STAR
Chapter IV
-sasurissawinchester-
Casts: Donghae x Eunhyuk (as the main characters), Super Junior members, and other Kpop stars
Disclaimer: I do not own all of these characters. I just own the plot.
Rate: T
Genre: Romance
.
Boy's love story from amateur author. If you don't like it, don't read it! I've warned you
.
Happy reading ^^
.
.
Kelas dance sesi kedua kembali dimulai. Setelah perkenalan seluruh siswa baru, Hyukjae dan yang lainnya kini berada di dance room megah Star Museum bersama trainer mereka, Yoon Hae Won. Hae won tampak berbicara sesuatu di depan, namun Hyukjae sama sekali tidak bisa menangkap perkataannya. Konsentrasinya tertuju penuh pada eksistensi seorang pemuda bernama Lee Donghae. Pikirannya sendiri masih tertinggal di kafetaria dimana ia mendengar satu kejutan lagi hari ini.
Amnesia.
Kata itu terus terngiang-ngiang di kepala Hyukjae. Itukah sebabnya Donghae tidak ingat siapa dirinya? Itukah alasan sikap dingin pemuda itu terhadapnya tadi pagi? Dan mungkin, itukah penyebab mengapa Donghae tak pernah mengabarinya selama delapan tahun ini? Semua karena amnesia? Kalau memang benar, sebagian pertanyaan Hyukjae tentang kepergian sahabatnya itu mulai terjawab. Namun di sisi lain, pertanyaan baru bermunculan di kepalanya. Sejak kapan amnesia itu datang? Apakah Donghae benar-benar tidak mengingat apapun tentang dirinya sampai sekarang? Sebegitu parahkah amnesia yang ia derita? Lalu apakah persahabatan mereka selama tiga tahun tidak cukup untuk memperkuat ingatan tentangnya?
"Hei, kau yang di belakang sana! Siapa namamu? Lee... Hyukjae?" suara Hae Won tiba-tiba menggaung keras di ruang dance. Hyukjae yang merasa dipanggil menengok kaget sambil menelan ludah. "Sudah dua kali aku melihatmu melamun di kelasku. Aku tidak suka ada orang pelamun di sini. Kalau kau tidak mau mendengarkanku, lebih baik keluar. Aku tidak ingin membuang energi untuk mengajar seorang pelamun, kau mengerti?"
"Baik, seonsaengmin." Suara Hyukjae terdengar sedikit bergetar.
"Sekarang maju ke depan. Lakukan apa yang sudah teman-temanmu lakukan!"
Dengan ragu, Hyukjae berjalan ke depan. Matilah aku, memang apa yang mereka lakukan?! Ketika sampai di sebelah Hae Won, Hyukjae hanya terdiam. Matanya memandang bingung seluruh orang, berharap mendapat sedikit petunjuk dan bantuan. Apa yang harus kulakukan sekarang?
"Kenapa diam saja? Cepat lakukan," suara Hae Won terdengar semakin keras.
"Mmm... Apa yang harus saya lakukan?" Pertanyaan Hyukjae sontak mengundang gelegar tawa seisi ruangan. Hyukjae hanya garuk-garuk kepala melihat Hae Won yang menghela napas kesal melihat kelakuannya.
"Separuh kelas sudah melakukannya dan kau masih harus bertanya?"
"Maafkan aku, seonsaengnim," Hyukjae membungkukkan badan sambil merutuki dirinya sendiri. Sekilas diliriknya Donghae yang tampak dingin menatapnya. Semua gara-gara pemuda itu. Kenapa ia dengan seenaknya mengacaukan pikiran orang lain dan membuatnya dipermalukan di hari pertama sekolah?
Hae Won menarik napas panjang sebelum akhirnya berbicara lagi, "Aku meminta kalian semua untuk menunjukkan kemampuan terlebih dahulu. Supaya aku bisa lebih tahu kekurangan dan kelebihan kalian. Sekarang menarilah seperti yang biasa kau lakukan."
