Chapter 6: Kuroko dan para hantu hilang?.

Tittle: Misteri hantu di Gym.

Disclaimer: Kuroko no Basket milik Fujimaki Tadatoshi-sensei.

Warning: Gaje,Abal,OOC (kemungkinan over dosis),Absurd,OC,typo,Crack,kekerasan dan lain-lain…

Summary: Aku terperangkap!, Dan... kemana yang lain?. Semuanya kacau Aku tidak tahu harus kemana di ruangan yang entah namanya ini, semua pintu terkunci,SRENG!.. suara apa itu?. Ikuma-san dan Akemi-san bisakah kalian membantu aku keluar dari sini? Tapi tidak ada siapapun disini.

Genre: Horror, Friendship & Humor (Insya Allah)

Rated: T (biar aman)

Author's note: KYAAA! Sekolah sudah masuk!, Author panik nih. Takut nanti gak ada waktu untuk manamatkan Fanfic ini Uh!. Jadi nanti untuk waktu mengetiknya berkurang deh. Tapi ini saya lanjutkan… Maaf untuk para Readres..hiks..bakal dikit lemot ke chapter selanjutnya.

Jawaban untuk pertanyaan dari Love Akashi-kun. "Peran penting Kuroko-kun dimulai dari chapter ini sampai tamat jadi jangan kecewa ya?^^".

ENJOY!


.

.

.

.


'Kumohon jangan dulu…Kumohon Tuhan jangan dulu cabut nyawaku, Aku masih belum menikah dengan Mai-chan,menjadi seorang polisi dan menjuarai kejuaraan nasional!' Aomine meruntuk dalam hati sembari mempererat pelukannya pada tihang basket (?) . Setelah penglihatanya agak terbiasa dengan kegelapan ia melihat seseorang di bawah naungan cahaya bulan.

"Kau Aomine Daiki?" Tanya orang itu dengan suara serak, Aomine hanya bisa melihatnya wajahnya yang menggunakan topeng."Yah, darimana kau tahu namaku hah!?" kata Aomine dengan suara menantang, mencoba mengumpulkan kembali keberanianya ( meski setengah mati menahan untuk tidak mengompol ).

"Kemampuan hebat mu bermain basket… membuatmu akan MATI SEKARANG!" teriak orang itu lari akan menyerang Aomine dengan Katana lalu BUAK!.Sesorang mendorong Aomine sampai terbentur dinding sebelum ia pingsan ia melihat sosok seseorang berambut biru muda menatapnya khawatir…"Tetsu…?


.

.

: (

.

.


"Ugh…" erang Aomine."Dai-chan, kau sudah bangun?" Tanya Momoi khawatir. Aomine merasakan sakit di kepalanya. Lalu ia melirik ke sekitar."Uh, kenapa kepalamu harus sampai di perban sih nanodayo?"Tanya Midorima membereskan peralatan P3K ( Ingat ia calon doktor).

Aomine tidak menjawab pertanyaan Midorima, ia hanya melirik sekitarnya dan menjadari tidak ada seseorang. Atau tepatnya tidak ada bayangannya (?)."Mana Tetsu?" Tanya Aomine. Para anggota GoM dan Nijimura hanya menunduk atau mengeleng.

"Maaf.." tutur Akashi pelan."Tunggu apa yang kalian maksud HAH?!" Tanya Aomine."Ini di luar rencana kita ssu" kata Kise bersandar pada tihang basket." Mine-chin begini-" "Kalian jelaskan padaku?!" Aomine sudah tidak sabar, hingga memotong perkataan Murasakibara.

"Tenanglah dulu…"Nijimura meletakakan tangannya di kepala Aomine yang diperban tapi Aomine malah diam dan menetapa Nijimura dengan kesal."Kau ingin kami jelaskan tidak!?"lanjutnya tepat di telinga Aomine."Iya, Kapten!" balas Aomine di telinga Nijimura."Kalian berisik nanodayo" kata Midorima dengan perempatan ( jalan raya ) di dahinya."Begini Daiki…


FLASHBACK:

Saat latihan Basket sore sudah GoM dan Nijimura sedang ngerumpi di bench Gym (?). kebetulan tidak ada anggota klub basket lain disana (Tapi itu hanya perasaan mereka saja).

