STAR
Chapter III
-sasurissawinchester-

Casts: Donghae x Eunhyuk (as the main characters), Super Junior members, and other Kpop stars

Disclaimer: I do not own all of these characters. I just own the plot.

Rate: T

Genre: Romance

.

Boy's love story from amateur author. If you don't like it, don't read it! I've warned you

.

Happy reading ^^

.

.

Hyukjae berjalan tanpa arah menyusuri koridor sekolah. Ia masih memutar otak untuk menemukan cara agar Donghae bisa mengenalinya. Tiga tahun mereka bersahabat seharusnya ada banyak kenangan yang bisa diungkit. Tapi di saat sepenting ini, Hyukjae malah tidak bisa memikirkan apapun. Dirinya terlalu senang mengingat-ingat pertemuan tak terduga dengan Donghae di hari pertama sekolah. Kalau dipikir-pikir, pindah sekolah mungkin tidak seburuk yang ia bayangkan. Ia sekarang merasa berterimakasih dengan sang ibu yang memindahkannya ke sini.

"Eunhyuk-ssi!"

Hyukjae yang dikagetkan dari lamunannya, menoleh ke sumber suara. Dilihatnya Shindong yang tengah duduk di kafetaria sambil melambaikan tangan ke arahnya. Sedikit ogah-ogahan, Hyukjae berjalan menuju meja Shindong lalu mengambil tempat kosong di depannya.

"Kau kenapa, Eunhyuk-ssi? Wajahmu kelihatan tidak sehat," tanya Shindong sambil melahap ramen yang tinggal setengah.

"Aku tidak apa-apa."

"Apa kau yakin? Wajahmu terlihat berkata sebaliknya. Apa kau punya masalah?"

Hyukjae menggaruk belakang kepalanya canggung. "Mmm… Bukan apa-apa. Hanya sesuatu yang mengejutkanku hari ini."

"Sesuatu? Sesuatu apa?"

"Bukan hal besar."

"Oh, baiklah." Shindong mengunyah ramen yang baru ia suapkan ke mulutnya. Ia kelihatannya hanya mengunyah sebanyak tiga kali sebelum akhirnya berbicara lagi kepada Hyukjae. "Oh ya. Tadi perkenalan kita sempat terputus. Kau bilang kau tidak ingin masuk ke sini. Kenapa? Baru pertama kali aku mendengar seseorang berkata seperti itu. Yang kutahu, semua siswa di Korea berlomba-lomba ingin masuk ke SM."

"Aku masuk SM karena ibuku memaksa. Ia tampak sangat berambisi agar aku bisa lulus dari sekolah nomor satu di Korea. Aku sendiri lebih memilih menyelesaikan sekolahku yang tinggal setahun lagi. Tapi ia tetap memaksa memasukkanku dari tahun pertama."

Shindong yang sedang mengunyah mendadak seperti tersedak mendengar penjelasan Hyukjae. "Apa kau bilang? Tinggal setahun? Berarti kau… Kau hyungku?"

Hyukjae tampak tersenyum senang mendengar kata hyung. "Mmm… Bisa dibilang seperti itu."

"Woahh… Daebak!" Shindong meletakkan sumpitnya. "Ah, Eunhyuk-ssi, tidak, tidak… maksudku hyung! Aku tidak menyangka kau lebih tua dua tahun dariku. Benar-benar tidak terlihat seperti hyung."

"Apa maksudmu tidak terlihat seperti hyung?"

"Bukan apa-apa." Shindong tertawa kecil. "Ah, hyung, apa kau tidak ingin membeli sesuatu? Makanan di sini benar-benar luar biasa."

"Tidak apa-apa. Aku tidak lapar," tolak Hyukjae halus.

"Baiklah kalau begitu," Shindong beranjak dari kursinya. Ia mengambil beberapa lembar uang dari saku celana lalu berpamitan dengan Hyukjae. "Aku pergi dulu ya, hyung. Perutku masih lapar. Tunggu sebentar, aku akan segera kembali."

Hyukjae memandang Shindong tidak percaya. Pemuda itu sudah makan dua mangkuk ramen ukuran jumbo dan masih merasa lapar? Benar-benar luar biasa. Apa ia tidak salah mengambil kelas dance? Hyukjae hanya menggelengkan kepala melihat nafsu makan pemuda itu yang seperti tanpa batas. Sembari menunggu, Hyukjae mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafetaria. Sama seperti sebelumnya, kafetaria ini seperti secuil kemegahan yang ditawarkan Star Museum untuk penghuninya. Makanan yang dijual benar-benar lengkap layaknya restoran bintang lima. Mulai dari makanan khas Korea, Chinese food, hingga Western menu semuanya ada di sini. Kau tinggal memilih sesuka hati.

