aku sudah baik-baik saja, kok. Sepertinya bukan karena keracunan makanan, juga bukan karena salah pencernaan, kok. Kita lihat dulu perkembangan hari ini. Kalau memang kondisiku memburuk lagi, besok aku akan ke rumah sakit."

"Hari ini saja."

"?"

Yoongi agak heran karena Jimin tiba-tiba bersenandung. Hah? Bersenandung? Jimin bersenandung? Aku tidak tahu ia bisa bersenandung. Ia agak aneh sejak kemarin. Aku jadi tidak tenang. Tanganku gemetar lagi. Tidak tenang. Yoongi mencoba menyembunyikan tangannya yang gemetar dengan pura-pura memegang-megang cincin kawin yang ia kenakan. Memutarnya sekali, putar lagi, memutarnya ke arah berlawanan. Sekali lagi, dua kali…

Ini parah tidak, ya? Sepertinya aku harus ke rumah sakit karena masalah ini. Apa yang harus kukatakan pada dokter? Tanpa kusadari tanganku selalu gemetar kalau sedang berada di samping suamiku. Mungkin dokter malah akan menyuruhku ke bagian kejiwaan. Pasti ia akan memberikan obat antidepresi untukku. Setelah meminum obat itu, aku akan tertidur, tidur, dan tidur lagi. Kalau aku sampai ke bagian kejiwaan, Ibu akan… jangan pikirkan Ibu. Pasti Ibu akan menelepon hari ini. Apa yang harus kukatakan kalau Ibu bertanya kenapa aku tidak datang ke Seong Bok-Dong dan malah main ke tempat lain? Ia takkan percaya kalau aku menjawab dengan jujur. Menakutkan.

"!"

Dalam sesaat, ketakutan Yoongi berubah menjadi kenyataan. Handphone-nya yang diletakkan di dalam tas tangan berbunyi. Pasti Ibu. Yoongi mengaduk-aduk tasnya dengan tangan gemetar, sampai akhirnya berhasil menemukan handphone-nya.

"Halo."

"Yoongi? Ini Ibu. Kau di mana? Di rumahmu hanya ada pembantu."

"Apa kabar, Ibu? Sekarang aku sedang menuju Seoul bersama Jimin."

"Kau baru dari vila di Yong In?"

"Tidak, itu… dari sekitar Sungai Han Gang bagian selatan. Aku tidak tahu tepatnya di mana…"

Padahal, jelas-jelas suaminya telah menceritakan segalanya kepada ibunya, tapi ibunya pura-pura tidak tahu dan terdengar seperti ingin mencari-cari kesalahan Yoongi. Sebenarnya apa yang ingin ibu dengar?

"Ya sudah. Kau sedang bersama Jimin? Ibu akan meneleponmu lagi di rumah."

"Iya, Bu."

Ibu tidak pernah menyudutkan menantu perempuannya di hadapan anaknya; ia malah terlihat sangat penyayang. Namun, Ibu akan sangat berbeda jika hanya sedang berdua dengan Yoongi. Ia akan berubah menjadi sosok yang sangat menakutkan. Tak seorang pun tahu bahwa ibu Jimin telah membuat hati Yoongi berdarah.

"Siapa? Ibu? Kenapa tidak membiarkanku berbicara dengan Ibu?"

"Ibu bilang ia akan menelepon lagi dan memutuskan teleponnya."

Saat kau tak ada, saat aku sendirian, Ibu akan menelepon lagi.

.o.

Walaupun Yoongi berkata ia baik-baik saja, Jimin tetap memaksanya ke rumah sakit. Namun anehnya, Jimin mengajak Yoongi ke ruang konsultasi dokter kandungan yang beberapa bulan lalu didatangi Yoongi untuk memeriksa kesuburannya. Ini kan pencernaan, kenapa malah mengajakku ke dokter kandungan? Yoongi dibawa ke sebuah ruang khusus, dan ia harus melakukan tes urine dengan setengah hati di sana, juga harus menjalani tes ultrasound. Namun…

"Ya ampun, Direktur Park! Selamat, ya! Sudah berapa lama kau menunggu ini. Hahaha… sudah delapan minggu, lho. Sekarang Direktur Park bisa bernapas lega."

"Be, benarkah?"

