After The Weeding
Novel Remake, karya Kim Ji-Oh
Min Yoongi
X
Park Jimin
MINYOON/MINGA/YOONMIN FANFICTION
RATED BERUBAH – UBAH SEWAKTU – WAKTU!
IF YOU DON'T LIKE. DON'T READ IT !
IF YOU WANT COPAS, WITH AUTHOR NAME JUSEYO
Genderswitch for Min Yoongi and other characters!
Happy reading~
.
.
.
.
Hoho~ sebelumnya makasih baik sider maupun yg bukan sider ataupun yg msh setia baca ini, favorit following juga. Makasih banyak. Mungkin pada bingung yah sm konflik yg terjadi. Ikutin aja alur ini terus. Nanti kalian jg paham. Aku dulu pertama baca ini juga bingung wkwk. Tp karena penasaran jadinya yahh dibaca terus. BTW ajhumma ingatkan ini emg remake novel ya sayang ^^
.
.
.
.
.
.
After the Wedding
Chapter 14
Berkelana Tiga Belas Jam
Tidak ada kata "sudah terlambat" jika kita ingin mencoba memulai sesuatu. Sekarang adalah waktu yang paling tepat.
.
.
..
.
.
.
.
.
.
Yoongi merasa aneh. Ia sedang tidur dan memejamkan matanya, tapi air laut berwarna biru memenuhi matanya yang tertutup, dan membuatnya sesak. Yoongi takut air itu akan membuatnya tidak bisa bernapas. Air itu benar-benar terlihat jelas di matanya.
Mati? Aku tidak mau. Aku tidak mau mati.
Yoongi menggerak-gerakkan lengannya yang tidak terasa seperti lengannya sendiri. Ia berusaha untuk tidak tenggelam dalam tidurnya. Ia berkonsentrasi menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Untuk hidup. Untuk bertahan hidup. Yoongi berusaha keras agar dapat bertahan hidup… Tiba-tiba terdengar suara yang memasuki kepalanya.
"Tentang Geo Je-Do. Katanya laut di sana cerah, ya. Benar? Benar sebiru itu? Benar secantik itu?"
Yoongi, yang dulu berharap melihat laut biru cerah dan cantik di rumah keluarga mertuanya di Geo Je-Do, tidak sempat melihat laut itu. Padahal, ia pergi ke sana dengan garapan besar, tapi semua berubah menjadi kekecewaan akibat keributan yang disebabkan suaminya.
Ah, kenapa aku malah teringat peristiwa saat itu?
Jelas-jelas tadi aku hanya bermimpi buruk, tapi kenapa aku masih tidak dapat keluar dari pikiran tentang pantai walau aku sudah terbangun? Aku tidak tertarik dengan laut di Geo Je-Do, jadi kenapa aku berpikiran seperti ini? Mungkinkah mimpi buruk bisa membuat seseorang menjadi kesal saat terbangun? Yoongi hanya bisa mengerinyitkan dahi karena pikiran-pikirannya.
Ini kan cuma mimpi. Jadi aku takkan mati tenggelam di dalam air. Namun anehnya, Yoongi dapat merasakan rasa asin yang tajam di mulutnya. Jantungnya juga terasa sangat sakit, dadanya serasa akan meledak bak orang yang sedang tenggelam di dalam air.
Apa yang terjadi jika seseorang mati tenggelam di dalam mimpi? Pasti ia akan hidup kembali saat bangun dari tidur, kan? Atau bagaimana, ya? Kenapa pikiranku tidak masuk akal begini? Secara tiba-tiba, air laut yang menyelimuti Yoongi hilang dalam gelap, bak panggung yang menghilang saat lampu sorot dimatikan, membuat bulu kuduk di leher belakang Yoongi berdiri.
Mimpi buruk seperti ini bukanlah apa-apa jika aku sudah membuka mataku. Orang-orang akan menertawakanku jika mereka melihatku berjuang mati-matian agar tidak tenggelam. Seperti sedang berjuang mati-matian untuk berdiri di atas puding. Cepat menghilang. Aku tidak suka gelap. Menakutkan sekali.
