After The Weeding

Novel Remake, karya Kim Ji-Oh

Min Yoongi

X

Park Jimin

MINYOON/MINGA/YOONMIN FANFICTION

RATED BERUBAH – UBAH SEWAKTU – WAKTU!

IF YOU DON'T LIKE. DON'T READ IT !

IF YOU WANT COPAS, WITH AUTHOR NAME JUSEYO

Genderswitch for Min Yoongi and other characters!

Happy reading~

.

.

.

.

Hoho~ sebelumnya makasih baik sider maupun yg bukan sider ataupun yg msh setia baca ini, favorit following juga. Makasih banyak. Mungkin pada bingung yah sm konflik yg terjadi. Ikutin aja alur ini terus. Nanti kalian jg paham. Aku dulu pertama baca ini juga bingung wkwk. Tp karena penasaran jadinya yahh dibaca terus. BTW ajhumma ingatkan ini emg remake novel ya sayang ^^

.

.

.

.

.

.

After the Wedding

Chapter 11

Bubur Tiram dan Sup Lobak

.

.

.

.

.

Anak yang dipukuli akan memukuli anaknya juga. Anak yang disiram dengan cinta akan menjadi seseorang yang tahu bagaimana caranya mencintai.

.

.

.

Banpho. Rumah keluarga Yoongi. Apartemen desa sederhana yang sudah hampir 20 tahun ditinggali. Apartemen desa dengan pepohonan rindang dan taman bunga yang sekarang sudah tidak dapat di temui di kota-kota baru, dengan penduduk yang membentuk sebuah komunitas kecil yang sangat dekat. Namun di mata Jimin, mereka hanyalah sekelompok orang yang bersikap eksklusif. Sebaliknya, bagi Yoongi, ini adalah tempat yang sangat nyaman.

Apartemen keluarga Yoongi terletak di dekat sungai Han Gang. Bagi perusahaan Jimin, apartemen itu adalah apartemen tua yang harus dirobohkan dan dibangun kembali. Namun, bagi Yoongi tempat itu lebih nyaman dari rumah yang ia tinggali selama tiga tahun dengan Jimin.

"Aku masuk sendiri. Kau langsung ke kantor saja. Kau ada janji penting siang ini, kan."

"Tidak ada."

"Baiklah."

Apa kau menyimpan segunung emas di dalam rumah keluargamu yang hebat ini sampai kau memilih masuk ke dalam sendiri? Atau karena kau tidak mau melihatku? Kau langsung masuk tanpa melihat wajah suami dulu? Yoongi, bukankah wajar kalau kau menyuruhku berhati-hati dan memberi salam perpisahan dulu?

"Haaah…"

Jimin menghela napas panjang melihat istrinya dari belakang. Langkah lelah istrinya yang cantik membuat dadanya terasa berat. Apa pasangan lain juga begini? Apa pasangan lain juga merasa seperti ini?

"Jimin!"

Jimin, yang berputar balik langsung menghentikan mobilnya mendengar panggilan istrinya. Ia membuka jendela mobil dan memandang wajah Yoongi. Yoongi berbicara dengan wajah yang agak memerah.

"Me, melon. Nanti, melon."

"Iya. Akan kubelikan."

"Iya."

Kau mau makan melon, Yoongi? Kau mau melon segar karena udara sedang sangat panas. Iya, aku mengerti.

Jimin sangat senang saat mendengar Yoongi ingin makan melon— padahal hanya melon— sehingga ia terus tinggal di depan apartemen walau Yoongi sudah masuk. Satu kalimat dari Yoongi dapat mengubah perasaan Jimin dari neraka ke surga. Sekarang, ia benar-benar merasa seperti di surga. Surga… yang hanya ditempati oleh istrinya dan anaknya.

.o.

Yoongi duduk meringkuk sendirian di tangga pintu masuk apartemen sampai mobil Jimin menjauh. Tempat yang sejuk dan berangin itu adalah tempat yang sangat tepat untuk duduk seharian.

Dua hal. Ada dua masalah yang sekarang sedang berkecamuk di dalam kepala Yoongi.

Yang pertama adalah ekspresi gelap Jimin yang tiba-tiba berubah menjadi cerah. Kenapa? Apa? Padahal, aku berkata ia tidak perlu datang malam ini, tapi ia terus-terusan berkata harus datang. Haaah, memang tidak ada yang bisa menghentikannya. Kebetulan aku jadi bisa minta dibawakan melon, tapi kenapa ia seterharu itu saat aku minta melon? Sepertinya bukan melon yang membuatnya seterharu itu. Bukan, kan? Sebenarnya kenapa, sih!

Aaah, masalah besar yang lebih mendesak. Tuhan, tolong beri aku kekuatan untuk membuka pintu apartemen ibuku! Ibu memiliki insting seperti hantu, ia pasti akan segera bertanya ada masalah apa. Ia pasti akan tahu. Haruskah aku menggunakan taktik langgananku? Bagaimana ini…

.o.

"Ibu, aku datang!"

"Siapa, Yoongi?"

"Iya! Ini putri Ibu."

"Ya ampun, ya ampun. Ada apa ini? Luar biasa!"

"Ah, aku lelah, Bu. Aku tidur sebentar, ya. Ya?"

