A/N : Do'akan ya, semoga dari chapter dua ampe nanti-nantinya aku bisa buat dengan POV's side untuk dua tokoh utama. Kenapa? Itu karena, aku ingin agar jalan cerita fic ini terfokus pada dua orang itu. Tidak merembet kemana-mana dan dengan slight sini slight sana. Suatu waktu akan kubuat Naruto's POV lalu akan berbalik dengan Sasuke's POV dan seterusnya seperti itu.
Singkatnya, cuma bakal bahas dari sudut pandang mereka.
Oh iya, yang bilang Sasuke Claustrophobia. Selamat! Anda benar sekali! Fobia ini terinspirasi dari episode dimana Squidward jatuh kesumur karena permintaan Spongebob dan disitu dia bilang kalo dia claustropobhia dan –plakk! –eh ekhem! Udah lupain aja.
Tapi ada satu lagi loh fobianya. Bukan cuma takut ama ruang sempit. XD, Bisa nebak lagi?
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto desu!
Genre : Hurt/Comfort, Romance, Psicological
Pair : (Main) NaruSasu
Slight : dunno...
Rated : T++ for this chapter
Warning!
Naruto & Sasuke's POV
Sexual content, Homosex, Yaoi, Sadistic-sexual, +/- BDSM, Rape, Lime, HardLemon, Typo, Ejaan Yang (T)idak Disempurnakan, and this Warning's for chapter alert...
UzumakiKagari's present
Can I Teach You, Sensei?
Chapter 3 : Two Sides of Different Stories
.
.
.
Naruto : 18 Tahun/172 cm
Sasuke : 23 Tahun/178 cm
.
.
*********************** Kagari Hate HerSelf ************************
.
.
Naruto's POV
.
.
.
Mataku menatap lurus jalanan lengang dihadapanku. Terfokus pada jalanan beraspal mulus yang kini tengah kugunakan untuk melajukan mobil sport milikku dalam kegelapan malam. Tidak ada cahaya lain diantara gelapnya malam diwilayah paling selatan Suna selain cahaya dari lampu-lampu mobilku, juga dua mobil lain di depanku dan satu di belakang mobilku.
Aku tergelak melirik spion mobilku saat mobil di belakangku terlihat berusaha menyalip dari sebelah kanan. Aku memutar setirku ke kanan, menghalangi jalannya. Tidak. Tidak akan kubiarkan mobil itu menyalipku disaat aku sendiri tengah berusaha menyalip dua mobil di depanku. Tunggu –berusaha rasanya bukan kata yang benar kugunakan karena saat ini aku dengan mudahnya menerobos dua mobil itu untuk melaju menjadi yang paling depan. Terlalu mudah malah, membuatku sedikit bosan dengan balapan ini.
Benar sekali. Saat ini aku tengah berada di tengah-tengah balapan ilegal. Arena balap liar yang kutemukan secara –tidak sengaja saat aku kabur dihari kedua Minggunya aku siuman. Berpuluh, bahkan mencapai lima puluh mobil dengan berbagai merk dan kemampuan di atas rata-rata dengan harga yang tidak bisa dibilang murah, kalangan 'nakal' yang berusaha untuk menerobos pembatas tata tertib kota dengan kecepatan dan uang yang mereka miliki.
Sekarang aku berada di dalamnya. Mengendarai sebuah mobil sport merah kesayangan Kakakku dengan kecepatan sembilan puluh kilo meter perjam. Masih kurang cepat jika untukku. Tapi, bibirku masih tetap menampakan seringai saat kulihat di kaca spion mobil. Aku tetap bisa menikmati ini.
Dengan ini, dengan berada dalam mobil yang melaju kencang tanpa hambatan di jalanan. Aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku bisa mengingat semuanya, rasa sakit, kekalutan, beban yang kurasakan, semuanya terasa lebih ringan. Menghilang dengan diriku yang terus melawan ketakutan terbesar dalam hidupku sekarang. Mati. Benar, aku takut pada kematian tapi aku ingin mendatanginya. Lebih dekat dengan kematian sampai di ujung kematian itu sendiri.
