After The Weeding
Novel Remake, karya Kim Ji-Oh
Min Yoongi
X
Park Jimin
MINYOON/MINGA/YOONMIN FANFICTION
New chara muncul~ Hoseok x Namjoon
RATED BERUBAH – UBAH SEWAKTU – WAKTU!
IF YOU DON'T LIKE. DON'T READ IT !
IF YOU WANT COPAS, WITH AUTHOR NAME JUSEYO
Genderswitch for Min Yoongi and other characters!
Happy reading~
.
.
.
.
Hoho~ sebelumnya makasih baik sider maupun yg bukan sider ataupun yg msh setia baca ini, favorit following juga. Makasih banyak. Mungkin pada bingung yah sm konflik yg terjadi. Ikutin aja alur ini terus. Nanti kalian jg paham. Aku dulu pertama baca ini juga bingung wkwk. Tp karena penasaran jadinya yahh dibaca terus. BTW ajhumma ingatkan ini emg remake novel ya sayang ^^
.
.
.
.
.
.
After the Wedding
Chapter 17
Malam Biru di Pulau Jeju
Jika mereka memiliki keberanian untuk berbicara dan bukan untuk mengutarakan alasan maupun saling menyerang, berarti masih ada harapan untuk pasangan suami istri tersebut.
.
.
..
.
.
.
.
.
.
Angin malam makin lama makin bertiup kencang. Angin yang terasa seperti angin topan memang selalu bertiup di rumah tepi pantai di saat seperti ini. Walaupun ini Pulau Jeju, udaranya tetap sangat dingin. Yoongi berbaring berselimut sembari menatap langit-langit. Sosok suaminya terbayang di langit-langit yang rendah, yang dicat warna kuning lemon. Padahal, aku merindukannya. Padahal, aku ingin menyapanya dan berbicara dengannya dengan hangat. Dengan suamiku, Jimin.
Menyapa dengan hangat? Berbicara dengan hangat? Cih, makan impianmu. Mana mau ia melakukan hal-hal seperti itu denganmu yang kesulitan bangun dari mobil karena perutmu yang sudah membuncit.
Lalu, kau juga hanya mengatakan hal yang melukai orang yang sudah lama tidak bertemu denganmu. Kau benar-benar keterlaluan, Min Yoongi.
"Haaah."
Yoongi membalikkan badannya dan menggigit kelingkingnya. Anak di dalam perutnya juga terbangun, tampaknya sedang menghisap ibu jarinya dan bergerak ke sana kemari di dalam perut. Ia menendang-nendang perut ibunya dengan sekuat tenaga seakan berkata 'Ibu tidak becus, ibu tidak becus.'
Yoongi tersenyum kecil. Nak, kau pasti berpikir bahwa ibumu ini konyol, kan? Kau jangan sampai mirip Ibu, ya. Mirip Ayah saja, Nak.
Bahkan, anak Yoongi tidak memihaknya malam ini. Ia terus menendang-nendang perut Yoongi seakan merasa tidak nyaman jika Yoongi terus berbaring. Yoongi bangun dengan susah payah, lalu duduk sambil mengusap-usap perutnya lembut. Ia menghibur anaknya yang terus bertingkah dan tidak mau mengerti perasaan ibunya. Kesabaran seorang ibu muda memang masih ada batasnya.
"Kau, kau pasti perempuan, kan? Pasti anak perempuan yang mirip denganku! Karena kau terus bertingkah dan tidak mau mendengar perkataan Ibu! Ibu tidak perlu melihat untuk tahu. Kau mau terus-terusan begini? Nanti kau harus dimahari setiap hari oleh Ayah! Kau tidak tahu seberapa menakutkannya ayahmu, ya? Ayah, ayah…"
Tidak, Nak. Ayahmu sangat menyayangimu. Marah? Tidak akan, ia tidak akan marah. Setiap hari ia hanya akan menyayangimu.
Tanpa diduga air mata mengalir dan membasahi wajah Yoongi. Air mataku, yang bahkan tidak keluar saat aku harus ke rumah ibu mertua, tidak keluar saat Oppa membuatku sedih, sekarang mengalir, Nak. Kau juga pasti merindukan ayahmu, kan? Ibu juga. Ibu juga, apalagi sekarang Ayah ada di dekat kita.
