Mianhae Chingu-ya

.

By Seoglyu Yeowang

.

Main Cast : Cho Kyuhyun and Lee Sungmin.

.

Genre: Romance, Friendship, Mystery

.

Length: Chaptered

.

Rate: T to M

.

Disclaimer: Author hanya meminjam nama mereka tetapi cerita dan ide ini milik saya. Apabila ada kesamaan kejadian, waktu dan tempat itu hanyalah kebetulan semata.

.

Warning: Newbie, GS, Typo(es) dan Original Chara bertebaran dimana-mana

.

DON'T LIKE DON'T READ

SILENT READERS AND PLAGIARIST AREN'T ALLOW

.

CHAPTER 6: Mianhae Chingu-ya

Enjoy it!

.

Musim semi merupakan musim yang paling disukai, dimana bunga-bunga kembali bermekaran, mengubah padang salju menjadi padang bunga yang indah. Musim semi merupakan masa dimana siswa-siswi sekolah menengah kembali ke sekolah setelah libur musim dingin, tak terkecuali siswa-siswi Chungbuk National High School. Seorang gadis sederhana yang terlihat sangat cantik diusianya yang mulai beranjak dewasa, rambut hitam sepunggungnya dibiarkan terurai cantik dengan jepit rambut strawberry yang melekat di atas telinga kirinya. Dia merupakan siswi tingkat akhir Chungbuk National High School, berasal dari keluarga sederhana yang tinggal di daerah Gwangi-ri, Maro-myeon, Boeun-gun, Chungcheongbuk-do. Park Hye Na namanya.

"eommaaaaa, appaaaaa aku berangkat duluan neeee mmmuah." Ucap Hye Na kemudian mengecup pipi eomma dan appa nya yang sedang duduk di meja makan.

"yak gadis nakal! Seharusnya kau habiskan sarapan mu terlebih dahulu." Teriak sang eomma ketika putri sematawayangnya pergi. Bagaimana tidak, Hye Na berangkat kesekolah dengan kondisi yang masih "berantakan", dasi yang hanya menggantung dileher, baju yang dikeluarkan, tas yang hanya disampirkan dibahu, tangan kiri yang memegang minuman serta mulut yang menggigit roti sarapan mereka.

"ah, mian eomma. Aku sudah terlambat." Ucapnya sembari tergesa-gesa memakai sepatu dengan satu tangannya yang masih menganggur.

Setiap pagi Hye Na memang harus berpacu dengan bus yang membawanya kesekolah. Bus berharga 10.000 won itu hanya akan berangkat setiap 3 jam sekali, atau dia harus merelakan uang 45.000 wonnya untuk menggunakan taksi jika terlambat. Hye Na bukanlah gadis bodoh yang lebih memilih bersekolah yang jaraknya mencapai 50 km dari rumahnya. Seoul National University adalah tujuannya, tujuan untuk menggapai mimpinya menjadi seorang penulis yang terkenal. Jika Hye Na tidak bersekolah disana tentu dia tidak akan mungkin bisa diterima disana, Chungbuk National High School tentu memiliki fasilitas sarana belajar mengajar yang lebih menunjang dibandingakan dengan sekolah-sekolah yang ada disekitar rumahnya. Sang appa bahkan telah menawarkan diri untuk mengantarnya tetapi dia bukanlah seorang anak yang merelakan sang appa terlambat bekerja hanya untuk mengantarnya setiap hari.

Hampir disetiap desa bus berhenti untuk menaik-turunkan penumpang di halte yang tersedia. Didaerah balsan-ri kursi disebelah Hye Na pun terisi oleh sahabatnya Lee Ha Ni.

"hei tumben sekali kau tidak terlamabat." Sapanya begitu duduk

"apa kau gila? Ini bahkan masih hari pertama. Tapi tadi pagi hampir saja aku terlambat." Jawab Hye Na.

"sudah ku duga."

"kau dikelas berapa?" Tanya Hye Na mengganti topik pembicaraan.

"12C, kau?"

"12 A." Jawabnya singkat. Tak ada pembicaraan diantara mereka setelahnya. Hye Na terlalu sibuk dengan aktifitasnya memperhatikan bunga sakura yang bermekaran disepanjang jalan, sementara Ha Ni sibuk dengan aktifitasnya mendengarkan lagu terbaru dari album yang baru dirilis oleh boyband kesukaannya.

Setelah 27 menit akhirnya bus berhenti ditujuan terakhirnya, Namcheonju Bus Station. Dari sana kami hanya tinggal berjalan sejauh 143 meter untuk tiba didepan gerbang. Banyak siswa-siswi berseragam sama yang kami temui disepangjang perjalanan, salah satunya Park Hye Jin. Gadis bermarga sama dengan ku ini merupakan tablemate ku ketika kami ditingkat awal.

"Hye Na-ya, Ha Ni-ya senang sekali bertemu dengan kalian disini." Sapa Hye Jin

"Ah, Annyeong Hye Jin-ya." Ucap Hye Na ramah.

"hei, kenapa kau terlihat murung dihari pertama sekolah?" Tanya Hye Jin sambil menyenggol bahu Ha Ni. "Apa dia kehabisan album terbaru dari boyband kesukaannya?" Tanya Hye Jin pada Hye Na.

"Entahlah." Itu Hye Na yang menjawab

"aku sedih karena kami tidak satu kelas lagi." Jawab Ha Ni murung. "tunggu dulu, kau dikelas berapa?" Tanya Ha Ni penuh harap.

"aku dikelas 12A" jawab Hye Jin tak minat "memangnya ada apa?"

"aku tidak mempunyai kenalan disana, bagaimana ini?" ucap Ha Ni lebay "kalian enak bisa duduk satu meja lagi." Ucapnya sedih

"aku juga belum mempunyai teman duduk."jawab Hye Jin "tunggu dulu, Hye Na-ya kau dikelas 12A juga?" Tanya Hye Jin memastikan

Hye Na mengangguk

"Bagaimana jika kita duduk satu meja lagi?" tawarnya

"ah, itu hmm, anu…."

"Hei! Kau mau tidak? aku hanya meminta mu jadi tablemate bukan soulmate mu." Ucap Hye Jin melihat Hye Na yang gelagapan.

"Ah mian, sepertinya aku tidak bisa." Sesal Hye Na.

"Wae? Mengapa kau tidak mau menjadi tablemate ku lagi?" Hye Jin terlihat sedih

"dia sudah meminta ku untuk menjadi tablematenya terlebih dahulu." Jujur Hye Na

"Nugu ?" Tanya Hye Jin penasaran

"uuum, kau tidak mengenalnya, percuma saja ku beritahu."

"ayolah nugu? Nuguya?" Hye Jin semakin penasaran.

"Eun Ra, Park Eun Ra." Ucap Hye Na mengingat-ingat.

"mwo? Si gadis tengil itu? bagaimana kau mengenalnya?" Tanya Hye Jin terkejut

"kau mengenalnya? Bagaimana kau mengenalnya?" rupanya Hye Na jauh lebih terkejut dibandingkan sahabatnya sendiri.

"bisa kah kalian tidak saling berteriak jika diantara kalian ada seseorang?" kali ini Ha Ni yang bersuara. "aku benci kalian! Kalian lebih mementingkan seseorang yang tidak aku kenal dibandingkan sahabat kalian yang sedang bersedih eoh? Aku pergi!" bentak Ha Ni kemudian meninggalkan mereka yang telah sampai digerbang sekolah.

Bel sekolah yang berbunyi menyadarkan mereka dari fase keterkejutan, mereka berduapun bergegas berlari menuju kelasnya yang berada dilantari 3. Setibanya dikelas, tidak ada satu meja kosong yang tersedia untuk kami. Seseorang dibarisan ke 3 banjar ke 2 melambaikan tangannya kearah pintu, dimana terdapat Hye Na dan Hye Jin. Hye Na yang merasa tidak mengenalnya hanya mengikuti Hye Jin yang menghampiri gadis tersebut.

"aku tidak memanggil mu Hye Jinniieee" ucap orang itu.

"aku juga tahu itu. aku hanya ingin mengantarkan sahabat ku." jawab Hye Jin "Hye Na-ya perkenalkan ini Eun Ra, Park Eun Ra. Yang akan menjadi tablemate mu." Ucap Hye Jin pada Hye Na.

"gomawoyo Hye Jinniee." Gumam Hye Na. "ah, Annyeong Naneun Park Hye Na imnida." Ucap Hye Na pada Eun Ra dan dua temannya yang duduk didepannya.

