Arina nee-chan mengucapkan terimakasih untuk yang telah membaca, mereview, memfollow, dan memfavorit fic saya.
Well saya nggak tau mau ngebacot(?) apa.
Jadi
Selamat membaca.
Warning : Gaje, Abal, Aneh, OOC, Typo(s), dan segala macam kesalahan yang sangat sangat :3
7. Kejelasan dan akhir dari semuanya.
Semua murid di persilahkan pulang dikarenakan kejadian yang menimpa cekgu ejo jo. Banyakguru yang memeriksa kamar mandi tempat kejadian itu. dan tentu saja kejadian itu menjadi sumber berita para murid sekolah itu. Kali ini BoBoiBoy dan Yaya memilih untuk segera menyelesaikannya dengan bertanya kepada kepala sekolah. Mereka berdua, ah tidak lebih tepatnya bertiga, karena Fang juga akan ambil bagian dalam rencana mereka.
Dilorong sekolah yang lumayan sepi karena para murid sudah pulang, mereka berjalan ke ruang kepala sekolah.
'Tok Tok Tok' mereka mengetuk pintu perlahan.
"Permisi." Ucap Yaya sopan.
"Ah.. masuklah." Sahut suara dari dalam. Setelah dipersilahkan, merekapun masuk kedalam. "Duduklah." Ucap kepala sekolah itu ramah. BoBoiBoy dan Yayapun memilih duduk di kursi depan kepala sekolah, dengan sedikit gugup dan bingung apa yang harus mereka lakukan sekarang. Mereka saling berpandangan mencoba mencari jalan untuk membuka percakapan. Namun hal seperti ini adalah hal baru bagi mereka.
"Sepertinya kalian ada masalah. Ada yang perlu kalian bicarakan dengan saya?" Tanya kepala sekolah itu ketika melihat kedua anak didiknya.
Yaya menarik nafas, mencoba untuk tenang. Setelah merasa tenang, Yayapun memulai pembicaraan.
"Begini, sepuluh tahun yang lalu. Apakah ada siswa bernama Fang?" Tanya Yaya memulai. BoBoiBoy menatap serius kepala sekolah mereka yang tersentak, namun segera kembali mengendalikan dirinya.
"Dari mana kalian tahu?" Tanya kepala sekolah itu dengan ketenangan yang dipaksakan.
"Dia disini. Dia selalu mengatakan keluarkan aku." Ucap BoBoiBoy tak sabar.
"BoBoiBoy tenanglah. Memang benar kepala sekolah. Ada siswa ah tidak mungkin hanya arwahnya, yang meminta kami berdua untuk mengeluarkannya. Apa bapak bisa menjelaskan tentangnya?" Ucap Yaya sembari menenangkan BoBoiBoy yang mulai tidak sabar.
"Tidak ada yang namanya Fang, dalam sejarah siswa disini. Aku sudah menjadi kepala sekolah disini selama lima belas tahun, dan tak ada siswa yang bernama Fang." Ucap kepala sekolah itu sedikit gelagapan.
"Ada." Tegas BoBoiBoy menatap kepala sekolah tajam. Ia tak peduli siapa yang ditatapnya sekarang, namun iatahu bahwa kepala sekolah itu bihing. "Dia disini." Lanjutnya.
Suasana berubah suram, ketika Fang menampakkan dirinya. Angin dingin berhembus padahal mereka berada di dalam ruangan. Pintu terbanting dan jendela mulai bergerak tak beraturan. Bau anyir menguar dari sudut ruangan, dan tentu saja dari tubuh Fang yang sedang tersenyum mengerikan.
"Ada ... Dan aku disini." Ucap Fang dengan nadamengerikan yang menggema diseluruh ruangan. Kepala sekolah panik dan dia berdiri dan menatap sekeliling.
"Apa? Apa yang kalian lakukan?" Bentak kepala sekolah itu tajam pada BoBoiBoy dan Yaya.
"Dia hanya marah. Ceritakan pada kami tentang Fang." Gertak BoBoiBoy yang ikut berdiri. Kepala sekolah itupun mundur dengan langkah bergetar.
"Keluarkan aku. Keluarkan aku." Suara panik itu kembali terdengar, menggema di seluruh ruangan.
"Kau dan dia membunuhku." Suara panik tadi berubah menjadi suara dalam, yang sarat akan amarah. "Aku telah membunuh Adu du. Dan sekarang aku akan membunuhmu sebelum aku mengakhiri hidup pembunuhku." Lanjutnya dengan suara mengerikan yang sama.
