Thank for :

ClapJun : Yah.. dia kubuat tersamar sih, jadi kaya hantu deh.

Ichikawa Arata : Hoho... untuk cewek, aku Cuma munculin untuk konflik awal dan selanjutnya akan terfokus pada NaruSasu.

Silver Moon Melody : Ini sudah lanjut ^^

Akira Naru-desu : Iya, ini lagi kucoba buat lanjutin ^^

Cho Ai Lyn : Typo ya.. uh.. maaf ya~ sepertinya ganggu banget buat baca.

miszshanty05, Lumina Lulison : Ok! ^^

Guest : Aduh, makasih - / / / - aku gatau harus bilang apa, tapi ketikanku masih kurang sama senpai-senpai lain yang lebih dulu mengenal FFn

NSFans, yuga, Guest 2, Qren, NaruSasuFans, sheren, 206x126, Collin Blown a.k.a AnakYunJae, amour-chan, Naminamifrid, Ayuki siFujho : Iya ini NaruSasu dan Ok! Ini lanjutannya ^^

NaruSasu Best Couple : Aku juga kesel sendiri pas baca ulang, tapi ada alasannya kubuat begitu kok!

Yang ngasih bensin? Itu dedemit kali :v

Ini sudah dilanjut ^^


.

.

.

Enjoyed Ttebayo!

.

.

.


Rumah ini sangat berbeda. Suasana hangat dan ketentramannya sudah lama pupus. Tidak ada lagi matahari yang bersinar di dalamnya. Tidak ada bunga yang mekar disetiap harinya. Rumah ini sangat sunyi, tak ada Si Jangkrik kecil yang sulit sekali ditangkap. Tak ada seekor rubah yang selalu menyalak setiap kali teritorinya terganggu.

Tsunade menatap sedih rumah besar yang ia masuki. Begitu suram, tak ada kehangatan lagi di sini. Sisanyapun seperti menguap habis setelah setengah tahun berlalu sejak kejadian itu. Tawa sang cucu tak pernah lagi ia dengar di rumah ini.

Rumah yang sudah ditinggalkannya. Rumah yang sudah menyimpan kenangan hidupnya sejak anak laki-laki satu-satunya menikah dengan sang menantu. Melahirkan dua kehidupan baru dimasa senjanya. Rumah yang diselimuti kebahagiaan, begitu sempurna.

"Anda yakin ingin menjual rumah ini, Tsunade sama?" Tsunade tersenyum lirih mendengar pertanyaan yang dikeluarkan sosok perempuan di sampingnya.

Tapi kenangan itu sudah berlalu, terlalu berdebu untuk kembali dibuka. "Ya, apa kau sudah menemukan pembelinya Shizune?" Tanya wanita tua namun tetap cantik itu pada perempuan di sampingnya.

Shizune mengangguk dan membuka tab yang ada ditangannya. "Ada satu orang yang bersedia membeli rumah ini tanpa mengubahnya." Ucapnya menjawab pertanyaan Sang mantan guru yang kini beralih menjadi atasannya, namun raut mukanya berubah sedih tatkala melihat senyum lirih itu kembali mernghiasi wajah cantik Tsunade. "Apa anda yakin ... rumah ini penuh dengan kenangan indah, bukan?"

Tsunade menengadah, mengarahkan manik coklatnya ke lantai dua rumah itu –kosong. Tidak ada apa-apa di sana. Tidak ada lagi langkah kaki berlarian, kejar-kejaran karena masalah sepele. Tidak ada lagi. "Indah jika orang yang ikut membuat kenangan itu masih ada bersamamu, tapi kenangan indah itu akan berubah menjadi buruk jika serpihan itu hanya mengingatkanmu pada masa-masa yang tidak akan bisa terulang." Pandangan Tsunade mengarah pada awang-awang. Menyesal sekarang pun sudah terlambat baginya.

"Kita kembali, Naruto mungkin sedang menjalani terapi sekarang." Tubuh itu berbalik, diikuti dua pasang langkah kaki yang berjalan meninggalkan ruangan besar itu dalam kesunyian. Rumah itu sudah ditinggalkan tuannya.


Disclaimer : Masashi Kishimoto desu!

Genre : Hurt/Comfort, Romance

Pair : (Main) NaruSasu

Slight : dunno...

Rated : T+ or M for this chapter

Warning!