"Hahahaha…. Kau sedang mempertanyakan surat praktek dokterku, ya? Ah, tentu saja benar. Kau pikir aku berbohong?"

"Ah… benar…"

"Dasar, kau kan sudah lama menunggu. Ini memang sudah waktunya. Pokoknya, selamat, ya!"

"Terima kasih."

"Terima kasih apanya! Aku akan memberi tahu beberapa hal yang harus kau perhatikan, jadi tunggu sebentar, ya."

"Iya, terima kasih."

Apa reaksi pria lain dalam situasi seperti ini? Jimin yang akhirnya menerima kabar kehamilan istrinya hanya bisa mengucapkan 'terima kasih' seperti orang bodoh. Walaupun dokter hanya melakukan beberapa tes sederhana, Jimin sangat berterima kasih karena dokter tersebut telah memberikan kabar yang tidak ada tandingannya. Benar-benar seperti orang bodoh. Namun, Jimin sangat bahagia.

Yoongi, dokter berkata kita akan segera punya anak. Anak kita. Benar. Benar.

"Akhir-akhir ini buku untuk calon Ibu dan Ayah banyak beredar, jadi mampirlah ke toko buku dan belilah satu."

Yoongi, yang duduk tepat di seberang dokter, membetulkan bajunya, sedangkan Jimin tidak melepaskan pandangannya sedetik pun dari Yoongi. Jimin memperhatikan setiap gerak-gerik Yoongi dengan seksama, sehingga Yoongi hanya bisa tersenyum tipis.

Jimin gemetar. Sebegitu bahagiakah ia? Sebegitu bahagiakah kau?

Kau tidak pernah membicarakan masalah anak sama sekali pun, sebegitu bahagiakah kau?

"Kau akan mulai merasa mual, jadi hati-hati memilih makanan. Kau harus memaksa makan makanan yang biasanya tidak kau makan, itu bagus untuk kesehatan mental di awal kehamilan. Makan, tidur, dan istirahat sengat penting, jadi sesuaikan diri dengan pola yang lebih teratur. Perdengarkan musik kepada bayimu sekali-kali, itu bagus untuk perkembangan otak."

"Lalu, karena ini anak pertama…"

Sesaat dokter menghentikan kalimatnya, memandang Yoongi dengan penuh perhatian, lalu bergegas memasang ekspresi profesional lagi dan melanjutkan kalimatnya.

"Karena ini anak pertama, ibu dan anak harus sangat berhati-hati, ya?"

Air mata Yoongi hampir saja tumpah. Dokter menyuruhku untuk berhati-hati. Haruskah aku berterima kasih? Atau haruskah aku marah dan berkata padanya agar tidak usah mencampuri urusan orang? Yoongi hanya bisa memandangi pinggiran meja yang terbuat dari kayu mahoni sambil mengangguk lemah. Ia menarik napas, dan akhirnya mengeluarkan isi hatinya dari tenggorokannya yang terasa kaku.

"Aku ingin pergi ke rumah keluargaku."

"Ah, itu juga bagus. Sulit mencari orang yang bisa menjagamu melebihi ibu kandungmu sendiri, lho"

Dokter menepukkan tangannya dengan keras tanda setuju, seakan telah menunggu Yoongi mengatakan itu. Jimin memandangi istrinya yang menundukkan kepala seperti seorang tersangka. Ia juga memandang dokter yang memperlihatkan reaksi berlebihan. Mereka telah membuat suasana hati Jimin memburuk. Orang yang paling tidak peka sekalipun bisa langsung melihat konspirasi yang dilakukan kedua orang ini. Namun, kali ini keselamatan istrinya yang terlihat menderita merupakan hal yang paling penting dibandingkan dengan apa pun.

"Aku ingin pergi ke rumah keluargaku."

Kalimat yang nyaris tidak terdengar dan diucapkan dengan suara penuh kesedihan. Sebenarnya, Yoongi tidak ingin pergi ke rumah keluarganya. Ia hanya ingin keluar dari rumah karena merasa tidak nyaman di sana. Apa begitu? Kenapa, kenapa? Yoongi…

Yoongi sedang hamil. Hamil delapan minggu. Jimin dan Yoongi meninggalkan rumah sakit setelah menerima ucapan selamat dan foto ultrasonik berukuran kecil dari dokter. Foto anak di dalam Rahim yang masih berukuran lebih kecil dari jari kelingking Jimin. Anak yang terlihat seperti kacang polong dalam foto hitam putih. Anak Jimin dan Yoongi yang bahkan belum terlihat seperti manusia. Anak yang masih seperti kacang polong itu akan terlahir sebagai anak yang rupawan seperti ibu dan ayahnya, jika ia tumbuh sehat selama sepuluh bulan di dalam Rahim. Lalu, Jimin pun akan menjadi ayah.