Yoongi tahu yang dilakukannya tidak berguna, tapi ia tetap menoleh ke sana kemari untuk memperhatikan sekitarnya. untuk sesaat, ada sesuatu yang terasa asing dan menarik perhatiannya. Ular laut antik berwarna merah dan sangat panjang. Yoongi melangkah mengikuti ular laut yang menyelam perlahan ke dalam laut berwarna biru.
"Ah!"
Ular bersisik merah licin itu tiba-tiba meluncur ke arah Yoongi. Yoongi yang terkejut berusaha menuju permukaan air. Ia mengayunkan tangan dan kakinya, tapi posisinya tidak kunjung berubah, dan ia tetap berada di tempat yang sama.
Kalau begini, ular itu akan menangkapku. Bagaimana ini, bagaimana?
Ular merah darah dan mengilap itu semakin mendekati Yoongi. Yoongi dapat merasakan lidah ular di sisi tubuhnya. Bagaimana ini, bagaimana? Ini mimpi, hanya mimpi. Aku tidak perlu takut. Bagaimana ini? Bagaimana ini, Jimin!
"Uuukh!"
Yoongi mengeluarkan napas panjang dan akhirnya terbangun. Mungkin ular merah dalam mimpinya mengikutinya sampai dunia nyata, karena pundaknya masih terasa dingin.
Yoongi mengulurkan tangan dan memeriksa tubuh bagian sampingnya. Punggungnya basah oleh keringat dingin, seperti disiram air. Udara ber-AC, yang mengeringkan kausnya yang basah karena keringat, membuatnya semakin kedinginan.
Yoongi berusaha bangun dari tempatnya. Tiba-tiba ia merasa lantai di hotelnya sangat menjijikkan. Ia bangun dan berjinjit menuju kamar mandi. Tempat tidur yang asing, kamar yang asing, kamar mandi yang asing dengan cat biru langit. Kloset kokoh kecil terletak di sudutnya.
"Uuukh, uuukh…"
Mula yang dialami di dalam mimpi ternyata terbawa sampai ke kenyataan, membuat Yoongi mengeluarkan isi perutnya dengan hebat. Yoongi berpegangan pada tepian kloset. Ia merasa sangat lelah, seperti sedang berada di dalam kapal yang mengarungi laut berombak tinggi.
Kapal.
Kapal malam dari Incheon.
Kapal yang melintasi Laut Kuning yang pergi menuju Pulau Jeju.
Akhirnya, Yoongi ingat ke mana ia pergi dan alat transportasi apa yang ia gunakan. Ia tidur di sebuah hotel di sekitar dermaga pada hari Minggu. Paginya, ia pergi ke lantai satu untuk makan prasmanan dan melihat sebuah pamphlet yang mengiklankan sebuah kapal feri tujuan Incheon-Jeju.
Pulau Jeju.
Lirik lagu milik penyanyi Parki Sungwon yang berjudul Malam Biru di Pulau Jeju melintas di kepala Yoongi. laut biru, pasir putih, dan atmosfer tradisional yang tidak bisa dibandingkan dengan Maladewa. Sepertinya itu cukup. Sesuai dengan janjinya, Yoongi berpikir bahwa Laut Jeju pantas ditunjukkan kepada anaknya. Pantas jika aku pergi sejauh ini dengan kapal!
"Uh, Ibuuu, hueeek, hueeek, uhuk, Ibuuu…"
Yoongi mengosongkan perutnya sampai tidak asa yang tersisa. Ingus, air mata, bahkan isi otaknya mengalir keluar. Semua indranya kacau-balau. Yoongi yang merasa pusing terus memanggil ibunya di tengah kegelapan. Ia terus menangis seperti itu untuk beberapa saat. Waktu berjalan sangat lama sampai akhirnya Yoongi dapat melihat cahaya lagi dan telinganya pun terbuka.
.o.
