STAR
Chapter VI
-sasurissawinchester-
Casts: Donghae x Eunhyuk (as the main characters), Super Junior members, and other Kpop stars
Disclaimer: I do not own all of these characters. I just own the plot.
Rate: T
Genre: Romance
.
Boy's love story from amateur author. If you don't like it, don't read it! I've warned you
.
Happy reading ^^
.
.
Hyukjae mengedarkan pandangan ke sekeliling studio dance. Cukup luas dan besar, tapi akan jadi ekstra melelahkan kalau harus membersihkannya seorang diri. Ia masih berpikir kalau hukuman Hae Won cukup berlebihan untuk keterlambatan yang pertama.
"Hah... Sudahlah. Lebih cepat selesai lebih baik." Hyukjae berusaha menenangkan diri sendiri. Ditariknya lengan seragam hingga di atas siku lalu mulai membereskan sampah-sampah di lantai.
SREEKK...
Pintu studio dance membuka. Mata Hyukjae membelalak sempurna ketika dilihatnya sosok Donghae tengah berdiri di ambang pintu. Pemuda itu kemudian masuk lalu melempar tasnya ke pojok ruangan. "Kau... Apa yang kau lakukan di sini?"
"Membersihkan studio," jawab Donghae sambil menaikkan lengan seragamnya.
"Kenapa? Bukankah kau tidak terlambat hari ini?"
"Hae Won yang menyuruhku."
Hyukjae hanya mengangguk-anggukan kepala meski masih bingung. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya dalam diam. Suasana di studio mendadak menjadi sedikit canggung. Mereka berdua larut dalam pekerjaan masing-masing. Hyukjae sebenarnya masih ingin bertanya lebih banyak. Tapi wajah dingin pemuda itu membuat niatnya terurungkan. Sekilas ia melirik pantulan Donghae dari cermin. Dulu, wajah itu selalu dihiasi dengan senyuman. Senyuman yang selalu tersungging untuk dirinya. Lee Donghae yang dulu tidak pernah mengenal sedih—setidaknya di hadapannya. Pemuda itu seakan hanya mengenal kebahagiaan. Entah kapan terakhir kali ia melihat sebuah senyuman terukir di sana. Wajah stoic yang sekarang terpampang di sana membuatnya merasa tidak nyaman.
"Kenapa?" pertanyaan Donghae membuat Hyukjae tersentak dari lamunannya.
"Kenapa... apanya?"
"Kau terus memandangiku dari tadi. Kenapa?"
"Si... siapa yang memandangimu... Aku... Aku cuma membersihkan kaca." Hyukjae menjawab tergagap sambil mengelap kuat cermin di depannya.
SREEKK...
Pintu studio kembali bergeser membuka. Pemuda di balik pintu itu membuat mood Hyukjae jatuh seketika. Gaya pongah itu... pandangan remeh itu... si brengsek Yunho datang. Sendirian.
"Wah... Kau sudah mulai, kerempeng?" Suara Yunho menggema di studio. Wajah tengilnya membuat Hyukjae mengepalkan tangan. Yunho mengedarkan pandangan ke sekeliling studio. "Lumayan juga kerjamu. Memang pekerjaan seperti ini yang cocok untuk bocah miskin sepertimu."
"Tutup mulutmu."
Yunho tersenyum puas. Matanya kemudian melirik Donghae di sudut ruangan. "Oh... Kau dapat bantuan rupanya. Lee... Donghae? Kudengar kau anak pengusaha Jepang itu ya. Apa sekarang kau juga termasuk teman bocah kumal ini?" Donghae tidak merespon apa-apa. Ia cuma memandang Yunho dingin. "Yah, terserah padamu. Kuharap kau tidak menyesal nanti. Selama kau tahu mana yang pantas dan yang tidak," lanjut Yunho sambil menyeringai ke arah Hyukjae.
"Carilah tempat lain kalau ingin berbuat onar. Cukup sekali aku terlibat dengan orang bermasalah sepertimu."
"Tenang saja, kerempeng. Aku juga tidak tahan berlama-lama dengan orang yang tidak tahu diri sepertimu. Tapi sebelumnya..." Yunho menjetikkan jarinya beberapa kali lalu muncullah Howon dan Jongin sambil membawa satu kantung plastik besar di tangan masing-masing. Keduanya berjalan menyeringai melewati Yunho hingga sampai di hadapan Hyukjae.