Pandangan Hyukjae tiba-tiba terhenti di pintu masuk kafetaria. Di sana, tampak Lee Donghae sedang berjalan masuk bersama seorang pemuda yang lebih tinggi darinya. Mereka berjalan mendekat menuju sebuah meja kosong tepat di belakang meja Hyukjae. Melihat Donghae yang semakin dekat, Hyukjae memalingkan wajahnya dari pandangan mereka. Kedua pemuda itu melintas tanpa menyadari kehadiran Hyukjae di situ. Donghae kemudian duduk tepat di belakang Hyukjae. Mereka saling memunggungi dengan sebuah kaca tipis yang menjadi pembatas.

"Kau ingin makan apa?" tanya Kyuhyun sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kafetaria.

"Tteokppeokki."

"Tteokppeokki?" Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya. "Baiklah. Kalau begitu biar kutraktir."

"Benarkah?" tanya Donghae tidak percaya. "Kau kerasukkan apa hari ini hingga ingin mentraktirku? Seorang Cho Kyuhyun tidak biasanya mentraktir orang lain."

"Ck, kau ini." Kyuhyun memicingkan matanya pada Donghae. "Sudah baik-baik mau kutraktir, malah berkata seperti itu. Teman macam apa kau."

Donghae hanya tertawa jahil melihat ekspresi sahabatnya. "Baik, baik. Terimakasih sudah mentraktirku. Sudah cepat sana, aku lapar."

"Dasar bocah tengil," gerutu Kyuhyun ketika beranjak dari tempat duduknya.

"Eh tunggu!" Donghae menarik tangan Kyuhyun kembali. "Jangan lupa aku minta yang polos, tanpa bumbu pedas seperti biasa."

"Ck, iya, iya, aku tahu. Seleramu benar-benar aneh. Saus pedas itulah yang membuat tteokpeokki enak. Sekali-kali harus kau coba."

"Sudah pernah kucoba kok, hanya saja yang polos lebih enak."

"Baiklah. Sekarang cepat lepaskan, sebelum pikiranku berubah." Cepat-cepat Donghae melepaskan genggamannya. Dilihatnya Kyuhyun berjalan menuju salah satu penjual tteokppeokki di ujung kafetaria.

Di sisi lain, mata Hyukjae tampak membulat. Tteokppeokki polos tanpa bumbu pedas, apa ini sebuah kebetulan? Sewaktu kecil, Donghae juga hanya makan tteokppeokki macam itu. Bukan tanpa alasan, Donghae makan tteokppeokki polos karena dirinya.

.

Flashback…

"Aku capek, Donghae-ah. Ayo istirahat dulu," kata Hyukjae dengan napas terengah-engah.

Donghae tampak memanyunkan bibirnya memandang Hyukjae. "Ah, Hyukkie… Kita kan baru lari lima menit. Masa sudah capek? Nanti saja istirahatnya."

"Tidak mau, kau pergi saja duluan." Dengan susah payah Hyukjae berjalan menuju sebuah bangku di pinggir taman. Keringatnya sudah bercucuran deras layaknya orang habis mandi. Tubuhnya masih terlalu lemah untuk lari-larian seperti tadi. Padahal kalau diukur, jarak antara rumahnya dengan taman tidak sampai lima ratus meter. Tapi lihat, wajah putihnya tampak semakin pucat sekarang.

Donghae awalnya merasa kesal karena ia masih belum puas lari-larian. Namun melihat kondisi Hyukjae yang tampak sangat kelelahan, hatinya mulai luluh. "Ya sudah, kita istirahat dulu," kata Donghae mengalah. Ia berjalan menghampiri Hyukjae kemudian memegang dahi bocah itu. "Wah, badanmu sudah panas sekali. Padahal kita baru lari-larian sebentar. Apa kau tidak apa-apa, Hyukkie?"

Hyukjae menggeleng pelan sambil berusaha mengatur napas. "Tidak. Makanya kita istirahat sebentar. Sebentar lagi pasti tidak apa-apa kok."

"Baiklah." Donghae menemani Hyukjae duduk di bangku taman itu. Selama beberapa saat, mereka larut dalam diam sambil memandangi orang yang lalu-lalang di situ. Ketika merasa sudah bisa mengatur napas kembali, Hyukjae mengajak Donghae pergi. "Donghae-ya, aku lapar. Ayo kita makan."

"Kau ingin makan apa?"

Hyukjae tampak berpikir sejenak. "Mmm… Enaknya makan apa ya? Tteokppeokki?"

"Tteoppeokki? Baiklah." Donghae turun dari tempat duduknya lalu menarik tangan Hyukjae lembut. "Ayo, ikut aku. Aku tahu penjual tteokppeokki yang enak di ujung sana."

