After The Weeding
Novel Remake, karya Kim Ji-Oh
Min Yoongi
X
Park Jimin
MINYOON/MINGA/YOONMIN FANFICTION
New chara muncul~ Hoseok x Namjoon
RATED BERUBAH – UBAH SEWAKTU – WAKTU!
IF YOU DON'T LIKE. DON'T READ IT !
IF YOU WANT COPAS, WITH AUTHOR NAME JUSEYO
Genderswitch for Min Yoongi and other characters!
Happy reading~
.
.
.
.
Hoho~ sebelumnya makasih baik sider maupun yg bukan sider ataupun yg msh setia baca ini, favorit following juga. Makasih banyak. Mungkin pada bingung yah sm konflik yg terjadi. Ikutin aja alur ini terus. Nanti kalian jg paham. Aku dulu pertama baca ini juga bingung wkwk. Tp karena penasaran jadinya yahh dibaca terus. BTW ajhumma ingatkan ini emg remake novel ya sayang ^^
.
.
.
.
.
.
After the Wedding
Chapter 20
Seorang Anak Kecil yang Melahirkan Seorang Anak
Tidak salah lagi, dua burung bulbul yang terbang tinggi bersama adalah pasangan. Walaupun hari sudah malam, mereka saling dapat mengenali pasangannya. Tidak peduli disebut dengan naluri atau cinta, yang terpenting adalah hati yang dipersembahkan untuk pasangan mereka.
.
.
..
.
.
.
.
.
.
" Suatu hari, Tiga Bulan Kemudian…
"Ini bukan anak! Ini musuh!"
"Yoongi, nanti anakmu dengar! Masa seorang ibu berkata seperti itu kepada anaknya!"
"Iibuuu, kenapa hal seperti ini bisa terjadi? Aku sudah gila. Kalau aku tahu dari awal, kalau aku tahu!"
"Kau ini benar-benar, ya! Ke sini kau, Yoongi! Oh, aduh, Yoonji, Yoonji-ku yang cantik. Ayo ke nenek."
"Cantik? Huh!"
Yoongi dibuat kewalahan oleh ulah Yoonji yang sudah berusia seratus hari. Ibu Yoongi memeluk dan menggendong cucunya, seakan sudah menunggu-nunggu untuk melakukan hal itu dari tadi. Yoongi, yang merasa kepanasan karena cuaca yang memang sudah memanas, ditambah dengan tingkah anaknya, segera melangkah tergesa-gesa ke arah kulkas.
Sepertinya, anak Yoongi masih belum tahu bahwa sehari berdiri dari dua puluh empat jam, bah bahwa semua orang harus tidur di malam hari dan bermain dengan senang di siang hari, karena anak Yoongi mengubah malam menjadi siang. Ia selalu rewel di tengah malam tanpa kenal lelah, membuat Yoongi merasa bahwa anak itu tengah memusuhinya. Bukan hanya sehari dua hari, melainkan sudah selama tiga bulan ini. Yoongi menjadi kelelahan dan uring-uringan karena putrinya yang seperti monster. Bahkan, Yoongi yakin bahwa Bunda Maria sekalipun akan kelelahan jika harus merawat anaknya.
Wajah anaknya juga membuat Yoongi bertambah kesal. Selaman ini ia memohon agar anaknya mirip ayahnya. Namun, ternyata wajah anaknya bulat dan putih, tampak seperti anak yang dibuat Yoongi sendirian tanpa bantuan Jimin sama sekali. Ibu Yoongi sangat takjub melihat wajah cucunya, apalagi saat melihat foto ulang tahun keseratus hari Yoonji yang terlihat seperti pinang dibelah dua dengan Yoongi. bukan hanya wajah mereka yang mirip. Sifat mereka yang buruk juga mirip, membuat masa depan Yoongi juga terasa sangat gelap jika harus mengingat bahwa ia harus membesarkan anak ini. Jika bisa, Yoongi benar-benar ingin memasukkan anak itu ke dalam perutnya.
Apa karena namanya?
Park Yoonji, kembang api yang menyala dengan gemerlap.
Nama itu adalah nama yang terlalu berat bagi anak yang baru saja berumur tiga bulan. Yoongi takut nama yang terkesan gegap gempita itu akan memengaruh sifat anaknya. Hmmm, masuk akal, kan? Walaupun begitu, Yoongi hanya bisa menerima dan berterima kasih karena itu adalah nama yang dipilih dengan hati-hati oleh ibu mertuanya.
Huh, bohong!
