.
Tik
.
Tik
.
Tik
.
.
"Oh, kau sudah sadar?"
.
.
.Suara itu mengagetkan Rin yang masih setengah tidur. Gadis itu kemudian membuka kedua kelopak matanya perlahan, menampakkan sebuah pemandangan aneh yang terekam oleh kedua mata birunya.
.
.
"We and The Past Stories"
Main Pairing: Kagamine Len x Rin
Mission Pairing: None
Theme Song: None
Disclaimer: Vocaloid bukan punya saia, kalau punya saia udah saia jadiin anime dari jaman bahurak mereka. =3=
Warning: Non-cest, Ejaan Yang Diragukan, bahasa campur-campur, TYPO(s), dan warning-warning lainnya~
Do not like = klik tombol 'back' ^w^
But hope you like it~
.
.
.
.
Saat kedua mata Rin terbuka sempurna, ia mencoba mengolah informasi yang didapatkannya. Kini di depan Rin tengah berdiri seorang gadis yang kira-kira seusia dirinya dengan rambut magenta yang diikat twintail... bentuk bor–?
"SEMBARANGAN! Berhenti mengatai rambutku ini bor!?" seru gadis itu, Rin tersentak kaget dan langsung mundur beberapa inci.
"Ma-maafkan aku!" balasnya cepat, gadis magenta itu menghela napas panjang. Rin mengedipkan matanya beberapa kali, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri.
Dia kini merasa kalau dia sedang berada di tempat yang sangat aneh. Di sekelilingnya terdapat banyak pintu dengan berbagai warna, namun tempat itu terselimuti oleh kabut dan terlihat tidak memiliki dinding. Apalagi kini di depannya tengah berdiri seorang gadis dengan model rambut aneh dan baju aneh, berupa sebuah terusan mengembang berwarna merah muda dan kuning gading, di tangannya juga ada tongkat dengan bentuk aneh.
"Ahem, bisakah kau berhenti mengataiku aneh?" tanya gadis itu tajam, Rin terkejut... perasaan dia hanya membatin. 'Tunggu ... berarti gadis ini bisa membaca pikiran orang?' batin Rin.
Gadis yang berada di hadapannya itu kemudian duduk di depan Rin dan kembali menghela napas. "Tentu saja aku bisa, memangnya kau pikir penyihir seperti apa yang tidak bisa membaca pikiran orang?" ucapnya tajam.
Rin kembali menganga, "Tunggu, penyihir? Kau? Ayolah berhenti bercanda!"
Gadis itu menutup kedua matanya sejenak dan kemudian kembali berbicara, "Namaku Asane Teto, aku guardian penyihir dari permainan yang baru saja kau masuki; Love Mission: The Past Story. Kau masih ingat kan?"
Rin terdiam sebentar, namun kemudian mengangguk.
"Kau tahu, sebenarnya itu bukan hanya sebuah permainan. Tapi itu adalah sebuah terowongan waktu yang bisa mengirimu dan pasanganmu ke masa lalu. Tentu saja kalian tidak bisa dikirim secara cuma-cuma, sesuai judul dari permainan itu kalian harus membuat klien kalian mendapatkan happy ending dengan pasangannya." Jelas Teto, Rin mengangguk ragu.
"Tunggu... ini masih permainan kan? Dan lagi... dimana Len?" tanya Rin sedikit panik saat dia menyadari kekasihnya tidak ada di dekatnya. Teto memutar tongkatnya beberapa kali, kemudian muncul sebuah cermin besar di depan mereka. Dalam cermin itu terlihat Len sedang berbicara dengan seorang pemuda yang persis seperti Teto.
"Dia ada di tempat lain, sedang diberi penjelasan juga sepertimu. Kalau yang didepannya itu Kasane Ted, patnerku sesama guardian penyihir." Teto kembali mengayunkan tongkatnya dan cermin besar di hadapan mereka lenyap menjadi butiran-butiran cahaya. "Sekarang kau sudah mengerti situasimu?" tanya Teto.
Rin menggeleng, "Aku belum sepenuhnya mengerti... bukannya aku tadi masuk ke dalam permainan mirip labirin kaca bersama Len? Lalu guide-nya yang berambut emas itu seperti membaca sebuah mantra dan sekeilingku menjadi bercahaya... dan begitu sadar aku sudah di sini."
Teto mengangguk, "Kau benar, nama guide-mu itu Akita Neru. Dia yang mengirimu ke sini, karena permainan itu sebenarnya bukan di labirin kaca itu tapi di sini. Dimana kau mempunyai misi untuk menyatukan dua orang di masa lalu agar mendapatkan happy ending."