"Mau apa kalian?"
BRUUKK!
Pada saat bersamaan, berbagai macam sampah jatuh tepat di atas kepala Hyukjae, membuat pemuda itu tersentak sambil mundur menjauh. "APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" Hyukjae membentak galak, menunjukkan emosinya yang meledak-ledak. Sementara itu Yunho, Jongin, dan Howon hanya tertawa mengejek. Hyukjae merangsek maju, hendak melayangkan tinjunya, namun niat itu segera dihalangi oleh Donghae. "LEPASKAN AKU!" Hyukjae berontak, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Donghae.
"Kenapa kerempeng? Kau berani memukulku? Majulah ke sini dan lihat bagaimana tangan kecilmu memukul seperti banci!" Tawa Yunho makin menjadi melihat hal itu. Jongin kemudian menambahkan, "Itu adalah peringatan awal untukmu. Jangan pernah macam-macam dengan kami."
"Aku akan memastikan kau akan mendapat lebih dari ini jika masih nekat melakukannya," ancam Hoya dengan seringai menyebalkan.
"Kau sudah dengar itu, kan? Aku yakin kau cukup pintar untuk mengerti maksud ucapan kami. Baiklah," Yunho memandang puas 'hasil kerjanya'. "Kurasa urusanku di sini sudah selesai. Karena sampah yang harus kaubersihkan bertambah, akan butuh waktu satu malam untuk menyelesaikannya. Aku menyesal kau jadi ikut terlibat dengannya kali ini, Lee Donghae." Yunho tersenyum misterius. "Sampai ketemu lagi, kerempeng!" Yunho, Jongin, dan Howon berjalan meninggalkan studio dengan lagak pongah dan menjengkelkan.
KLIK!
Kunci pintu studio terdengar berputar menutup. Hyukjae berlari cepat ke arah pintu. Perasaannya menjadi tidak enak ketika pintu tersebut tidak kunjung terbuka walau sudah digeser sekuat tenaga. "Sial..."
"YA! JUNG YUNHO! Buka pintunya sekarang!" Hyukjae memukul pintu keras-keras. "Jung Yunho! Jung Yunho!" Tidak ada respon dari luar. Tampaknya koridor lantai dua sudah sepi. Tidak ada suara sama sekali dari luar. "Jung Yunho! Buka pintunya atau aku akan membunuhmu!"
Sementara itu, Donghae yang berkacak pinggang menatap Hyukjae hanya menghela napas panjang. "Mereka benar-benar menguncinya?"
"Kau pikir aku sedang apa, ha?" jawab Hyukjae masih berusaha menggedor-gedor pintu sambil sesekali memanggil orang-orang yang mungkin sedang lewat. "Ah, sial... Kenapa tidak orang?! Sekolah macam apa yang sepi seperti ini." Hyukjae menggerutu kesal sembari mengacak rambut frustasi.
"Ini sudah jam enam, bodoh. Mana mungkin ada murid yang masih berkeliaran jam segini."
"Lalu kau mau aku melakukan apa? Ck, Jung Yunho... Berandalan itu benar-benar... Kenapa dia terus mengincarku? Apa ia tidak punya urusan lain selain mengganggu orang? Argh! Kalau aku tidak pulang tanpa kabar, Ibu pasti cemas. Aku harus..." mata Hyukjae mendadak jadi berbinar di tengah-tengah ocehannnya. "Tentu saja! Ponsel! Kenapa tidak terpikirkan sejak tadi? Ah, bodohnya kau Lee Hyukjae." Dengan senyum lega, ia kembali untuk mengacak-acak isi tasnya. Namun setelah beberapa saat, Hyukjae menepuk dahi sambil kembali merutuki kecerobohannya. Ponselnya tertinggal di kamar sewaktu ia buru-buru berangkat tadi pagi.
"Kenapa?" tanya Donghae yang sejak daritadi terus mengamati Hyukjae.
"Ponselku tertinggal di rumah."
Sekali lagi, Donghae menghela napas panjang. Ia berjalan ke sudut ruangan, ke tempat dimana tasnya berada. Dalam hitungan detik, ponsel miliknya sudah berada di tangan. Ia hendak menghubungi nomor Kyuhyun sebelum akhirnya ponsel itu justru dinonaktifkan. "Ponselku habis baterai," dustanya sambil meletakkan ponsel di sebelah tasnya.