.o.
Kamar VIP dengan pemandangan laut. Kamar mewah dengan suhu yang tepat, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Jimin yang baru selesai mandi langsung menuju jendela. Terlihat laut yang disertai ombak yang kuat, laut berwarna biru gelap. Jubah mandi dengan bordiran logo hotel membuat tubuh kurus Jimin terlihat makin panjang, membuatnya terlihat semakin menyedihkan. Jimin mengusap-usap wajahnya dengan tangan yang terlihat bertambah besar karena berat badannya turun drastis.
Kurus, tambah pucat, dan kuyu… sial. Memang pantas jika istriku memarahiku. Namun, wajah Yoongi malah terlihat segar. Harus aku tenang atau marah? Tapi untunglah ia baik-baik saja. Benar. Dan perempuan mabuk yang tadi masuk rumah itu temannya, ya? Namanya… tidak ingat. Teman kuliah Yoongi yang mengerjakan proyeknya di Pulau Jeju. Tadi juga ada seorang lelaki. Pacar perempuan itu? Iya, kan? Pasti. Ia terlihat sangat sibuk menjaga perempuannya.
Anakku pasti lahir di musim semi. Ibu hamil boleh naik pesawat sampai usia kandungannya berapa bulan, ya? Tujuh bulan? Delapan bulan? Ah, itu tidak penting. Aku harus membawanya pulang sekarang juga. Ia tidak boleh melahirkan di tempat ini, tempat yang tidak ada seorang pun yang bisa menjaganya. Ibu mertua dan aku harus membawanya pulang. Harus cepat membawanya pulang.
Terlihat cahaya berwarna biru yang terus berkelip dari dalam ruangan dan memantul di kaca jendela. Telepon? Handphone yang menyembul keluar dari kantong mantel cashmere yang dilempar oleh Jimin ke atas kasurnya. Cahaya yang berkedip-kedip, yang menandakan ada panggilan masuk.
Siapa yang menelepon di jam segini… jangan-jangan, Yoongi? Jimin langsung mengangkat telepon. "Yoongi?"
"Ah, Jimin, iya. Ini aku."
"Kenapa, kenapa? Kenapa meneleponku? Kau sakit?"
"Tidaaaak! Hiks… Cuma mau menelepon! Cuma karena mau menelepon! Cuma karena mau menelepon."
"Ssssttt… kenapa menangis? Kau mau aku ke sana? Yoongi, kau mau aku ke sana?"
"Kau kan tidak tahu jalannya, kau mau pergi ke mana! Kututup, ya! Bodoh! Dasar, bodoh!"
"Yoongi…"
Jimin yang kebingungan hanya bisa memandangi layar handphone-nya dengan tatapan kosong. Istri yang menelepon tiba-tiba sambil marah-marah dan menangis. Jimin hanya bisa tertawa karena sangat kebingungan.
"Hmph."
Orang bilang perempuan hamil bertingkah aneh. Apa Yoongi juga begitu? sebenarnya ada apa dengannya sampai rela memakai handphone yang sudah tidak ia pakai selama beberapa bulan untuk meneleponku? Apa ia ingin kutelepon? Ia benar-benar kekanakan-kanakan. Walaupun begitu, kemarahan istri yang cantik. Suara istriku yang kurindukan….
Tidak berapa lama kemudian setelah Jimin berpakaian, ia turun melalui lift dengan terburu-buru. Ia meminta tolong pada resepsionis untuk mencarikannya mobil. Salah satu petugas hotel mengantarkannya ke tempat parkir, lalu membungkukkan badan untuk berpamitan.
Jimin yang merasa khawatir mengeluarkan handphone-nya. Ia memencet tombol shortcut, dan Yoongi mengangkat teleponnya pada deringan kedua. Sudah kuperkirakan!
"Halo, Yoongi? jangan ditutup! Aku sudah berpakaian dan turun. Mobil… aku sudah naik. Istriku! Aku tidak tahu jalan, jadi tolong pandu aku."
"Memandu jalan? Hmm… di situ, di situ tengah kota, ya? Dari sana…"
Yoongi, istrinya, memandunya tanpa ragu-ragu sama sekali. Tak sedikit pun ada kekesalan dalam suaranya.
