Tak pernah terbayangkan atau terpikirkan oleh Hinata kalau dirinya akan menikah secepat ini terlebih menikah dengan pria pujaan hatinya yang beberapa waktu lalu telah menolak cintanya.
Tapi hidup bersama dengan sang Sensei lebih baik dari pada harus terlunta-lunta dijalanan bersama sang adik karena diusir oleh seorang renternir yang menagih semua hutang mendiang sang ayah padanya.
Hinata Hyuga atau lebih tepatnya Hinata Uchiha, seorang murid SMA, kakak juga ibu bagi Hanabi sekaligus istri dari seorang Sensei tampan bermata kelam yang merupakan wali kelasnya disekolah, Itachi Uchiha.
Entah kehidupan seperti apa yang akan dijalani oleh Hinata.
Tapi didalam lubuk hatinya yang terdalam gadis cantik bermata bulan ini mengharapakan kebahagian bersama keluarga barunya karena kini yang dimiliki olehnya hanyalah Hanabi serta sang suami.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Romance, Family
Pair : Hinata. H x Itachi. U x
~ A Secret Marriage ~
WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, EYD amburadul, Alur cepat, Terinspirasi dari sebuah komik tapi dengan jalur cerita yang berbeda, Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, OOC, OC, CRACK PAIR dan masih banyak kekurangannya.
PLEASE IF YOU DON'T LIKE DON'T READ
.
.
.
X0X0X0X0X0X0X0X
Pagi ini tidak ada yang berbeda dari SMA Konoha, semua murid terlihat melakukan aktiftitas mereka seperti biasanya ketika datang ke sekolah. Ada yang duduk didalam kelas membaca buku, bersendau gurau di dekat koridor termasuk dengan gadis bermata lavender yang saat ini tengah berjalan pelan mendekap erat tas sekolahnya berjalan di koridor menuju kelasnya di latai dua.
Senyum sapa ramah ia tunjukkan ketika bertemu atau berpapasan dengan salah satu teman sekelasnya dan murid yang dikenalnya.
SREEEKKK
Dibukanya pintu kelas dan suasana kelas-pun sudah ramai.
"Selamat pagi." Sapanya pelan kepada seluruh teman-temannya ketika masuk kelas kemudian berjalan dan duduk di bangkunya yang berada dekat jendela.
TING TONG
Bel pelajaran pertama terdengar menggema ke seluruh sekolah.
Para murid yang masih berada di korido sekolah mulai masuk kedalam kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran tapi ada beberapa siswa yang berlarian masuk kelas karena telat datang dan pemandangan seperti ini sudah biasa terjadi setiap paginya.
"Hey Hinata," panggil pemuda tampan bermata biru disampingnya.
"Ya, ada apa Naruto-kun," sahutnya.
"Apakah kau sudah mengerjakan tugas dari Kakashi-Sensei?" tanyanya sedikit berbisik.
"Sudah," jawab Hinata singkat.
Senyum senang menghiasi wajah tampan Naruto, "Tolong pinjamkan aku tugasmu Hinata," Naruto melipat kedua tangannya seraya menundukkan wajahnya memohon pada gadis manis yang duduk disamping mejanya.
"Tapi Naruto-kun..."
"Aku mohon padamu Hinata," Naruto memandang Hinata dengan kedua mata puppy eyes andalannya dan akhirnya Hinata luluh.
"Baiklah, aku akan meminjamkannya tapi ini yang terakhir kalinya." Hinata memberikan buku pelajaran sejarah dunia pada Naruto dan pemuda tampan bersurai kuning itu berteriak senang.
"Kau memang teman yang baik sekali Hinata." Naruto tersenyum cerah seraya memamerkan deretan gigi putihnya.
Setelah memberikan buku sejarah miliknya, Hinata memilih duduk tenang di mejanya seraya menopang dagu menantikan pelajaran pertama yaitu bahasa Inggris. Buku tulis, buku pelajaran bahasa Inggris sudah dikeluarkan Hinata dari dalam tas juga peralatan tulis berada rapih disisi meja. Dengan perasaan antsuias dan sedikit berdebar-debar gadis cantik bersurai indigo ini menantikan kedatangan sang Sensei yang akan mengajar dikelasnya.