Hyukjae mengangguk. Dilihatnya wajah beberapa orang yang masih menertawainya diam-diam. Ketika mendengar iringan musik mengalun, dengan luwes Hyukjae mulai menggerakkan tubuhnya. Gerakan tubuh dan iringan sendu itu seakan mengalir bersama menciptakan harmoni dan keindahan, membuat siapa saja yang melihatnya seolah hanyut dalam emosi. Selama beberapa saat Hyukjae seakan lupa dengan peristiwa di sekelilingnya. Ia akan selalu seperti itu bila sudah menari. Pikiran dan jiwanya seolah menyatu dalam tariannya.
Hyukjae berhenti ketika alunan musik tak didengarnya lagi. Dilihatnya Hae Won yang kini tengah menyunggingkan sebuah senyum kecil. "Itu tidak terlalu buruk untuk pemula sepertimu. Kau punya bakat meski masih ada beberapa kekurangan dalam penyesuaian tempo. Cukup mengejutkan untuk seorang pelamun."
Hyukjae tersenyum puas. Yah... Setidaknya ada satu hal baik yang bisa ia tunjukkan hari ini.
Pintu ruang dance tiba-tiba bergeser membuka. Tampak seorang pria paruh baya memanggil Hae Won untuk keluar sebentar. Mereka berdua tampak berbincang-bincang serius sebelum akhirnya Hae Won meminta izin keluar untuk mengurus sesuatu. "Kalian latihan saja dulu. Kita lanjutkan setelah aku kembali. Mengerti?"
"Baik, seonsaengnim," jawab seisi ruang kompak.
Segera setelah Hae Won pergi, ruang dance berubah menjadi riuh. Ada yang melakukan stretching, ada yang memilih bergerombol untuk menggosip, ada juga yang memilih menyendiri—sama seperti yang dilakukan Hyukjae. Pikirannya sudah di-reset untuk fokus kepada pemuda bertubuh atletis yang mendengarkan musik di sudut ruangan. Lamunannya kembali berjalan setelah sempat terputus oleh Hae Won tadi. Ia masih ingin tahu banyak tentang Donghae. Apa yang pemuda itu lakukan selama delapan tahun ini? Bagaimana ia bisa terkena amnesia? Kenapa mereka berdua bisa bertemu sebagai siswa tahun pertama di SM? Apa pertemuan mereka hanya sebuah kebetulan?
"Hei, kau yang bertubuh kerempeng!"
Sontak Hyukjae menengok ke sumber suara, begitu juga dengan orang-orang lain di ruang dance. Dilihatnya seorang pemuda berwajah menyebalkan menatap rendah dirinya. Pemuda yang cukup tampan sebenarnya, asalkan sebuah senyum angkuh tidak terpampang di bibirnya.
Tunggu, kenapa aku harus menengok?Dia tidak memanggil namaku, Hyukjae baru menyadari kebodohannya. Bagus, apa lagi sekarang.
Pemuda itu berjalan mendekat ke arah Hyukjae, diikuti dua pemuda lain di belakangnya. "Tahun ini banyak anak kelas sosial yang masuk ke SM, dan kudengar ada satu yang masuk kelas dance. Bukankah itu kau, bocah kerempeng?"
Hyukjae menelan ludah susah payah. Jadi ini ternyata, anak-anak sombong sok berkuasa SM yang dibicarakan orang-orang. Tidak, ia tidak boleh kalah. Mereka sama-sama pria, untuk apa takut. Hyukjae berusaha mengumpulkan keberaniannya dan menatap balik pemuda itu.
"Kalau iya memang kenapa? Apa itu salah?"
Pemuda itu bersama teman-temannya tertawa terbahak-bahak. Hyukjae yang sebenarnya bingung, berusaha mempertahankan image sangarnya.
"Salah katamu? Tentu saja salah! SM bukanlah sekolah untuk orang sepertimu! Aku tidak habis pikir kenapa sekolah elit seperti ini mau menjatuhkan diri untuk menerima sampah. Minim biaya tapi nekad masuk sekolah bergengsi. Dasar orang-orang miskin, tidak pernah berpikir panjang."
Hyukjae menggenggam tangan kuat. Emosinya benar-benar tersulut ketika harga dirinya dilecehkan. "Jaga mulutmu kalau tidak ingin kena masalah."
"Oh, kau ingin melawan?" suara pemuda itu terdengar makin menantang. "Kau yang akan dapat masalah kalau berurusan denganku, bodoh! Kau tidak tahu siapa aku?!"