Jimin tersenyum. Yoongi bodoh. Kau hanya perlu menyuruhku datang jika kau merindukanku. Kenapa malah menangis dan marah-marah? Haaah, kau seperti seorang anak kecil yang akan melahirkan anak.
"Kenapa tertawa? Kau harus memperhatikan jalan dan mendengarkan arahanku!"
"Aku mengerti, mengerti."
"Huuh, apa sih yang lucu? Kau mau terus begitu, Jimin?"
"Maaf. Yoongi, perjalananku lancar, kok. Kau tidak perlu khawatir. Ya?"
"Awas kalau kau sampai tersesat ke tempat aneh!"
Benar. Ternyata kau sedang mengkhawatirkanku. Istrinya yang cantik marah-marah karena sedang mengkhawatirkannya. Istri cantik yang perutnya sudah membesar, yang khawatir suaminya yang tidak tahu jalan akan tersesat. Jimin tidak bisa menghentikan senyumannya.
Sudah berapa bulan, ya? Sudah berapa bulan sejak terakhir kali aku merasa seperti ini? Karena inilah, aku hanya bisa denganmu. Sekarang pelarianmu juga telah berakhir, Yoongi. dan aku tidak akan berpikir dua kali untuk kembali menjadi Kim Jimin jika aku benar-benar kehilanganmu.
.o.
Sebenarnya apa yang aku pikirkan sampai aku bisa menelepon Jimin? Tidak… memang aku masih bisa berpikir.
Yoongi memberikan petunjuk jalan kepada Jimin melalui handphone sambil terus berbicara dalam hati sedangkan tangannya sibuk memakai mantel.
Ibu Yoongi mengirimkan baju lama Yoongi, beserta baju hamil baru di Pulau Jeju. Ibunya yang hemat berpikir bahwa membeli mantel musim dingin khusus ibu hamil merupakan pemborosan, sehingga menyuruh Yoongi untuk memakai mantel lamanya, dan tidak membelikan mantel khusus ibu hamil yang mahal dan biasanya hanya akan dipakai sebentar. Tentu saja ibunya juga tidak lupa untuk terus mencereweti Yoongi, bahwa ibu hamil tidak boleh banyak keluar saat musim dingin, karena udara dingin tidak bagus untuk kehamilan.
Hampir tidak ada pakaian musim dingin kiriman ibunya yang muat dengan Yoongi. Mantel panjang yang di pakaiannya saat masih gadis agar terlihat lebih modis tidak bisa dikancingkan, sehingga ia tidak mengancingkannya dan hanya mengikat sabuk mantel tersebut. Perutnya memang telah benar-benar membesar.
"Haduuh."
Bisakah aku jadi langsing lagi? Yang paling menakutkan bagi Yoongi bukanlah rasa sakit ketika melahirkan, melainkan bagaimana mengembalikan pinggangnya yang melebar seperti semula, walaupun Jimin pastinya tidak akan pernah keberatan bagaimana pun bentuk badannya.
Nak, maaf. Tapi, usia ibumu ini baru awal pertengahan dua puluhan. Kalau kau lahir, kau mau menemani ibu berenang di kolam renang setiap hari, kan?
"Jimin, kalau kau lurus terus, kau akan melihat tanjakannya di depan. Dari situ kau bisa sendiri, kan?"
"Iya."
Yoongi mengenakan mengenakan pashmina merah di atas mantelnya sambil melangkah keluar dari galeri. Angin laut berembus dari waktu ke waktu. Namun, saat angin tidak berembus, udara sama sekali tidak terasa dingin.
"Kenapa kau keluar? Masuk dan jangan sampai terkena angin dingin."
"Hah? Kau melihatku? Eh, aku juga bisa melihatmu."
"Tunggu, ya. Aku segera sampai."
"Iya."
Jimin mempercepat laju mobilnya, semakin mendekat. Terdengar suara berisik mobil yang melaju di atas jalanan tak beraspal. Dasar, aku harus memarahinya karena menyetir dengan kecepatan seperti itu. Walaupun begitu, hatiku terus bergetar. Mobil yang melaju dengan kecepatan menggila berhenti di depan Yoongi, menebarkan debu-debu. Jimin membuka pintu mobil, keluar, dan berteriak.
"Yoongi, kau! Kenapa kau keluar? Bagaimana kalau kau terkena flu? Kau kan tidak boleh minum obat!"