Sexual content, Homosex, Yaoi, Sadistic-sexual, BDSM, Rape, Lime, HardLemon, Typo, Tidak sesuai EYD, and this Warning's for chapter alert...

UzumakiKagari's present

Can I Teach You, Sensei?

Chapter 2 : Meet

.

.


.

*********************** Kagari Hate HerSelf ************************

.

.


Genggaman tangan itu menguat hingga bubu-buka jarinya memutih. Meremas lapisan keras lingkaran berwarna hitam dari setir. Ia tak bisa lagi menyembunyikan gemetaran tubuhnya saat kunci yang diputar menyalakan mobil yang ditumpanginya. Ini seperti mengulang memorinya pada hari itu. Hujan. Hujan yang deras namun tak sekalipun ia mendengar suara memericiknya. Hujan yang deras saat mobilnya tergelincir diaspal jalanan dan lalu pohon besar itu menghentikan laju tak terkendali mobilnya.

Gelap.

Sakit.

"Arrrgh! Aku tidak bisa!" Genggaman erat itu berubah menjadi hantaman kasar pada setir mobil di depannya berserta teriakan frustasi dari pemuda bersurai pirang yang tengah menundukan wajahnya dalam.

"Tenanglah Naruto kun, ini hanya awal. Kuyakin nanti kau juga bi –" Ucapan lemah lembut itu terhenti saat sepasang mata dingin dari blue sapphire terarah pada lavendernya. Rasa sakit pada kedua bahunya menambah ketakutan yang mulai merasuk, membuat hatinya gentar.

"Percuma." Ucapan itu tak kalah dinginnya. "Aku tidak mau melakukan ini lagi." Cengkraman itu mengendur kemudian terlepas. Meninggalkan kulit memerah dibalik baju putih panjangnya bagi sang dokter wanita.

Tangan berkulit tan itu membuka pintu samping mobilnya, ia sempat berkata sebelum meninggalkan sang dokter yang masih menatapnya dengan rasa takut. "Jangan kembali lagi. Aku tidak membutuhkanmu."

.

.

.

.

Klek!

"Kau lama, Naruto."

Naruto memilih untuk diam mendengar komentar dari pemuda berkuncir nanas yang duduk di sampingnya. Lebih memilih untuk menyamankan posisi duduknya, menyandar pada bantalan kursi di belakang punggungnya dan memejamkan mata. Tak mempedulikan sepasang mata kuaci yang memperhatikannya dengan satu alis terangkat namun kemudian mengangkat bahunya acuh seraya menatap kearah depannya lagi. Menyalakan mobil sport ferrari berwarna hitam miliknya meninggalkan kompleks perumahan elit dikawasan paling timur Suna.

Suna. Wilayah yang hampir seluruhnya tertutup oleh pasir, -lebih tepatnya sebuah kota penuh hiruk pikuk kemodernan yang dikelilingi oleh padang pasir. Seluruh kota yang lebih dari tiga puluh tahun lalu hanya berupa bangunan sederhana telah berubah dengan banyaknya jalanan beton, gedung bertingkat dengan berbagai macam fungsinya, juga fasilitas kelas atas yang bersanding dengan negara luar.

Sabaku Land adalah tempat paling diincar orang-orang kalangan atas untuk ditinggali di kota itu. Perumahan dengan berbagai fasilitas yang bisa dikatakan paling lengkap kedua di dunia. Perumahan yang begitu diidam-idamkan, salah satunya karena keindahan oasisnya yang tak pernah sekalipun mengering meski terus terpapar teriknya matahari padang pasir.

Namun, bagi sepasang iris cerah dari birunya langit hanya menatap keagungan Tuhan itu dengan datar. Tak menarik baginya. Semua keindahan juga hanya gambaran yang setiap hari dilihatnya. Tempat ini membosankan.

"Bagaimana dengan Si Merah itu?" Biru langit itu melirik pemuda kuncir yang tengah memegang kemudi, pandangannya tetap memandang arah depannya.

"Siapa?" Tanya Naruto, tubuhnya sedikit ia naikan untuk menyamankan posisi kepalanya pada bantal penyangga di belakangnya.

"Sabaku? Jangan katakan kau terkena amnesia dadakan?" Kepala bersurai pirang jabrik itu menoleh sempurna pada pemuda nanas –Shikamaru, lalu memberikan lengkungan bibirnya hingga mampu membelah wajahnya. "Kabur disaat terakhir."

