STAR
Chapter V
-sasurissawinchester-
Casts: Donghae x Eunhyuk (as the main characters), Super Junior members, and other Kpop stars
Disclaimer: I do not own all of these characters. I just own the plot.
Rate: T
Genre: Romance
.
Boy's love story from amateur author. If you don't like it, don't read it! I've warned you
.
Happy reading ^^
.
.
"Selamat siang, Tuan Muda." Seorang pelayan wanita paruh baya dengan hormat membungkuk kepada sang pemilik rumah. Sementara itu Lee Donghae—si pemilik tunggal—hanya menjawab dengan gumamam singkat. Ia bergegas naik menuju kamarnya di lantai dua.
Kasur king size itu memantul ketika tubuh atletis milik Donghae terhempas keras di atasnya. Dengan mata terpejam, Donghae berusaha merilekskan tubuh dan pikirannya. Tangannya merogoh tas, mencari ponsel hitam miliknya. Manik hitam itu terbuka kembali ketika ponselnya berada dalam genggaman. Segera ia membuka pesan masuk teratas. Sebuah pesan dari Tuan Kim, sekretaris ayahnya. Sekretaris Kim mengirimkan foto seorang gadis cantik berambut panjang yang tak pernah dikenal Donghae. Seorang gadis lain pilihan sang ayah untuk acara kencan buta putranya.
"Aaarrgghhh!" Donghae mengerang frustasi. Ia tidak habis pikir dengan sang ayah. Kenapa tekadnya begitu kuat untuk melakukan perjodohan? Lewat Sekretaris Kim, Tuan Lee selalu menjadwalkan kencan buta dengan putri kolega-koleganya. Bahkan setelah ratusan kali Donghae mengatakan tidak dan terus menolak datang. Pembahasan ini yang membuatnya muak untuk tinggal dengan ayahnya di Jepang.
Menyedihkan sebenarnya, mengingat sang ayah lebih mementingkan masalah perjodohan dibandingkan ingatan anaknya. Hubungan Donghae dengan sang ayah tak pernah berjalan mulus sejak dulu. Tuan Lee adalah seorang pengusaha properti terkemuka di Jepang. Ekspansi bisnisnya bahkan semakin meluas sejak keluarga Lee memutuskan pindah dari Korea ke Jepang. Ironis, kepindahan itu justru membuat Donghae harus rela kehilangan ingatan sekaligus ibunya. Satu titik yang mengubah hidup Tuan Lee dan putranya. Sayang, poros kehidupan mereka berputar berlawanan arah. Sang ayah berputar ke atas bersama bisnisnya, sedangkan Donghae merasa dunianya hancur tenggelam ke bawah karena tidak mampu mengingat apa-apa. Donghae tidak ingat seperti apa ayahnya dulu sebelum ia terkena amnesia. Namun satu hal yang ia tahu, ayahnya adalah yang orang dingin dan tegas sejak pertama kali ia membuka mata di rumah sakit. Ayahnya baru datang menjenguk satu minggu setelah ia siuman. Kunjungan bisnis ke luar negeri, katanya. Ia bahkan ragu saat itu, kalau Tuan Lee masih ingat punya seorang putra. Bahkan setelah keluar dari rumah sakit dengan ingatan yang belum pulih, Tuan Lee tampak tak peduli. Komunikasi yang ia bangun dengan Donghae sangat terbatas. Jiwa-raganya sudah dibaktikan penuh untuk bisnis keluarga. Secara ekonomi, Donghae sangat berkelimpahan. Namun hasrat kasih sayang keluarga dalam dirinya tak pernah terpuaskan. Kadang ia amat merindukan sosok seorang ibu. Ia ingin tahu bagaimana ibunya dahulu. Hanya saja lagi-lagi amnesia menghalanginya melakukan itu. Ya, amnesia sialan itu.
Kau tidak pernah berubah, Lee Donghae. Seharusnya kau kapok setelah hampir tertabrak juga dulu.
"Lee Hyukjae..." Donghae tiba-tiba kembali menggumamkan nama Hyukjae. "Lee Hyukjae... Lee Hyukjae... Lee Hyukjae... Apa maksudnya berkata seperti itu? Apa aku pernah bertemu dengannya dulu? Kenapa ia terdengar seperti sangat mengenalku?"