SREKK!
Pintu ruangan kelas terbuka menampilkan seorang pria tampan bersurai hitam panjang menghambur masuk kedalam kelas dengan menenteng beberap buku pelajaran ditangannya.
"Selamat pagi Sensei," sapa semua murid bersamaan termasuk gadis cantik bersurai indigo panjang yang duduk paling belakang di kelas saat Sensei tampan itu masuk.
"Selamat pagi juga anak-anak," balas Sensei tampan itu ramah.
Senyum merekah langsung mengembang diwajah gadis cantik bermata bulan ini saat melihat Sensei pujaan hatinya atau lebih tepatnya sang suami masuk kedalam kelas untuk mengajarkan pelajaran yang disukainya.
"Sensei akan mengabsen setiap murid dan kalian harus menyahut jika nama kalian dipnggil." Ujarnya seraya membuka buku absen kelas.
Satu persatu murid dikelas ini dipanggil dan semuanya menjawab menyahut panggilan dari sang Sensei hingga nama gadis bersurai indigo panjang itu dipanggilnya.
"Hinata Hyuga."
"Ha-hadir." Sahutnya gugup dengan wajah tertunduk malu menatap wajah sang Sensei.
Setelah semua murid di absennya, pelajaran-pun dimulai. Dengan antusia dan penuh kosenterasi Hinata mengamati serta memperhatikan pelajaran yang tengah disampaikan oleh Sensei tampan bermata kelam itu tanpa melewatkan sedikit-pun pembahasan yang disampaikan.
Hingga tak terasa kalau pelajaran pertama sudah berakhir dan hal ini membuat Hinata sedikit kecewa karena tidak bisa melihat serta memandangi wajah tampan suaminya. Padahal setiap hari mereka bertemu di rumah mengingat seminggu yang lalu Itachi menikahinya serta membawa Hinata dan sang adik tinggal di apartemen mewah milik Itachi.
"Tolong tugas yang kalian kerjakan tadi kumpulkan dan Sensei minta Hinata yang membawakannya keruang guru." Ujarnya seraya pergi keluar meninggalkan kelas.
"Baik, Sensei!"
Satu persatu teman-teman dikelas Hinata mengumpulkan buku berisikan tugas bahasa Inggris dari Sensei bersurai hitam panjang itu. Setelah semuanya sudah terkumpul Hinata membawanya ke meja Itachi.
"Hup!" Hinata membawa semua tumpukkan buku hasil tugas teman-temannya.
"Apakah kau memerlukan bantuan Hinata?" tanya seorang pemuda tampan bersurai kuning bernama Naruto Uzumaki teman sekelas Hinata.
"Tid..."
Srek
Naruto keburu mengambil setengah tumpukkan buku dari tangan Hinata, "Aku akan membantumu membawakan buku ini, hitung-hitung sebagai balasan atas yang tadi." Naruto tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Terima kasih Naruto-kun,"
"Sama-sama."
Keduanya-pun pergi ke ruang guru sambil berbincang tapi yang lebih banyak berbicara tentunya Naruto mengingat pemuda tampan bermata biru ini sangat ceria juga terkenal cerewet dikelasnya sedangkan Hinata hanya menjawab seadanya dan lebih banyak tersenyum karena notabenya Hinata adalah gadis pendiam. Hinata sudah mengenal Naruto sejak duduk dibangku SMP, tapi Hinata tidak begitu dekat dan akrab dengan Naruto mengingat dirinya gadis pemalu, kikuk dan jarang bergaul dengan teman-teman sekelas karena sibuk mencari uang demi membantu perekonomian keluarganya saat itu.
"Permisi," ucap Hinata seraya masuk kedalam ruangan guru dan menghampiri Itachi yang tengah duduk di kursinya.
"Terima kasih sudah membawanya Hinata dan..." Itachi melirik pemuda bermata biru didepannya sekilas, "Naruto," sambungnya.
Keduanya sedikit membungkukkan tubuhnya kemudian pamit pergi dan kembali kedalam kelas. "Itu tanda terima kasihku untukmu." Itachi memberikan roti melon pada Hinata.