"Ayo, perkenalannya nanti saja. Silahkan kembali ketempat duduk kalian." Itu suara Jung Songaenim.

Seluruh penghuni kelas pun berlarian ketempat duduknya, tak terkecuali Hye Jin yang masih bingung ingin duduk dimana.

Keadaaan kelas yang tadinya ramai pun menjadi hening setelah Jung Seonsaengnim memperkenalkan diri. Beliau adalah wali kelas 12A. Meskipun hari ini hanya Jung Seonsaengnim yang memasuki kelas rasanya cukup membuat otot-otot leher kami semua kaku. bagaimana tidak? beliau menerangkan secara detail mengenai jadwal kegiatan kami selama satu tahun yang telah dikirimkan ke e-mail masing-masing. Ughh selamat tinggal hari-hari damai, and welcome to the hell.

Kehidupan kami sebagai siswa tingkat akhir disini tidaklah seindah dan semudah yang tertulis di fanfiction-fanfiction yang diperankan oleh tokoh idola. Kami berada disekolah sejak pukul 08:00 sampai dengan 22:00. Menghabiskan 14 jam disekolah untuk menuntut ilmu ditambah lagi bimbel-bimbel yang dilakukan setelahnya, terkadang harus membuat kami kembali kerumah larut malam. Namun hal tersebut sepadan dengan apa yang nantinya akan kami peroleh, dapat diterima disalah satu perguruan tinggi disini merupakan suatu kebanggaan tersendiri.

():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():()

Hye Na's POV

Saat ini kami tengah menyantap makan siang di kantin setelah 4 jam berturut-turut mendengarkan ceramh dari Kim dan Lee seonsaengnim tentang sejarah korea modern dan integrasi. Masih tersisa 15 menit sebelum bel berbunyi, ku putuskan untuk kembali ke kelas bersama Hye Jin. Meskipun saat dikelas Eun Ra, Se Ra, dan Min Ji merupakan kelompok belajar ku di kelas tetapi di luar kelas aku kembali bersama Hye Jin dan Ha Ni. Waktu sudah menunjukkan pukul 19:00 dan kami baru saja kembali dari makan malam, karena ini adalah hari selasa, kegiatan club diliburkan sehingga kegiatan pembelajaran dibebaskan. Segala aktifitas berbeda mulai dilakukan yang lainnya, begitu juga dengan Eun Ra dan kawan-kawannya mulai bergosip ria tentang bias-biasnya di salah satu boyband yang baru debut beberapa tahun yang lalu. Ku lihat Hye Jin menghampiri meja ku dan membawa sebuah buku, ku lihat sekilas pada meja pertama dibarisan ku ada Jae Hyun yang tengah serius mengerjakan sesuatu, pasti itu adalah latihan soal yang diberikan Ahn Seonsangnim namun berbeda dengan Hae Woo teman satu mejanya. Ia terlihat tengah memperhatikan meja kami, lebih tepatnya memperhatikan Eun Ra. Aku terkikik kecil ketika melihatnya salah tingkah ketika pandangan kami saling bertemu.

"Hye Na-ya? Gwaenchanna? Tanya Hye Jin menyadarkan ku

"ah Hye Jin, gwaenchanna. Ada apa?" Tanya ku setelah tersadar

Hye Jin rupanya ingin bertanya mengenai penurunan rumus yang diberikan oleh Ahn seonsaengnim tadi. Tak apalah dari pada harus bergabung dengan mereka dan membicarakan orang yang tidak ku kenal. Sungguh jam-jam yang membosankan jika waktunya Independent study, tak tau kah kau seonsangnim bahwa murid-murid mu masih banyak kegiatan lain diluar sekolah? Seharusnya kau pulangkan saja murid-murid mu ini, heol! Sekitar pukul 22:10 kelas pun dibubarkan, setelah bertemu dengan Ha Ni kami pun meninggalkan sekolah, melangkahkan kaki menuju Hagwon atau tempat bimbel yang terletak beberap blok dari sekolah untuk kembali menerima pembelajaran dan pada pukul 23:20 barulah kami menuju NamCheongju Bus Station untuk pulang ke rumah masing-masing.

():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():()

Se Ra dan Min Ji merupakan mereka yang tadi pagi berbincang-bincang dengan Eun Ra. Ah, Hye Na mengenal Eun Ra karena mereka berdua adalah teman dunia maya. Mereka berdua sama-sam tertarik dengan tulisan yang dikeluarkan oleh sebuah situs ternama di Korea. Sedangkan Hye Jin mengenali Hye Na karena mereka adalah teman kelas ditingkat dua. Ya, mereka dan Hae Woo, Kang Hae Woo, pria yang tadi memperhatikan Eun Ra diam-diam.

Hye Na's POV

Hari-hari berikutnya juga dilalui seperti hari ini hanya saja setelah makan malam diganti oleh interests club pada hari senin, learning club pada hari rabu, olimpiad club pada hari kamis dan independent study pada hari jumat. Selama seminggu ini aku juga mulai dekat dengan Eun Ra dan kawan-kawannya, terkadang aku juga mendengarkan Eun Ra yang berceloteh ria mengenai salah satu biasnya di boyband tersebut. Dan sudah seminggu pula aku memergoki Hae Woo memperhatikan Eun Ra setiap harinya.

Kang Hae Woo teman Satu kelas Hye Jin ketika ditingkat kedua dan otomatis juga teman satu kelas Eun Ra. Sejauh ini hanya informasi itulah yang aku tahu, atau mungkin akulah yang tidak pandai membaca suasana. Ada apa diantara mereka berdua?

"sejak tadi dia memperhatikan mu, ada apa?" Tanya ku memberanikan diri

"sudahlah, abaikan saja" jawabnya singkat

Dalam beberapa pelajaran, mereka mendapatkan kesempatan menjadi teman satu kelompok. Hal tersebut ternyata memicu reaksi baru dari teman-temannya terdahulu. Beberapa hari berlalu, dari mereka aku mengetahui bahwa pernah ada 'sesuatu' diantara mereka dan karena 'sesuatu' pula pastinya mereka jadi seperti ini. Rasa penasaran semakin muncul dalam diri ini, apakah terjadi salah paham diantara mereka? Apakah Hae Woo berbuat salah? Ayolah siapa yang tidak akan risih jika diperhatikan seperti itu setiap harinya?

():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():()

Kegiatan Hye Na diakhir pekan Nampak sedikit berbeda. Dia mengambil Kerja Paruh waktu disebuah Coffee Shop tak jauh dari sekolah, dan hal tersebut mengakibatkannya pulang lebih larut dibandingkan dengan hari-hari biasanya.

Rasa kantuk mungkin sudah ada pada Hye Na, namun hal tersebut tidak menghentikan kegiatannya untuk berselancar di dunia maya melalui ponselnya. meskipun jam di dingding telah menunjukkan pukul 01:45. Ponselnya berbunyi menandakan ada notifikasi baru dari salah satu akun ketika Hye Na ingin memutuskan paket data. Itu berasal dari facebook. Sebuah permintaaan pertemanan, atas nama Kang Hae Woo.

Hye Na's POV

Kang Hae Woo ada apa dengan mu? Kau ingin mengetahui kabarnya? Kau ingin mengetahui keadaanya? Kau ingin kembali dekat dengannya? Mengapa tak kau lakukan sendiri? Sudah satu minggu sejak aku menerima permintaan pertemanannya di dunia maya, sejak saat itu pula dia selalu menanyai apaapun tentang Eun Ra, oh ayolah apa kalian mengira aku tidak tau apapun diantara mereka? Bahkan Eun Ra pun tahu jika Hae Woo menanyakan keadaannya pada ku.

Saling bertukar pesan, itulah yang kami lakukan setiap harinya. Masih dengan topik yang sama yaitu Eun Ra. Apa kalian ingin mengetahui seperti apakah seorang Kang Hae Woo? Ku yakin kalian akan tidak menyesal jika mengetahuinya. Kang Hae Woo adalah salah satu chaebol di sekolah ku, ia merupakan pewaris tunggal Kang Contruction, ia memiliki wajah yang cukup tampan dengan tubuh yang proporsional. Diawal percakapan kami, ia terlihat begitu perhatian pada Eun Ra, mungkin ia menyesali apa yang telah terjadi diantara mereka. Hampir setiap hari dibulan pertama kami saling berkomunikasi, ya aku, Eun Ra dan Hae Woo.