Saat ini musim panas, tapi kapal yang ia naiki tidak berpenumpang karena badai yang terus terjadi. Dua kamar khusus di kapal itu terisi, sedangkan kamar kelas tiga sepertinya sama sekali tidak berpenghuni. Wajar, sih. Mana mungkin ada orang yang memilih kapal untuk bepergian dalam cuaca seperti ini. Bahkan, mencari bayangan hitam kelam penumpang lain di kapal tersebut sangatlah sulit. Akhirnya, Yoongi hanya duduk sendirian, menangis, dan muntah di kamar kelas khususnya. Tak seorang pun yang memperhatikannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam lewat, tapi keadaan Yoongi masih tetap sama. Kapal sudah benar-benar berada di laut lepas, dan sepertinya laut sudah menjadi agak tenang di tengah malam seperti ini. Yoongi sedikit lebih bertenaga, ia juga menjadi sedikit lebih tenang. Ia melangkah ke kulkas, mengeluarkan sebotol air dingin, dan meminumnya perlahan.
Ia minum dengan perlahan karena ia tahu perutnya yang kosong akan sakit jika ia minum dengan cepat. Ia tidak mau pencernaannya terganggu gara-gara minum air dingin dengan terburu-buru seperti anak kecil.
"Sekarang kau sudah tidak apa? Minum pelan-pelan. Haah, kau pintar sekali. Aduh, cantik sekali. Benar, minum pelan-pelan."
Yoongi memeluk botol minumannya yang masih terisi setengah, lalu bersandar ke dinding dengan kemah. Ia teringat masa lalu lagi. Masa lalu saat ia dan temannya bekerja sukarela di sebuah panti asuhan. Panti itu dihuni anak-anak cacat yang dibuang orang tua kandung mereka. Di sana, Yoongi bertemu banyak teman baru, karena kegiatan itu dilakukan terpadu di seluruh Korea. Yoongi bekerja dengan sangat sungguh-sungguh saat itu.
Flashback
Anak-anak yang sangat cantik dan lucu di mata Yoongi, membuat Yoongi tidak dapat memahami orang tua yang tega membuang mereka. Anak-anak mungil yang terlihat lemah memandang Yoongi dengan penuh kepercayaan, membuat Yoongi hampir menangis beberapa kali. Nyawa yang sangat berharga, anak-anak yang sangat lucu. Yoongi menggendong mereka, memberi mereka susu, bahkan memandikan mereka. Tidak butuh waktu lama bagi Yoongi untuk menyayangi mereka.
Namun, banyak bayi yang sangat lemah, yang biasanya tidak pernah bertahan lebih dari seratus hari dan langsung pergi menuju langit. Nyawa yang seminggu sebelumnya masih berada di pelukan Yoongi, anak yang cegukan saat Yoongi memberikan susu kepadanya. Akhirnya, Yoongi sangat sedih karena harus berpisah dengan anak itu. Kerja sukarela itu hanya dilakukan seminggu sekali, itu pun hanya berlangsung selama setengah hari, tapi Yoongi sangat sedih dan menangis keras saat ia pulang sendirian.
Satu kali. Satu kali dimana ia menangis tidak sendirian, satu kali ia menangis dalam pelukan suaminya.
Saat itu Yoongi juga menangis saat keluar dari panti asuhan. Jimin menunggunya di luar menepuk-nepuk punggungnya lembut, menghibur Yoongi. Yoongi masih ingat dengan jelas, saat itu ia langsung menenggelamkan diri ke pelukan Jimin. "Jimin! Bayi itu, bayi itu, minggu kemarin aku masih memberikan susu pada bayi itu. Bayi itu…"
"Kenapa kau menangis seperti orang bodoh? Jangan menangis, Yoongi. Jangan menangis."
Yoongi membenamkan dirinya ke dalam pelukan Jimin seperti anak kecil. Jimin hanya bisa menghibur Yoongi dengan suara rendahnya.
"Anak-anak itu pasti tidak tahu Bu Yoongi cengeng sekali. Pasti mereka tidak tahu Bu Yoongi lebih cengeng dari mereka. Atau jangan-jangan mereka tahu lagi. Mereka tahu, tapi karena Bu Yoongi sangat mencintai mereka… anak-anak jadi sangat menyukaimu seperti aku. Walaupun begitu, kau harus tetap berhenti menangis, Yoongi, ya?"