Mendengar hal itu, Hyukjae terduduk lemas. Bayangan tidur di lantai studio dance yang dingin menjadi semakin nyata. Dan jangan lupa berbagai jenis sampah yang harus ia bersihkan malam ini juga. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Donghae berjalan santai mendekati Hyukjae dan duduk bersebelahan dengannya. "Apalagi? Menunggu sampai pagi hingga ada seseorang yang membuka pintu itu."
"Ck, Jung Yunho... Bagaimana dia bisa mendapatkan kunci itu? Bukankah hanya guru yang boleh menyimpannya?" gerutu Hyukaje kesal. "Dan kau! Kenapa kau menghalangiku sewaktu aku hendak memukulnya? Apa kau berada di pihaknya?"
"Aku hanya tidak ingin terlibat masalah dengan kalian. Kalau kau sampai memukulnya tadi, kalian pasti akan berkelahi sampai babak belur. Lalu hal itu akan jadi masalah dan aku akan ikut terseret di dalamnya. Benar-benar merepotkan."
Hyukjae menatap tidak percaya. "Kau benar-benar berubah ya untuk hal ini. Padahal dulunya kau sering berkelahi dengan orang lain dan selalu mendapat masalah. Hampir setiap hari kau dipanggil guru karena memukul anak lain sampai menangis."
Spontan, Donghae menengok ke arah Hyukjae. Ia menatap lekat pemuda di sampingnya yang tampak santai mengucapkan kata-kata barusan. "Kenapa kau selalu mengucapkan hal-hal seperti itu?"
"Hal-hal seperti apa?"
"Kau seolah-olah sangat mengenalku. Seperti sahabat yang sudah berteman selama bertahun-tahun."
"Bagaimana kalau aku memang mengenalmu?" Hyukjae balik bertanya, membuat Donghae menatapnya semakin dalam. "Bagaimana kalau aku mengenalmu dan kau mengenalku jauh lebih baik daripada diri kita masing-masing?"
"Bagaimana aku tahu kalau yang kau katakan itu benar? Kita baru bertemu kemarin dan aku tidak tahu orang macam apa kau."
"Bagimu kita memang baru bertemu kemarin. Tapi bagiku, aku sudah mengenalmu lebih dari sepuluh tahun lalu."
"Apa yang membuatmu bisa berkata seperti itu?"
"Perasaanku yang mengatakannya." Hyukjae berbalik menatap pemuda berambut brunette itu. "Waktu pertama kali melihatmu, aku seperti menemukan kembali seseorang yang kutunggu selama delapan tahun. Seorang teman bernama Lee Donghae."
"Kau yakin tidak salah orang?"
"Awalnya aku juga berpikir seperti itu. Ada banyak nama Lee Donghae di Korea dan kau bisa menjadi salah satunya. Tapi semakin lama aku menyangkalnya, aku semakin yakin kalau kau orang yang pernah kukenal. Wajahmu terlalu mirip hingga tidak mungkin rasanya kalau hanya kebetulan. Aku sedikit kecewa saat kau tidak mengenaliku. Kupikir kau benar-benar melupakanku dan tidak ingin bertemu lagi. Tapi ternyata kau punya alasan di balik itu." Hyukjae mengembangkan seulas senyum yang membuat pemuda di hadapannya mengerutkan dahi. "Aku tahu ini tidak sopan, tapi aku sempat mendengar percakapanmu di kantin. Akhirnya aku mengerti kenapa kau tidak mengenaliku saat itu dan memilih bersikap dingin. Yah, setidaknya kau tidak benar-benar sengaja melupakanku. Setidaknya aku masih ada, jauh di dalam ingatanmu."
Tidak ada yang bersuara lagi setelah itu. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Namun setelah beberapa saat, Hyukjae kemudian menyadari sesuatu. "Tunggu dulu... Kenapa tiba-tiba kau mau mendengarkanku tentang hal ini? Bukankah saat aku melakukannya kemarin kau mati-matian menolak?"
"Anggap saja aku memberimu kesempatan. Lagipula tidak ada yang bisa kita lakukan sampai pagi. Kenapa? Bukankah kemarin kau mati-matian mengemis perhatianku?"
Hyukjae mendecih tidak percaya. "Apa kau penasaran tentang masa lalumu? Masa lalu yang tidak bisa kau ingat walau sudah mencoba sekuat tenaga?"