"Aku tidak kenal orang menyedihkan sepertimu." Hyukjae berusaha mati-matian untuk tidak memulai perkelahian.
"Kau cari mati rupanya! Mau menantangku, hah?!" pemuda itu hampir saja melayangkan tinjunya ke wajah Hyukjae kalau saja dua temannya tidak mencegah. "Jangan menahanku! Orang tidak tahu diri macam dia perlu diberi pelajaran!"
"Cukup, Yunho! Kau akan dapat masalah kalau berkelahi di hari pertama sekolah!"
"AAARGGHH... LEPASKAN!" pemuda itu terus meronta sampai akhirnya suara Hae Won membuat hening seluruh kelas. "Ada apa ini?! Bubar semua, bubar!" Sontak seluruh siswa menjauh dari Hyukjae dan ketiga pemuda tadi, berharap masalah juga ikut menjauh dari mereka.
"Apa yang kalian berempat lakukan?" tanya Hae Won yang hanya dijawab dengan gumaman. "Jung Yunho! Kim Jongin! Lee Howon! Lee Hyukjae! Cepat jawab aku!"
"Bukan apa-apa, seonsaengnim," Jongin memutuskan untuk angkat bicara. "Hanya sedikit pertengkaran kecil. Bukan masalah besar."
"Baru satu hari kalian masuk SM tapi sudah berani membuat masalah." Hae Won memegang kepalanya yang terasa pening. "Kali ini kalian akan kulepaskan. Tapi hati-hati untuk lain kali. Aku tidak akan segan-segan membawa kalian ke kepala sekolah. Mengerti?"
"Mengerti, seonsaengnim." Hanya tiga orang yang menjawab Hae Won. Hanya Yunho yang bersikeras mempertahankan wajah pongahnya dengan sikap acuh tak acuh.
"Sekarang kembali ke tempat kalian, cepat!"
Segera, kerumunan yang hampir saja berkelahi tadi hilang sudah. Selama beberapa saat, luapan kekesalan Hae Won membuat seisi kelas hening. Sementara itu, Hyukjae melirik sekilas ke arah Donghae yang tampak tidak tertarik dengan keadaan sekitarnya. Wajahnya begitu dingin, tanpa ekspresi sama sekali. Sangat berbeda dengan Donghae yang ia kenal dulu. Dahulu, Donghae tidak akan pernah tinggal diam jika ada orang yang mengganggu dan mengejeknya. Pemuda itu pasti akan jadi orang pertama yang melindunginya. Bahkan ia rela berkelahi hingga anak-anak pengganggu itu tidak berani lagi mendekati Hyukjae. Salah satu kenangan termanis Hyukjae tentang Lee Donghae yang pernah dikenalnya. Seharusnya Hyukjae sudah terbiasa melakukan semua sendiri sejak ksatria ciliknya menghilang delapan tahun lalu. Namun entah kenapa hatinya seperti teriris melihat sosok yang dulu selalu membelanya, kini duduk mematung tanpa berbuat apa-apa. Hyukjae tahu ia tidak sepantasnya marah, karena ia sendiri mengerti alasan dibalik sikap dingin Donghae. Tapi siapa yang bisa mengatur perasaan seseorang?
.
.
Bel pulang sekolah berbunyi. Lonceng itu terdengar seperti sangkakala pembebasan dari neraka bagi Hyukjae. Seperti yang ia duga, hari pertama di SM tidaklah berjalan mulus. Baru hari pertama saja ia sudah dapat perlakuan tidak menyenangkan dari komplotan anak-anak konglomerat itu, bagaimana hari-hari berikutnya? Hyukjae merenungi nasib sialnya ketika tangan besar menepuk pundaknya.
"Hai, Hyung!" sapa Shindong dengan nada ceria khas miliknya.
"Mm... Hai," jawab Hyukjae malas.
"Kau benar-benar berani tadi," puji Shindong yang hanya dijawab gumaman kecil dari Hyukjae. "Kau tahu, mungkin sebaiknya kau menghindari Yunho dan teman-temannya. Mereka bukan tipe orang yang bersahabat."
"Bukan aku yang mendekati mereka, mereka yang mencari masalah denganku."