Rin berkedip beberapa kali, masih tidak mengerti dengan penjelasan berbelit-belit Teto. Teto yang menyadari hal itu tentu saja geram, perempatan sudah muncul di pelipisnya tanda ia kesal dengan otak lamban gadis berambut pirang madu itu.
"KALAU BODOH ITU JANGAN KETERLALUAN!" teriak Teto kesal, gadis yang mengaku penyihir itu kemudian menghela napas panjang. Menatap tajam Rin yang bergetar ketakutan.
"Ma-maafkan aku," balas Rin takut-takut. Teto mengelus pelipisnya untuk menenangkan diri.
"Intinya, dalam permainan ini kau harus menyatukan dua orang yang saling mencintai. Caranya terserah padamu, karena ini misi jadi kau harus berusaha sendiri." Ucap Teto, Rin mengangguk. Teto mengayunkan tongkatnya ke arah Rin dan tongkat itu mengeluarkan butiran cahanya yang kemudian melilit pergelangan tangan kiri Rin. Ketika cahanya itu menghilang, di pergelangan tangan Rin sudah terpasang sebuah gelang dengan bandul segilima yang disertai lima buah permata warna putih dan sebuah lingkaran besar dengan jarum yang tengah berputar-putar.
Rin menatap Teto minta penjelasan, "Itu namanya Licht bracelet. Lima permata kecil di sudut-sudutnya itu adalah tanda kalau kau sudah menyelesaikan misimu, permata itu akan berubah warna jika misimu sudah selesai. Saat permata itu berubah warna, baru aku akan menemuimu dan mengirimmu ke misimu selanjutnya. Lalu lingkaran besar dengan jarum itu adalah sebuah kompas, ketika kau masuk dalam misimu, jarum itu akan berhenti berputar. Ikuti saja arah jarum itu dan kau akan menemukan klienmu." Jelas Teto.
Rin mengangguk mengerti, "Lalu... kalau aku tidak berhasil menyelesaikan misiku bagaimana?" tanya Rin.
Teto menggeleng dan menatap Rin serius, "Kau akan terjebak dalam masa itu selamanya."
"Eh? Tidak mungkin!" seru Rin panik. Teto menyentil dahi Rin keras.
"Itu sudah konsekuensinya, makanya jangan gagal." Nasehat Teto tegas. Rin mengusap dahinya yang terasa sakit, namun masih mengangguk kepada Teto. "Sekarang kau mengerti, 'kan?"
Rin mengangguk, "Aku mengerti, intinya aku harus menyatukan pasangan klienku kan?"
Teto mengangguk, "Kali ini kau akan dikirim terpisah dengan pasanganmu, tapi kalian pasti ketemu saat di dunia dalam misi kalian, bekerjasamalah karena ini game untuk couple. Sekarang, kau sudah siap untuk misi pertamamu?"
Rin menghela napas panjang sebelum mengangguk kepada Teto, "Baiklah, aku siap."
"Baiklah," Teto mengayunkan tongkatnya berputar beberapa kali, kemudian muncul pintu polos berwarna merah muda. "Masuklah, kalau kau beruntung kau bisa langsung bertemu dengan kekasihmu. Kalau tidak ... ya, kau harus mencarinya dan bertemu dengannya ditengah misimu." Ucap Teto. Rin melangkah mendekati pintu itu, tapi sebelum gadis pirang itu membuka pintunya, ia menatap Teto ragu.
"Ini... aman 'kan?" tanya Rin. Empat siku-siku kembali muncul di pelipis Teto.
"Tentu saja, memangnya kau pikir kau akan naik rollercoaster!? Sudah sana pergi! Tinggal masuk aja repot amat sih!" Teto mencak-mencak, sedangkan Rin yang sudah ketakutan segera membuka pintu merah muda itu dan memasukinya.
.
.
.
~xXx~
.
.
.
Di sisi lain, sebuah diskusi dengan tingkat ketenangan tinggi tengah terjadi di antara Kagamine Len dan Kasane Ted. Tidak seperti bagian Rin dan Teto, Ted tidak perlu bersusah payah untuk menjelaskan aturan main dari Love Mission tersebut. Apalagi dengan kapasitas otak Len yang encer, pemuda itu sanggup menerima penjelasan Ted, walaupun dia pikir hal itu benar-benar tak masuk akal.
"Jadi aku harus menyatukan pasangan dalam dunia yang akan kumasuki itu? Kalau tidak berhasil aku akan terjebak dalam masa itu dan tidak bisa kembali ke masaku sendiri?" tanya Len untuk memastikan, Ted mengangguk tenang.
Len kemudian menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, "Pada setiap misinya aku pasti akan bertemu dengan Rin, 'kan? Lalu apakah dalam satu misi ada batas waktunya?" tanya Len.