Menggelikan, tapi itu kenyataannya. Hanya dengan kecepatan aku bisa mengetahui jika aku masih hidup. Paru-paruku masih mengolah oksigen yang kuhirup dari udara. Menyadarkanku dari kematian yang selalu menghantuiku sejak aku terbangun dari koma. Terlalu aneh dengan diriku yang menantang apa yang kutakutkan sendiri, aku ingin merasakan kematian tapi disaat yang bersamaan aku juga tidak ingin mati.
Sorak sorai dari luar mobilku membuatku melihat kearah depan. Aku menyeringai. Sekitar tiga ratus meter di sana sudah terlihat begitu ramai dengan orang-orang dan berbagai mobil yang diparkirkan secara sembarang. Itu garis finish-nya. Tanpa perlu kutahan lagi, aku melajukan mobilku lebih cepat. Meninggalkan tiga mobil di belakangku –yang kuyakin pemiliknya tengah mengumpat kesal karena tak bisa menyalipku.
Garis kuning dari cat khusus yang akan becahaya dalam kegelapan yang terlintang di tengah jalan itu adalah garis finis-nya. Dan saat mobilku melewatinya, sorak sorai penonton bertambah kencang. Membuat telingaku pengang untuk sesaat.
"Yatta! Kyuubi!"
Mehh... aku menyeringai mendengar berbagai pujian yang disematkan padaku di luar sana. Mobilku berhenti sesaat setelah mencapai garis finish. Aku memakai topi dan hodieku kembali, membuatnya menutupi sebagian besar kepalaku dan hanya menyisakan wajahku yang terlihat sedikit.
Pintu samping kemudi kubuka cepat dan menunjukan kepalan tanganku yang mengacung tinggi. Beberapa orang langsung menangkap tanganku dan memukul-mukul pelan bahuku. Aku menyeringai penuh kemenangan pada mereka.
"Bagus Kyuubi! Kau sangat hebat!"
Aku menoleh pada orang yang baru saja memberiku ucapan selamat, aku memberikan tanganku dengan ibu jariku yang menunjuk ke bawah. Ia tertawa melihat apa yang kulakukan dan berjalan lebih dekat padaku.
"Hahaha... kau sudah sombong karena sudah bisa mengalahkanku, eh?" tanya laki-laki berperawakan lebih tinggi sekitar sepuluh senti dariku itu. Ia mengacak surai orange cerahnya sehingga rambutnya yang sudah jabrik tambah berantakan.
"Lima kali, Tuan Mantan Pengendara Tercepat," ucapku pada laki-laki itu. Ia dengan cepat menatapku dengan tajam.
"Tidak perlu kau ingatkan juga aku sudah tahu, Kyuubi! Oh, ayolah! Sekali-kali jadilah pendatang baru yang baik hati dan mau mengalah,"
Yahiko, nama laki-laki itu. Aku mengenalnya disaat pertama aku datang ketempat ini. Orang yang langsung menantangku adu balap dengan wajahnya yang terkesan sangat meremehkan. Aku menerima tantangannya tanpa pikir panjang, saat itu yang pikirkan hanya satu. Apa balapan itu bisa membuatku mati dan meninggalkan dunia ini. Tapi nyatanya sekarang aku malah menikmati dunia ini, dunia balapan dengan Yahiko yang kalah tipis pada debut pertamaku.
Tapi sekarang laki-laki itu malah menjadi orang yang paling 'dekat' denganku di sini. Dia banyak mengenalkanku pada para pembalap lain dan memberitahuku semua jalur dan titik-titik pertemuan perkumpulan ilegal ini.
"Aku harus pergi," ucapku padanya. Yahiko terlihat menaikkan sebelah alisnya, "Lagi?" tanya laki-laki itu.
"Seperti biasa," jawabku singkat seraya memperhatikan dirinya dengan tangan yang sibuk memindahkan uang ditangan kanannya ketangan kiri. Lalu menyodorkan lembaran uang itu padaku. Aku menerimanya dan memasukan uang itu kesaku hoodie-ku.
"Aku heran padamu. Kau itu selalu saja pergi setelah balapan. Ayolah man, sekali-kali ikut kami berpesta! Bersenang-senanglah sedikit," ucap Yahiko.
Aku mengangkat bahuku, "Kurasa tidak. Aku tidak suka pesta," –satu tanganku membuka pintu mobilku, "Dan jam malam masih berlaku untuk anak-anak," lanjutku seraya berlanjut duduk di belakang kemudi.