Shimamaru memelankan laju mobilnya saat mobil lain mulai memadati jalanan, "Biar kutebak. Sesuai rencanamu?" Kekehan kecil menjadi jawaban dari ucapannya barusan. "Berhentilah bersikap begitu. Kau bisa diusir dari rumah mewahmu kalau Si Sabaku itu melapor pada ayahnya."

"Gaara bukan orang yang seperti itu." Kuaci itu melirik pemuda pirang yang sudah mengembalikan pandangannya keluar jendela. Sesaat mata berpupil kecil itu berubah sayu saat melihat goresan panjang dileher pemuda itu sebelum kemudian menutup dan memandang kembali pada jalanan di depannya. Memilih tak melanjutkan percakapan yang dimulai olehnya.

Naruto yang dulu sudah tidak ada lagi, ia tanamkan baik-baik kalimat itu dalam benaknya. Kalimat yang membuat Shikamaru berhenti untuk mencoba mengembalikan senyum ceria sahabatnya. Mengubur jauh Naruto yang dikenalnya dulu.


.

.

.

.

.

.


Mobil hitam itu berbelok memasuki gerbang besar dengan tulisan Suna-In High School di atasnya. Melaju terus melewati dua bukit buatan yang masing-masing berada tepat di tengah taman besar yang dikelilingi oleh gedung besar yang membentuk huruf U dan gedung berbentuk huruf I, khusus untuk tempat parkir para siswa di sebelah kanannya. Mobil itu berhenti sesaat setelah terparkir dalam gedung dengan dua orang pemuda terlihat keluar dari dalamnya.

Seorang pemuda dengan rambut hitam kecoklatannya yang dikuncir tinggi terlihat memakai seragam sekolah berwarna putih dengan celana biru donker yang menyampirkan blazer yang juga berwarna senada di bahunya. Sedangkan pemuda lain disisi mobil itu terlihat mengenakan jaket orange dengan kerah tinggi dengan seragam berwarna senada dengan pemuda yang pertama, meski tanpa blazer. Rambut pirang berantakannya sedikit terbelah karena adanya headphone yang dipakai pemuda itu.

Kedua pemuda itu berjalan dengan tanpa sekalipun kehilangan sorotan dari berpasang mata yang terus melihat kearah mereka sekalipun mereka tak lagi terlihat.

Shikamaru menguap lebar dan menggaruk belakang kepalanya seraya terus melangkah, "Harusnya anak baru tidak terlalu cari perhatian." Ucapnya dengan lirikan kecil pada pemuda pirang yang berjalan di sampingnya, namun nampaknya pemuda pirang itu tak berniat untuk menyahut –atau malah tak mendengar-nya.

Penyandang marga Nara itu akhirnya memutuskan untuk diam dan terus berjalan, sedikit mendahului pemuda pirang disebelahnya untuk menunjukan jalan. Mengingat jika pemuda di sampingnya itu baru masuk sekitar satu Minggu lalu ke sekolah ini. Ditambah dengan jarangnya dia masuk kelas. Memikirkan hal itu membuat Shikamaru menghela napasnya.

Baru dua bulan lalu sahabat berambut pirangnya itu siuman setelah koma selama empat bulan. Terbaring dalam keadaan antara hidup dan mati. Melihat bagaimana tubuh sahabatnya itu dipenuhi alat-alat medis untuk menunjang hidupnya, memastikan jika masih ada denyut nadi ditubuh lemahnya. Naruto yang dikenalnya.

"Shikamaru." Mata kuaci itu melirik ke samping, melihat wajah dengan tiga goresan horizon itu mengembang dengan sedikit tarikan disudut bibirnya. "Buat agar hanya kita yang masuk dalam lift." Lalu mata itu memandang jauh pada apa yang kini tengah berada dalam penglihatan iris sapphire pemuda itu. Seorang pemuda dengan surai merahnya yang tengah berdiri tepat di depan lift. Setelah itu, pemuda pirang di sampingnya sudah berada jauh di depannya.

.

.

Brugh!

Punggung berbalut blazer donker itu menabrak lapisan baja kuat dalam lift, cukup keras namun tak sampai membuat wajah datar itu menampakkan ekspresi kesakitan. Sepasang mata green emerald menatap lurus pemilik blue sapphire yang berdiri tepat di hadapannya dengan datar hampir serupa dengan tatapan biru itu padanya. Menatap dalam diam, setelah cukup lama hingga akhirnya bibir terbungkam itu mulai terbuka. "Apa maumu?"

