Selamat pagi, siang, dan malam semua

Banyak yang review kalo papa zola yang bunuh Fang.

Ehmmm... bener nggak yaaa? (kan lebaynya kuat lagi)

Hehehe..

Saya balas akan review yang guest. Seperti biasa yang punya account lihat di PM masing-masing

Kiku-sama: terimakasih sudah membaca dan mereview... dan.. engg.. maaf tapi aku nggak paham. Maksud dari review itu apa?

Yuriko-chan: terimakasih sudah membaca dan mereview. Siapa yaaaaa? Hehehehe.. aku lanjut kok. Sekali lagi terimakasih

Mozaki tobi: waaahhhh... terimakasih sudah membaca dan mereview.

Aiko: terimakasih sudah membaca dan mereview. Saya akan usahain update cepet terus.

Aini : terimakasih sudah membaca dan mereview. nggak kok ini saya usahain sampai tamat.

Semua review telah terbalas dan dari pada panjang-panjang mending langsung saja.

Dengan diupdatenya chapter ini kematian anak bernama Fang akan terungkap (ceileh.. bahasanya)

Warning: gaje, abal, typo(gak tanggung-tanggung typonya bisa sampai satu kata) dan beragam genus dan family(?)kesalahan lainnya.

^_^ Selamat membaca ^_^

Boboiboy bukan punya saya

Tapi punya animonsta saya pinjam charanya bentar

4. pelaku

Boboiboy POV

Hari ini ku membantu atok dikedai. Sebenarnya sih aku tak diperbolehkan membantu atok karena aku baru pingsan tadi disekolah.

Aku terus memikirkan apa yang terjadi pada anak itu? siapa zilla? Orang-orang yang menyeret anak itu? Dan aku masih terus mengingat-ingat siapa salah satu orang yang menyeret anak itu. Aku rasa aku pernah melihatnya tapi dimana? Siapa?

"Boboiboy"

"Eh.. iya tok?"

"kau istirahat sajalah di rumah! Kau kan tadi pingsan di sekolah"

Sudah tak terhitung jumlahnya. Kata itu diucapkan oleh kakekku meski responku tetap sama, tentu saja aku tak mau. Tapi ketika aku melihat sorot khawatir aku tak kuasa lagi menolaknya.

"huhh... baiklah tok. Tapi atok tak apa jaga kedai sendiri?"

"halah... atok setiap hari jaga keda sendiri sebelum kau datang"

"hayy... iyelah tok"

Kulangkahkan kakiku menuju rumah. Namun belum sampai aku jauh dari kedai. Aku melihat gadis berkerudung pink yang tentu saja aku tau namanya Yaya.

"hai Boboiboy" kata Yaya menyapaku dan tak lupa dengan senyum manis di wajah cantiknya.

"hai Yaya"

"eh.. kamu ngapain kesini? Minum coklat ya?"

"aku membantu atokku menjaga kedai"

"eh.. jadi kamu cucunya tok Aba?"

"iya.. kau baru tau ya?"

"iya.. kenapa kau tak cerita? Aku juga tidak pernah melihatmu disini?"

Tanya Yaya bingung. Ingin aku menjawabnya namun atok sudah lebih dulu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Yaya.

"dia baru pertama kali kesini. Kemarin baru sampai. Makanya atok kemarin tutup toko karena menjemputnya di stasiun"

"ohhh... pantas."

Melupakan tujuan awalku untuk pulang dan ber istirahat, aku mengambil tempat duduk disamping Yaya.

"tok aba pesan hot chocolate satu" kata Yaya memesan hot chocolate.

"siap"

Tok aba dengan cekatan membuatkan hot chocolate pesanan Yaya. Kuamati cara membuatnya agar aku bisa membuatnya sendiri. Huhh... harusnya Yaya pesan ice chocolate tadi, aku lebih suka ice chocolate dari pada hot chocolat. Dan tujuanku mengamati cara atok membuat karena agar aku dapat membuatnya sendiri nanti. Soalnya kalo atok ada aku pasti dimarahin karena minum ice chocolate sering-sering.

"ehmm... Boboiboy. Aku sudah punya informasi tentang Zilla"

"haa... cepatnya?"

"nah. Ini hot chocolatenya" kata atok memberikan pesanan Yaya.

"terimakasih tok"

Setelah atok memberikan pesanan Yaya. Atok berlalu meninggalkan aku dan Yaya sendiri.

"eh.. mau kemana tok?"