"Iya, iya, iya…"

Siapa pun pasti mengira bahwa mereka ibu dan anak yang hidup berjauhan dan sudah lama tidak bertemu. Padahal, rumah mereka hanya berjarak tiga puluh menit dengan mobil. Ibu dan anak ini selalu bersikap berlebihan demi menutupi air mata yang ingin mengalir. Menelan kembali pertanyaan dan keluhan yang sudah ada di ujung bibir, Yoongi menghilang ke dalam kamar yang dulu ia gunakan, sedangkan ibu Yoongi duduk lemas di sofa tempat ia tidur siang.

Sunyi.

Ibu Yoongi memasang telinga, berjaga-jaga jika suara tangisan keluar dari kamar Yoongi. Namun, yang terdengar hanya suara orang berganti pakaian. Suara orang yang merebahkan tubuh di atas kasur. Suara orang yang mengganti posisi tidur. Tenang,

"Haaah…"

Helaan napas panjang ibu Yoongi memenuhi ruang tamu, sedangkan Yoongi sedang mengatupkan bibirnya rapat-rapat sambil menahan tangis.

Tidak boleh menangis keras. Kumohon, Ibu pasti khawatir. Tidak boleh sampai terdengar. Kumohon…

Yoongi pernah datang secara tiba-tiba dan menginap selama tiga hari atau empat hari tahun lalu. Babak belur. Frasa yang sangat cocok untuk keadaan Yoongi saat itu. Setelah keguguran, hati Yoongi sangat sakit seperti ada bongkahan batu besar di dadanya, lalu jiwanya juga… ternoda oleh dosa yang tidak termaafkan. Diam-diam, ibu dan anak tersebut menangis tanpa suara semalaman. Mereka tidak pernah dapat melupakan malam itu.

Kali ini berbeda, Bu. Jangan khawatir. Aku takkan berbuat kesalahan yang sama dua kali. Aku akan melahirkan anak ini. Aku akan menyelamatkannya. Aku akan lari yang jauh dan bersembunyi di sana. Aku akan melahirkan anak ini. Ibu pasti senang kalau tahu Jimin sangat bahagia. Jadi, aku akan melahirkan anak ini. Aku akan melarikan diri. Namun, sekarang aku harus istirahat sebentar, Bu.

Flashback Start

Hari pertama Yoongi datang ke rumah mertuanya untuk memberi salam yang pertama kali, adalah awal musim panas dengan matahari yang sangat menyengat.

Jimin adalah rekan bisnis kakak Yoongi yang paling penting. Ia juga orang yang sangat terkenal, sehingga tak seorang pun dari keluarga Yoongi yang berani mengatakan Jimin bukan pria yang baik. Singkatnya, mereka mengucapkan terima kasih terus menerus sampai terlihat menyedihkan, dan menikahkan putri mereka begitu saja.

Yoongi bertambah khawatir saat harus bertemu dengan calon mertuanya untuk pertama kalinya. Ia harus memberikan kesan yang baik, tapi Yoongi sama sekali tidak yakin orang tua Jimin akan menyukainya Yoongi merasa sangat kecil saat menginjakkan kaki di rumah calon mertuanya.

Ini rumah? Seharusnya Jimin bilang ini sebuah mansion.

Yoongi dan Jimin berjalan mengikuti sebuah jalan setapak kecil yang meliuk-liuk. Berlawanan dengan bangunan-bangunan kecil di sekitarnya, berdiri sebuah rumah besar dan antik di ujung jalan itu. Rumah yang sangat tepat untuk membuat orang merasa semakin kerdil.

"Kau harus melewati jalan sepanjang ini untuk pulang ke rumah? Seperti olahraga saja."

"Apa? Hahaha."

Yoongi merasa tidak nyaman melihat Jimin yang mengekspresikan perasaan dengan sangat terbuka— padahal sifatnya selalu tertutup. Jimin mengira Yoongi hanya kelelahan karena harus berjalan jauh, sehingga Jimin menjawab pertanyaan Yoongi dengan ringan.

"Biasanya, aku tidak berjalan seperti ini karena aku selalu memarkir mobilku di basement. Kita lewat sini karena aku ingin memperlihatkan rumahku. Kau akan tinggal di sini, jadi lebih baik kau mulai melihat-lihat dari sekarang. Iya, kan?"

Suatu saat akan tinggal di sini? Yoongi langsung merinding saat mendengar itu.

Mansion di Seoul yang memiliki taman yang sangat besar, jalan setapak, bahkan tempat parkir di basement. Nama apa yang cocok untuk tempat ini, ya? Istana dalam mimpi? Kastil khayalan?

Yoongi memandang Jimin dengan perasaan yang asing. Yoongi bertanya-tanya, apa tempat ini merupakan tempat yang ia bisa sebut 'rumah'. Namun, Yoongi tidak berani bertanya apa yang dipikirkan Jimin saat berkunjung ke rumah keluarga Yoongi di Banpho.

Kemewahan eksterior rumah membangkitkan pertanyaan dalam diri Yoongi. Ia ingin tahu seberapa agung orang-orang yang tinggal di dalam rumah itu. Namun masalahnya, Yoongi merasa sangat kecil sudah tidak punya tenaga untuk menanyakan hal tersebut.

Setelah melewati taman luas dan jalan setapak panjang, Yoongi bertemu orang tua Jimin di balkon ruang tamu lantai dua. Calon ayah mertua yang terlihat baik dan sedang tersenyum hangat, serta calon ibu mertua yang sangat cantik dan elegan sampai tidak ada yang dapat menerka umurnya. Yoongi memberi salam dengan hangat kepada mereka. Sepertinya Jimin mirip dengan ibunya, yang terus-menerus memperhatikan Yoongi dari ujung rambut sampai ujung kaki setelah Yoongi memberi salam, kulit pucat dan halus, serta penampilan rapi mereka sangat mirip.