"Fang, a-aku tak tahu apa apa." Kata kepala sekolah itu terbata.
"Fang hentikan. Kepala sekolah, tolong beritahukan pada kami. Kami tidak menginginkan insiden cekgu Ejo Jo terulang lagi." Ucap Yaya sedikit kelabakan. Meskipun ia yang merencanakan ini semua, namun sejujurnya ia masih ketakutan dengan semua aura suram yang Fang keluarkan. Begitu pula BoBoiBoy yang ada disampingnya. Ia bergetar, namun ia menahannya. Matanya sarat akan tekad ingin menyelesaikan ini semua sekarang, dan dia menahan ketakutannya untuk itu sekarang.
"A-aku akan menceritakannya." Ucap kepala sekolah dengan ketakutan yang amat sangat. Angin tak lagi berhembus, pintu dan jendelapun tak lagi bergerak tak beraturan, Bau anyir tak lagi mennyengat, dan Aura suram itu tak lagi terasa. Namun masih bisa sedikit mereka rasakan, itu menunjukkan bahwa fang masih ada disekitar mereka.
"Tapi lebih baik kita mendengarnya langsung dari Ejo Jo." Ucap kepala sekolah.
Kepala sekolah itu berdiri dan memilih untuk menemui cekgu Ejo Jo di ruang kesehatan. Yaya dan BoBoBoy mengikuti kepala sekolah, tentu saja dengan Fang di belakang mereka.
Sesampainya di ruang kesehatan, mereka melihat cekgu Ejo Jo yang mulai tenang. Ia sedang duduk dengan mata sedikit tidak fokus, dan tangannya memegang cangkir teh hangat.
"Ejo Jo ... sepertinya sudah saatnya kau menceritakan semuanya." Ucap kepala sekolah dengan tegas. Ia pun mengambil tempat duduk di depan Cekgu Ejojo. Cekgu Ejo jo tersentak dan menatap kepala sekolah dengan tatapan bertanya. Ia masih terlihat sangat syok dengan apa yang terjadi.
BoBoiBoy dan Yaya pun juga mengambil tempat duduk di dekap cekgu Ejo Jo. Siap mendengarkan, penuturan dari guru mereka. Cekgu Ejo Jo menatap BoBoiBoy dan Yaya.
"Apa kalian melihatnya? Apa kalian dimintai tolong olehnya? Apa dia menceritakannya pada kalian?" Tanya Cekgu Ejo Jo bertubi tubi dengan nada yang semakin meninggi. Matanya bergerak tak fokus dan masih memancarkan ketakutan.
"Ya." Ucap BoBoiBoy singkat dan yakin.
Cekgu Ejo Jo menggemgam cangkirnya, dan mulai bercerita dengan mata yang terfokus di satu titik.
"Aku tidak sengaja membunuhnya waktu itu."
Flashback
10 tahun yang lalu. Saat dimana Fang dibully oleh kedua teman ahh.. tidak.. musuhnya di sebuah gudang di pojok lorong sekolah yang sepi. ia mencoba memberontak dan mengeluarkan sumpah serapah pada makhluk menjijikkan didepannya itu. Hanya karena seorang gadis yang menurutnya tak penting dan mengganggu yang selalu menunggunya di depan kelas ketika akan jam istirahat dan mengajaknya kekantin atau memberinyan sekotak makan siang. Sungguh ia muak dengan gadis itu, gadis yang menjadi alasan kedua orang bodoh itu membawanya kesini. Tangan fang yang di kunci oleh Adudu teman dari orang yang menyukai gadis bodoh itu. Ejojo namanya. Dia adalah anak seorang pengusaha kaya yang menjadi donatur di sekolahnya sekarang ini. orang yang benar-benar bodoh, sok, dan menjijikkan di sekolahnya. Orang yang selalu ditakuti semua murid disana kecuali fang tentu saja. bersama teman ah.. tidak lebih tepat disebut budak yang selalu mengikuti apapun yang diperintahkan Ejojo. Ia hanya menatap Ejojo geram, dia menggerak-gerakkan tangannya tapi percuma dia sudah lemas karena dipukuli olh Ejojo. Dilihatnya Ejojo yang mengacungkan pisau kearahnya.
"Hah.. kau fikir aku takut?" bentak fang pada Ejojo dan menatap Ejojo garang. Ejojo mendecih dan kembali memukul perut Fang. Fang hanya menahan sakit diperutnya dan mulutnya yang mengeluarkan darah.
