STAR
Chapter II
-sasurissawinchester-
Casts: Donghae x Eunhyuk (as the main characters), Super Junior members, and other Kpop stars
Disclaimer: I do not own all of these characters. I just own the plot.
Rate: T
Genre: Romance
.
Boy's love story from amateur author. If you don't like it, don't read it! I've warned you
.
Happy reading ^^
.
.
"Annyeonghaseyo. Lee Dong Hae imnida." Donghae membungkukkan badan sebagai bentuk sopan santun ketika sedang memperkenalkan diri. Ia bisa merasakan tatapan gadis-gadis itu yang memandang kagum dirinya. Meskipun begitu, Donghae memilih cuek dan berlalu begitu saja menuju tempat duduknya.
Di sisi lain, Hyukjae masih terpaku dalam keterkejutannya. Matanya terkunci pada eksistensi seorang pemuda bernama Lee Donghae itu. Hyukjae masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar barusan. Benarkah itu Donghae-nya? Benarkah itu Lee Donghae yang dulu selalu mati-matian membelanya? Apakah benar dia orang yang sama?
"Halo? Kau yang berdiri di belakang sana, apa kau mendengarku?" suara Hae Won membawa Hyukjae kembali ke dunia nyata. Seluruh siswa yang berada di kelas tampak memandang Hyukjae bingung, kecuali seorang pemuda bernama Lee Donghae. Ia sibuk memandang langit biru yang terhampar luas dari jendela kelas.
"Mm.. Aa.. aku," Hyukjae terdengar terbata-bata. Secepat mungkin ia mengumpulkan kembali kesadarannya dan melanjutkan perkenalannya yang sempat terhenti tadi. "Maafkan aku. Annyeonghaseyo. Lee Hyuk Jae imnida. Panggil saja Eunhyuk." Hyukjae membungkukkan badannya lalu kembali duduk.
Diam-diam, Hyukjae kembali memandang Donghae yang berjarak satu baris di depannya. Jarak di antara mereka cukup jauh—berseberangan antara sisi kanan dan kiri. Hyukjae mulai ragu kalau pemuda itu adalah orang yang sama dengan Donghae yang ia kenal dulu. Sikapnya begitu dingin dan tenang. Bahkan ketika ia telah mendengar nama Lee Hyuk Jae disebut, tidak ada reaksi apapun darinya. Kalau memang benar itu Donghae-nya, ia pasti akan langsung mengenali Hyukjae ketika mendengar nama itu. Tidak, ia pasti langsung tahu begitu melihatnya sepintas.
Mungkin aku salah orang. Nama Lee Donghae di Korea kan bukan hanya dia.
Apa yang sekarang tengah dibicarakan Hae Won di depan sudah seperti angin lalu baginya. Hyukjae terlalu sibuk meyakinkan diri mengatakan kalau rasa rindu telah membuatnya berharap lebih pada orang yang salah. Namun, entah kenapa hatinya seolah menolak untuk menurut. Berulang kali matanya menengok ke meja Donghae. Konsentrasinya pun seakan lepas kendali. Semakin lama ia mengamati pemuda itu, keyakinannya kembali goyah.
Aku benar-benar sudah gila.
Ketika kelas telah selesai, Hyukjae menarik napas lega. Shindong sempat mengajaknya untuk makan di kafetaria namun ia tolak. Dirinya ingin memastikan betul siapa sebenarnya pemuda bernama Lee Donghae tersebut. Dilihatnya Donghae tengah asyik berkutat dengan headphonenya sambil memejamkan mata. Ketika kelas mulai sepi, Hyukjae memberanikan diri untuk menghampiri pemuda itu. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat.
Oh sial, batinnya ketika sampai di sebelah meja Donghae.
Wajah itu… wajah itu adalah wajah yang ia tunggu selama delapan tahun ini! Matanya, hidungnya, bibirnya, semuanya benar-benar sempurna. Hyukjae sekarang seratus persen yakin kalau orang yang dilihatnya saat ini adalah orang yang sama yang telah ia tunggu selama delapan tahun terakhir. Meskipun wajahnya sedikit lebih dewasa dibandingkan dulu, Hyukjae masih dapat mengenali wajah itu dengan jelas.
Merasa diamati seseorang, Donghae membuka matanya perlahan. Ia menatap bingung seorang pemuda berambut cokelat yang kini tengah menatapnya dalam kekaguman. "Apa yang kaulihat?" tanyanya datar sembari melepaskan headphone.
"Apa kau tidak mengenaliku?"
Donghae mengerutkan dahi mendengar pertanyaan yang dilontarkan Hyukjae. "Siapa kau? Apakah aku harus kenal dengan orang sepertimu?"
