After The Weeding

Novel Remake, karya Kim Ji-Oh

Min Yoongi

X

Park Jimin

MINYOON/MINGA/YOONMIN FANFICTION

New chara muncul~ Hoseok x Namjoon

RATED BERUBAH – UBAH SEWAKTU – WAKTU!

IF YOU DON'T LIKE. DON'T READ IT !

IF YOU WANT COPAS, WITH AUTHOR NAME JUSEYO

Genderswitch for Min Yoongi and other characters!

Happy reading~

.

.

.

.

Hoho~ sebelumnya makasih baik sider maupun yg bukan sider ataupun yg msh setia baca ini, favorit following juga. Makasih banyak. Mungkin pada bingung yah sm konflik yg terjadi. Ikutin aja alur ini terus. Nanti kalian jg paham. Aku dulu pertama baca ini juga bingung wkwk. Tp karena penasaran jadinya yahh dibaca terus. BTW ajhumma ingatkan ini emg remake novel ya sayang ^^

.

.

.

.

.

.

After the Wedding

Chapter 15

Orang Terbodoh di Dunia

Pelajaran untuk diri sendiri. Jika kau bisa memandang dirimu sendiri secara objektif, berarti kau dewasa. Namun, hal ini tidaklah mudah. Menjadi dewasa "dengan benar" tentu saja tidak mudah. Oleh karena itu, ada arti lebih dari menggantung kalender baru di dinding setiap tahun baru.

.

.

..

.

.

.

.

.

.

Lima bulan kemudian, Suhgwipo-si, Pulau Jeju, rumah petani di daerah pinggir laut yang tenang.

"Yoongi, tolong lihat gambar ini."

"Iya, mana… bagus. Keren."

"Benar?"

"Aku berani bersumpah atas nama anak yang ada di perutku!"

"Hyaaa, berarti kau sungguh-sungguh? Terima kasih. Hihihi."

Yoongi, yang kehamilannya sudah sangat terlihat walau hanya sekilas, sedang berada di galeri temannya yang bernama Hoseok. Ia sedang melihat sketsa yang dibuat temannya.

Lima bulan yang lalu, ia naik sebuah kapal feri dari Incheon ke Pulau Jeju hingga tiba di tempat ini. Menghabiskan tiga belas jam, menghabiskan semalam suntuk di kapal hingga akhirnya tiba di Pulau Jeju. Yang ia bawa hanya baju yang dikenakannya, dan sebuah dompet berisi beberapa pecahan seratus ribu won yang biasanya ia gunakan sebagai uang darurat dan kartu kredit, sehingga ia sama sekali tidak khawatir. Ia sedang melarikan diri, tapi bahkan sampai sekarang pun ia tidak punya tenaga untuk memikirkan risiko yang akan dihadapinya. Namun, untungnya semua hal berjalan dengan lancar.

Seperti orang Seoul lainnya, Yoongi berjalan-jalan menikmati pemandangan Pulau Jeju dalam dua hari pertama. Awalnya ia tidak bisa menikmati pemandangan apa pun karena pikirannya yang kosong, tapi akhirnya Yoongi bisa juga menghilangkan beban pikirannya. Yoongi merasa sesak jika harus berada di atap yang sama dengan seorang anak dan ibu yang sedang berkonflik, sehingga ia melarikan diri ke sebuah pulau yang paling jauh dari Seoul. Alasan awalnya sangat sederhana: tanpa disadari, suasana pedesaan di tempat yang terkenal sebagai tujuan wisata lama-lama mencuri hatinya.

Selain itu, Yoongi teringat sebuah kejadian yang sangat berguna baginya. Musim semi yang lalu, Yoongi dipaksa mengikuti acara reuni oleh teman-temannya dan bertemu dengan Jung Hoseok. Hoseok tinggal sendirian dan bekerja di daerah Suhgwipo. Untungnya, Yoongi menyimpan nomor handphone perempuan itu.

Yoongi menghabiskan setengah hari untuk memutuskan langkah yang akan diambilnya, sampai akhirnya ia mendatangi sebuah telepon umum dan menelepon galeri Hoseok di Suhgwipo. Yoongi akan bersyukur jika Hoseok menerima teleponnya, tapi ia takkan terlalu kecewa jika Hoseok tidak menerimanya, sampai akhirnya, Hoseok tersenyum dan meledek Yoongi dengan menyebutnya 'wanita paruh baya' yang tipikal.