"Baik, guru penjas mengizinkan kita" kata Nijimura memberitahukan kabar baik (meski itu kabar buruk untuk Aomine)."Akashi-kun,ini tidak sampai tengah malam kan?" Tanya Kuroko."Memangnya kenapa Tetsuya?" Tanya Akashi."I-ini orang tuaku dan nenekku tak mengizinkan kalau sampai larut" lanjut kuroko (Patuh banget nih anak… Dan emang Kuroko cewek sampai diperatiin segitunya).

"Orang tuaku juga begitu, Akashi-kun.."kata Momoi menunjuk dirinya sendiri."Tenang saja, aku yang akan bertanggung jawab. Misi kita akan selesai sebelum tengah malam" jelas Akashi tersenyum tipis.

"Hey!, aku sungguh gak rela kalian sekejam ini padaku. Mengantarku pada si pembunuh. A-aku ini teman kalian juga meski hitam,Aku ini Ace tim regular di Klub basket kita meski kenyataannya aku ini mesum dan A-aku ma…masih.. MASIH INGIN HIDUP!" kata Aomine terlihat mata iris biru tuanya mulai berkaca-kaca.

Para GoM dan Nijimura menatap kasihan pada Aomine."Aominecchi kami hanya ingin menjadikamu umpan ssu" celetuk Kise sok yang sudah tahu akan terjadi keributan segera menjauh ke pojok Gym sembari membaca Koran ( Bukan majalah Mi-chan yang sering dibeli Ahomine pastinya ).

"UMPAN IKAN KEPALAMU PEANG!"Teriak Aomine ( yang bisa terdengar hingga gedung putih Amerika )." Berisik, nanodayo" sewot Midorima sampai menutup hidungnya… eh salah telinganya maksudnya."Midorima-kun benar, Aomine-kun kau berisik sama seperti Kise-kun" kata Kuroko dengan wajah watadosnya.

"Kuro-chin..nyam.. perkataanmu menyakiti…nyam.. mereka~" kata Murasakibara melihat Aomine dan Kise pundung."Sumimasen desu" ujar Kuroko membungkuk."Sudah, sudah… Kalian semua ini ribut mulu sih!" kesal NIjimura dengan aura hitamanya yang tak terkalahkan dukun manapun (?).

"Nih, dengar Aomine. Maksudnya kau akan berada di Gym saat malam untuk mengundang pembunuh itu datang Tapi tenang saja aku dan yang lain akan melindungimu, sebelum terjadi sesuatu yang buruk…" lanjut Nijimura."Iya, Dai-chan… Kami akan bersembunyi di tempat yang pembunuh itu tidak ketahui" kata Momoi.

"Aku sudah memberitahu yang sebenarnya aku maksud pada yang lain tadi saat di ruang ganti tapi, Aomine-kun datang telat…" kata Kuroko. Entah kenapa Aomine hanya lemas mendengar pernyataan teman-temannya itu." Hiks… Tak apa aku di jadikan umpan ikan lele ( Erro nih anak satu… ), Tapi aku senang ternyata kalian masih menganggap aku teman KALIAN!" kata Aomine penuh menghayatan ( OOC tingkat kecamatan ).semuanya sweatdrop…

"Berhenti bermain drama Daiki, aku ada 2 kabar buruk dan 2 kabar baik untuk kalian… Mana yang harus kuberitahukan pada kalian terlebih dahulu?" ujar Akashi kalem setelah membaca Koran."Memangnya Akashi-kun dapat informasi lagi?" Tanya Kuroko ( Dari awal Kuroko memang paling memeperhatikan misi ini…)."Kabar buruk,nanodayo…" ujar Midorima sembari membetulkan letak kacamatanya. Serempak yang lain mengangguk setuju.

