After The Weeding

Novel Remake, karya Kim Ji-Oh

Min Yoongi

X

Park Jimin

MINYOON/MINGA/YOONMIN FANFICTION

New chara muncul~ Hoseok x Namjoon

RATED BERUBAH – UBAH SEWAKTU – WAKTU!

IF YOU DON'T LIKE. DON'T READ IT !

IF YOU WANT COPAS, WITH AUTHOR NAME JUSEYO

Genderswitch for Min Yoongi and other characters!

Happy reading~

.

.

.

.

Hoho~ sebelumnya makasih baik sider maupun yg bukan sider ataupun yg msh setia baca ini, favorit following juga. Makasih banyak. Mungkin pada bingung yah sm konflik yg terjadi. Ikutin aja alur ini terus. Nanti kalian jg paham. Aku dulu pertama baca ini juga bingung wkwk. Tp karena penasaran jadinya yahh dibaca terus. BTW ajhumma ingatkan ini emg remake novel ya sayang ^^

.

.

.

.

.

.

After the Wedding

Chapter 16

Kau Istriku

Ada satu hal yang membedakan novel dan kenyataan: tidak ada sedikit pun kebaikan yang muncul jika sepasang suami istri hidup terpisah dalam jangka waktu yang lama. Jangan jadikan novel sebagai panutan hidup. Novel hanyalah novel, bukan buku wajib dalam jurusan percintaan, jalanilah "hidupmu sendiri"

.

.

..

.

.

.

.

.

.

Saat Yoongi makan abalon biru di kafe Namjoon, Jimin tiba di Pulau Jeju dengan pesawat terakhir. Perjalanan Jimin tidak sampai lima puluh menit, tidak setimpal dengan waktu yang dihabiskan Yoongi terombang-ambing di laut selama tiga belas jam lima bulan yang lalu. Perjalanan yang lancar akan selalu membosankan. Jimin melangkah ke arah mobil sewaan beserta sopirnya yang telah dipesan oleh sekretarisnya sebelumnya. Ia tidak tertarik dengan pemandangan musim dingin di Pulau Jeju, dan tidak punya niat sama sekali untuk berputar-putar dan menghabiskan waktu. Ia berpikir udara dingin Pulau Jeju bisa membuatnya mati beku.

"Selamat datang. Selamat datang di Pulau Jeju, Pak Direktur."

"Iya. Ke alamat ini."

Mata sopir mobil tersebut langsung terbelalak saat pemuda yang di sebut 'direktur' itu duduk di bangku belakang dan membuat udara yang dingin bertambah dingin.

Sopir mengintip sekilas dari back mirror. Pemuda itu terlihat seperti seseorang yang temperamental. Ia tidak tahu apakah pemuda Seoul itu datang untuk main atau apa, yang pasti ia terus menatap ke luar tanpa meneteskan setetes keringat pun walau memakai mantel panjang dengan pemanas mobil yang dinyalakan. Hiiih, menakutkan.

"Suhgwipo… ah, daerah ini. Saya akan mengantarkan Anda secepat kilat, Pak Direktur."

"Iya."

Jimin berpura-pura tidak tertarik dan hanya terus menatap ke luar. Angin topan sedang berkecamuk di dadanya.

Pertengkaran dengan ibunya waktu itu berakhir sia-sia dan memilih untuk tidak menghiraukan ibunya. Lalu, Jimin tidak bisa tidur selama tujuh jam dan hanya bisa terus menunggu istrinya. Ia pikir istrinya akan segera pulang, tapi ternyata Yoongi tidak memberi kabar sama sekali walau hari telah berganti, sehingga ia memutuskan untuk mampir ke Banpho. Namun, Jimin malah hanya menerima kekecewaan yang lebih besar, dan menjadi semakin khawatir setelah ia pergi ke rumah keluarga kandung istrinya.