"mau ke rumah sebentar mau ambil choco"

"oh.. trus yang jaga kedai"

"kau dulu lah. Atok cuma sebentar kok"

Disini hanya tinggal aku dan Yaya. kenapa jadi canggung begini ya? Kulihat Yaya menyeruput hot chocolatenya. Kurasa chocolatenya manis seperti yang minum. Heh apa yang kupikirkan. Tidak sadar aku menggeleng-gelengkan kepalaku untuk mengusir pikiran itu.

"eh.. ada apa Boboiboy?"

"oh.. tak ada apa-apa. Oh iya bagaimana informasi tentang Zilla itu?"

"oh iya. Zilla itu alumni dari sekolah kita 10 tahun yang lalu. Sekarang dia istrinya cikgu Papa Zola guru matematika kita."

"ohh... lalu?"

"jika mereka bilang jangan mendekati Zilla. Besar kemungkinan Fang satu angkatan dengannya. Jadi kita tak perlu mencari buku biodatanya pertahun"

"ooohhh. Jadi kapan kita akan mencari biodata Fang"

"besok. Aku akan pinjam kunci perpustakaan daftar siswa dari guru. Semoga saja boleh"

"kau harus sembunyikan ini Yaya. jangan beritahu siapapun!" kataku mewanti-wanti Yaya. mungkin hanya perasaanku saja tapi kurasa sekolah ada hubungannya dengan semua ini. Aku juga tak bisa membiarkan Atok tau aku menyelidiknya karena kemungkinan besar aku tak diperbolehkan.

"sembunyikan apa?"

"huaaaa..." aku dan Yaya berteriak kaget ketika mendengan suara yang familiar disebelahku.

"huhh... kau ni Ying selalu saja membuat orang kaget. Kalo aku jantungan bagaimana?"

"hehe.. maaf ma. Aku tak sengaja wo" kata Ying cengengesan dengan logat chinanya.

"ish.. kau ni?"

"hehe.. sembunyikan apa?"

"ehmm..." aku berpandangan dengan Yaya. kulihat Yaya juga bingung ingin menjawab apa.

"eh.. itu..anu?"

"anu apa? Ohh... kalian pacaran ya?" hampir saja aku tersedak mendengar perkataan Ying. Dan kulihat semburat yang sangat tipis di kedua pipi Yaya.

"ish kau mana ada? Kita kan masih SMP mana boleh pacaran?"

"boleh ma.. banyak kok teman kita yang sudah punya pacar"

"ish.. tak la" ujarku menengahi perdebatan kecil mereka.

"la trus kenapa kalian berdua disini kalau tidak sedang KEN-CAN" ucapnya menekankan kata kencan. Kulihat pipi Yaya semakin merah.

"ish tak la. Aku disuruh menjaga kedai atok."

"aih. Atok? Tok aba itu atok kau kah Boboiboy?"

"ha'ah. Kau tak tau kah?"

"haiya aku tak tau wo. Aku tak pernah melihatmu?"

"itu karena aku jarang kesini. Mungkin kesini sama orang tua Cuma sebentar lalu kembali kekota."

"ohhh.. kau bisa buat hot chocolate tidak Boboiboy?" kata Ying. Aku rasa ia mau pesan. Karena memang aku belum bisa membuatnya. Aku menggelengkan kepalaku. Lebih baik bilang tidak, mengingat percobaan pertamaku dalam membuat hot chocolate bisa dibilang hancur dan gagal total.

"tidak.. lebih baik kau tunggu atok saja."

"oke"

OooooooooooooO

Skip time

"heh...heh...heh.."

Lari aku harus lari. Nafasku semakin sesak. Kenapa lorong nya panjang sekali? Kutengok kebelakang. Hah.. sejak kapan dia ada disana? Kupercepat lariku. Kulihat sebuah belokan lorong ini. Tanpa pikir panjang aku berbelok ke lorong itu.

"Oh... tidak, buntu?"

Langsung saja aku berbelok memilih kembali. tapi betapa terkejutnya aku ketika melihat Fang sudah ada di pintu lorong. Perlahan dia maju menghampiriku. Tetes-tetes darah mengalir dari kepalanya dan perutnya. Tangannya yang penuh darah mengarah kepadaku.

"TO-"

Hah, suaraku? Aku tak bisa berteriak. Seringaiannya semakin lebar. Perlahan dia mendekat kearahku.

Aku semakin terpojok. Tidak. Kumohon siapapun tolong aku!

Dia semakin dekat. Darahnya mengalir ke kakiku.

"keluarkan aku" ucapnya sangat lirih namun begitu menyeramkan.

Tubuhku bergetar.

"keluarkan aku, keluarkan aku"

"Tidakk... hah.. hah...hah... mimpi?"

Mimpi? Untunglah... tapi tadi mengerikan sekali.