"Sangat… cantik. Namamu Yoongi, kan?"

"Iya, Bu. Aku sangat senang bertemu Ibu. Jimin sangat sering memuji Ibu."

Ibu Jimin melontarkan pujian kepada Yoongi yang sepetinya telah dihafalkan dengan sempurna. Yoongi merasa sangat bodoh karena tidak curiga sama sekali pada suara lembut Ibu Jimin.

"Benar? Jimin-ku benar-benar… mendapatkan gadis yang sangat cantik. Kita harus akur, ya."

"Iya, Ibu."

Orang tua Jimin mulai melontarkan berbagai pertanyaan dalam suasana yang tenang untuk sesaat. Ayah Jimin menanyakan orang tua Yoongi dengan suara yang kuat dan dalam. Saat itu, Yoongi merasa malu dan ragu-ragu menjawab, sehingga Jimin-lah yang sering menjawab pertanyaan ayahnya.

Ibu Jimin menatapnya dengan seksama saat itu. Tatapan menyengat yang sekarang sudah tidak asing lagi bagi Yoongi. Namun, saat itu Yoongi tidak terlalu terkejut, dan berpikir bahwa itu hanyalah tatapan tajam yang tak disengaja. Tatapan mata mereka bertemu saat Yoongi sedang mengangkat kepalanya. Dalam sekejap, ekspresi wajah ibu Jimin langsung melunak. Yoongi hanya bisa terbelalak melihat perubahan yang sangat drastis itu.

Benar. Kemalangan ini bermula sejak saat itu.

"Karena Yoongi sudah datang, sebaiknya kita mengajaknya berkeliling rumah. Jimin, kau mau mengantar Yoongi? Atau Ibu saja yang mengantarnya?"

Dari posisi Yoongi, mengelilingi rumah dengan Jimin merupakan pilihan yang lebih nyaman, tapi pada akhirnya, Yoongi harus melihat-lihat rumah dengan ibu Jimin. Yoongi harus melihat-lihat rumah dengan ibu Jimin. Yoongi dan ibu Jimin menghabiskan waktu hampir satu jam untuk memutari rumah, karena rumah utama itu terdiri dari tiga lantai dan ternyata lebih luas dari perkiraannya. Koleksi sebuah galeri besar. Koleksi yang membuat mahasiswi jurusan seni membelalakkan matanya.

"Mau istirahat?"

"Iya, Bu."

Kedua orang itu masuk ke ruang belajar ibu Jimin dan duduk berhadapan, dipisahkan sebuah meja kecil berbentuk lingkaran. Bukan tempat yang nyaman. Yoongi harus duduk dengan posisi setengah berlutut di lantai. Mereka duduk tanpa berbicara sepatah kata pun. Yoongi merasakan kakinya mulai kram; ia merasa akan gila. Namun, ibu Jimin masih duduk dengan sangat tenang. Yoongi hampir ingin mengubah posisi duduknya saat tiba-tiba ibu Jimin mulai membuka pembicaraan.

"Harusnya kau menunggu sampai lulus kuliah sebelum menikah. Jimin-ku terlalu terburu-buru. Kau sangat kasihan."

Ibu Jimin terdengar sangat tulus, terlihat benar-benar mengasihani Yoongi.

"Tidak, Bu. Aku sudah selesai membicarakan itu dengan Jimin. Lagi pula, orang yang bergelut dalam dunia seni tidak terlalu membutuhkan ijazah, kok."

"Dasar, kau tidak mengerti maksudku, ya."

"Apa?"

"Seorang anak dari keluarga miskin… kau tidak merasa lebih tenang kalau setidaknya punya ijazah S1? Istri teman-temannya lulusan universitas luar negeri, yang sudah mendapatkan gelar master juga banyak. Kau tidak merasa kecil kalau harus berteman dengan orang-orang seperti itu?"

"…"

Anak dari keluarga miskin, ijazah S1, master, ternyata itulah yang dikhawatirkan Ibu, perkataan itu melukai Yoongi, tapi Yoongi bersikap seolah itu bukan masalah besar, karena ia sadar seorang ibu memang takkan membiarkan putranya yang hebat pergi begitu saja. Yoongi berusaha mengerti, tapi ia tetap sedih dan tidak bisa menghentikan kesedihannya.

Ibu Jimin memandangi Yoongi yang tidak berkata apa-apa. Entah apa yang dipikirkan Ibu Jimin saat itu. Sekarang, Yoongi memang bisa dengan mudah menanyakannya, tapi dulu Yoongi bahkan belum berani menatap balik ibu Jimin yang memandangnya dengan sebelah mata.

Namun, Yoongi tidak butuh waktu banyak untuk mengetahui pendapat ibunya tentang dirinya.

Yang pertama adalah masalah perabotan.

Orang tua Yoongi sangat serius memperiapkan perabotan yang akan digunakan di rumah pengantin baru. Hal itu sangat wajar, karena itu adalah rumah pengantin baru putri satu-satunya yang akan menikah dengan suami dari keluarga yang sangat kaya.

Jimin agak kesulitan berangkat dan pulang kerja jika harus tinggal di Seong Bok-Dong, jadi ia menyiapkan sebuah rumah baru di daerah Gang Nam yang sangat dekat dengan kantornya. Yoongi dan ibunya sangat sibuk membeli perabotan, piring, dan lain-lain yang dibutuhkan rumah baru itu. Ibu Yoongi sampai mengeluhkan pinggangnya yang sakit, membuat Yoongi terus berceloteh bahwa ia sangat berterima kasih dan khawatir pada ibunya. Walaupun sakit, ibu Yoongi merasa harus melakukan ini demi besan barunya. Ibu Yoongi memang selalu mengutamakan Yoongi.

