After The Weeding
Novel Remake, karya Kim Ji-Oh
Min Yoongi
X
Park Jimin
MINYOON/MINGA/YOONMIN FANFICTION
RATED BERUBAH – UBAH SEWAKTU – WAKTU!
IF YOU DON'T LIKE. DON'T READ IT !
IF YOU WANT COPAS, WITH AUTHOR NAME JUSEYO
Genderswitch for Min Yoongi and other characters!
Happy reading~
.
.
.
.
Hoho~ sebelumnya makasih baik sider maupun yg bukan sider ataupun yg msh setia baca ini, favorit following juga. Makasih banyak. Mungkin pada bingung yah sm konflik yg terjadi. Ikutin aja alur ini terus. Nanti kalian jg paham. Aku dulu pertama baca ini juga bingung wkwk. Tp karena penasaran jadinya yahh dibaca terus. BTW ajhumma ingatkan ini emg remake novel ya sayang ^^
.
.
.
.
.
.
After the Wedding
Chapter 11B
Bubur Tiram dan Sup Lobak bagian 2
.
.
.
.
.
Anak yang dipukuli akan memukuli anaknya juga. Anak yang disiram dengan cinta akan menjadi seseorang yang tahu bagaimana caranya mencintai.
.
.
.
Yoongi tidak bisa tidur dengan tenang. Bayangan yang memusingkan dan membuatnya cemas terus berputar-putar di kepalanya. Walaupun begitu, sepertinya Yoongi sudah cukup lama tidur; hari sudah gelap saat ia melihat ke luar jendela. Terdengar suara Ibu yang sedang menyiapkan makanan di dapur. Ia pasti sedang menyiapkan makan malam untuk putrinya. Ia pasti sedang menyiapkan makanan kesukaan putrinya yang dibumbui dengan kekhawatiran dan air mata. Maaf, Ibu.
"Yoongi, sudah bangun?"
"Iya, Bu!"
"Kalau begitu, cepat keluar! Makan malam dulu."
"Iya!"
Ayo becermin. Ayo becermin dan pastikan apakah ada yang aneh di wajahmu. Nanti Ibu khawatir.
Terlihat seorang perempuan dengan kaus lusuh longgar serta celana pendek. Rambut lurus yang selalu terlihat rapi walau tidak di sisir. Walaupun begitu, Yoongi tetap mencoba menyisir rambutnya dengan sisir plastik merah muda bergambar Hello Kitty. Yoongi menemukan tanda berwarna keunguan di sekitar lehernya. Memalukan, luka memalukan yang tidak mungkin ia perlihatkan kepada ibu kandungnya. Haruskah aku mengganti kausku dengan polo shirt? Atau tutupi saja dengan rambut?
"Nak, Yoongi. Kalau sudah bangun…"
"Eh, Ibu."
Tatapan mata Ibunya saat membuka pintu dengan tiba-tiba langsung tertuju pada leher belakang Yoongi. Canggung, malu… untuk beberapa saat, Ibu dan anak itu hanya bisa terhanyut dalam kesunyian yang terasa canggung dan sangat memalukan.
"Kulitmu mirip dengan kulit Ibu. Mudah terluka, dan kalau sudah terluka, bekasnya lama hilang. Aduh, hal seperti itu saja harus mirip dengan Ibu."
"Ibu juga… begini?"
"Itu sih tidak perlu ditanya. Kau pikir dulu ada scarf cantik dan sweter turtleneck seperti sekarang? Ibu hanya bisa bersedih saat mendengar ocehan kakak ipar Ibu."
"Hihihi… jadi aku begini karena mirip Ibu."
"Ah, berisik! Ayo makan."
"Iya!"
Bubur tiram, sesame leaf yang dibumbui vinegar kesukaan Yoongi, acar mentimun. Ah, acar mentimun Ibu yang membuat air liurku mengalir.
"Ibu bergumam bahwa Ibu harus merelakanmu, saat membuat acar mentimun ini, tapi ternyata kau malah datang. Ini renyah, lho. Coba makan."
"Enak."
Yoongi langsung menghabiskan semangkuk besar bubur tiram dengan acar mentimun yang dibalut sesame leaf. Masakan Ibu selalu enak. Lebih enak dibandingkan masakan rumah mertua di Seong Bok-Dong, lebih enak dibandingkan masakan buatan pembantu di rumah, dibandingkan restoran kelas satu mana pun. Masakan Ibu adalah masakan yang paling enak, paling cocok di lidah Yoongi. Ibu yang hanya menyajikan lauk kesukaan Yoongi. Benar, paling enak.
