After The Weeding
Novel Remake, karya Kim Ji-Oh
Min Yoongi
X
Park Jimin
MINYOON/MINGA/YOONMIN FANFICTION
New chara muncul~ Hoseok x Namjoon
RATED BERUBAH – UBAH SEWAKTU – WAKTU!
IF YOU DON'T LIKE. DON'T READ IT !
IF YOU WANT COPAS, WITH AUTHOR NAME JUSEYO
Genderswitch for Min Yoongi and other characters!
Happy reading~
.
.
.
.
Hoho~ sebelumnya makasih baik sider maupun yg bukan sider ataupun yg msh setia baca ini, favorit following juga. Makasih banyak. Mungkin pada bingung yah sm konflik yg terjadi. Ikutin aja alur ini terus. Nanti kalian jg paham. Aku dulu pertama baca ini juga bingung wkwk. Tp karena penasaran jadinya yahh dibaca terus. BTW ajhumma ingatkan ini emg remake novel ya sayang ^^
.
.
.
.
.
.
After the Wedding
Chapter 19
IT'S A GIRL
Ada sebuah pepatah dalam bahasa asing yang mengatakan "kemalangan tidak datang sendirian'. Tapi setelah dipikir kembali, kebahagiaan juga sering datang membawa pasangan. Itu adalah pemikiran yang harus dimiliki untuk menikmati hidup.
.
.
..
.
.
.
.
.
.
"Jadi, dokter bilang besok?" tanya Hoseok melalui telepon.
"Iya. Kemarin aku menelepon dokterku, katanya mungkin akan lahir dalam tiga atau empat hari."
"Kau tidak takut? Yaaah, kalau aku pasti sudah ketakutan dan minta dioperasi saja."
"Anak ini… mana mungkin aku tidak takut? Tapi, apa kau mau tidak berusaha sama sekali dan memutuskan langsung operasi? Aku juga takut, takut."
"Tapi, kau terdengar seperti orang yang tidak takut sama sekali, deh."
"Hohoho…. Aku kan cuma pura-pura tidak takut. Memang kau mau mendengarku selalu berkata aku ketakutan setengah mati?"
Hoseok menelepon Yoongi untuk menyampaikan kabar bahagia, saat Yoongi sedang merasakan sakit yang menandakan bahwa persalinannya semakin dekat. Tujuan Hoseok menelepon adalah untuk mengatakan kalau Namjoon melamarnya. "Ya Tuhan, sepertinya aku akan menikah dengan monster itu."
"Hei, Namjoon kan baik. monster apa, sih? Dimana lagi kau bisa menemukan pria sebaik itu? Kaulah pihak yang diuntungkan. Jangan bicara sepatah kata pun dan langsung menikah sana!"
"Omong-omong, ada yang ingin kukatakan, Yoongi. aduh, kuceritakan tidak, ya. Sial."
"Apa, sih?"
"monster itu… bagaimana, ya! Haah. Aku tidak ingat apa-apa saat kita mabuk kemarin, tapi ia bilang kita tidur bersama. Ia bilang akan bertanggung jawab dan menikahiku. Sebenarnya sih aku merasa berterima kasih padanya, tapi aku benar-benar bisa frustrasi kalau begini."
"Kenapa kau bisa frustrasi? Ia kan orang baik. Kenapa kau malah marah karena ia mau bertanggung jawab?"
"Bukan itu! Aku hanya sama sekali tidak ingat bagaimana ia di tempat tidur! orang itu telah mengambil keperawananku, tapi aku tidak ingat sama sekali. Aku jadi kesal dan marah!"
"Oho…"
"Oho apanya? Aku kan sudah bersusah payah meneceritakan hal ini dengan maksud agar mendapatkan nasihat berguna dari seorang perempuan yang sudah berumah tangga. Jawab dengan lebih tulus, dong! Ya!"
[Tut tut—]
"Suara apa itu? Suara nada selamu ya?"
"Eh, iya. Sepertinya ibu menelepon. Hoseok, sebentar, ya."
"Berikan jawaban tulus untukku dulu! Ayo!"