Yahiko tertawa saat mendengar apa yang kuucapkan, ia mengetuk kaca pintu mobilku dan menyeringai. Laki-laki itu senang sekali mengejekku dengan cara apapun. Seperti sekarang, saat mesin mobilku sudah menyala dan siap melaju, Yahiko masih sempat membuat lelucon konyol di depan teman-temannya. Dari tatapannya aku tahu dia sedang mengejekku.
Aku mengacuhkan tawa kencangnya dan melajukan mobilku kencang. Meninggalkan keramaian itu dengan cepat hingga telingaku hanya bisa mendengar sayup-sayup keributan itu semakin lama semakin mengecil saja. Sekejap itu pula aku mengubah mimik wajahku. Otot-ototku terasa sangat kaku untuk tetap bertahan dengan tawa dan seringai kemenangan yang kutunjukan tadi. Wajah itu sudah kusimpan saat ini, berganti dengan wajah tanpa ekspresi dan pandangan kosong. Wajah bosan hidupku.
Tanpa terasa laju mobilku sudah mencapai sisian kota yang ramai. Segera kupelankan kecepatan mobilku pada kecepatan rata-rata dan melaju di jalanan kota yang ramai. Ini sudah jam dua pagi, tetapi kota ini masih disibukan dengan berbagai kegiatan yang seakan tak pernah ada matinya. Lampu-lampu neon yang terpasang disetiap gedung masih setia menerangi hingar-bingar kota metropolitan ini.
Mobilku berbelok ke kanan diperempatan dan melaju pelan ke salah satu gedung parkiran dua puluh lantai di sebelah kiri jalan. Aku membawa mobilku masuk ke dalam gedung itu dan melaju menuju parkiran di lantai sembilan. Kuhentikan mobilku saat melihat seseorang yang berdiri menyandar pada salah satu mobil di lantai yang kutuju.
Aku memarkirkan mobilku disalah satu ruang yang kosong. Tempat yang memang disewa untuk memarkirkan mobilku ini. Setelah mobil itu terparkir aku keluar dan menguncinya. Aku melangkah mendekati seseorang yang saat ini telah menegakan tubuhnya dan menatap kearahku dengan mata sebesar kuacinya.
"Terlambat dua puluh menit," ucap orang itu sebelum membuka pintu belakang mobil yang tadi disandarinya. "Masuk," ucapannya seperti perintah ditelingaku. Aku masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara. Shikamaru –orang itu menyusul dengan duduk di kursi pengemudi.
"Bajumu ada di bawah jok,"
Aku melirik Shikamaru dari ekor mataku, ia nampak tak memperhatikan dan lebih memilih melajukan mobilnya dalam diam. Lalu mataku melirik ke bawah, melihat satu tas besar olahraga berwarna merah dengan garis biru yang mengembung. Aku mengangkat tas itu dan menaruhnya dikursi samping.
Kutanggalkan topi dan hodieku disebelah tas itu hingga wajah dan rambut merahku terlihat seluruhnya. Tanganku menarik pelan helaian merah itu hingga terlepas dari kepalaku, memperlihatkan rambut asli pirangku. Aku mengacak rambutku yang terasa panas karena terus ditutupi dan membuang napas lega saat rasa dingin dari AC mobil menyambutnya.
Segera kubuka tas di sampingku dan mengeluarkan baju dan kotak sebesar genggamanku dari sana. Tak lupa juga cermin yang kini kupegang dengan sebelah tangan. Cermin yang kugunakan untuk membantuku melepas kontak lensa berwarna merah dimataku. Kelopak mataku mengerjap berkali-kali setelah benda transparan itu kulepaskan. Aku menaruh keduanya pada kotak kecil yang kuambil tadi. Memisahkan antara kanan dan kirinya.
"Kau tidak akan membawaku pulang kan?" tanyaku pada Si pengemudi. Shikamaru melirikku sejenak dari spion dan kembali menatap ke depan.
"Ke rumahku. Aku sudah mengabari rumahmu jika kau menginap," Shikamaru menjawab tanpa mengalihkan pandangannya. Aku memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan dan menatap keluar mobil.