"Yah... Tapi kurasa ada baiknya kau menghindar kalau sikap mereka sudah seperti tadi, terutama Yunho. Kau bisa kena masalah besar kalau berurusan dengan mereka. Backing mereka benar-benar kuat, kau tahu."
Hyukjae menaikkan sebelah alisnya. "Apa maksudmu backing mereka benar-benar kuat?"
Shindong mengangkat bahu. "Yunho, Jongin, dan Howon bisa dibilang penguasa cilik SM. Ketiga orang tua mereka adalah pemegang saham terbesar di SM Entertainment. Apalagi ayah Yunho yang notabene masih punya hubungan keluarga dengan pendiri sekolah SM. Mereka bertiga sudah bersikap seperti itu semenjak SMP. Tak ada yang pernah berani melawan karena takut dengan latar belakang orang tua mereka. Jongin dan Howon mungkin tidak terlalu buruk, tapi tak ada tawar-menawar untuk Yunho. Ia mutlak harus kau hindari."
Hyukjae yang mendengar penjelasan panjang lebar itu cuma manggut-manggut. "Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa tahu begitu banyak informasi tentang mereka?"
"Tentu saja aku tahu kalau sejak SD aku selalu satu sekolah dengan mereka," jawab Shindong santai.
"Apa kau pernah kena bully juga selama ini?"
"Tentu saja pernah. Hampir semua anak sekolah-sekolah SM sebelumnya pernah di-bully oleh mereka. Ada yang disiram air pel, ada yang lokernya diisi sampah makanan, bahkan ada yang pernah dihajar sampai babak belur. Mereka selalu menemukan cara baru untuk mem-bully."
Bulu kuduk Hyukjae bergidik ngeri. Kasus pem-bully-an SM yang ia dengar di luar ternyata tidak ada apa-apanya. Benar-benar jauh di luar perkiraan. "Separah itukah? Lalu apa tidak ada reaksi apapun dari sekolah?"
Shindong hanya menggeleng. "Tidak ada yang cukup baik menurutku. Sekolah hanya menganggap hal ini sebagai kenakalan remaja biasa. Mereka biasanya hanya memberi peringatan kepada Yunho, Jongin, dan Howon. Sebuah hukuman yang jelas-jelas tidak punya pengaruh apapun pada mereka."
Sekolah macam apa yang membiarkan muridnya bebas membully murid lain? Benar-benar tidak bisa dipercaya! batin Hyukjae dengan mulut ternganga.
"Makanya, hyung, kusarankan untuk menjauhi mereka bertiga. Hidupmu tidak akan pernah tenang kalau sudah berurusan dengan mereka."
"Yah, mungkin kau benar," sahut Hyukjae singkat sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lagipula aku bisa dicincang Ibu kalau sampai dikeluarkan gara-gara berkelahi.
Ekor mata Hyukjae tiba-tiba menangkap sosok Lee Donghae yang berjalan melewatinya. Seperti biasa, sepasang earphone sudah terpasang di telinganya. Pemuda itu berjalan cepat tanpa menghiraukan lingkungan sekitar.
"Mmm... Shindong-ah, aku duluan ya! Sampai ketemu besok!" pamit Hyukjae buru-buru. Ia segera mengejar pemuda berambut hitam yang kini sudah siap menyeberang jalan tersebut.
"Ya, Lee Donghae!" panggil Hyukjae setengah berteriak, berharap suaranya tertembus ke dalam earphone Donghae. Sayang, pemuda itu bergeming. Perhatiaannya tersedot penuh ke layar ponselnya.
"Lee Donghae!" teriak Hyukjae semakin keras, namun respon yang ia terima tetap sama. Donghae mulai melangkahkan kaki melewati jalan raya Seoul tempat mobil-mobil mahal berlalu-lalang dengan kecepatan tinggi. Matanya yang terlalu fokus menatap ponsel, luput menangkap eksistensi sebuah sedan silver yang melaju kencang ke arahnya. Klakson mobil pun terhadang sempurna dari telinganya berkat earphone warna hitam itu. Jaraknya dengan mobil itu tinggal beberapa inci, hingga dirasanya seseorang menubruknya keras ke depan, membuat wajah tampan itu dengan sukses mencium trotoar.
"Apa yang..."