Donghae berpikir sejenak. Kalau diingat-ingat, Hyukjae adalah orang pertama yang bersikap seperti itu padanya. Datang tiba-tiba dan bertanya apakah pemuda itu masih mengingatnya. Ya, pemuda bernama Lee Hyukjae itu. Ia bahkan menjadi penyelamatnya hari ini dan mengikutinya pulang meski sudah dikasari seperti tadi. Apa mungkin pemuda itu tahu sesuatu? Mungkin Hyukjae bisa menjadi sedikit petunjuk baginya, setidaknya setelah delapan tahun menunggu tanpa hasil.
Haruskah aku memberinya kesempatan?
.
.
Hyukjae pulang ke rumah dengan lesu. Pikirannya kalut dengan semua yang dialaminya hari ini. Terlalu banyak kejutan di hari pertama sekolah.
"Kau sudah pulang, sayang?" ibu Hyukjae menghampiri putranya, masih menggunakan celemek memasak. Sedikit memaksa, Hyukjae menyunggingkan senyum kecil sembari mengangguk pelan.
"Apa kau tidak apa-apa? Kau tampak sangat lelah," wajah Nyonya Lee berubah cemas ketika dilihatnya Hyukjae kelihatan tidak bersemangat.
"Aku tidak apa-apa." Hyukjae berusaha meyakinkan ibunya. "Aku ke atas dulu ya, Bu."
"Baiklah, istirahatlah dulu. Ibu akan memanggilmu kalau makan malam sudah siap."
Hyukjae mengangguk dan bergegas naik ke atas. Ia merebahkan tubuh dan melempar tasnya sembarangan. Perlahan, Hyukjae mulai merangkai semua kejadian di sekolah hari ini. Mulai dari pertemuannya dengan Donghae, perihal amnesia yang diderita pemuda tersebut, hingga terakhir rumah putih itu.
Tempat itu dulunya adalah rumah Donghae sewaktu masih kecil. Ia pernah menunjukkannya sekali pada Hyukjae dulu. Namun entah kenapa, bocah itu tidak pernah mengajaknya main lagi ke situ. Hyukjae sendiri tidak pernah menuntut saat itu. Setelah keluarga Donghae pergi menghilang tanpa jejak, rumah itu dibiarkan kosong selama bertahun-tahun. Namun suatu hari rumah itu tiba-tiba saja terbakar. Terbakar begitu hebat hingga sanggup menghanguskan setiap sudut tanpa bekas. Yang tersisa dari rumah megah bertingkat dua itu hanya tumpukan abu hitam. Setelah kebakaran besar terjadi, tempat itu cuma dibersihkan dari puing-puing dan dibiarkan begitu saja. Seingat Hyukjae, daerah bekas tempat tinggal Donghae dulu hanyalah berupa tanah kosong tanpa ada bangunan apapun berdiri di atasnya. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati sebuah rumah sudah berdiri kokoh di sana. Yang lebih mengejutkan lagi adalah konstruksi rumah itu yang sama persis sebelum ludes terbakar. Apalagi, sang pemilik rumah yang tiba-tiba saja kembali menempati daerah itu.
Sejak kapan mereka membangun lagi rumah itu? Bagaimana bisa Donghae tinggal lagi disitu?
"Tentu saja bisa, daridulu memang itu rumahnya," gumam Hyukjae menjawab pertanyaannya sendiri. Banyak hal bisa terjadi dalam waktu delapan tahun. Tapi apa yang dipikirkan Donghae hingga setelah delapan tahun ia memutuskan untuk kembali? Apa saja yang sudah terjadi padanya selama delapan tahun ini? Apa yang membuatnya tiba-tiba berurusan dengan amnesia?
"Apa jangan-jangan dia teledor lagi lalu tertabrak mobil hingga amnesia?" Hyukjae mulai menebak-nebak. "Ya... jangan-jangan seperti itu. Tadi saja dia hampir tertabrak mobil. Coba kalau saat itu tidak ada aku, entah bagaimana keadaannya sekarang." Hyukjae kemudian tampak berpikir sejenak. "Apa seharusnya kubiarkan saja tadi dia tertabrak? Mungkin dengan benturan keras di kepala, amnesianya bisa sembuh. Dengan begitu aku tidak usah repot-repot membuatnya ingat lagi padaku."
