After The Weeding
Novel Remake, karya Kim Ji-Oh
Min Yoongi
X
Park Jimin
MINYOON/MINGA/YOONMIN FANFICTION
New chara muncul~ Hoseok x Namjoon
RATED BERUBAH – UBAH SEWAKTU – WAKTU!
IF YOU DON'T LIKE. DON'T READ IT !
IF YOU WANT COPAS, WITH AUTHOR NAME JUSEYO
Genderswitch for Min Yoongi and other characters!
Happy reading~
.
.
.
.
Hoho~ sebelumnya makasih baik sider maupun yg bukan sider ataupun yg msh setia baca ini, favorit following juga. Makasih banyak. Mungkin pada bingung yah sm konflik yg terjadi. Ikutin aja alur ini terus. Nanti kalian jg paham. Aku dulu pertama baca ini juga bingung wkwk. Tp karena penasaran jadinya yahh dibaca terus. BTW ajhumma ingatkan ini emg remake novel ya sayang ^^
.
.
.
.
.
.
After the Wedding
Chapter 18
Ke Seoul Lagi
Jika kita mengesampingkan perasaan obsesif dan lebih memperhatikan pasangan kita, cinta akan terlihat. Dan kita akan mencintai pasangan kita dengan benar.
.
.
..
.
.
.
.
.
.
Seperti yang telah diperkirakan, keesokan paginya Yoongi langsung kembali ke Seoul. Jimin bergegas membereskan barang-barang sejak pagi, membuat Yoongi tidak sempat berpikiran macam-macam. Bahkan, Yoongi hanya sempat bertemu sekilas dengan Hoseok dan Namjoon di bandara. Mereka tidak sempat melakukan apa-apa, kecuali berbagi salam perpisahan pendek. Yoongi harus meninggalkan pulau indah dan teman-temannya yang sudah menerimanya dan anaknya, tapi kenangan yang dalam telah terukir di hatinya. Pulau yang terlihat biru dari atas langit. Tidak lama kemudian, pulau itu pun menghilang, tapi Yoongi tidak akan melupakan tempat itu untuk jangka waktu yang lama.
Salju turun dengan lebat saat suaminya menggandengnya dengan terburu-buru begitu mereka tiba di Seoul. Padahal, jelas-jelas di atas tadi tersembunyi langit biru yang cerah, tapi kenapa langit Seoul terlihat sangat gelap? Seakan menyambut kedatangan mereka.
Jimin membelikan Yoongi mantel di duty free shop—seharusnya mereka tidak bisa belanja di sana karena hanya berpergian dalam negeri, tapi entah apa yang dilakukan Jimin sehingga bisa berbelanja di sana. Dan sekarang Yoongi memakai mantel yang melambai-lambai tertiup angin basah dan dingin.
Yoongi meresa manusia memang tidak pernah puas, ia bisa hidup tenang di Pulau Jeju yang memiliki angin lebih kuat dan dingin daripada di Seoul, tapi ia tetap merasa angin utara yang sekarang bertiup benar-benar kejam.
Mungkin cuma perasaanku saja, ah. Yoongi merapikan ujung mantelnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Mantel panjang yang sepertinya berukuran dua kali lebih besar dari ukuran biasa yang ia pakai. Yoongi merasa seperti beruang kutub. Beruang gendut yang berguncang saat berjalan. Namun, Yoongi harus tetap merapikan bajunya dengan rapat agar anaknya tidak kedinginan, agar anaknya diselimuti kehangatan.
"Dingin? Kita hanya perlu berjalan sampai ke depan sana, kok. Ke tempat sopir Shin menunggu."
"Iya."
Jimin berhenti berbicara di telepon entah dengan siapa—mungkin kantor—saat melihat istrinya terus-menerus merapatkan mantelnya. Ia khawatir dan langsung meyakinkan Yoongi kalau sebentar lagi mereka sampai. Setelah itu, kembali berbicara di telepon dan kemudian memeluk pundak Yoongi selesainya ia berbicara di telepon.