Ia kemudian melaporkan hilangnya Yoongi ke polisi, memasukkan nama istrinya ke dalam daftar orang hilang, bahkan menyuruh karyawan kantornya mencari ke bandara. Tapi, ternyata istrinya telah naik kapal menuju Pulau Jeju. Sedangkan, polisi mengira Yoongi telah pergi ke luar negeri, karena mereka menemukan mobil Yoongi di tempat parkir bandara, sehingga mereka mencari keberadaan Yoongi di negara-negara yang memperbolehkan orang asing masuk tanpa visa. Namun, ternyata ia berada di Pulau Jeju. Mereka sama sekali tidak mengiranya. Mereka mengira Yoongi berada di suatu tempat hangat, tapi ternyata malah di pulau Jeju yang berbahaya.

Aku kesal, Yoongi. Jimin menghembuskan napas panjang yang memenuhi seantero mobil. Jimin tidak peduli walau sopir mobil yang terkejut melirik ke arahnya melalui back mirror.

Bulan lalu, seseorang yang mengaku sebagai pengacara istrinya datang mencarinya untuk memproses gugatan cerai istrinya. Sejujurnya, saat itu Jimin hampir memberikan uang yang sangat banyak kepada pengacara itu karena merasa sangat berterima kasih. Pengacara itu adalah seseorang yang menyedihkan, hanya berpura-pura hebat, dan mencoba berbicara secara profesional dengannya, tapi Jimin berhasil mengetahui keberadaan Yoongi dari mulut di pengacara. Hah! Semua uang dan hadiah yang mengalir untuk polisi tidak becus dan agen detektif bermulut besar itu jadi sia-sia. Jimin juga semakin ingin merobek Min Woobin, yang tetap menutup mulutnya rapat-rapat walau telah mengetahui keberadaan Yoongi.

Selama lima bulan!

Yoongi benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Perempuan itu menyiapkan sendiri semua hal yang ia perlukan selama mengandung, tanpa bantuan suaminya. Jika dilihat dari gugatan cerai yang dilayangkan kepada Jimin, sepertinya ia bahkan ingin melahirkan dan membesarkan anaknya sendirian. Hah! Tidak mungkin. Kau pikir aku boneka! Aku akan menjemput anakku. Yoongi, aku bukan orang seperti itu. Aku tidak akan berpura-pura tidak mengenal anakku. Lalu kau, kau juga… Yoongi.

Siapa bilang kita bisa bercerai semaumu? Kau istriku, dan anak yang kau kandung adalah anakku juga. Betul, kan?

Jimin mengusap wajahnya yang lesu dan kuyu. Ia ingin menghembuskan napas yang penuh keputusasaan, yang telah menjadi kebiasaannya beberapa bulan terakhir. Alis hitamnya yang dulu selalu dipuji istrinya kini terlihat seperti ular yang menjalar di gurun panas; dahi yang tadinya sudah mulus seperti habis disetrika, kini dihiasi kerutan yang terus bertambah dalam. Wajah Jimin juga bertambah tajam. Ia mengusap garis wajahnya dengan perasaan tidak puas.

Yoongi pasti akan ketakutan. Tangannya pasti akan gemetar lagi. Sial, sial!

Sepertinya, Jimin tidak pernah tidur nyenyak sekali pun dalam lima bulan ini dan akan menumpahkan kekesalannya kepada karyawannya walau mereka hanya melakukan sedikit kesalahan. Juga, ia akan selalu menanyakan seribu pertanyaan kepada polisi setiap kali terbangun, dan ia akan selalu tenggelam dalam mimpi buruk setiap ia tidur. Polisi memasukkan Yoongi ke daftar orang kabur dari rumah pada minggu pertama, tapi tetap tidak ada kabar dari Yoongi, walau sepuluh hari telah berlalu, sehingga mereka memperkirakan Yoongi diculik atau bunuh diri. Namun, sebenarnya Jimin telah bermimpi buruk tentang kemungkinan-kemungkinan itu dari waktu ke waktu, bahkan sebelum polisi mengungkapkan perkiraan mereka.

Istri yang harus menderita karena ditangkap oleh sekumpulan orang brengsek demi uang. Orang-orang yang patut mati! Mimpi tentang istrinya yang ditemukan mati bersama mobilnya di sebuah danau terpencil. Jimin benar-benar membenci mimpi itu! Parahnya, ia juga memimpikan hal-hal buruk lainnya, dan jika terbangun, yang ia pikirkan hanya polisi dan detektif yang senang karena akhirnya kasus yang telah menyita waktu mereka telah selesai untuk selamanya.