"Huhuhu… hei, kalau kau tidak ingat pengalaman pertamamu, kau pasti akan ingat yang kedua, ketiga, dan seterusnya, kok. Tidak perlu khawatir, kan? Sudah dulu, ya. Itu jawaban tertulus yang bisa kuberikan. Bye."
[Tut tut—]
"Padahal, aku sudah membayar mahal untuk menelepon interlokal, tapi hanya ini jawabanmu?"
"Aku akan membalasnya saat memberikan hadiah di pernikahanmu! Jangan khawatir dan terus kejar Namjoon, kau juga harus menyiapkan rumah baru, lho. Hei, sudah dulu, ya. Selamat, Hoseok. Aku akan meneleponmu lagi."
Suara keluhan Hoseok akhirnya menghilang, digantikan dengan suara suaminya yang rendah dan terdengar sedang kesal.
"Kok lama sekali, sih? Harusnya kau langsung memastikan siapa yang menelepon kalau ada nada sela. Bagaimana kalau ternyata ada urusan penting?"
"Penting? Ada dokumen yang tertinggal?"
"Tidak! Itu kan cuma contoh."
"…"
Berarti tidak ada hal penting yang ingin disampaikan. Jimin hanya kesal karena harus menunggu lama sebelum Yoongi mengangkat teleponnya. Yoongi menutup gagang telepon dengan tangannya dan tertawa sendirian.
Setelah dipikir-pikir, akhir-akhir ini Jimin selalu menelepon beberapa kali dalam sehari walau tidak ada hal yang penting, membuat perasaan Yoongi sangat senang. Jimin akan merasa tegang dan khawatir jika Yoongi belum mengangkat telepon di deringan ketiga, setelah itu, catlamine—hormon yang memicu stres—akan menyebar di dalam tubuh Jimin dan mengambil alih pikirannya.
Kemungkinan melahirkan sendirian bagi Yoongi sangatlah tipis, karena Yoongi sering menelepon ibu kandungnya. Siangnya ia selalu bersama dengan bibi yang bekerja di rumahnya, dan malamnya ia akan menghabiskan waktu dengan suaminya yang pulang lebih awal.
Lalu, walaupun kemungkinan untuk melahirkan sendirian terlihat, proses kelahiran tidaklah secepat yang dipikirkan. Menurut dokternya, calon ibu untuk anak pertama biasanya setidaknya membutuhkan enam jam untuk melahirkan. Enam jam adalah waktu yang lebih dari cukup bagi Jimin untuk berlari ke rumah sakit dimana pun ia berada. Bahkan, dokter juga mengatakan bahwa mungkin Yoongi akan membutuhkan dua belas jam untuk melahirkan. Dengan waktu sepanjang itu, bahwa jika Jimin berada di luar negeri pun ia juga dapat terbang dan berlari kepadanya.
Sepertinya Yoongi terlalu banyak menonton drama, karena selama ini ia selalu membayangkan bahwa setiap ibu hamil akan memegangi perutnya yang sudah membesar, sambil berusaha mati-matian untuk melahirkan seperti yang diperankan oleh aktris wanita di dalam drama. Ck ck ck.
"Kau dengar aku tidak?"
"Eh, hah? Kau sedang bicara apa, Jimin?"
"…"
Ia marah. Marah karena aku tidak mendengarkannya. Ah, kenapa tadi aku melamun? Ugh. Mungkin sekarang giliran adrenalin yang menyebar? Yoongi hanya bisa menatap ke luar jendela dan memutar bola matanya. Lalu, ia mencoba menenangkan suaminya dengan suara lembut.
"Pinggangku sekarang tidak sakit, kok. Perasaanku juga sedang sangat tenang…"
"Kaki kirimu yang tadi pagi kram sudah tidak apa-apa?"
"Iya. Masih sedikit kaku, sih, tapi tidak apa, kok."
Seperti yang sudah diperkirakan, Jimin mulai mengecek satu per satu hal-hal yang mengganggu dan dikeluhkan Yoongi. saat sedang seperti ini, Yoongi merasa Jimin tidak beda dengan seorang 'ibu mertua'.