"Gaara." Mata biru itu menelusur disetiap lekuk wajah pemilik emerald dihadapannya. "Kau tidak bermaksud untuk meninggalkan aku bukan?" Satu tangan Naruto terangkat untuk menyentuh sisian wajah putih pemuda itu, mengusap lembut helaian merah yang menutupi sisian wajah itu dengan jemarinya.

Bibir tipis itu sejenak kembali terbuka, bermaksud untuk mengucap kata sebelum kembali terbungkam karena sapphire itu tak pernah melepaskan pandangan darinya. Pemuda merah itu menghela napas dan mengangguk pelan. Kemudian membiarkan pemuda pirang dihadapannya menyapu lembut permukaan bibirnya dengan ciuman yang semakin lama semakin panas mendominasi dirinya. Melupakan pemuda kuncir yang sejak tadi berdiri di depan pintu lift dan membelakangi mereka.

.

.

Pintu lift itu terbuka setelah mencapai lantai tiga pada bangunan bertingkat lima itu. Namun beberapa orang yang sudah menunggu di depan lift tidak langsung naik ke dalamnya. Beberapa orang itu berdiri dengan semburat merah diwajah mereka saat menemukan seseorang berdiri menyandar pada sisian pintu lift dengan wajah yang memerah dan seragam yang tidak bisa dibilang rapi dengan tiga kancing bajunya yang terbuka. Memperlihatkan dada putih sang pemuda bersurai merah. Napas yang terengah-engah menambah tatapan heran dari orang-orang itu. Pemuda bersurai merah berjalan keluar dari lift tanpa mempedulikan tatapan orang-orang padanya.

.

.

.

.

.

Naruto memasuki kelasnya dalam diam, tak mempedulikan keributan yang terjadi di dalam kelasnya dan langsung berjalan menuju kursi. Ia menaruh tas ditangannya pada sebuah meja dan menyingkirkan tas lain yang sudah mengisi meja itu.

"Hei! Apa yang kau lakukan pada tasku?"

Naruto melepaskan headphone orangenya dari telinganya dan menatap seseorang yang berdiri di depannya seraya menatapnya dengan pandangan kesal lalu kembali memasang headphonenya dan mendudukan dirinya pada kursi yang baru saja ditinggalkan sang pemilik.

"Aku bicara pada –"

"Sudahlah Kiba, kau duduk denganku." Pemuda dengan sepasang garis segitiga terbalik diwajahnya itu langsung menatap pemuda kuncir yang terlihat tengah mengambil tasnya yang jatuh. "Biarkan dia sendiri." Tangan berbalut blazer donker itu meraih tas ditangan Shikamaru dan berjalan ketempat duduknya yang baru. Membuat kesunyian sementara di kelas itu mencair kembali saat Shikamaru menatap berpasang mata yang melihat kearah keributan kecil yang dibuat Naruto.

Bel berbunyi tak lama kemudian. Beberapa siswa yang berkerubun kembali ketempat mereka masing-masing. Menjadikan kelas itu sunyi senyap saat seorang perempuan cantik memasuki kelas. Rambut bergelombangnya terlihat apik tergerai di belakang punggungnya.

"Selamat pagi, anak-anak." Sapaan ringan itu disertai senyuman darinya. Kurenai Yuuhi, guru wanita berwajah cantik itu meletakan buku-buku pelajaran ditangannya di atas meja dan menatap keseluruhan kelas.

"Selamat pagi, Kurenai Sensei." Senyumnya mengembang ketika menerima sapaan balik itu dari murid-muridnya. Namun senyum itu menghilang bersamaan dengan mata rubynya mendapati sosok bersurai pirang yang tengah mengarahkan pandangan keluar jendela dengan sebuah headphone dikepalanya.

"Uzumaki Naruto kun."

Seisi kelas langsung mengarahkan pandangan mereka pada Naruto, pemuda pirang yang nampak tak mendengar namanya dipanggil.