Di mata Yoongi, hanya Jimin yang terlihat bercahaya di tengah cuaca yang membuat pemandangan sekeliling menjadi kelabu. Bentuk wajahnya yang tegas dan kulit pucatnya, tapi matanya hidup dan ia juga tersenyum cerah. Uap putih terlihat di depan bibirnya yang masih tersenyum. Uap putih beraroma mint, aroma yang sangat pekat hingga Yoongi membayangkan uap putih itu akan segera berubah menjadi berwarna hijau. Tidak adil jika orang seperti Jimin hanya mengeluarkan uap putih yang membosankan. Yang pantas baginya adalah uap berwarna kehijauan, seperti tanaman herbal. Ibu sangat konyol, ya, Nak? Yoongi pun terkikik kecil sendiri menyadari betapa konyol pemikirannya barusan.
"Pak Direktur, silakan masuk. Eh, Nyonya Besar!"
Sopir Shin yang muncul sambil menyetir mobil perusahaan berwarna hitam terlihat sangat senang saat melihat Yoongi. Sopir berambut putih itu membungkuk dalam-dalam sampai kepalanya hampir menyentuh tanah. Ia tersenyum sangat lebar sambil memperhatikan wajah Jimin, lalu membukakan pintu mobil. Jimin membantu Yoongi duduk dengan hati-hati, lalu memutari bagian belakang mobil dan duduk di sebelah Yoongi. mobil yang mereka tumpangi adalah mobil terbesar buatan Korea, tapi langsung terasa sempit saat Jimin masuk dan duduk di dalamnya. Yoongi yang sudah merasa sesak bertambah sesak dengan kehadiran Jimin di sampingnya.
"Ayo ke rumah sakit Yoongi. Oh iya, Sekretaris Kim sudah memesan tempat belum, ya?"
"Ah, tadi Sekretaris Kim menelepon saya, beliau sudah memesan rumah sakit, Pak Direktur."
"Benar?"
"Rumah sakit? Aku tidak apa, kok, Jimin. Kita pulang saja."
"Kau lelah, ya? Maaf. Walaupun begitu, kau tetap harus ke rumah sakit. Ini bukan karena aku tidak percaya pada dokter di Pulau Jeju, lho."
"Aku tidak lelah, tapi…"
"Lebih baik kita ke rumah sakit dulu. Ya?"
"Iya."
Jimin mengajak Yoongi ke rumah sakit dengan mata berbinar, dengan wajah dihiasi senyuman, dengan jarak wajah yang sangat dekat, sehingga Yoongi tidak bisa mengatakan 'tidak' kepada suaminya. Tidak seperti biasanya, hari ini Jimin terlihat sangat cerah. Di mata cerah tersebut terlihat bayangan seorang perempuan besar mirip beruang kutub dengan ekspresi seperti sedang melayang. Yoongi entah kenapa masih merasa lucu melihat badannya. Beruang kutub…
"Lagi…."
"Eh? Ya?"
"Haaah, lebih baik kau melepas cincin itu, Yoongi."
"Ah…!"
Jimin menyentuh jari Yoongi dengan ekspresi kaku setelah melihat Yoongi yang memutar-mutar cincinnya tanpa sadar, seperti sudah menjadi kebiasaan. Cincin bercahaya biru yang menutupi lecet merah di kulit Yoongi. Sebenarnya, Jimin bersusah payah berpura-pura tidak melihat, tapi tangan Yoongi terlihat gemetar. Tepatnya, tangan Yoongi mulai gemetar saat mereka tiba di Seoul. Sayang sekali. Aku jadi kesal.
"Jarimu jadi luka, kan. Tanganmu membengkak, tapi kau masih saja memutar-mutar cincinmu, lama-lama kulit tanganmu bisa copot."
Jimin mengunci tatapannya ke cincin di jari Yoongi. ia berpura-pura tidak peduli pada tangan Yoongi yang gemetar. Cincin kawin itu selalu tersemat di jari istrinya dan hanya bisa melukai istrinya, yang sebenarnya tidak menyukai cincin tersebut, tapi tetap mengenakannya karena takut kepada suaminya. Istrinya yang sudah melarikan diri dan meminta cerai, tapi masih tidak bisa melepaskan cincin kawinnya… apakah ini karena Yoongi masih memiliki perasaan pada pernikahan ini? Atau karena ia takut dimarahi Jimin? Padahal sekalipun Yoongi melepaskan cincin kawin itu, ia tetap istri Jimin dan ibu dari anaknya, tapi kenapa Jimin tidak menyadari hal ini sebelumnya? Kenapa saat itu Jimin malah marah pada Yoongi?
Ah, cincin dari orang sepertiku. Sekarang, aku bahkan tidak ingin melihat cincin itu.