Kuharap anakku akan mirip ayahnya, agar ia juga teliti seperti ini. Sepertinya akan lebih baik daripada harus mirip dengan ibunya yang ceroboh. Tidak, tidak bisa. Aku bisa sakit kepala kalau di rumah ada dua orang seperti itu. Ah, ini harus dipikirkan lagi.
"Lagi, lagi, dan lagi. Kau diam karena sibuk memikirkan hal lain, kan?"
"Eh? Iyaa, sepertinya akan lebih baik kalau anak kita memiliki sifat sepertiku. Ya, kan?"
"Bicara yang tidak-tidak!"
Reaksinya terlalu berlebihan. Jangan-jangan sebenarnya ia sedang menunggu-nunggu anak yang mirip dengannya lagi.
Yoongi—yang karena hanya berbicara lewat telepon dan tidak harus berhadapan secara langsung dengan Jimin—tersenyum saat celotehan Jimin yang tanpa henti terus terdengar dari gagang telepon.
"Yang penting kau melahirkan dengan selamat dan anak kita bisa tumbuh dengan sehat. Memangnya penting memikirkan anak kita nanti mirip siapa?"
"Benar, sih, tapi aku kan penasaran. Jujur saja, deh, Jimin. Kau juga mau anak kita mirip denganmu, kan? Benar, kan? Semua lelaki kan begitu. Aaah, kita saling jujur saja, deh."
"Enak sekali menjadi dirimu, masih bisa santai. Setiap hari aku merasa khawatir dan tegang, tapi kau benar-benar santai, ya."
Setelah temannya, sekarang suaminya sendiri yang berkata seperti itu. Untuk sesaat, Yoongi bertanya-tanya apa benar ia merasa santai karena tidak peduli, atau karena sudah mendapatkan pendidikan yang cukup dan menyeluruh sehingga ia percaya diri. Jawaban baginya, tentu adalah yang kedua.
Yoongi sudah menebak suaminya takkan menyentuhnya dan hanya akan menjaganya seperti boneka mahal walau sudah pulang ke rumah. Yoongi rajin berolahraga agar persalinannya lancar, juga sering ke rumah sakit bersama suaminya untuk mendengarkan nasihat dari dokter. Namun, tidak seperti Yoongi yang yakin akan proses persalinannya, Jimin malah semakin tegang.
"Komohon, sadarlah sedikit saja. Kau bisa saja mengalami kontraksi sekarang, kau adalah seorang ibu hamil yang bisa dilarikan ke rumah sakit kapan saja. Kau harus selalu waspada dan memperhatikan kondisi tubuhmu! Harusnya aku berhati-hati dengan perkataanku. Sekarang, anak kecil yang melahirkan seorang anak akan benar-benar akan terjadi!"
"Kau kan tidak tahu apa-apa, karena…"
Ting tong.
"Ada yang datang, ya? Sudah dulu, ya. Jangan berbuat macam-macam. Aku akan pulang cepat."
"Oke. Aku ingin berbicara langsung denganmu dan membahas sindirian-sindiranmu ini."
Suara tawa geli suaminya mengalir dari gagang telepon. Yoongi memandang gagang telepon seolah ia akan meleleh.
"Nyonya besar Seong Bok-Dong datang."
"Kau kan ada di rumah, kenapa tidak membukakan pintu untuk Ibu?"
Bibi mengantarkan ibu Jimin ke ruang tamu. Yoongi langsung berdiri seperti pegas yang memantul saat melihat ibu Jimin. Ia langsung memberi salam sambil membungkukkan badannya dalam-dalam.
"Ibu datang? Maaf, bu. Dari tadi telepon terus berdering, aku jadi tidak bisa mengecek keluar. Silakan duduk di sini, bu. Mau kuambilkan minuman dingin? Mau teh ginseng?"
Ibu Jimin memandangi Yoongi dengan tidak percaya. Ah, wajahku pasti memerah. Yoongi, kau bersikap bodoh lagi.
"Kau tidak kehabisan napas? Bagaimana caranya kau bisa bicara terus dan tidak bernapas seperti itu… malah ibu yang jadi sesak, Nak. Duduk! Kau membuat Ibu pusing."