"Aku takkan melahirkan anak. Kalau aku melahirkan dan akhirnya anakku hanya akan menghilang sia-sia, aku, aku akan sangat sedih dan terus menangis sampai mati."
"Kau bicara yang tidak-tidak lagi. Min Yoongi, kenapa anakmu bisa mati? Lebih baik kau tidak usah membayangkan hal-hal seperti itu.:
Yoongi masih sangat ingat sosok Jimin saat itu. Sejujurnya, saat itu Jimin adalah seorang tuan muda dari keluarga kaya raya yang tidak pernah tertarik pada anak-anak—anak cacat parah yang tidak mungkin dikatakan cantik maupun lucu—tersebut. Bagi Yoongi, anak-anak tersebut sangat cantik dan lucu, tapi mereka benar-benar tidak dapat disandingkan dengan orang seperti Jimin.
"Setiap nyawa sangat berharga. Bagaimanapun penampilan luarnya, bagaimanapun hatinya. Semuanya berharga."
Siapa pun bisa berbicara dengan mudah. Namun, Yoongi tidak hanya bicara, ia juga melakukan sesuatu untuk hal yang dipercayanya tersebut, sehingga Jimin sangat terharu.
"Perbuatan orang cantik juga sangat cantik."
Jimin berkata seperti itu sambil mengecup Yoongi, kecupan yang penuh dengan pujian dan kekuatan. Dahi Yoongi cantik, hidungnya juga cantik, pipinya juga cantik, dagunya juga cantik, bibirnya juga cantik, sehingga siapa pun pasti mencintainya.
End of Flashback
"Hik hik, cegukan…"
Air dingin yang diminum Yoongi akhirnya membuatnya cegukan.
Aku tahu akhirnya akan jadi begini, padahal aku sudah memperingatkan diriku agar berhati-hati minum. Sepertinya aku benar-benar bodoh.
Cegukan itu terus keluar tanpa henti, terus menyiksa Yoongi.
Suatu saat, Yoongi mulai mengerti kelakuan-kelakuan Jimin yang tidak pernah ia pahami saat mereka masih berpacaran. Jimin adalah seorang anak yatim piatu dan baru dapat merasakan cinta saat akhirnya diadopsi. Oleh karena itu, Jimin tidak paham benar pentingnya hubungan darah.
"Nyawa sangat berharga, Jimin. Setiap nyawa berharga."
Apa gunanya jika aku hanya bisa bicara? Aku tidak bisa menjaga seorang anak, anakku sendiri, dan membuatnya terbuang sia-sia. Aku harus memberitahukan pada seseorang—yang berpikir bahwa aku adalah perempuan yang menganggap nyawa adalah hal yang berharga—bahwa "aku perempuan bodoh yang tidak dapat menjaga anakmu, perempuan yang tidak berhak menerima cintamu."
Benar, bagaimana reaksinya kalau Jimin sudah mendengar seluruh cerita ini? Mungkin kerutan baru akan timbul di tengah dahinya saat ia menatapku. Mungkin Jimin akan marah besar kepada Yoongi, sampai Yoongi menghilang tanpa jejak, meleleh di samping perapian.
Mungkin apanya! Pasti akan seperti itu. Walaupun begitu, mungkin ia akan memaafkanku karena sekarang aku sedang mengandung anaknya lagi.
Yoongi mengelus-elus perutnya yang masih rata, tapi di dalam situ ada seorang anak, anaknya. Anak yang masih sangat kecil, yang keberadaannya belum dapat dirasakan. Ia harus bersemangat demi anak itu.
Saat Yoongi melihat jam, ia baru menyadari pagi yang cerah sudah menjelang. Yoongi mengelap air mata dan ingus yang membuat wajahnya kacau-balau sebelum ia keluar. Suasana laut yang diterangi cahaya pagi temaram mungkin dapat membuat perasaannya membaik.
"Ya ampun!"