"Ughh.."
"Jangan sok jago kau Fang." Ucap Ejojo menjambak surai ungu fang agar ia mendongak. Dilepaskannya rambut fang dan
Bukk...
Dipukulnya wajah fang sekali lagi hingga ia terjatuh ketika adudu melepaskan pegangannya pada Fang. Kepala fang membentur pojok lemari yang ada diruangan itu dan mengeluarkan darah. Ejojo menarik kerah baju Fang untuk membuatnya berdiri dan dilemparkannya pada Adudu lagi untuk mengunci pergerakannya. Fang menundukkan kepalanya. tubuhnya lemas dan pandangannya terasa berkunang kunang.
"Huhh.. kau jangan berani-berani mendekati Zilla lagi, atau aku akan membunuhmu." Ancam Ejojo. Fang melihat Ejojo mengacungkan pisau kearahnya lagi. Ia masih tak gentar dengan ancaman Ejojo dan masih menatap Ejojo garang.
"Kau fikir aku takut dengan ancamanmu huhh?" kata Fang menantang. Ejojo semakin kesal ia memukul wajah Fang sekali. Ejojo mundur beberapa langkah dan menatap fang dengan pandangan meremehkan. Adudu pun melonggarkan kunciannya ketika melihat Fang tidak bergerak lagi. Namun dugaannya salah Fang langsun melepaskan tangannya dan berlari menerjang Ejojo. Ejojo yang lengah terkesiap dan tanpa disengaja menusukkan pisau yang di pegangnya ke perut Fang. Fang langsung memengang perutnya yang tertusuk pisau Ejojo dan jatuh tak sadarkan diri.
"Kau gila Ejojo.. Ejojo. Kau membunuhnya.. kau bilang kau takkan membunuhnya kan?" kata Adudu panik melihat Fang yang diam tak bergerak dengan wajahnya yang pucat.
"Aku tak sengaja Adudu. A-aku hanya..." ucap Ejojo terbata.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya seorang lelaki paruh baya yang datang tergopoh-gopoh masuk kedalam gudang. Matanya terbelalak ketika melihat Fang yang bersimbah darah dan Ejojo yang memegang pisau dengan darah yang masih menetes.
"Kalian membunuhnya?!" kata orang itu kaget.
"Ka-kami tak sengaja kepala sekolah. Kami ha-hanya.." ucap Adudu bingung.
"Kalian harus bertanggung jawab. Kalian akan saya laporkan kepolisi"
"Ti-tidak. Aku bisa dipenjara kalau anda melaporkannya kepolisi. Tolong rahasiakan ini dan kami akan membayar anda." Ucap Ejojo mencoba bernegosiasi. Orang itu telihat terdiam, jika ia melaporkan ini sekolah bisa tercemar nama baiknya dan kemingkinan besar orang tua Ejojo akan berhenti menjadi donasi di sekolah ini. tapi kalau tidak dilaporkan?
'Ah.. tak masalah anak itu pendiam dan tak memiliki keluarga disini. Tak akan ada yang menyadari dia menghilang.' Pikir sang kepala sekolah.
"Tak masalah asal kalian menyembunyikan tubuhnya dan jangan sampai ada yang tau tentang ini." putus kepala sekolah itu. Akhirnya mereka memutuskan untuk memasukkan tubuh Fang kedalam kotak kayu yang ada diruangan itu dan menyembunyikannya di bawah tumupukan kursi dan meja yang ada digudang itu.
Flash back end
"A-Aku tidak segaja. Aku benar benar tak sengaja." Ucap Cekgu Ejo Jo terbata setelah mengakhirir ceritanya.
BoBoiBoy dan Yaya saling pandang tak mengerti.
"Tapi apa maksud dengan kata kata 'keluarkan aku'?" tanya Yaya yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Apa mungkin ... ?" Gumam BoBoiBoy.
"Fang ... Fang belum mati saat itu." Sentak Ejo Jo.
"Cekgu kami harus melaporkan kalian ke polisi." Ucap BoBoiBoy.
Cekgu Ejo Jo dan kepala sekolah itu tersentak, mereka berada pada ambang rasa bersalah dan tidak ingin masuk ke penjara.
"Kalian tidak perlu repot repot pergi ke polisi untuk melaporkan mereka." Sahut sebuah suara di belakang mereka. Mereka semua tersentak dan menatap kebelakang, ternyata cekgu papa dan bebrapa petugas polisi sudah ada di ambang pintu.