Hyukjae yang merasa semakin tertarik kemudian duduk di depan meja Donghae. "Aku Lee Hyukjae. Apa kau sama sekali tidak mengingatku?"
Donghae menatap aneh pemuda di hadapannya. Ia menganggap bocah itu kurang waras atau suka cari perhatian. "Tidak. Sudah sana pergi. Jangan ganggu aku."
Hyukjae mengangkat sebelah alisnya. Aneh, apa iya dia sudah benar-benar melupakanku selama delapan tahun ini? Apa memang bukan dia orangnya? Ah, tidak mungkin. Aku benar-benar yakin kau Donghae yang pernah kukenal!
"Ayolah… Coba kau ingat-ingat lagi." Hyukjae belum menyerah. "Kita memang sudah delapan tahun tidak bertemu. Tapi cobalah kau ingat lagi. Aku saja langsung mengenalimu dalam sekali lihat. Aku Eunhyuk, Hyukkie, teman masa kecilmu dulu."
Donghae tampak mulai jengah dengan sikap Hyukjae yang terus mengusiknya. "Tidak, seumur hidup aku tidak pernah mengenal orang yang bernama Hyukjae, Eunhyuk, Hyukkie, atau siapapun itu. Sekarang pergi dari hadapanku dan jangan pernah ganggu aku lagi."
Mendengar jawaban Donghae, Hyukjae semakin mengerutkan dahinya. Matanya menatap Donghae aneh, seolah pemuda berambut hitam itu sedang berbohong padanya. Donghae yang tidak tahan lagi akhirnya berdiri dari kursinya. Ia menarik tasnya asal lalu pergi dari situ sambil mengerang kesal.
"Kau mau kemana?" tanya Hyukjae bingung.
"Bukan urusanmu," jawab Donghae dingin.
Hyukjae menatap punggung Donghae hingga menghilang di persimpangan koridor sekolah. Di dalam kelas kini tidak ada siapapun kecuali Hyukjae yang masih termangu dalam kebingungannya. Ia tidak menyangka reaksi Donghae akan seperti itu jadinya. Apa benar pemuda itu benar-benar sudah melupakannya? Apa Hyukjae telah berbuat kesalahan yang tak ia sadari hingga membuat Donghae tak ingin mengingatnya lagi?
Sekilas, terbesit rasa sakit di hati Hyukjae karena dilupakan begitu saja oleh sahabat kecilnya. Donghae yang ia kenal pasti akan mengingatnya walau sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Pasti telah terjadi sesuatu dengan Donghae. Ya, pasti ada alasan kenapa ia bersikap seperti itu. Apapun alasannya, Hyukjae akan berusaha mencari tahu. Hyukjae tidak akan menyerah karena delapan tahun sudah ia menunggu dan sekarang orang itu telah muncul di hadapannya. Penantiannya selama delapan tahun tidak bisa terbuang percuma hanya karena sikap dingin pemuda itu.
Aku tidak akan kehilanganmu dua kali, Lee Donghae!
.
.
Donghae merebahkan dirinya di atas bangku atap sekolah. Di antara semua tempat di sekolah, hanya tempat ini yang paling cocok untuknya. Sepi, tenang, dan tidak ada orang-orang aneh macam yang ia temui barusan. Ah… Kenapa di hari pertama sekolah ia malah harus bertemu dengan orang aneh seperti itu. Datang tiba-tiba dan menanyakan apakah ia kenal dengan Lee Hyukjae. Benar-benar menyebalkan.
Tapi apa benar aku pernah mengenalnya?
"Argh… Tidak, tidak. Tidak mungkin," kata Donghae cepat-cepat. Tapi tampaknya Donghae kembali meragukan keyakinannya. "Lee Hyukjae… Aku seperti pernah mendengar nama itu di suatu tempat. Lee Hyukjae… Lee Hyukjae… Lee Hyukjae… Ahh, kenapa aku malah memikirkan hal itu? Sama sekali tidak penting."
"Apanya yang tidak penting?" sahut sebuah suara dari pintu tangga darurat. Donghae hanya menoleh sekilas lalu kembali memejamkan mata. "Tumben kau ke sini, Kyu?"
Seorang pemuda bertubuh tinggi tampak berjalan mendekat. Pemuda bernama Cho Kyuhyun itu hanya tersenyum lalu duduk di sebelah sahabatnya. "Tidak apa-apa. Aku hanya bosan di bawah."
"Oh."
"Kau sendiri kenapa di sini?"
"Aku hanya ingin sendirian," jawab Donghae masih dalam keadaan berbaring. "Orang-orang di sini benar-benar aneh. Aku tidak menyukai mereka."
"Kau memang tidak pernah suka dengan siapapun," sindir Kyuhyun sambil memandang sekeliling.
"Aku menyukaimu."
"Terima kasih, tapi aku masih normal."