"Ah, apa yang kau pikirkan, Lee Hyuk Jae? Apa kau sudah gila? Tidak, tidak. Aku harus memikirkan cara lain untuk mengembalikan ingatannya."
Kalau dilihat-lihat, Hyukjae sudah kelihatan seperti orang gila. Mengajukan pertanyaan yang kemudian dijawab sendiri. Kalau ia belum menemukan jawaban, erangan frustasi yang akan keluar dari mulutnya. Pikiran pemuda itu benar-benar sudah dikacaukan oleh Lee Donghae.
Perlahan mata Hyukjae menutup. Matanya terasa semakin sulit untuk dibuka. Kelopak mata sayu itu akhirnya terbuai masuk ke dalam alam mimpi, mengacuhkan teriakan dari lantai satu yang mengatakan makan malam sudah siap.
.
...Flashback...
Musim semi baru saja datang. Hyukjae dan Donghae tampak duduk di sebuah taman tempat mereka biasa bermain. Dua bocah itu tidak melakukan apa-apa, hanya duduk di bangku taman memandangi orang yang lewat.
"Hyukkie, ayo kita main. Aku bosan duduk di sini terus," rajuk Donghae dengan wajah cemberut.
"Kau mau main apa, Donghae-ah?"
Donghae tampak berpikir sejenak. "Mmm... Ayo main... Petak umpet!"
"Petak umpet?"
Donghae mengangguk antusias. Ia kemudian menarik Hyukjae turun dan mengajaknya ke sebuah pohon besar tidak jauh dari situ. "Kau tunggu di sini. Tutup matamu dan hitung sampai sepuluh. Aku yang akan bersembunyi. Jangan buka matamu sebelum hitungan ke sepuluh!"
"Kenapa aku yang jadi duluan?"
"Karena kau tidak bisa lari cepat-cepat, Hyukkie. Ayo hitung satu sampai sepuluh!" jawab Donghae sambil membalikkan badan Hyukjae yang masih bingung. Meski demikian, Hyukjae akhirnya tetap menurut dan mulai menutup mata. Ia menghitung satu sampai sepuluh, sementara Donghae mencari-cari tempat yang sekiranya sulit ditemukan. Setelah sampai hitungan ke sepuluh, Hyukjae mulai membuka mata. Kepalanya menengok kesana kemari mencari tempat Donghae bersembunyi.
"Donghae-ah!" Hyukjae mulai memanggil nama Donghae setelah hampir lima menit belum berhasil menemukan bocah itu juga. Ia sudah mengelilingi taman dan mengecek setiap tempat tersembunyi di sana—setidaknya yang dia tahu. Tapi Donghae sangat ahli dalam bersembunyi. Hyukjae mulai sedikit menyesali keputusannya menuruti kemauan Donghae tadi. Karena lelah dan kesal, Hyukjae akhirnya kembali duduk di bangku taman sambil memasang wajah cemberut.
"BAAA!" Seseorang menepuk punggung Hyukjae dari belakang, membuat bocah kurus itu meloncat dari bangkunya. Donghae yang berhasil mengagetkan sahabatnya tampak tertawa gembira.
"Aahh... Donghae-ah! Kenapa kau mengagetkanku?" protes Hyukjae sambil memegangi dadanya.
"Hahahaha... Habis Hyukkie lama sekali. Aku capek menunggumu." Donghae memprotes balik dengan menggembungkan pipinya.
"Memang kau bersembunyi dimana? Aku tidak bisa menemukanmu dimana-mana."
"Di sana." Donghae mengarahkan telunjuknya ke toilet umum tak jauh dari tempat mereka berada. "Kau cuma melewatinya dua kali tapi tak pernah masuk ke dalam."
Hyukjae tampak menggerutu pelan. Ia kelihatannya masih sedikit kesal karena kalah lagi dengan Donghae. Merasa bersalah, Donghae menggenggam tangan mungil Hyukjae. "Hyukkie jangan marah lagi. Ayo kita beli es krim di seberang jalan!" ajaknya dengan senyum mengembang.