"Iya."
Yoongi merasa ragu, tapi akhirnya ia tetap duduk di seberang ibu Jimin. Dengan pakaian hamilnya, Yoongi mencoba duduk sambil terhuyung-huyung di hadapan ibu Jimin yang memakai two pieces berwarna beige lembut. Benar-benar pemandangan yang tidak pantas untuk dilihat. Ibu Jimin memandangi Yoongi dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan mata yang terlihat berpendidikan. Bulu di badan Yoongi langsung berdiri serempak saat ibu Jimin memandanginya.
"Duduk yang nyaman saja. Pasti kau tidak nyaman kalau duduk setegak itu."
Maksud ibu Jimin sebenarnya adalah bukan menantunya, melainkan cucunyalah yang akan merasa tidak nyaman jika Yoongi duduk seperti itu. Ternyata ibu juga mengkhawatirkan anakku. Wajar, sih. Jangan-jangan ia sudah mengakui bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang nenek. Ternyata ibu mertua yang tidak terkalahkan ini sama saja dengan calon nenek lainnya saat melihat perut menantu yang sudah sebesar ini. Yoongi memaksakan diri untuk tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. Kemudian, ia berpura-pura membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman.
"Ibu dengar kau akan melahirkan hari ini atau besok, jadi ibu membawakan sedikit kimchi putih dan sup daging. Bibi, tolong letakkan kimchinya di kulkas. Jangan biarkan kimchinya membusuk, ya. Letakkan dulu di kulkas, dibukanya saat Yoongi sudah melahirkan saja. Lalu jangan biarkan sup dagingnya membeku, letakkan supnya di kulkas, tapi keluarkan setiap malam untuk dipanaskan. Pokoknya jangan sampai basi, ya. Lalu, rumput laut ini natural, lho. Hasil tangkapan penyelam wanita di Pulau Elleung. Simpan rumput lautnya dan makan bersama dengan sup dagingnya kalau kau sudah melahirkan."
"Terima kasih, bu. Akan kumakan."
"Tidak, bukan begitu. Bibi, bukan begitu…"
Walaupun Yoongi sudah berterima kasih dengan sangat sopan, ibu Jimin pura-pura tidak peduli dan berjalan meninggalkan Yoongi, mengikuti bibi penjaga rumah ke dapur. Benar-benar membuatku ingin menghela napas. Kimchi putih, sup daging, rumput laut, sebenarnya aku berterima kasih karena ibu memperhatikanku, tapi sejujurnya, ibu kandungku juga bisa melakukan hal seperti itu. Bahkan, keluarga kandungku sudah lebih dulu turun tangan. Apa gunanya jika ibu mertuaku baru datang sekarang, saat anakku sudah mau lahir, dan memerintahkan ini itu kepada bibi penjaga rumah? Hati Yoongi pun menjadi tidak tenang.
Jimin, bagaimana ini? Yoongi terus melirik gagang telepon dengan tidak tenang. Ia sangat ingin menelepon Jimin dan meneriakkan penderitaannya. Saat itu, Yoongi tidak sadar kedua tangannya sedang bergetar hebat, dan saat itu pula ibu Jimin memilih waktu untuk menghampiri dari dapur.
"Nak, kau kedinginan?"
"Apa?"
"Kenapa tanganmu begitu? kalau kau tidak kedinginan, jangan-jangan kau ada gejala penyakit aneh."
"Ah…"
Yoongi, yang baru menyadari keadaannya, langsung menyembunyikan kedua tangannya di belakang pinggangnya. Tatapan dingin ibu Jimin langsung membuat sekujur tubuh Yoongi kaku. Apa yang dipikirkan ibu hingga ekspresinya semenakutkan itu? Kumohon…
"Kau memiliki penyakit genetik, ya? Anakmu…"
"Tidak, bu! Aku tidak memiliki penyakit seperti itu sama sekali."
