Selamat pagi, siang, dan malam semua

Maaf jika saya update nya lama minna-san

Saya beneran nggak dapet kata-kata buat nglanjutin 2 fic saya.

Beuhh... susah deh. Jadi Cuma gini deh

Tak lupa saya mengucapkan terimakasih untuk yang telah membaca, mereview, memfollow, dan memfavorit fic saya.

Saya balas akan review yang guest. Seperti biasa yang punya account lihat di PM masing-masing

Yuriko-chan: hahaha... tet tooot... terimakasih sudah membaca dan mereview fic saya yu-chan (boleh saya panggil begitu?)

Kiku-sama: hehehe.. iya.. terimakasih sudah membaca dan mereview fic saya kiku-sama

Aini: hihihi.. terimakasih lhoo.. aini-san.. saya nggak berbakat nulis jadi gini deh jadinya. Yang with friend sedang macet kata-katanya. Tapi terimakasih sudah membaca dan mereview fic saya Anini-san. ^_^

Aiko: hehehe.. terimakasih Aiko-san. hehehe.. maaf yang ini malah tambah pendek... tap saya usahakan update kilat. terimakasih sudah membaca dan mereview fic saya Aiko-san.

Aini: iyaa... saya lanjut kok. Hayoo dimana hayooo #plakkk.? Hihihi nanti pasti ditemuin kok. Terimaksih banyak sudah menyukai cerita saya. Maaf jika ceritanya semakin GaJe. Sekali lagi terimakasih sudah membaca dan mereview fic saya Aini-San.

YEEEYYYYY... semua review telah terbalas jadi mari mulai ceritanya.

Warning: gaje, abal, typo(gak tanggung-tanggung typonya bisa sampai satu kata) dan beragam genus dan family(?)kesalahan lainnya.

^_^ Selamat membaca ^_^

Boboiboy bukan punya saya

Tapi punya animonsta saya pinjam charanya bentar

5. teror

Boboiboy POV

TENG TENG TENG

Huhh.. akhirnya bel berbunyi. Hari ini benar-benar melelahkan. Bagaimana tidak, seharian aku memikirkan pembunuhan yang dialami Fang . Aku bahkan tak mendengarkan apa yang diajarkan guru-guru tadi. Tak kusangka cikgu Ejojo lah yang membunuhnya. Aku harus mencari tau nanti tentang Zilla ini.

Kulirik meja dibelakangku selama ini dia masih duduk dan menatapku tajam. Huhh.. Setidaknya aku sudah terbiasa. Kulihat Yaya berdiri dan pergi untuk pulang.

"Yaya?"

"Eh.. iya Boboiboy?"

"Bagaimana jika kita pulang bersama saja? Rumah kita kan berdekatan."

"Boleh. Ayo!"

"Ciie... Ciie Yaya dan Boboiboy pacaran nieee..." Ying yang duduk dibangku sebelah Yaya menggodaku dan Yaya.

"Ish.. tak la." ucap Yaya menyangkal. Namun ku lihat ada semburat merah muda di wajahnya yang manis dan cantik. Kupandangi wajah itu lagi.

"Ehmm.. Kau kenapa Boboiboy melihatku terus?"

"Ahhh... tidak. Tidak apa-apa." kurasa jantungku berdegup lebih cepat. Ohh ini kenapa lagi aku?

"Ayo Boboiboy." Ucapnya sembari menarik tanganku. Ku pandangi kedua tangan kami yang saling bertaut. Seperti orang yang lagi pacaran. Bergandengan tangan. Kurasa kedua pipiku memanas. Kugelengkan kepalaku untuk menghilangkan rasa panah itu.

"Kau kenapa Boboiboy?" kata yaya heran ketika melihat ku menggelengkan kepalaku. Lalu ia melihat tangan kami yang masih bertautan. Seketika kulihat wajah Yaya merah padam. Eh.. apa dia marah? Jangan marah Yaya!

"Ma-maaf Boboiboy." Ucapnya terbata dan segera melepaskan tangannya. Eh.. maaf.. huft kukira dia bakal marah.

"Eng... Tak apa. Aku juga..." uhh... kenapa jadi canggung begini sih.

"Eh.. i-iya"

Yaya kemudian berjalan. Kepalanya menunduk.

"Eh. Yaya tunggu aku!" segera saja ku kejar Yaya yang berjalan cepat meninggalkanku.

End boboiboy POV

OoooooooO

Terlihat dua orang guru yang sedang menilai hasil ulangan anak didiknya di ruang guru.

"Aku duluan Ejojo" ucap guru itu berpamitan ketika tugas nya sudah selesai.