Melihat wajah ceria Donghae, mau tidak mau Hyukjae juga ikut tersenyum. Namun ketika baru berdiri, Donghae tiba-tiba melepaskan genggamannya dan berlari kencang menuju kedai penjual es krim. "Yang sampai terakhir harus membayar semuanya!" teriaknya sambil terus berlari. Hyukjae yang merasa 'dikhianati' dua kali kemudian mengejar Donghae dari belakang secepat yang ia bisa. Namun sia-sia saja lomba lari dengan bocah itu. Lihat saja dia sekarang yang sudah siap menyeberang jalan.
Lampu lalu lintas berubah hijau. Saat Donghae mulai menapakkan kakinya di jalan beraspal, sebuah truk kecil berjalan dengan kecepatan tinggi ke arahnya.
"DONGHAE-AH!" Hyukjae berteriak memperingatinya. Kaki-kakinya bergerak lebih cepat ketika melihat truk yang semakin mendekat.
TINN...! TINN...!
Sang pengemudi truk membunyikan klakson keras-keras. Donghae yang akhirnya menyadari kedatangan truk tersebut tiba-tiba mematung di tempat sambil memejamkan matanya. Jarak antara mereka tinggal setengah meter, ketika ia merasa seseorang menarik lengannya dari samping.
BRUUKK!
Donghae perlahan membuka mata. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Hyukjae yang pucat pasi dan penuh keringat. Dada bocah kurus yang ditindihinya itu tampak naik turun tidak karuan.
"Eunhyuk-ah! Eunhyuk-ah! Kau tidak apa-apa?" tanya Donghae dengan wajah super panik.
"Bodoh..." bisik Hyukjae dengan suara lirih. "Kau benar-benar bodoh... Lee Donghae..."
.
"Ibu kenapa tidak membangunkanku?!" protes Hyukjae sambil tersandung-sandung memakai sepatunya. Bentuk seragam, dasi, dan rambutnya masih belum beraturan. Persetan dengan semua itu kalau lima menit lagi Hae Won akan membunuhnya karena terlambat.
"Sudah. Ibu sudah membangunkanmu berkali-kali. Kau saja yang tidak peka." Ny. Lee berusaha membela diri. Dilihatnya putranya berjalan tergesa-gesa menuju pintu keluar. "Apa kau tidak mau sarapan dulu? Kau melewatkan makan malammu kemarin."
"Nanti saja aku makan di sekolah. Aku sudah benar-benar terlambat. Aku pergi dulu, Bu!" pamit Hyukjae sebelum akhirnya pintu rumah terbanting menutup.
Jarak antara sekolah dengan rumahnya tidak begitu jauh. Lima belas menit berjalan kaki, tujuh menit kalau naik kendaraan. Tapi kalau waktu yang Hyukjae punya tinggal tiga menit, sampai di depan gerbang tepat waktu pun terdengar seperti mukjizat. Hyukjae berlari sekuat tenaga, berusaha mengurangi waktu keterlambatannya meski cuma satu detik. Payah juga kalau harus berlari seperti ini dengan keadaan perut kosong. Tapi apa boleh buat, semua juga gara-gara dia. Salahnya sendiri yang terlalu senang dimanja kasur empuk dan selimut yang hangat.
"DONGHAE-AH!"
TINN...! TINN...!
Mimpi itu...
Semalam kenangan masa kecilnya tiba-tiba kembali. Kenangan ketika ia hampir saja kena serangan jantung melihat Donghae nyaris tertabrak mobil. Andai waktu itu Donghae berdiri setengah meter lebih jauh saja, truk itu pasti sudah menyambar tubuhnya. Hampir sama dengan kejadian kemarin siang. Tapi kenapa ia tiba-tiba bermimpi tentang itu? Apa cuma kebetulan semata?
Pintu gerbang sudah di depan mata. Baguslah, masih dibuka. Hyukjae langsung melesat menuju lantai dua. Lorong koridor yang kosong membuat kecepatannya bertambah dua kali lipat. Pintu studio latihan dance bergeser membuka. Seluruh mata di ruangan tersebut memandang ke arahnya, termasuk Yoon Hae Won. Hyukjae yang masih mengatur napas berusaha memperbaiki penampilannya yang kacau balau. Setelah merasa lebih baik, Hyukjae membungkukkan badannya seraya minta maaf. "Maafkan aku, seonsaengnim. Aku terlambat."
