After The Weeding

Novel Remake, karya Kim Ji-Oh

Min Yoongi

X

Park Jimin

MINYOON/MINGA/YOONMIN FANFICTION

RATED BERUBAH – UBAH SEWAKTU – WAKTU!

IF YOU DON'T LIKE. DON'T READ IT !

IF YOU WANT COPAS, WITH AUTHOR NAME JUSEYO

Genderswitch for Min Yoongi and other characters!

Happy reading~

.

.

.

.

Hoho~ sebelumnya makasih baik sider maupun yg bukan sider ataupun yg msh setia baca ini, favorit following juga. Makasih banyak. Mungkin pada bingung yah sm konflik yg terjadi. Ikutin aja alur ini terus. Nanti kalian jg paham. Aku dulu pertama baca ini juga bingung wkwk. Tp karena penasaran jadinya yahh dibaca terus. BTW ajhumma ingatkan ini emg remake novel ya sayang ^^

.

.

.

.

.

.

After the Wedding

Chapter 13

Orang-Orang yang Membuatku Sedih

Sewaktu kecil aku tidak mengerti makna dari 'mundur karena cinta'. Aku yang masih kecil menganggap Terius sangat tidak bertanggung jawab; aku juga berpikiran bahwa Terius merupakan kata sifat untuk menggambarkan seseorang yang sangat jahat. Walaupun begitu, sekarang aku berpikir bahwa pengkhianatan dan amarah merupakan salah satuhal yang dapat menunjukkan perasaan cinta. Jika kita mulai memahami semua hal rumit di dunia seperti ini, berarti kita telah semakin dewasa.

.

.

.

.

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat saat mereka berdua tiba di rumah. Mobil Yoongi terlihat di tempat parkir.

"Jimin, mobilku…"

"Iya, aku menyuruh orang untuk mengantarkannya ke sini dari tempat parkir kantor."

"Iya, terima kasih. Hah, omong-omong, melon yang tadi kumakan terus terbayang di mataku."

"Huh, kau mau memintaku untuk membeli melon setiap malam?"

Jimin sering mendengar cerita seperti itu. Istri yang sedang mengandung ingin makanan aneh di tengah malam, sehingga para suami harus mengalami kesulitan yang teramat sangat.

Akankah Jimin melakukan hal konyol seperti itu juga? Jimin yang baru saja berbicara dengan suara penuh dengan senyum. Aku jadi penasaran. Bagaimana kalau aku sedikit mengerjainya?

"Bagaimana, ya? Selain melon aku ingin…"

"Apa? Apa selain melon?"

"Aneh, ya? Kenapa sekarang aku ingin makan ikan bass?"

"Apa? Tahan, istriku. Kau kan muntah-muntah waktu memakan itu. Lalu, sebaiknya kau tidak makan ikan air tawar saat sedang mengandung."

"Benar?"

"Benar. Aku akan membelikan melon untukmu. Kau naik duluan, ya."

"Huh! Bohong. Aku akan membeli buku tentang kehamilan besok untuk memastikan semuanya!"

"Hahaha…"

Jimin tertawa. Tidak ada kerutan baru di dahinya, matanya juga tidak merah. Hanya ada kerutan halus di tepi mulut dan matanya. Ia tertawa sampai giginya terlihat. Tampan. Yoongi mengecup tepi mata Jimin. Bibir Yoongi masih bengkak dan sakit, tapi Yoongi masih dapat merasakan kerutan halus di tepi mata Jimin. Kerutan yang terlihat manis.

"Hmmm, kalau bibirmu sedang tidak seperti ini, aku pasti sudah membalas tindakanmu ini. Sayang sekali, Yoongi."

"Cih… memang ini salah siapa!"

"Walaupun begitu, kau kan suka!"

"Ya ampun! Siapa bilang aku suka!"

"Dasar."

"Itu berbeda! Mengatakan bahwa aku mencintaimu dan menciumku sampai bibirku kebas itu berbeda. Sangat berbeda!"

"Aku juga mencintaimu."

Aku tahu. Aku tahu kau mencintaiku, Jimin. Sangat tahu. Hmmm… aku jadi malu.

"…Beli melon atau makanan enak lain sana."

"Aku mencintaimu, Yoongi…. Min Yoongi! Aku mencintaimu!"

"…"

Aku seperti orang bodoh. Aku yang sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Aku yang selalu seperti anak kecil. Terima kasih karena kau mau menyayangi dan memeluk diriku yang bahkan terkadang kubenci.

"Kau tidak mau menjawab?"

"Haah, baiklah, baiklah. Iya, aku juga mencintaimu. Aku mencintaimu."

"Aku tidak bercanda!"