Yoongi memotong perkataan Ibu Jimin dengan tegas dan datar. Lebih baik, aku memiliki penyakit yang dapat disembuhkan. Namun, ini hanya gejala hipersensitif. Tatapan mata ibu terlihat seperti sedang mencari-cari kemungkinan—tentu saja ke arah yang buruk—lain, membuat Yoongi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan lemah. Menurutnya ibu melakukan hal yang sia-sia dengan mencari-cari hal yang memang tidak ada. Akhirnya, ibu yang masih terlihat tidak puas karena tidak berhasil menemukan apa-apa walau sudah memandangi Yoongi dengan seksama, mengalihkan tatapan matanya.
Yang pertama. Ini pertama kalinya ibu tidak terus memaksakan keinginannya. Ini juga pertama kalinya Yoongi dapat mengungkapkan pendapatnya dengan jelas di depan ibu. Saat Yoongi terisap dalam kelegaan kecil itu, ada sebuah hal baru lagi yang terjadi untuk pertama kalinya. Hal itu adalah perut bawahnya yang menegang sampai membuat Yoongi tidak bisa benapas.
Perasaan yang sangat berbeda dengan setiap kontraksi yang ia alami selama ini. Yoongi duduk dalam-dalam di sofa, lalu terus mengambil dan mengeluarkan napas dengan teratur. Matanya terkunci pada jam yang tergantung di dinding. Saat ini, bukanlah waktu kelahiran yang diperkirakan dokter, tapi Yoongi yakin inilah saatnya. Sebagai seorang ibu, Yoongi dapat merasakan bahwa bayinya sedang bertarung, bahwa ia sedang berusaha keluar dari dalam perutnya.
"Kau kenapa? kau baik-baik saja?"
"Tidak, bu. Sekarang aku sangat baik-baik saja. Tapi, bu. Ibu bisa pulang sekarang? Aku dan anakku… sepertinya akan mulai sekarang."
Sepertinya ini juga pertama kalinya Yoongi meminta sesuatu kepada Ibu. Pertama kalinya bagi Yoongi yang sedang membenamkan tubuhnya di sofa untuk memerintahkan ibu Jimin dengan tegas. Perintah yang menyiratkan 'semua akan lebih baik kalau kau tidak ada. Jadi cepat pulang ke rumahmu.'
"Kau tidak menelepon Jimin?"
Suara ibu gemetar dan penuh kekahwatiran. Yoongi menoleh dan menatap ibu Jimin. Ketegangan ibu Jimin sangat terlihat jelas. Ya, tuhan. Tak kusangka aku bisa melihat ibu sedang tegang seperti ini. Ah, setelah dipikir-pikir, ibu kan belum pernah mengandung maupun melahirkan. Aku benar-benar lupa.
"Tidak. Masih ada beberapa jam sebelum kontraksi yang berkesinambungan datang, jadi aku tidak perlu ke rumah sakit sekarang. Sekarang masih baik-baik saja, kok. Aku akan mengurus semuanya sendiri. Ibu kembali ke Seong Bok-Dong saja. Aku akan menelepon Ibu kalau sudah sampai rumah sakit."
Peristiwa yang sangat sulit dipercaya. Ibu yang biasanya terlihat seperti wanita yang paling elegan dan tenang sedunia, kini terlihat kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa, sedangkan menantu muda yang merupakan 'ratu tidak becus' dapat menghadapi kontraksi yang terjadi pada dirinya dengan sangat tenang. Benar, sesuatu seperti ini pasti terjadi. Kalau tidak, dunia pasti akan sangat membosankan.
"Sampai jumpa, bu. Bibi, tolong antarkan ibu ke depan."
Yoongi bersandar dengan nyaman di sofa sambil memejamkan matanya, memberikan salam terakhirnya kepada ibu Jimin. Sesuai permintaannya, ibu Jimin dan bibi penjaga rumah berjalan meninggalkan ruang tamu, membuat Yoongi yang duduk sendirian tersenyum lega.
Ibu hebat, kan, Nak? Kau juga harus bersemangat, ya! Kau harus berusaha bersama ibu. Semangat, Nak.
.o.