Senang bertemu denganmu, Nak. Ini Ayah. Ayah.

Jimin memeluk pinggang Yoongi saat mereka berjalan ke tempat parkir. Mereka berjalan berdua, tapi sebenarnya mereka adalah sebuah keluarga yang terdiri dari tiga orang. Jimin berjalan dengan langkah lebih pendek dari biasanya, menyamakan langkah dengan istrinya agar bisa terus menjaganya. Lambat sekali. Sejak kapan, ya? Sejak kapan aku mulai berjalan di depannya? Sepertinya dulu kami juga pernah melalui masa indah, di mana kami selalu jalan berdampingan sambil berpegangan tangan. Jimin menyelimuti tangan Yoongi yang dingin dan halus dengan tangannya. Tangan Jimin yang hangat menggenggam tangan Yoongi yang terasa asing.

Sudah lama aku melupakan perasaan ini.

"Sebaiknya kita mengabarkannya ke Seong Bok-Dong dan Banpho,"

"Nanti saja."

"Kenapa? Semuanya pasti senang kalau mendengar berita ini. Ini kan berita bagus…"

"Nanti saja!"

Firasat yang menghancurkan suasana hati. Yoongi mengeluarkan amarahnya, amarah dan kekesalan yang selalu ditujukan kepada Jimin. Setelah melihat reaksi keras istrinya, Jimin merasakan kembali firasat buruk yang sempat menghilang.

Apa… apa yang tengah ia sembunyikan? Kau, sebenarnya apa yang kau takuti?

Yoongi naik ke mobil setelah melepaskan genggaman Jimin. Lalu, Yoongi berkata dengan nada yang sangat tegas.

"Ke Banpho, sekarang."

"Sekarang? Sekarang kita istirahat di rumah dulu. Besok kita bisa ke sana setelah membereskan barang-barang."

"Tidak, aku akan pergi hari ini."

"Yoongi, jangan begitu."

"Kumohon, aku ingin pergi hari ini, aku tidak mau berdebat tentang ini lagi. Ya?"

"Iya."

Sunyi.

Suara bergetar suamiku. Suami yang tidak melepaskan tanganku di hadapan dokter. Mata yang bercahaya. Harapan adalah hal yang menakutkan. Kumohon, hatiku. Jangan bergetar. Jangan dibutakan oleh harapan. Nak, Nak.

Jangan buat aku berharap. Kau dan aku hanya akan menjadi sedih.

Walaupun begitu, sepertinya tak ada orang yang ingin mengabaikan harapan sekecil apa pun. Yoongi menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil memejamkan mata rapat-rapat, tapi ia tetap tidak bisa menghapus bayang-bayang di kepalanya. Sosok Jimin yang berterima kasih dengan suara gemetar; tidak dapat menutupi kebahagiaan dan kepuasannya. Ia terlihat sangat bahagia karena akan segera memiliki keturunan. Harapan Yoongi akan semakin besar jika terus teringat peristiwa itu. Harapan hangat yang akan hanya menjadi luka.

Kita harus melarikan diri, Nak. Ayo bersembunyi dengan Ibu. Ibu akan melarikan diri dari Ayah dan hidup bagai sudah mati baginya. Ibu akan bersembunyi dari ibu mertua, Ibu akan melahirkanmu dalam sepuluh bulan. Ah, tidak apa kan kalau Ibu menjadi serakah seperti ini? Ya? Anakku.

Jimin terus melirik Yoongi saat menyetir. Yoongi yang terlihat menderita. Yoongi yang bereaksi sangat aneh. Sangat tidak nyaman. Jimin menahan semua pertanyaan di ujung mulutnya, tapi pada akhirnya ia melontarkan sebuah pertanyaan dengan ekspresi seperti tidak terjadi apa-apa.