Perabotan yang disiapkan dengan susah payah, sangat susah.

Saat Yoongi kembali dari bulan madu, perabotan yang terlihat asing memenuhi rumahnya.

"Jimin, aneh, deh. Sepertinya aku tidak membeli warna ini dengan ibuku."

"Telepon saja tokonya. Tanya kenapa bisa begini."

Yoongi mendapatkan kabar yang sangat sulit dipercaya dari toko perabotan tersebut. Ibu mertua Yoongi menelepon mereka pada suatu hari, menyuruh mereka mengambil kembali perabotan yang dibeli dari toko mereka karena ia tidak menyukainya. Pemilik toko itu sangat kesal sehingga ia menceritakan semuanya pada Yoongi. Pemilik toko itu berkata, sudah ada banyak perabotan baru yang diletakkan di depan rumah saat ia datang untuk mengambil barang-barangnya.

Perabotan yang dibeli ibu Jimin memang jauh lebih bagus daripada perabotan yang dibeli Yoongi. Lebih bagus, segar, dan mahal. Tapi!

"Ibu tidak berpikir bahwa ini keterlaluan? Yang akan memakai perabotan itu kan aku, bukan ibu mertua. Aku dan Ibu memilih perabotan-perabotan itu sampai kaki kami serasa mau patah. Harusnya ibu mertua bilang padaku kalau ia tidak suka perabotan itu. Kenapa malah berbuat begini saat aku tidak ada? Kenapa menusukku dari belakang!"

"Sepertinya ibu mertuamu kurang puas. Ya sudah kalau begitu."

Yoongi sangat sedih saat mendengar suara ibunya yang lemas di telepon. Yoongi tahu seharusnya ia tidak berbicara tentang masalah ini kepada ibunya; ia tahu betul bahwa seharusnya ia berbicara dengan Jimin. Kenapa ia malah bertindak bodoh dengan menelepon ibunya? Kebodohannya telah melukai ibunya. Bodoh, Min Yoongi.

"Ibuuu."

"Kenapa… pasti perabotannya mahal dan bagus, kan. Kau harusnya berterima kasih dan memakainya dengan baik, mengerti?"

"Aku mengerti."

Yoongi hanya dapat berkata 'aku mengerti', karena ia tahu ibunya tidak akan tinggal diam jika ada orang asing yang memperlakukannya begini— tapi demi besan, demi keluarga baru putrinya, ibu Yoongi hanya dapat menyuruh Yoongi 'berterima kasih'. Yoongi tahu sebenarnya ibunya terluka, sehingga ia hanya dapat berkata 'aku mengerti' dan tidak membicarakan masalah itu lagi.

Yoongi selalu berpikir bahwa ia akan hidup terpisah dengan mertuanya setelah menikah, bahwa ia akan bebas dari pengaruh ibu mertuanya. Yoongi sering merasa terluka karena sikap ibu mertuanya, tapi ia selalu berpikir ia akan dapat melupakan perbuatannya jika bertemu dengannya dalam jangka waktu yang lama. Namun, ternyata tidak seperti itu. Menikah. Masuk ke keluarga Jimin. Ternyata hal tersebut bukanlah hal yang mudah.

"Nak, kenapa syukuran rumah barumu beberapa hari yang lalu begitu? Ibu kan tidak bisa membantumu karena sibuk! Omongan tidak enak sudah beredar di mana-mana, lho."

"Apa? Apa… maksud Ibu?"

Yoongi benar-benar tidak menyangka akan dimarahi ibu Jimin hanya karena masalah syukuran rumah.

Sebenarnya, syukuran rumah yang dijadikan bahan omelan ibu Jimin itu bukan syukuran resmi. Syukuran itu terjadi di luar dugaan karena Jimin tiba-tiba mengajak orang-orang kantornya ke rumah. Pembantu yang bekerja di rumah sudah pulang, sehingga Yoongi hanya menyiapkan makanan sederhana dari bahan-bahan kulkasnya.

Padahal, semuanya bilang masakanku enak. Siapa dan apa yang dikatakan orang itu sampai Ibu berbicara seperti ini padaku?

"Masakan yang dipotong dengan asal-asalan, kau juga pasti tidak menaruh bumbu sampai masakanmu tidak ada rasanya sama sekali! Kau, kau! Sebenarnya kau mau menghidangkan masakan Korea atau masakan Cina? Orang tuamu membesarkanmu jadi seperti ini dan menikahkanmu begitu saja? Mereka tidak mengajarkanmu memasak makanan yang bisa dimakan? Hah?"

Yoongi sangat sedih dan kesal mendengar ibu Jimin menghina orang tuanya, padahal ia hanya melakukan satu kesalahan. Namun, Yoongi sadar ia tidak bisa melakukan apa-apa jika diukur dengan standar ibu Jimin, sehingga ia hanya bisa mengernyit dan menahan diri. Memotong dan membumbui… Yoongi memang sama sekali tidak bisa melakukan hal itu.

"Maaf, Bu. Ini karena dulu aku hanya sibuk bolak-balik rumah sekolah. Maaf karena aku memiliki banyak kekurangan. Aku akan berusaha sebaik mungkin ke depannya. Aku akan memperbaiki diri sedikit demi sedikit."