"Cih, sialan kau."
Kyuhyun hanya terkikih pelan dengan candaan mereka berdua. Ia kemudian mengeluarkan dua kaleng minuman soda dari tas lalu menyodorkannya pada Donghae. "Ini, minumlah."
Donghae bangkit dari tidurnya lalu membuka segel kaleng soda itu. "Kau sendiri bagaimana, Kyu? Sekolahmu di Amerika tinggal setahun tapi kenapa kau memilih pindah ke sini?"
"Aku tidak betah di sana," jawab Kyuhyun singkat. "Siapa suruh waktu itu Ayah memaksaku sekolah di sana? Sudah kubilang aku tidak tertarik ke luar negeri."
"Jadi kau meninggalkan sekolahmu di Amerika lalu kembali ke Korea untuk masuk kelas vocal Star Museum. Ditambah lagi kau masuk dari tahun pertama, sama sepertiku. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu."
"Jangan urus jalan pikiranku kalau pikiranmu sendiri belum beres." Kyuhyun meneguk minuman sodanya hingga tinggal setengah. "Omong-omong bagaimana dengan ingatanmu? Apa kau mengingat sesuatu yang baru?"
Donghae hanya merespon pertanyaan itu dengan angkatan bahu. "Tidak ada. Aku sudah terlalu lelah untuk mengingat."
"Lalu siapa Lee Hyukjae?"
"Huh?"
"Lee Hyukjae. Aku sempat mendengar kau menyebut nama itu berulang-ulang."
Donghae lagi-lagi menaikkan bahunya. "Bukan siapa-siapa. Hanya salah satu orang aneh yang mengaku-ngaku kenal denganku."
"Benarkah?" Rasa penasaran Kyuhyun mulai tergali. "Lalu apa kau pernah mengenalinya?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu," jawab Donghae sekenanya.
"Aish, kau ini. Ingatanmu tidak akan kembali kalau kau seperti ini terus," terdengar nada protes dari Kyuhyun. "Setidaknya cobalah dulu. Siapa tahu orang itu bisa membantu mengembalikan ingatanmu."
Donghae hanya tertawa pesimis. "Lupakan sajalah. Kalau memang ingatanku tidak bisa kembali, biarkan saja seperti itu. Aku sudah lelah bertahun-tahun mencoba tapi hasilnya nihil."
Kyuhyun menghela napas pasrah. "Terserah kau sajalah. Yang hilang ingatan juga kau bukan aku." Donghae hanya menanggapi ejekan Kyuhyun dengan tawa kecil. Namun dibalik tawanya, terbesit rasa ragu dalam hati Donghae.
Ia mengalami amnesia hampir delapan tahun lamanya, dan selama delapan tahun itu ia tidak pernah berhasil mengingat apapun yang terjadi di hidupnya sebelum mengalami amnesia. Dokter mengatakan kalau itu hanya amnesia sementara, namun ia tidak bisa memastikan sampai berapa lama ingatan itu akan kembali. Telah ratusan kali ia berusaha mengingat sekuat tenaga, tapi menemukan ingatan itu layaknya mencari jarum dalam tumpukan jerami. Satu-satunya hasil yang ia dapatkan selama ini hanya rasa sakit luar biasa di kepalanya. Setelah bertahun-tahun mencoba tanpa hasil, agaknya Donghae mulai lelah. Meskipun ia benci tidak bisa mengingat apapun mengenai masa lalunya, ia sudah muak untuk terus dipermainkan seperti ini.
"Kau tidak mau turun?" pertanyaan Kyuhyun membuyarkan lamunan Donghae. Pemuda itu sekarang sudah berdiri sambil membawa kaleng soda yang telah kosong.
Donghae ikut berdiri sambil menenteng tas sekolahnya. Kaleng soda miliknya yang masih tersisa seperempat dilemparkannya ke keranjang sampah tak jauh dari situ. "Ayo turun. Perutku mulai lapar."
~to be continued~
I know it's getting shorter. I'm sorry, minna-san /.\ *bow 90 degrees*
Endingnya bisa dibilang agak gak jelas gitu, ya? Rissa sendiri jujur bingung bikin ending. But this is all I can do for right now. Waktu Rissa saat ini kesita banyak buat try out UN, jadi untuk update Rissa gak janji bakal bisa cepet. But I'll try my best. Rissa bakal langsung update begitu chapter berikutnya udah jadi. Jadi, mohon sabar ya readers sekalian.
Dan bagian paling penting nih, jangan lupa buat meninggalkan jejak lewat review. Rissa sendiri gak nyangka bisa dapet review banyak di chapter 1. Terima kasih banyak buat yg udah me-review fanfic ini. Semoga chapter 2 ini gak mengecewakan ya :D
See you on the next chapter! ^^
