Selamat pagi, siang, dan malam minna-san

Saya kembali dengan fic saya yang horor enggak. Romance kagak. Aneh? Banget!

Hehehe.. oke maaf minna-sama, chapter yang lalu pendek sangat.

Maklum ide dadakan dan setelah sampe itu ide saya macet. Waduhh...

Mungkin saya akan lebih panjangkan disini.

Mana ide kagak dapet-dapet lagi coba nonton film horor. Bukannya dapet ide saya malah ketakutan sendiri. Sampe nggak bisa tidur (All: woyyy... jangan curcol.)

Jadi maaf menunggu lama minna-sama (all: nggak ada yang nunggu)

Udah, ah... dari pada panjang-panjang mending langsung aja

^_^ Selamat membaca ^_^

BOBOIBOY POV

Ini adalah malam yang panjang bagiku. Aku sama sekali tidak bisa tidur karena memikirkan apa yang harus aku dan Yaya lakukan agar semua misteri ini terpecahkan. Sulit memang. Kami masih SMP dan sama sekali tidak memiliki keahlian dalam hal misteri apa lagi kasus pembunuhan seperti ini.

Fang, Zilla, dan Cikgu Ejo Jo. Semua nama-nama itu terus berputar di kepalaku. Meski aku tahu tersangka dalam kasus ini, aku masih bingung dengan permintaan Fang. Apa maksud dari 'keluarkan aku'? Apa mayatnya belum ditemukan? Jika benar, dimana? Apa yang harus kulakukan agar aku bisa menemukannya?

"Buku itu?" gumamku. Aku beranjak dari tempat tidur dan menuju meja lemari buku. Dimana buku biodata siswa yang aku dan Yaya temukan hari ini tersimpan. Kuambil buku itu, menyalakan lampu, dan duduk di meja belajar mencari tahu tentang Fang.

Kubuka lembar per lembar buku itu. Hampir di akhir buku itupun aku masih belum menemukan nama Fang. Siapa Fang itu sebenarnya. Terus kubuka buku itu berharap aku menemukan identitas Fang. Hingga sampai di akhir lembar aku mendapati bekas sobekan. Ku rasa ada yang sengaja menyobek lembar ini agar tak ada yang tau tentang identitas orang yang dituliskan di lembar terakhir ini. Lelah mencari, aku pun menutup buku itu dan mengembalikannya ke lemari dan beranjak menuju ranjang dan mencoba tidur.

OooooooooooO

"Engg..." aku melenguh pelan ketika sinar matahari menyilaukan menerpa wajahku. Dengan setengah sadar aku menutupi wajahku dengan selimut.

"BoBoiBoy bangun! sudah siang. Sekolah. Jam enam lebih lima belas!" kudengar suara kakek-kakek membangunkan namaku sambil menarik selimut yang menutupi tubuhku. Eh, kakek-kakek? Jangan-jangan….

"Tok Aba?" teriakku langsung duduk.

"Ha'ah. Siapa lagi?" ucap Tok Aba sambil memutar matanya.

"Hehehe.. Jam berapa nih tok?" ucapku sambil mengucek mataku yang benar-benar masih mengantuk.

"06.15! Cepat mandi sana!" perintah Atok sambil berlalu meninggalkanku sendiri.

Aku yang masih mengantuk mengambil posisi untuk kembali mengarungi alam mimpi jika saja..

"Hah?! Jam 6.15, aku kesiangan!" aku langsung terbangun dan berteriak ketika mengingat pukul berapa sekarang. Cepat-cepat aku mandi dan mengenakan pakaian. Saat turun dari lantai atas, kulihat rumah sudah kosong dan hanya ada bekal dimeja. Segera aku menyambar bekal itu dan berlari menuju sekolah.

OoooooO

"Hah...Hah...Hah…."

Sampainya aku disekolah yang kudapati adalah gerbang yang telah tertutup dan satpam yang siap menerkamku. Oke, aku mulai berlebihan. Tapi matanya itu benar-benar siap memberikanku hukuman yang paling sulit dijalani.

"Kau terlambat"ucap satpam itu tajam. Oke, sekarang alasan apa yang bisa ku gunakan?

"Err... Anu.. Anu…"

"Anu apa?!" ucap satpam itu lengkap dengan pelototan yang membuat bulu kudukku merinding.

"A-Anu kemarin saya belajar kemalaman jadi saya..."

"Banyak alasan. Masuk" ucap satpam itu memotong perkataanku. Huhh... bersyukurlah aku, aku bisa masuk kedalam. Namun selangkah saja aku masuk jaketku ditarik oleh pak satpam.