Jari tangan Jimin yang panjang dan kurus berusaha melepaskan cincin dari jari tangan Yoongi, dengan gerakan yang sama saat ia menyematkan cincin itu di pesta pernikahan mereka. Lalu, ia mengangkat tangan Yoongi dan meniup-niup lecetnya dengan uap hangat dari mulutnya. Kelopak mata Yoongi menjadi berat, tangannya pun berhenti bergetar. Jimin menggenggam tangan Yoongi yang terasa jauh lebih ringan.
Senang, hangat, bahagia.
Tidak ada hal baru di rumah sakit, kecuali dokter yang terus memuji Yoongi karena ia telah menjaga kesehatannya dengan baik. Kekhawatiran Jimin yang bercampur dengan perasaan bersalah juga mulai menghilang saat mendengar dokter yang terus-menerus mengatakan bahwa ibu dan anak dalam kandungan sangat sehat.
Di luar perkiraan, Jimin yang sampai gemetar karena terlalu bahagia akan kehadiran anak pertamanya malah terdiam seribu bahasa di ruang tunggu. Jimin tidak seperti calon ayah lain yang memenuhi rumah sakit hingga rumah sakit itu terlihat seperti pasar. Ia sangat tenang dan tidak terlihat tegang sama sekali. Hanya senyum bahagia yang terlihat di wajahnya.
Namun, saat Jimin mendengar detak jantung anaknya di ruang konsultasi dokter, ternyata Jimin yang tak terkalahkan selama ini sama saja dengan calon ayah yang lain. Napasnya memburu seperti mesin kereta api uap, matanya berkedip-kedip sambil memandang takjub jantung anaknya yang berdetak. Jimin, yang dipenuhi rasa haru menggenggam tangan Yoongi dengan erat. Ia menciumi perut Yoongi yang sudah sangat membesar sambil menyapa anaknya.
"Halo, Nak. Ini Ayah, Ayah. Senang bertemu denganmu, Nak… ini Ayah."
Untuk pertama kalinya, Jimin menyapa nyawa baru yang sedang singgah di perut besar istri tercintanya. Ia berkata… aku ayahmu. Senang bertemu denganmu. Ia mengatakan itu dengan penuh keceriaan.
.
.
.
Sopir mereka mengemudikan mobil ke arah rumah mereka sepulang dari rumah sakit. Sudah lima bulan lalu Yoongi terakhir kali tinggal di rumah mereka. Entah mengapa, ia mulai merasa tidak nyaman pulang ke rumahnya sendiri.
"Kita ke Seong Bok-Dong dulu saja."
Akhirnya, Yoongi mengatakannya juga. Yoongi telah berlatih mengatakan hal itu. Walaupun begitu, hatinya tetap terasa berat, seperti ada sebuah batu besar dari perutnya yang ingin keluar melalui dadanya. Ia merasa telah mengucapkan sesuatu yang benar-benar berbeda dengan keinginannya. Lalu, ia bisa merasakan tatapan tidak percaya Jimin padanya.
"Lain waktu saja. Lebih baik kita pulang ke rumah saja, Yoongi."
Yoongi tersenyum. Ia sangat berterima kasih kepada Jimin yang sepertinya mengerti kalau sebenarnya ia tidak ingin pergi ke Seong Bok-Dong, ke rumah ibu mertuanya, tapi ia hanya menghela napas pendek dan menggelengkan kepalanya. Ia harus pergi ke sana sekarang juga agar semuanya selesai dan ia bisa beristirahat dengan tenang. "Lebih baik kita pergi sekarang. Lebih baik kita bertemu sekarang."
Jimin pun mengusap-usap tangan Yoongi yang lecet karena cincin kawin mereka, entah untuk menghibur atau untuk mengatakan bahwa Yoongi tidak perlu mengkhawatirkan apapun tentang Seong Bok-Dong. Yoongi memilih untuk menyandarkan kepalanya ke bahu Jimin. "Semua akan baik-baik saja. Kau kan ada di sampingku. Semua akan baik-baik saja. Benar, kan?"
"Iya."
Rumah mertua di Seong Bok-Dong masih tetap terlihat menakutkan bagi Yoongi. orang-orang yang bekerja di sana tampak tidak senang—malah ketakutan—saat melihat Jimin dan Yoongi datang. Yoongi, yang berdiri di samping Jimin yang berdiri tegak seperti pohon pinus, merasa canggung dan tidak tahu harus berbuat apa.