"Mwo? Ke, kena flu hanya karena begini?"
Jimin berjalan mendekati Yoongi yang sedang menggeleng-gelengkan kepalanya seakan baru saja mendengar hal yang tidak masuk akal. Ia mendorong pundak Yoongi dengan halus untuk masuk ke rumah.
"Ayo masuk!"
"Ah, ituuu…"
"Kenapa?"
"Belum, Namjoon masih belum pulang. Pacar temanku."
"Kalau begitu, naik ke mobil."
Yoongi baru tahu saat ia keluar untuk menunggu Jimin bahwa Namjoon belum pulang—sepatu besar Namjoon berdiri di samping sepatu Hoseok di depan pintu masuk. Namun, Yoongi malu menjelaskan hal itu kepada suaminya. Lagi pula, Hoseok dan Namjoon sudah sama-sama dewasa, jadi tidak akan apa-apa jika ia meninggalkan mereka berdua.
Yoongi bercerita tentang teman dan pacar temannya dengan wajah memerah. Yoongi memang tidak melihat, tapi untuk sesaat pancaran aneh muncul di wajah Jimin. Yoongi duduk dengan susah payah di bangku mobil, sementara Jimin langsung membuka mantelnya dan menyelimuti Yoongi dengan mantel itu, hingga hanya mata Yoongi yang terlihat.
Jimin lalu keluar, berlari memutari depan mobil untuk menuju kursi pengemudi. Ia melangkah dengan langkah-langkah panjang dan pasti, dan tanpa disadari, ia telah membuka pintu mobil dan masuk. Helaan napas yang selalu keluar dari Yoongi pun terdengar.
"Hmmm…"
"Kenapa?"
"Tidaaak."
Ketampananmu selalu membuatku menghela napas, suamiku.
Jimin memandangi istrinya yang berbicara dengan suara pelan seolah tidak peduli, sebelum akhirnya memasangkan sabuk pengaman kepada ibu hamil yang perutnya sudah membesar dan sedang mengenakan dua lapis mantel. Konyol. Ah, aku jadi sedikit kesal.
"Katanya aku membuat suamiku tidak bisa tidur karena mengkhawatirkan istrinya dan anaknya ini, tapi ternyata kau masih terlihat sangat segar."
"Apa maksudmu? Terlihat sangat segar?"
"Katanya kau tidak bisa tidur? katanya kau selalu terlihat cemas?"
"Tidak bisa tidur dan cemas karena kau semakin menggemuk, Yoongi."
"Jimin!"
Jimin tersenyum melihat istrinya yang marah dan mengepalkan tangannya. Istri yang tetap terlihat cantik walau perutnya sangat besar. Istri yang marah karena mengira Jimin meledeknya karena sekarang ia telah menggemuk. Istriku yang kucintai. Jimin yang sudah mulai tenang, bercanda sambil mencium istrinya.
"Anak kecil… akan segera melahirkan seorang anak."
"Dasar! Huh…"
Jimin menatap rumah milik teman istrinya itu dengan ekspresi getir, lalu menatap istrinya dan memundurkan mobil. Pikiran Yoongi jadi kacau saat mobil bergerak dengan sabuk pengaman yang masih terpasang di badannya. Pikirannya kacau bukan karena tangannya yang gemetar, melainkan karena perutnya menyulitkannya. Untunglah. Untunglah tangannya sudah tidak gemetar lagi seperti dulu.
Jimin memperhatikan cincin kawin yang tersemat di jari istrinya memantulkan cahaya biru saat terkena pancaran sinar lampu jalanan. Ia masih memakai cincin itu sampai sekarang, padahal perempuan ini telah meminta cerai.
"Hihihi."
"Kenapa? Kenapa kau tertawa, Jimin?"
"Tidak!"
"Hah? Ada yang aneh. Cepat ceritakan. Ya?"
"Cincin… kau masih memakai cincin itu."
"Ah, ini… iya. Aku tidak kepikiran. Aku akan mengembalikannya setelah semuanya diputuskan. Perceraian itu, maksudku."
"Hal seperti itu takkan ada."
"…"
"Hari ini kita kembali ke hotel dulu, lalu besok kita kembali ke Seoul."
"…"
"Tolong aku, Yoongi. Ya?"