"Kabar buruk yang pertama…" Akashi mengantungkan kalimatnya untuk mengambil nafas."Cepat ssu~" kata Kise pelan ( yang ternyata sedang menahan untuk tidak ngompol dari tadi)."… Sepertinya kita tak bisa menyelesaikan misi ini sebelum tengah malam. Dan aku harap kita bisa mendapatkan makanan atau sesuatu yang akan berguna nantinya…" ujar Akashi melipat tangan di depan dada. Semuanya agak kaget. "Tapi Akashi-kun-" "Aku tahu Tetsuya, Satsuki… Aku menarik perkataanku tadi (Akashi-kun, Laki-laki sejati tidak pernah menarik perkataanya kembali!... SRET!. #Akashimelempargunting. Akashi: Cepat lanjutkan, Jangan banyak bicara). Jadi maaf…" kata Akashi.

"Lalu yang kedua apa Aka-chin~?" Tanya Murasakibara (Sayangnya snacknya sudah habis… jadi tidak ada suara 'nyam' lagi)." Aku baru saja membaca sebuah berita di Koran… mayat pembunuhan dari Gym kita ini. Ada beberapa organnya yang hilang…" lanjut Akashi. Semuanya memasang wajah tak percaya."Hi-hidoii.." kata Momoi."Pembunuh itu bukan manusia nanodayo…" gumam Midorima."Iblis!" celetuk Njimura marah.

"Bukan hanya itu saja, dari 3 orang yang dibunuhnya ada kemungkinan besar bisa menghalangi rencana pembunuh misterius itu… Apapun rencana yang ia buat pasti akan sangat mengerikan…"kata Akashi."Hm, kami mengerti untuk berhati-hati, Akashi-kun" kata Kuroko tetap tenang."Uh, Akashicchi Ayo cepat dong, kabar baiknya ssu!" kata Kise ngotot."Kabar baik pertama, Kita akan mengikut sertakan Yukiko-senpai" kata Akashi."Tapi Akashi, kalau ia tidak mau?" Tanya Aomine."Firasatku bilang ia akan sangat membantu dan entah apa alasannya ia pasti akan ikut" lanjut Akashi yakin.

"Kedua?" Tanya Momoi."Aku baru saja dapat hadiah dari luar negeri oleh Tou-san… masing-masing dari kalian akan memakai hadiah itu" lanjutnya."Apa kita boleh pulang dulu Akashi-kun?" Tanya Kuroko."Tidak, Tetsuya. Daiki harus tetap disini. Dan jika kita meninggalkanya untuk pulang… Aku yakin pembunuh itu akan megoyak Daiki sebelum kita sampai kesini" jelas Akashi. Aomine langsung menelan (kotoran ayam) ludah.

"Nah, begini saja… Akashi, aku dan Momoi. Kita akan pulang untuk membawa barang-barang yang kita perlukan dan menjemput Senpai" kata Nijimura."Niji-chin, boleh ke konbini?" Tanya Murasakibara."Tentu, tapi harus tetap ada lebih dari 2 orang yang mengawasi tempat ini" jawabnya.

Lalu dengan menaiki mobil Limosin keluarga Akashi. Nijimura, Momoi dan Akashi pergi dari sekolah Teiko. Meninggalkan Midorima, Aomine, Kise dan Kuroko…


.

.

; P

.

.


"Uh, aku ke toilet dulu ssu" kata Kise buru-buru ke toilet."Umm Mido-chin antar aku ke Konbini ya?, snackku habis" pinta sang Titan mengacak-acak kantong snacknya ( siapa tahu ada snacknya yang tersisa)."Tidak nanodayo.."ujar Midorima ke ruang ganti."kalau begitu Kuro-chin?" Tanya Murasakibara."maaf, Murasakibara-kun" kata Kuroko membereskan tasnya lalu mengetik pesan di Handphone biru mudanya."Mine-chin?" Tanya Murasakibara pada Aomine yang mendribble bola basket dengan brutal."Hm, ayo… Aku harus mempersiapkan mental!" teriak Aomine semangat 45 (?) lalu mereka ber-dua ke kobini.