"Mau tambah lagi? Kau seperti anak anjing yang tidak makan berhari-hari… makan yang banyak, Nak."
"Tidak, Bu. Sudah kenyang. sudah cukup, kok."
"Hei, kau kan cuma makan semangkuk bubur. Tidak mungkin sekenyang itu, ah. Tambah semangkuk lagi, Nak."
"Aku sudah kenyang, kok."
Berbeda dengan perkataannya, Yoongi memakan semangkuk bubur lagi dengan lahap, seolah itu mangkuk pertamanya. Ibu menatap Yoongi dengan kasihan. Yoongi tersenyum. "Ayah ke mana, Bu?"
"Ayahmu pergi ke Gunsan tadi pagi. Katanya ada perayaan di sana. Hari ini ia menginap di sana dan akan pulang besok subuh. Padahal, kau sudah lama tidak datang, tapi kau malah tidak bisa bertemu Ayah. Bagaimana ini?"
"Kalau begitu, aku akan menginap di sini beberapa hari."
"Hah."
Walaupun Yoongi tidak berkata apa-apa, Ibu tahu ada sesuatu yang terjadi, tapi Ibu menggunakan kesempatan ini untuk berpura-pura terkejut dan menatap Yoongi dengan tajam. Seandainya Yoongi tidak hanya mirip dengan ibunya dalam sisi yang tidak penting, pasti Yoongi juga akan memiliki mata yang dapat menjangkau seluruh Korea, dan akan langsung mengetahui jika seseorang sedang berpura-pura. Sambil memakan sepotong acar mentimun yang terasa asam manis di lidahnya, lalu mengalihkan pembicaraan.
"Bagaimana dengan Oppa? Akhir-akhir ini bagaimana kabarnya?"
"…Sepertinya pekerjaan barunya masih belum lancar."
"Oh, begitu."
"Ia sudah mengalami banyak hal, pasti sekarang ia sudah sadar. Nanti semuanya juga akan membaik. Ibu tidak mengkhawatirkan ia."
"Iya."
Tidak mengejutkan, Bu. Aku tahu karena putri Ibu inilah yang menyebabkan tekanan darah Ayah dan Ibu naik, serta membuat hati kalian terluka dan takkan kunjung sembuh walau sepuluh tahun telah berlalu. Oppa yang dulu pintar. Oppa yang selalu melakukan yang terbaik dan selalu memiliki jawaban atas semua pertanyaan. Orang yang takkan pernah berbohong pada orang tua. Harusnya aku berterima kasih pada Oppa karena berkat ia, aku bisa bertemu dengan suamiku. Benar, setelah kuingat-ingat hal ini, perkataan Ibu tadi membuatku semakin sedih.
"Sudah berapa bulan?"
"Apanya?"
"…"
Ibu yang menyalakan api dalam matanya dan memasang wajah serius terlihat sangat menakutkan. Pasti Ibu berharap aku mengatakan yang sebenarnya secepatnya. Lagi pula, ini memang tidak bisa ditutupi, dan Ibu memang satu-satunya teman sejatiku. Harus kukatakan, kukatakan.
"Ah, Ibu sangat cepat tanggap… Hihihi. Katanya sudah delapan minggu. Jimin terlihat sangat senang, Bu."
"Mertuamu sudah tahu?"
"Tidak, belum."
"Bagus. Lebih baik kau jangan beri tahu mereka sebelum perutmu membesar. Tinggallah di sini selama beberapa bulan."
"Ibuuu…"
"Orang jahat. Orang tidak becus."
"Ibuuu…"
"Nanti buburmu dingin. Cepat habiskan. Cepat!"
Terima kasih, Bu. Aku tidak apa asal ada Ibu di sampingku. Itu yang paling penting. Terima kasih, Bu…
Ibu menatap Yoongi dengan kasihan, tapi Yoongi tetap memakan sisa buburnya dengan nikmat, sangat nikmat. Kenyang. perutnya mengeras. Yoongi mengusap-usap perutnya kenyangnya, lalu meletakkan tangannya di perut bawahnya. Ia tidak makan sendirian. Ia makan bersama anaknya. Apa pun yang ia makan, sekarang ia makan bersama anaknya.
Nak, bubur tiram nenekmu enak, kan? Acar mentimunnya juga enak, kan? Sesame leaf ber-vinegar-nya juga enak, kan? Makanan itu jadi semakin enak karena Ibu memakannya bersamamu.
.o.