"Bagaimana, ya. Sepertinya kau memang tidak punya dasarnya. Sampai kapan baru bisa membaik?"

Keesokan harinya, Yoongi mulai meminta kepada pembantu yang bekerja di rumahnya untuk diajarkan memasak dan melakukan pekerjaan rumah. Hal tersebut sangat baru bagi Yoongi, yang selama ini hanya memegang pisau pahat. Selama beberapa hari, Yoongi menggunakan celemek dapur sebagai pengganti celemek kerjanya; tubuhnya yang biasanya dipenuhi serbuk marmer kini basah terkena air kotor dan terbalut aroma makanan.

"Kenapa tiba-tiba kau senang ke dapur? Pembantu kita kan ada dua, kenapa kau masih mengerjakan pekerjaan dapur? Kau tidak perlu mengerjakan itu. Lebih baik kau menyelesaikan karya senimu. Itu baru pekerjaanmu."

"Dasar, tidak tahu isi hati orang!"

Suatu hari, Yoongi berkata seperti itu kepada Jimin yang berbicara dengan nada enteng kepadanya. Air matanya mengalir dan ia menangis tersedu-sedu. Sebenarnya aku melakukan ini bukan karena aku menyukai pekerjaan dapur.

Biar aku saja yang dihina. Aku begini karena aku tidak suka kalau ibu dan ayahku harus menerima hinaan karena aku yang bodoh ini, tahu!

Kalimat tersebut sudah ada di ujung bibir Yoongi, tapi Yoongi tidak bisa menyerang Jimin dengan perkataan seperti itu. Kalau sampai Jiminn bertanya siapa yang menghina ayah dan ibu Yoongi, Yoongi tidak tahu apakah ia sanggup menjawab bahwa orang itu adalah ibunya yang elegan dan berpendidikan. Ibunya yang sangat keterlaluan. Entah Yoongi mampu atau tidak.

Huuh…

Namun, sejujurnya, Yoongi tahu ia tidak dapat mengatakan itu kepada Jimin, ia takut Jimin takkan percaya padanya.

Ibu Jimin sudah beberapa kali memarahi Yoongi, tapi Yoongi hanya bisa ketakutan dan tidak melawan sama sekali. Ibu Jimin pun mulai memperlihatkan watak aslinya dan terus menekan Yoongi.

"Nak, kau tidak bosan terus-terusan di rumah?"

Ibu Jimin melontarkan pertanyaan seperti itu saat menyuruh Yoongi dan Jimin datang ke rumahnya. Ibu bertanya seakan ia benar-benar peduli pada Yoongi yang duduk di sampingnya. Yoongi tidak menjawab, hanya memandangi ibu Jimin untuk sesaat. Ia mencoba mencari tahu sebenarnya ada apa di balik pertanyaan Ibu.

"Kau mau kubuatkan galeri kecil-kecilan? Kau bisa menghabiskan waktu sambil melakukan hobimu, lho. Bagaimana?"

"Apa? Ibu? Galeri?"

Ibu bertanya apa? Tidak semua orang bisa menjalankan galeri, aku tidak punya pengalaman. Lagi pula, aku masih pengantin baru, bagaimana mungkin menyuruhku mengerjakan sesuatu yang sangat besar…. Saat Yoongi sedang mengeluarkan beribu alasan di dalam hatinya, ibu Jimin memperhatikan ekspresi Yoongi dengan seksama dan mengangguk-anggukan kepalanya, memperlihatkan bahwa ia mengerti apa yang dipikirkan Yoongi.

"Hmm, sepertinya tidak. Kau masih terlalu muda, lalu keluarga lain bekerja di luar dengan sangat baik. Ck ck, kau kan masih muda, kenapa menghabiskan waktu seharian dengan duduk-duduk di rumah saja, sih? Memang Jimin tidak bosan melihatmu?"

Aku harus mengatakan apa? Apa harus…

Maaf karena aku tidak berguna, karena aku tidak bisa dibandingkan dengan menantu keluarga lain? Aku minta maaf, tapi Jimin tidak punya masalah apa-apa denganku, kok.

Seperti itu?

Tapi pada akhirnya, Yoongi tidak bisa menjawab dan hanya menutup mulutnya rapat-rapat. Yoongi tidak berceloteh seperti seperti biasanya dan hanya menundukkan kepalanya. Ia tidak bisa melawan ibu Jimin karena teringat ajaran keluarganya. Yoongi kembali mengubur kata-kata yang ingin diucapkannya di dalam dadanya. Malam itu, ibu Jimin terus menatap Yoongi dengan tidak puas sambil mendecakkan lidah. Ekspresi tidak puasnya, suara penuh celaannya, membuat hati Yoongi mendidih sepanjang malam.

Sebenarnya, Yoongi merasa sesak karena selalu berada di rumah seharian. Akhirnya, entah karena ia ingin menyegarkan pikiran atau menganggap ini sebagai tindakan protes terhadap mertuanya, Yoongi mendaftarkan diri ke sebuah tempat les bahasa Inggris. Setelah mulai les di tempat yang dipenuhi anak-anak muda yang seumuran dengannya, Yoongi menjadi terlihat lebih hidup. Yoongi belajar dengan rajin setiap hari. Bahkan, ia juga ikut serta dalam sebuah perkumpulan kecil dengan teman-teman sekelasnya. Ia tertawa dan bermain bersama mereka.

"Akhir-akhir ini kau terlihat senang. Kau senang les, ya?"