Hoseok menerima kedatangan Yoongi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Walaupun ia tahu Yoongi tidak lulus kuliah dan telah menikah dengan generasi kedua keluarga konglomerat, walaupun ia tahu bahwa selama ini Yoongi hidup sebagai nyonya muda Seoul yang kaya raya, Hoseok memilih untuk tidak bertanya apa-apa.

Sejujurnya, Hoseok ingin sekali bertanya, tapi ia tahu jelas bahwa ia tidak berhak melakukannya, karena saat itu Yoongi terlihat kacau-balau dan bersedia datang jauh-jauh ke tempat seperti Pulau Jeju. Walaupun sebelumnya mereka tidak dekat, Hoseok—dengan tatapan mata yang seakan mengerti keadaan Yoongi—menghibur Yoongi. apalagi, Yoongi sedang hamil dan berkelana sendirian. Yoongi menganggap dirinya sangat bermuka tebal, tapi bagi Hoseok, Yoongi terlihat sama saja seperti seorang pengungsi.

"Nona Seoul, ada surat."

"Iyaaa!"

Paman pengantar surat selalu mengantarkan kiriman hingga ke dalam galeri yang berada di sebuah farmhouse di pinggir laut. Bagi Yoongi yang selalu tinggal di apartemen, hal ini sangat asing, tapi menenangkan hati. Ada dua orang perempuan yang tinggal di rumah ini, 'Nona Seoul' adalah sebutan untuk Hoseok, sedangkan 'Ibu Seoul' adalah sebutan bagi Yoongi. Paman pengantar surat itulah yang memberi mereka julukan itu. Paman yang sangat menarik.

"Ada satu untuk Ibu Seoul juga, lho."

"Benar?"

Apakah seharusnya surat itu datang?

Beberapa waktu yang lalu, Yoongi mengirim surat kepada suaminya untuk meminta cerai. Ia mengirimkannya melalui teman kakaknya yang seorang pengacara. Sekarang memang sudah saatnya surat balasan dari suaminya datang.

Amplop administrasi berwarna kuning dengan cap Seoul kantor pengacara OOO, benar… Apakah semuanya berjalan dengan lancar-lancar saja? Yoongi mengatur napas untuk beberapa saat sambil memeluk amplop di dadanya yang berdebar kencang. Setelah beberapa saat, Yoongi akhirnya membuka amplop itu.

Apa kabar, Nona Yoongi?

Tuan Park Jimin ternyata lebih keras dari yang saya perkirakan.

Katanya ia takkan pernah mau bercerai, karena sekarang kalian akan segera memiliki seorang anak.

Katanya, ia takkan pernah mau mengisi dan mengembalikan dokumen yang saya lampirkan di sini.

Sejujurnya, pengacara-pengacara Tuan Park Jimin bahkan tidak mau berhadapan dengan saya.

Sepertinya masalah ini bertambah rumit.

Walaupun begitu, saya akan terus maju dan mengabari anda lagi.

Saya akan berusaha sekuat tenaga.

Kalau begitu, sampai jumpa… hati-hati.

NB: Tuan Park Jimin berkata akan menemui Anda. Anda tidak bisa menghindar selamanya, jadi lebih baik Anda bertemu dan berbiara langsung dengannya. Saya telah memberi tahu nomor telepon baru Anda.

"Ya Tuhan!"

Ia akan datang ke Pulau Jeju? Menemuiku? Perutku sudah sangat membesar seperti ini, dan aku masih harus bertemu dengannya? Sial! Yoongi, sekarang bukan waktunya mengkhawatirkan penampilanmu. Bodoh, Min Yoongi. kalau ia datang berarti kau harus bertemu dengannya. Bertemu, bertemu… apa yang akan terjadi selanjutnya ya? Ah, akan aku dipikirkan nanti saja.

Kabar yang datang benar-benar di luar dugaan.