"Uzumaki kun." Kurenai mengeraskan rahangnya. Ini baru kedua kalinya ia melihat anak didiknya itu dalam pelajarannya. Tetapi sebanyak itu pula ia tak pernah menyukai kehadirannya. Anak yang sama sekali tidak memiliki sopan santun. Ia melangkah kakinya menuju deretan kursi yang berjajar rapi di kanan dan kirinya. Berhenti saat dirinya sudah berada tepat di samping kursi pemuda pirang yang masih tak menyadari kehadirannya.

Kurenai melepas headphone dikepala Naruto hingga perhatian pemuda itu akhirnya tertuju padanya. Sepasang biru langit itu menatapnya dengan pandangan datar. "Jika kau tidak berkenan dengan pelajaran yang aku ajarkan. Ada baiknya kau keluar dari sini, Uzumaki kun." Telunjuk dengan cat kuku berwarna merah itu mengarah lurus pada pintu.

Naruto kembali memakai headphonenya, ia berdiri dari tempat duduk dan mengambil tas di atas meja dengan pandangan yang tak sekalipun terlepas dari manik merah yang mendelik marah padanya. Tanpa mengucap apapun, Naruto meninggalkan kelas itu. Membiarkan wanita berambut hitam gelombang di samping tempat duduknya berdiri dengan gertakan gigi dan kepalan tangan yang mengeras.

.

.

.

.

Aku berjalan pergi tanpa menutup pintu di belakangku. Tak kuindahkan suara keras di belakang sana menyebut namaku dengan kemarahan. Kakiku melangkah terus menyusuri koridor sepi, tak ada satupun siswa yang berkeliaran karena memang sekarang merupakan jam pelajaran.

Saat melewati koridor kulihat beberapa lirikan heran dari dalam kelas lain yang kulewati. Ini semua asing, semua tidak kukenali. Aku muak menjadi orang baru. Sekolah, orang-orang, keadaan, tidak pernah aku sangka jika mataku terbuka ditempat busuk ini. Bukan ditempatku, bukan di Konoha.

Hidupku sudah sia-sia dengan terbaring berbulan-bulan lamanya di rumah sakit. Koma, hampir mati karena kecelakaan pada hari itu. Hari dimana aku tidak akan pernah kembali pada diriku lagi. Titik dimana Naruto yang sejak dulu menjadi aku tidak akan pernah kuperlihatkan lagi.

Aku menghentikan langkahku saat kudapati diriku sudah berada di area ruangan klub. Aku membuka salah satu pintu terdekat. Kosong, hanya ada beberapa kardus yang ditumpuk ke atas juga beberapa alat musik yang berjajar rapi di bawah panggung besar di sisi terdalam ruangan. Ruang klub drama.

Aku melempar tasku sembarangan dan berjalan mendekati salah satu properti yang ditutupi dengan kain putih besar. Aku menyingkap kain itu dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur yang menjadi properti klub drama. Mataku tertutup bersamaan dengan rasa kantung yang kurasakan.

"Ayolah sensei, aku tahu kau menginginkannya~"

Alisku berkerut ringan saat telingaku mendengar suara samar selain alunan lagu dari headphoneku. Sedikit kubangunkan tubuhku dan menoleh ke kanan dan kiriku, mencari asal suara samar itu.

"Senh –sei... Ah... Aku sudah tidha tahan.. Ahhh.."

Kali ini pendengaranku tidak mungkin salah karena headphoneku sudah turun dari kepalaku, aku benar memang mendengar suara seseorang. Perempuan? Suara perempuan yang sedang –mendesah?

"Pakai kembali pakaianmu, Haruno." –Kali ini laki-laki.

"Senshei... apa ini kurang? Atau yang sekarang aku tidak cukup untukmu?"

"Jangan rendahkan harga dirimu dengan melakukan semua ini di depanku."

"Apa kau tidak mengerti juga! Aku mencintaimu!"

"Tapi aku tidak."

Aku mendengus mendengar percakapan antara laki-laki dan perempuan itu. Berpikir jika perempuan yang terdengar seperti menawarkan dirinya itu murah sekali. Tubuhku bangun dengan perlahan dan mendekati asal suara. Melangkah sepelan mungkin hingga berhenti beberapa meter dari panggung drama.

"Kalau begitu, kalau begitu aku akan berteriak sampai orang-orang kemari!"

"Kau menyedihkan."