"Terima kasih Sensei." Hinata menerimanya dengan senang hati.
"Lalu untukku mana Itachi-Sensei, masa hanya Hinata yang diberikan hadiah. Aku juga ikut membawa tugas itu bersamanya," protes Naruto pada Sensei tampan itu.
Puk
Itachi memberikan sekotak permen kecil pada Naruto dan pemuda berkulit tan itu merasa senang, "Terima kasih, Sensei. Ayo Hinata kita kembali ke kelas." Naruto menarik tangan Hinata keluar kelas meninggalkan Sensei tampan bermata kelam yang memandang penuh arti pada kedua anak remaja itu.
TING TONG
Bel istirahat berbunyi dan seprti biasanya Hinata akan pergi kebelakang sekolah untuk makan siang seorang diri karena Hinata tidak memiliki teman dekat atau yang bisa diajak untuk makan siang bersama mengingat dirinya jarang bergaul atau berinteraksi dengan teman-teman perempuan dikelasnya.
Dddrtttt
Ponsel lipat milik Hinata bergetar dan saat dilihat ternyata pesan dari Itachi.
Re : Ita-Kun
Sub : Menu makan malam
'Hari ini aku pulang telat dan nanti malam aku ingin makan kare buatanmu.'
Hinata tersenyum kecil membacanya dan setelah dibaca ia langsung menghapus pesan e-mail itu agar tidak terbaca oleh orang lain mengingat status mereka sebagai suami istri dirahasiakan dari pihak sekolah.
"Baiklah, aku akan membuat kare yang enak untuk Sensei." Gumam Hinata senang.
Setelah menghabiskan makan siangnya Hinata kembali ke dalam kelas dan menunggu bel masuk untuk mengikuti pelajaran. Bagi Hinata sekolah adalah tempat yang menyenangkan karena bisa bertemu teman-temannnya juga dengan sang Sensei.
TING TONG
Bel pelajaran terakhir berbunyi menandakan kalau sekolah telah usai. Hinata merapihkan cepat peralatan sekolahnya dan bergegas untuk pulang. Dan saat pulang sekolah Hinata mampir ke super market terlebih dahulu untuk membeli bahan masakan untuk membuat kare setelah sebelumnya menjemput Hanabi di tk.
"Hari ini Nee-chan mau masak apa?" tanya Hanabi penasaran dengan menggandengan tangan kanan sang kakak.
"Kare," jawab Hinata lembut.
"Asikkk!" seru Hanabi girang karena sudah lama tidak makan kare.
"Isi karenya harus banyak dagingnya, Nee-chan," pinta Hanabi.
"Ya, Nee-chan akan masukkan banyak daging juga sayuran tentunya," ujar Hinata.
Wajah Hanabi langsung berubah cemberut saat mendengar kata sayuran dari sang kakak, "Aku tidak mau kare yang isinya sayuran," rajuknya.
Hinata duduk berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan sang adik, "Sayuran juga penting dan bagus untukmu,"
"Tapi sayuran itu rasanya pahit dan tidak enak Nee-chan,"
Hinata tersenyum kecil melihat sang adik yang menolak makan sayuran, "Dulu Nee-chan juga tidak suka sayuran tapi setiap hari memakannya lama-kelamaan suka, begitupula dengan Hanabi nantinya" Hinata mencubit pelan hidung mancung sang adik.
"Itu kan Nee-chan, bukan aku." Hanabi masih memanyunkan bibirnya kedepan.
Hinata tersenyum kecil melihat ekspresi wajah sang adik dan menggandeng kembali tangan Hanabi masuk kedalam supermarket membeli bahan masakan untuk kare juga bahan makanan yang sudah hampir habis.
"Nee-chan, aku mau makan cokelat," Hanabi menarik ujung rok sang kakak.
"Tidak boleh, kau baru cabut gigi," tolak sang kakak.
Kedua mata Hanabi berkaca-kaca dan menggigit keras bibir bawahnya menahan tangis.
Sruk..