"Aku juga! Tidak… bercanda."

Aku mencintaimu setengah mati, Jimin. Aku mencintaimu sampai aku rela menjalani kehidupan yang berat seperti ini. Aku mencintaimu sampai terkadang aku ingin melarikan diri dari semua ini.

"Ke sini."

"Tidak mau. Beli melon sana."

"Kau tidak mau ke sini?"

"Hahaha… tidak mau! Sana beli melon! Melon, melon, melon!"

Jimin memandangi istrinya yang berjalan dengan riang dari tempat parkir ke dalam rumah mereka. Ia merasa senang karena sepertinya istrinya telah ceria lagi. Istrinya yang terlihat cantik walau hanya memakai kaus lusuh dan celana pendek. Lalu, ada nyawa baru di balik baju itu. Bahagia. Inilah yang namanya kebahagian.

Benar.

.o.

"?"

Kenapa pintu utama terbuka…. Ada apa ini? Pembantu belum pulang? Aneh. Perasaanku kok jadi tidak enak.

"Bibi, kenapa pintu utama terbuka? Masih— Ibu…"

"Kau, penampilanmu!"

Malam sudah sangat larut, tapi ibu Jimin masih tetap datang ke rumah Yoongi. Entah sejak kapan Ibu menunggu di ruang tamu gelap yang hanya diterangi cahaya temaram lampu meja.

Kata-kata dingin apa yang akan diucapkan lagi oleh Ibu? Seharusnya aku datang ke rumah mertua kemarin, tapi aku tidak datang dan keluar rumah seharian.

Ibu Jimin menatap Yoongi seakan banyak yang ingin ia sampaikan. Yoongi merasa pusing. Ia merasa mual.

"Ibuuu…"

"Berisik! Siapa bilang aku ibumu. Berani-beraninya kau memanggilku dengan sebutan Ibu dengan mudahnya."

"Ibu salah paham."

"Salah paham? Kalau begitu, jelaskan keberadaanmu selama seharian ini kepada ibu mertuamu, agar ibu mertuamu ini mengerti."

"Aku, itu…"

Tidak bisa. Aku tidak boleh mengatakannya. Jika aku mulai bercerita kepada Ibu, cerita mengenai anakku juga akan terbongkar. Kali ini tidak boleh. Jimin, cepat kembali. Jimin!

"Kenapa kau tidak bicara? Pasti kau menyembunyikan sesuatu, apalagi dengan penampilanmu yang seperti ini. Singkatnya, pasti kau sedang menggoyangkan ekormu. Kalau Jimin tahu kau bepergian dengan penampilan seperti ini… ia pasti tidak tahu. Kalau ia tahu, pasti ia sudah marah besar padamu. Pasti ia tidak tahu karena sampai saat ini ia diam saja. Kau pintar sekali. Kau berencana pergi keluar dan mencari jalan pintas karena kau lelah menunggu Jimin untuk mengajakmu berpisah, kan?"

"Salah paham, Bu. Ini benar-benar salah paham."

"Diam! Aku akan menunggu Jimin pulang dan menyelesaikan semuanya. Dasar licik."

"Tidak, bukan begitu. aku tadi bersama Jimin."

"Berbohong lagi! Tadi Jimin meneleponku dan mengatakan ia ada di kantor! Memangnya kau ikut ke kantornya?"

"Ibu, bukan begitu…"

"Apa? Bukan begitu? Hah, dasar. Mengangkat anak seperti ini menjadi menantu…"

Ibu Jimin yang salah paham dan sedang menetapkan hati. Yoongi selalu tidak bisa menjelaskan dirinya di depan Ibu mertuanya. Ia merasa seperti disayat-sayat. Tidak berdaya. Sesak. Ingin lari. Lehernya selalu sesak oleh penyesalan.

"Kami takkan berpisah, Bu."

Air mata Yoongi mengalir. Ia berbicara dengan susah payah di sela-sela tangisannya. Namun, seperti biasa, Ibu Jimin menatapnya tajam dan berbicara keras. Selalu begitu.

"Kau tidak lihat penampilanmu, ya? Berani-beraninya kau berbicara sombong seperti itu!"

"Salah paham!"

"Berisik! Kau menganggap enteng diriku, ya, karena aku dari tadi hanya duduk dan berteriak padamu! Aku takkan membiarkan masalah ini lewat begitu saja."

"Walaupun… walaupun Ibu begitu…"

Walaupun ibu begitu, Jimin berkata bahwa ia mencintaiku! Ia berkata ia mencintaiku! Begitu, Bu. Benar, benar.

Yoongi menangis, tenggorokannya tercekat, sementara suara tajam Ibu mertuanya memenuhi seisi rumah. Perkataan tajam dan dingin itu menyelimuti seluruh tubuh Yoongi.