'Bukannya seharusnya Aomine-kun tetap disini ya?' pikir Kuroko lalu berjalan ke luar Gym.'Ini masih Sore… Matahari terbenam berwarna oranye itu indah' batinnya tersenyum tipis."Namamu Kuroko Tetsuya kan? Pemain bayangan, suka membaca buku dan menyukai minuman milkshake? Kita pernah bertemu sebelumnya kan?" Tanya suara wanita panjang (kali) lebar (Sama dengan luas).

"Si-siapa?" Kuroko langsung mencari-cari sumber suara. Lalu ia melihat seorang gadis remaja bersandar dibatang pohon."Kau Emiko-san?" Tanya Kuroko."Hm,Senang bisa bertemu denganmu lagi… Kuroko" kata Akemi tersenyum."Dia tampak lemah?" celetuk seseorang dibelakangnya."Jangan seperti itu Ikuma-kun…"ujar Akemi mengembungkan pipi.'Mirip Momoi-san…' pikir Kuroko. Lalu seorang laki-laki remaja keluar dari balik pohon."Maaf, yah?... Dia memang gak sopan tapi tetap saja dia pacarku" kata Akemi meminta maaf.

"Pacar?" gumam Kuroko."Etto… Bagaimana Aku bisa bicara dengan kalian?" Tanya Kuroko yang berada dibagian yang terkena cahaya matahari."Hmm, Bisa dikatakan sama dengan si kuning (yang suka mengambang di empang) dan si hijau ( yang ada di hutan lindung ). Kumohon jangan bertanya bagaimana itu terjadi.." jawab Akemi."Hmm, Baik" kata Kuroko mengangguk satu kali."Akemi-chan langsung saja sudah mau gelap" ujar Ikuma memperhatiakan langit yang mulai gelap.

"Oh, aku hampir lupa… Nee, Kuroko-kun Kami akan memberi satu keistimewaan lagi hanya untukmu yaitu kau bisa memanggil kami disaat kau benar-benar memebutuhkan kami. Dengan satu ketentuan saat orang yang dihatimu membutuhkan pertolongan yang tak bisa kau melakukannya sendiri" jelas Akemi.

"Tetsuya!?"suara Akashi memanggil dari dalam Gym."Tunggu sebentar Akashi-kun" balas Kuroko, Tapi saat ia kembali menghadap Ikuma dan Akemi. Mereka sudah tidak ada."K-kemana?" gumam Kuroko lalu bergegas kembali masuk Gym.


.

.

: [

.

.


"Aku lapar!" kata Aomine memakan dengan rakus makanan yang dibawa Akashi."Amaya-san, Konbawa" salam Kuroko"Hn" balas Yukiko."Tidak, ada waktu… Ini pakailah" kata Akashi memberikan peralatan yang ia katakan sebelumnya dan jaket yang warnanya sesuai dengan warna rambut teman-temannya (kecuali Aomine yang sibuk makan)."Untuk Yukiko-san ini" Akashi memberikan jaket berwarna pastel."Lalu ini kacamata yang dapat melihat dalam gelap. Tekan saja tombol di kiri kacamata sementara untuk mematiakan tekan tombol kanan" lanjut Akashi (seperti kapten tentara)." Jaket ini untuk apa ini Nanodayo?" Tanya Midorima.