Hyukjae hanya menurut dan mengikuti Donghae dari belakang. Tangan mereka berdua terus tergenggam erat hingga sampai di tempat sang penjual. Kedai itu terbilang kecil, sama seperti kedai yang biasa kita jumpai di pinggir-pinggir jalan raya. Dengan penuh semangat, Donghae memasukki kedai itu.

"Bibi, aku ingin pesan tteokppeokki!" pesannya setengah berteriak karena tubuhnya yang terlalu kecil tidak begitu nampak oleh sang penjual.

"Oh, baiklah, Donghae-ah," jawab si penjual tersenyum memandang anak yang sering makan di kedainya itu. "Oh? Kau bawa teman ke sini? Siapa namamu anak manis?"

Dengan malu-malu, Hyukjae menjawab, "Namaku Lee Hyuk Jae, Bibi."

Bibi itu tersenyum memandang wajah Hyukjae yang begitu polos. "Hyukjae-ah, kau ingin pesan apa?"

"Kami pesan tteokppeokki dua, Bibi!" sela Donghae sebelum Hyukjae sempat menjawab. "Yang pedas ya, Bi!"

"Aku polos saja, Bi," sela Hyukjae cepat-cepat.

Donghae menengok keheranan memandang Hyukjae. "Polos? Tidak enak, Hyukkie. Yang namanya tteokppeokki itu paling enak dengan saus pedas yang banyak."

"Tapi aku tidak bisa makan tteokppeokki pedas."

"Kenapa?"

"Karena perutku akan sakit setiap makan makanan pedas. Rasanya benar-benar tidak enak, Donghae-ah," jelas Hyukjae sambil mengerucutkan bibir mungilnya. Donghae hanya terdiam mendengar hal itu. Sejenak ia berpikir, sebelum akhirnya bocah itu mengubah pesanannya.

"Kalau begitu dua tteokppeokki polos ya, Bi!"

"Kau tidak mau yang pedas, Donghae?" tanya Bibi penjual itu keheranan.

"Tidak, Bi. Kalau Hyukkie tidak mau, aku juga tidak mau," jawabnya polos dengan tawa yang riang. Hyukjae yang berdiri di sebelahnya hanya tersipu malu mendengarnya.

"Baiklah, tunggu sebentar, ya," sang penjual tersenyum manis melihat tingkah lucu dua anak laki-laki itu.

"Apa kau yakin tidak mau yang pedas?" tanya Hyukjae sembari menunggu sang penjual menyiapkan pesanan mereka.

Donghae hanya menjawab dengan gelengan kuat. "Tidak," jawabnya mantap. "Aku akan menemani Hyukkie. Kalau Hyukkie tidak suka makanan pedas, aku juga tidak akan makan yang pedas-pedas. Kita ini sahabat, kan?"

End of Flashback…

.

Senyum Hyukjae kembali mengembang ketika memori lamanya kembali diputar. Betapa manisnya Lee Donghae yang dulu selalu berada di sisinya. Andai saja bocah itu masih bersamanya sekarang.

Tentu saja dia ada di dekatku sekarang, batin Hyukjae mantap. Aku hanya perlu membuatnya ingat lagi padaku.

Diam-diam Hyukjae menengok ke belakang. Dilihatnya pemuda bernama Kyuhyun itu sudah kembali dengan membawa dua kotak tteokppeokki. Satu pedas, satu polos. Hyukjae hanya tersenyum kecil melihat Donghae mulai melahap tteokppeokki itu seperti orang kelaparan.

"Pelan-pelan, nanti kau tersedak," kata Kyuhyun menegur temannya yang makan begitu cepat. "Aku heran kenapa kau begitu suka dengan tteokppeokki polos seperti itu. Bukankah yang namanya tteokppeokki itu paling enak kalau dimakan dengan saus pedas? Sekali-kali cobalah tteokppeoki pedas. Kau pasti suka."

"Kan sudah kubilang aku pernah merasakannya," jawab Donghae sambil tetap asyik dengan tteokppeokkinya. "Tapi entah kenapa aku lebih suka yang polos. Ibuku bilang, dulu aku selalu memesan tteokppeokki pedas. Tapi suatu hari aku tak pernah memesannya lagi. Sejak saat itu aku selalu makan tteokppeokki polos sampai sekarang."

"Kenapa?"

"Tidak tahu," Donghae menjawab asal. "Sudahlah. Kita makan dulu saja."

Bulu kuduk Hyukjae meremang mendengar percakapan dua pemuda itu. Apa yang diceritakan Donghae dengan apa yang pernah ia alami rasanya seperti mempunyai suatu koneksi. Hal ini membuat pemuda gummy smile itu semakin yakin dengan hatinya.