"Boboiboy?" panggil atokku mendobrak pintu kamarku.

"atok?"

"kau kenapa?" tanya atok khawatir.

"tak apa, aku hanya mimpi buruk"

"ohhh... dah lah tidurlah lagi. Aku fikir kau kenapa?"

"hehe"

Atok meninggalkanku dikamar sendiri. Ini semakin buruk. Aku harus secepatnya menyelesaikan masalah ini. Kulihat jam masih menunjukkan pukul 2 pagi. Hoaaammm... aku mengantuk sekali. Kubaringkan tubuhku dan mencoba tidur.

"Boboiboy? Bangun sudah siang. Boboiboy?"

"hemm... atok? Ada apa ?"

"Bangun sudah siang ni"

"hoaammm... iya"

"cepatlah"

"baik tok"

Sudah pagi kah? Padahal kurasa aku baru saja mencoba tidur setelah mimpi buruk semalam. Kulirik jam dis sebelah tempat tidurku.

"Masih jam 6 pagi. HAH.. JAM 6.. AKU KESIANGAN" cepat-cepat aku mandi.

Ohh... jam 6.35. aku tak sempat sarapan.

"Boboiboy. Sarapan dulu!" ucap atok yang melihatkku hendak berlari.

"tak lah tok. Sudah siang ni"

"ish kau ni. Kejap atok masukkan nasi gorengnya kewadah bekal dulu."

"baik tok" aku menunggu atok mengambil kotak bekal sambil meminum hot chocolate.

"nah.." ucap atok menyerahkan kotak bekal kepadaku.

"terimakasih tok. Berangkat dulu" ucapku sambil mencium tangan atok dan segera berlari menuju sekolah.

06.55

Kurang lima menit bel masuk berbunyi.

"Huhh... untung aku tak terlambat lagi."

Kulangkahkan kakiku menuju kelas.

WUSSS...

O..oh.. jangan lagi. Ku lihat kebelakang Fang ada disana menatapku dengan pandangan yang mengerikan. Segera saja aku lari menuju kelas.

Kelihat kelas sudah ramai. Kurasa semuanya sudah datang. Hah.. tentu saja anak itu ada dibangkunya. Dan menatapku dengan wajah datarnya. Karena aku tak mau dicap aneh aku langkahkan kakiku untuk duduk dibangkuku. Berusaha bersikap biasa tapi tentu saja aku benar-benar takut.

"Boboiboy ingat nanti" kata Yaya mengingatkan.

"iya" ucapku singkat.

OooooooooooooO

TENG...TENG...TENG

Bel tanda istirahat dibunyikan. Seperti yang telah disepakati kemarin, aku dan Yaya pergi ke perpustakaan dan mencari biodata anak itu.

"ayo Yaya"

"iya"

Yaya berdiri dan berjalan bersamaku menuju ke perpustakaan. Saat berjalan dilorong kurasakan angin berhembus dan membuat bulu kuduku merinding.

"dia mengikuti kita. Kau bisa melihatnya?"

Kata Yaya memberi tahuku. Ku tengok kebelakang. Dia hanya diam menatap kami dengan pandangan yang mengerikan tak lupa dengan wajah datar yang malah memberikan kesan menakutkan.

"umm.. aku bisa melihatnya" Kataku kepada Yaya.

"ehmm... Yaya?"

"ya?"

"kenapa kita pergi kesini? Bukankah perpustakaan itu disana ya?"

"ehmm... semua arsipnya ada di gudang buku lama."

"oh macam tu."

Kulihat diujung lorong ada sebuah gudang. Yaya membuka pintunya dengan menggunakan kunci yang dipinjamnya dari ruang guru. Tempatnya gelap, Yaya langsung menyalakan lampu. Pertama kali yang kulihat adalah lemari dengan buku-buku usang di mana-mana. Berantakan dan penuh debu seperti tak pernah dibersihkan. Dan aku yakin memang tak pernah dibersihkan.

"kau cari disebelah sana aku cari disebelah sini"

"baik"

Segera saja aku mengambil buku-buku biodata alumni-alumni disini. Semua nya benar-benar kotor. Kutiup debu-debu itu.

"hachi.."

Tentu saja aku bersin bodohnya aku. Kulihat judul dibuku-buku itu.

"Data siswa tahun 2000, Data siswa tahun 2001, Data siswa tahun 2002, Data siswa tahun 2003. Dan ah ini dia data siswa tahun 2004. Yaya aku menemukannya!"

"benarkah.. baik, aku juga menemukan beberapa buku"

Segera saja aku bawa buku ini ke meja di dalam ruangan itu. Kubuka lembar demi lembar buku-buku itu.