"…"
"Ayo pulang ke rumah."
Yoongi hanya bisa terdiam mendengarkan perkataan Jimin. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jimin memintaku untuk menolongnya. Tadi ia berkata bahwa selama ini ia juga menderita, sekarang ia memintaku menolongnya. Aku tahu ia sedang menunggu jawabanku. Haah, rumah. Kembali ke keseharian yang rumit.
Hei, Jimin… tidak bisakah jika kita terus begini? Aku mencintaimu dan anakku, tapi aku masih sedikit ragu. Hidup perempuan biasa yang mencintai suami dan anaknya, apakah sesulit ini untuk mendapatkan kehidupan itu? Jika aku kembal ke rumah dengan kondisi seperti ini, mungkin aku akan terus mengusik Jimin dengan senjataku yang bernama 'perceraian'. Mungkin aku akan menggendong anakku dan kabur ke rumah orang tuaku. Akankah lelaki ini akan terus mencintaiku jika peristiwa-peristiwa seperti itu menjadi keseharianku?
Lalu, bisakah aku terus mengatakan kepada lelaki ini bahwa aku mencintainya? Bisakah? Apa yang dilakukan perempuan lain dalam situasi seperti ini? Keputusan apa yang diambil perempuan bijaksana lain saat dihadapkan dengan situasi seperti ini? Aku terlalu… "Ah, sepertinya aku menikah dalam usia yang terlalu muda, Jimin."
Yoongi, yang bukan seorang perempuan bijaksana maupun pintar, menyalahkan umurnya yang masih muda atas kebodohan yang ia lakukan. Menyalahkan semuanya kepada umur muda yang masih belum mengenal dunia. Menyalahkan keadaannya yang masih tetap menyesakkan hingga sekarang walau ia telah lebih dewasa.
Lalu, ia pun mengeluarkan emosinya. Emosi yang selama ini ia pendam kepada suaminya.
"Lihat aku! Aku yang masih muda sudah mengandung dan terlihat mengerikan. Aku sudah menikah, tapi aku tidak bisa menjaga ibu mertua dan suamiku sendiri. Walaupun aku sudah berusaha keras, kemampuanku untuk mengurus pekerjaan rumah tidak membaik. Mungkin aku harus menunggu seratus tahun lagi. Ibu mertua tidak pernah menyukaiku. Anak kecil yang tidak bisa melakukan apa pun dengan benar akan segera melahirkan seorang anak.
Aku mengerti kenapa ibu mertua selalu menertawakanku. Kalau tidak ada ibu kandungku, mungkin aku tidak akan bisa membesarkan anak ini sendirian. Mungkin aku akan terus menelepon ibuku dan pergi ke Banpho setiap hari. Aku tahu pasti akan begitu. orang seperti harus menjadi seorang ibu…"
"Cerewet."
"Hah!"
Mustahil. Tidak mungkin. Aku sedang mengeluarkan seluruh kenyataan tragis yang akan terjadi, tapi orang yang kusebut suami malah hanya mengeluarkan sepatah kata pendek, dan kata itu adalah 'cerewet'. Semua kenyataan menyedihkan yang selama ini kusembunyikan di hati keluar. Aku harus marah. Harus marah.
"Jimin, pasti kau tidak mengerti perkataanku karena bukan kau yang mengandung dan harus melahirkan anak ini, kan?"
Jimin membuka mulutnya sambil menatap Yoongi yang terkena cahaya yang masuk dari jendela mobil. Ekspresi Jimin sangat serius, jarinya terus mengetuk-ngetuk setir mobilnya dengan cepat.
"Yoongi, kalau aku… memikirkan seberapa sulit dan menyakitkannya bagimu saat melahirkan… aku… aku memang tidak bisa membantumu melahirkan, tapi kita kan bisa membesarkan anak kita bersama. Semua akan lancar-lancar saja jika kita melakukannya bersama. Kau takkan membesarkan anak kita sendirian. Ya?"
Bersama?