Hari berganti hari, namun aku belum menemukan alasan yang logis mengapa Eun Ra membenci Hae Woo. Selama kami berkomunikasi, Hae Woo cukup sopan dan perhatian terutama jika menyangkut urusan Eun Ra. Kedekatan diantara kami tak bisa lagi dielakan, meskipun aku tidak begitu "dekat" dengannya di sekolah tetapi aku cukup mengetahui bagaimana sifat dan kepribadiannya. Karena entah mengapa akhir-akhir ini pembicaraan kami tidak hanya membahas Eun Ra, bahkan pernah tidak membahas Eun Ra sama sekali. Ku akui Hae Woo cukup perhatian, ia pandai merangkai kata-kata hingga tak jarang memunculkan rona perah di pipi ku.

Apakah kalian bertanya-tanya mengapa kami tidak menunjukkan kedekatan kami di kelas? Oh ayolah, semuanya juga mengetahui bahwa seorang Kang Hae Woo menyukai Park Eun Ra sedangkan aku sendiri dekat dengan Ahn Woo Jin. Berbicara mengenai Ahn Woo Jin, kami satu kelas, ia juga satu kelas dengan ku di tingkat kedua. Orang-orang hanya menyimpulkan dan berbicara berdasarkan apa yang mereka lihat. Aku memang dekat dengan Woo Jin tetapi sungguh kedekatan kami hanya sebatas pertemananan biasa. Aku mengetahui siapa gadis yang Woo Jin sukai dan Dia juga mengeetahui siapa pria yang aku sukai.

():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():()

Hari ini merupakan pelajaran olah raga dan kelas Hye Na akan melakukan pengambilan nilai berenang. Sambil menunggu giliran, beberapa murid sedang duduk di kursi pantai yang terletak di pinggir kolam. Terlihat berkelompok memang, terdiri dari 4 sampai 6 orang. Seperti biasa, Hye Na duduk bersama Eun Ra, Se Ra dan Min Ji. Disebrangnya, dengan kolam renang selebar 5 meter diantara kami, Hae Woo dan kelompoknya berada.

Hye Na's POV

"Hae Woo memperhatikan mu" bisik ku pada Eun Ra

"abaikan saja" jawab nya sama

Masih dapat ku lihat sesekali Eun Ra melirik ke sebrang sana. Ku alihkan pandangan ku ke sebrang sana, dapat ku lihat Hae Woo terus memperhatikan Eun Ra. Pandangan kami bertemu, namun tatapan matanya sulit diartikan. Tak ada satu pun dari kami yang berniat untuk berhenti menatap, hingga Eun Ra yang berjalan melewati ku mengembalikan kesadaran. Ketika aku berniat untuk menyusulnya, sesorang menahan tangan ku.

"ada apa dengannya?" Tanya orang itu

Suara itu, suara yang tidak asing dipendengaran ku selama satu bulan ini. Reflek ku membalikkan badan.

"entahlah" jawab ku bingung "tunggu, mengapa kau berada disini?" Tanya ku heran, yang benar saja, Hae Woo adalah seorang namja dan dia berada di zona yeoja.

"aku hanya ingin menyapanya" jawabnya singkat

Oh ayolah, apakah dia tidak punya malu? Ini masih di lingkungan sekolah, di kolam renang dan di zona yoeja pula? Sekolah kami memang memperbolehkan kelas olah raga digabung karena keterbatasan sarana, tetapi sekolah juga memberikan peraturan berupa zona yeoja dan namja agar kami terpisah untuk meminimalisasi terjadinya hal yang tidak diharapkan.

"hei kang Hae woo, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Se Ra ketika mereka tiba di bangku kami.

"Dan dimana Eun Ra?" kali ini Min Ji yang bertanya

Karena reflek mendengar pertanyaan mereka, Hae Woo melepaskan tangannya yang sedari tadi digunakan untuk menahan ku. Aku yang panik tidak dapat mengeluarkan kata-kata, sedangkan Hae Woo hanya menggaruk tengkuknya. Ugh sial! mengapa mereka harus kembali disaat yang tidak tepat.

"aku mengambil minuman hangat." Ucap seseorang dibelakang ku seraya mengangkat dua cangkir gelas ditangannya. - itu Eun Ra. "aku fikir kalian akan kedinginan, jadi aku mengambilnya" ucapnya lagi

"Lee Yoo Na, Kim Mi Kyung, Park Eun Ra, Ahn Soo Ra dan Lee Seul Bi" Panggil Seonsaengnim

"ah, sudah giliran ku. Kalian duduklah" ucapnya lalu pergi setelah memberikan minumannya pada Se Ra dan Min Ji

"dan kau sebaiknya kembali ketempat mu." Ucap Se Ra pada Hae Woo

"Kembalilah" gumam ku padanya

"maaf karena telah membuat kekacauan disini" ucapnya sebelum pergi

"sebenarnya ada apa ini?" Tanya Min Ji setelah Hae Woo pergi

"aku juga tidak tahu" jawab ku sekenanya karena jujur saja aku masih terkejut karna kejadian tadi

"apa yang kalian bicarakan?" Tanya Se Ra kali ini

"tidak ada, kami tidak membicarakan apapun" jawab ku cepat.

"dasar bocah keras kepala" gumam Se Ra

"kalian duduk dan minumlah" ucapku mengalihkan pembicaraan

Kelas olah raga telah selesai satu jam yang lalu. Para siswa kini tengah berbilas dan berganti pakaian diruang ganti. Begitu juga dengan kami, Se Ra dan Min Ji telah terlebih dahulu ke ruang bilas sedangkan Aku dan Eun Ra berada tidak jauh dibelakangnya. Aku bingung melihat Eun Ra menghentikan langkahnya tiba-tiba dan menggumamkan sesuatu.

"dasar jalang" gumamnya penuh kebencian

"ada apa?" Tanya ku

Dengan matanya ia memberikan jawaban seolah meminta ku untuk mengikuti arah pandangan matanya, mata ku membulat ketika melihatnya. Bagaimana tidak? di ruang ganti aku melihat Yoo Na dan Ki Ha sedang bercumbu, saling memagut dengan liar dan bahkan mereka masih berpakaian renang. Aku memang pernah mendengar rumor tentang kejalangan Yoo Na namun aku tidak menyangka ia benar-benar berani melakukannya di sekolah. Ku lihat Eun Ra telah terlebih dahulu menuju ke ruang bilas, tak ingin melihat lebih lama adegan "panas" itu aku pun begegas menyusulnya ke ruang bilas.

Setelah selesai kami kembali ke kelas dan menuggu Xi seonsaengnim datang. Benar, Xi seonsaengnim adalah guru Chinese Character. Ia didatangkan langsung dari China untuk mengajar di sekolah kami.

Makan malam kali ini aku putuskan untuk duduk bersama Hye Jin. Bukannya aku sedang tidak ingin bersama mereka, hanya saja kejadian di kolam renang tadi benar-benar membuat ku terkejut. Melihat bagaimana Eun Ra tidak menganggap Hae Woo ada sungguh memperlihatkan bagaimana dirinya benar-benar membenci Hae Woo dan bagaimana Se Ra serta Min Ji bersikap ketika Hae Woo datang benar-benar membingungkan terutama Se Ra yang begitu curiga terhadap ku.

.

"mianhae, jeongmal mianhae untuk hari ini" ucapnya tertulis di pesan akun media sosialnya untuk ku.

Aku mengetikkan beberapa kata sebagai balasan dan menghapusnya lagi, kulakukan itu beberapa kali hingga ponsel ku kembali berbunyi

"bagaimana jika besok aku mengantar mu pulang sebagai permintaan maaf ku?"

Selalu saja seperti ini

"kau marah pada ku?"

"jangan abaikan pesan ku *buingbuing"

Heh, sejak kapan ia bertingkah sok imut didepan ku?

"apa kau benar-benar marah pada ku?"

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah, bodo amat dengannya aku sudah tak perduli lagi! Ku lempar pelan ponsel ku dan ku pejamkan mata ku. Akhir-akhir ini tingkah Hae Woo sangat aneh, percakapannya juga sedikit aneh, dan dirinya selalu meminta untuk mengantarkan ku pulang. Sekali ini saja, biarkan aku mengabaikan pesannya.

Kesekokan harinya, kami bersikap seperti biasa lagi hanya saja aku lebih banyak menghabiskan waktuku bersama Woo Jin dan Hye Jin dan mereka tetaplah bertiga. Dalam beberapa kesempatan aku melihat Hae Woo memperhatikan ke arah ku, mungkin memperhatikan Eun Ra fikir ku karena kelompoknya berada disamping ku. Hal tersebut terus berlangsung setiap harinya, dan ini sudah hampir sebulan berlalu. Hae Woo masih saja mengirimi pesan untuk ku, namun semuanya ku abaikan.