Sepertinya keterkejutan Yoongi sangat hebat. Pandangannya menjadi kabur, jantungnya berdebar kencang, bahkan anak di dalam perutnya juga ikut tegang saat mendengar kabar tersebut. Yoongi langsung mengatur napasnya untuk beberapa saat. Ia terus bernapas sampai perutnya yang mengeras menjadi lembut kembali. Isi kepalanya menjadi lebih jernih, detak jantungnya juga sudah mulai melambat, anaknya juga sepertinya sudah bisa beristirahat dengan tenang…

Kenapa pandanganku jadi kabur begini? Kenapa mataku terasa panas? Kenapa tiba-tiba aku jadi merindukannya? Padahal, sampai saat ini aku tidak pernah memikirkannya, kenapa? Kenapa sekarang aku merindukannya setengah mati? Kenapa?

Padahal, akulah yang mengajaknya bercerai, tapi sekarang hatiku malah bergetar saat mendengar ia mau datang mencariku. Padahal, ia selalu mengatakan bahwa orang cerewet sepertiku sangat berisik, tapi kenapa ia tidak mau menceraikanku? Selama ini ibu mertua benar, jadi cepat tanda tangani surat perceraian itu. Kenapa kau malah ragu-ragu? Sebenarnya apa yang kau pikirkan, Jimin…?

Ah, apakah selama ini ia memikirkanku? Dulu ia mencintaiku. Dulu ia mengatakan bahwa ia menyukaiku. Sedikit hanya sedikit, pernahkah ia memikirkanku? Ya, kan, Nak?

"Ngg…"

Terdengar sebuah rintihan. Yoongi menangis. Ia menangis dengan keras, sampai ia sendiri kebingungan bagaimana mungkin ia memiliki air mata sebanyak itu. Walaupun begitu, Yoongi tetap menangis sampai kewalahan sendiri. Yoongi merasakan keberadaan Hoseok yang sedang terkejut di belakang punggungnya, tapi ia tidak peduli. Hoseok hanya berpikir, 'ia bertingkah seperti ini lagi', lalu masuk ke dalam. Ya, bukan pertama kalinya Yoongi menangis seperti ini. Sudah berkali-kali sampai Hoseok tidak tahu harus bagaimana.

Benar, aku memang seperti ini. Lalu kenapa! Ini kerana hormonku yang berantakan. Kini, hidupku dipenuhi kesedihan dan penderitaan yang bahkan tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata. Ini semua karena hormon. Tidak ada alasan lain. Nak, cepatlah keluar. Ibu merasa telah menjadi orang paling bodoh karenamu. Karenamu… ibu jadi hanya bisa menangis…

Yoongi menghabiskan waktu selama dua jam untuk menangis, sampai Hoseok berteriak menyuruhnya berhenti dan makan siang. Saat itu, Yoongi merasa sangat kelaparan, sehingga ia bangun dari tempatnya dan langsung menuju ke dalam. Karena terlalu lama menangis, mata dan wajahnya membengkak, tapi ia sangat kelaparan sehingga tidak memedulikannya. Dengan heran, Hoseok hanya bisa menatap temannya yang baru menangis tersedu-sedu—atau malah terlihat seperti mayat yang tenggelam selama empat hari—makan dengan serius seperti tidak terjadi apa-apa. Yoongi pura-pura tidak tahu dan menghabiskannya dengan serius. Sangat serius, seperti sedang menjalankan tugas yang paling penting di dunia.

.o.

"Yoongi! katanya Namjoon mau datang. Bawa portofolio dan ide kita!"

"Baik, aku mengerti."

Empat hari setelah Yoongi menangis keras, Hoseok berusaha untuk mengajak Yoongi keluar. Ia tahu bahwa selama empat hari tersebut, Yoongi menghabiskan waktu sendirian sambil menangis dengan menyedihkan. Sampai akhirnya, Hoseok menjadikan kabar dari Namjoon sebagi alasan untuk mengajak Yoongi keluar. Hoseok berterima kasih atas kedatangan Namjoon.