"Mau kemana? Saya tidak memintamu masuk ke sekolah. Masuk ke pos satpam dan tulis pernyataan tidak akan terlambat lagi setelah itu lari keliling lapangan 5 kali, baru boleh masuk kelas." Ucap satpam itu dengan senyuman yang membuatku begidik. Mulutku ternganga tak percaya dengan semua perintah yang di ucapkan satpam itu. Surat perrnyataan? Keliling lapangan? Oh Tuhan…. bisakah hari ini lebih parah lagi? Jeritku dalam hati. Dengan lesu aku berjalan masuk ke dalam pos satpam dan melaksanakan perintah dari dari satpam itu. Huh.. hari yang menyebalkan.

END BOBOIBOY POV

OoooooooooO

Dikelas terlihat Yaya yang memandangi luar kelas lewat jendela kelasnya. Dia menunggu BoBoiBoy yang masih belum masuk ke sekolah. 'Kemana dia? Apa dia tidak masuk sekolah? Kenapa?' berbagai pertanyaan muncul dibenak Yaya. Namun kekhawatirannya sirna ketika melihat pemuda yang beberapa hari ini menyelidiki misteri sekolahnya tentang anak yang bernama Fang itu muncul dan dimarahi oleh satpam sekolah karena terlambat. Yaya menghela nafas lega setidaknya tidak terjadi apa-apa dengannya. Ia tidak menyadari Ying yang sedari tadi memperhatikan perilakunya ikut melihat apa yang sedang diperhatikan Yaya dari tadi.

"Ciie.. Yang nunggguin pacarnya. Udahlah, ngaku aja, nggak perlu backstreet segala wo." Godanya pada Yaya yang mendapat respon gelengan dan teriakan spontan dari sang ketua kelas.

"Eeehhh... Sudah kubilang kami tidak berpacaran!" Teriak Yaya yang membuat seluruh kelas menatap kearahnya. Sadar telah membuat keributan di kelas Yaya memilih diam dan menghadap kedepan sambil menunggu guru yang akan mengajar mereka datang. Wajahnya memerah campuran antara malu karena godaan Ying dan malu karena sudah membuat keributan di kelas. Melihat sang guru yang berjalan masuk kedalam kelas Yaya berdiri dan memberikan aba-aba kepada teman-temannya.

"Bangun! Beri salam!"

"Selamat pagi, cekgu!"

"Selamat pagi. Anak-anak." Ucap guru yang mengajar mereka hari ini dan pelajaran pun dimulai dengan Yaya yang masih melihat BoBoiBoy yang dihukum berlari mengelilingi lapangan.

OooooooooooO

Pagi ini Ejo Jo tak ada jam mengajar, hal itu dimanfaatkannya untuk mengoreksi pekerjaan murid-muridnya yang terganggu karena kejadian kemarin. Sambil meminum teh hangat ia mengoreksi pekerjaan anak didiknya yang diwarnai dengan gerutuan kecil ketika mendapati ada anak yang nilainya sangat rendah. Ejo Jo meraih cangkir tehnya dan hendak meminumnya. Namun saat bibirnya menyentuh cangkir, ia melihat tehnya berubah menjadi carian berwarna merah kental dan berbau anyir. Refleks Ejo Jo menarik gelas itu dari mulutnya, gerakan tiba-tiba itu membuat tehnya menumpahi baju yang dipakainya. Ia melihat gelasnya lagi. 'Isinya teh? Apa aku Cuma berhalusinasi?' pikir Ejo Jo kacau. Gelas itu tak berisi apa-apa kecuali teh. Ejo Jo berdiri dan hendak ke toilet untuk membersihkan kemejanya. Toilet dan ruang guru melewati lorong yang cukup panjang. Sesampainya di toilet, Ejo Jo menyalakan kran air dan membasuh tangannya.

Ejojo melihat kearah kaca yang ada didepannya, dan reflek ia berbalik ketika melihat sosok misterius di kaca itu. Namun tak ada siapa-siapa di belakangnya.

"Siapa itu tadi? Fang?" gumam Ejojo.

Ejojo kembali membasuh tangannya. Tanpa disadari oleh Ejojo. Semakin lama air yang keluar dari keran itu semakin memerah dan tak lama kemudian berubah menjadi darah yang mengalir deras. Reflek Ejo Jo memekik dan menarik tangannya. Ejo Jo menutup krannya dan melihat tangannya yang bersimbah darah dengan wajah yang memucat.

"Ejo Jo.." sebuah suara memanggilnya dengan nada yang rendah dan dingin. Ejo Jo berbalik dan mendapati tak ada satupun murid di dalam toilet itu. Ia kembali manatap tangannya namun tak ada jejak darah disana. Dengan ragu ia membuka kran air lagi. Ejo Jo menghela nafas lega ketika air yang keluar dari kran itu bukan lagi darah. Ia kembali membasuh tangannya dan membasahi bajunya yang tersiram teh.

"Ejo Jo..." Ejo Jo kembali berbalik . Namun seperti tadi, ia tidak mendapati orang yang ada dibelakangnya.