"Tidak usah sok tahu. Kau baru mendengar sedikit tapi sudah berlagak mengetahui semuanya. Lagipula aku tidak pernah tahu orang yang kaukenal dulu itu memang aku."
"Itu memang kau, Lee Donghae. Kau Donghae yang terus menempel di sampingku tak peduli waktu dan tempat. Donghae yang selalu berada di pihakku walau tahu akan dijauhi orang. Donghae yang sama yang menghilang delapan tahun lalu tanpa mengucapkan selamat tinggal padaku." Suara Hyukjae terdengar amat yakin. "Aku hanya perlu mengembalikan ingatanmu lagi."
"Bagaimana aku tahu kalau orang yang kauceritakan itu adalah aku? Bagaimana kalau kau salah orang?"
"Kenapa tidak kau pikirkan lagi?" Hyukjae membalikkan badannya menghadap pemuda itu. "Nama kalian sama-sama Lee Donghae. Kau terkena amnesia delapan tahun lalu, waktu yang bersamaan ketika aku kehilanganmu. Dan ditambah lagi dengan selera tteokppeokki anehmu itu, tteokppeokki polos tanpa saus pedas. Hanya aku dan Lee Donghae yang makan tteokppeokki seperti itu..."
"Cih, kau bahkan menguping sampai situ..."
"Intinya... Aku tidak mungkin salah orang. Aku benar-benar yakin kau Lee Donghae yang kukenal."
"Tapi itu bukan bukti kuat bagi ceritamu. Semuanya bisa saja hanya kebetulan."
"Kau mungkin sulit untuk percaya sekarang. Tapi lain kali, kau pasti akan mengerti semua yang kubicarakan saat ini. Akan kulakukan apapun untuk membuatmu ingat lagi padaku!"
Donghae tersenyum tipis melihat antusiasme Hyukjae. Antusiasme untuk menyembuhkan amnesianya Belum pernah ia melihat antusiasme sebesar itu sejak bertemu dengan Kyuhyun. "Ya... jangan terlalu bersemangat." Donghae bangkit berdiri memandang tumpukan kertas dan botol kosong di depannya. "Bersihkan dulu sampah-sampah itu sebelum pagi. Kau ingin berurusan dengan Hae Won lagi?"
"Ck, kau benar-benar tidak bisa membaca situasi," gerutu Hyukjae sambil mengerucutkan bibir. Dengan ogah-ogahan ia bangkit dan mulai memunguti sampah yang berserakkan di sekitarnya.
Diam-diam, Hyukjae menyunggingkan seulas senyum. Satu langkah lebih dekat sudah ia tempuh. Walau dari luar tampak dingin dan acuh, namun sifat Donghae sebenarnya tidak banyak berubah. Menembus dinding pertahanan pemuda itu tidak sesulit yang dibayangkan. Ia tinggal menerobos masuk ke dalam ingatan Donghae dan lihat saja apa yang akan dikatakan pemuda itu padanya nanti.
.
.
Pukul setengah tujuh pagi. Untuk kesekian kalinya Kyuhyun memandang layar ponselnya. Sejak dari kemarin ia tidak bisa menghubungi nomor Donghae. Namun baru satu jam yang lalu pemuda itu menelepon dan menyuruhnya datang pagi-pagi ke studio dance. Ia menolak menjawab ketika ditanya mengapa.
"Pokoknya datang saja ke sini! Dan jangan lupa bawa kuncinya!"
"Ck, dasar. Pagi-pagi sudah menyuruh orang," gumam Kyuhyun sambil memainkan kunci di tangannya. Dalam waktu singkat, ia sudah sampai di depan pintu studio dance. "Donghae-ah, kau di dalam?"
"Eoh! Cepat buka pintunya!"
Dengan malas-malasan, Kyuhyun membuka pintu studio. "Bagaimana ceritanya kau bisa terkunci di sini?" tanyanya ketika sudah berhasil membuka pintu. Ia sedikit terkejut ketika mendapati dua kantong plastik besar tergeletak di hadapannya. "Apa-apaan ini? Apa kau juga membersihkan semua ruangan di lantai dua?"
"Akan kuceritakan nanti. Sekarang bantu aku mengeluarkan kantong-kantong itu," jawab Donghae sambil buru-buru mengambil tasnya sekaligus menyeret satu kantong plastik sampah.