Hinata mengusap pelan puncak kepala sang adik, "Nee-chan janji minggu depan akan belikan kue cokelat kesukaan Hanabi," rayu Hinata.
tangan kanan Hanabi terangkat keatas lalu menunjukkan dua jarinya kepada sang kakak, "Dua, aku ingin Nee-chan membelikannya dua kue cokelat untukku,"
"Ya, kakak akan membelikannya jadi jangan menangis dan merajuk lagi, ayo kita lanjutkan membeli bahan kare bukankah Hanabi ingin makan kare buatan kakak,"
"Hmm..." angguk Hanabi.
Hinata-pun melanjutkan berbelanja kembali dan setelah semua bahan yang dibutuhkan terbeli, Hinata pergi ke kasir untuk membayar semua belanjaannya tapi ketika mengantri di kasir ia melihat seorang pemuda mengenakan jaket hoodie terlihat kesusahan mencari dompetnya.
"Dompetku tidak ada," teriak pemuda tampan ini panik.
Sang kasir menatap curiga pemuda yang berpenampilan aneh ini, "Jika anda tidak punya uang untuk membeli barang disini jangan masuk," omelnya.
"Jangan menghinaku Nona, aku bisa membeli toko ini juga kau jika aku mau," balasnya tak mau kalah.
"Berapa total semua belajaannya?" tanya Hinata dari belakang tubuh tinggi pemuda itu.
"570 yen," jawab kasir super market.
"Ya, sudah biar aku yang membayarnya," Hinata memberikan selembar uang seribu yen pada kasir dan masalah selesai.
"Aku tidak butuh belas kasihanmu Nona," ujar pemuda ini ketus.
Hinata memandang sebal pada pemuda didepannya ini, sudah ditolong bukannya berterima kasih malah menghinanya, "Apakah anda tidak pernah diajarkan cara berterima kasih oleh orang tua anda," ujar Hinata kesal.
"Kau..."
Ddddrrtttt...
Ponsel canggih milik pemuda ini bergetar cepat dan tak lama setelah diangkat pemuda berjaket hoodie hitam ini pergi meninggalkan super market dengan menenteng belanjaannya yang terdiri dari air mineral dan dua buah cokelat berisikan kacang almond.
Hinata mendengus sebal serta kesal pada pemuda asing itu dan cepat-cepat menyelesaikan belanjaannya. Saat kelur dari supermarket hari sudah gelap buru-buru Hinata dan Hanabi pulang kerumah agar tidak terlambat membuat masakan malam untuknya juga Itachi.
oOoOoOoOoO
Seorang gadis bersurai indigo panjang dengan rambut dikuncir satu keatas mengenakan apron berwarna biru dengan motif kepala kucing yang dikenakannya terlihat sibuk memask didapur.
Tek
Tek
Tek
Jari-jari lentiknya telaten dan terampil mengiris, memotong juga mencampur adukan bahan makanan serta bumbu kedalam sebuah kuali yang cukup besar dihadapannya.
Sesekali dicicipinya kuah kare buatannya agar bumbunya terasa pas dilidah dan tak terlalu asin. Dibelakang gadis itu duduk seorang gadis kecil bersurai cokelat panjang dengan iris lavender senada dengan milik gadis bersurai indigo panjang itu, terlihat duduk bosan dengan menaruh dagunya diatas meja menatap penuh harap pada sang kakak yang tengah memasak makan malam.
"Nee-chan, apakah masakannya sudah matang. Aku lapar," rajuknya dengan sedikit memajukan bibirnya.
Tawa kecil menghiasi wajah cantik gadis bermata levender itu, "Tunggu sebentar Hanabi," balasnya lembut.
CTEK...
Hinata mematikan api kompor, lalu membawa panci berukuran sedang dan membawanya ke meja makan.
Hanabi mengangkat dagunya lalu sedikit memajukkan wajahnya menghirup aroma kare yang membuat perutnya semakin lapar dan segera ingin memakan masakan sang kakak yang memang enak.
Hinata melepas apron yang dipakainya lalu menggantungnya kembali ketempat semula yaitu disamping lemari pendingin.