Harusnya Yoongi mencari celah dari perkataan Jimin dan menolaknya mentah-mentah, tapi Yoongi selalu terbayang akan suaminya yang sedang menggendong anaknya dengan bahagia. Terbayang akan sosok lelaki besar yang sibuk memeluk anaknya. Yoongi membayangkan suami dan anaknya tidur siang bersama di hari Minggu siang yang santai. Ia membayangkan hal-hal tersebut saat memandang mata Jimin. Membuat Yoongi tidak dapat berpikir akan hal lain. Mata Jimin penuh dengan keseriusan dan meminta Yoongi untuk percaya padanya.
Yoongi, kau berbuat bodoh lagi.
"Tentang Ibu, aku minta maaf," kata Jimin. "Aku benar-benar tidak tahu ibu bisa bersikap seperti itu padamu karena Ibu yang selama ini yang kutahu adalah sosok yang berpendidikan dan sangat rasional. Aku tahu ibu kadang bersikap dingin terhadapmu, tapi kau tak pernah menyangka Ibu bisa berbuat lebih, karena aslinya ia orang yang penyayang. Hari itu, kau ingat perkataan Ibu hari itu? Kau mau aku menceritakan semuanya? Menceritakan tentang siapa… aku sebenarnya."
Ia masih ingin memperpanjang masalah hari itu. Yoongi sudah dapat menebak garis besar permasalahan tersebut, tapi ia tetap ingin mendengar cerita lengkapnya. Sesaat, ia merasa ragu. Bayangan gelap muncul di wajah pria bernama Park Jimin, bayangan seseorang yang kalah telak. Tidak ada yang akan percaya bahwa bayangan itu dapat muncul di wajah Jimin walau mereka melihatnya sendiri secara langsung. Bayangan yang membuat Yoongi bimbang. Jimin sangat tampan dan pintar. Ia memang mudah terbawa emosi, tapi bukan orang yang hidup dalam kegelapan.
Yoongi memandang Jimin yang sepertinya hendak menceritakan semuanya kepadanya.
Dasar bodoh. Aku sudah tidak peduli lagi dengan masa lalumu, karena hal itu takkan pernah menggoyahkan perasaanku padamu sedikit pun. "Cukup. Aku tidak ingin tahu… bagaimana kau hidup sewaktu belum mengenalku. Aku tidak peduli dengan masa lalumu. Jimin yang kukenal adalah Jimin yang ada di hadapanku. Orang yang berpacaran, lalu menikah denganku selama tiga tahun. Orang yang kucintai. Jimin, jangan terus berpegangan pada masa lalu yang tidak mungkin bisa kau perbaiki. Jika kau ingin membicarakan tentang masa lalumu, ceritakanlah… kepada anak kita saat ia sudah besar. Ceritakan, bagaimana kau lahir dan bagaimana kau tumbuh dewasa. Aku… kau tidak perlu menceritakannya kepadaku."
"Iya."
Yoongi ingin mengakhiri topik ini saat kata 'iya' keluar dari mulut suaminya, tapi sepertinya Jimin masih ingin mengutarakan sesuatu. Jimin terus berbicara, helaan napasnya terus keluar tanpa henti.
"Ibu… sempat dirawat di rumah sakit. Hari itu aku keterlaluan padanya."
"…?"
Yoongi tercengang. Ia tidak menyangka. Apa yang ia lakukan sampai orang kuat seperti Ibu mertua bisa masuk rumah sakit? Tidak, aku lebih terkejut karena tidak mungkin anak yang paling berbakti di dunia bisa berbuat keterlaluan pada ibunya sendiri.
"Hmmm… aku minta maaf dan mohon ampunnya karena telah mengecewakannya. Aku juga berkata bahwa aku akan menebus semua dosaku pada Ibu, dan akan menghapus namaku dari kartu keluarga. Aku memintanya untuk mengampuni anak yang tidak sopan ini. Aku berkata padanya, bahwa aku berterima kasih atas berkah yang Ibu berikan selama ini, dan aku akan membayar semua uang yang telah ibu keluarkan untukku tanpa kurang sepeser pun. Aku berkata bahwa aku akan mengembalikan namaku menjadi Kim Jimin lagi. Aku adalah orang seperti ini, Yoongi. Orang yang menyedihkan… konyol, kan?"
"Itu, mustahil…"
Walaupun ibu mertua Yoongi bukan ibu kandung Jimin, Yoongi tahu ia mencintai Jimin dengan caranya sendiri. Yoongi tahu bahwa cara bicara Jimin yang sopan, sikapnya yang tidak suka berbasa-basi, kepintarannya saat mengatasi masalah, dan semua hal baik lainnya adalah hasil ajaran ibunya. Kecuali masalah yang berhubungan dengan Yoongi, ibu Jimin merupakan sosok yang mirip seratus persen dengan Jimin.