"Ya" ucap seorang guru yang dipanggil Ejojo.

Guru bernama Ejojo itu sekarang sendirian di ruang guru. Masih tetap berkutat hasil ulangan anak didiknya.

"Apa mereka tak belajar? Masak soal begini saja tidak bisa" gerutunya disela-sela pekerjaannya.

Namun ketika ia membuka lembar jawab selanjutnya nama yang tertera di kertas itu adalah..

"Fang?" ucapnya kaget.

Ejojo mengedarkan pandangannya di seluruh ruang guru. Ia melihat siulet pemuda bersurai ungu di pojok ruang guru.

"Fa-Fang?" ucapnya dengan suara bergetar. Lampu yang menerangi ruangan itu tiba tiba mati. Ejojo terkesiap dan segera berlari menuju pintu namun saat akan meraih pintu. Matanya terbelalak saat melihat Fang ada didepannya. Perlahan Ejojo melangkah mundur.

BRAKK...

Tak sengaja Ejojo menabrak kursi yang ada dibelakangannya. Lampu menyala dan mati beberapa kali. Disetiap kedipan lampu terlihatlah Fang yang berjalan perlahan mendekati Ejojo. Tetes-tetes darah menjadi jejak telapak kaki Fang.

"F-Fang.. ka-kau tahu kan aku tak berniat membunuhmu?" ucap Ejojo terbata-bata dan badan yang bergetar.

"Kau harus mati. Ejojo" ucap Fang dengan suara rendah namun bergema diseluruh ruangan.

Lampu tak menyala lagi.

"Keluarkan aku. Keluarkan aku. BRENGSEK. KAU FIKIR KAU SIAPA.. SIAPA?"

Sebuah suara menggema di seluruh ruang guru ditengah kegelapan. Ejojo mengedarkan pandangannya dan bergerak menuju pintu.

KLINGG..

Sebuah pisau penuh darah terjatuh didepan Ejojo. Ejojo terkesiap dan terpaku ditempat. Perlahan darah menetes menetes didepannya. Ejojo mendongak dan terlihatlah Fang yang berdiri didepannya menunuduk dengan darah yang meneter dari kedua tangan dan kepalanya.

Tubuh Ejojo semakin bergetar. Perlahan ia mundur untuk menghindari Fang. "kenapa? Kau takut Ejojo?" ucap Fang rendah dan dingin. Menambah keseraman di ruangan itu. Lampu kembali menyala. Fang yang menunduk megangkat kepalanya perlahan memperlihatkan wajah pucat penuh darah dengan seringaian yang mengerikan.

PYAAARRR...

Kaca jendela ruang guru pecah. Reflek Ejojo melihat pecahan kaca itu. Dan kembali menatap Fang.

'Tak ada?'

Ia menghela nafas lega.

"Hahahaha? Kau takut Ejojo?" sebuah suara menggema di seluruh ruangan.

"Kau gila Ejojo.. Ejojo. Kau membunuhnya.. kau bilang kau takkan membunuhnya kan?"

"Aku tak sengaja Adudu. A-aku hanya..."

Suara-suara menggema di ruang kosong itu.

"Tidak hentikan. Aku tak sengaja.. hentikan Fang"

Ejojo semakin bergetar ditutupnya kedua telinganya berharap suara-suara itu tak terdengar lagi.

Kiittt...kitttt...

Terdengar suara seperti benda tajam yang di goreskan kekaca. Dia melihat kaca-kaca di sekitar ruangan itu.

"Kau harus membayarnya Ejojo"

"Fang... hentikan."

Perlahan darah mengalir dari tembok-tembok ruang guru.

BRAKKK...

Suara pintu tertutup dengan keras. Ejojo segera berlari kearah pintu dan mencoba membukanya. Namun sia-sia pintunya tertutup dan terkunci. Ejojo membalikkan badannya dan melihat Fang ada didepannya menyeringai mengerikan.

"Kau harus merasakan apa itu mati Ejojo!" ucap Fang rendah dan seringaiannya semakin lebar.

Ejojo terpojok ia tak bisa lari lagi. Perlahan tangan pucat penuh darah Fang terangkat dan mengarah ke leher Ejojo.

"F-Fang ja-jangan."

Dia mencoba berlari namun tubuhnya tak bisa digerakkan. Ejojo hanya menahan nafasnya ketika tangan dingin Fang menyentuh lehernya. Perlahan tubuh Ejojo terangkat keudara.

"Fa-fang."

OooooooooooO

"Yaya kita kembali" kata boboiboy secara tiba-tiba dan segera berlari menuju sekolahnya. Perasaannya tak enak.