Tubuhku merapat pada sisi lemari saat kudengar langkah kaki yang cepat melewati tempatku berada. Rambut pink, dan tanpa seragam bagian atas. Hanya selembar kain yang menutupi dada perempuan itu. Sudah selesai? Hanya itu yang dilakukan perempuan itu?

Mataku menatap gerak gerik perempuan itu, ia terlihat membongkar kardus besar properti drama dan mencai-cari sesuatu di dalamnya. –Gunting, dan selanjutnya dia meorobek rok pendek yang dipakainya. Benar-benar murahan.

Aku mengambil ponsel dicelanaku dan memotret apa yang tengah dilakukannya, sebuah kecurangan, juga licik. Mungkin suatu saat aku akan membutuhkan ini.

"Apa yang kau lakukan." Aku menoleh saat kudengar suara laki-laki tadi lebih jelas dari sebelumnya. Di atas panggung, aku bisa melihat keseluruhan dari laki-laki yang dipanggil sensei oleh perempuan itu. Raven, sesuatu yang paling mencolok dari laki-laki itu adalah rambut gelapnya yang melawan gravitasi juga kulitnya yang begitu berbanding terbalik dengan warna rambut itu.

"Bagaimana sensei? Jika sensei tidak mau menerimaku, aku akan berteriak!" Pandanganku kembali pada perempuan itu. Alisku terangkat saat senyum kemenangan jelas sekali terlihat diwajah perempuan itu.

"Kau keras kepala." Ucap laki-laki itu.

"Dan kau pun sama." Sedetik kemudian perempuan itu berteriak dengan kencangnya. Mudah sekali ditebak apa yang ada dalam pikiran perempuan itu. Jebakan eh?

Aku melirik laki-laki itu lagi. Alisku sedikit terangkat melihatnya yang tak beranjak satu inchipun dari tempatnya berdiri. Ditambah dengan wajah tenangnya melihat perempuan di depannya tengah berteriak-teriak meminta tolong. Dia tidak lari? Atau terlalu percaya dirinya dia sampai tidak ingin lari?

"Tolong! Siapapun! Tolong aku!"

Aku merapatkan jaket orangeku, menarik resletingnya sampai atas hingga menutupi setengah wajahku. Tubuhku menjauh sempurna dari lemari tempatku bersembunyi. Dengan langkah cepat aku menyambar tangan putih yang terlipat diperutnya. Aku merasakan tangan itu menegang, kurasa dia terkejut karena dengan tiba-tibanya melihatku yang muncul entah dari mana langsung menarik tangannya dan membawanya berlari. Namun dia tak mengatakan apapun sebagai protesan.

Tanganku meraih pegangan lemari dan mendorong laki-laki itu masuk ke dalamnya diikuti olehku. Ia terlihat sedikit mengeluh dengan tumpukan pakaian yang menggantung dikedua samping tubuhnya sebelum menatapku dengan pandangan tajam.

"Apa yang kau lakukan." Kata-kata itu seperti dikeluarkannya dengan maksud bertanya meski aku tak mendengar intonasi tanda tanya dari ucapannya.

Derap langkah gaduh terdengar memasuki ruangan dengan terburu-buru. Selanjutnya, samar aku dapat mendengar beberapa orang berteriak dan nada marah yang keluar dari orang-orang itu. Kuyakin jika perempuan itu tengah mengeluarkan bualan ketakutannya untuk mengelabui orang-orang itu.

"Dimana dia!"

"Sasuke sensei! Keluar! Apa yang kau lakukan terhadap muridmu!"

"Kalian! Berpencar dan cari dia!"

Suara gaduh itu bertambah dengan suara lain seperti sesuatu yang dibuka juga teriakan yang semakin nyaring terdengar. Tubuhku merapat saat suara dari langkah kaki orang-orang itu mendekat, membuat tubuhku menghimpit laki-laki yang ikut bersembunyi bersamaku.

"K –kau. Aku mau keluar dari sini!" Aku memutar kepalaku kembali dan menatap laki-laki itu datar. Alisku sedikit terangkat saat melihat gelagat yang berbeda dari saat aku melihatnya tadi. Ingin keluar katanya? Apa ia ingin masuk dalam perangkap perempuan gila itu?

"Kau keluar, itu artinya kau mengakui percobaan pemerkosaanmu." Kadar ketajaman dari tatapannya bertambah saat aku selesai dengan kalimatku.