Ini bukan akhir kita. Yoongi, apa yang harus kulakukan jika bertemu denganmu? Haruskah aku mencengkerammu? Haruskah aku berteriak keras? Atau… tidak tahu, aku tidak tahu kenapa sekarang aku sangat takut.

Aku datang mencarimu karena aku ingat perkataanmu, bahwa kau mencintaiku, Yoongi. kumohon, ingatlah aku yang berkata hanya mencintaimu dan terimalah aku…

.o.

"Akuuu! Menghiburmu yang jadi kurus begini. Ke rumah! Kembali ke rumah, katakan kata-kata yaaang tidak aaakan aku kataaakan sampai akhiiir! Sendiiiriiiian! Cin! Ta! Ada… cinta yang tiiidak bisaaa dimiliki! Aku! Lihat aku walau aku ada di sini! Aku tetap bisa meninggaaalkanmu."

"Aduh, beginilah kebiasaannya kalau sedang mabuk… Yoongi, kau bisa pulang sendirian?" gumam Namjoon.

"Kau khawatir? Kalau begitu antarkan kami."

"Memang sudah sewajarnya begitu, sih. Anak ini bahkan tidak bisa menjaga dirinya sendiri, mana mungkin aku membiarkanmu yang sedang mengandung mengurus semuanya."

"Huhuhu… kalau begitu, naiklah."

Itulah bagaimana perilaku Hoseok saat mabuk sehabis minum alkohol dengan gelas bir berdua dengan Namjoon. Seorang perempuan yang 'tidak mau' mengatakan kata cinta, berubah menjadi sangat lembut dan manja. Padahal, biasanya ia mendengarkan musik hip hop, tapi ia akan mendengarkan lagu sedih jika sedang mabuk. Seleranya akan sangat berubah.

Matahari musim dingin, yang hanya muncul dalam waktu singkat, bergerak menuju garis horizon. Sebentar lagi ia akan benar-benar terbenam, Hoseok tidak akan mungkin mengemudi, sedangkan Namjoon tidak punya SIM, sehingga akhirnya Yoongilah yang harus menyetir. Yoongi mengemudi sekitar dua puluh menit di jalanan tepi pantai bersama Hoseok dan Namjoon, sampai akhirnya galeri Hoseok terlihat.

Yoongi tidak melihat sosok bayangan tinggi yang mondar-mandir di sekitar patung Dolhareubang—patung khas Pulau Jeju yang diletakkan di depan galeri. Yoongi memarkir mobil, berusaha susah payah bangun dari tempat duduknya, sementara Namjoon sibuk membawa Hoseok masuk ke galeri.

Dan entah kenapa Yoongi merasa sedih.

Suara nyanyian Hoseok mengalun memenuhi langit malam yang tinggi sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu galeri. Sekerang, hanya terdengar suara halus Namjoon yang sedang menghibur Hoseok. Yoongi pun menyerah untuk bangun, lalu duduk termenung sambil memandangi keributan yang dilakukan Hoseok dari dalam mobil. Ia terus begitu sampai suara yang sudah lama tidak ia dengar pun terdengar…

"Mau kubantu?"

"Ah!"

Suara yang tidak asing. Dan tangan yang tidak asing muncul di depan matanya, mengulur ke arahnya. Yoongi tidak percaya. Itu pasti hanya suara yang ingin ia dengar. Tangan yang ingin dilihatnya. Tapi, berapa kali pun Yoongi mengerjapkan matanya, tangan itu tidak kunjung menghilang… Yoongi mendongak. Dan saat itulah matanya bertemu dengan mata suaminya, Jimin.

"Jimin."

Saat itu, Yoongi sama sekali tidak tahu ekspresinya terlihat seperti apa. Entah sedih, entah bahagia, ia sama sekali tidak bisa mengatur ekspresinya. Bagaimana ini…

"Iya."