Yoongi berkata seperti itu saat pintu kapal terbuka. Bagian kapal yang sudah tua pun terlihat. Pintu kapal terbuka karena angin yang sangat kencang, yang berhembus seperti angina musim dingin. Angin kencang yang dapat menerbangkan seorang perempuan yang tidak bertenaga sama sekali. Walaupun begitu, Yoongi tetap melangkah dengan hati-hati tapi pasti.
Gambaran laut yang diterangi cahaya temaram di pagi buta masuk sampai ke dalam paru-parunya. Angin bertiup sangat kencang, mengisap semua energi buruk, membuat hati da nisi kepalanya menjadi cerah kembali.
Yoongi menarik dan mengeluarkan napas sekuat mungkin selagi tidak ada orang yang bisa melihatnya. Ia bersandar di tepi kapal sambil merentangkan kedua tangannya, menengadahkan kepalanya, dan menarik napas yang sangat panjang.
Ayo bernapas. Memenuhi dada, memenuhi perut. Ayo bernapas.
Garis horizon kemerahan dan awan keemasan bercampur. Saling menempel, meleleh bersama, bercampur, menjadi gundukan-gundukan yang memiliki dua cahaya yang terlihat agung. Seperti sosok suami dan ibu mertua Yoongi. Dua orang yang membuat Yoongi merasa kesulitan walau hanya dengan melihat tingkah mereka malam itu. Indah dan memiliki harga diri yang tinggi, seperti mereka.
Yoongi tidak pernah menyangka bahwa takdirnya dapat bersentuhan dengan orang-orang seperti itu. Ia bahkan tidak bisa bertahan satu detik di depan mereka, karena mereka selalu membuat hatinya bergetar dan kakinya lemas.
Ia melemparkan tatapan ke garis horizon nan jauh di sana. Tempat yang dipenuhi cahaya keemasan.
Subuh di tengah kota selalu pendek, hanya sesaat. Cahaya putih terang akan langsung terlihat dari jendela yang tadinya gelap. Hari langsung berubah menjadi pagi. Matahari putih besar terbit, membuat Yoongi peraya bahwa matahari itu akan membersihkan isi kepalanya yang penuh dengan pikiran rumit. Pemikirannya memang tidak beralasan, tapi ia berharap itu akan terkabul.
Yoongi teringat Jimin yang tertawa sangat lebar saat mengetahui bahwa ia akan segera memiliki anak setelah tiga tahun menikah. Rasa sayang yang melebihi milik siapa pun, rasa sayang yang membuatnya takkan pernah setuju jika ada yang ingin menghilangkan nyawa anak itu di atas meja operasi, dan rasa sayang yang ia tunjukkan pada Yoongi walau sudah terlambat.
Pikiran Yoongi kusut, begitu pula dengan pertarungan antara subuh dan pagi di depan matanya. Semua, semuanya kusut. Sepertinya tidak ada hal yang sederhana di dunia.
"Haaah."
Yoongi menunduk sambil menghela napas panjang, lalu mengubur kepalanya di lengannya. Terdengar suara mesin kapal yang kencang, bahkan suara angin laut yang bergesekan dengan badan kapal juga terasa samar-samar.
"Nak, sekarang apa yang harus kita lakukan? Hubungan Ayah dan Nenek memburuk gara-gara kita. Kalau kita kembali sekarang, mereka berdua akan marah pada kita dan mungkin akan membenci kita. Kita tidak melakukan apa-apa, tapi akhirnya kitalah yang akan disalahkan. Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana kalau kita pergi ke Pulau Jeju dan main sebentar? Main di sana sampai Ayah dan Nenek tenang. Bagaimana kalau kita menunggu sampai Ayah berkata kepada Nenek: tolong sayangi anakku, dan sampai Nenek berkata: baiklah, memang seharusnya begitu?"
Kau bicara apa, Min Yoongi?
Terdengar suara marah dari kepala sebelah kirinya, membuat Yoongi sangat terkejut. Yoongi mencoba memblokir suara itu, tapi suara itu terus terdengar. Suara yang tidak lain adalah sisi dirinya yang sadar akan keadaan sebenarnya…
Kau tidak puas selama ini membohongi diri sendiri? Sekarang, kau mau membohong anakmu juga? Kebohonganmu sudah sangat besar, Yoongi. akuilah apa yang memang harus diakui. Bagaimana, ya? Tidak ada ruang bagimu di antara anak dan ibu itu.