"Nee-chan, kenapa Itachi-Nii belum pulang?" tanya Hanabi seraya memandangi jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam.
Hinata mengelus pelan puncak kepala sang adik, "Sensei, pulang agak telat karena harus memeriksa hasil ujian,"
"Aku tidak mau makan kalau tidak ada Itachi-Nii," rengek Hanabi seraya melipat kedua tangannya membuang muka pada sang kakak.
Hinata mendesah cepat melihat kelakukan dan sikap sang adik. Semenjak tinggal bersama sang Sensei yang merupakan suami sekaligus wali kelas Hinata disekolah sikap Hanabi menjadi sangat manja dan selalu menempel erat pada pria bersurai hitam itu karena sifat lembut yang dimiliki oleh Itachi membuat hati Hanabi luluh.
CKLEK
Terdengar suara pintu terbuka dan seorang pria bersurai hitam menghambur masuk kedalam rumah dengan menenteng sebuah tas berukuran sedang.
"Aku pulang," ucapnya.
Hanabi dan Hinata langsung pergi ke arah depan untuk menyambut kedatangn pria itu yang tak lain adalah Itachi.
"Selamat datang, Sensei." Sambut Hinata seraya membungkukkan tubuhnya.
BRUK
Hanabi menubrukkan tubuhnya memeluk Itachi, "Kenapa, Itachi-Nii lama sekali datangnya,"
Itachi mengelus pelan puncak kepala Hanabi seraya tersenyum lembut, "Maafkan aku, Hanabi-chan dan Hinata karena lama menunggu kedatanganku,"
Hanabi menganggukkan kepalanya cepat, "Ayo, cepat kita makan malam bersama," ujarnya seraya menari-narik tangan Itachi menuju ruang makan.
Hinata meraih tas kerja milik Itachi dan menaruhnya ke dalam kamar sementar itu Hanabi menarik Itachi ke meja makan untuk segera makan malam bersama karena perutnya sudah terasa lapar dan ingin makan kare buatan sang kakak.
Mereka bertiga-pun duduk bersama di meja makan menikmati makan malam bersama, bagi Hanabi yang hanya tinggal berdua dengan sang kakak kehadiran Itachi didalam kehidupan mereka berdua membuatnya seperti memiliki keluarga yang lengkap karena bagi gadis kecil bermata bulan ini Itachi sosok pengganti sang ayah yang telah tiada.
Setelah makan malam usai, Hinata membereskan meja makan lalu mencuci semua piring kotor yang ada sementara itu Itachi mandi air hangat yang sudah disiapkan Hinata.
Saat Itachi baru keluar dari kamar mandi, Hanabi berjalan menghampirinya dengan membawa selembar kertas putih ditangannya.
"Itachi-Nii," panggil Hanabi.
"Ya, ada apa Hanabi-chan," sahut Itachi lembut seraya berjongkok menyamakan tinggi badanya dengan sang adik ipar.
Hanabi memberikan sebuah selebaran pada Itachi, "Ini dari Anko Sensei,"
Itachi menerimanya lalu membacanya, "Acara pementasan drama!?" seru Itachi.
Hinata yang sudah selesai dengan pekerjaan di dapur berjalan mendekat pada Itachi dan sang adik yang tengah duduk diruang tengah.
"Jadi minggu depan di tk ada acara seperti ini," ujar Itachi.
"Uhm," angguk Hanabi penuh semangat.
"Kelas Hanabi akan mementaskan drama Cinderella dan Hanabi yang berperan menjadi Cinderellanya," ujar Hanabi dengan senyum lebar mengembang diwajahnya.
"Wah, itu bagus! Lalu siapa yang menjadi pangeran tampannya?" tanya Itachi mulai antusia.
Wajah Hanabi sedikit manyun ketika harus menjawab pertanyaan dari Itachi, "Konohamaru," jawabnya malas.
"Kenapa wajahmu seperti itu Hanabi-chan?"
"Habis aku harus berpasangan dengan Konohamaru, murid paling jahil dan menyebalkan dikelasku," gerutu Hanabi sambil sedikit memanyunkan bibirnya.