Jimin masih saja menggunakan kata-kata sederhana. Walaupun begitu, sebenarnya Jimin sangat bahagia. Karena akhirnya ia bisa kembali bertemu dengan istri yang ia cintai, Yoongi. Sedangkan Yoongi, ia kini beralih memandangi tangan Jimin. Warnanya, bentuknya, dan garisnya, masih tetap sama. Tangan suaminya masih tetap sama.

"Kau mau terus-terusan di situ?"

"Ah, tidak."

Suara suaminya penuh kekhawatiran. Sikapnya yang terburu-buru juga masih sama, terlihat dari caranya meminta Yoongi untuk cepat-cepat memegang tangannya. Yoongi tahu kalau seseorang takkan berubah hanya dalam beberapa bulan, tapi Yoongi tetap saja memperlajari suaminya dengan seksama. Sekarang suaminya menjadi lebih kurus dan terlihat tidak terurus… kenapa bisa begini?

"Ayo."

Jimin mengulurkan tangan dan terus menunggu. Akankah Yoongi memegang tangannya? Atau akankah ia mengabaikannya?

Yoongi memperlihatkan kondisinya yang menyedihkan dalam pertemuan pertamanya setelah lima bulan berpisah dengan Jimin. Yoongi bimbang. Ia harus berpegangan erat ke setir mobil dan terhuyung-huyung jika berusaha bangun sendiri. Haruskah ia memegang tangan Jimin?

Kita sudah menikah dan hidup bersama selama tiga tahun, lalu setengah tahun bahkan belum berlalu sejak kita berpisah. Kenapa Jimin bersikap seperti tidak terjadi apa-apa? Kalau pasangan suami istri seperti ini, mereka malah akan terlihat seperti orang-orang yang tidak saling mengenal, kan? Yoongi pun akhirnya memutuskan untuk memegang tangan Jimin. "Aku sangat berat, kalau kau tidak keberatan, sih…"

"Tidak usah khawatir. Ayo."

Yoongi memegang tangan Jimin yang dapat menarik Yoongi dengan mantap. Ia terkejut bisa bangun semudah ini dari tempat duduknya. Mengejutkan. Yoongi pun terbenam dalam pelukan Jimin dengan wajah penuh keterkejutan. Ia sangat senang… Jimin, suaminya, ada di sini.

"Terima kasih, Jimin. Ternyata seorang suami sangat berguna di saat seperti ini."

"Tidak apa. Lagi pula aku juga sedang tidak ada kerjaan, kok."

"Akhir-akhir ini aku selalu berpikir keras untuk mencari pegangan setiap ingin bangun. Anak ini membuat pinggangku lemas."

Sebenarnya, Jimin tidak mengerti isi celotehan Yoongi yang tanpa henti. Jimin hanya bisa menyimpulkan bahwa sepertinya ada masalah yang menyulitkan Yoongi. kemudian, ia langsung bertanya tentang kehamilan Yoongi.

"Bagaimana dengan rumah sakit? Kau teratur ke rumah sakit, kan?"

"Iya."

"Aku takut memelukmu, Yoongi."

"?"

"Bagaimana kalau bayinya terluka jika aku memelukmu terlalu erat?"

"Ah… itu, bagaimana, ya? Ini pertama kalinya aku seperti ini, sih…"

Yoongi yang kebingungan berusaha melepaskan diri dari pelukan Jimin, tapi ia tidak kunjung bisa melakukannya. Jimin memeluknya sangat erat. Yoongi mengalami perasaan menyenangkan yang hanya bisa timbul jika ia bersama suaminya, perasaan yang ia kita telah ia lupakan, perasaan yang menyulitkan posisi Yoongi. Pura-pura tidak terjadi apa pun? Haruskah aku berusaha melepaskan diri dari pelukan suamiku yang terasa tidak asing dan bahkan mulai terasa nyaman? Atau haruskah aku membiarkan ia memelukku seperti yang kuinginkan?

"Bilang saja kalau tidak nyaman, Yoongi, tapi kau juga harus ingat, bahwa sudah berbulan-bulan aku bersabar untuk tidak bertemu denganmu."