Ada sesuatu yang terasa berbeda di rumah itu, tapi Yoongi tidak tahu apa.
"Ibu dimana?"
Seorang pelayan langsung menunjukkan tangannya ke lantai atas saat Jimin bertanya seperti itu. Reaksi pelayan itu sangat konyol, tapi tidak ada yang tertawa. Jimin memegangi pundak Yoongi untuk menolongnya menaiki tangga. Semua pelayan di lantai atas langsung menghela napas panjang saat melihat mereka. Mereka melewati ruang tamu lantai dua, dan berjalan semakin dekat ke arah kamar ibu Jimin. Pelayan yang berjaga di sana terlihat ragu-ragu. Ia terus menatap mata Jimin. Walaupun Yoongi tersenyum, bibi itu tidak mengalihkan tatapannya dan hanya memandangi Jimin.
"Sedang tidur?"
"Iya, Pak Direktur. Ibu baru saja masuk untuk tidur siang."
Jimin menatap Yoongi dan bertanya kepadanya. "Bagaimana? Mau menunggu?"
"Kita tunggu di ruang tamu saja."
"Iya."
Saat Jimin dan Yoongi membalikkan badan untuk menuju ruang tamu, terdengar suara Ibu dari dalam kamar.
"….Suruh mereka masuk, Bi."
Yoongi menarik napas dalam-dalam. Tangannya yang sedang memegang gagang pintu terasa seperti tersengat listrik. Yoongi memastikan keberadaan Jimin di belakangnya, sebelum akhirnya masuk ke kamar.
"Apa kabar, Bu?"
Ibu Jimin melihat sekilas ke arah perut Yoongi, lalu mengalihkan tatapan dinginnya kepada Jimin.
"Akhirnya, kau memutuskan untuk meneruskan pernikahan bodoh ini? Lihat umurmu, kenapa kau masih bodoh seperti anak kecil? Dasar anak bodoh."
"Ibu, selama ini Ibu sehat-sehat saja, kan?"
Yoongi mengulang salamnya kepada ibu Jimin. Namun, tetap saja, salamnya tidak menarik perhatian Ibu sedikit pun. Lenyap begitu saja di udara, sedangkan Jimin hanya diam. Tidak berniat untuk menanggapi pertanyaan yang di tujukan padanya tadi. Perang dingin kembali terjadi di antara ibu-anak itu.
"Apa ka…"
"di matamu aku terlihat baik-baik saja? Bagaimana mungkin kalian berdua bisa sebodoh ini?"
Ibu Jimin menyerang Yoongi yang terus mengulang salamnya seperti robot. Saat itulah Yoongi baru dapat memberanikan diri untuk menatap ibu Jimin.
Mengejutkan.
Ini benar ibu mertuaku? Yoongi memperhatikan ibu Jimin. Rambut yang biasa disisir dengan rapid an ditata ke atas kini tergerai tidak beraturan, ibu yang biasanya memakai pakaian ala Barat dan terlihat cantik kini duduk di tempat tidur dengan memakai pakaian yang kusut. Rambut yang biasanya dicat rapi kini terlihat mulai memutih di bagian akarnya. Wajah ibu Jimin memerah seketika; mungkin ia sadar Yoongi meneliti setiap perubahan dalam dirinya.
Yoongi terkejut melihat ibu Jimin yang biasanya elegan dan sangat lembut berubah menjadi sehancur ini. Sepertinya ia telah benar-benar menjadi seorang pasien yang sakit parah, walau hanya sebentar berada di rumah sakit. Mana mungkin.
"Ibu tidak perlu bersikap seperti itu kepada Yoongi…!"
"Cukup, Jimin. Cukup."
Yoongi berbisik kepada Jimin yang mengeluarkan amarahnya. Yoongi mengirimkan sinyal dengan matanya, yang mengatakan bahwa sebaiknya Jimin keluar dari kamar. Jimin menatap Yoongi dengan tajam, tanda tidak mau menuruti perkataan Yoongi, tapi pada akhirnya Jimin mengalah.
Klik.