"Boboiboy tunggu aku. Boboiboy?" Yaya yang melihat Boboiboy larikembali kesekolahnya segera mengejarnya.

15 menit dia berlari meninggalkan Yaya yang masih jauh tertinggal dibelakangnya. Tujuannya hanya satu menuju ruang guru. Dia tak tau apa yang terjadi. Namun perasaannya menjadi tak enak.

"Fang apa yang kau lakukan?" dengan cepat ia berlari menuju ruang guru. 'Dimana ruang guru? Dimana ruang guru?'

Ketika ia melewati koridor terdengar suara pintu terbanting.

"Disana?" gumam boboiboy dan segera mempercepat larinya.

"Tunggu.. boboiboy! Tunggu aku!" teriakan Yaya tak dipedulikan lagi oleh Boboiboy. Dia malah mempercepat larinya menuju ruang guru.

"BOBOIBOY!"

Tibalah ia di depan ruang guru. Boboiboy segera membuka pintunya namu terkunci. Ia mendobrak donbrak pintunya namun tetap tak bisa.

"FANGG.. HENTIKAAN... FANG"

OoooooooooooO

Brak... Brakk...

Terdengar suara pintu dibuka dengan paksa namun Fang tak bergeming. Dia masih menatap dan mencekik Ejojo.

"FANGG.. HENTIKAAN... FANG"

BRAAKKK...

Akhirnya pintu dapat dibuka dengan paksa Fang mengalihkan perhatiannya dan menatap Boboiboy. Kemudian dia melepaskan cekikannya dari Ejojo. Ejojo yang sudah kehabisan nafas hanya terduduk. Fang masih menatap Boboiboy yang mencoba membantu Ejojo berdiri.

"Fang mengapa kau ingin membunuhnya?" tanya boboiboy kepada Fang. Fang hanya menatapnya dan kemudian menghilang.

"Uhuk..uhuk.."

"Anda tak apa-apa cikgu?"

Ejojo menatap anak yang ada didepannya.

"Kau boboiboy bukan? Sedang apa kau disini?" tanya Ejojo dengan suara yang serak.

"Eng.. aku ada buku yang ketinggalan dan aku melihat cikgu... ehm... sedang pingsan tadi" kata boboiboy berbohong.

"Boboiboy ada apa?" tanya Yaya yang baru bisa menyusul boboiboy.

Ejojo kemudian bangkit berdiri dan menatap seluruh ruangan ruang guru.

Semuanya rapi tak ada darah ataupun pecahan kaca disana. Ejojo menarik nafasnya.

"Kalian pulanglah aku tak apa" ucap Ejojo sambil berdiri dan mengemasi barang-barangnya bersiap untuk pulang.

Boboiboy dan Yaya hanya berpandangan dan memutudkan untuk pulang.

"Baiklah kami pulang dulu cikgu." pamit Yaya.

"Ya."

Yaya berjalan pulang namun Boboiboy masih diam di tempatnya.

"Boboiboy. Ayo!"

Boboiboy tak bergeming dan masih menatap Ejojo. Setelah Ejojo merapikan peralatannya dan dan berjalan melewati Boboiboy.

"Cikgu. Apa rumus yang bisa digunakan untuk membunuh guru fisika di SMP pulau rintis ini?"

Boboiboy berbicara dengan suara pelan namun masih bisa di dengarkan Yaya dan Ejojo. Ejojo tersentak dan menatap Boboiboy namun Boboiboy segera mengerjapkan matanya dan pamit untuk pulang.

"Permisi cikgu"

Dengan segera Boboiboy menarik Yaya dan keluar dari ruangan itu.

Setelah merasa jauh dari Ejojo. Boboiboy berbicara dengan Yaya.

"Yaya ini tak bisa dibiarkan. Fang sudah hampir membunuh cikgu Ejojo tadi"

"A-apa?"

"Kita harus segera menyelesaikan ini atau cikgu Ejojo akan mati."

"Ya"

Setelah melihat cikgu Ejojo yang masuk ke dalam mobil dan mengendarainya untuk pulangn Boboiboy dan Yaya memilih meninggalkan sekolah. Dan memutuskan untuk menyudahinya besok.

TBC.

Kyaaaaaaaaaaaaaa... ini apa GaJe banget

Beneran gak horor dan gak serem abissss...

Maaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaafffffffffff minna..

Saya beneran nggak bisa nulis yang horor-horor.

Maaf juga yang ini pendek lagi.

Ide saya mentok disitu. Tapi saya usahakan Update cepet.

Terimakasih telah membaca fic saya

Akhir kata

R

E

V

I

E

W

pleaseeeeeee