"Iya."

Mereka tidak saling memberi salam, melainkan langsung berbagi cerita, berpelukan, maupun berciuman. Mereka terlihat seperti orang yang baru berpisah kemarin malam. Jika bukan karena perut Yoongi yang sudah membubung tinggi, pasti mereka juga akan lupa bahwa mereka telah berpisah selama lima bulan. Jimin sangat merindukan aroma istrinya. Aroma yang takkan ia pernah lepaskan lagi.

Selama beberapa saat mereka tetap berpelukan sampai Jimin melepaskan karena ia merasa ada seseorang yang menendang…? dari perut istrinya! "Apa itu?"

"Hah? Ah, itu karena bayi menendang perutku. Anak kita memberi salam."

"Bukan karena aku menyakitinya, kan?"

"Tidaak, hahaha… kenapa ia begini walau cuma disentuh dengan tangan, ya? Kurasa ia tadi terbangun dari tidurnya, dan sekarang tidak mau membiarkanku tidur agar aku bisa mengajaknya bermain."

Yoongi tersenyum, tapi sudut hatinya terasa sakit. Jika mereka selalu bersama, Jimin takkan melewatkan pengalaman-pengalaman mengejutkan seperti ini. Yoongi memperhatikan ekspresi Jimin yang terlihat terkejut dan penuh kekaguman. Ia lalu menyentuh wajah Jimin dengan tangannya.

"Kenapa wajahmu begini, Jimin?"

"Wajahku kenapa?"

"Kenapa kurus sekali!"

"?"

Perempuan yang selama ini membuat semua orang khawatir bertanya dengan tajam kepada Jimin. Tentu semua orang akan marah jika dihadapkan dalam situasi seperti ini. Mencengangkan, Min Yoongi. Jimin memang ekspresi seperti sedang tertusuk pisau kepada Yoongi, yang sedang memandanginya dengan tajam. Benar-benar mencengangkan.

Yoongi mulai mengarahkan kekesalannya pada orang lain. Suara Yoongi yang bermuka tebal. Kemarahan Yoongi yang bermuka tebal.

"Ibumu, ibumu yang luar biasa itu tidak bisa menjagamu, ya? Padahal, ia selalu bertingkah seakan bisa menjagamu seribu kali lebih baik dariku. Benar-benar membuatku kesal. Apa-apaan ini, Jimin!"

"Kau tidak perlu menyalahkan siapa-siapa, ini semua karenamu."

"Karena aku? Salahku?"

Suara Yoongi terdengar seperti teriakan histeris. Ia mengapalkan kedua tangannya yang gemetar sambil mundur menjauhi Jimin. Jimin pun langsung memegangi pundak Yoongi.

"Tenang, Yoongi. Maksudku…"

"Aku tidak bisa tenang! Memangnya apa yang kulakukan sampai kau menyalahkanku? Aku tidak mau mendengar perkataan seperti itu, karena itulah aku rela datang ke tempat sejauh ini. Tapi kenapa, kenapa aku malah harus mendengarkan perkataan seperti itu lagi? Jelas-jelas aku ada di sini. Aku ada di sini, aku ada di sini dan menghilang dari dunia seperti orang yang sudah mati, jauh dari kau dan keluargamu. Katakan. Apa salahku!"

Ayo bertengkar, bertengkar. Ayo bertengkar sepuasnya selama masih ada kesempatan. Jangan berhenti di tengah jalan dan menahan semuanya, karena nantinya akulah yang akan menyesalinya. Aku takkan berbuat seperti itu lagi. Kau juga harus menjawab pertanyaanku sejelas-jelasnya. Jangan hanya menggerutu dan menutupi perasaanmu. Beri tahu aku, apa yang ada di dalam hatimu. Lalu, tolong dengarkan juga perasaanku.

Jimin, kumohon jangan mundur. Kalau kau terus begitu, mungkin aku takkan bisa memaafkanmu lagi.

"Aku tidak bermaksud begitu, Yoongi."

Kau benar-benar masih sama. Jimin kebingungan melihat Yoongi yang marah-marah, sedangkan Yoongi mulai membenci suaminya yang memandangnya dengan khawatir.