"Berapa lama kau akan menyembunyikan ini?" pertanyaan itu nampaknya tak mengizinkan keheningan terlalu lama. Aku melirik Shikamaru dari ekor mataku sebelum kembali kualihkan pada gedung-gedung megah disepanjang jalan.
"Pertanyaanmu itu jawabannya bercabang," ucapanku barusan memang bukan sebuah jawaban dari pertanyaannya. Tapi itu benar, pertanyaan Shikamaru terlalu terlalu banyak jawabannya bagiku. Berapa lama akan kusembunyikan? Apa yang disembunyikan? Mengenai aku berbohong tentang traumaku mengendarai mobil? Tentang sikapku yang entah yang mana aku sebenarnya? Tentang kegiatan baruku ini? Atau tentang kebohongan-kebohonganku lainnya? Aku terlalu malas jika disuruh untuk menjawab semua itu.
"Sampai kapan kau menyembunyikan hobi barumu?"
Aku menatap Shikamaru sepenuhnya, menyangga daguku dengan telapak tanganku yang terkepal dan bertumpu pada pintu mobil, "Aku tidak punya hobi baru, dan balapan memang sejak dulu sudah kulakukan,"
"Tapi bukan balapan jalanan," dia menyanggah ucapanku. Tak ada niatan dariku untuk bicara lagi. Mood-ku memburuk setiap kali Shikamaru menyangkut-pautkan kehidupanku sekarang dengan aku yang dulu.
Sisa dari perjalanan kuhabiskan dengan berdiam diri, begitu juga dengan Shikamaru yang terlihat tak ingin angkat bicara lagi. Ia hanya diam dan menjalankan mobilnya hingga sampai ditujuan. Rumah, atau bisa kukatakan apartemen sederhana miliknya. Ia keluar lebih dulu dari mobil lalu disusul olehku setelah memakai jaket merah dari tas di sebelahku.
Shikamaru menyerahkan kunci mobilnya pada Security yang memberi sapaan ramah padanya. Sepertinya ia cukup mempercayai orang itu sampai membiarkan mobilnya dipegang Security itu. Setahuku dia bukan orang yang sembarangan menitipkan barang-barangnya pada orang selain dirinya. Siapapun, meskipun itu keluarganya. Bahkan padaku.
Aku mengikutinya menyusuri koridor-koridor apartemen. Tidak ada lift di sini, jadi untuk mencapai lantai dimana apartemen Shikamaru berada kami harus menaiki tangga yang terletak dipaling kanan gedung. Ia memperlambat jalannya hingga aku berjalan sejajar dengannya dan menyamakan ritme denganku. Aku mendengus dalam hati, ia memang tidak bisa sekali pun untuk membiarkan matanya tak melihat kearahku. Shikamaru sudah beralih dari teman sejak lamaku menjadi seorang babysitter tanpa bayaran.
Aku mendengus geli dengan pikiranku barusan. Ia sempat melirikku karena itu namun tampak memilih mengacuhkannya saat pintu apartemennya sudah dekat. Aku mengedarkan pandanganku kesekitar saat Shikamaru sedang membuka pintu apartemennya. Mataku melihat beberapa penghuni yang mengintip dari balik pintu. Melihatku dengan senyuman aneh dan telingaku juga mendengar beberapa orang yang berbisik-bisik setelah lewat begitu saja di belakangku.
Ada yang salah denganku? Tentu saja secara fisik tidak. Tapi aku tahu apa yang mereka pikirkan. Ini semua tentang Shikamaru, laki-laki berkuncir nanas yang saat ini sudah membuka pintunya dan menungguku masuk ke dalam. Aku melihat wajahnya yang terkesan mengantuk itu dan tertawa dalam hati. Ia juga tahu apa yang kupikirkan saat ini.
Bukan aku saja yang berubah di sini. Shikamaru pun ikut berubah, dari seorang anak jenius keluarga Nara. Anak laki-laki satu-satunya yang menjadi kebanggaan dan pewaris kekayaan keluarganya menjadi –seorang pelacur. Aku ingin tertawa sekeras-kerasnya saat ini.