Suatu hari, Jimin yang sedang bersiap-siap berangkat kerja bertanya padanya dengan wajah penuh kepuasan, membuat Yoongi semakin senang. Jimin langsung mengecup dahi Yoongi saat melihatnya tersenyum lebar sambil mengangguk-anggukkan kepala.

"Untunglah. Aku sedikit khawatir karena selama ini tidak melihatmu tersenyum sama sekali."

"Sedikit? Benar sedikit khawatir?"

Jimin tidak menjawab, hanya memandang Yoongi dengan penuh cinta, membuat senyum Yoongi semakin lebar. Jimin yang melihat ekspresi cerah istrinya juga ikut tersenyum.

Kedua orang itu berciuman di tempat parkir rumah mereka, disirami cahaya matahari musim dingin yang sangat lembut. Para tetangga yang lewat dan melihat aksi mereka hanya bisa mendecakkan lidah dan mengatakan "Ah, tidak sopan!", tapi mereka tidak peduli, karena mereka saling mencintai, karena mereka pengantin baru. Orang lain boleh iri jika mereka mau.

Yoongi mengantar kepergian Jimin dengan hangat, lalu langsung masuk ke rumah untuk bersiap-siap. Hari masih sangat pagi, tapi telepon rumahnya sudah berdering. Yoongi menghampiri meja telepon sambil bertanya-tanya.

"Halo."

"Nak, akhir-akhir ini kau kemana, sih, sampai tidak mengangkat telepon dari ibu?"

Ibu. Yoongi menceritakan kabarnya kepada ibu dengan suara ceria.

"Iya, aku sekarang pergi les bahasa Inggris karena sesak selalu berada di rumah, Bu."

Yoongi berharap ibu mertuanya akan memujinya, karena pada awalnya ibu mertuanyalah yang menyuruhnya pergi ke luar sekali-sekali dan tidak menghabiskan waktu di rumah.

Namun, ayolah Min Yoongi… ibu memberi pujian? Kepadamu? Harusnya kau hanya mengharapkan hal yang bisa diharapkan. Bodoh kau.

"Les bahasa Inggris?"

Suara ibunya yang meninggi satu oktaf terdengar dari gagang telepon. Suara penuh sarkasme yang membuat wajah ceria Yoongi berubah kaku.

"Lho, untuk apa kau pergi ke tempat les hanya untuk belajar bahasa Inggris? Memang sebelumnya kau tidak pernah belajar? Kalau tidak, berarti kau bahkan tidak pernah berpikir untuk belajar di luar negeri, ya… ck ck ck, keluargamu semiskin itu, ya?"

Menyalahkan Ayah dan Ibu lagi. Dimarahi ibu mertua lagi. Lagi dan lagi, terus seperti ini.

Yoongi ingin menangis karena merasa tersakiti dan kesal, tapi sepertinya ibu Jimin masih belum selesai bicara. Ibu Jimin sangat marah sampai langsung bicara ke intinya. Ah, suara tinggi Ibu benar-benar menusuk telinga.

"Kau pikir kau boleh menelantarkan kewajiban dan ikut les di tempat kecil seperti itu? Walaupun masih muda, kau seharusnya bisa membuat prioritas."

"Apa? Memang hari ini ada yang harus kulakukan? Aku tidak tahu. Maaf, Bu."

"Dasar, dasar. Itu karena kau tidak peduli dengan mertuamu. Sebagai menantu, harusnya kau yang aktif bertanya pada Ibu. Sampai kapan aku harus berkata, 'Nak, cepat ke sini. Di rumah ada acara. Ada perayaan. Hari ini kan ulang tahun Ayah'. Sampai kapan ibu harus terus mendiktemu? Kau pikir kau orang tua dan ibu adalah menantumu yang harus mengerjakan semua pekerjaan rumah?"

"Apa… tidak, Bu. Aku tidak pernah berpikir seperti itu, kok. Aku mengaku bersalah, Bu. Aku terlalu tidak pedulian. Maafkan aku. Maafkan aku."

Tolong maafkan aku dan tenanglah. Bu. Aku tahu aku salah, jadi jangan marah lagi. Sakit, Bu. Perih, seluruh tubuhku terasa sakit.

Walaupun begitu, Ibu juga keterlaluan. Sebenarnya apa yang Ibu inginkan? Aku keluar rumah atau tinggal di rumah dan menunggu telepon dari Ibu seharian?

Yoongi berkeluh kesal sendiri selama beberapa hari karena hatinya sangat sakit, sampai akhirnya ia menganggap itu sebagai cobaan kecil dan melupakannya. Mungkin ini cobaan yang harus ia hadapi. Benar. Ia membayangkan hidupnya bagaikan bunga-bunga bermekaran di bulan Maret, yang sebelumnya layu dilanda musim dingin yang kejam.

.o.

"Bu, hari ini aku pergi ke rumah sakit. Katanya aku hamil. Sudah lima minggu."

Yoongi memberitahukan kehamilannya di awal-awal pernikahannya dengan Jimin. Yoongi ingin mendapatkan nilai khusus dari mertuanya, sehingga ia langsung pergi ke rumah mereka untuk memberi tahu kabar membahagiakan ini. Walaupun ia adalah menantu yang di benci ibu Jimin, jika ada seorang anak, jika ada seorang cucu, mungkin hati dingin ibu Jimin akan mencair. Yoongi pergi sendiri ke rumah mertuanya dan memberi tahu kabar itu dengan bangga.