Hae Won menghela napas singkat. "Bukankah kemarin sudah kubilang tidak boleh terlambat?"
Hyukjae membungkukkan badan kembali. "Maafkan aku."
"Karena kemarin adalah hari terakhir aku menolerir keterlambatan seperti ini, pulang sekolah nanti tugasmu untuk membersihkan studio dance. Kau mengerti?"
"Ya, seonsaengnim."
"Sekarang duduklah!" perintah Hae Won yang langsung diikuti Hyukjae. Pemuda itu mendapat tepukan simpati dari Shindong saat ia duduk. "Nah, sampai di mana kita tadi? Ah... pesta penyambutan. Seperti yang kukatakan barusan, bulan depan akan ada pesta penyambutan untuk siswa tahun pertama. Dalam pesta itu, setiap kelas akan menampilkan performance masing-masing. Untuk kelas dance, sekolah memutuskan untuk melakukan couple dance pada saat pembukaan acara."
Suasana kelas mendadak riuh mendengar kata 'couple dance' disebut. Beberapa mulai berkasak-kusuk tentang kemungkinan siapa dan dance macam apa yang akan mereka lakukan. Hae Won memberi tanda untuk diam. Setelah situasi agak tenang, ia kembali melanjutkan, "Siapa yang akan terpilih nanti semuanya tergantung pada kalian masing-masing. Selama seminggu ke depan aku akan melihat perkembangan kalian. Setelah satu minggu, nama-nama orang yang terpilih akan kupasang di pintu studio dance. Ingat, hanya ada satu pria dan satu wanita yang akan dipilih. Jadi berusahalah sebaik mungkin, mengerti?"
"Ya, seonsaengnim." Salah seorang siswa kemudian mengangkat tangannya. "Bagaimana dengan dance-nya? Apakah akan ditentukan atau..."
"Masalah itu, aku akan memberikan kebebasan pada kalian," jawab Hae Won. "Tapi ingat, tidak ada gerakan vulgar atau semacamnya. Bagi yang terpilih, aku akan melihat gerakan kalian pada gladi resik nanti."
Keriuhan kembali terdengar menggaung di studio. Hampir semua anak tampak antusias mendengar pengumuman tersebut. Hampir semua, kecuali Lee Hyukjae. Biasanya ia cukup antusias mengikuti lomba-lomba dance seperti ini. Namun sejak bertemu Donghae, rasa antusias itu mendadak teralih. Matanya melirik ke tempat Donghae berada. Pemuda itu memandang lurus ke depan, tampak asyik bergumul dalam dunianya sendiri. Namun tiba-tiba ia menengok ke arah Hyukjae, membuat pemuda yang ditatapnya sontak membulatkan mata. Lee Donghae, kenapa ia memandanginya seperti itu? Mata onyx itu menatap lurus dirinya cukup lama, sementara Hyukjae hanya mengedip-ngedipkan mata bingung. Setelah beberapa saat, Donghae tampak menghembuskan napas berat sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Ada apa dengannya? Memandangi orang lain seperti itu. Apa ada sesuatu di wajahku? Hyukjae mulai meraba-raba wajahnya. Ia kemudian mengedikkan bahu. Tidak tahulah.
.
.
"Woah, hyung, aku tidak tahu kau bisa makan sebanyak ini." Shindong memandang kagum dua tumpukan mangkuk ramen di hadapan Hyukjae. Pemuda itu kini dalam perjalanan menghabiskan ramen ketiganya.
"Aku belum makan sejak kemarin malam," jawab Hyukjae di sela-sela kegiatan menguyahnya. Mie panjang itu masuk dengan cepat ke dalam mulutnya. Dalam waktu singkat, mangkuk ketiganya sudah kosong tak bersisa. "Woah... Benar-benar enak."
Shindong hanya geleng-geleng kepala melihat tubuh kecil Hyukjae yang mampu menampung tiga mangkuk ramen sekaligus. "Ngomong-ngomong, hyung... Kurasa kau harus mencobanya."
"Mencoba apa?"
"Seleksi untuk pesta penyambutan itu."