"Huhh..." Ejo Jo mengela nafasnya dan kembali berbalik. Namun betapa terkejutnya dia ketika mendapati Fang yang menunduk dengan darah yang menetes dari kepala, perut, dan kedua jarinya ada didepannya. Reflek Ejo Jo mundur beberapa langkah.

"Ejo Jo.." ucap Fang sangat rendah dan dingin. Angin berhembus menggerakkan jendala-jendela dan lampu di sekitar Ejo Jo. Ejo Jo memutar tubuhnya melihat sekitarnya. Lampu berkedap-kedip dan bergoyang.

"F-Fang, dengar, ak-aku tak sengaja membunuhmu. Aku tak sengaja menikammu."

"Keluarkan aku!" Ejo Jo semakin mundur ketika Fang mengambil langkah demi langkah untuk mendekati Ejo Jo. Tubuhnya bergetar, rasa takut menguasainya sekarang. Darah-darah keluar dari celah-celah dinding dan lantai. Menimbulkan bau anyir dan kengerian disekitar Ejo Jo.

"F-Fang, dengar..." Ejo Jo semakin mundur dan terpojok di ujung toilet.

'Bagaimana bisa?' Ejo Jo menatap sekitarnya bingung. 'Bukankah aku tadi masih ditoilet?'pikirnya bingung, tetapi sekarang yang dilihatnya adalah pojok lorong sekolah yang jarang di datangi bahkan oleh para guru sekalipun. Tempat dimana ruangan yang menjadi awal dari tragedi ini. Tempat dimana ia dan sekolah menutup rapat-rapat tragedi ini untuk nama baiknya dan nama baik sekolah. Ruangan dimana ia tanpa sengaja membunuh teman, ahh.. tidak, lebih tepatnya obyek bullying yang selalu dilakukannya di sekolah itu 10 tahun yang lalu.

"Keluarkan aku. Keluarkan aku"

Duk..dukk... srakk.. srakkk... sebuah suara terdengar dari dalam ruangan itu dan diikuti dengan suara kayu yang ditendang-tendang lemah dan dicakari. Reflek Ejo Jo menoleh dan menatap kedalam ruangan itu.

"Brengsek! Keluarkan aku!" Suara itu terdengar lagi. Suara itu semakin lemah dan seperti kehabisan nafas. Ejo Jo kembali menatap kedepan namun Fang telah menghilang. Dengan penasaran ia masuk kedalam gudang itu. Dibukanya pintu gudang itu perlahan. Ia ingat sekali dengan gudang itu. Gudang dimana ia menyembunyikan tubuh Fang.

"Ejo Jo..." suara itu kembali. reflek Ejo Jo memutar tubuhnya menghadap asal suara itu. Dilihatnya Fang yang berdiri menatapnya dengan wajah, perut, dan kedua tangannya yang bersimbah darah. Matanya menatap Ejo Jo penuh amarah dan dendam. Tatapan kejam membunuh yang berisi keinginan agar orang ditatapnya itu merasakan apa yang dirasakannya yaitu 'Kematian penuh rasa sakit'. Ejo Jo mundur beberapa langkah.

Brakkk...

Kursi-kursi berjatuhan ketika Ejo Jo tanpa sengaja menabraknya. Ejo Jo telah terpojok, ia tak bisa mundur dan ia tak berani menerjang Fang dengan tubuh mengerikan seperti itu. Fang mengangkat tangannya yang bersimbah darah dan menyeringai menakutkan.

"Kau lihat Ejo Jo? Tangan ini lelah mencakari kotak itu…"

Srak.. srakk.. srak...

Tepat setelah Fang menyelesaikan ucapannya suara itu kembali terdengar. Suara orang yang mencakari sebilah kayu. Semakin lama suara itu semakin menghilang dan melemah. Ejojo semakin bergetar, ia sadar sekarang. Dulu Fang belum mati ketika ia menusuknya. Itu artinya Fang mati karena...?

"Kau tahu Ejo Jo bagaiman sesaknya didalam sana?" tanya Fang dengan suara yang amat dingin. Ia berjalan pelan kearah Ejo Jo yang semakin bergetar ketakutan.

"Fang, dengar, a-aku tak tahu kau masih hidup. Ak-aku panik." Kata Ejo Jo terbata-bata. Fang semakin berjalan mendekat. Namun tiba-tiba berhenti dan menundukkan kepalanya. Ejo Jo terdiam namun tubuhnya tetap bergetar. Tubuhnya terasa diguncang-guncang oleh seseorang.