"Tidak. Jangan berkata begitu. aku tak mau dengar."
Jimin mencintaiku. Aku juga mencintai suamiku. Kami takkan berpisah. Takkan pernah berpisah.
Siapa yang berkata pada suamimu bahwa cinta bukanlah segalanya, hah? Sadar, Min Yoongi! jika kau mau hidup tenang bersama anakmu, kau harus mengorbankan salah satu. Kalau kau ingin memiliki semuanya, akhirnya malah hanya kau yang tersakiti.
Hidup bersama lelaki yang kucintai, melahirkan dan membesarkan anak dari lelaki itu… apakah itu hal yang sangat sulit? Bagi orang lain, itu adalah hal yang sangat sederhana, tapi kenapa sepertinya sangat sulit bagiku?
Keberadaan anak yang masih asing yang akhirnya mereka dapatkan setelah menikah selama tiga tahun. Mana yang harus ia korbankan dan mana yang harus ia pertahankan? Pikiran yang sangat tidak masuk akal.
Yoongi menghembuskan napas yang sangat panjang sambil menyandarkan dagunya di pegangan besi yang dingin. Pikiran mengerikan itu membuat rasa dingin menjalar ke tengkuknya. Lalu, Yoongi memeluk perut bawahnya dengan tangan kirinya bak sedang melindungi perut itu. Ini saatnya untuk menjatuhkan keputusan.
"Kau mau hidup dengan Ibu? Ibu ini seperti orang bodoh, tidak bisa berbuat apa-apa, jadi kau mau melindungi Ibu, kan? Ibu ingin pergi jauh dan tinggal berdua denganmu. Ya? Pergi ke tempat yang tidak dapat ditemukan oleh Ayah dan Nenek, lalu kita hidup berdua dengan harmonis. Ya?"
Senyum sinis keluar secara otomatis di wajah Yoongi. sambil tersenyum sinis, Yoongi mengambil langkah mundur dari pegangan yang membatasi tepi kapal. Ia membalikkan badannya dan melangkah ke kamarnya.
Matahari.
Matahari putih dan besar yang menyinari pagi tengah menunggu Yoongi. Matahari itu sedang berbagi sinarnya dengan semua makhluk hidup di dunia ini. Cahaya yang telah menyinari aib seseorang, cahaya yang juga telah menghentikan seseorang untuk memikirkan hal-hal yang rumit.
Pemikiran rasional, anak di dalam rahim, bahkan alam, telah berkonspirasi. Mereka menekan Yoongi agar segera menjatuhkan keputusan. Menyuruhnya untuk tidak lagi menjadi kerikil di antara hubungan ibu mertuanya dengan suaminya. Menyuruhnya untuk berdiri dengan kedua kakinya dan berjalan menjauh.
"Mengerti, aku mengerti."
Aku mengerti, jadi tolong jangan dorong aku lagi.
Yoongi melangkahkan kakinya yang terasa berat ke kamarnya. Ia ingin tidur lagi. Perjalanan ke Pulau Jeju memakan waktu tiga belas jam, sedangkan perjalanan, Yoongi bisa menangis sepuas hati, bisa tidur sepuasnya, bisa berpikir sampai kepalanya pecah. Waktu yang sangat melimpah.
Cepat ke tempat tidur, cepat.
TBC
.
.
.
.
.
TBC
Haiiiiiiiiii~ datang lagi ajhumma xD ah tenang juga akhirnya udah lulus. Nilainya sih ga tinggi ga rendah banget. Lumayan lah pas. Udah lulus T_T dan tinggal nunggu buat kuliah hehe :3 kemaren baru aja ajhumma ultah ke 18/? Banyak wish dan pencapaian di usia yang ke 18 ini wkwkwk. Gatau deh mau ngomong apa/? Keep reading guys! Ily, nantikan ff ajhumma yang lain yaaaa :3
THANKS FOR READING
REVIEW PLEASE?