Jika kau tidak berubah sekarang juga, tidak ada kata 'nanti' di antara kita. Jimin, kenapa kau tidak mengerti? Kenapa kau pura-pura tidak mengerti?

Lelah. Aku lelah. Hari ini sampai di sini saja.

"Cukup. Jimin, kembalilah sekarang. Suasana menyenangkan tidak pernah bertahan lebih dari lima menit setiap kita bertemu. Ini bukanlah kehidupan yang semestinya! Tidak ada yang berubah satu pun. Kita berdua, maupun situasi di sekitar kita. Semua tetap sama. Sekarang aku lelah. Aku akan masuk. Jimin, hati-hati di jalan."

"Kau… kau ingin membalas perbuatan ibuku kepadaku, ya."

"Apa maksudmu?"

"Kau tidak mau mendengarkan perkataanku, kau malah semakin mendorongku, membuatku semakin jauh. Kau mau terus menderita sendirian seperti ini? Kau kan sedang mengandung, kenapa kau masih juga pergi meninggalkan rumah? Kau mau terus begini? Hentikanlah. Aku juga… menderita sepertimu. Selama ini, aku juga menderita, Yoongi!"

Jimin mencoba mengeluarkan semua perasaan yang menyesakkan dadanya. Mata istrinya yang terbelalak memandanginya dengan seksama. Sepertinya, Yoongi bahkan tidak bernapas. Yoongi sangat membenci orang yang berteriak, tap aku malah berteriak seperti ini lagi. Jimin memandangi Yoongi yang terlihat benar-benar lelah. Ia pun mencoba sekuat tenaga untuk menahan ledakan amarahnya.

"Yang penting aku sudah tahu bahwa ternyata kau sehat-sehat saja, jadi aku akan pergi. Sampai ketemu besok. Masuk dan beristirahatlah."

Angin laut bertambah kencang saat matahari terbenam. Suaminya, yang berkata dengan suara rendah bahwa selama ini juga ia menderita, berjalan terhuyung-huyung. Terlihat seperti akan jatuh. Emosi Yoongi meledak begitu melihat suaminya yang menjadi kurus. Suami yang ia kira akan sangat bersenang-senang karena istrinya yang selalu mengganggu dan mengesalkan tidak ada, suami yang berkata bahwa selama ini ia juga menderita. Suami yang Yoongi kira tidak akan… bukan… tidak bisa berkata seperti itu seumur hidupnya. Berkata bahwa ia juga menderita.

Ujung mantel suaminya berkibar-kibar tertiup angin laut yang dingin. Suaminya terhuyung-huyung. Mantel itu, mantel yang kubelikan musim dingin kemarin. Apakah mantel itu memang sebesar itu? Seharusnya itu mantel yang melekat pas dengan pundak sampai pinggang. Apa memang sebesar itu? Jimin, suamiku, apa yang sebenarnya terjadi? Yoongi pun hanya bisa terdiam melihat Jimin memasuki mobil.

.

.

.

"Ke hotel Shilla."

"Baik, Pak Direktur."

Direktur dari Seoul kembali ke mobil dengan sangat lunglai, seperti orang yang hanya tersisa kulitnya. Wajah yang tadinya keras sekarang terlihat pucat. Menakutkan, benar. Lebih baik aku menyetir saja. Itulah yang melintas di benak sang supir begitu melihat Jimin kembali memasuki mobil.

Jimin duduk di bangku mobil sewaan yang terasa asing dan tidak nyaman sambil memandang keluar. Memandang sosok istrinya yang sedang berdiri di terpa angin malam yang dingin di belakang. Bodoh! Jimin mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan menelan kalimat 'putar balik' dalam-dalam. Apa yang sedang kau lihat? Apa yang sedang kau pikirkan? Istriku yang terlihat hitam dan kecil dari sini masih cantik…

TBC

.

.

.

.

.

TBC

Back nih back~ ehehehe. Sorry lama yaa. Agak" sibuk akhir" ini ;;-;;

THANKS FOR READING

REVIEW PLEASE?