Fang, fang, fang. Langsung saja aku mencari nama anak itu.

"eh? Ini aku pernah melihatnya? Ini kan salah satu anak yang membawa Fang?"

"benarkah siapa itu Boboiboy?" tanya Yaya yang sudah disampingku.

Kulihat namanya. Ejo jo? Nama yang aneh.

"eh.. itu kan guru Fisika kita" kata Yaya menunjuk orang di dalam foto itu.

"cikgu Ejo jo. Berarti dia yang membunuh Fang"

Tiba-tiba lampu-lampu diruangan itu berkedip-kedip. BRAKK... kudengar pintu tertutup.

"kyaaaaaa..." kudengar Yaya berteriak dan reflek aku memeluknya dan melindunginya. Kulihat anak itu, wajahnya tidak lagi menunjukkan ekspresi datar. Namun sekarang menunjukkan ekspresi menyeramkan.

Lampu berkedap-kedip dan angin berhembus menghamburkan lembaran-lembaran yang terlepas dari bukunya.

Aku berdiri dan coba berbicara pada Fang. Meski ragu aku beranikan diri untuk bertanya.

"Fang? Benarkah cikgu Ejo jo yang membunuhmu?"

Dia hanya terdiam dan menatap kami. Aku rasa jawabannya iya. Perlahan angin tak berhembus lagi dan kulihat ruangan telah kembali seperti ada kertas-kertas yang berhamburan. Segera saja aku membawa Yaya keluar. Tapi yang kulihat sekarang adalah lorong didepan kelas kami.

"BRENGSEK. KAU FIKIR KAU SIAPA?"

Suara itu? Fang? suara itu berasal dari gudang disebelah kelas ini.

"Boboiboy kita kesana" perintah Yaya.

"tentu tapi kau dibelakangku"

Ku gandeng tangan Yaya menuju ke gudang itu. Kubuka pintu gudang dan terkejut ketika melihat Fang dikunci pergerakannya oleh teman dari cikgu Ejojo dalam keadaan babak belur seperti habis dipukuli. Kulihat cikgu Ejojo mengacungkan pisau kearah Fang. Sepertinya mereka tidak melihat kehadiranku dan Yaya.

"kau sudah kuperingatkan berkali-kali, Fang. Dan kau masih saja tak mau mendengarkan"

"BRENGSEK.."

"kau..?" geram cikgu Ejojo. Kulihat Fang mulai bisa melepakan diri dari orang yang mengunci pergerakannya. Dan langsung menerjang cikgu Ejojo. Cikgu Ejojo yang sama sekali tak menyadari pergerakan Fang langsung menusukkan pisaunya ke arah Fang. Kulihat Fang memgangi perutnya yang tertusuk pisau. Wajah cikgu Ejojo memucat dan panik melihat Fang tertsuku pisaunya.

"BOBOIBOY TOLONG DIA!" teriak Yaya panik. Bagai tersengat listrik. Aku mencoba berlari untuk menolongnya. namun aku merasa bahwa tempatnya semakin jauh. Kupercepat lariku namun yang kulihat sekarang adalah ruang perpustakaan tua tempat aku dan Yaya mencari biodata Fang.

"Yaya kau melihatnya?"

"ya, tentu saja. Ternyata yang membunuh Fang-"

"cikgu Ejo jo" gumamku.

"cepat kau bawa buku itu, kita harus segera kembali ke kelas" perintah Yaya.

Tanpa pikir panjang, aku langsung menurutinya. Ku bawa buku itu dan kembali ke kelas.

Jadi begitu, sekarang aku mengerti. Cikgu Ejojo. Tak ku sangka dialah yang membunuh Fang.

TBC OR DISC

Aduuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhh... beneran ini gak tahu deh.

Serem enggak. Aneh iya.

Kecepetan ya?

Dan yang bunuh adalah Ejojo.

Hayo tebak siapa yang megangin Fang tadi? #plakk

Pengennya sih yang bunuh itu Papa Zola tapi nggak enak soalnya dia terlalu konyol untuk jadi pembunuh.

Sebenarnya aku pengen sejarahnya(?) eh maksudnya gimana kematian Fang itu aku buat di chapter akhir-akhir. Tapi yah aku buat di chapter ini.

Kenapa saya buat di chapter ini?

Soalnya biar cepat selesai.

Hehehehehe

Maaf ya kalo aneh dan benar-benar GaJe.

Sudahlah daripada saya banyak ngomong.

Akhiru kata

REVIEW PLEEEEEEAAAAAAAAAASSSEEEE (capslock jebol)