Saat Jimin tiba di rumah seusai bekerja seharian, Yoongi sedang berjalan pelan-pelan di atas treadmill. Yoongi terlihat sangat santai, bahkan sempat melambaikan tangannya pada Jimin, sehingga Jimin bertingkah seperti biasanya. Ia meletakkan tasnya di dalam kamar, berganti baju, bahkan sempat mandi. Jimin juga menghabiskan makan malam yang disediakan bibi pekerja rumah di atas meja makan. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik Yoongi selama ia makan, merada bahwa Yoongi terlihat sangat bahagia hari ini.
"Kau sudah makan malam?"
Jimin yakin Yoongi sudah makan malam lebih dulu, tapi ia tetap bertanya untuk memastikan. Namun, Yoongi malah tersenyum cerah sambil menggelengkan kepalanya. Jimin langsung meletakkan sumpitnya dan menatap Yoongi dalam-dalam.
"Kau belum makan? Kenapa bibi hanya menyiapkan makanan untukku?"
"Jangan khawatir, Jimin. Ibu segera datang membawa bubur."
"Bubur? Kenapa tiba-tiba kau ingin makan bubur? Kalau kau ingin makan bubur, harusnya kau meneleponku sebelum aku pulang kerja. Kau menyuruh ibu ke sini hanya karena ingin semangkuk bubur?"
Jimin, yang lama-lama merasa terbebani karena ibu mertuanya sudah banyak membantu persiapan kelahiran Yoongi, bertambah tidak enak karena Yoongi meminta ibunya melakukan hal yang sebenarnya bisa ia lakukan. Jimin menghela napas panjang.
"Jangan banyak bicara kalau tidak tahu apa-apa," kata Yoongi. ia memutar bola matanya sambil mengelus-elus perutnya yang sudah membesar, dan menatap Jimin dengan tajam. Lalu, ia mengelap dahinya yang dipenuhi keringat. Kemudian mengalihkan pandangannya ke dinding. Jimin juga mengarahkan tatapan matanya ke dinding, tapi yang ia lihat hanya sebuah lukisan dari cat minyak berjudul Baek Ho Ca Ri dan jam bermotif romantis. Jimin terus-menerus menatap Yoongi dengan penuh kehati-hatian dan perasaan aneh. Sekarang Yoongi sama sekali tidak memedulikan Jimin. Sepertinya ia benar-benar berkonsentrasi untuk berjalan di atas treadmill.
Melakukan hal yang bisanya ia tidak lakukan.
Itu reaksi pertama Jimin. Semenjak Yoongi kembali dari Pulau Jeju, mereka selalu makan malam bersama, juga selalu berjalan-jalan di luar setelah selesai makan, menjadikan kedua hal itu sebagai kebiasaan malam mereka yang paling diprioritaskan. Namun, sepertinya hari ini mereka tidak akan melakukan keduanya.
Makan malam yang dimakan sendirian takkan terasa enak. Jimin meletakkan sumpit dan sendok di meja makan. Ia mengambil sebotol air mineral dingin dari dalam kulkas, lalu berjalan mendekati Yoongi yang sedang sibuk berolahraga di ruang tamu.
"Terserah mau bubur atau nasi, tapi kau harus mengisi perut dulu. Nanti kau kelaparan."
"Tidak. Aku tidak apa, Jimin. Sebenarnya, karena lama-lama bertambah parah… aku jadi tidak merasa lapar. Walaupun begitu, ibu bilang ia tidak mau pergi ke rumah sakit dengan tangan kosong. Ibu takut aku terlalu lemah… akhirnya aku menyuruh ibu datang ke sini dulu dan membawakan bubur untukku…"
"Kau sedang bicara apa, sih? Apa yang bertambah parah? Tunggu! Rumah sakit? Ibu mertua, ibu mau ke rumah sakit bersamamu? Kau sedang kontraksi, ya?"
"Nggg."
Oh my God. Nggg… apanya yang nggg! Yoongi!
Seperti petinju yang baru saja KO, Jimin hanya bisa terdiam untuk beberapa saat, dan saat itulah terdengar seseorang sedang membuka pintu gerbang. Jimin langsung tersadar saat melihat siapa yang datang. Jika saja ibu mertuanya yang masuk melalui pintu itu, mungkin Jimin akan berlari ke arahnya karena terlalu bahagia.