Buk!

"Ibu!"

Melon berwarna hijau menggelinding di pintu rumah yang terbuka. Jimin menatap Ibunya tidak percaya. ibu Jimin menoleh ke arah Jimin saat mendengar teriakannya.

Jimin, kau sudah datang. Jimin, kenapa baru datang sekarang? Kau malah membeli melon seperti orang bodoh. Kenapa baru datang sekarang? Sakit. Sakit setengah mati, Jimin. Perkataan Ibu…

"Apa maksud Ibu? Ibu selalu… seperti ini? Ternyata Ibu selalu memperlakukan Yoongi seperti ini saat aku tidak ada!"

"Jimin! Kenapa kau berbicara seperti itu? Kau… duduk di sini. Selama ini Ibu bersabar karenamu, tapi lihat penampilannya. Perempuan yang sudah menikah berkeliaran tengah malam dengan penampilan seperti itu, ia baru pulang jam segini. Dasar, sulit dipercaya!"

Sebelumnya suara Ibu Jimin sangat tajam, tapi sekarang, Ibu Jimin bicara dengan suara yang lembut, sambil menyeret anaknya ke sofa di dekatnya. Sosok Ibu yang selama ini Jimin kenal. Yoongi tidak percaya dengan perubahan di depan matanya, sementara Jimin sedang berusaha keras menenangkan hatinya. Ibu Jimin bukanlah orang yang tidak dapat menahan emosinya. Ia adalah sosok yang rasional dan berpendidikan, sosok yang selalu berpikir sebelum bertindak. Jimin mencoba berbicara dengan Ibu yang ia kira memiliki sifat seperti itu.

"Minta maaflah kepada Yoongi, Bu."

"Apa?"

"Minta maaf, Bu. Dengarkan penjelasanku dan jangan salah paham lagi. Minta maaflah sekarang."

"Hah! Terserah Ibu, mau salah paham atau tidak. Ibu ingin mencoba mendengarkan penjelasanmu. Ibumu ini sudah kehabisan kata-kata."

"Yoongi mengandung, Bu. Tadi aku mengantarkannya ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya. Dokter menyuruhnya untuk tinggal sementara di rumah keluarganya… tapi kami pulang lagi karena ada sesuatu yang terjadi."

"Anak bodoh itu hamil lagi?"

Menantu perempuan satu-satunya tengah mengandung, tapi reaksi Ibu Jimin benar-benar tidak seperti yang diharapkan. Jimin memandang Ibunya curiga. Sepertinya ada yang terlwat olehku, sesuatu yang penting.

"Ibu bilang… lagi? Yoongi, apa maksudnya?"

Jimin benar-benar cepat tanggap. Ia memandang ibunya dan Yoongi bergantian. Salah satu dari mereka harus menjelaskan arti semua ini. Keduanya terlihat tidak ingin membuka mulut mereka. Terbakar. Hati Jimin merasa terbakar melihat mereka.

"Ibu? Yoongi!"

Jimin memandang dua perempuan di hadapannya dengan ekspresi kacau-balau, yang disebabkan oleh perkataan ibunya yang tak dapat ia mengerti sama sekali. Ibu Jimin menggigit bibirnya, sedangkan Yoongi terus menundukkan kepalanya sambil memutar-mutar cincin kawin yang tersemat ditangannya dengan wajah kosong.

Ada sesuatu! Ada sesuatu yang terjadi di antara dua perempuan ini…

"Ini pertama kalinya Yoongi mengandung sejak kami menikah. Benar, kan, Bu?"

"Mungkin."

Ibu menjawab, pertanyaan Jimin dengan jawaban yang membingungkan, sementara Yoongi menatap Jimin dengan kosong sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sial! Aku tidak mengerti kenapa Ibu sampai mengeluarkan kata 'lagi'. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Ibu terlihat sangat berusaha keras mempertahankan ekspresi dinginnya? Dan kenapa Yoongi terlihat seperti orang yang sedang sesak napas?

Apa… jangan-jangan… tidak mungkin.

Jimin kesulitan menahan pikiran-pikiran mengerikan yang berkelebat dalam kepalanya. Ibunya adalah orang yang mengajarkan kepadanya bahwa nyawa adalah hal yang paling berharga di dunia. Tidak mungkin! Benar, tidak mungkin! Jimin berkata sambil terus menatap ibunya yang selalu bersikap elegan dengan seksama.

"Aku sangat senang karena Yoongi hamil. Ibu juga sama denganku, kan? Ibu juga senang, kan?"

"Huh! Tidak tahu, ya."

"Apa maksud Ibu?"