Tidak banyak yang kutahu apa dan kenapa Shikamaru menjadi dirinya yang sekarang. Pelacur, maksudku benar-benar pelacur yang menjajakan tubuhnya. Pada wanita ataupun laki-laki. Kuakui dia cukup tampan hingga para pelanggannya terpesona, kalau soal ranjang aku sih tidak tahu soal itu dan tidak mau tahu.
"Tidak panas sama omongan-omongan itu?" tanyaku. Membuka pembicaraan yang sempat terputus dengan kaki yang langsung mengarah pada tempat tidur di ujung ruangan dekat jendela. Aku merebahkan diriku di sana tanpa seizin pemiliknya dan memejamkan mataku yang memang sudah terasa berat. Tidak peduli dengan pertanyaan yang sudah kulontarkan, aku memilih untuk tidur. Sayup-sayup aku mendengar helaan napas Shikamaru yang terdengar begitu berat bagiku.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sasuke's POV
Menggosok, lagi dan lagi. Aku terus saja melakukan hal yang sama sejak satu jam lalu di ruangan lima kali enam meter dalam kamar mandiku. Duduk di lantai putih basah dengan tangan yang menggenggam serat halus kain yang terus kugosokan keseluruh bagian tubuhku. Ini semua belum cukup. Aku masih merasakannya, sensasi itu. Semua yang membuat perutku memilit dan terasa panas, membuatku mual.
Aku sudah membersihkannya, berkali-kali dengan begitu banyaknya cairan sabun dari botol yang kini isinya sudah kosong. Tapi tetap saja aku merasa ada yang kurang, tubuhku sama sekali belum bersih. Tak ada bedanya dari saat orang itu menyentuhku. Aku, disentuh laki-laki.
Gerakanku tiba-tiba berhenti, napasku tercekat. Tubuhku yang semula kaku kurasakan mulai gemetaran. Jantungku berdetak tak karuan, begitu kencangnya hingga terdengar lebih keras dari suara air yang terpercik dari shower yang kunyalakan. Rasa mual lagi-lagi menyergap perutku, aku kembali memuntahkan cairan dari mulutku. Muntah yang entah untuk keberapa kalinya.
Tidak ada lagi rasa jijik saat cairan berbau asam lambung itu menyentuh kakiku. Tidak, saat apa yang kumuntahkan itu tak lebih dari cairan bening tanpa apapun lagi. Semua isi perutku sudah terlalu kosong untuk mengeluarkan makan siangku atau lainnya. Semuanya sudah kumuntahkan lebih dulu.
Mataku menatap tubuh bagian bawahku. Tempat dimana rasa jijik itu muncul. Milikku yang terlihat memerah dan nampak lecet karena terlalu banyak kugosok dengan kasar. Bagian yang paling menjijikan itu tetap saja tidak bersih. Belum bersih dari sentuhan orang itu.
Ya Tuhan, aku masih bisa merasakan sentuhan menjijikannya. Setiap cengkraman dari jemarinya. Tidak peduli bagaimanapun aku membersihkannya, rasa itu tetap ada.
Aku menggigit bibir bawahku keras, menghalau suaraku agar tak berteriak menyuarakan tingkat kefrustasian yang kurasakan saat ini. Aku membangunkan tubuhku dengan tangan yang bertumpu pada palang besi tempatku menggantungkan handuk putihku. Kepalaku mendongak, melihat kotak kaca dengan tanda medis yang menyilanginya secara pertikal dan horizontal. Aku melangkahkan kakiku mendekati lemari setinggi bahu hingga kepalaku itu. membuka sebelah kanan pintunya dan mengambil sebuah cutter dari sana.
Mataku menatap benda tajam ditanganku tanpa antusias. Tanganku masih gemetaran saat kudorong sedikit ujung dari gagang cutter itu hingga ujung tajamnya menyembul dari gagang plastiknya. Aku memejamkan mataku sementara tanganku membawa cutter itu mendekati lengan kiriku. Aku menekan ujung runcingnya pada lengan dalamku seraya menariknya mundur. Hal pertama yang kurasakan adalah perih yang sesaat saat besi tipis dan tajam itu membelah kulitku. Aku menekannya semakin dalam dan mengernyit saat bukan hanya kulitku yang tersayat tapi juga daging di dalamnya.
Perlahan kubuka mataku dan menatap guratan lurus yang merembeskan darah yang keluar dari bekas sayatan itu. Perih yang sesaat itu datang lagi namun kali ini terasa lebih lama. Aku mengerang saat bukan hanya rasa perih setelahnya, luka itu mulai sakit.