Jika Yoongi tahu akibat dari inisiatifnya, jika ia tahu, tentu saja ia takkan melakukan tindakan sebodoh itu. Tidak akan.

Ibu yang sedang minum teh di balkon lantai dua bertanya dengan wajah tanpa ekspresi.

"Kau sudah bilang ke Jimin?"

Jangankan bahagia, Ibu malah bertanya dengan sangat dingin. Lidah Yoongi menjadi kelu; perasaannya jadi sangat tidak enak.

"Tidak. Belum. Nanti malam…"

"Cukup. Tidak ada yang perlu dibicarakan. Ayo ke rumah sakit dengan Ibu."

"Apa?"

"Jangan bilang kau mau melahirkan anak itu. Kalau mimpi, yang masuk akal, dong! Akar keluarga kami sangat jelas. Bodoh."

Yoongi benar-benar tidak mengerti kenapa ibu Jimin tega berkata begitu. Yoongi sudah cukup lama menikah dengan Jimin, tapi kenapa ibu mertuanya masih bersikap seperti itu? Lagi pula, seharusnya perkataan seperti itu tidak boleh keluar dari mulut ibu Jimin, tapi kenapa ia masih mengatakannya? Tidak… sejujurnya, aku tidak mau mengetahui alasan ibu. Aku tidak mau memaksa mengetahui sesuatu yang memang tidak ingin aku ketahui. Kalau bisa, lebih baik aku tidak tahu selamanya. Perkataan yang membuatku sakit setengah mati. Tatapan mata yang menyayat.

"Jimin masih berdarah muda, ia menikah denganmu karena ia pikir ini cinta, tapi nanti ia juga sadar. Sadar kalau ada pasangan yang sepadan dengannya. Nanti kau lihat sendiri; kau tinggal menunggu sampai ia menemukan pasangan yang sepadan."

Yoongi tidak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa membelalakkan mata karena terlalu terkejut.

Ternyata begitu, ternyata itulah artiku bagi Ibu. Ternyata Ibu tidak pernah mengakuiku sebagai menantunya. Ternyata aku hanya pasangan sementara Jimin. Ternyata begitu. Aku tidak mengetahui itu dan malah bersusah payah mengambil hati Ibu.

"Kenapa kau melotot seperti itu? Dasar, kau bodoh sekali, sih. Atau jangan-jangan kau tebal muka lagi. Ibu tidak bisa membayangkan bagaimana Jimin bisa bersabar hidup denganmu. Ibu saja tidak bisa sabar menghadapimu. Ck ck."

Yoongi masih terdiam kebingungan. Langsung tersadar saat mendengar nama suaminya disebut.

Jimin, aku sayang. Aku sayang. Aku sayang. Aku sayang anak kita, Jimin. Jimin, aku sayang…

"Ibu, Ibu, kumohon! Biarkan aku melahirkan anak ini. Kumohon… hal seperti itu, aku tidak suka. Ibu, aku bersalah. Aku mohon, Bu. Ya?"

Yoongi berlutut di kaki ibu Jimin. Ingatannya akan caranya memohon-mohon pada Ibu masih tersisa dengan jelas. Air mata dan ingusnya mengalir. Ia memohon-mohon kepada Ibu Jimin dengan sangat menyedihkan. Walaupun begitu, ibu tetap dingin, dingin, dan berkata dengan dingin.

"Semuanya jadi begini karena kau bodoh. Memang ini salah siapa? Kau pikir Jimin mau hidup selamanya denganmu? Sadar, Nak. Ini yang paling baik bagi kau dan kita semua. Daripada punya anak, kau lebih baik menjadi janda tanpa anak, kan? Kau masih muda, harusnya kau juga berpikir seperti itu, dong."

"Huhuhu… tidak mau. Jangan begini, Bu. Kumohon."

Ibu Jimin menarik tangan Yoongi dan menyeretnya ke tangga. Siapa pun yang melihat pasti tahu bahwa Yoongi, yang mati-matian bertahan dengan memegangi pegangan tangga, tidak mau turun ke bawah. Yoongi akan kehilangan anaknya jika ia sedikit lengah. Oleh karena itu, ia menangis dan berteriak-teriak seperti perempuan gila, berusaha untuk tetap sadar. Ia juga berdoa dalam hati.

Ibu, ibu, hentikan ibu mertuaku. Ayah! Ayah! Tolong aku. Selamatkan anakku.

Betapa indahnya jika Sang Pencipta selalu mengabulkan doa yang diucapkan oleh umat-Nya. Mungkin saat itu Sang Pencipta sedang sibuk dengan urusan lain, sehingga Dia tidak mengabulkan doa Yoongi. Permohonan Yoongi tidak banyak; ia hanya berharap ibu Jimin menjadi lebih lembut dan merestui kehadiran anaknya, hidup harmonis seperti keluarga lain. Apa itu terlalu besar? Terlalu besar?

"Ibu, kumohon! Ibuuu! Ah, aah…!"

Ibu Jimin melepaskan cengkeraman tangannya dari Yoongi. Yoongi berusaha meraih pegangan tangga, tapi sia-sia. Ia kehilangan keseimbangan untuk sesaat, terhuyung-huyung sebelum akhirnya jatuh terguling dari tangga.

Nyawa adalah sesuatu yang berharga, sesuatu yang berharga adalah nyawa. Ternyata, ada nyawa yang terbuang sia-sia. Hilang di atas meja bedah yang dingin atau hilang karena kebodohan ibunya sendiri. Sepertinya ikatan anak itu dengan dunia fana ini sangat rapuh.