Jimin keluar kamar dan menutup pintu. Yoongi duduk di kamar yang penuh dengan kesunyian. Ia terus memaki pandangannya pada meja di samping tempat tidur, sementara ibu Jimin sepertinya terus-menerus memandangi daerah siku tangan Yoongi. Yoongi merasa suasana canggung ini bisa membuatnya gila.
"Anak laki-laki, kan?"
"Belum tahu."
"Kenapa jawabanmu begitu?"
Ibu memancarkan tatapan dingin dan Yoongi tidak bisa berbuat apa-apa. Ini adalah pemandangan lama yang sama sekali tidak berubah.
"Akhir-akhir ini, rumah sakit tidak mau memberi tahu jenis kelamin anak karena dianggap sebagai tindakan ilegal. Anak harus dilahirkan terlebih dulu jika ingin tahu jenis kelaminnya."
"Huh! Sepertinya perempuan."
"Mungkin saja."
Mungkin juga tidak karena presentasenya lima puluh lima puluh.
Yoongi bertanya kepada ibu Jimin sambil memijat-mijat dahinya yang terasa seperti ditusuk-tusuk.
"Kondisi ibu benar-benar tidak baik, ya? Aku dengar Ibu lama dirawat di rumah sakit. Ibu harus cepat sembuh dan bangun dari tempat tidur lagi."
"Walaupun kau tidak mengatakan itu, Ibu akan tetap bangun dari tempat tidur ini. Lagi pula Ibu sudah merasa jauh lebih baik sekarang."
"Iya."
Tentu saja, tentu saja.
Kesunyian yang canggung mulai terasa lagi. Kesunyian berat dan tebal, yang tidak kunjung dipecahkan oleh Yoongi maupun ibu Jimin. Yoongi menggigit-gigit bibir keringnya sambil menahan keinginan untuk keluar dari kamar itu. Dan setelah beberapa saat, Yoongi akhirnya bisa juga berkata dengan susah payah.
"Ada yang ingin kubicarakan… sesuai keinginan ibu, aku… aku telah mencoba mengajak Jimin bercerai. Aku mengakui bahwa aku bukanlah menantu yang ibu sukai. Aku juga telah mendengar semua perkataan kasar Jimin kepada ibu. Itu semua gara-gara aku. Jadi… jadi aku benar-benar merasa bersalah dan terpukul, tapi… ibu, kami takkan berpisah. Tidak, sekarang kami tidak bisa berpisah. Kemarin aku benar-benar mencoba untuk berpisah, bu."
"Berisik. Jangan bicara tentang hal seperti itu."
"Tidak, bu. Dengarkan aku sampai selesai. Aku sudah menetapkan hati dan mencoba hidup terpisah dari Jimin selama beberapa bulan. Walaupun begitu, semua gagal. Aku langsung menyesal saat bertemu lagi dengannya karena hidup berpisah. Kami tidak bisa hidup dengan orang lain, bu."
"Kau sedang menulis novel roman, ya?"
"Ibu."
Yoongi bahkan belum mengeluarkan setengah dari isi hatinya, tapi ibu sudah memperlihatkan kemuakan dan kekesalannya. Yoongi melangkah mendekati ibu Jimin dengan susah payah. Namun, ibu malah berbaring dan membalikkan badannya dari Yoongi. punggungnya kecil, tapi terlihat keras. Lidah Yoongi langsung kelu melihat penolakan terang-terangan dari ibu Jimin.
Apa pun yang telah Yoongi lakukan, ada gunung yang tetap takkan bisa ia lampaui, dan ada lautan yang tidak bisa ia seberangi. Hati Yoongi terasa sangat-sangat berat, sampai ia merasa mau gila.
.o.
Jimin terus memandangi taman yang dipenuhi bunga aprikot Jepang sampai ia merasakan kehadiran Yoongi. Yoongi, yang baru keluar dari kamar Ibu, terlihat lemas dan terus menundukkan kepalanya. Ia menutup pintu kamar Ibu dengan hati-hati dan tenang; terlihat sosok Ibu yang berbaring membelakangi Yoongi. Jimin tidak tidak mengharapkan apa-apa, tapi sepertinya benar-benar tidak ada kemajuan dala hubungan Yoongi dan ibunya.
"Yoongi, bungan aprikot Jepang sudah mulai merekah. Mau lihat?"
"Mana?"