"Maksud Ibu, kau harus memastikan dulu apa anak yang dikandungnya benar anakmu atau bukan, Jimin."

"Tentu saja itu anakku, Bu."

"Kau benar-benar bodoh, ya. Kau memang selalu memihaknya. Lihat penampilannya. Kau pikir penampilannya cocok untuk seorang perempuan yang sudah menikah? Mau dilihat dari sisi mana pun…"

Untuk sesaat, Jimin memperlihatkan ekspresi penuh kejijikan karena ibunya tidak kunjung mau meluruskan kesalahpahaman. Lalu, Jimin mengucapkan kalimat yang seharusnya ia tidak ucapkan di depan ibunya. Mengucapkan kalimat itu dengan mata yang penuh amarah.

"Aku yang menyuruhnya, Bu."

"Apa?"

"Aku yang menyuruhnya memakai pakaian seperti itu. Apa aku perlu menjelaskannya lagi dengan lebih sederhana agar Ibu mengerti?"

"A, anak ini mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan di depan orang tua…"

Ibu Jimin yang sangat terkejut dengan perkataan Jimin berteriak. Kalimat itu sangat tajam untuk dikatakan di depan orang tua. Jimin memandangi Ibunya dengan ekspresi seperti orang kesakitan. Ia berharap semuanya akan tersenyum dan masalah ini akan lewat begitu saja.

"Ibu, Ibu ingin minta maaf terlebih dulu atau memberi selamat lebih dulu? Kami tidak peduli Ibu memilih yang mana."

Jimin berkata seperti itu di depan ibunya yang terlihat sangat marah. Ia merasa tidak enak, karena dengan jelas memperlihatkan bahwa ia memihak Yoongi. aku harus menyelesaikan masalah ini sampai ke akar-akarnya. Jimin menatap lembut ibunya, yang kehilangan kata-kata karena permintaannya.

Ia berharap bisa segera keluar dari situasi ini, karena peristiwa ini hanya akan menjadi luka bagi ibunya, dirinya sendiri, dan khususnya bagi Yoongi. ia ingin menuntaskan masalah ini untuk selamanya. Ia sungguh-sungguh!

"I, Ibu… tahu semuanya akan jadi seperti ini! Ibu tahu akhirnya semua akan jadi seperti ini. Buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya, ya? Ibu telah membesarkan dan mendidikmu dengan susah payah. Ternyata kau tetap tidak bisa dari bibit aslimu yang kotor dan tidak jelas asal-usulnya!"

Ibu Jimin mengeluarkan seluruh amarahnya dengan suara tajam. Ia merasakan pengkhianatan yang amat dalam saat melihat anak angkatnya lebih memihak istrinya. Namun, reaksi Ibu Jimin terlalu berlebihan.

"!"

"?"

Wajah Jimin mendadak menjadi kaku. Kerutan baru muncul di tengah dahinya, matanya menjadi menakutkan lagi, menakutkan.

Aku tahu Jimin adalah anak angkat. Tapi apa maksud perkataan Ibu? Tidak, aku tidak ingin tahu jawabannya. Aku harus menghindar. Nak, ayo kita melarikan diri. Yoongi merasa sesak. Ia tidak sanggup melihat pertengkaran antara Jimin dan ibunya, sehingga ia memutuskan untuk keluar ruangan. Tak seorang pun yang menghentikan Yoongi. Ibu dan Jimin saling menatap dengan tajam. Jimin sedang berusaha keras untuk memahami makna dari perkataan ibunya.

Kenapa semuanya bisa jadi seperti ini? Kenapa tiba-tiba Ibu berbicara seperti itu? Jimin tidak dapat memandang ibu angkatnya yang telah membuka aibnya yang terdalam. Aib yang ingin ia sembunyikan selamanya jika ia bisa. Hidup dengan berpura-pura bahwa aib itu bukanlah kenyataan.

Anak yang dilahirkan dan diperlukan seperti keponakan oleh ibu kandungnya sendiri. Kim Jimin. Masa lalunya yang kotor dan menjijikkan. Asalnya, akarnya.

Tapi! Bukan orang lain, melainkan ibu angkatnya sendiri yang mengatakan hal itu kepadanya. Jimin bahkan tidak dapat membayangkan hal ini.

Ibu, Ibu benar-benar menusukku dari belakang…

Dan pikiran Jimin melayang mengingat saat pertama kali ia bertemu dengan sepasang suami-istri dari Seoul yang menjadi orang tua angkatnya sekarang…

Flashback Start

"Nak, ke arah mana aku harus pergi kalau kau ingin ke tepi laut— ya ampun!"