Namjoon adalah seorang pencipta lagu dari Seoul yang sedang berkunjung ke Pulau Jeju. Ia banyak menciptakan lagu HipHop terkenal. Kafe miliknya digunakan sebagai tempat pertunjukan musik pinggir pantai saat high season di musim panas. Di musim dingin, teman-temannya akan memanfaatkan kafenya sebagai galeri. Yoongi dan Namjoon berkenalan pada awal musim dingin, dan mereka langsung menjadi teman akrab. Tentu saja persahabatan mereka terjalin berkat Hoseok. Yoongi mengakui Namjoon adalah pacar resmi Hoseok, sementara Namjoon juga mengakui bahwa Yoongi adalah teman dekat calon istrinya.

Yoongi dan Hoseok menuju galeri, atau lebih tepatnya kafe Namjoon yang terletak di daerah Phogu di Suhgwipo, dengan mobil kecil Hoseok.

Cuaca terasa hangat walau saat itu musim dingin, sangat cocok untuk berjalan-jalan dengan mobil. Yoongi kesulitan mencari posisi yang pas karena perutnya yang sudah membesar. Ia terus-menerus bergerak ke sana kemari. Hoseok menyadari hal itu, dan menanyakan hal yang selama ini ditahannya.

"Boleh aku bertanya?"

"Hah? Tentang apa?"

Yoongi, yang sedang memundurkan bangkunya ke belakang untuk mendapatkan ruang yang lebih luas, menjawab setengah hati.

"Yang waktu itu, itu kenapa?"

"Yang waktu itu…? Apa maksudmu?"

Dasar bodoh. Kalau mau berbohong, harusnya berbohong dengan lebih pintar, dong.

Yoongi pura-pura tidak memahami pertanyaan Hoseok, tapi ia tidak dapat membohongi mata Hoseok yang tajam. Hoseok bersabar dan menunggu beberapa saat lagi.

"Aaah! Itu? Memangnya kenapa?"

Yoongi membelalakkan matanya seakan baru mengerti pertanyaan Hoseok. Ia bertingkah seperti anak kecil, kecemasan terlihat di wajahnya. Ia mencoba menutupi kecemasannya, tapi ia malah terlihat konyol dan menggemaskan.

"Surat apa itu? Surat apa? Memang itu surat apa, sampai reaksimu separah itu?"

"Kau pernah dengar kata-kata ini?"

"Kata apa?"

"Privasi."

"Mau mati ya, kau, Yoongi?"

Yoongi tertawa mendengar ancaman Hoseok. Tanpa disadari, Hoseok pun ikut tertawa. Untuk beberapa saat, kedua perempuan itu terus tertawa tanpa alasan yang jelas. Yoongi terbahak sambil memegangi perutnya dengan kedua tangannya. Hoseok hanya bisa tertawa lebih keras saat melihat Yoongi.

"Hahahaha. Cerai, aku minta cerai…"

"Haha—mwo? Cerai?"

Tiba-tiba, suasana di mobil jadi hening. Sebelum akhirnya Hoseok memecah keheningan.

"Benar?"

"Tentu saja, memang ada orang yang berbohong tentang perceraian?"

Serius. Yoongi berbicara tentang perceraian dengan wajah serius. Yoongi yang selama ini tinggal bersama Hoseok, berceloteh dan tertawa bersama. Terkadang, Yoongi juga menangis tersedu-sedu dan marah sampai pipinya memerah, tapi apa keadaan Yoongi benar-benar seserius ini? Atau ia hanya bercanda? Biasanya, Hoseok akan tertawa geli dan meledek Yoongi. namun, teman Yoongi itu sekarang hanya bisa menutup mulutnya rapat-rapat dan keadaannya benar-benar serius.

"Kami kan sudah hidup terpisah selama lima bulan. Aku sudah banyak berpikir. Ini bukan keputusan yang kuambil dalam semalam. Tiga tahun. Sudah tiga tahun aku menikah, dan selama itu, aku selalu mencoba bersabar. Mungkin orang-orang akan berpikir begini: Min Yoongi mendapatkan keluarga besan yang bagus, suaminya orang sukses, mertuanya hebat, ia tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Tapi Hoseok, sepertinya aku jauh lebih bahagia saat tinggal selama lima bulan di sini dibandingkan dengan tiga tahun di sana. Dulu aku selalu berpikir, kapan aku bisa menjalani hidup yang sebenarnya, tapi di tempat ini dadaku…"

Yoongi meletakkan tangannya di dadanya.