"Jika kalian menaikkan lesleting jaketnya hingga habis, kalian akan tak terlihat…Untuk yang lainya nanti saja. Firasatku tak enak" kata iseng mencoba "Wah bener ssu,tanganku gak ada ssu!" kata Kise tidak terlihat."Nanti saja cobanya,BAKA! " kata Nijimura menjewer telinga Kise."Aww, kenapa kapten tahu telingaku ada disini ssu!?" ujar Kise menurunkan lesleting jaketnya." Karna kau berisik Ki-chan" kata Momoi "Kalau nanti berani bersuara awas!" ancam Akashi menunjukan gunting dengan ujung runcing sebagai senjatanya (Senjata apapun yang akan dibawa Akashi pasti gunting tak pernah absen)."Aomine-kun siap-siap.." kata Kuroko Tapi Aomine terus makan (Gak mendengarkan).

"Tetsuya, Atshushi dan Satsuki kita ke pojok tumpukan kardus itu" pinta Akashi."Hai~, Tapi Akachin…Jaket ini terlalu kecil" keluh sang Titan terong (?)."Itu ukuran yang paling besar Atshushi" balas Akashi. Sementara Nijimura,Kise, Yukiko dan Midorima tanpa disuruh sudah bersembunyi di balik meja di dekat pintu serempak menaikan lesleting baju mereka sampai habis (Jadi mereka gak kelihatan deh…).

"Tetsu, berikan aku air…" pinta Aomine. Tapi tidak ada jawaban..(Hanya suara merdu jangkrik yang menyahutnya)."Tetsu kau dengar kan?" Tanya Aomine berbalik lalu celingukkan karna tak ada seorang pun selain dirinya disana."Euh, sial" gerutunya."Woy!" panggilnya lalu teringat dengan apa yang ia katakan tadi saat istirahat."Menyebalkan.." gerutunya. Ia pun menyibukkan dirinya bermain basket sendiri.


.

.

: ]

.

.


'Aominecchi kayak orang gila ssu (Kau juga Kise)'pikir Kise karna Aomine terus menggerutu ( dan Kise terus cengegesan sendiri).'Kami-sama… tolong lindungi kami' batin Kuroko."Ini sudah hampir 1 jam.." gumam Yukiko (Perlu saya ingatkan mereka sama sekali tidak bisa melihat yang lainya hanya bisa mendengar suara saja)."Senpai, bersabarlah" kata Nijimura pelan."Oh, ya… Apa alasan Senpai mau ikut rencana kami nanodayo?" Tanya Midorima dengan suara sangat pelan (Takut kena gunting Akashi nantinya).

"Itu kar-" JLEB!, perkataan Yukiko terputus karna tiba-tiba lampunya mati.' Ck, siapa yang mematiakan lampu?' pikir Akashi mulai ! mereka menekan tombol dikacamatanya masing-masing (meski Midorima pandangannya masih rabun karna kacamata aslinya dilepas dan Kise yang bingung mana tombolnya).

'Bagaimana bisa pembunuh itu sudah ada di tengah lapangan basket?!' pikir Akashi kaget.'Aomiecchi kenapa malah meluk tihang basket sih ssu?!' pikir Kise.'Tetsu-kun aku takut…' batin Momoi.'Cepat sekali…' batin Kuroko.

Membunuh bertopeng itu segera akan menyerang ! Akashi mendorong Aomine hingga menabrak Dinding di dekat pintu ruang ganti."Aomine-kun…" teriak Kuroko mendekati Aomine dan menurunkan lesleting jaketna agar Aomine dapat mengenalnya."Tetsu…" gumam Aomine lalu tak sadarkan diri."Ck" membunuh itu hendak kabur ke dalam ruang ganti Burk!… tapi Murasakiba langsung menghalangi jalannya.

Para calon GoM, Nijimura dan Yukiko menurunkan lesleting jaketnya dan ternyata mereka sudah mengepung pembunuh itu."Sekarang kau akan lari kemana?" kata Akashi."Berhentilah perbuatanmu selama ini sungguh kejam tahu!" gertak Nijimura."Aomine-kun!" Kuroko terus memanggil nama Cahayanya itu dan dari kepala Aomine mulai mengalir darah.