Seorang perempuan dengan baju berwarna ceri memanggilnya dengan logat Seoul yang lembut. Lelaki berwajah pucat berdiri satu atau dua langkah di belakang perempuan itu. Mereka pasti orang kaya dari Seoul yang akan berlibur untuk sementara di 'vila Geo Je-Do'. Namun, perempuan itu sangat terkejut saat melihat Jimin yang menoleh ke arahnya.

"Luar biasa. Su, suamiku."

Lelaki yang berdiri di belakang perempuan itu langsung mengarahkan perhatiannya kepada Jimin. Ia juga merasa sangat terkejut. Jimin, yang tidak memiliki setetes pun darah mereka, sangat mirip dengan mereka. Kulit pucat dan alis tebal, bibir tebal. Serta hidung yang sangat mancung. Jika orang melihat mereka berdua, mereka pasti berpikir bahwa anak lelaki dan perempuan itu adalah ibu dan anak, atau setidaknya berpikir bahwa mereka memiliki keturunan darah. Padahal, Jimin yang biasanya bersih dan elegan sedang kotor hari itu. Walaupun begitu!

Jimin tidak terlalu ingat, tapi sepertinya ia mengatakan bahwa mereka akan menemukan laut ke manapun mereka berjalan, karena tempat itu adalah sebuah pulau. Jimin berbicara dengan dialek daerah yang sangat kental. Tapi, cara bicaranya sangat jelas. Sebelum pergi, suami-istri itu mengelus-elus kepala Jimin sambil memuji bahwa Jimin adalah anak yang pintar dan lucu. Jimin segera membalikkan badannya dan melupakan pertemuan itu begitu saja. Ia menganggap ia hanya bertemu dengan orang asing, tidak lebih.

Namun, pasangan tersebut berpikiran berbeda. Dua hari kemudian, saat Jimin sedang bermain bersama anak-anak desa dengan gembira, mereka datang ke rumah Jimin. Sampai sekarang, Jimin tidak tahu apa yang mereka bicarakan saat itu.

Sebulan kemudian, mereka datang kembali ke rumah Jimin. Saat itu Jimin tidak ada di rumah. Ia sedang pergi ke pantai dengan teman-temannya untuk menyelam. Mereka bahkan bertaruh untuk membuktikan siapa yang paling mahir berenang. Mereka bertanding untuk membuktikan siapa yang paling tahan menahan napas di dalam air. Mereka juga menangkap kerang dan sea squirt.

Ia bermain dengan sangat senang, tapi tidak dapat menemukan bibinya saat ia pulang ke rumah. Orang-orang tua di rumahnya dan kakak sepupunya duduk membentuk sebuah lingkaran di atas dipan dengan ekspresi yang sangat serius.

Terdengar seseorang berbicara: "Kita nggak boleh biarkan ia hidup dihina oleh orang lain. Ini lebih baik. Lepaskan saja, kita juga belum buat akte kelahiran buatnya, lapor juga belum, justru bagus kalau ia pergi ke sana. Itu namanya untung. Sudah lepaskan saja" adalah perkataan bibinya yang setuju dengan kepergiannya. Jimin juga masih ingat pamannya yang mengatakan: "Mereka akan ambil anak itu, bahkan mereka juga kasih uang ke kita." Dan sepertinya neneknya juga berkata: "Pikirkan ibunya, dong. Kalau kita biarkan anak itu pergi, ibunya pasti sedih sekali. Ia anak yang lahir dari perutnya."

Pembicaraan mereka berlangsung sangat lama walaupun keputusan akhirnya sudah sangat jelas. Kim Jimin berubah menjadi Park Jimin. Jimin sudah tidak peduli bagaimana caranya orang tua angkatnya membujuk keluarganya di Geo Je-Do, atau berapa banyak uang yang mereka keluarkan untuk mendapatkannya, karena beberapa hari kemudian, Jimin terlahir kembali saat tiba di Seoul dan bertemu dengan ayah dan ibu yang baik.

Ibu angkatnya mengubah cara berpikir dan tingkah laku Jimin yang berumur tujuh tahun. Ia memperbaiki intonasi bicara Jimin yang kasar tapi bersahabat. Ia selalu memandikan Jimin dengan air bersih, memakaikannya pakaian yang rapi, dan menyuruhnya untuk selalu bersikap berani. Anak yang sebelumnya makan sup dengan berantakan kini semakin mirip dengan dirinya, sehingga kasih sayangnya terhadap anak itu semakin besar dan dalam.

Anak dan ibu yang sempurna itu memang ditakdirkan bersama. Ibu angkat yang telah berhasil mengubah anak desa dari Geo Je-Do menjadi anak presdir Park, menjadi anak hebat dengan status yang paling elite.