"Oppa!"
"Hei."
Woobin yang tidak menyadari kehadiran Jimin masuk melalui pintu utama dan berusaha mengacuhkan keberadaan adik iparnya saat berpapasan dengan Jimin. Kemudian, ia mengulurkan panci yang terlihat murahan kepada Yoongi.
"Ini, ini buburmu. Ibu ada di mobil. Lalu.. kau menyuruhku datang untuk membawakan tasmu, ya"
"Iya. Ada dua tas, di depan rak yang ada di ruang temu. Kenapa Oppa tidak menyuruh ibu masuk?"
"Haaah. Ibu pasti akan langsung berceloteh kalau melihat wajahmu, jadi aku menyuruhnya menunggu di mobil. Cepat makan. Ayo."
"Iyaaa."
Yoongi bersenandung senang saat kakaknya meletakkan panci bubur di meja makan. Woobin melepas sepatunya dengan ragu-ragu, lalu berjalan untuk mengambil tas yang dimaksud adiknya.
"Tidak perlu. Aku akan membawa tas itu, jadi lebih baik kau menyuruh ibu masuk." Kata Jimin saat Woobin mengulurkan tangannya untuk mengambil tas.
"Huh."
Jimin berkata dengan suara rendah bak seekor binatang buas yang sedang mengusir penyusup yang memasuki wilayahnya. Woobin mengabaikan peringatan Jimin dan tetap mengambil kedua tas tersebut. Namun, tiba-tiba Woobin menjatuhkan kedua tas itu.
"Benar juga, konyol juga kau menyuruhku ke sini. Suamimu kan ada di rumah. Benar, di Korea, seorang perempuan kan tidak dianggap sebagai anggota keluarga lagi saat sudah menikah, jadi ini adalah masalahmu sendiri. Aku akan mengajak ibuku pulang, jadi semoga berhasil, ya."
"Apa?"
"Kalian! Tolong jangan berisik."
Yoongi yang sedang meniup bubur tiga rasa—bubur bernutrisi yang dibuat dari tiga jenis kerang yang berbeda—melayangkan peringatan kepada mereka dengan tegas. Kedua lelaki itu langsung terdiam dalam seketika.
Walaupun mereka sudah tenang, Yoongi tetap meneruskan keluhannya. Intinya ia berkata mereka pikir aku tidak kesakitan setengah mati karena aku tersenyum dengan cerah atau kenapa kakak kandung dan suamiku mirip sekali, kenapa mereka sama-sama berpikiran pendek atau lelaki memang makhluk hidup yang paling tidak berguna? Yoongi pun terus mengoceh sendiri di dalam pikirannya. Sepertinya, Yoongi berusaha untuk melupakan kesakitannya yang bertambah parah melalui celotehannya yang penuh kekesalan.
Setelah menghabiskan setengah panci bubur, Yoongi berdiri dari bangkunya, membuat kedua lelaki yang berdiri di dekatnya segera berjalan ke arahnya. Namun, Yoongi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, menandakan bahwa waktunya masih belum tiba.
Yoongi menyempatkan diri untuk mandi—meskipun wajahnya sudah pucat akibat rasa sakit yang hebat. Ia juga mengeringkan dan menyisir rambut panjangnya dengan tekun. Kemudian, ia juga sempat menyiapkan asuransi kesehatan dan kartu berobat rumah sakit walaupun harus berjalan tertatih-tatih. Bahkan, ia masih menyempatkan diri untuk pergi ke dapur dan memastikan bahwa gas sudah dimatikan. Seusai melakukan itu semua, ia menatap Jimin dan Woobin sambil menganggukkan kepalanya.
Woobin membuka pintu utama dengan ekspresi ketakutan, sementara Jimin langsung menjinjing kedua tas yang dipersiapkan untuk Yoongi dan anaknya dengan sigap. Ibu Yoongi, yang sedari tadi menunggu di depan mobil Woobin, langsung berlari ke arah mereka saat melihat mereka keluar rumah. Keempat orang itu naik dua mobil yang berbeda dan berjalan menuju rumah sakit. Bagi Yoongi, orang-orang di sekelilingnya saat itu merupakan tim yang lebih hebat dari sekelompok dokter-dokter kelas atas.