"Cekgu? Bagaimana?"
"Cekgu sudah tahu semuanya. Awalnya cekgu memanggil polisi untuk membantu pemeriksaan akan kejadian yang menimpa cekgu Ejo Jo. Tapi cekgu mendengar pembicaraan kalian dan memutuskan untuk mendengarnya di balik pintu." Jelas Cekgu Papa.
"A-Aku tak mau masuk penjara." Ucap Cekgu Ejo Jo dengan ketakutan. Tangannya mencoba menangkap Yaya, ingin menjadikan Yaya sebagai sadera, karena ia tak bisa keluar lagi. Namun BoBoiBoy bertindak cepat dengan menarik tangan Yaya menjauh dari cekgu Ejo Jo. Ia langsung menjauh dan para polisi itu langsung menodongkan senjatanya ke Cekgu Ejo Jo dan kepala sekolah. Mereka terbelalak, namun merekahanya bisa pasrah. Mereka mengangkat tangan mereka, dan para polisi itu mulai memborgol tangan mereka.
BoBoiBoy dan Yaya hanya menatap kepergian kepala sekolah dan guru mereka yang dibawa oleh polisi.
"Semuanya berakhir." Ucap Yaya yang terus menatap kepergian guru guru mereka.
"Kalian melupakan tubuhku?" ucap seseorang di belakang mereka dengan nada agak kesal, namun tak ada kemarahan atau hawa negative di sekitar mereka. Kelihatannya Fang telah tenang sekarang. BoBoiBoy dan Yaya berbalik dan melihat Fang. Tak ada darah ataupun bentuk mengerikan dari Fang. Yang ada hanyalah seorang lelaki bersurai ungu dengan wajah yang pucat, dan seragam sekolah yang sama seperti mereka, namun dengan aksen yang lebih tua. Dia menggunkan kacamata bergagang nila yang sedang di peganginya dengan gaya keren.
"Jadi ini hantu yang selama ini menakutiku dan BoBoiBoy?" tanya Yaya tak percaya.
"Comel." Ucap BoBoiBoy.
"Aku tidak comel. Sudahlah sudah baik aku menunjukkan diri dengan penampilan seperti ini. Atau kalian lebih suka aku yang berdarah darah?" Ucapnya sedikit kesal.
"Ah... tidak tidak aku lebih suka kau yang begini." Ucap Yaya sedikit panik.
"BoBoiBoy, Yaya kalian sedang bicara apa?" ucap Cekgu Papa di belakang mereka.
"Umm... tidak cekgu. Itu ... mayat Fang belum ditemukan." Ucap Yaya sedikit bingung.
"Ah iya. Itu pak polisi ..." Ucap cekgu Papa yang langsung memanggil salah satu petugas polisi.
Epilouge
Mayat Fang telah berhasil di temukan di gudang dekat kelas mereka, sesuai dengan apa yang diceritakan Cekgu Ejo Jo dan Kepala sekolah. Memang benar dugaan mereka, Fang belum mati saat itu. Kotak tempat sisa tulang belulang Fang di sembunyikan, penuh dengan cakaran. Nampaknya ia tewas karena kehabisan nafas didalam kotak itu. Sekolah sangat gempar akan terungkapnya, misteri kehilangan Fang yang terjadi sepuluh tahun yang lalu. Ada banyak warga yang melihat pengangkatan mayat Fang disana.
Saat ini BoBoiBoy dan Yaya sedang bersantai di taman belakang sekolah, setelah melihat semua pengangkatan mayat Fang.
"Hahh... Ini benar benar selesai kan. Pengalawan yang mengerikan." Desah BoBoiBoy.
"Pengalaman mengerikan karena melihatku?" Ucap seseorang dibelakang mereka. Mereka reflek langsung melihat kebelakang. Ternyata itu adalah Fang, dengan penampilan tidak seramnya.
"Itu salah satunya." Ucap BoBoiBoy santai seolah ia sedang berbicara dengan teman sekelasnya.
"Hmph..."
"Ngomong ngomong Fang. Apa maksudmu dengan membunuh Adu du?" Tanya Yaya penasaran.
"Dia mati kecelakaan sekitar 5 tahu lalu di depan sekolah ini. Aku hanya menunjukkan diri di sampingnya." Ucap Fang acuh.
"Dengan penampilan serammu, siapa yang tidak takut saat kau tiba tiba muncul disampingnya." Ucap BoBoiBoy sembari melihat Fang. "Oh... Fang kenapa selama sepuluh tahun, kau tidak meminta bantuan ke orang lain. Kenapa aku?"