Jimin tidak pernah mengecewakan ibunya. Ia selalu mendapat peringkat satu—prestasinya sangat bagus—di sekolah. Ia juga selalu menjadi yang terhebat dalam setiap kegiatan ekstrakulikuler yang dipilihnya. Kasih sayang ibunya semakin dalam.

Sangat.

Hubungan ibu dan anak mereka hampir tidak pernah bercelah, kecuali pada waktu itu. Celah itu disebabkan oleh tugas seni Jimin waktu ia masih SMP. Jimin ditugaskan untuk melukis Ibu. Jimin mengerjakan tugas itu semalam suntuk. Paginya, ia menyiapkan barang-barang yang ia harus bawa ke sekolah, lalu meletakkan lukisannya di atas tasnya agar catnya cepat mengering. Beberapa saat kemudian, Jimin sangat terkejut ketika masuk ke kamarnya sebentar setelah makan pagi.

Ibu sedang merobek-robek kanvas yang masih setengah basah, lalu jatuh ke lantai dan menangis tersedu-sedu. Secarik lukisan Jimin terselip di tangan pucat ibunya. Di lukisan itu, tampak seorang perempuan desa berwajah putih dengan tatapan kosong. Walaupun Jimin telah lama tinggal dengan orang tua angkatnya, bagi Jimin 'Ibu' merupakan sosok yang tak tergantikan. Peristiwa yang akhirnya menyadarkan Jimin walau sudah terlalu terlambat.

Setelah itu, Jimin dan ibunya menutup mulut mereka rapat-rapat akan peristiwa itu. Mereka berdua pura-pura tidak tahu dan menganggap hal tersebut tidak pernah terjadi. Mereka terus bersikap seperti itu sampai akhirnya tahun demi tahun pun berlalu. Akhirnya, muncullah sebuah kesempatan konyol—atau mungkin 'lebih baik' disebut sebagai kesempatan yang pas—yang membuat mereka menjadi akrab lagi.

Ah, pemakaman ibu kandungnya di Geo Je-Do yang menjijikkan, kejam, dan tragis, membuat harga diri Jimin tercabik-cabik. Entah karena ingin melakukan hal yang manusiawi atau ingin berlaku sebagai anak yang baik, Jimin memberi penghormatan terakhir di rumah duka, bahkan ia juga mendatangi makam ayah kandungnya… tapi bagi Jimin yang masih muda, mengemban beban seberat itu di punggungnya merupakan hal yang sangat menyedihkan, karena sejak saat itu ia menyadari bahwa dirinya adalah anak yatim piatu.

Jimin tiba di Seong Bok-Dong pada tengah malam. Rumahnya sudah dalam keadaan gelap, tapi ibunya masih menunggunya sambil duduk di bangku taman di samping pintu gerbang. Ibu yang sedang menunggu kepulangannya hanya diterangi cahaya lampu taman yang temaram. Ibu. Ibunya…

Jimin masih ingat saat itu.

Kim Jimin merupakan anak yatim piatu, tapi tidak dengan Park Jimin. Park Jimin adalah anak beruntung yang masih dapat tinggal dengan ayah tampan dan ibu yang hanya dan baik. Mulai saat itu, Kim Jimin telah berubah menjadi Park Jimin.

Jimin menetapkan hatinya. Air matanya mengalir tanpa henti. Tanpa disadari, ia telah berada di pelukan ibunya. Ia menangis, menangis dan menangis. Ia terus menyebut "Ibu, Ibu, Ibu…" sambil menangis keras. Itu adalah pertama dan terakhir kalinya ia menangis sekeras itu. Ia melupakan wajah bibinya—ibu kandungnya—, ia berubah menjadi Park Jimin, seorang anak dari keluarga kaya yang tinggal di Seoul.

End of Flashback

Present Time…

Dan walaupun begitu, walaupun begitu… Jimin, yang telah hidup menjadi Park Jimin selama dua puluh tujuh tahun, tumbang dalam semalam. Bukan karena siapa-siapa, melainkan karena ia, karena ibu angkatnya. Ibu seorang Park Jimin sendiri!

Jimin menjatuhkan dirinya ke lantai. Ia menutup wajahnya dengan tangannya yang besar dan pucat. Air matanya mengalir. Dua wajah muncul dalam kepalanya yang tiba-tiba kosong. Wajah bibi yang putih dan terlihat sedih dan… wajah ibu angkatnya yang memandangnya dengan tatapan lembut. Jimin menjerit tanpa suara, tatapannya terkunci pada lantai.

Ibu, Bibi, Bibi, Ibu. Kenapa kalian berdua hanya bisa membuatku sedih? Kenapa kalian selalu membuatku merasa kesepian? Kenapa kalian membuatku membenci kalian? Kenapa! Sebenarnya kenapa!