.o.
Ketenangan Min Yoongi dan bayinya takkan bertahan selamanya, Yoongi sudah mulai terlihat kesulitan saat tiba di rumah sakit, dan lima jam kemudian ia harus merakan kesakitan yang teramat sangat. Sesaat setelah dipindahkan ke ruang persalinan, rasa sakit itu seakan dapat membelah tubuhnya menjadi dua.
Pikiran Jimin, yang baru pertama kali melihat peristiwa seperti itu seumur hidupnya, menjadi kacau. Ia terisap dalam sebuah ketakutan, ketakutan akan kehilangan istrinya. Ah, tapi untungnya ketakutannya tidak menjadi kenyataan.
Jimin merasa seperti sedang bermimpi sehingga tidak begitu mengingat semuanya dengan jelas, tapi yang pasti ia ingat bahwa Yoongi berusaha sekuat tenaga untuk mendorong anaknya. Ia juga ingat dokter menjabat tangannya sambil mengucapkan selamat, ia juga ingat bahwa ialah yang memotong tali pusar anaknya. Setelah itu, ia memeluk istri dan anaknya di dadanya. Ia sangat ingat bahwa ua menangis terharu saat itu. Tidak, bukan hanya ingat. Ia takkan bisa melupakan peristiwa mengharukan itu.
Setelah itu, Yoongi dibawa ke kamar pemulihan, sementara anaknya dibawa ke ruang bayi. Akhirnya, Jimin mulai sadar secara perlahan saat berpisah dengan Yoongi dan anaknya. Ia melangkahkan kakinya ke koridor rumah sakit dan menerima ucapan selamat dari seluruh keluarga yang sedang menunggu. Ibunya dan ibu Yoongi tanpa ragu langsung berjalan ke ruang bayi, sedangkan para lelaki melangkah keluar dari kamar rumah sakit. Tanpa disadari, Jimin juga mengikuti para lelaki yang lain.
"Selamat, Adik Ipar."
"Ah, iya. Terima kasih."
Woobin mengulurkan sesuatu saat mengucapkan selamat kepada Jimin. Jimin mengangkat kepalanya dan melihat bahwa Woobin sedang mengulurkan sebatang cerutu tebal kepadanya. Entah kenapa Woobin menyiapkan cerutu yang tertulis kalimat 'IT'S A GIRL!' di kotaknya. Ia juga membagikan cerutu itu kepada ayahnya sendiri dan ayah Jimin.
"Aku menonton film Amerika. Di sana setiap lelaki yang baru memiliki anak membagikan ini kepada orang-orang. Sejak dulu aku ingin melakukan hal ini. Aku menganggap ini sebagai latihan. Nanti aku akan melakukan yang sebenarnya saat aku punya anak."
Untuk sesaat, tawa empat lelaki itu memenuhi sekeliling mereka. Lalu, mereka menyalakan cerutu dan menghembuskan asap pertama secara bersamaan. Asap putih yang mengeluarkan bau cokelat secara samar-samar terbang ke arah langit dengan perlahan. Ayah Yoongi memandang menantu lelakinya dengan bangga, lalu mengusap-usap pundak Jimin sambil tersenyum puas. Jimin menatap kedua orang tua di hadapannya, lalu mengulurkan tangan kepada Woobin dengan wajah memerah. Adik iparnya tersebut menggenggam tangan Jimin dengan kuat.
Hari yang sangat menyenangkan.
Akhirnya, hari ini Jimin mendapatkan keturunannya, satu-satunya keluarganya. Namun bukan hanya itu, hari ini ia juga menemukan kembali kakak iparnya—Woobin yang dulu— yang selama ini seakan menghilang. Cerutu yang diisapkan sangat pedas sampai hampir membuat Jimin meneteskan air mata. Tapi jika memungkinkan, Jimin ingin terus mengisap cerutu itu selamanya.
.
.
.
.
.
TBC
THANKS FOR READING
REVIEW PLEASE?