"Bersembunyi seperti ini malah akan membuat mereka berpikir aku memang melakukannya." Kurasakan tangannya mendorong dadaku, tapi tidak cukup kuat untuk membuatku bergeming dari posisiku, "A –aku harus keluar." Sebelah alisku semakin terangkat mendengar suara penuh getaran dari laki-laki itu.

Tubuhku kembali maju, lebih dekat hingga memaksanya merapat pada sisian lemari. Mataku tak lepas dari perilakunya yang sedikit aneh. Napas laki-laki itu terlihat memburu dengan peluh yang bercucuran deras dari pelipisnya.

"Bi –biarkan aku k –keluar." Ucapan itu terdengar susah payah dikeluarkan olehnya.

Keluar? Aku tersenyum saat benakku memikirkan makna lain dari kata-katanya. "Baik. Aku akan membiarkanmu keluar," Ia menatapku dengan matanya yang setengah terbuka.

"Ditanganku."

"Ha –" Gelap itu terbelalak menatapku, ia mencengkram erat tanganku yang meremas daerah selangkangannya. Ia mengerang dengan napas yang memburu, "Apa, –apa yang kau lakuka –emmh!" Aku membungkam mulutnya dengan sebelah tanganku yang lain dan melirik celah kecil pada pintu lemari di belakangku. Melihat jika saja orang-orang yang ada di luar sana mendengar teriakan yang tak sempat kutahan tadi.

"Kau terlalu berisik." Bisikku tepat di sebelah tangannya. Tanganku meremas lebih kencang dan memelintir miliknya yang masih berada di balik celananya. Aku merasakan sudut bibirku tertarik keatas mendengar rintihannya. Dia terlalu sensitif, tanganku masih di luar tapi tubuhnya sudah bergetar hebat seperti ini.

"Kau menemukannya?" Aku berhenti sejenak dan mendengarkan percakapan orang-orang itu.

"Tidak, kuyakin dia sudah kabur."

"Tidak masalah. Dia bekerja di sini, kita bisa melaporkannya pada kepala sekolah. Yang penting sekarang keadaan Haruno san. Dia terlihat shock sekali."

"Kita bawa dulu dia ke rumah sakit."

"Kita pergi dari sini."

-Dan orang-orang itu berlalu pergi seperti yang mereka katakan. Tatapanku kembali pada wajah putih yang sejak tapi kututupi dengan tanganku. Meski samar karena di dalam sini gelap, tapi aku bisa melihat wajah memerahnya antara efek dari tanganku yang masih meremas kencang selangkangannya juga dia yang sepertinya tak bisa bernapas.

"Uhuk! Hah! Ha! Uhuk!" Ia terbatuk dengan napas terengah saat aku menarik tanganku dari wajahnya. Bibirnya terlihat gemetar disela-selanya mengambil napas. Menarik.

"Ke –keluar..."

Tes...

Eh? Aku mengerjap saat sesuatu membasahi tangan yang kugunakan untuk menahan tubuhnya. Dia tidak menangis kan?

"Aku ... hah... k –keluar..." Tanganku mengangkat wajah sedikit tertunduk itu dan membuatku bisa melihat keseluruhan wajahnya. Hal yang cukup membuatku bingung saat wajahnya menunjukan seperti ia sedang kesakitan.

"Ha –hah!" Tanganku menyusup masuk dalam celana hitam yang dipakai laki-laki itu. Celananya cukup longgar karena dia tidak menggunakan ikat pinggang. Kurasakan permukaan dengan rambut-rambut halus agak panjang menyentuh jariku. Semakin jauh aku memasukan tanganku hingga aku menggenggam lagi batang mengeras miliknya –hanya kali ini secara langsung. Permukaannya halus dengan beberapa tonjolan urat yang berkedut setiap aku menaik turunkan tanganku.

Sebelah kakiku membuka kaki gemetaran miliknya untuk mempermudah gerak tanganku. Ia sepertinya sudah berhenti dan menyerah untuk protes meski terus mengucapkan kata keluar yang sedikit banyak kupahami.

"Ha –ah! Ah!.. Mmmngh..." Shit! Dia menggigit pundakku. Aku bisa merasakan giginya terus bergerak-gerak diantara gigitannya. Gemetaran, sama seperti tubuhnya yang sudah bersandar penuh padaku.