Yoongi langsung melimpahkan kekesalannya pada ibu Jimin dengan menyalahkan nama yang diberikan oleh beliau. Ia berpikir ibu Jimin pasti ingin melihatnya menderita seumur hidup saat memilihkan nama yang tidak lazim itu. Pasti!
Air mineral dingin yang sepertinya mampu membekukan tulang belakang akhirnya mampu menghentikan pemikiran buruk Yoongi. hubungan Yoongi dengan Ibu mertuanya memang masih tetap sama, tapi Yoongi dapat merasakan bahwa cinta ibu Jimin kepada cucu perempuannya sangat tulus. Yoongi takkan pernah melupakan ibu Jimin—yang seumur hidupnya belum pernah melahirkan seorang anak pun—langsung memeluk cucunya saat baru lahir, dengan wajah yang sangat tulus.
Jika saja suaminya tidak turun tangan dan berkata lepaskan dengan nada dingin, ibu Jimin pasti akan terus-terusan tersenyum sambil menggendong anak yang masih belum dapat membuka matanya itu. Ya, Tuhan… ibu tersenyum! Ibu mengelus-elus anak yang masih belum dibersihkan, ia berkata "anakku, anakku…" sambil tersenyum.
Setelah itu, ibu Jimin jadi sering mengunjungi rumah Yoongi, ia tidak memanggil Yoongi ke Seong Bok-Dong, tapi ialah yang datang langsung ke rumah Yoongi. mungkin, ia sekarang telah menemukan harapan baru pada diri cucunya yang masih kecil, karena ia sudah tidak mungkin mengatur putranya yang sudah dewasa.
Yoongi masih merasa terganggu jika ibu Jimin datang, ibu Jimin tahu cucunya sangat suka minum ASI, sehingga ia menyuruh Yoongi untuk memakan ini itu, dan ia akan langsung marah jika melihat ASI Yoongi tidak keluar. Sama seperti ibunya, ASI Yoongi tergolong sangat sedikit dibandingkan dengan orang lain, tapi ibu-ibu lain toh banyak yang memberikan susu sapi kepada anaknya, sehingga—walaupun Yoongi sudah berusaha menahan emosinya, tapi ibu Jimin masih saja menyudutkannya—akhirnya Yoongi marah juga.
Lho, ASI-ku kan tidak keluar bukan karena aku tidak mau memberikannya pada anakku sendiri.
Akhirnya, saat ASI Yoongi yang memang hanya sedikit benar-benar berhenti keluar minggu lalu, Yoongi melarikan diri ke rumah ibu kandungnya. Ia beralasan bahwa tubuhnya sangat lelah di musim panas yang sangat menguras tenaga ini. Berikut adalah ucapan Ibu Jimin saat mengetahui kepergiannya.
"Kau boleh pergi ke rumah keluarga kandungmu untuk beristirahat, tapi tinggalkan Yoonji di sini."
Pada akhirnya, tidak ada yang berubah. Bagi ibu Jimin, Yoongi masih menantu yang tidak disukainya. Yoongi tidak mengerti kenapa ibu Jimin bisa sangat menyayangi cucu perempuan yang dilahirkannya, tapi tidak menyukai Yoongi. perasaan sayang memang benar-benar suatu yang aneh.
Setelah Yoonji lahir, ibu Jimin selalu memonopoli Yoonji, sehingga ibu Yoongi hampir tidak bisa menghabiskan waktu dengan Yoonji . namun, ibu kandungnya sendiri pun sudah tidak memihak Yoongi lagi. Jika Yoongi sedang menjaga anaknya, ibunya pasti akan bolak-balik menyalahkan Yoongi, sampai akhirnya ia akan mengambil Yoonji dari tangannya. Ia akan menggendongnya dan berkata aduh, anak cantik, anak cantik. Kau datang dari mana? Datang dari mana?, membuat Yoongi menghela napas panjang.
Keberadaan Yoongi di rumahnya dan rumah ibu kandungnya tergeser dengan kehadiran Park Yoonji, membuatnya menjadi seorang hantu yang tak terlihat tak ada yang memedulikan Yoongi yang menjaga Yoonji di dalam perutnya selama hampir sepuluh bulan dan merasakan kesakitan yang sangat dahsyat saat harus melahirkannya ke dunia. Baik keluarganya maupun keluarga Jimin sama-sama mengunci perhatian mereka kepada Yoonji, menatap anak kecil itu dengan penuh kebahagiaan.
Ah, membuatku kesal saja.
Kring.
"Nak, Yoongi. angkat teleponnya!"
"Baik, baik! Halo?"