"Mundur atau aku tebas leher pemuda ini!" balas sang pembunuh dengan tak terduga sudah menyandra Kuroko yang daritadi terus khawatir dengan Aomine."LEPASKAN TETSUYA!" titah Akashi marah."Tetsu-kun!" pekik Momoi."LEPASKAN KUROKOCCHI KAMI SSU!" teriak Kise."Lepaskan Kuro-chin~" ujar Murasakibara dengan aura hitam."Berani sekali nanodayo" geram Midorima.

"sesak!" erang Kuroko. Lalu dengan perlahan pembunuh itu mundur ke dalam ruang ganti tanpa ! kemudian menutup para GoM segera masuk tapi anehnya di ruangan yang sempit itu Kuroko dan pembunuh itu tidak ada."Shintaro dan Satsuki rawat Daiki, Kise dan Murasakibara periksa ruang ganti ini dan Kapten,Yukiko bantu aku memeriksa di lapangan basket" titah Akashi. "Ha'I" balas mereka.

END FLASHBACK:


"…Tak lama kau bangun Daiki" ujar Akashi."Jadi Tetsu diculik?" Tanya Aomine."Kita tidak tahu apa yang sekarang dilakukannya pada Kuroko" kata Yukiko."Hm, Kita bertanya pada Akemi dan Ikuma saja…" lanjutnya."Itu benar siapa tahu… mereka melihat kemana Kurokocchi ssu" kata Kise,Midorima dan Yukiko memanggil 2 hantu itu meski tidak kunjung datang."Mereka biasanya akan datang" kata Yukiko."Mungkin, mereka tak bisa datang "kata Murasakibara.

"Apa, jangan-jangan mereka hilang diculik seperti Tetsu-kun?' Tanya Momoi polos.


.

.

: (

.

.


"Aku dimana?' gumam Kuroko saat ia menjadari ada di ruangan sempit yang sangat gelap."TOLONG!" teriak ia memeriksa pintu yang ternyata di kunci. 'Aku terperangkap!, Dan... kemana yang lain?' pikirnya memukul pintu. Kuroko tidak tahu harus kemana di ruangan yang entah namanya ini,SRENG!.. Terdenar sebuah suara dari luar."Suara apa itu" tanyanya mulai panic.

"Ikuma-san, Akemi-san kalian mendengarku pasti? Kumohon tolong!" tidak kunjung ada orang yang datang…


.

.

0_o

.

.


Kuroko's POV:

Aku tak mengerti apa yang dimaksud oleh didalam hati? Siapa?.Pembunuh itu sangat cepat dia mengambil celah untuk menyandraku.

Teriakkan teman-temanku yang khawatir membuatku merasa bersalah karna hanya jadi beban bagi mereka. Tapi ada yang membuatku aku yang dibawa pembunuh itu bukan teman-temanku…

Tapi masih ada masalah. Aku terjebak di ruangan yang entah itu apa namanya. SIAPAUN TOLONG AKU!?


.

.

.

.


Apa yang terjadi dengan Kuroko selanjutnya?, Dan Bagaimana pembunuh itu melanjutkan para GoM yang sedang membuat rencana menyelamatkan Kuroko akan berhasil?

Kepo nih~?...


.

.

.

,

TBC~

Suasananya mulai masuk kaget dan tengang. Nee, untuk Chapter lanjutanya tunggu ya? Minna! ^^

Please banget tolong RnR, Follow atau Favorited ya? ^^

(Murasakibara: Aku lapar lagi Akachin~)

(Momoi:Sabarlah Mukkun bagaimana kalau aku masak untuk kamu)

(Aomine: TIDAK BOLEH?!)

(Akashi:Aku setuju dengan Daiki)

(Kuroko: Aku mulaii merasa tidak enak)

(Midorima: Aku mengerti perasaanmu, nanodayo)

(Kise: KUROKOCCHI!, aku akan menyelamatkanmu ssu!)

(Nijimura: Kalian ini bagaimana sih? Ayo selamatkan teman kalian.)

ARIGATOU PARA READRES. OH YA SELAMAT MELANJUTKAN AKTIVITAS ^^