Akankah perasaan Yoongi membaik jika diajak melihat-lihat bunga? Itulah yang berada dipikiran Jimin untuk membuat Yoongi merasa lebih baik sebelum ia kembali memperhatikan bunga aprikot. Beberapa batang pohon bunga aprikot Jepang yang di rawat oleh tukang kebun selama puluhan tahun terlihat tumbuh sehat di bawah balkon. Bunga yang tumbuh prematur, putih dan kecil, bunga yang memberi semangat pada musim dingin yang tidak berwarna. Wajah Yoongi juga sepertinya telah hidup kembali.
"Padahal masih dingin, kok sudah mekar, ya? Cantik sekali."
"Berarti bunga aprikot ini sudah matang saat anak kita lahir, kan? Benar, kan? Pasti sudah lahir saat buahnya matang, kan?"
"Iya."
Jimin tiba-tiba ingin makan buah aprikot saat melihat beberapa bunga kuntum bunga yang bergelantungan di pohon itu.
Sepertinya akan lebih baik bagi anak mereka jika dilahirkan di musim semi yang indah, daripada musim dingin yang membekukan. Anak Jimin akan lahir saat buah aprikot sudah matang.
Haruskah aku membuat apricot wine sebagai pengingat kelahiran anakku? Jika difermentasi dengan baik, anakku akan mengambil botol wine dari tempat penyimpanan saat ia sudah dewasa, dan kami akan minum bersama. Apa yang akan kami bicarakan, ya? Apa yang akan dibicarakan oleh seorang ayah dan anak yang sudah dewasa saat peringati hari kelahiran anak tersebut?
"Yoongi, kita harus membuat apricot wine tahun ini."
"Iya."
"Sepertinya apricot wine yang dibuat tahun ini akan sangat enak."
"Iya."
Khayalannya terlalu prematur, Jimin tahu itu. Kalau Yoongi pasti akan tertawa terpingkal-pingkal sambil memandangnya, seakan Jimin adalah orang paling aneh di dunia, jika sampai mengetahui apa yang ada di kepalanya. Walaupun begitu, Jimin menikmati khayalan itu dan menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat penting, lalu menyimpannya dalam hatinya yang terdalam. Khayalan yang akan menjadi kenyataan dua puluh tahun lagi.
.o.
Rumah Yoongi dan Jimin terasa sangat nyaman dan damai. Yoongi merasa baru meninggalkan rumah itu sehari, bukan beberapa bulan. Ia disambut dengan hangat oleh bibi penjaga rumahnya, sambutan yang membuatnya merasa senang saat melangkahkan kaki ke dalam rumah.
Kondisi rumah masih sama persis dengan saat Yoongi meninggalkannya. Yoongi merasa aneh, karena perabotan di dalam rumahnya tidak bergerak sesenti pun dalam setengah tahun. Padahal, biasanya Yoongi selalu memindahkan perabotan ke sana kemari setiap musim berganti. Bahkan, tirai linen musim panas masih terpasang dengan manis di jendela walau sekarang sudah musim dingin.
"Bibi keterlaluan, ya. Bibi kan tahu dimana tirai musim dingin disimpan! Apa-apaan ini? Angin dingin pasti masuk ke dalam. Aku tidak keberatan kalau Bibi tidak memindahkan perabotan, tapi setidaknya Bibi kan bisa mengganti tirai dan bantal tempat duduk.
Yoongi langsung mengomel saat masuk ke rumah. Sebaik apa pun seseorang, ia pasti akan melakukan hal seperti ini pada orang yang dibayarnya. Apakah orang yang dibayar itu hanya akan mengerjakan hal yang disuruh? Akankah ia mengerjakan semuanya seperti melakukan sesuatu untuk keperluannya sendiri? Yoongi melangkah mondar-mandir, memeriksa setiap ruangan sambil menghela napas dan terus mengomel. Namun, sepertinya bibi penjaga rumahnya juga terlihat ingin mengatakan sesuatu.
"Aduh, ini karena Pak Direktur. Beliau melarang saya menyentuh apa pun sampai Nyonya pulang dan membereskan semuanya dengan tangan Nyonya sendiri. Mana mungkin saya tidak berpikir untuk mengganti tirai musim panas di udara sedingin ini."
"Mwo?"
Yoongi merasa bersalah saat mengetahui perintah suaminya kepada bibi penjaga rumah. Ia juga tidak percaya Jimin bisa berbuat seromantis itu, karena biasanya Jimin adalah orang yang tidak banyak bicara dan hanya mengatakan hal-hal yang pasti.