"Aku tidak tertarik," jawab Hyukjae ogah-ogahan. "Baru dua hari aku di sini tapi sudah dapat banyak masalah. Aku tidak ingin menarik perhatian. Lulus dengan tenang saja sudah lebih dari cukup."
"Justru karena itu, hyung!" ujar Shindong penuh semangat. "Kudengar acara ini bisa dijadikan batu loncatan bagi siapa pun yang berhasil masuk menjadi pengisi acara. Kalau penonton—termasuk murid dan guru—menyukaimu, kau bisa jadi orang terkenal di sini. Siapapun yang ingin dihargai di SM, harus berani unjuk gigi. Semakin sering kau tampil semakin cepat pula kau terkenal. Kalau kau terkenal bukankah akan sulit bagi yang lain untuk macam-macam denganmu?"
"Hei... Ini kan cuma pesta penyambutan biasa, mana mungkin bisa mendadak terkenal seperti itu."
"Coba saja, hyung. Tidak ada salahnya mencoba. Lagipula acara seperti ini tidak hanya berhenti di sini saja. Sekitar empat bulan lagi akan ada festival ulang tahun sekolah ke-50. Kalau pesta penyambutan bulan depan adalah makanan pembuka, festival sekolah adalah menu utamanya. Seandainya hyung bisa menaklukkan festival itu, BINGO!" Shindong menjentikkan jari di depan wajahnya.
"Aku tetap tidak tertarik. Yang ingin kulakukan di sini hanya lulus dengan tenang tanpa membuat masalah, bukan jadi orang terkenal."
"Tapi hyung..."
"Kalau kau sangat menginginkannya, lebih baik persiapkan dirimu sendiri."
"Ck, ya sudah. Terserah hyung saja," Shindong mengedikkan bahu yang kemudian hanya ditanggapi dengan senyuman dari Hyukjae. Pemuda bermarga Lee itu lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar. Matanya tiba-tiba terkunci pada sosok Lee Donghae di koridor lantai dua. Ia sedang bersama Hae Won dan pemuda yang dilihat Hyukjae kemarin di kantin. Entah apa yang tengah mereka bertiga lakukan.
"Apa yang kau lihat, hyung?" tanya Shindong bingung melihat pandangan Hyukjae yang terus menatap ke atas. Ia pun ikut mengarahkan pandangannya ke sana. "Ah... Lee Donghae."
"Kau mengenalnya?"
"Tidak banyak. Kudengar dia anak pengusaha properti terkenal di Jepang dan pindah ke Korea baru-baru ini," jawab Shindong santai.
"Jepang?" dahi Hyukjae berkerut.
"Ya. Pemuda di sebelahnya juga sama. Cho Kyuhyun, murid pintar pindahan dari Amerika. Ia meninggalkan sekolahnya yang hampir rampung di Amerika dan mendaftar masuk ke kelas vokal SM. Katanya mereka berdua juga seumuran denganmu."
"Woah... Kau benar-benar tahu semuanya." Hyukjae memandang kagum temannya.
"Tentu saja. Aku punya banyak koneksi di sini." Shindong tampak tersenyum bangga. "Tapi ngomong-ngomong, apa kau mengenal mereka? Kulihat dari kemarin kau berusaha mendekati Lee Donghae."
Hyukjae hanya tersenyum kecil, sebuah senyum samar penuh keambiguan. "Mungkin." Kuharap aku memang mengenalnya, lanjut Hyukjae dalam hati.
.
.
"Kurasa kau harus mencobanya," ujar Kyuhyun sambil menyandarkan tubuhnya di dinding koridor lantai dua. Donghae baru saja menceritakan semua kejadian kemarin berkaitan dengan amnesianya dan Lee Hyukjae. "Ini pertama kalinya dalam delapan tahun seseorang datang mengaku sebagai teman masa kecilmu. Mungkin dia tahu sesuatu tentang masa lalumu."
"Entahlah, aku tidak yakin," ujar Donghae sambil memandang Hyukjae yang tengah melahap rakus ramennya dengan Shindong di depan kafetaria lantai satu.
"Eii... Kenapa tidak yakin? Tidak ada salahnya mencoba. Apa kau tidak ingin ingatanmu kembali?"