Itachi terkekeh kecil ekspresi wajah Hanabi lalu diraihnya tubuh Hanabi dan di dudukkannya diatas paha Itachi, "Lalu siapa yang Hanabi inginkan menjadi peran pangerannya?" tanyanya lembut.
Blush
Rona merah tipis menghiasi wajah mungil Hanabi, "Kenji," jawab Hanabi polos.
"Apakah dia tampan?" goda Itachi dengan menahan tawa.
"Uhm, tapi tidak setampan dan sekeren Itachi-Nii," balas Hanabi.
Hinata yang sudah selesai dengan pekerjaannya di dapur menghampiri Itachi dan Hanabi yang terlihat tengah bersendau gurau di ruang tengah. Hinata ikut bergabung dan duduk disamping Itachi, ia juga membaca selebaran dari sekolah Hanabi.
"Kakak yang akan menghadirinya karena Sensei tidak bisa datang," kata Hinata memberikan pengertian pada sang adik.
"Aku ingin Itachi-Nii juga ikut," rajuk Hanabi dengan bibir sedikit maju.
"Tapi Sensei si-"
"Tenang saja aku pasti datang untuk melihat Hanabi-chan memerankanCinderella," sela Itachi.
Wajah Hanabi langsung sumeringah senang mendengarnya dan memeluk erat Itachi, "Terima kasih Itachi-Nii."
"Tapi Sensei an..."
"Kini aku juga bagian keluarga kalian dan aku akan datang bersamamu sebagai pengganti ayahnya dan kau ibunya," ujar Itachi seraya tersenyum lembut.
Blush...
Wajah Hinata merona merah mendengarnya, ada perasaan senang dan bahagia yang menyusup di relung hatinya tak kala pria tampan itu mengatakan kalau ia bagian keluarganya.
Hinata tersenyum kecil melihat kebaikan hati Itachi karena mau ikut datang menemani Hanabi dalam acara sekolah. Gadis cantik bermata lavender ini bersyukur karena bisa menjadi istri Itachi walaupun awalnya Hinata melakukannya demi menyelamatkan adiknya dan memberi mereka tempat tinggal.
Hinata sempat berpikri kalau Itachi hanya mencari keuntungan darinya karena sudah menolongnya dan sang adik, tapi ternyata Sensei tampan itu tidak melakukan hal yang tidak-tidak seperti apa yang sudah dibayangakn oleh Hinata.
Bahkan sikap Itachi begitu baik, lembut, sopan padanya juga Hanabi, membuatnya semakin jatuh cinta pada sosok pria bersurai hitam panjang itu.
Walaupun sudah menikah dan berstatus sebagai suami istri tapi Hinata dan Itachi tidak tidur satu kamar mengingat pernikahan yang dilakukan mereka berdua bukan berlandaskan sebuah perasaan cinta karena keadaan serta situasi darurat menurut pemikiran Hinata sendiri.
"Selamat malam Sensei," ucap Hinata sopan.
"Selamat malam juga Hinata." Balasnya.
Hinata-pun beranjak pergi menuju kamarnya meninggalkan Itachi di meja kerjanya dengan tumpukkan kertas ujian yang tengah diperiksanya setelah sebelumnya Hinata datang membawakan secangkir teh hijau dan camilan untuk Itachi.
*#*
Selama satu minggu ini Hanabi terlihat terus berlatih bersandiwara di rumah dengan ditemani oleh Itachi yang berpura-pura berperan sebagai sang Pangeran sedangkan Hinata diminta oleh Hanabi untuk menjadi sang ibu tiri. Hal hasil setiap makan malam hingga jam sembilan malam Hanabi berlatih bersama dengan kedua kakaknya. Hanabi terlihat sangat antusia berlatih dan sangat mendalami perannya, padahal usia Hanabi masih lima tahun tapi ingin bisa tampil baik didepan semua penonton yang akan hadir di acara pementasan.
"Wajah tidurnya sangat lucu," ujar Itachi saat membaringkan tubuh Hanabi yang terlelap tidur diruang tengah.
"Ya tapi terkadang aku merasa sedih," ujar Hinata.
"Kenapa?"