Ted memasang pose berpikir sejenak, "Kalau kemungkinan apa kau pasti bertemu dengan kekasihmu, aku juga tidak bisa memastikan. Tapi lebih baik kalau kau mencarinya saat kau sudah berada dalam dunia di mana misimu akan berjalan. Lalu untuk batas waktu, kau mempunyai waktu dua minggu untuk menyelesaiakannya." Jelas Ted.
Dahi Len mengerut heran, "Kenapa hanya dua minggu?"
Ted mengangkat kedua bahunya, "Aku tidak tahu, aku hanya salah satu guardian penyihir untuk membantumu beralih dunia."
"Baiklah aku mengerti," balas Len. Pemuda pirang itu kemudian memejamkan matanya beberapa saat. "Lalu apakah aku memiliki semacam alat bantuan? Aku tidak mungkin langsung tahu siapa klienku, 'kan?"
Ted kemudian mengetukkan tongkat yang dibawanya tiga kali, tak lama lingkaran cahaya muncul dari tempat Ted mengetukkan tongkat tadi dan memunculkan gumpalan-gumpalan cahaya mirip permen kapas. Gumpalan itu kemudian menuju ke depan wajah Len, Len segera menengadahkan tangannya dan gumpalan itu kemudian menghilang, menjatuhkan sebuah jam saku kuno pada telapak tangan Len. Len menatap ragu pada Ted sejenak, namun kemudian ia membuka jam saku kuno itu.
Bagian dalam jam kuno itu berbentuk segilima dengan permata berwarna bening yang terletak dimasing-masing sudutnya. Ditengahnya juga ada lingkaran besar dengan jarum yang berputar-putar. Selain itu di bagian jam yang atas (penutupnya) terdapat jam dengan jarum yang menunjuk ke angka empat belas.
"Jarum yang berputar-putar itu menunjukkan arah, semacam kompas untuk mencari klienmu, jadi ikuti saja arah yang ditunjukkan jarum itu nanti. Lima permata di sana berarti lima misi yang akan kau kerjakan, setelah lima misi itu selesai kau bisa kembali ke duniamu. Permata-permata itu akan berubah warna yang menandakan bahwa misimu selesai, setelah itu baru aku akan menemuimu dan membawamu ke misi selanjutnya. Kalau jam yang ada di atasnya itu sama dengan waktumu yang tersisa, saat jam itu menunjuk angka empat belas lagi, maka kau akan terjebak dalam dunia itu karena waktumu habis, berhati-hatilah." jelas Ted.
Len mengangguk mengerti dan menaruh jam saku itu kedalam saku celananya. "Baiklah aku mengerti, jadi aku hanya perlu mencari kienku dan Rin. Setelah itu menyatukan dia dengan pasangannya 'kan?"
Ted mengangguk. "Sudah siap?" tanya pemuda magenta itu. Len menghela napas panjang sejenak, kemudian mengangguk mantap. Ted balas mengangguk dan mengayunkan tongkatnya. Lingkaran cahaya mirip dengan yang membawa Len ke tempat itupun kembali muncul, namun bedanya lingkaran itu berada di depan Len dan memunculkan sebuah pintu berwarna silver.
"Err, jadi aku harus masuk ke sini?" tanya Len, Ted mengangguk tanpa menjawab.
Len kemudian memejamkan matanya sejenak, "Baiklah, aku berangkat." Ucapnya, sebelum pemuda pirang itu membuka pintu tersebut dan masuk ke dalamnya.
.
.
.
"Semoga kalian menikmati permainan ini dan semoga berhasil."
.
Kasane Ted dan Asane Teto mengucapkan hal itu bersamaan, sebelum pintu yang baru saja dimasuki oleh Rin dan Len itu lenyap.
.
.
.
Saa, lalu bagaimana nasib mereka selanjutnya?
GBA a.k.a Gudang Bacodh Author:
Doumo Minna-san! O-genki desu ka? *innocent-face* #digolok
Iyaaah, saia juga ngga kerasa kalau saia udah nelantarin fanfic ini selama tiga tahun... astaga, berarti ff ini dari saia lulus SMP sampe saia lulus SMA sekarang... keren deh, =w= #desh
Yosh, tenang aja minna-san, saia udah mulai garap ff lama yang datanya ilang-ilang ini kok, jadi engga bakal discontinue~ lagian saia engga seneng cerita kalo discontinue... ._.
Idenya mungkin bakal beda sih sama rencana awalnya, tapi saia usahain tetep sama formatnya. Stay tune aja yah minna-san~ :* #plok
Terus sekarang buat balesan review, saia engga tau apa minna-san masih baca cerita yang udah dikerumunin sarang laba-laba ini. Tapi ini balesan reviewnyah~
Yosh, stay tune and review Minna-san! :* #dilemparjauh-jauh