"Kenapa? kau sedang marah?"
Yoongi menjawab telepon dengan suara penuh kekesalan. Jimin yang mendengar suara tinggi Yoongi—mungkin sambil menahan senyum—terdiam sebentar, lalu bertanya kepada Yoongi. Akhir-akhir ini, Jimin-lah orang yang paling sering dijadikan tempat pelampiasan Yoongi saat ia kesal setengah mati kepada ibu Jimin dan ibu Yoongi. Dan Jimin yang juga selalu mengejeknya dengan sebutan 'anak kecil yang melahirkan seorang anak'. Itu semua karena cemburu kepada anaknya sendiri.
Selama tiga puluh menit, Yoongi menceritakan semua yang terjadi seharian ini. Ia terus bercerita sampai tidak bernapas sama sekali. Bercerita tentang Yoonji—anak perempuan nakal itu!—yang akan rewel saat sedang dimandikan ibu. Lalu, kekacuan yang dibuatnya saat diganti popoknya, Yoongi yang disalahkan karena membiarkan Yoonji kepanasan, Yoongi yang dimarahi karena Yoonji muntah saat diberikan susu sapi… Yoongi menutup ceritanya dengan mengatakan kepada Jimin bahwa Yoonji bukanlah anaknya, melainkan musuhnya.
"Kau sangat lelah, ya. Kau titipkan saja Yoonji kepada ibu mertua, pulanglah, dan istirahatlah yang cukup."
"Uuuh, tidak bisaaaa. Ibu mertua pasti akan marah! Hiks… ibuku juga pasti takkan tinggal diam. Huwaaa…"
"Kau, huh! Aku akan menghubungi ibu, Yoongi, jadi jangan menangis. Hahaha…"
"Kau masih bisa tertawa? Kau juga pasti memihak Yoonji! Aku tahu semua! Semua hanya menyukai Yoonji! Huwaaa…"
"Hahaha. Ternyata benar, ya. Anak kecil melahirkan seorang anak!"
"Hentikan, huuh…"
Jimin kemudian mampir ke Banpho sepulang kerja. Ia menjemput Yoongi dan menitipkan Yoonji di sana. Ibu Yoongi menatap mata Jimin dengan seksama dan mengantarkan anaknya keluar rumah, dengan gerakan yang terlihat tidak setuju dengan tindakan mereka karena meninggalkan Yoonji. Dan sisa hari itu, Yoonji bermain di pelukan kakek dan pamannya sampai pagi, hingga akhirnya tertidur.
Keluh kesah Yoongi tidak berhenti walau sudah berada di dalam mobil yang mengantarkannya pulang ke rumah, sementara Jimin mendengarkan seluruh cerita Yoongi dengan wajah pasrah.
Istrinya terdengar seperti seorang kakak yang merasa keberadaannya terancam saat adiknya baru lahir. Ia benar-benar seperti anak berusia lima tahun. Jimin merasa wajar jika kedua sangat menyayangi Yoonji, karena Yoonji merupakan cucu pertama bagi mereka. Semua orang merasa takjub dengan apa pun yang dilakukan Yoonji dan semua akan langsung merasa khawatir jika mendengar Yoonji batuk walau hanya sekali. Anak kecil yang sedang merasa cemburu karena kasih sayang dan ketertarikan yang dilimpahkan kepada adiknya…. Luka Yoongi pasti akan bertambah besar jika Jimin mengucapkan hal ini. Maka dari itu, Jimin memilih untuk tidak mengucapkannya.
Oleh karena itu, Jimin memikirkan cara lain untuk menghibur istrinya. Ada yang sudah ditahannya selama beberapa bulan walau ia sangat ingin melakukannya. Cara yang 100% akan berhasil asal Yoongi mau meresponnya, sehingga Jimin memutuskan untuk mulai menyentuh Yoongi sejak mereka menginjakkan kaki di depan pintu utama.
"Yoongi, aku paling menyayangimu."
Jimin mengusap air mata yang mengalir di wajah Yoongi. Yoongi yang terkejut hanya dapat mengedipkan matanya, lalu mengelap air matanya sendiri. Air mata membuat bulu mata tebal dan panjangnya semakin bertambah berat. Jimin mendaratkan bibirnya di mata indah itu.
Asin, manis, lucu.
Benar saja. Yoongi yang merinding akhirnya tenggelam ke dalam pelukan Jimin.
.
TBC
.
.
AH maaf, baru nyadar ada chapter yg kelewat huhu T_T
See you in another fanfiction guys~
THANKS FOR READING
REVIEW PLEASE?