"Kau benar-benar mengerjaiku..." keluh Kyuhyun sambil ogah-ogahan mengambil satu kantong plastik sisanya. Matanya kemudian menangkap kehadiran seseorang yang tengah tertidur pulas di sudut ruangan. "Bukankah itu Lee Hyukjae? Apa kau tidak akan membangunkannya?"
Donghae yang hendak meninggalkan ruangan, berbalik menoleh ke belakang. Sebuah kurva kecil mengembang tatkala melihat Hyukjae yang masih terbuai dalam mimpinya. "Biarkan saja seperti itu. Ayo, pergi," ujarnya sambil membalikkan badan lagi dan meninggalkan Kyuhyun dalam bingung.
"Kau berhutang penjelasan padaku," tagih Kyuhyun ketika mereka menyusuri lorong koridor lantai dua. "Kenapa kalian bisa terkunci di dalam? Apa yang terjadi pada kalian berdua kemarin? Apa yang kalian bicarakan? Kenapa kau mematikan ponselmu? Benarkah dia mengenalmu?"
"Ck, cerewet sekali."
"Jadi benar rupanya?"
"Benar apanya?"
"Lee Hyukjae itu. Dia pasti tahu sesuatu tentangmu, bukan?" Kyuhyun menyipitkan matanya. Suaranya terdengar seperti seorang detektif yang tengah menginterogasi penjahat. "Iya, kan? Aku benar, kan? Kau tidak pernah terlihat sebahagia ini kalau berhubungan dengan amnesiamu."
Donghae lagi-lagi hanya tersenyum misterius. Bibirnya tak kuasa menahan senyum ketika memori bersama Hyukjae semalam terputar kembali di kepalanya.
.
...six hours ago...
Mata Donghae perlahan-lahan terbuka. Samar-samar, gambaran studio dance yang luas memenuhi pandangannya. Bahunya terasa berat sebelah setelah beberapa jam tidur dalam posisi duduk di lantai. Ia sedikit tersentak ketika mendapati bahu kirinya sudah dipakai tanpa izin. Hyukjae dengan nyamannya tertidur pulas di sana. Perlahan, Donghae menggunakan tangan kanannya untuk mendorong kepala Hyukjae ke tembok di sebelahnya. Namun baru sedikit kepala itu terangkat, tubuh Hyukjae menggeliat dan menjatuhkan diri lagi ke posisi semula. Bukan hanya itu, kedua tangannya juga ikut memeluk erat lengan Donghae, membuat pemuda tersebut hanya bisa menatap tidak percaya.
"Ya..." panggil Donghae dengan suara pelan. "Lee Hyukjae..." kali ini ia mencoba menggoyangkan tubuh pemuda itu.
"Ngghhh..." Hyukjae tetap bergeming.
"Lee Hyukjae..."
"..."
"Lee Hyukjae..."
"..."
"Lee..."
"Donghae-ah..." panggil Hyukjae masih dalam posisi tidurnya. "Kenapa kau berisik sekali?"
"Ya... Apa maksudmu berisik? Cepat menyingkir dari bahuku!"
"Donghae-ah... Kenapa kau jadi cerewet setelah kembali ke Seoul? Setelah delapan tahun pergi tanpa memberitahu, setidaknya beri aku salam dulu."
Donghae menaikkan sebelah alis. "Ya, Lee Hyukjae... Apa kau mengigau?"
"Ya, Lee Donghae. Kenapa kau hanya mematung di situ? Cepat ke sini. Kau berhutang maaf dan penjelasan padaku," kata Hyukjae dengan lafal yang kurang jelas.
Benar dia mengigau, Donghae menghembuskan napas panjang. Ia hendak membangunkan Hyukjae, namun tiba-tiba sebuah rencana terlintas di kepalanya. Apakah ia sedang bermimpi tentang orang yang diceritakannya barusan?
"Ya, Lee Donghae, jawab aku... Apa kau tidak menyesal meninggalkanku tanpa berpamitan? Jahat sekali kau pergi begitu saja. Yang lebih jahat lagi, kau pergi tepat di hari ulang tahunmu! Di antara semua hari kenapa kau harus memilih hari itu?!" suara Hyukjae terdengar semakin meninggi.
Mata Donghae sontak membulat mendengar perkataan itu. Salah satu informasi yang ia dapat setelah mengalami amnesia adalah tanggal kepindahan ke Jepang yang bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Bagaimana dia bisa tahu hal itu? "Apa... Apa kau ingat kapan ulang tahunku?"