"oppa, mengapa rasanya begitu menyakitkan? Mengapa aku masih mengingat mu?" gumam ku seraya menggenggam liontin di kalung yang ku kenakan "dimana kau sebenarnya? aku menyayangi mu oppa, tapi aku takut…." "aku takut… bagaiman jika aku tertarik padanya sebelum aku bertemu dengan mu kembali?" ucap ku bermonolog

():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():()

"baiklah jika kau tak ingin bertukar pesan dengan ku, aku akan melakukannya"

"biar ku lakukan semuanya sendiri, aku takkan lagi mengirimi mu pesan kecuali tentang Eun Ra!"

Sudah hampir sebulan ini Hye Na mengabaikan pesan masuk dari Hae Woo. Dia merasa kesal mengetahui fakta bahwa mereka dekat karena Eun Ra. Dan Eun Ra yang mulai curiga terhadapnya. Hye Na juga menyalahkan Eun Ra yang seharusnya instropeksi diri. Karena dialah penyebab mereka dekat dan seharusnya mereka segera berbaikan jika memang Eun Ra tidak menyukai kedekatan mereka.

"hey, atau jangan-jangan kau cemburu karena kita terus membicarakan Eun Ra?"

Aku? cemburu? Hell, That's impossible.

"hey, bicaralah. Kau tahu? Aku seperti berbicara dengan manekin selama sebulan ini"

Apa? Jadi dia menyamakan ku dengan manekin?

"Tapi dirimu jauh lebih imut dan menggemaskan dibandingkan dengan manekin-manekin itu"

- blush. pipi ku kembali memunculkan rona merah karena ucapa chessy nya

"aku tahu kau membaca pesan ku, benar kan? Lalu mengapa kau tak membalasnya?"

Ya, dia pasti tau, tapi masa bodo lah.

"ayolah apa yang harus aku lakukan agar kau tak marah lagi?"

Itu merupakan pesan terakhir hari ini yang ku baca sebelum aku tertidur.

.

Akhir pekan ini seperti biasanya Hye Na bekerja di Coffe Shop tak jauh dari sekolah, pengunjung silih bergantian keluar dan masuk. Hari ini Hye Na bertugas mengantarkan pesanan ke meja pengunjung namun, ekspresinya berubah ketika mengetahui bahwa salah satu pengunjungnya adalah Kang Hae Woo

"ini pesanan mu. Selamat menikmati." Ucapku seraya meletakan pesanannya diatas meja

"tak bisakah kau tersenyum pada pelanggan?"

"tidak. jika itu dirimu. Permisi."

"duduklah, kita selesaikan salah paham ini."

"aku sedang bekerja dan tidak ada salah paham apa pun"

"Park Hye Na !" ucapnya geram

"permisi"

Sejak saat itu, selama satu hari ini aku meminta pada Yoo Jin untuk menggantikan ku mengantarkan pesanan, lebih baik aku membuat pesanan dari pada harus bertemu dengannya lagi.

Waktu telah menunjukkan pukul 16:55 itu artiya 5 menit lagi waktu bekerja ku habis. Aku bersiap, merapihkan dapur seadanya sebelum menuju ruang ganti. Langkah ku terhenti ketika melihat Hae Woo masih berada di kursinya, ia bangkit dan menghampiri ku ketika melihat ku.

"kau sudah selesai bekerja? Mari kita bicara"

Melihat usahanya satu hari ini, sedikit membuat ku tersentuh. Jika difikir-fikir itu juga bukan kesalahannya benar kan? Aku memutuskan untuk mengikutinya, ia mengajak ku ke taman tak jauh dari posisi kami sebelumnya.

"ada apa dengan mu?" tanyanya ketika kami telah duduk di salah satu kursi

"tak membalas pesan dan menghindari ku sebulan ini" ucapnya lagi

- aku diam

"aku menemui mu bukan untuk melihat mu diam. Bicaralah!"

"ah, atau kau cemburu?"

- dan masih diam

Benar kah? Kau menyukai ku?

- sugguh aku tak ingin mendengar pertanyaannya lagi

"ku fikir kau salah paham dengan kedekatan kita, benar kan?"

'Mengapa dia mengungkitnya lagi' "tidak" hanya itu yang dapat ku ucapkan sebagai jawaban.

"apa?"

"aku tidak salah paham, aku tidak cemburu dan aku tidak menyukai mu." Ucapku setengah kesal

"baguslah, jangan sampai kau menyukai ku. Karena aku hanya menyukai Eun Ra ku." Jawabnya lega

'apa? Jawaban macam apa itu?' "aku tahu itu."

"kau mau kemana?" tanyanya ketika melihat ku berdiri, sungguh aku tidak ingin lebih lama bersama dengannya untuk saat ini.

"pulang." Jawab ku singkat

"biar ku antar."

Percuma berdebat dengannya, ia sungguh keras kepala. Aku sudah cukup kesal dengannya seharian ini, jadi lebih baik aku menyetujuinya daripada harus berdebat dan berakhir dengannya yang mengikuti ku.

Dengan menggunakan motor sportnya, hae woo mengantarkan ku pulang. Tak ada pembicaraan apa pun selama perjalanan, setelah 20 menit kami pun tiba di rumah ku.

"istirahatlah, ku yakin kau pasti lelah."

"terima kasih." Ucap ku seraya memberikan kembali helmnya.

"sampai jumpa hari senin di sekolah"

Aku hanya tersenyum sebagai jawaban. Akupun memutuskan masuk ke rumah setelah ia pergi.

"kau sudah pulang Hye Na? bagaimana hari ini di kedai?" – itu suara eomma. Ku lihat ia tengah mempersiapkan makan malam diruang makan.

Aku memutuskan untuk menghampiri dan membantunya sebelum naik ke kamar ku. "melelahkan, kedai sangat ramai seperti biasanya." Jawab ku tak sepenuhnya berbohong.

"kenapa kau kemari? Naik ke atas dan mandilah, setelah itu kemari lagi. Kita akan makan malam setelah appa pulang." Ucapnya kemudian.

"neeeeeeeeeeeeee eomma"

Tanpa banyak bicara aku bergegas naik ke kamar ku dan membersihkan diri. Setelah 15 menit aku keluar dari kamar mandi dan kini diriku tengah berada di depan meja rias ku. Menatap pantulan diri ini di cermin, seperti biasa aku mengikat rambut ku asal, membiarkan beberapa helai rambut terjatuh di dekat telinga. Terlihat sebuah liontin berbentuk kelinci dengan lubang berbentuk bintang. Memang aneh memang, tetapi hanya itulah satu-satunya benda pemberian oppanya yang tersisa. Sudah berulang kali Hye Na menanyakan keberadaan oppanya kepada orang tuanya namun jawaban mereka tetaplah sama, oppanya telah meninggal ketika rumahnya terdahulu terbakar bersama semua foto-foto kenangan mereka. Karena mereka sudah dapat menebak bahwa Hye Na pasti akan meminta mereka menunjukkan fotonya. Sekeras apapun Hye Na mengingat kejadian itu pasti berakhir dengan rasa sakit yang amat sangat di kepalanya, begitu pun dengan saat ini.

"arrrrgggghhhhhhhh kepala ku!" jerit Hye Na sembari memegangi kepalanya "aku harus menanyakannya lagi kali ini" gumam Hye Na.

Makan malam keluarga park berlangsung tenang, bahkan tak ada bunyi dentingan pertemuan antara sendok dan piring disana. Hye Na meletakkan alat makan dengan terbalik sebagai tanda ia telah mengakhiri sarapannya terlebih dahulu kemudian disusul oleh tuan dan nyonya Park.

"apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya appa Hye Na to the point

"kau sangat mengetahui kebiasaan ku rupanya appa" jawab Hye Na seperti biasa

"katakana lah, kali ini apa yang kau ingin kan eoh? Kau ingin ponsel keluaran terbaru? Atau jangan-jangan kau ingin meminta operasi plastik? Tanya eomma hye na kali ini

"eomma! Sejak kapan aku meminta hal-hal aneh seperti itu." Jawab Hye Na sedikit kesal. "hmmmm…. Ini, ini tentang…" ucap hye na terbata-bata seraya memegangi liontinnya.