"Tentu saja aku mau. Tapi bagaimana kalau dia salah orang? Bagaimana kalau hasilnya akan sama seperti dulu? Aku sudah bertanya pada semua orang yang pernah mengenalku cukup lama. Tapi tidak banyak yang mereka ketahui tentang masa laluku. Ayahku sendiri juga tidak banyak membantu."
"Mungkin tidak di Jepang, tapi lain halnya di sini. Masa kecilmu ada di Korea, bukan di Jepang. Bukankah dulu kau bilang akan menempuh segala cara demi mengembalikan ingatanmu? Seandainya gagal lagi... Kurasa tidak untuk kali ini."
"Kenapa kau yakin sekali?"
Kyuhyun membalikkan badannya. Pandangannya ikut terkunci pada sosok Lee Hyukjae di bawah. "Entahlah... Mendengar ceritamu tentang bagaimana sikapnya padamu, menyelamatkanmu dari tabrakan kemarin dan mengatakan kalau kau pernah mengalami hal yang sama dulu... Kurasa dia benar-benar mengenalmu. Kau belum pernah bertemu orang seperti ini sebelumnya. Coba saja dekati dia. Firasatku Lee Hyukjae akan jadi tangkapan terbesarmu selama delapan tahun."
Donghae tidak menjawab apa-apa. Mungkin yang dikatakan Kyuhyun ada benarnya juga. Tidak ada salahnya mencoba. Bukankah ini yang diinginkannya sejak dulu? Bertemu dengan seseorang yang bisa membantu mengingat kehidupannya yang dulu.
"Lagipula..." Kyuhyun membuka suaranya lagi. "Pemuda itu cukup manis kalau dilihat-lihat."
"Ck... Kau ini..."
"Lee Donghae!" Suara seorang wanita terdengar memanggil Donghae. Tampak Hae Won berjalan mendekatinya dari ujung koridor. "Kau melupakan ini di studio dance," ujar Hae Won sambil menyerahkan MP3 player mini berwarna hitam.
"Terima kasih, seonsaengnim." Donghae mengambil kembali MP3 playernya sembari membungkukkan badan.
Hae Won mengangguk lalu berjalan meninggalkan kedua pemuda itu. "Ah, satu lagi," Hae Won membalikkan badannya. "Kurasa kau bisa membantu Hyukjae di studio dance nanti sore."
"Kenapa? Bukankah saya tidak terlambat hari ini?"
"Tapi kau terlambat kemarin," jawab Hae Won santai lalu pergi berlalu.
Donghae memandang punggung trainernya tidak percaya. "Yoon Hae Won... Wanita itu benar-benar..."
Kyuhyun terkikih pelan melihat reaksi sahabatnya. "Sudahlah. Ambil sisi baiknya. Kau bisa menggunakan kesempatan ini untuk bertanya padanya. Semoga berhasil, Lee Donghae! Aku pergi dulu." Kyuhyun menepuk bahu Donghae lalu berjalan meninggalkannya.
Donghae menarik napas dalam. Onyxnya menatap sosok Hyukjae yang tengah tersenyum di bawah sekali lagi.
Semoga aku tidak salah kali ini.
~to be continued~
MAAP READERS SEKALIAN BARU UPDATE SEKARANG! /.\
Sekali lagi maap karena ternyata butuh waktu lamaaaaaaaa sangat buat saya untuk menyelesaikan chapter 5 -_- nulis fanfic multichap itu ternyata lumayan bikin pusing. Dan saya nggak pernah berhasil menyelesaikan satupun fanfic multichap saya yang dulu-dulu -_- tapi saya udah bertekad bulet sebulet-buletnya bulet buat nyelesaiin ff ini. Seenggaknya harus ada satu ff multichap yang rampung meski terhalang ide dan kemampuan saya yang terbatas. Makanya untuk chapter 6, saya nggak bisa janji bakal update cepet. Tapi bakal saya usahain supaya ff ini bisa jalan terus sampai selesai! '-')9
Yang paling penting nih... REVIEW JUSEYO~ Terima kasih banyak buat yang udah setia baca dan review ff buatan saya. Karena review readers lah yang membuat ff ini bisa jalan terus. Jangan lupa tinggalkan review lagi di bawah ya! Mohon maaf juga kalau masih banyak kekurangan di chapter dan ff ini. Saya author pemula yang masih banyak belajar :D
See you on next chapter! ^^