"Pak Direktur kan sangat menakutkan kalau marah, beliau tidak akan pandang bulu kalau sudah marah."
"?"
Bagaimana ini? Kenyataan bahwa Jimin adalah seorang yang temperamental tidak dapat di elak. Yoongi telah mengetahui kenyataan tersebut, bahkan, bibi penjaga rumah pun menyadarinya.
"Ah, sebaiknya saya menaikkan suhu penghangat. Hampir saja saya kena marah karena mau mengganti tirai itu."
"Jadi, begitu. Bibi pasti sangat kesulitan."
Bibi penjaga rumah terlihat senang dan langsung menceritakan segala hal yang dilakukan Jimin selama beberapa bulan terakhir. Mulai dari Jimin sering tidur meringkuk di sofa yang membuat Yoongi terkejut. Ia juga sering terbangun tiba-tiba, lalu menelepon ke sana kemari dan memarahi siapa pun yang diteleponnya. Ia akan terus bertanya kepada polisi sampai mereka muak, sebelum pergi dari rumah. Yoongi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Watak asli suamiku pasti akan keluar jika ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai keinginannya.
"Ya, sudah, Bi. Sekarang aku sudah pulang, jadi jangan khawatir."
Bibi yang sudah telanjur berceloteh tentang Jimin tidak bisa berhenti bicara, sampai Yoongi yang kelelahan masuk ke kamarnya untuk tidur siang.
Saat Jimin pulang kerja, Yoongi masih tertidur. Tidur siangnya begitu panjang sampai ia tidak sadar bahwa hari sudah cukup larut. Lelah yang tidak kunjung hilang terlihat jelas di wajah keduanya. Hari ini memang sangat melelahkan.
Padahal Yoongi sedang hamil, tapi tetap melakukan perjalanan keliling Korea di pagi hari. Setelah tiba di Seoul, ia tidak langsung pulang, malah menghadap ibu mertuanya yang membuatnya bertambah stres. Setelah sampai rumah, ia tidak beristirahat dan malah sibuk memeriksa seisi rumah sambil terus mencereweti bibi penjaga rumahnya.
Walaupun begitu, aku senang karena kau ada di rumah. Jimin membelai-belai rambut panjang istrinya dengan hati-hati. Dirasakannya kelembutan rambut tebal istrinya di sela-sela jarinya. Istrinya yang cantik dan lucu…
"Ehmmm, Jimin?"
"Aku membangunkanmu, ya? Maaf."
"Tidak, memang sudah seharusnya aku bangun sekarang."
Yoongi sedikit terhuyung saat bangun dari tempat tidur yang empuk. Jimin tersenyum tipis, lalu menolong Yoongi dengan memegangi pinggangnya. Berkatnya, Yoongi dapat bangun dengan mudah. Wajah Yoongi, yang berkata 'oh' hingga bibirnya membulat saat mencoba bangun, terlihat lebih cerah.
"Kau harus makan," kata Yoongi.
"Ah, aku lapar. Ayo, cepat makan."
Jimin baru sadar ia belum makan saat Yoongi mengingatkannya. Ia melirik jam alarm kecil glow in the dark di meja samping tempat tidurnya. Waktu sudah menunjukkan pukul Sembilan malam, tapi entah kenapa, Jimin tidak merasa lapar, juga tidak merasa lelah. Ia merasa selalu kenyang dan nyaman karena istrinya ada di rumah. Walaupun itu mustahil, Jimin benar-benar merasa begitu.
Makam malam untuk dua orang diletakkan di meja makan. Yoongi menyendok nasi dari magic jar, menghangatkan sup dengan microwave, berjalan ke sana kemari di dapur dengan langkah yang sangat sibuk. Ia menyodorkan semangkuk nasi hangat yang masih beruap kepada Jimin, lalu menuang sup seafood jamur pedas yang sangat panas ke dalam mangkuk dan membawanya ke meja makan dengan hati-hati. Terlihat sedikit berbahaya.
"Ah, panas!"
Yoongi meletakkan mangkuk di atas meja makan secepat kilat sampai terdengar bunyi yang cukup keras, lalu buru-buru memegang kedua telinganya untuk menghilangkan rasa panas di tangannya. Kecerobohannya masih belum berubah.
"Kau tidak apa-apa?"