Keterlaluan. Bukan 'agak' tapi 'sangat' keterlaluan.
"Kau keterlaluan, Jimin…."
"Aku tahu, tahu. Yoongi, aku tahu… aku orang yang tidak tahu balas budi, aku orang yang paling jahat di dunia. Walaupun aku orang seperti itu, ada hal yang ingin kulindungi, Yoongi. yaitu, harga diriku, istriku, anakku, hanya tiga hal itu. Darah siapa yang mengalir di dalam tubuhku, ajaran apa yang kupelajari saat aku tumbuh dewasa, hal-hal itu tidak penting. Seorang pria berusia tiga puluh tahun lebih, tidak bisa menjaga satu pun hal yang ingin dilindunginya, apa orang seperti itu bisa disebut sebagai lelaki? Hahaha… kotor sekali. Sampai sini saja aku menjelaskannya, ya, Yoongi."
"Sekarang… apakah ibu mertua sudah keluar dari rumah sakit?"
"Iya."
Mungkin Jimin benar-benar ingin menyudahi pembicaraan ini, karena jawaban yang keluar dari mulutnya sangat pendek. Walaupun begitu, Yoongi ingin berkata lebih. Aaah, Ibu mertua, aku tidak pernah mengira akan berpihak kepada Ibu walau hanya sekali dalam hidupku… roda kehidupan memang selalu berputar.
"Walaupun begitu, kau tetap putra ibumu. Apa pun yang orang katakan, siapa pun yang memandangimu…. Kau tetap putra ibumu. Anak dan ibu yang sangat tampan dan cantik. Hal yang selalu membuatku bersyukur saat melihat kalian berdua."
"Iya…"
Iya, tapi tetap saja aku tidak dapat mengubah kenyataan bahwa aku juga adalah Kim Jimin. Walau aku ingin melupakannya, walau aku ingin menutupinya, Yoongi.
Mobil yang dikendarai Jimin melaju ke pusat perkotaan, melintasi jalanan tepi laut yang kosong dan hanya diterangi lampu jalan Natrium berwarna kuning di pinggir jalan. Yoongi tidak asing dengan pemandangan di sekitar pusat kota. Ia pernah melewati jalan ini sebelumnya, dan akhir-akhir ini ia semakin sering melewatinya. Mobil pinjaman melintasi jalanan yang dibingkai pohon-pohon berwarna kebiruan, pohon-pohon yang tidak mati walau diterpa musim dingin. Terlihat sebuah hotel mewah. Yoongi mencoba mengubah suasana yang dingin dan berbicara dengan ceria.
"Waaah, keren. Dimana kamarmu? Dari sana laut terlihat, tidak?"
"Iya."
"Laut malam di Pulau Jeju keren, kan! Kadang, aku berjalan-jalan keluar untuk menikmati pantai di malam hari."
"Apa? Angin malam yang dingin tidak bagus untuk kesehatan. Kau harus memikirkan tubuhmu, Yoongi."
"Tidak sedingin yang kau pikirkan, kok."
"Tetap tidak boleh. Aku akan memaafkanmu karena sekarang kau sudah tidak bisa melakukan hal yang tidak boleh kau lakukan."
Saat mereka tiba di pintu masuk hotel, doorman langsung berlari keluar untuk memberi salam kepada mereka dan mengambil kunci mobil. Jimin berjalan memutari mobil untuk Yoongi. ia memeluk dan menggendong Yoongi yang tidak bertenaga sama sekali.
Yoongi merasa sangat putus asa. Perutnya yang sudah sangat membesar dan dua lapis mantel yang sedang dipakainya membuatnya merasa seperti gajah laut. Bulat dan besar. Gajah laut yang besar. Ia tidak ingin mengajakku masuk ke lobi hotel dengan menggendongku seperti ini, kan? Oh dasar!
Jimin terus melangkah pasti menuju lobi, membuat Yoongi yang berusaha melepaskan dirinya mengeluarkan suaranya. "Turunkan aku, Jimin. Cepat! Tidak enak dilihat. Cepat turunkan aku sebelumnya ada yang melihat."