"Aaah! Aaaaah! Aaaah!"

Yoongi berteriak kesakitan, lagi, lagi, dan lagi. Memperdengarkannya kepada ibu mertua yang pelan-pelan menghilang, memperdengarkannya kepada suami yang sama sekali tidak menyangka bahwa istrinya harus melalui peristiwa sekejam ini.

Yoongi berteriak kesakitan dengan histeris. Ia masih ingat walau saat itu tidak sadar sepenuhnya.

.o.

"Nak, kau cerita apa pada Jimin?"

Ibu Jimin bertanya seperti itu saat Yoongi berkunjung ke Seong Bok-Dong tidak lama setelah ia kehilangan bayinya. Para pembantu sedang bekerja di dapur, tapi ibu Jimin tetap bertanya dengan nada ringan. Yoongi merinding untuk sesaat, tapi ia langsung menghilangkan rasa itu dan menjawab dengan tenang.

"Tidak ada, Bu."

"Sekarang kau berani berbohong, ya!"

"Bohong apa? Aku benar-benar tidak bercerita apa-apa, kok, Bu."

Ibu Jimin benar-benar pandai menutupi rapat mulutnya tentang 'hari itu', sampai-sampai ayah Jimin dan Jimin tidak tahu akan hal itu sama sekali.

Sejak saat itu, Yoongi masih sering mampir ke rumah mertuanya, tapi tatapan mata ibu Jimin sangat berbeda dengan dulu. Terlihat kasihan di mata ibu Jimin, tapi Yoongi juga dapat melihat kebohongan di dalamnya. Mungkin saja ibu Jimin sedang merasa bersalah pada Yoongi.

Namun, Yoongi tidak menceritakan semua yang terjadi pada siapa pun. Ia hanya mengasihani dirinya sendiri. Yoongi baru saja diperlakukan tidak adil, tapi tidak bisa bercerita pada siapa pun, terlebih kepada suaminya, sehingga ia hanya bisa berkeluh kesah sendiri dan merasa seperti orang yang paling bodoh di dunia. Kau benar-benar bodoh, Yoongi.

"Lalu kenapa Jimin-ku berbicara dengan kasar seperti itu?"

"Aku tidak tahu, Bu."

Yoongi sudah cukup pusing dengan masalahnya sendiri, sehingga ia tidak peduli akan keluhan Jimin kepada ibunya. Sebenarnya apa yang dikeluhkan seorang putra baik dan hebat kepada ibunya yang paling elegan dan berpendidikan? Yoongi tidak tahu dan tidak ingin mencari tahu. Sama sekali.

Ternyata, kesedihan seorang ibu yang kehilangan anaknya berlangsung lebih lama dari perkiraan. Yoongi sangat menghindari keluar rumah dan sama sekali tidak mau bertemu orang lain. Ia menghabiskan seluruh waktunya di dalam rumah. Semua orang menyadari perubahan Yoongi yang jadi sedikit bicara; Yoongi bahkan tidak pernah terlihat tersenyum maupun marah.

Yoongi merasa tidak bisa membiarkan keadaan ini, jadi ia pergi ke dokter jiwa. Ia menceritakan semua rasa frustrasinya yang tidak pernah ia ungkapkan kepada suami, keluarga kandung, bahkan sahabat karibnya. Cerita mengalir dari mulutnya bak air hujan.

"Jadi begitu. Kalau begitu, ambillah resep ini dan tebus obatnya di apotek…"

Padahal, Yoongi masih memiliki segunung cerita, tapi waktu yang disediakan dokter telah habis, sehingga dokter memotong dan menuliskan resep untuknya. Sesaat, Yoongi merasa benar-benar seperti orang bodoh. Ia merasakan pengkhianatan yang tak berujung. Bahkan oleh seorang dokter yang seharusnya menyembuhkannya!

Obat yang ia tebus dari resep dokter sangatlah aneh. Setelah meminum sebutir sehabis makan, Yoongi selalu merasakan kantuk yang tak tertahankan. Yoongi akan berbaring di tempat tidur dengan pikiran kosong selama seperempat hari. Tidur yang sangat dalam, tidur tanpa mimpi. Sehari berlalu, seminggu berlalu tanpa disadari.

Teman-teman Yoongi ramai menggosipkan Yoongi yang menghilang dari peredaran.

"Kau menanam ginseng gunung yang sangat berharga di rumah? Kenapa kau tidak pernah keluar?"

"Akhir-akhir ini orang-orang selalu mengomeliku untuk memberi salam." Yoongi menjawab ringan saat teman-temannya menelepon dan bertanya kenapa ia tidak keluar rumah. Jawaban itu tentu cukup untuk teman-temannya, tapi tidak begitu dengan ibu mertua.

"Sebenarnya apa sih yang kau lakukan sampai tidak bisa mengurus suamimu dengan benar? Padahal kau ada di rumah, tapi kau bertingkah seperti orang yang seharian bekerja di luar. Hanya bengong di rumah! Sudah berapa tahun kau menikah? Kenapa tidak ada yang membaik darimu? Dasar! Jimin-ku benar-benar hebat karena bisa bersabar hidup dengan anak sepertimu, hebat!"

"Maaf, Bu."

Maaf, Bu. Aku akan berusaha sebaik mungkin, sebaik mungkin. Jangan benci aku jangan benci aku…

End of Flashback

.

.

.

.

.

TBC

Update cepet karena abis ujian haha

.

THANKS FOR READING

REVIEW PLEASE?