"Nghh..."
Aku menyandarkan sisi kanan tubuhku pada dinding, tubuhku masih gemetaran dan memaksaku untuk menyerosot duduk di lantai. Tanganku menggenggam lebih erat cutter itu hingga terasa kebal di sana. Menyalurkan kesakitan yang kurasakan dari luka yang baru saja kubuat.
Tapi ini tidak cukup. Masih belum, tubuhku masih belum bisa melupakan sentuhannya. Tubuhku belum berhenti untuk gemetaran. Kubawa kembali cutter itu pada tanganku, aku menekannya lagi. Tepat disebelah luka yang sudah kubuat. Satu luka lagi –tidak tapi dua luka lagi sampai aku bisa menghentikan rasa mual dan jijikku.
.
.
Langit-langit putih kamar mandiku saat ini terasa seperti ternodai warna hijau yang membayang dimataku. Mengikuti kemanapun bola mataku ini bergulir. Efek halusinasi karena terlalu lama menatap warna merah. Merah dari cairan mengering yang kini menodai hampir seluruh tubuhku.
Kepalaku bergerak untuk melihat lengan kiriku yang masih setia mengeluarkan darah. Berapa banyak darah yang keluar dari luka itu aku sendiri tidak tahu. Aku tiak bisa memperkirakan berapa liter darah yang menggenangi lantai putih kamar mandiku tanpa menyisakan warna putih keramiknya sama sekali.
Tubuhku sudah berhenti gemetar, aku juga tak lagi merasakan mual diperutku. Tapi kini tubuhku terasa lemas. Tentu saja, kehilangan tidak sedikit darah amat berpengaruh pada kekuatan tubuhku ini. Tapi aku tidak bisa terus terduduk di kamar mandi jika tidak ingin masuk angin dan tidak bisa bekerja besok.
Karena itu aku membangunkan tubuhku dengan bantuan palang besi itu lagi. Saat ini aku harus mandi lagi dan membersihkan luka ditanganku agar tak terkena infeksi. Aku refleks bersandar pada dinding di belakang tubuhku saat kepalaku terasa berdenyut sakit. Tidak heran jika aku terkena anemia sekarang.
Aku berjalan sedikit terhuyung mendekati shower yang sejak tadi menyala dan berdiri di bawah kucurannya. Lukaku semakin perih saat terkena air, tapi aku tetap membasuhnya hingga bersih. Tidak mau luka itu nantinya memberi infeksi karena tidak kubersihkan.
Tanganku meraih handuk putih yang tergantung pada palang dan sementara tanganku yang lain mematikan shower. Kuusapkan kain lembut itu keseluh tubuhku untuk menyeka air yang masih mengeliri tubuhku. Alisku mengernyit saat usapan itu sampai ketangan kiriku. Aku mengusapnya lebih lembut lagi untuk mengurangi rasa sakitnya. Setelah selesai, kulingkarkan handuk itu untuk menutupi pinggangku hingga lutut.
Kakiku melangkah mendekati pintu kamar mandi dan menggeser pintunya ke kanan. Aku melangkah keluar dari kamar mandi. Berjalan menuju tempat tidur king size yang sebenarnya terlalu besar untukku seorang dengan tangan yang menggenggam kotak putih P3K. Aku duduk disisian tempat tidurku dan membuka kotak P3K yang kubawa. Mengeluarkan satu gulungan kain perban dan obat merah yang akan kugunakan untuk mengobati lukaku.
Segumpal kapas membantuku untuk membubuhkan cairan merah itu pada lukaku. Aku meringis saat rasa perih itu datang lagi. Setelahnya, tanganku mengambil kain perban dan mulai membalut lukaku. Aku memberikan sedikit tekanan agar perban itu benar-benar membuat lukaku tak membuka lagi. Beberapa kali lilitan lagi hingga aku memotong perban itu dan menggunakan plester untuk membuatnya menempel erat.
Mataku menatap hasil kerjaku. Lengan yang terperban rapi, aku sudah menjadi ahli dengan pekerjaan sederhana ini setelah bertahun-tahun kulakukan. Sesuatu yang berguna saat aku melukai diriku lagi. Aku memasukan kembali gulingan perban dan obat merah yang tadi kugunakan. Membuang kapas bekas obat merah ketempat sampah didekat tempat tidurku.