.o.

Malam sudah larut. Yoongi keluar dari rumah dengan menyetir mobil, tapi ia tidak memiliki tujuan. Ia ingin ke rumah keluarganya, tapi ia tidak ingin membuat ibu dan kakaknya cemas. Terlebih kakaknya, yang bisa langsung mengambil pisau dan membunuh Jimin dalam keadaannya sekarang. Semua akan lebih baik jika ia tidak pergi ke rumah keluarganya. Namun, Yoongi juga tidak dapat pergi ke rumah temannya. Semua teman yang masih berhubungan dengannya telah menikah; mereka pasti akan mencurigai Yoongi jika ia datang ke rumah salah satu dari mereka.

Yoongi yang tidak bisa berbuat apa-apa akhirnya menyetir sampai daerah Olympic. Persimpangan jalan. Kemana aku harus pergi? Kemana aku harus lari? Sepertinya tangan kananku lebih kuat dari tangan kiriku. Yoongi pun mengarahkan mobilnya ke kanan, sampai akhirnya ia tiba di ujung jalan. Ia sudah berada di Incheon.

Hampir tidak ada mobil yang menuju tempat itu. Orang-orang juga sangat jarang terlihat. Yoongi melihat-lihat daerah sekitarnya dengan tatapan kosong sambil terus melajukan mobilnya.

Apa ini? Otak Yoongi yang sedari tadi tidak dapat bekerja tiba-tiba disadarkan oleh informasi yang mengejutkannya.

Jelas-jelas papan di jalan mengatakan sampai jumpa, yang berarti aku sedang berjalan meninggalkan Seoul, lalu aku juga melihat papan yang menyatakan bahwa aku sudah tiba di Gyeong Gi Do, tapi kenapa sekarang ada papan yang menunjukkan bahwa aku masih berada di dalam Seoul? Padahal, tadi aku sudah sampai di Buncheon, tapi kenapa sekarang ada sebuah papan lagi yang menyatakan bahwa aku ada di Seoul? Lalu, kenapa sekarang ada papan yang menyatakan bahwa aku sedang berada di dalam area Incheon!*

Kepalaku pusing.

Dimana aku sekarang?

Sepertinya aku sudah keluar dari daerah Seoul. Atau aku masih ada di daerah pinggiran Seoul?

Yoongi yang kebingungan menghentikan mobilnya di pinggir jalan.

Ia ingin menghela napas, tapi ia harus menahan diri karena tahu ia akan menangis kalau sampai menghela napas. Ia harus menahan diri untuk menghela napas dan menangis.

Yoongi mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan menundukkan kepalanya. Ini karena malam yang terlalu gelap, kan? Atau karena kaca mobil yang tertutup uap? Kenapa semuanya terlihat putih sekali?

Yoongi juga melirik sekilas ke cermin. Wajah muram di tengah kegelapan yang terlihat seperti hantu berkelebat di dana. Seharusnya aku tidak melihat cermin. Kenapa mataku seperti tersengat, sih?

Yoongi mengusap-usap matanya dengan punggung tangannya. Air menetes dan membasahi tangannya, ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, membuka matanya lebar-lebar, tapi kenapa air mata masih mengalir? Tanpa disadari, Yoongi tertawa getir.

"Hahaha."

Entah bagaimana caranya, tawa pendek itu menyadarkan Yoongi kembali.

Ayo pergi sekarang. Ayo pergi ke suatu tempat. Jangan ke tempat yang menyesakkan dada seperti tempat seperti ini. Ke suatu tempat persembunyian, tempat persembunyian sekaligus tempat peristirahatan.

Entah karena sudah malam atau karena ini adalah perjalanan jauh pertamanya, Yoongi tiba di bandara internasional dua jam kemudian. Sebenarnya memang tidak ada jalan selain menuju bandara internasional jika seseorang sudah berada di Incheon, sehingga Yoongi tidak punya pilihan lain kecuali bandara.

Walaupun sudah larut, bandara masih tetap dipenuhi orang-orang yang akan bepergian. Langit di sana juga dipenuhi suara bising. Yoongi menatap langit dengan hati-hati. Cahaya lampu bandara menyinari langit, cahaya yang sangat terang sampai membuat langit terlihat seperti siang hari. Langit yang membuat pesawat yang sangat besar terlihat seperti sebuah titik kecil.

Jauh, aku ingin pergi jauh,, aku ingin pergi jauh dan bersembunyi agar tidak ada yang dapat melihatku. Harus seberapa jauh aku pergi agar aku benar-benar pergi dengan 'jauh'? Amerika? Sekitar Eropa? Atau, benar… Maladewa! Kalau aku ke sana, aku pasti jauh dari dunia yang menyesakkan dan orang-orang yang menyakitiku, kan?