"Tentu saja, ini sih tidak ada apa-apanya."
Yoongi memandangi Jimin yang sibuk meniup-niup tangannya sambil tersenyum—Yoongi menganggap yang terjadi tadi bukanlah hal besar. Jimin memegangi tangan Yoongi sambil memeriksanya dengan teliti. Ujung jari Yoongi terlihat agak memerah keseluruhan, tapi selebihnya tidak apa-apa.
"Harusnya kau memakai sarung tangan, atau setidaknya kau membawanya dengan nampan."
"Uuuh, lelaki selalu mengkhawatirkan hal-hal tidak penting seperti ini."
"Tidak penting? Aku mengkhawatirkan hal tidak penting?"
Jimin menatap Yoongi tidak percaya, dan hanya bisa menghela napas melihat sikap Yoongi, padahal Jimin benar-benar bermaksud memperhatikannya. Tiba-tiba, semua keluh kesah yang selalu ditahan Jimin selama beberapa bulan terakhir terngiang-ngiang di telinganya. Keluh kesah yang akhirnya ia keluarkan di ruang makan.
"Harusnya kau berhati-hati agar tidak terluka atau sakit. Kau kan sedang mengandung, jadi kau harus lebih berhati-hati, dong. Aku tidak bisa menjagamu seharian. Kau pikir aku bisa fokus kerja seharian di luar? Apalagi aku harus mengkhawatirkan istri yang ceroboh sepertimu."
Mata Yoongi membulat seperti kelinci. Ia mengedip-ngedipkan matanya tidak percaya sambil terus menatap Jimin. "Itu tidak penting, ah."
Jawaban pendek dari Yoongi yang sulit memercayai apa yang baru saja didengarnya.
"Pasti kau sangat menderita karena harus menahan keluh kesahmu terhadapku, ya, Park Jimin."
Wajah Jimin langsung memerah. Perkataan Yoongi tepat mengenai sasaran. Namun, disisi lain, Jimin memang merasa sangat senang karena akhirnya bisa mengeluarkan keluh kesahnya terhadap Yoongi. Jimin sangat senang Yoongi telah pulang ke rumah, dan juga bahagia karena bisa mencereweti Yoongi atas segala hal yang ia lakukan.
Benar, aku menyambutmu dengan omelan-omelan kecilku, perasaanmu bagaimana, ya? Apa yang harus kukatakan? Apa?
"Aku mencintaimu."
Jimin yang mengomel di meja makan tadi akhirnya memutuskan untuk mengakhiri dengan kalimat 'aku mencintaimu'. Aku mencintaimu, Yoongi.
"Lagi." pinta Yoongi. Ia ingin mendengar lagi dari mulut suaminya.
Tatapan mata Yoongi menjadi semakin lembut. Ekspresi yang sangat disukai Jimin.
"Aku mencintaimu." ulang Jimin.
Yoongi bersikap seolah tidak peduli dan mengalihkan pandangannya pada mangkuk nasinya.
"Aku mencintaimu." ulang Jimin sekali lagi.
Yoongi yang sedang menyuap nasi dengan sumpitnya tiba-tiba terdiam terpaku. Ia menatap jendela sambil memutar bola matanya. Istri yang cantik….
"Jimin, suamiku, ayo makan, ya?"
"Kau bilang apa? Kau saja yang makan. Aku akan terus begini." Jawab Jimin dan terus memandangi Yoongi dengan menopang dagunya menggunakan kedua tangannya yang bertumpu pada siku diletakkan di atas meja makan.
"Ih, merinding! Hentikan, Jimin!"
Yoongi menghancurkan suasana saat ia memperlihatkan ekspresi jijik, membuat Jimin tertawa tanpa suara. Tiba-tiba, Yoongi memasang wajah serius dan berkata kepada suaminya.
"Aku masih ingat. Saat kau mengatakan… kita akan melakukannya bersama. Kemarin kau bilang begitu, kan. Kita akan melakukan semuanya bersama, bukan hanya melahirkan dan membesarkan anak, lho. Coba katakan kau mencintaiku seratus kali lagi. Aku akan lebih bahagia dan berterima kasih kalau kau mengatakan kita akan selalu melakukan segalanya bersama."
"Iya."
Iya, aku tahu. Aku juga takkan pernah lupa.
.
.
.
.
.
TBC
THANKS FOR READING
REVIEW PLEASE?