"Ngh! Kelu –ar.. biarkan a –aku keluar... dari hah.. sini..." Aku menulikan telingaku dari ucapan yang lebih terdengar seperti dia memohon padaku itu. Aku terlalu sibuk dengan sesuatu diselangkangannya yang semakin mengeras. Kocokanku bertambah kencang, membuatnya berkali-kali melenguh dengan tangan yang mencengkram erat jaketku.

Sebenarnya aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang kulakukan sekarang. Mengocok penis orang lain? –Dan lebih parahnya, orang yang baru saja kutemui. Tapi wajah memerah dengan mimik kesakitan ini, cucuran peluh yang nampak membuat rambutnya menempel erat dipelipisnya. Entah mengapa aku menyukainya.

"NGAH!" Dia menyemburkan semennya dengan tanganku yang mencengkram erat batang penisnya. Batang itu berdenyut berkali-kali untuk mengeluarkan semennya yang lumayan banyak hingga membasah celananya juga tanganku.

Aku menarik keluar tanganku dari celananya dan memerhatikan lelehan putih lengket yang mengalir disela-sela jariku. Lalu mataku mengarah pada wajahnya yang dipenuhi warna merah. Pemandangan yang membuat tubuhku tiba-tiba memanas.

Membuatku menjilat bibirku sendiri.

Khayalanku terputus saat dorongan kuat –yang sangat tiba-tiba dari laki-laki dihadapanku membuatku menabrak pintu lemari di belakangku dengan kencang. Pintu itu langsung terbuka lebar dengan debaman keras dari tubuhku yang jatuh ke lantai.

Aku meringis pelan merasakan sakit dibagian punggungku yang jatuh cukup keras. Mataku menatap sosok yang berlari kencang menjauh dari tempatku. Perlahan kedua sudut bibirku tertarik ke atas. Laki-laki itu cukup menarik.

Aku menjilat sisa cairan putih ditanganku, lidahku mencecap rasa milik laki-laki itu. Menanamkan baik-baik rasa cairan licin yang masuk ke dalam kerongkonganku itu.

"Manis."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kaki itu melangkah dengan cepat melewati koridor-koridor sepi bangunan sekolah, berlari sekuat tenaganya. Ia ingin cepat pergi dari sini. Menjauh dari tempat ini. Apa yang baru saja dialaminya tadi, dengan laki-laki itu yang menyentuhnya. Ini mimpi. Katakan padanya ini mimpi.

Ia memacu kakinya semakin cepat saat melihat mobil hitam miliknya sudah dekat. Tangannya dengan susah payah mengeluarkan kunci yang ia simpan disaku jasnya. Napasnya nampak tak teratur dengan erangan yang terdengar begitu frustasi saat alarm ditangannya tak juga menyala meski ia sudah mengarahkannya mobilnya.

'Buka! Buka! Terbukalah!'

-Klek! Blam!

Pintu itu langsung kembali tertutup dengan kencang dalam sekejap setelah ia berhasil membukanya. Tapi mobil itu tidak menyala, kaca gelap di samping kemudi yang nampak terbuka sempurna memperlihatkan seorang laki-laki yang tengah duduk di sana. Namun kedua tangan yang seharusnya memegang setir kemudi terlihat menjambak rambutnya keras. Jemari itu meremas helaian raven miliknya.

"Aniki... aniki... aniki!" Bibir itu terus mengalunkan suaranya tanpa henti, seolah orang yang tengah dipanggilnya itu akan berada dihadapannya saat ini juga. Mengatakan kalau ini tidak pernah terjadi.

.

.

.

.

.

.

To be continue

A/N : Yo! Terima kasih untuk yang sudah meriview ini fic nggak ada bagus-bagusnya. Para readers, silers, followers, favers, dllers-nya. Arigato gozaimasu. ^^

Di chapter kedua ini, karakter utama langsung aku tunjukin lagi dan aku pertemukan dalam keadaan yang err... nggak biasa-biasa aja.

Yang pertama kalian pikirkan pasti tentang scene sebelum TBC, betul?

Mengenai sikap Sasuke, ada yang tahu dia kubuat seperti apa dific ini sebelum nanti kujelaskan dichapter-chapter depan? *Kalo ada yang baca itu juga*

Dan aku nggak bisa buat dia jadi uke "manis" yang kayak cewe, karena aku emang ga sreg kalo Sasukenya begitu.

Spoiler : Chapter depan akan menceritakan sisi lain dari Naruto.