"Tentu saja! Kau pikir aku orang macam apa yang tidak tahu tanggal ulang tahun sahabatnya? Tiap lima belas Oktober kau selalu mentraktirku di kedai tteokppeokki milik bibi. Delapan tahun lalu di tanggal yang sama aku menunggumu di depan kedai. Aku juga akan memintamu membelikanku es krim dan permen kapas."
Lima belas Oktober... Kedai tteokppeokki... Apa yang ia maksud benar-benar aku? "Lalu? Apa yang terjadi selanjutnya?"
"Apa maksudmu lalu?! Kau menghilang setelahnya. Benar-benar hilang tanpa jejak. Tanpa pemberitahuan, tanpa mengucapkan selamat tinggal. Kau hanya pergi begitu saja. Selama sehari penuh aku menangis. Kupikir kau sudah bosan denganku dan ingin menjauh. Aku benar-benar membencimu saat itu. Kado yang sudah kusiapkan juga jadi sia-sia."
"Kado?" Donghae menaikkan sebelah alis. "Kado macam apa?"
"Lupakan saja. Sudah delapan tahun lalu. Percuma saja dibicarakan sekarang." Hyukjae menggeliat, mengamankan posisinya lagi di bahu Donghae. Rona bahagia samar-samar terlihat menghiasi wajahnya. "Tapi walau kau hilang begitu saja waktu itu, walau kau tak pernah mengabariku sejak saat itu, yang penting kau sudah kembali. Kau benar-benar sudah kembali, Lee Donghae."
"Bagaimana kau yakin aku sudah kembali?"
"Karena kau memang sudah kembali, Donghae-ah. Itu intinya, kau mengerti? Aku akhirnya menemukanmu. Dan karena itu, aku tidak mau kehilanganmu lagi."
Donghae terdiam menatap wajah pemuda di bahunya. Perasaannya kini campur aduk antara senang, terkejut, dan tidak percaya. Pengakuan pemuda itu sedikit banyak membesarkan harapannya kembali. Meski tak bisa memastikan semua kebenarannya, namun ada beberapa hal yang mendorongnya untuk percaya pada pengakuan tersebut. Karena selama hampir satu dekade, ia baru pertama kali mendengar hal semacam itu. Pengakuan yang setengah mati ingin didengarnya sampai sekarang.
"Lee Hyukjae..."
Tidak ada jawaban dari Hyukjae. Pemuda itu tampak tidur semakin pulas di bahu milik orang lain. Donghae akhirnya memutuskan untuk membiarkannya. Selama beberapa saat, Donghae hanya bisa tersenyum, membiarkan rasa senang membuncah dalam dadanya. Keputusan untuk pindah kembali ke Korea ternyata tidak membuatnya menyesal. Mungkin setelah penantian panjang, sudah saatnya ia menemukan kebenaran masa lalunya.
.
"Donghae-ah? Kenapa diam saja?" pertanyaan Kyuhyun membuyarkan lamunan sementara Donghae. "Aku benar, kan? Pemuda itu tahu sesuatu, kan?"
Seulas senyum mengembang di bibir Donghae. Dengan yakin pemuda itu menjawab, "Aku sudah menemukannya, Kyuhyun-ah. Akhirnya aku menemukannya."
~to be continued~
Another year to finish another chapter. Maafkan saya, minna-san! Setelah beberapa minggu hilang mood untuk nulis, akhirnya nongol ide juga buat melanjutkan ff ini. Apalagi saya masih author pemula yang kadang suka minder liat tulisan teman-teman sesama author yang udah pada pro -_- Ya sudahlah, harus banyak belajar lagi kalau gini. Buat Bang Yunho, Kai, sama Hoya yang saya jadiin antagonis di sini, maapkan saya abang-abangku tercintahhh~ sebenernya ngga tega juga, tapi gimana doh pengen liat abang kebagian peran juga :3
Seperti yang saya bilang di chap sebelumnya, saya akan berusaha sekuat tenaga buat menyelesaikan ff ini. Jadi mungkin bakalan molor untuk update hehehehe...
Bagi yang sudah setia membaca dan mereview ff ini, terima kasih banyak *bow* Jangan lupa buat yang udah baca, tinggalkan jejak Anda di kotak review oke oke? Don't be a silent reader, please.
See you on next chapter! ^^