Woobin-Oppa pulang kerja jam tujuh lewat. Oppa terlihat sangat muram— entah ke mana perginya semangat muda miliknya yang beberapa tahun lalu masih terlihat. Woobin hanya melihat sepintas keberadaan adiknya dengan mata tajamnya sebelum masuk ke kamarnya. Hubungan adik kakak yang tidak baik. Saling memperlakukan dengan tidak baik. Yoongi pergi ke dapur untuk membantu ibunya yang sedang menyiapkan makan malam. Menu makanan kali ini berbeda.
Sup daging campur lobak yang bening, akar deodeok bakar, telur kukus, dan acar mentimun. Makanan yang sangat cocok untuk Woobin yang tidak suka asin dan amis.
Ibu selalu membuat makanan dengan ketulusan hatinya dan disesuaikan dengan selera setiap anggota keluarga. Pekerjaan yang tidak mudah. Pekerjaan yang seharusnya dipelajari sebelum menikah. Seseorang harus berhati tulus jika ingin melakukan pekerjaan seperti itu. Bukan untuk sehari atau dua hari, melainkan seumur hidup. Haruskah aku bertanya mengapa Ibu rela melakukan hal seperti ini? Tidak, aku tidak bisa, karena ini adalah cara Ibu yang kucintai. Cara Ibu mencintai.
"Woobin, ayo makan!"
"Iyaaa."
Woobin, yang telah berganti pakaian, keluar dari kamarnya dan menuju kamar mandi. Ia langsung menuju meja makan setelah mandi. Yoongi keluar dari dapur dan menuju menuju ruang tamu dengan tenang. Yoongi mengamati diam-diam Woobin diam-diam. Rambutnya yang sudah mencapai leher berkilauan karena basah.
Sudah berapa lama sejak Oppa keluar dari penjara…
Seseorang tidak akan pernah bisa keluar dari jeratan uang, jika mereka setidaknya pernah sekali merasakan kenikmatannya. Pergulatan batin yang disebabkan oleh uang lebih menakutkan daripada judi dan obat-obatan terlarang. Pemikiran bahwa semuanya akan beres asal ada uang. Kakak yang dulu penuh semangat dan ceria ini juga pernah jatuh ke dalam jurang tersebut dan tidak dapat ditolong lagi.
Tidak dapat dimungkiri, awal dari semua ini sangatlah manis. Saat itu, Jimin berinvestasi sebesar sepuluh miliar, jumlah uang yang keluar setelah penilaian yang sangat hati-hati terhadap bisnis yang menjanjikan. Kakak yang berkata bahwa lebih nyaman memakai celana jins bau dan sepatu kets daripada jas yang dipinjam dengan tergesa-gesa, pemuda dengan rambut acak-acakan yang lebih terlihat seperti seorang mahasiswa daripada pekerja kantoran, pemuda yang akhirnya menghambur-hamburkan uang dengan tiga atau empat orang temannya.
Sejujurnya, jumlah uang itu sangatlah besar bagi pemuda-pemuda polos yang sebelumnya hanya mengenal belajar dan penelitian.
Uang merupakan hal yang sangat kejam. Jika kau tidak terbiasa dengan uang, maka kau akan menjadi orang bodoh di hadapannya. Kau akan berubah menjadi orang yang boros atau pemarah.
Uang itu adalah uang perusahaan yang tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi, itulah perkataan Woobin yang selalu di ulangnya terus-menerus. Woobin tertawa ceria dan berkata bahwa ia akan meneruskan penelitiannya sambil memajukan perusahaannya. Jika Woobin tidak berubah, ia pasti akan menepati perkataannya.
Namun, bau uang tetap menyusup ke seluruh penjuru walau sudah dihentikan, bau uang yang seperti hantu. Bau uang itu menempel seperti lintah— atau lebih tepatnya, perempuan seksi— pada manusia yang ditemuinya.
Woobin membeli mobil buatan Jerman yang canggih tanpa pikir panjang, ia juga menjadi anggota sebuah bar dengan berdalih bawa itu adalah kebutuhan kantor, duduk dikelilingi wanita cantik, diwawancarai tanpa henti oleh wartawan Koran dan majalah. Setelah hal-hal seperti itu berubah menjadi keseharian, para pemuda yang tidak tahu bahwa dunia adalah tempat yang menakutkan pun jatuh ke dalam godaan manis tersebut.
Mereka tidak bisa melepaskan diri dari godaan, walau Jimin sudah berkali-kali mencoba memperingatkan. Mereka punya telinga, tapi tidak dapat mendengar. Akhirnya, perkataan Jimin yang tak pernah didengarkan berubah menjadi sebuah peringatan, perintah, dan akhirnya ancaman.
.
.
.
"Lihat persentase keuntungan perusahaan kalian. Ini yang kalian sebut perusahaan? Ini kain lap! Sadar!"