Jauh dari suami yang kucintai, aku memang tidak sanggup jika harus berada di samping terus. Jauh dari ibu mertua yang tidak pernah bisa puas walau aku sudah berusaha sekuat tenaga, jauh dari kakak kandung yang hubungannya makin memburuk denganku. Aku ingin melepaskan semuanya dan bersembunyi sendirian. Tidak, berdua dengan anakku. Aku hanya ingin berdua. Iya, kan, Nak? Ya?

"Apa?"

"Paspor, Nona. Anda tidak punya paspor?"

Yoongi sudah masuk ke bandara, tapi bukan berarti ia bisa langsung pergi ke luar negeri. Ada hal-hal yang menghalangi menunggu Yoongi. masalahnya bukan terletak pada Maladewa.

Yoongi berdiri sambil memegang tas jinjing kecil. Yoongi, yang seperti ingin membeli tiket bus ke desa sebelah, berkata "Aku ingin tiket ke mana pun yang datang lebih dulu." Tapi penjual tiket hanya memandangnya dingin. Yoongi telah menetapkan tujuannya, tapi semua itu tidak berguna karena ia tidak membawa paspor. Namun, dari awal Yoongi memang tidak berniat pergi keluar negeri, sehingga ia tidak membawa paspornya saat meninggalkan rumah.

Mata pegawai bandara terus-menerus mengarah ke polisi bandara. Ia tidak mengatakan apa pun kepada Yoongi. Hati Yoongi, yang tadinya melayang karena berpikir bahwa ia dapat pergi jauh, langsung runtuh seketika. Tidak ada yang berjalan sesuai keinginanku. Benar.

"Jika Nona butuh paspor…"

Sepertinya pegawai bandara ingin mengatakan sesuatu, tapi Yoongi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan membalikkan badannya. Tidak ada yang berjalan sesuai keinginanku, semua hanya mengusikku dan membuatku kesal. Tidak ada tempat untukku beristirahat di bawah langit yang luas ini.

"Tidak perlu, Pak. Tidak perlu."

Semuanya sudah selesai.

Yoongi berjalan meninggalkan loket bandara dengan gontai. Terlihat taksi yang berjejer panjang di luar. Yoongi yang lunglai karena kelelahan masuk ke salah satu taksi tersebut dan mengistirahatkan badannya.

"Mau ke mana?"

"Jangan ke Seoul, ke suatu tempat di Incheon."

"Apa, Nona?"

Sopir taksi langsung memastikan kembali jawaban pelan Yoongi. Yoongi mengangkat badannya dengan susah payah. Seperti orang bodoh, ia telah menjadi tontonan di bandara, bahkan sekarang, membuat sopir taksi menganggapnya aneh.

"Incheon, hotel di Incheon. Ah, apa namanya, ya?"

"Hotel di Incheon bagian mana? Di daerah dermaga atau daerah Songdo?"

"Ke… dermaga."

Akhirnya, Yoongi memutuskan pergi ke hotel yang terletak di daerah dermaga di Incheon. Akhirnya, aku pergi ke laut juga. Untuk sesaat, Yoongi melupakan kesedihannya gara-gara tidak bisa pergi ke Maladewa. Ia tertidur di dalam taksi yang melaju cepat di jalanan malam yang kosong melompong.

Ia membuka mata saat subuh menjelang. Ia melihat laut, laut di depan dermaga… Bau amis hasil limbah rumah tangga dari laut itu menusuk hidung Yoongi.

Laut tanpa matahari. Laut yang gelap gulita. Aku ingin ke laut. Aku ingin ke laut eksotis berwarna biru cerah seperti Maladewa, aku ingin ke laut sungguhan!

Nak, Ibu akan memperlihatkan laut padamu. Ayo hidup dengan Ibu di laut sungguhan.

Ibu akan membuang laut palsu yang dipenuhi masalah menjijikkan dan rumit.

Kita akan hidup di tempat yang memiliki laut 'sungguhan'. Benar, ayo.

TBC

*Catatan penulis: Jalan seperti ini memang ada di jalan menuju Incheon. Jalan ini dapat membuat orang yang pertama kali melewatinya kebingungan, tapi papan penunjuk jalan di sana memang seperti itu, karena Seoul, Incheon, dan Bucheon saling berbatasan.

.

.

.

.

.

.

TBC

Maaf apdet telat ya... ah gabisa berkata"/?. Bingung dah. H-4 pengumuman UN. Dan H-5 ultah ajhumma ke 18 ;;-;;

THANKS FOR READING

REVIEW PLEASE?