"Siapa yang akan melihat kita pada jam segini? Jangan bergerak! Lenganku bisa lepas karena kau terlalu berat."
"!"
Kemana perginya kata-kata manis yang seharusnya diucapkan kepada perempuan hamil? Ia malah mengatakan bahwa lengannya akan lepas karena aku terlalu berat! Jahat! Memang siapa yang menyebabkanku menjadi seperti ini, hah?
Kemudian, badan Yoongi menjadi kaku seperti papan gipsum setelah mendengar perkataan Jimin. Yoongi ingin menghancurkan senyum yang terlukis di wajah suaminya yang kurus dan terlihat tajam. Bohong. Sebenarnya, Yoongi sangat ingin mencium wajah itu. Yoongi ingin menyentuh senyum itu.
Ah, lebih baik aku menutup mata. Kenapa aku malah jadi menginginkan suamiku saat aku marah? Apa aku masih waras? Ayo, pejamkan mata dari suami yang selalu mengganggu penglihatanku. Ayo pejamkan mata. Aku pasti bisa menahan rasa ini jika aku tidak melihatnya.
Saat Jimin yang masih menggendong Yoongi sampai di kamarnya, istrinya yang cantik sudah tidak sadarkan diri, Yoongi telah tertidur lelap. Yoongi terlelap dengan masih memegang ujung baju hangat Jimin. Jimin menidurkannya di kasur, tapi Yoongi masih tetap memegangi ujung baju hangatnya. Tangan putih istrinya, dengan cincin kawin biru berkilau, di atas hangat abu-abu yang lembut.
"Kalau aku memakainya saat tidur, paginya tanganku akan membengkak dan sakit…"
Itu jawaban istrinya saat Jimin bertanya kenapa Yoongi tidak memakai cincin kawinnya. Setelah Jimin melihatnya sekarang, sepertinya engsel jari istrinya yang memakai cincin kawin tersebut benar-benar membengkak. Lalu, kulit di sekitar cincin kawin tersebut juga terlihat mengelupas. Yoongi selalu memutar-mutar cincinnya setiap kali ada kesempatan. Apa karena itu? Jimin mengangkat tangan istrinya dengan hati-hati dan menciumnya. Tangan yang masih halus, tapi sekarang terasi lebih berisi. Benar, sepertinya tangannya sedikit membengkak.
"Huuuh…"
Jimin menghela napas pendek dan melepaskan cincin dari tangan istrinya. Terlihat sebuah bekas berwarna merah di tempat cincin itu tadi tersemat. Istrinya bodoh, juga seorang pembohong. Selama ini ia memakai cincin kawin mereka sampai jarinya terluka. Ia terus memakai cincin sampai tangannya seperti ini, ia tidak pernah melepaskan cincin itu, tapi ia melayangkan gugatan cerai kepada Jimin. Orang bodoh dan pembohong. Ah, aku takkan pernah bisa menyingkirkan kata 'cerewet' dari dirinya. Juga kata 'kekanakan'. Namun, ia patut dicintai dan sangat cantik.
"Yoongi, aku mencintaimu."
Jimin merebahkan badannya dengan hati-hati di samping istrinya, membuat Yoongi bergerak menyesuaikan posisi tidurnya dan langsung masuk ke dalam pelukan Jimin. Jimin menelusuri alis istrinya dengan jarinya yang kurus. Sekali, dua kali, tiga kali… tak lama kemudian, Jimin pun ikut tertidur. Ia tertidur lelap, tidur lelapnya yang pertama selama beberapa bulan ini. Suara napas istrinya yang pendek-pendek menjadi lagu pengiring tidur anak mereka kelak dan mereka akhirnya bisa tertidur dengan tenang dalam dekapan satu sama lain. Malam biru di Pulau Jeju yang membahagiakan… semakin bertambah dalam.
TBC
.
.
.
.
.
TBC
Kembali~ im so sorry karena update lama. Sibuk buat SBM, tapi SBM dah kelar. Tinggal nunggu pengumuman sambil mau ikut" ujian mandirinya~ jadi maaf kalo telat update. Maybe this fict sampe uhmmm chap 20 an kayanya.
THANKS FOR READING
REVIEW PLEASE?