"Jika yang lain bisa melihatku, aku akan minta bantuan kemereka. Adapun mereka langsung takut, lalu pindah. Dan gadis itu, oh siapa namamu tadi?"
"Yaya." Sahut Yaya.
"Ah.. iya Yaya. Dia tidak bisa membantuku. Tapi kau bisa melihatku dan membantuku. Hanya itu alasannya." Ucap Fang santai.
"Apa kau sudah bisa kembali?" Tanya Yaya kalem.
"Sudah." Ucap Fang dengan senyum. "Yahh... saatnya aku balas budi. Yaya, BoBoiBoy menyukaimu. Tapi dia terlalu bodoh untuk mengatakan langsung padamu." Ucap Fang santai.
"Hey..." Hardik BoBoiBoy namun tidak digubris Fang dan terus melanjutkan ucapannya.
"Jadi aku harap kalian menjadi sepasang kekasih. Dan BoBoiBoy aku sudah membalas budi mu. Terimakasih." Ucapnya senang bersamaan dengan menghilangnya Fang.
"Ternyata dia baik." Ucap BoBoiBoy masih menatap tempat Fang berdiri tadi. Namun tidak dengan Yaya, ia menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah sempurna. "Yaya kau sakit?" Tanya BoBoiBoy khawatir ketika ia melihat Yaya.
"Ti-Tidak. Umm.. BoBoiBoy apakah benar tadi ..." Ucap Yaya malu.
"Ya, Yaya. apakah kau mau menjadi kekasihku?" Ucap BoBoiBoy sembari menatap Yaya serius. Yaya semakin memerah melihat BoBoiBoy.
"A-Aku mau." Ucapnya sembari membuang muka.
"Terimakasih." Ucap BoBoiBoy lembut.
BoBoiBoy dan Yaya masih duduk sambil berbincang ringan. Mereka tersenyum sesekali tertawa, ketika BoBoiBoy mempraktekan sesuatu yang konyol. Mereka merasa bebas dari hal yang menimpa mereka beberapa hari ini.
"Ahhh... semuanya, selesai. Aku senang semuanya berakhir." Ucap BoBoiBoy dengan semangat.
"Ahahaha... pengalaman yang benar benar tak bisa kulupakan." Ucap Yaya sembari tersenyum lembut.
"Hiks... Hiks..." mereka mendengar sebuah tangisan dari belakang bangku yang mereka duduki. "Mama ... jangan tinggalkan Megu, Megu sedih. Kenapa mama membunuh Megu? Hiks..."
"Eh?" Yaya dan BoBoiBoy mencoba melihat kebelakang. Disana mereka bisa melihat, seorang anak kecil. Meringkuk dan menangis dengan memeluk boneka. Merasa di tatap, anak itu mengangkat wajahnya dan melihat ke BoBoiBoy dan Yaya. Namun alangkah terkejutnya mereka, anak itu tidak memiliki bola mata, dan darah masih menetes deras dari kedua matanya yang kosong. Tubuhnya penuh luka dan bonekanya bersimbah darah.
"Kakak, bawa Megu kembali ke mama." Ucap Anak itu menakutkan.
"TIDAAAAAAAKKKKK..." Teriak BoBoiBoy sembari menarik tangan Yaya pergi keluar area sekolah.
Anak itu tertawa kecil, dan menatap orang yang membaca cerita ini.
"Kakak, bawa Megu ke mama." Ucapnya sembari mengulurkan tangan ke kalian dengan seringaian mengerikan.
End
Well... aku nggak tahu mau ngomong apa. Kalian pasti bacanya sedang ada backsoud 'krik krik' :v
Hahahaha... Yahh... saya tidak tahu mau kasih ending gimana, jadi Cuma bisa begini.
Well... sedikit romance buat bumbu(?), Saya nggak bisa romance *sedih* #dihajarramerame
Wahhh... iya. Sumimasen desuta...
Arina nee chan sangat lama tidak melanjutkan cerita ini. Mana nggak serem lagi -,-
Maklumin aja, ini sayanya bener bener penakut sama hal mistis, tapi nekad '-' #dibakar
Yahh.. End, sudah End. Yeyeye lalalala yeyeye lalalala #Dilemparmeja
Saya juga sedang berusaha lanjutin ep ep yang lain. '-'
Sampai jumpa di ep ep Arina nee chan yang lain.
Akhiru kata Repiew please :3