"Aku bisa bernapas. Aku sangat lelah, karena saat di Seoul, semua orang memperhatikanku walau aku hanya menarik dan menghembuskan napas sekali saja. Bagaimana menurutmu, Hoseok? Menurutmu aku seperti orang bodoh, ya? Walau aku hanya berkata sepatah kata, walau aku hanya melakukan satu hal kecil, semua itu akan terlihat bodoh dan konyol, kan? Menurutmu, aku benar-benar tidak tertolong, kan?"

"Kau bicara apa, sih?"

Aku bicara apa, Hoseok?

"…."

Apa yang harus Yoongi katakan? Yoongi sadar harus bercerita lebih banyak, karena akhirnya ia bertemu dengan seseorang yang ia percaya untuk mengetahui seluruh kehidupan pernikahannya yang menyedihkan dan tragis.

Mulut Yoongi terasa berat. Lidahnya terasa kelu. Yoongi bingung karena tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Padahal ada banyak sekali yang ingin ia ceritakan. Yoongi tahu Hoseok pasti akan mendengarkan semua hal yang menimpanya dan menangis bersamanya. Hoseok adalah satu-satunya teman yang akan menghiburnya tanpa pamrih. Yoongi harus bercerita lebih.

"Kenapa? Kau punya masalah yang tidak dapat diceritakan?"

"Tiiidak."

Ada hal yang tidak dapat diceritakan ke teman terdekat sekalipun. Yoongi tidak tahu harus mengatakan apa kepada temannya yang masih muda dan ceria.

Apa yang harus Yoongi ceritakan? Musibah yang menimpa anak pertamanya tidak lama setelah ia menikah? Atau ibu mertua elegan dan berpendidikan yang selalu mengancamnya? Atau kakak kandungnya yang selalu membuatnya bersedih? Atau berbagai macam cerita yang berhubungan dengan suaminya?

Bisakah temannya yang belum menikah itu memahami ceritanya? Yoongi tidak ingin memberikan keraguan akan masa depan kepada temannya yang masih belum tahu apa itu cinta dan pernikahan. Yoongi berpikir bahwa lebih baik ia tidak menceritakan hal yang dapat membuat bingung teman yang sangat berjasa padanya dan anaknya.

"Nanti, aku akan menceritakan semuanya nanti kalau ada kesempatan. Hoseok, nanti, ya?"

"Kalau kau tidak mau bercerita padaku, tidak mungkin aku tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi Min Yoongi, walaupun begitu, jangan membicarakan masalah perceraian semudah itu. Kau dan aku, kita tidak boleh berbicara tentang perceraian semudah itu."

"Iya."

"Kita memang tidak akrab waktu masih kuliah, tapi pernikahanmu adalah pernikahan yang paling tidak biasa saat itu. Tidak ada anak jurusan kita… tidak… anak di kampus kita yang tidak mengenalmu. Kalian kan terlihat seperti pasangan yang hanya ada di novel-novel. Pernikahan antara generasi kedua keluarga konglomerat dengan perempuan biasa. Pernikahan kalian menggemparkan semua orang, tapi kau malah sudah berbicara tentang perceraian, padahal pernikahan itu masih seumur jagung. Coba saja kau bercerai. Orang-orang yang selama ini berbicara buruk di belakangmu akan berteriak senang sambil membicarakan hal yang lebih buruk lagi. Pasti begitu. nanti, harga dirimu akan jatuh. Kalau kalian sampai berpisah seperti yang mereka perkirakan selama ini, berarti hidupmu benar-benar sebuah kegagalan besar."

Yoongi sangat mengerti maksud perkataan Hoseok. Ia juga mengerti kekhawatiran Hoseok. Lalu, sejujurnya Yoongi memang belum pernah berpikir sejauh itu akan pernikahan dan perceraiannya.

Hidupnya adalah sebuah kegagalan besar. Yoongi menetapkan hati untuk bercerai, karena ia merasa senang menjalani kehidupan yang bebas dari pengaruh suami dan mertuanya, karena ia dapat meneruskan hidup seperti itu bersama anak yang akan segera ia lahirkan. Benarkah begitu? benarkan orang-orang hanya akan menganggap kehidupan Yoongi adalah sebuah kegagalan besar dan tidak akan melihat kebahagian kecil yang akan didapatkannya?