"HYUNG!" suara Shindong lagi-lagi membuyarkan lamunan Hyukjae. Pemuda berpipi tembem itu sedang tersenyum ke arahnya sambil membawa dua kotak tteokppeokki.

"Aish, kau ini!" seru Hyukjae sambil memegang dadanya. "Panggil saja seperti biasa. Tidak usah berteriak seperti itu. Membuatku kaget saja!"

"Habis hyung tidak menanggapiku, aku sudah memanggilmu berkali-kali tapi tidak ada respon." Shindong mengangkat bahu lalu duduk memandang tteokppeokkinya. "Kau tidak mau, hyung? Tteokppeokki ini enak sekali."

"Tidak, aku tidak suka makanan pedas."

Shindong tidak merespon apapun karena dirinya sudah tersedot penuh pada kenikmatan sekotak tteokppeokki pedas. Hyukjae yang masih penasaran, mencoba menguping kembali percakapan Kyuhyun dan Donghae.

"Kubilang makanlah pelan-pelan. Tteokpeokki untuk dikunyah, bukan diminum," sindir Kyuhyun sinis.

"Sudah, makan saja tteokppeokki-mu. Tidak usah mengurusiku," jawab Donghae sembari terus mengunyah makanan favoritnya sejak kecil tersebut. Sementara itu Kyuhyun hanya berdecak kesal dan memilih untuk makan.

Tteokppeokki di piring itu hanya tinggal separuh. Kecepatan seorang Lee Donghae kalau sudah berhadapan dengan tteokppeokki tidak main-main. Sejenak ia memandang kue beras polos tersebut. Terkadang ada sesuatu yang terasa mengganjal hatinya tiap kali menyantap tteokppeokki. Meski tidak pernah berhasil mengingat apapun, namun ia yakin sesuatu itu ada hubungannya dengan misteri masa lalunya.

"Donghae-ah, aku lapar…"

Mendadak kepala Donghae terasa sakit.

"Kami pesan tteokppeokki dua, Bibi!"

'Apa ini?' batin Donghae bingung. Tangannya mulai memegang kepalanya yang semakin lama semakin nyeri. "Aarghh…" erangnya pelan.

"Donghae-ah? Kau kenapa?" tanya Kyuhyun bingung.

Donghae menggeleng cepat, mencoba mengusir rasa sakit yang mengusiknya. Ia berusaha memfokuskan pandangannya pada satu titik dan rasa sakit itu mendadak hilang.

"Aneh," gumamnya pelan.

"Apanya yang aneh?" tanya Kyuhyun masih dengan tatapan bingung. "Apa kau mengingat sesuatu?"

"Entahlah, aku tidak yakin."

"Kau mengingat sesuatu?" Kyuhyun mulai tampak antusias. "Kepalamu selalu sakit setiap berusaha mengingat sesuatu, bukan? Kau pasti ingat sesuatu! Akhirnya kau menunjukkan perkembangan, Donghae-ah! Ayo ceritakan padaku apa yang kau ingat!"

"Sudah kubilang aku tak yakin. Kejadiannya terlalu cepat. Seperti biasa, rasa sakitnya menguasaiku. Dan hentikan wajah bahagiamu itu. Aku merinding melihatnya."

"Kalau kau bilang tidak yakin, berarti kau ingat sesuatu! Kau hanya menggeleng dan bilang tidak setiap kali kutanya hal seperti ini."

Donghae mendengus pelan dan kembali memakan tteokppeokki-nya. "Sudahlah, lupakan saja. Mungkin hanya halusinasiku."Atau mungkin bukan, lanjutnya dalam hati. Suara itu terdengar terlalu jelas untuk dikatakan sebagai halusinasi. Ditambah lagi, hal ini baru pertama kali ia alami semenjak amnesia delapan tahun lalu. Apakah ini berarti ingatannya perlahan-lahan muncul kembali? Donghae menggeleng tidak yakin. Tidak, terlalu awal untuk berkata seperti itu. Hatinya tidak ingin dikecewakan lagi oleh harapan semu selama delapan tahun ini.

Amnesia sialan!

~to be continued~

Akhirnya chapter 3 jadi! (~'0')~ Rissa sendiri sebenarnya agak gak yakin kalau tteokppeokki polos beneran ada. Kalau memang nggak ada, diada-adain aja ya minna-san :v semuanya demi ff ini biar bisa lanjut terus~ Maaf kalo alurnya agak kecepetan atau aneh gimana gitu, secara Rissa sering kena writer's block (dan gak tau kenapa itu sindrom cinta amat sama saya -_-)

Oke, jangan lupa bagi yg udah baca untuk meninggalkan jejak lewat kotak review ya! Review macam apapun akan Rissa hargai, termasuk kritik, asalkan yang membangun. Makin banyak review, makin semangat buat ngetik chapter berikutnya! :D

See you on next chapter! ^^