Belum selesai rasa terkejut Donghae, sebuah pukulan keras mendarat di kepalanya. Pukulan manis dari orang yang paling tidak ingin ditemuinya hari ini. Lee Hyukjae.
"YA! APA KAU TIDAK PERNAH DIAJARI CARA MENYEBERANG JALAN, IDIOT!" Hyukjae berteriak melampiaskan kekesalannya terhadap pemuda berambut brunette itu. Napasnya terengah-engah, kombinasi antara apa yang dilakukannya tadi ditambah emosi yang siap meledak kapan saja. Sementara itu objek yang sedang ia amuk sekarang hanya menatap dengan wajah tidak percaya.
"Kau..."
Hyukjae masih berusaha mengatur napasnya ketika ia berdiri sembari merapikan seragamnya. "Kau tidak pernah berubah, Lee Donghae. Seharusnya kau kapok setelah hampir tertabrak juga dulu."
Donghae yang mendengar hal itu mendesah tak percaya. Apa yang sebenarnya dibicarakan pemuda ini? Tangan Hyukjae terulur, menawarkan bantuan pada pemuda tersebut. Namun dengan dingin ditampiknya tangan putih itu. Donghae dengan cepat berdiri dan kembali berjalan dalam diam, seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Ya, kau seharusnya berterima kasih padaku! Aku sudah menyelamatkan nyawamu, bodoh!" Hyukjae berusaha mengejar Donghae dan berjalan sejajar dengannya. Donghae hanya diam, tidak menjawab sepatah kata pun.
"Ya... Lee Donghae..."
"..."
"Lee Donghae..."
"..."
"Lee Donghae..."
"..."
"Donghae-ah..."
"..."
"Dong—"
"Ya!"
Donghae berhenti dan menghembuskan napas berat. Hyukjae tampak sedikit tersentak. Manik hitamnya tampak berkedip-kedip menatap wajah geram di depannya.
"Pergilah. Jangan ikuti aku lagi," Donghae akhirnya bersuara meski terdengar nada amarah tertahan di sana.
"Santailah sedikit, aku baru saja menyelamatkanmu..."
"Aku tahu. Terima kasih banyak. Sekarang pergilah!" suara Donghae terdengar keras dan tegas.
Wajah Hyukjae tampak sedikit kecewa. Sewaktu mereka kecil dulu, ia tidak pernah melihat Donghae marah atau membentak seseorang. Baru sekarang ia melihat wajah ramah yang dulu dikenalnya kini merah padam. Mood-nya tampak tidak baik saat ini. Apa ia sedang terkena masalah? Bukankah mood-nya baik-baik saja sewaktu di kafetaria tadi? Tanpa banyak bicara lagi, Donghae berjalan meninggalkan Hyukjae di belakang hingga akhirnya menghilang di belokan. Donghae mempercepat jalannya. Ia tahu seseorang menguntitnya dari belakang, namun ia tidak mau ambil pusing lagi. Selama pemuda itu tidak mengganggu, bukan masalah baginya. Donghae menghentikan langkahnya di sebuah rumah putih bertingkat dua. Ia memasukkan kode tertentu dan beberapa waktu kemudian pagar berwarna putih di depannya terbuka. Donghae masuk ke dalam dan menghilang dari pandangan sang penguntit.
Setelah dilihatnya Donghae masuk, Hyukjae keluar dari persembunyiannya. Matanya membelalak tidak percaya seraya mendekati rumah putih tersebut.
"Tidak mungkin... Rumah ini..."
~to be continued~
Maaf readers sekalian kalau baru update sekarang *bow* Rissa abis selesai ujian dan baru bisa nglanjutin. Adakah yang masih ingat ff ini? Hehehe... banyak yang minta supaya chapter ini diperpanjang. Rissa udah berusaha maksimal buat manjangin dan inilah hasilnya. Baru bisa perpanjang sedikit, ga apa-apa ya readers? #plak
Oke, sekarang bagian yang terpenting... REVIEW JUSEYO ... Rissa tau ini ff masih amatiran dan butuh banyak perbaikan. Makanya Rissa butuh banyak masukan dan review dari semuanya. Bagi yang udah baca dan review, terima kasih banyak! *bow*
See you on the next chapter! ^^