Yoongi sudah banyak berpikir sebelum memutuskan perceraian ini, tapi ia harus mengakui bahwa ia memang terlalu terburu-buru.

"Benar, terima kasih. Berkat kau, aku jadi punya bahan pertimbangan lagi. Hoseok, terima kasih."

Yoongi mengucapkan rasa terima kasihnya sambil memegang tangan Hoseok yang ada di atas gear. Mungkin Hoseok malu, sehingga ia hanya menatap lurus ke depan dan berpura-pura batuk.

.o.

Sebuah bangunan berwarna biru laut, yang terletak di pinggir pantai musim dingin yang terisolasi, menarik perhatian Yoongi. jika dilihat dari luar, bangunan tersebut dikelilingi kaca berwarna hitam, tapi dari dalam, pemandangan cerah yang mencengangkan mata terlihat sangat jelas. Tempat itu adalah kafe tepi pantai, bernama Café Sapphire Blue. Namjoon langsung muncul dengan senyuman cerah setelah mereka memarkir mobil.

"Hai, Bunny! Hai juga untuk Hoseok!"

"Oh! Jadi Bunny kau sapa lebih dulu? Lelaki harusnya menyapa perempuannya lebih dulu!"

"Hoseok, jujur saja, ya… memang kau perempuan?"

"Uh, MWO!"

"Sudah, sudah. Namjoon hanya ingin menggodamu, bodoh."

"Orang bodoh itu bahkan tidak mengerti maksudku, Yoongi. karena itulah, berarti ia memang bukan perempuan. Hahaha…"

"MWO! Kenapa kalian bisa berbicara hal yang tidak menyenangkan untukku dan membuatku jadi orang bodoh!"

"Hihihi…"

"Hahaha. Maaf karena temanku sebodoh ini, Namjoon."

"Dasar, aku pergi, nih."

"Eh eh, Hoseok. Hoseok-ku yang seperti bidadari, jangan begitu, dasar, kau harus main kalau sudah datang ke sini. Masa kau malah marah seperti anak kecil dan pergi begitu saja, sih?"

"Namjoon, kenapa kau tiba-tiba menempel seperti ini, sih. Menjijikkan, menjauh sana!"

Pasangan kekasih yang terlihat harmonis. Pemuda berambut hitam berantakan dan memiliki otot tangan yang bagus, bersama Hoseok yang bertubuh pendek, berdebat seperti anak kecil untuk bertukar sapa. Hoseok sangat marah jika ada orang yang bertanya apakah mereka berdua berpacaran, tapi keduanya terlihat sangat serasi. Saat-saat menyenangkan tanpa perlu mengkhawatirkan apa-apa.

Iri. Iri. Pernahkah aku mengalami masa-masa seperti ini? Pernah, kah? Namun, sepertinya itu sudah sangat lama sekali. Yoongi hanya bisa berdiam melihat Namjoon dan Hoseok dari belakang.

"Hei, Yoongi. Ayo masuk, ada yang harus kau makan. Seorang pria paruh baya berwajah kecokelatan memberikannya di pelabuhan."

"Memangnya apa?"

Dengan kaki gemetar, Yoongi mengikuti Namjoon yang berjalan menuju dapur kafe. Namjoon menyodorkan keranjang bambu bertekstur kasar penuh makanan laut dengan aroma kerang yang sangat pekat. Bahkan, di dalamnya terlihat kepiting laut yang masih menggerak-gerakkan capitnya, terlihat sangat segar.

"Abalon biru. Hmm, sangat mirip dengan abalon biasa. Ayo kita rebus sebentar dan makan bersama. Aku punya sambal ekstra pedas, alkohol juga ada. Ibu hamil tidak boleh makan sashimi, jadi kau bisa makan yang direbus, sedangkan aku dan Namjoon makan sashimi dengan alkohol."

"Namjoon! Kau mau terus-terusan pakai bahasa Jepang? Sashimi kan hwe dalam bahasa kita!"

"Hei, memang hwe bahasa Korea? Itu bahasa Cina. Terserah mau hwe atau sashimi atau bahasa Cina atau bahasa Jepang! Semua sama saja, dasar anak kecil!"