"Kadang aku suka berpikir, andai saja jika ayah dan ibu masih hidup mungkin..." Kedua mata Hinata berkaca-kaca.
Sruk...
Itachi mengelus pelan puncak kepala Hinata, "Ada aku dan kau jadinya Hanabi tidak akan pernah merasa sendirian, kita berdua adalah orang tuanya," ujar Itachi lembut.
"Hm...Terima kasih Sensei."
"Ngh..." Hanabi menggeliyat pelan diatas kasurnya dan tak lama kedua matanya terbuka, "Itachi-Nii, Nee-chan," panggilnya paruh.
"Kenapa kau bangun Hanabi?"
GREP
Hanabi memegangi tangan Hinata dan Itachi, "Aku ingin tidur ditemani kalian berdua," rajuk Hanabi.
"Eh?" rona merah menghiasi wajah cantik Hinata, "I-itu...Nee-chan saja yang menemanimu tidur,"
Kedua mata Hanabi berkaca-kaca, "Tidak mau! Aku ingin tidur ditemani Itachi-Nii dan Nee-chan," rajuknya.
"Ta-tapi..."
"Baiklah, kakak akan menemanimu jadi tidur kembali," Itachi membaringkan tubuhnya disamping Hanabi, "Kau juga Hinata," lirik Itachi.
"I-iya..." Hinata membaringkan tubuhnya disamping Hanabi.
"Selamat tidur Nee-chan, Itachi-Nii. Awas saja kalau kalian berdua nanti malam mengendap-ngendap keluar kamarku dan meninggalkanku tidur sendirian,"ancam Hanabi.
"Tidak, Nee-chan tidak akan pergi meninggalkanmu. Jadi cepat tidurlah,"
Senyum merekah mengembang diwajah Hanabi, "Selamat tidur Okaa-san, Otousan." Ucapnya sesat sebelum memejamkan kedua matanya dan pergi ke alam mimpi.
Hinata hanya bisa tersenyum getir mendengarnya, mungkin saat ini Hanabi sangat ingin tidur ditemani oleh kedua orang tuanya yang sudah tiada, "Selamat tidur juga Hanabi." Balas Hinata lembut dan penuh kasih.
TBC
A/N : Akhirnya Inoue bisa melanjutkan Fic ini walaupun sempat mentok ide#Malah curhat^^
Terima kasih banyak kepada kalian semua yang sudah mau meriview, menyukai dan memfolow Fic ini membuat Inoue bersemangat untuk melanjutkan Fic ini kembali.
Cahya Uchiha : Terima kasih^^
virgo24 : Terima kasih atas semangatnya^^
kirei-neko : Memang idenya dari komik itu tapi sebagia besar jalan ceritanya akan Inoue rubah agar tidak sama tapi temanya sama dan tidak seribet komiknya karena akan saya modifikasi dengan imajinasi saya sendiri hehehe^^ tapi akan ada sedikit adegan yang sama seperti dikomik demi kebutuhan cerita.
: Sama aku juga suka pair ini, terima kasih udah mau mau membaca Fic ini.
Hikaru Sora 14 : Idenya dapet dari komik yang dibacanya, terima kasih sudah membaca Fic ini semoga suka dengan kelanjutannya.
sushimakipark : Maafkan saya karena mempublish Fic baru hehehe^^,, maafkan saya karena saya bukan Author yang teliti dan masih menemukan banyak kesalahan di Fic ini tapi terima kasih sudah mau membaca Fic ini.
Siti583 : Begitulah hehehe^^
HinaTama : Inoue tidak tega dan sanggup membuat Fic dengan tema angst ditambah dengan karakter utama cewenya Hinata, jadinya akan dibikin Fluffy saja dan makasih atas sarannya.
Hana Yuki no Hime : Terima kasih banyak sudah membaca Fic ini.
Inoue sangat senang karena Fic ini masih ada yang menyukai dan untuk kelanjutannya Inoue tidak bisa janji cepat karena masih punya hutang Fic banyak.
Inoue mengucapkan terima kasih banyak kepada siapapun yang sudah mau membaca Fic ini dan jika berkenan Read and Riviewnya.
Inoue Kazeka.