"jika kau ingin bertanya mengenai oppa mu maka segera kembali lah ke kamar mu. Apa kau tidak kasihan melihat eommamu yang sedih karena teringat kembali dengan mendiang oppa mu setiap kali kau menanya1kannya?" ucap tuan park sebelum Hye Na menyelesaikan ucapannya.

"arrgghh aku membenci kalian!" ucap hye na sedikit berteriak kemudian meninggalkan meja makan.

"kami juga mencintai mu sayang. Jangan memikirkan apapun lagi." Ucap tuan park sebagai jawaban.

"yeobo ya, apakah uri Hye Na akan mengingat semuanya?" Tanya nyonya park setelah hye na pergi

"ssstttt, gwaenchanna. Hye Na tidak akan kemana-mana. Percayalah" jawab tuan park menenangkan.

"selalu saja seperti itu!" "oppa kau dimana? Ataukah memang ingatan ku yang salah?" ucap Hye Na. Dirinya terlalu sedih memikirkan semua itu, menangis dan membuatnya tertidur di meja belajar.

():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():()

Sejak hari Hye Na dan Hae Woo selalu pulang bersama. hae woo selalu menunggu Hye Na pulang disekolah maupun di Coffee Shop, tentu saja masih tanpa sepengetahuan siapapun. Mereka menjadi semakin dekat, tak jarang mereka mengunjungi beberapa tempat wisata ataupun perpustakaan kota diakhir pekan. Mereka juga bercertita satu sama lain, berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing.

Suasana dikelas pun tidak jauh berbeda, Hye Na berteman dengan Eun Ra dan kawan-kawannya tetapi lebih banyak menghabiskan waktu dengan Hye Jin saat diluar jam pelajaran.

"Hae Woo masih sering menanyakan ku pada mu?" Tanya Eun Ra pada saat pergantian guru

"sudah tidak." jawab Hye Na

"apa dia bersikap aneh pada mu?" tanyanya lagi

"tidak, aneh seperti apa?"

"hmmm, misalnya membicarakan sesuatu yang seharusnya tidak dibahas."

"apa maksud mu?"

"ah, sepertinya tidak." gumam Eun Ra

"sebenarnya kalian kenapa?"

"aku hanya tidak suka melihat sikapnya. Kau ingat sewaktu dikolam renang? Itu sungguh memalukan. Mentang-mentang dia chaebol, dia bisa bersikap semaunya eoh?"

"ah itu kau benar" jawab Hye Na mengingat bagaimana semaunya Hae Woo

():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():()

Liburan musim panas tahun ini, siswa-siswi tingkat akhir mengadakan study wisata ke pantai yang terletak di daerah Busan. Acara ini disponsori oleh para chaebol di sekolah, mulai dari akomodasi, penginapan, makan dan kebutuhan lainnya. Sebagai rangka persiapan ujian kelulusan. Kami disana selama satu minggu, 4 hari pertama untuk kegiatan belajar mengajar dan sisanya untuk acara bebas.

Meskipun kegiatan belajar dilakukan selama 4 hari tetapi ini sangat tidak membosannkan. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok dan diberi satu orang pembimbing kemudian mengunjungi beberapa tempat pembelajaran yang berbeda di Busan. Tanpa terasa telah empat hari berlalu, para pembimbing harus kembali ke sekolah sedangkan murid-murid masih dapat tinggal disini untuk 3 hari kedepan.

Hye Na's POV

Hari pertama ku putuskan untuk berjalan-jalan bersama Hye Jin dan Ha Ni. Kami mengunjungi Busan Aquarium Haendae, entah kenapa aku sangat ingin melihat kehidupan dibawah sana. Beruntung sekali lokasi kami berada di Busan, sehingga kami dapat mengunjungi akuarium terbeasar dikorea. Busan Aquarium Haendae memiliki 1 lantai di pantai dan 3 lantai dibawah tanah, untung saja biaya masuknya cukup terjangkau sehingga kami bisa mengunjungi tempat ini lagi meskipun kemarin lusa kami telah kemari bersama pembimbing.

"kau tau Hye Na, aku merasa was-wasan berada disini. Bisa saja kan hiu-hiu itu memecahkan kaca ini dan memakan kita semua." Komentar Hye Jin saat kami berada di salah satu lantai dibawah laut. Dengan lantai kaca transparan dan juga atap transparan. Sehingga pengunjung dapat melihat ikan-ikan berlalu-lalang diatas serta dibawah pengunjung.

"kau terlalu berlebihan Hye Jin-ya." Ucap ku.

"ah, tapi kenapa kau ingin kemari lagi?" Tanya Ha Ni

"entah lah, aku seperti mengingat sesuatu disini." Jawab ku.

"apa kau mengingat sesuatu tentang oppa mu?" Tanya Hye Jin kali ini.

"aku tidak mengingat apa-apapun." Jawab ku sedih.

"yak! Kenapa kau tanyakan hal itu lagi eoh! Kita kemari untuk bersenang-senang bukan? Kenapa kau malah membuat Hye Na bersedih?" bentak Ha Ni sambil memukul lengan Hye Jin.

"ish, ini sakit tau!" ucap Hye Jin meringis sambil memegangi tangannya yang kena pukul.

"sudah-sudah. Bagaimana jika kita menonton atraksi saja?" ajak ku. "kajja." Putus ku tanpa menunggu persetujuan mereka.

Dan sore harinya kami kembali ke penginapan masing-masing.

.

.

"bagaimana jika besok kita jalan-jalan berdua?"- pesan dari Hae Woo

"entahlah, aku telah ada rencana dengan Eun Ra dan yang lainnya."

"ayolaaaaaaaah, dengan ku saja ya? *buing-buing"

"sejak kapan kau bersikap sok imut pada ku?"

"Hye Na-ya Hae Woo mencari mu." Ucap Yoo Na setelah mengetuk pintu kamar kami.

'apa dia gila?' sontak teman sekamar ku, Eun Ra, Min Ji, Se Ra, dan Hye Jin melihat ke arah ku.

"aku akan menemuinya sebentar." Ucap ku kemudian keluar dari kamar.

.

.

"kau gila eoh? Kenapa minta bertemu malam-malam seperti ini? Kau tak tahu jika Eun Ra dan yang la-" ucapan ku terputus ketika Hae Woo meletakkan telunjuknya dibibir ku.

"sssttt…. Kau ingin membangunkan semua orang yang berada disini eoh?" " ikut aku." Ucapnya seraya menarik tangan ku.

"yak! Kau mau membawa ku kemana eoh? Lepaskan aku! Argh" bentak ku kesal, sungguh dia menggenggam pergelangan tangan ku sangat erat.

Kini tibalah kami disebuah danau buatan yang terletak dibelakang penginapan. Saat malam hari danau ini begitu indah, dengan hiasan lampu-lampu. Hae Woo membawa ku kesalah satu bale yang tedapat di pinggir danau.

"mengapa kau seperti ini eoh? Bagaimana jika yang lain curiga hah? Kau sendiri yang tidak ingin orang lain mengetahuinya. Sudahlah, percuma saja berbicara dengan orang yang keras kepala. Aku pergi." Ucapku kesal dan menjauh darinya. Namun baru beberapa langkah, seseorang menahan tangan, membalikkan tubuh dan mempertemukan bibir ku dengan bibirnya. Semuanya dilakukan dengan begitu cepat.

Awalnya hanya menempel, kemudian berubah menjadi lumatan-lumatan halus, dan berakhir dengan lumatan kasar. Aku yang masih diam, dibuat terkejut ketika dia menggigit bibir ku dan melesakkan lidahnya kedalam mulut ku. ingatan ku kembali mengingat kejadian Yoo Na dan Ki Ha di kolam renang. Ku dorong dadanya untuk melepaskan tautan kami tetapi Hae Woo malah semakin memperdalam Ciumannya. Lima menit berlalu, hanya dia yang aktif, sementara aku terus mencoba untuk melepaskannya.

Refleks ku layangkan tamparan dipipinya ketika tautan di bibir kami terlepas.

"kau gila eoh? Ini aku Park Hye Na bukan Park Eun Ra!" bentak ku.

"maafkan aku, aku tak bermaksud melakukan itu. aku hanya memikirkan bagaimana caranya untuk menahanmu disini. Sebentar saja." Jawabnya lirih.

Aku masih mengatur nafas dan menghapus sisa campuran air liur kami yang tertinggal di bibir ku.

"duduk lah, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu."

.

.

Keesokan harinya Hye Na terbangun lebih siang diantara semua teman kamarnya.