"Huh, aku pergi."

"Ya ampun, ya ampun, oke, oke. Dasar. Hwe. Hwe. Hwe! Puas?"

Hoseok yang mengeluh dengan lucu untuk hal yang tidak penting dan Namjoon yang menerima semua keluhan Hoseok, membuat Yoongi iri setengah mati.

Yoongi memakan abalon biru yang direbus sebentar. Mereka menikmati abalon biru segar dengan sambal sangat pedas. Sembari makan, Yoongi memperhatikan dua orang yang mengunyah dengan nikmat dan meminum alkohol dengan gelas bir. Ia merasa asing melihat pemandangan hangat di depan matanya, dua peminum berat duduk berhadapan sambil meminum alkohol mereka.

Jimin sangat jarang minum alkohol. Apa karena surat itu? Atau karena pasangan yang sedang bertengkar dengan penuh cinta di depanku? Aku selalu teringat orang itu. Yoongi menarik napas melalui hidungnya yang memerah karena ingin menangis. Ia lalu menyodorkan gelasnya kepada Namjoon.

"Mau tuangkan segelas alkohol untukku?"

"Hah? Ibu hamil mau minum juga?"

"Benaaar, kau tidak boleh minum. Kita saja yang minuuum, Namjooniee."

Hoseok tahu Yoongi takkan mabuk jika hanya minum satu gelas, tapi ia tetap menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berbicara dengan suara sengau. Yoongi juga tahu kalau minum satu gelas takkan membuat seseorang mabuk, sehingga ia juga mulai bertingkah.

"Kau begitu karena tidak mau berbagi minumanmu denganku, ya?"

"Hei, Min Yoongi! kau bisa saja melahirkan lusa, tapi sekarang kau malah ingin minum, lagi pula biasanya kan kau tidak pernah minum!"

"Siapa bilang aku akan melahirkan lusa? Masih lama. Lagi pula, kalian terlihat sangat menikmati minuman kalian, aku jadi ingin minum juga. Minum…"

Mungkin Hoseok lebih mabuk dari yang Yoongi perkirakan. Hoseok meletakkan salah satu lengannya di pundak Namjoon yang tinggi dengan susah payah, lalu tertawa sendiri.

"Hihihi… Namjoon memang paling pas untuk dijadikan teman minum. Selain untuk teman minum, ia tidak berguna di bidang lain."

Hoseok yang sudah mabuk berat itu sama sekali tidak menyadari apa yang ia katakan. Perkataan yang cukup membuat Namjoon tertegun.

Yoongi memandang kedua temannya itu sedih. Hoseok, ternyata kau bodoh. Kau tidak melihat wajah Namjoon yang menjadi kaku? Hanya teman minum? Memang ada orang lain yang sebaik Namjoon? Kau bodoh, orang bodoh yang baik. Dan apa aku juga begitu? apa aku menyakiti hati Jimin tanpa kusadari? Memang apa yang bisa menyakiti hatinya? Kaulah yang bodoh, Yoongi. Jimin adalah orang yang takkan mengeluarkan darah setetes pun walau ditusuk dengan jarum.

Takkan mengeluarkan darah setetes pun walau ditusuk jarum?

Lalu, siapa yang waktu itu menciumku dengan ekspresi sangat kesakitan?

Siapapun orang yang waktu itu memperingatkan ibunya dengan keras untuk membelaku?

Siapa orang yang waktu itu hanya menatap ibunya seakan dunia telah berakhir, saat aku ketakutan dan lari meninggalkan rumah?

Sebenarnya siapa orang yang terlalu senang sampai gemetaran saat mengetahui ia akan punya anak setelah tiga tahun menikah!

Ah, dasar. Kau adalah orang terbodoh di dunia, Min Yoongi!

TBC

.

.

.

.

.

TBC

Hooiii ajhumma back/? Wkwkwk. Uhh ajhumma sibuk belajar trs buat sbmptn nanti T_T doain ajhumma yaaa~ yeeeeeeee bawa pairing fav ajhumma disini NAMSEOK ! tapi namseoknya Cuma sekedar bumbu aja kok :3 mungkin bakal muncul 2 / 3 chapter aja hehe :3

THANKS FOR READING

REVIEW PLEASE?