"Kenapa kau begitu, Adik Ipar! Ini karena mata uang won sedang turun, ini hanya sementara! Nanti juga akan kembali normal!"
"Mata uang sedang turun? Bercanda ia. Jika kau dan teman-temanmu tidak menghambur-hamburkan uang, perusahaan ini tidak akan seterpuruk ini!"
"Dasar, aku kan cuma mau menggunakan sedikit uang keuntungan yang sudah kuhasilkan dengan susah payah. Perusahaan tidak akan hancur hanya karena itu. Bicaramu keterlaluan, Adik Ipar!"
"Keuntungan yang dihasilkan dengan susah payah? Sudah payah! Kau tahu tidak, bagaimana keadaan perusahaanmu saat ini? Timing dan kecepatan adalah nyawa di dunia ini. Kemampuan menyedihkan yang dulu kau pamerkan padaku! Itu semua sudah lewat. Sekarang apa yang mau kau lakukan? Bagaimana caramu meyakinkan para investor?"
Mungkin semua dimulai sejak saat itu. Jimin mulai berteriak, "Kalau ada telepon dari pria menyebalkan bernama Min Woobin, katakan aku tidak ada di rumah!" Jimin mulai berkata 'anak bodoh!' saat melihat wajah Yoongi bentuknya yang mirip Woobin, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan berbicara sendiri dengan suara pelan. Namun, bagi Yoongi, kakaknya terlihat seperti bergelantungan di tali yang rapuh, sehingga ia hanya bisa merasa cemas sambil menahan napas.
Tak lama kemudian, kakaknya mulai menelepon terus-menerus. Sudah berapa kali Yoongi menutup telepon dan mengecewakan kakaknya yang berbicara dengan suara terdesak? Lama-kelamaan, suara kakaknya muali kasar, lalu entah sejak kapan, Woobin mulai membuang harga dirinya jauh-jauh dan memohon-mohon seperti orang terbuang. Ia meminta uang kepada Yoongi.
"Yoongi, kau punya uang, kan? Aku minta karena aku sangat terdesak. Kau bisa mentransfer empat juta won kepadaku? Ya?"
"Oppaaa, mana mungkin aku punya uang. Empat juta kan sangat besar!"
"Minta pada suamimu, bilang kau ada kebutuhan mendesak! Yoongi, tolong aku. Aku terdesak!"
"Oppa, aku kan sudah pernah memberikan dua juta won pada Oppa. Alasan apa lagi yang harus kugunakan… aku tidak bisa. Waktu itu Jimin memarahiku karena ia tahu aku akan memberikan uang itu pada Oppa. Aku tidak bisa, tidak bisa. Oppa…"
"Sial, Yoongi! Kau senang kalau satu-satunya kakak lelakimu masuk ke penjara? Dasar keterlaluan! Kau mirip sekali dengan suamimu, ya. Orang kaya memang menakutkan. Padahal aku saudaramu, dasar sial!"
Kejatuhan sebuah perusahaan benar-benar terjadi dalam waktu singkat.
Sesuai perkiraan Jimin, Woobin menggunakan segala cara untuk menyelamatkan perusahaan yang telah berubah menjadi kain lap. Akhirnya, sebuah perusahaan mengulurkan tangan untuk menolong perusahaan Woobin, tapi tanpa disadari, perusahaan finance itu menempatkan Woobin yang dulu dikenal sebagai pemilik perusahaan inovatif yang menjanjikan, berubah menjadi nama orang yang senang menghambur-hamburkan uang.
Bukan hanya itu.
Setelah akhirnya perusahaan Woobin mendapat sedikit keuntungan, juga mengadakan rapat pemegang saham, pecahlah krisis finansial. Peristiwa yang sangat buruk: kertas saham berubah menjadi tisu, akun bank pemegang saham menjadi kosong seketika. Woobin harus menerima panah penuh penderitaan di tengah peristiwa tersebut.
Seluruh berita TV di Korea membahas moral hazard perusahaan inovatif selama seminggu penuh, dan wajah Woobin selalu menghiasi layar TV setiap topik itu dibahas. Dalam waktu kurang dari setahun, Woobin yang dulu dikenal sebagai pahlawan perusahaan inovatif, berubah menjadi seorang pebisnis yang tidak bermoral dan tidak tahu diri.
Selama beberapa saat, Woobin mengakui kesalahannya dan bertekad membayar dosa-dosanya. Namun, ketenaran, otoritas, teman, bahkan wanita-wanita cantik yang biasanya mengelilinginya pun ikut meninggalkan saat ia sudah tidak punya uang. Apakah hanya itu balasan dari kebaikan seseorang? Pada akhirnya, yang didapatkan Woobin hanya kenyataan yang sangat kejam.