"dimana Eun Ra?" Tanya Hye Na ketika melihat ranjang disebelahnya kosong.

"dia sedang berolah raga bersama Se Ra dan Min Ji." Jawab Hye Jin. "Hye Na, ada yang ingin aku Tanyakan pada mu." Ucap Hyejin

"apa itu?"

"kau pergi kemana semalam dengannya?"

"ada apa memangnya?"

"semalam Eun Ra menyusul mu untuk menyerahkan ponsel mu yang tertinggal karena ada panggilan masuk dari eomma mu."

"benarkah itu?" Tanya ku terkejut 'apa Eun Ra melihat semuanya?'

"aku tidak berbohong, tanyakan saja pada Se Ra dan Min Ji."

"lalu?"

"dia kembali tapi masih membawa ponselmu. Dan dia sedikit aneh."

"aneh bagaimana?"

"entahlah, dia sedikit aneh. Seperti habis menangis."

"apa kau yakin."

"tidak, karena sehabis itu dia langsung tertidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut."

"dimana mereka sekarang?"

"mereka sedang jogging. Bukankah sudah ku katakan?"

"hari ini kita jadi jalan bersama?"

"ah, acaranya dirubah. Kau belum tahu?"

"dirubah bagaimana?"

"kita akan melakukan jalan-jalan satu kelas."

"ah shit, bolehkah jika tidak ikut?"

"aku tidak akan membiarkan diriku sendirian disana. Jadi kau harus ikut."

"Hye Jinnie Jebal kali ini saja."

"tidak! dan sekarang kau harus mandi! Palli waktu sarapan sebentar lagi."

.

.

Dalam perjalananan menuju tempat wisata kali ini aku duduk dengan Eun Ra, kulihat dia lebih banyak diam dan mendengarkan mp3 playernya. Hae Woo dan Jae Hyun duduk tiga kursi didepan kami.

"ku kira Eun Ra melihat semuanya semalam" – sent Park Hae Woo

.

.

"kau berkirim pesan dengan siapa Kang Hae Woo?" itu suara Ki Ha, ku lihat Ki Ha memegang ponsel Hae Woo

"yak! Ki Ha-shi, bisakah kau kembalikan ponsel ku." itu Hae Woo yang mencoba mengambil kembali ponselnya.

"omona omona, Kang Hae Woo apa kau sedang berpacaran dengan Park Hye Na?"

Degg – refleks ku melihat ke arah mereka. Ki Ha rupanya sedang melihat ponsel Hae Woo

"apa kau benar-benar berpacaran dengannya? Jadi yang ku lihat semalam itu benar-benar kau?"

"yak! Apa yang kau bicarakan eoh?"

"apa perlu aku katakan disini?"

"aku tak mengerti apa maksud mu?"

Ku lihat semua orang telah memperhatikan mereka, kecuali Eun Ra. Dia masih asyik dengan mp3 playernya.

"kau benar-benar ingin aku mengatakannya huh?"

"yak Yoon Ki Ha berhentilah membuat keributan!" Bentak ku kesal. Aku tak perduli bahkan jika sekarang semua pandangan mereka tertuju pada ku termasuk juga orang yang ku panggil.

Dapat- Hae Woo berhasil merebut ponselnya ketika dia lengah.

"kau ingin membantunya hmm? Dasar jalang cih" dia meludah tepat setelah berdiri dihadapan ku. "dasar wanita murahan, sudah punya orang lain tapi masih merebut kekasih orang."

"apa kau punya buktinya?" Tanya ku tenang.

"aku melihatnya semalam. Kalian- "

"aku tahu kau dan kekasih jalangmu bercumbu di kamar ganti waktu itu. jika kau tak ingin mendapat masalah karena hal itu maka kembalilah ketempat duduk mu." Bisik ku tepat dihadapan Ki Ha.

"dasar wanita murahan!" cibir Ki Ha kesal dan kembali ketempat duduknya.

Aku pun kembali ke tempat duduk ku. ~huft syukurlah masih teratasi.

"ini belum seberapa. Kau akan mengetahui sesuatu yang lebih parah dari ini." Ucap Eun Ra tapi masih mendengarkan mp3 playernya.

. . .

Liburan Musim Panas sudah berakhir seminggu yang lalu. Karena kejadian di bis sewaktu liburan memmbuat orang-orang percaya bahwa mereka sedang menjalin hubungan. Karena hal itu pula Hae Woo semakin berani mendekati Hye Na dikelas sedangkan Eun Ra mulai menjauhinya.

"daripada hanya gossip. Bagaimana jika kita jadikan itu sungguhan? Aku tak menerima penolakan Hye Na-ya. Sampai jumpa nanti… aku akan menjempumu di kedai chuuu :*" – pesan Kang Hae Woo

Kami dalam perjalanan pulang, tak ada yang berbicara sama sekali hingga tiba di depan rumah ku.

"besok aku akan menjemput mu jam 7 malam, aku ingin merayakan hari jadi kita." Ucap Hae Woo

'terserah lah, aku tak perduli.'

"sampai jumpa besok chagiaaaaaa"

. . .

Hae Woo benar-benar menepati ucapannya. Setelah meminta izin pada orang tua Hye Na mereka pun pergi. Hae Woo mengajak Hye Na ke pusat kota dan berhenti disalah satu gedung bertingkat.

"ayo masuk." Ajak nya setelah kami turun dari motor sportnya

Ku ikuti langkah kakinya, hingga dia berheti di hadapan dua orang berpakaian hitam bertubuh tegap di depan pintu. Hae Woo mengeluarkan sesuatu dari saku celana, menunjukkannya pada mereka dan kami pun dipersilahkan masuk.

Sekitar sepuluh meter didepan kami adalah lorong berpencahayaan minim, meskipun belum sampai di ujung lorong tetapi bunyi dentuman musik sudah terdengar jelas dari sini. "ini bar" gumam ku. Hae Woo membawa ku ke meja Pantry dan memesan sesuatu.

"minumlah." Ucapnya sambil menyerahkan sebuah minuman.

"apa ini? Untuk apa kita kemari?"

"tenanglah, itu bukan alcohol. Aku hanya ingin memperkenalkan mu pada teman-teman ku."

'teman-teman?'

"baiklah jika kau tidak mau minum. Ayo ikut aku."

Hae Woo menggandeng tangan ku, dentuman musik, asap rokok, bau alcohol, menyapa indera pendengaran dan penciuman ku ketika mengikutinya. Jangan lupakan, orang-orang yang tengah bercumbu dan berdansa dengan liar dilantai dansa menjadi pemandangan ku sebelum naik kelantai satu. 'ternyata dia bajingan juga'. Kami berhenti di depan ruangan bertuliskan VIP'S ROOM. Lagi-lagi Hae Woo mengeluarkan benda itu lagi dari saku celananya.

"wawww kau tumben sekali datang kemari." Sapa orang didalam sana.

"aku ingin mengenalkannya pada kalian hyung." Jawab Hae Woo

"siapa itu?"

"dia kekasih ku. benarkan sayang?" ucapnya seraya ingin mencium ku namun gagal karena ku alihkan pandangan ku.

"waw, sepertinya dia masih belum jinak." Ucap yang lainnya.

"tidak apa, nanti juga dia akan terbiasa."

"asal jangan seperti yeoja mu yang sebelumnya saja." Cibir orang itu.

'yeoja sebelumnya? Siapa?' baru saja aku ingin bertanya pada Hae Woo tapi seseorang menarik lengan ku.

"duduklah disana." Ucap orang yang menarik tangan ku. ku lihat kemana jarinya menunjuk. Ada sofa merah panjang dan tiga orang pria duduk disana.

"tidak apa, sana." Itu Hae Woo yang berbicara.

"aku Dong Wook." Ucap orang yang tadi menarik tangan ku tadi. "dia Han Soo, Ji Jin dan Ji Woo." Tunjuk dong wook pada orang yang sedang menenggak wine, merokok, dan bermain billiard.

"ini minumlah" Hae Woo menyodorkan gelas yang isinya sama dengan yang diminum oleh Han Soo.

"kenapa kau selalu membawa gadis polos kemari?" Tanya Ji Woo yang masih sibuk dengan billiardnya.

"itu merepotkan." Gumam Han Soo sambil memperhatikan pinggiran gelas.

"sensasinya akan beda hyung. Oh ya dimana gadis-gadis kalian?"Tanya Hae Woo

"mereka akan tiba sebentar lagi." Jawab Dong Wook.