OooooooooooooO

BoBoiBoy selesai melakukan hukumanya dan dia sangat lelah sekarang. Di berjalan melewati koridor kelas dengan terengah-engah. Tubuhnya dibasahi peluh dan nafasnya ngos ngosan. Ohh.. salahkan misteri ini yang membuatnya tidur malam karena penasaran. Huhh... BoBoiBoy mempercepat jalannya menuju kelas. Namun ketika melewati koridor dekat toilet terdengar suara beberapa anak yang panik dan meneriaki nama Ejojo.

"Cekgu, anda tak apa..?!"

"Panggil bantuan!"

"Aku akan keruang guru."

"Cekgu Ejojo. Bangun, anda tak apa?"

Jantung BoBoiBoy terasa berhenti berdetak apa mungkin Fang membunuh Ejojo. Segera saja BoBoiBoy berlari kearah toilet. Sesampainya didepan toilet BoBoiBoy melihat sekumpulan anak yang penasaran melihat kedalam.

"Permisi.. Permisi.." ucap BoBoiBoy mencoba menerobos kerumunan.

Sekarang dia bisa melihatnya. Ejojo duduk meringkuk dengan mata yang tidak fokus dan wajah yang sangat pucat. Tubuhnya bergetar, tangannya memegang kepalanya dan nafasnya terengah-engah. Beberapa anak mencoba menenangkan Ejojo. BoBoiBoy juga melihat Fang yang berdiri didepan Ejojo dan menyeriangai kearahnya. Pandangan BoBoiBoy fokus kearah sang guru. Dimana sang guru terlihat amat ketakutan.

"Sekarang semuanya kembali kekelas dan biarkan pihak sekolah yang menangani ini." ucap seseorang yang diketahui adalah kepala sekolah disini.

Murid-murid yang tadi berdiri di depan pintu toilet menyingkir ketika beberapa guru masuk dan menghampiri cekgu Ejojo. Guru-guru itu memapah cekgu Ejojo yang masih bergetar hebat. BoBoiBoy menatap kepergian mereka sebentar. Semua murid telah meninggalkan toilet, namun tidak untuk BoBoiBoy. Dia masih berdiri ditempatnya dan menatap Fang.

"BoBoiBoy?!" panggil sebuah suara yang terasa sangat familiar baginya.

"Yaya?!" kata BoBoiBoy dan berbalik menghadap gadis berkerudung pink itu.

"Apa yang terjadi?" Tanya Yaya kebingungan namun juga terlihat panik.

"Aku tak tahu Yaya. Tiba-tiba saja cikgu sudah seperti itu. Ah iya, kemarin aku sudah membuka bukunya tapi ada bekas sobekan di halaman belakang dan biodata Fang tidak ada dibuku itu." ucap BoBoiBoy memberi penjelasan.

"Kalau begitu tak ada cara lain. Kita akan tanyakan langsung pada kepala sekolah hari ini." tegas Yaya.

"Tapi bagaimana kalau mereka menolak memberi tahu?"

"Kita akan minta bantuan Fang."

"Apa?!"

"Fang... kau bisa membantu kami?" tanya Yaya. meski ia tak bisa melihat Fang. Ia masih bisa merasakan bahwa Fang ada diruangan ini. BoBoiBoy yang memang bisa melihat Fang membalikkan badannya ke arah Fang. Dilihatnya Fang yang hanya diam ditempatnya dan menampakkan seringaian mengerikan yang membuat BoBoiBoy sedikit ketakutan. BoBoiBoy berbalik dan menghadap temannya itu.

"Bagaimana BoBoiBoy?" tanya Yaya berharap BoBoiBoy melihat Fang mengangguk atau memenuhi permintaannya.

"Dia hanya menyeringai." Kata BoBoiBoy masih sedikit takut.

"Kalau begitu dia setuju. Ayo kita pergi." ucap Yaya menarik tangan BoBoiBoy keluar dari toilet.

Mereka yakin misteri ini akan segera terpecahkan besok. Dan mereka bisa kembali ke kehidupan mereka tanpa misteri.

To Be Continued

Hai...hai..hai...

Maaf kan saya jika tulisan saya yang ini ambur adul.

Dan gaya bahasa nya berubah rubah. Karena saya mengerjakannya tidak dalam satu waktu.

Hehehehe

Maafkan saya juga karena lama sekali update.

Mungkin tinggal 1 atau 2 chap lagi.

Sebenarnya udah mau di publish... truss... dipikir-pikir lagi ntar kalo flash backnya ditarok sini mecahinnya gimana donk.

Nahh... mungkin chapter depan akan menguak kata-kata Fang yang 'keluarkan aku'. Tapi udah pada tahu kan di chapter ini maksud dari kata-kata 'keluarkan aku'.

Yahhh... itu aja AN-nya.

Terimakasih untuk aiko chiharu karena sudah memBeta fic saya...

Terimakasih juga untuk yang telah membaca memfollow, memfav dan mereview.

Akhir kata,review please dan sampai jumpa di chapter depan!