Saat Woobin dalam kesulitan, hanya suami Yoongi yang mengulurkan tangan padanya. Jimin maju untuk menolong Woobin, bahkan saat seluruh keluarganya melarangnya karena takut hal ini akan terulang lagi. Namun, Woobin sudah kehilangan akal sehatnya; yang ia lakukan saat itu hanyalah mencari-cari orang untuk dijadikan kambing hitam. Saat itu, Woobin seperti binatang buas kelaparan yang mendapatkan makanan lezat.
Jika bukan karena Park Jimin, aku takkan terjerumus dalam rayuan uang.
Jika bukan karena Park Jimin, perusahaan yang berjalan dengan lancar itu takkan hancur.
Jika bukan karena Park Jimin, aku takkan pergi ke sana kemari untuk mengems-ngemis dengan menyedihkan.
Jika bukan karena Park Jimin… akan kuhancurkan orang sial itu!
Woobin menyia-nyiakan kesempatan untuk memulai bisnisnya lagi. Jika Jimin bukan adik iparnya, Jimin pasti sudah menjadi musuh bebuyutan Woobin. Tidak ada yang menyangka Woobin bisa melakukan hal sebodoh itu.
Woobin yang sekarang adalah mantan narapidana yang pernah mendekam selama setahun lebih dua bulan di penjara. Itulah titel yang menempel pada Woobin setiap kali ia berniat mendirikan bisnis baru. Butuh waktu setahun lebih dua bulan bagi Woobin untuk membayar kesalahannya, ia tidak bisa lepas dari masa lalunya yang penuh penyesalan.
Meskipun begitu, Ibu masih memercayai Woobin. Ibu selalu menjaga Woobin dengan sepenuh hati. Ia menganggap Woobin sebagai manusia yang baru insaf dan akan membuka lembaran baru.
.
.
.
Setelah menyiapkan makanan kesukaan anaknya yang baru selesai menjalani kegiatannya, Ibu memandangi Woobin sambil tersenyum puas.
Oppa masih beruntung. Ia sangat beruntung karena ada orang yang memercayai dan mencintainya di sampingnya. Jangan lupakan hal itu.
.o.
Bantal duduk yang kaku karena udara dingin AC terasa seperti terbuat dari duri, dan asap rokok yang sedang diisap Woobin memenuhi ruangan tertutup itu. Merokok setelah makan merupakan cara Woobin untuk menghilangkan lelah, tapi Yoongi merasa tidak nyaman, apalagi karena Jimin bukan seorang perokok.
"Uh, uuukh…"
"Min, Yoongi! Nak, Woobin, matikan rokokmu. Sepertinya Yoongi mual."
"Dasar, aku tidak boleh merokok di rumahku sendiri, Bu? Suruh saja Yoongi ke kamarnya sendiri."
Jangan keterlaluan seperi itu, Oppa. Aku juga seperti Oppa, kok. Aku juga tersakiti. Sama seperti Oppa, aku hanya ingin tinggal di sini dengan tenang.
"Ukh, uuukh…"
Yoongi menutup pintu kamar mandi, memuntahkan asam lambungnya di toilet. Padahal, Yoongi melahap sangat banyak makanan malam ini, tapi ternyata yang keluar hanya asam lambung. Untunglah. Padahal, aku makan sangat banyak. Hampir saja aku merasa bersalah karena kukira akan memuntahkan makanan yang seharusnya dimakan oleh anakku.
Nak, maafkan pamanmu. Sebenarnya paman orang yang sangat baik. Paman sangat lembut dan suka bercanda. Ini hanya karena waktu yang tidak tepat. Saat kau hadir di dunia, Paman pasti akan sangat menyayangimu. Oleh karena itu, sekarang….
"Ya ampun, menantu Park sudah datang! Apa itu? Melon? Untuk Yoongi?"
Jimin sudah datang! Yoongi mendengar suara Ibunya menyambut Jimin dan tentu saja diikuti suara keluhan dari kakak Yoongi. Sudah berapa lama sejak kedua pria itu tidak bertemu? Aku sedikit cemas.
Omong-omong, Jimin benar-benar membawa melon? Ah! Tiba-tiba aku jadi ingin makan melon. Air liur yang manis memenuhi mulutku hanya dengan membayangkan buah berwarna kehijauan yang paling enak di dunia.
Ah, Aku harus keluar, tapi… cermin! Aku harus becermin dulu.
.
.
.
.
.
TBC
Maaf apdet telat ya... BTS comeback! Welkam to new era !
.
THANKS FOR READING
REVIEW PLEASE?