"Hae Woo, bisakah kita pulang sekarang?" Tanya ku pada Hae Woo

"kau mau kemana cantik?" goda Han Soo ketika kami sudah sudah duduk di sofa. "kenapa kau tidak meminum minuman mu hmmm? Atau kau mau mencoba meminumnya dengan cara yang berbeda?"

"apa maksudmu?" Tanya ku sinis.

Ku lihat Han Soo menyentuh bibirnya kemudian bibir ku. "hyung! Dia gadis ku!" geram Hae Woo

"ayolah Hae Woo, bukankah kita selalu berbagi hmm?" ucap Ji Woo yang kini telah merangkul Hae Woo

"kurasa kami harus pulang." Ucap Hae Woo bangkit seraya menarik tangan ku. "kami pamit hyung."

():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():()

Mendekati Hari ujian Intensitas pertemuan mereka menjadi berkurang, hanya sekali dalam dua minggu. Sikap Hae Woo berubah belakangan ini. Dia jadi sedikit kasar, selalu memaksakan kehendak dan tidak mau mendengarkan. Dia juga memiliki teman-teman yang seperti itu di club. Sebuah Club malam khusus untuk kalangan atas, dan memiliki akses untuk dapat masuk dengan mudah.

Hye Na memahami sekarang, mengapa Eun Ra menjauhi Hae Woo, mengapa dia begitu membenci pria itu, mengapa dia menjauhi pria itu, mengapa dia berhati-hati padanya. Hye Na ingin menjauhinya tetapi kehadiran pria itu sedikit mengobati rasa rindu ku terhadap sang oppa.

Sudah satu minggu berlalu sejak seluruh siswa dan siswi tingkat akhir Chungbuk National High School melakukan Ujian. Hal yang ditakutkan Hye Na selama ini terjadi. Hae Woo mengajaknya berlibur ke pulau Jeju, berdua saja sudah menakutkan sedangkan Hae Woo mengajak teman-temannya di club.

Hye Na's POV

"hye na-ya mengapa kekasih mu tidak berkunjung kemari lagi?" Tanya eomma ketika kami bersantai didepan televisi.

"kami sibuk ujian eomma." Jawabku seadanya.

"apa kalian berkelahi hmm?" Tanya appa kali ini.

"tidak apa." Hye Na tampak gelisah

"kali ini ada apa hmm? Apa yang kau fikirkan?" tanyanya lagi.

"dia mengajak ku berlibur." Jawabku jujur.

"benarkah? Dia sepertinya sangat rindu dengan mu." Goda eomma

"di jeju. 3 hari." Jelas ku.

"omonaa mengapa harus menginap?"

"kau tidak boleh pergi." Putus appa

"appa/chagia" ucap aku dan eomma bersama

"kenapa kalian memelototi ku seperti itu? apa kau tidak rindu dengan anak kita yang jelek ini jika tidak bertemu dengannya selama itu?" Tanya appa pada eomma.

"appa mu benar. Kau tidak boleh pergi." Putus eomma

"appa! Eomma!" protes ku.

"turutilah appa mu sayang. Ini demi kebaikan mu."

Hye Na mengikuti saran orang tuanya untuk tidak pergi dan memutuskan untuk tetap bekerja di Coffee Shop. Dia sudah mengabari Hae Woo untuk membatalkan rencananya karena dia tidak mendapatkan izin. Tetapi Hae Woo tetap saja keras kepala, oleh karena itu Hye Na mematikan ponselnya. Keadaan Kedai lumayan ramai sehingga kedai mereka terpaksa buka lebih lama dibandingkan biasanya. Sepulang bekerja Hye Na bertemu dengan Hae Woo di depan kedai.

"mengapa kau membatalkan acara kita begitu saja? Kau tau aku telah mempersiapkan semuanya? Tiket, akomodasi, penginapan dan semuanya. Haruskah aku membatalkannya?" Tanya Hae Woo ketika berpapasan dengan Hye Na.

"Mianhae, tapi mereka tidak memberi ku izin."

"HARUSKAH KU SINGKIRKAN MEREKA AGAR KAU MENJADI GADIS YANG PENURUT?" bentarknya

Plaaak- sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Hae Woo "Jaga bicara mu!" nafas Hye Na memburu namun dia masih mencoba tenang.

"kau harus membayar untuk semua ini." Geram Hae Woo yang masih memegangi pipinya yang mulai memerah. "Ikut Aku!" paksanya sembari menarik lengan Hye Na, dan gadis itu pun berontak.

.

Sementara itu Tuan dan Nyonya Park sedang dalam perjalanan menuju Coffee Shop tempat putrinya bekerja. Sang Eomma merasa khawatir karena putrinya tak mengabari padahal jam pulang seharusnya sudah lewat beberapa jam yang lalu. Keadaan ponsel yang mati membuat Sang Eomma panik dan meminta suaminya untuk menjemputnya ditempat sang anak bekerja.

Orang tua pasti mempunyai firasat pada anaknya sendiri, begitu mereka tiba beberapa toko dari kedai, mereka melihat Hye Na sedang ditarik paksa oleh seseorang. Sang appa keluar dari mobil untuk menolong putrinya.

Bugggh- tubuh Hae Woo terhempas mengenai trotoar ketika tuan Park memukulnya kemudian mengamankan Hye Na. Hae Woo bangkit dan semakin kalap, dia menarik Hye Na dan menendang tuan Park Hingga tersungkur. Tuan Park masih berusaha mendapatkan putrinya hingga suara yang terdengar beberapa meter dibelakang mereka menghentikan mereka.

"berhenti! Atau wanita tua ini yang akan menanggung semuanya!"

"eomma/ yeobo." Ucap kami bersamaan melihat ke sumber suara.

"kau benar-benar brengsek Hae Woo!" bentak ku hendak melayangkan tinju namun terhenti

"ku bilang hentikan! Kau benar-benar ingin dia yang menanggung semuanya?" suara itu menghentikan ku.

Disana terlihat Nyonya Park yang begitu berantakan, dia dipegangi oleh dua orang disisi kiri dan kanan. Serta seseorang yang mengarahkan pistol padanya. Matanya tak henti menangis.

Hae Woo hanya menanggapinya dengan sebuah seringai "bagaimana? Apa aku harus benar-benar menyingkirkan mereka semua hmmm?" Tanya Hae Woo bernegosiasi. "aku akan melepaskan eomma mu jika kau ikut dengan ku" ucapnya lagi.

"jangan sayang kau tidak boleh ikut dengannya." Ucap sang eomma terisak.

Bugghh- orang yang disebelah kiri melayangkan pukulan pada sang eomma.

"berhenti! Jika kau mendekat maka wanita ini akan benar-benar mati!" ancam si orang yang memegang pistol ketika Tuan Park mencoba mendekati istrinya.

"bagaimana sayang? Kau terlalu lama mengulur waktu. Putuskan! Sebelum aku benar-benar menghabisinya!"

"baiklah, aku akan ikut dengan mu! Tapi lepaskan mereka!" putus ku. aku tahu Hae Woo tidak akan main-main dengan ucapannya.

"lepaskan mereka!" perintah Hae Woo pada ketiga suruhannya.

"aku ingin berbicara dengan mereka."

"baiklah, aku akan menunggu mu disini."

Hye Na menghampiri kedua orang tuanya. Terlihat sang appa sedang merangkul eomma yang sangat ketakutan dan syok.

"kalian tenanglah dan jangan khawatir. Pulanglah, tiga hari lagi aku akan pulang." Ucap Hye Na menenangkan

"kau tidak boleh pergi dengan psikopat itu sayang."

"dia bukan psikopat appa. Aku mengenalnya appa." Jawab ku. "jaga eomma baik-baik. Dia terlihat syok." Ucap ku setelah mengecup kening eomma. Kemudian memeluk appa.

"chaaaagiiia mari kita pergi." Suara Hae Woo begitu mengganggu.

"aku pergi appa." Pamit ku.

Hae Woo membukakan pintu mobil, sekali lagi ku lihat wajah kedua orang tuaku. Orang yang begitu aku sayangi sebelum masuk kedalam mobil.

Hae Woo menghidupkan mesin mobil dan perlahan mobil yang kami tumpangi mulai bergerak, masih ku lihat kedua orang tuaku hingga belokan didepan menghilangi mereka.

"kita akan kemana?" Tanya ku setelah mobil melaju cukup lama.