"Bagaimana kalau malam ini aku mengantarkan barang-barangmu ke rumah keluargamu?"

"Tidak, kau tidak perlu sampai berbuat begitu, kok. Aku punya banyak baju di Banpho. Lalu, barang-barang yang kuperlukan juga… tidak ada. Aku akan membeli buku dan kaset pendidikan prenatal dengan ibuku. Lagi pula, pasti ibu lebih mengerti hal seperti itu. Kau tidak perlu khawatir. Aku… akan mengurusnya dengan Ibu."

"Walaupun begitu, sudah sewajarnya aku mampir untuk memberi salam pada Ayah dan Ibu, kan? Bagaimana mungkin aku tidak peduli setelah meninggalkan istri yang sedang hamil di rumah keluarganya? Nanti aku akan mampir."

"Keluargaku tahu, kok, kalau kau sibuk. Tidak mampir juga tidak apa. Benar, tidak apa-apa, kok."

"Yoongi, kau… tidak. Kurasa sudah cukup."

Sebuah pertanyaan yang membuat mulut Jimin gatal. Tidak. Tidak… akan.

"…"

Sudah berapa waktu berlalu? Yoongi masih saja terlihat seperti hewan buruan yang berdiri di depan ujung senapan seorang pemburu. Ia bahkan tidak menutupi kegelisahannya dan hanya duduk bersedekap. Jimin seakan ingin berteriak dan bertanya kenapa Yoongi bersikap seperti itu. Atmosfer di dalam mobil yang tertutup sangat tidak nyaman. Jimin ingin sekali menghirup semua udara di dalam mobil agar ketidaknyamanan itu hilang dalam sekejap. Namun, Jimin hanya bisa melampiaskan perasaannya pada simpul dasinya yang tidak bersalah, karena Jimin tidak mau marah di depan istrinya yang sedang hamil.

Ia berpikir itu bukan perbuatan terpuji. Akhirnya, Jimin hanya bisa membuka jendela mobil dan menghirup udara segar.

"Apartemen di Banpho sangat sempit. Kau tidak apa di sana? Berapa lama, berapa lama… kau akan menginap di sana?"

"Sempit apanya. Aku hampir 20 tahun tinggal di sana. Rumahku luas, tidak sempit. Lalu… aku akan tinggal di sana sementara. Kau pasti akan merasa tidak nyaman. Kau mau ke Seong Bok-Dong dulu? Lebih baik begitu, kan?"

"Tidak, nanti aku malah kesulitan berangkat kerja kalau tinggal di Seong Bok-Dong. Lagi pula, aku harus tinggal di rumah agar bisa ke Banpho setiap hari. Aku di rumah saja."

"Ibumu pasti tidak akan tinggal diam. Pergilah ke Seong Bok-Dong sebelum Ibu bicara apa-apa. Ya?"

"Yoongi!"

Apakah pasangan suami istri lain juga berbincang-bincang seperti ini? Akan memiliki anak setelah tiga tahun menikah… bukankah pasangan lain akan berbagi cerita bahagia dalam situasi seperti ini? Istri yang ingin pergi ke rumah keluarganya karena merasa tidak nyaman di rumah. Istri yang mengatakan bahwa suaminya tidak perlu mampir ke rumah mertuanya. Istri yang mengatakan bahwa ia akan mempersiapkan semuanya sendiri. Istri yang lebih mementingkan mertuanya daripada suaminya yang perasaannya sedang terluka.

Apakah pasangan lain juga begini? Apakah yang lain begini, Yoongi?

"Kau tidak senang mendengar kabar kehamilanmu…?"

Akhirnya, pertanyaan itu keluar dari mulut Jimin. Pertanyaan yang ingin tertahan di ujung lidahnya.

Kau tidak bahagia mengandung anakku? Kau tidak suka dan merasa terbebani kalau anak kita lahir? Tidak, kan? Kau sama bahagianya denganku, kan? Iya, kan? Yoongi, cepatlah bertanya balik padaku. Cepat tanyakan mengapa aku masih bertanya apakah aku bahagia.

"… Tidak."

Tidak, aku takut, Jimin…. Ini menakutkan.

.

.

.

.

.

TBC

Ga ada author note bingung mau apa hahaha. Makasih ya udah baca dan keep review ^^

.

.

THANKS FOR READING

REVIEW PLEASE?