"kita akan ke jeju bukan? Jadi tentu saja kita harus kebandara." Jawabnya masih focus mengemudi

"oh! Shitt!" geramnya Ku lihat Hae Woo menerima telpon dan melihat kebelakang melalu spion

Ada beberapa mobil polisi dan mobil orang tua Hye Na yang mengikuti mobil Hae Woo dibelakang. Aksi kejar-kejaran antara ketiga mobil pun tak dapat dihindari. Mereka saling tancap gas ketika salah satu mobil menambah kecepatannya. Aksi rebutan stir mobil pun terjadi di salah satu mobil yang terletak dipaling depan sehingga lajunya tampak memelan. Hal tersebut tentu saja dimanfaatkan oleh mobil yang berada di urutan kedua untuk mengikis jarak diantara mereka. Rasa panik pun semakin muncul ketika lampu lalu lintas yang berada di perempatan mereka mulai berubah warna menjadi merah. Sang pengemudi lebih memilih menancap gas dibandingkan berhenti. Pertaruhan yang berhasil, namun tidak untuk mobil yang berada dibelakangnya. Mobil itu gagal berhenti dan terpental sejauh beberapa meter karena tertabak oleh truk yang berasal dari sisi kanan.

Tangis dan jeritan pun pecah dari gadis yang berada dimobil pertama. Dia meraung-raung memanggil kedua orang tuanya yang mungkin berada dimobil tersebut, hal tersebut mau tak mau membuat si pengemudi menghentikan mobilnya. Namun itu hanya sesaat karena dia melihat mobil polisi semakin mendekat. Terjadi kejar-kejaran lagi antara mobil Hae Woo dengan polisi. Tangisan dan Raungan Hye Na yang memintanya untuk menghentikan mobil semakin memperkeruh suasana dan membuat fokusnya buyar. Tak kadang mereka berebut stir dan membuat laju mobil oleng tak tentu arah. Hae Woo yang panik ketika melihat truk besar berhenti tiba-tiba dihadapannya membanting stir ke arah yang salah, sehingga mobil yang mereka tumpangi menabrak pembatas jalan dan terjun bebas ke sungai.

"jika saja tuhan masih memberikan kesempatan, aku akan meminta maaf karena aku benar-benar menyesal. Rasa penyesalan ku untuk teman ku Eun Ra. Maaf telah mencampuri urusan kalian, maaf telah mencari tahu apa yang seharus yang tak diungkapkan, maaf karena mengabaikan mu, maaf karena aku bukanlah teman yang baik, aku mengerti semuanya sekarang. Maaf karena aku tak menyadarinya dan selalu menutup mata. Eomma appaa miahae, karena aku gagal menjadi anak yang baik. Aku berjanji jika aku masih diberikan kesempatan, aku akan memperbaiki semuanya, aku akan menjadi Park Hye Na yang kalian banggakan."- tepat setelah sang gadis mengucapkan semua itu, sebuah ledakan besar terdengar, beriringan dengan pandangan sang gadis yang berubah menjadi gelap.

():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():():()

Upacara kelulusan di Chungbuk National High School tahun ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Upacara kelulusan telah selesai beberapa jam yang lalu, kini auditorium mereka berubah menjadi aula pemakaman. Bagaimana tidak? sekolah mereka kehilangan dua orang sekaligus siswa-siswi mereka yang sempat dinyatakan hilang. Disana terdapat dua buah peti yang beriringan lengkap dengan ornament-ornament serta foto terbaik dari setiap penghuni petinya. Terlihat siswa, siswi dan guru bergantian memberikan penghormatan terakhir kepada mereka.

Park Eun Ra, kini sedang memberikan penghormatan terakhir kepada tablematenya. Bagaimanapun dia adalah temannya meskipun sempat renggang karena kesalah pahaman. Setelah memberi penghormatan dia bangkit dan mengucapkan sesuatu.

"Hye Na-ya apa kau tahu aku sama sekali tidak membenci mu? Kita sudah saling mengenal jauh sebelum kita bertemu. Bahkan jauh sebelum aku mengenalnya. Kau orang yang menyenangkan. Maaf, aku benar-benar minta maaf akulah yang membawamu padanya dan mengenalkannya, maaf juga karena secara tidak langsung akulah yang menjerumuskan mu. Aku tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini… kau tahu? Banyak sekali yang ingin aku katakan pada mu saat itu, kau tahu? Polisi-polisi itu aku yang mengirimnya, instingku kuat bukan? Dan tentang orang tua mu, itu sama sekali bukan rencana ku, aku benar-benar menyesal untuk itu dan berharap kau benar-benar ditemukan. Aku bahkan meminta polisi terus mencari hingga jasad kalian ditemukan. Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf…" air matanya tak henti menetes ketika Eun Ra mengucapkan kalimat demi kalimat. Dia menenangkan diri sebelum sekali lagi memberikan penghormatan terakhir pada tablematenya kemudian berpindah ke peti disebelahnya.

"hei Kang Hae Woo aku benar-benar menepati ucapan ku bukan? Aku tidak akan berbicara apa pun dengan mu hingga kau mati. Aku benci pada mu sangat benci! Aku mempercayai hati ku pada mu tapi kau menyianyiakannya kau bahkan menyakiti teman ku." meskipun kata-kata yang terucap sangatlah kasar dan tidak bersahabat, Eun Ra tetaplah memberika penghormatan terakhir untuknya, tanpa sadar setetes air mata pun jatuh ketika dia mengangkat kepalanya setelah memberikan penghormatan terakhirnya.

.

"aku tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Aku harus bangkit dan menepati janji ku."

Di depan pintu masuk aula, berdiri seorang perempuan cantik, dia berambut ikal dark bown dengan dress peach berbalut blazer merah, tak lupa sebuah liontin berbentuk kelinci dengan lubang berbentuk bintang menghiasi leher jenjangnya. Dia membungkuk seolah ikut memberikan penghormatan terkhir kepada kedua mendiang kemudian tersenyum sebelum akhirnya meninggalkan ruangan tersebut.

.

.

FIN

Created By: Pumkin Minnie

Visit Writer's Profile if you interested.

Published By S&K Entertainment on 27th April 2015

.

.

.

.

To be Continue

.

Yuhuuuuuuu akhirnya punya kesempatan buat publish ini. Bagaimana? Bagaimana? Kalian udah baca kan karya Sungmin yang dipublish oleh S&K ? gimana menurut kalian kisahnya? Aku tau ini aja udah panjang banget tapi maaf ada sedikit cuap-cuap sebagai penjelasan beberapa review, check it out

Aku emang sengaja menggunakan alur campuran untuk menimbulkan kesan mystery karena memang disitulah penyampaian permasalahannya. Jika dalam cerita ini aku hanya menggunakan satu alur pasti akan membosankan dan mudah ditebak. Jadi gak ada sama sekali niatan untuk buat kalian jadi bingung.

Mengenai Siapa Sungmin dan siapa Hyena, itu juga merupakan salah satu permasalahan disini dan aku selalu kasih clue disetiap chapternya bukan? Dan dichapter ini juga aku rasa udah jelas banget cluenya.

Jangan bingung-bingung lagi yaaaah, malahan aku yang bingung kalian bingung karena penggunaan alur campuran atau karena kalian yang belum bisa menebak jalan ceritanya? Oke oke aku tahu ini sungguh narsis. Aku cuman pengen menampilkan cerita 'pasaran' dengan kemasan yang berbeda.

.

Special thanks to :

Tika137 | kyuxmine | dewi,k,tubagus | TiffyTiffanyLee | Cho Hyun Ah SparKins 137 | danactebh | abilhikmah | Rly,C,JaeKyu | Guest (1) | Guest (2) | PaboGirl | PumpkinEvil | isjkmblue | kyukyu | Oh kyuhae |

.

Gomawo juga buat para readers maupun siders yang udah baca, review, follow dan favorite. Bagaimana? Bagaimana? Jelek kah? Hancur kah? Mengecewakan? Sudah mulai terjawabkah pertanyaan-pertanyaan kalian? Ayo dong buat para siders tak ingin kah kau menunjukkan diri? Hanya sekedar untuk memberikan semangat untuk fast update. Silahkan tinggalkan jejak untuk kritik dan saran ataupun hanya sekedar memberi semangat untuk fast update.

.

Satu lagi ini, mulai chapter depan aku gak janji bisa update cepet karena jadwal ngampus yang mulai padat tapi akan aku usahain jika memang respon kaliannya bagus. Percaya atau enggak readers terutama reviewers adalah penyemangat author-author disini untuk tetap update meskipun ditengah-tengah rutinitasnya yang padat.

.

.

.

See you soon, annyeong