Tubuhku beranjak dari tempat tidur dan berjalan mendekati lemari besar dua pintu setinggi seratus delapan puluh centi berwarna hitam yang berada di pojok ruangan. Cermin besar dipintu lemari membuat kakiku terhenti sejenak. Aku menatap pantulan diriku dicermin itu. Terlihat berantakan, tubuh yang penuh dengan bekas goresan kasar yang begitu sangat terlihat karena kulitku yang terlampau putih –pucat. Tubuhku yang terlampau kurus.
Aku benci cermin. Cermin membuatku bisa melihat betapa menyedihkannya aku. Tubuh kurus yang selalu tertutupi oleh balutan pakaian. Juga yang paling kubenci, membuatku bisa menatap mata hitam milikku yang hampa. Mata seseorang yang sudah menyerah pada kehidupannya sendiri.
Tak mau berlama-lama dengan hal memuakan menyangkut perasaan, aku membuka pintu lemari itu dan mengambil pakaianku secara acak dari sana. Yang paling atas dan mudah kujangkau. Handuk yang membalut pinggangku kulepas dan kuganti dengan celana. Alisku mengernyit merasakan perih diselangkanganku saat permukaan celana itu menyentuh dan membungkusnya. Aku tidak ingin mengingatnya. Memilih beralih untuk memakai kaus biru lengan pendek yang kuambil tadi.
Pintu lemari itu tertutup, aku menutup mataku dan berbalik. Tidak ingin melihat cermin besar itu lagi. Tubuhku masih sedikit lemas dan aku tidak ingin berpikir macam-macam lagi saat ini. Aku butuh istirahat.
Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur dan memejamkan mataku. Berusaha untuk menyelami alam mimpi yang seakan begitu sulit untuk menenangkan diriku sendiri meski itu bukan dunia nyata.
.
.
.
.
.
Naruto's POV
Bosan. Satu kata yang bahkan belum bisa mendeskripsikan keadaanku sekarang. Di ruang kelas dengan murid-muridnya yang tengah fokus mendengarkan penjelasan seorang Guru dengan penampilan bodoh dan menjijikannya. Mata yang dibubuhkan eyes shadow ungu seperti lekukan disekitar mata reptil sejenis ular termasuk matanya juga mirip ular. Ditambah dengan kulit seputih mayatnya. Rambut hitam panjangnya lebih-lebih lagi membuatku jijik.
Bagaimana bisa guru seperti itu bisa mengajar di sekolah bertaraf internasional seperti ini? Sogokan? Atau merayu pihak yayasan dengan tubuhnya –itu rumor yang kudengar sebelum kelas guru itu dimulai tadi.
Aku sama sekali tidak tertarik dengan semua penjelasan tentang alat-alat reproduki hewan yang tengah diperagakannya dengan patung-patung terbelah ditangannya. Aku ingin sekali muntah saat telunjuknya dengan sengaja ia masukan ke lubang belakang patung hewan itu. Sangat bisa kusebut jika guru bernama Orochimaru itu punya kelainan sex dengan sekali lihat.
Bodolah. Sekarang aku hanya berharap Tuhan masih mengingat bangsa atheis sepertiku untuk diselamatkan dari kodratnya berada di kelas sial ini. Aku mendengus dengan pemikiranku barusan.
Teng Tong Teng
"Perhatian, untuk siswa bernama Uzumaki Naruto kelas 3B untuk datang ke ruangan Kepala sekolah sekarang juga. Sekali lagi, perhatian untuk siswa bernama Uzumaki Naruto kelas 3B untuk datang ke ruangan Kepala sekolah sekarang juga. Terima kasih,"
Sekejap seluruh kelas menatap kearahku. Termasuk Shikamaru yang memandangku dengan pandangan tajamnya, seakan meminta penjelasan setelah ini. Tapi bagiku itu tidak penting lagi karena sepertinya ucapan Tuhan tidak pernah pilih kasih itu ada benarnya juga. Sekarang aku harus pergi dari kelas ini.
Aku membangunkan tubuhku dari kursi dan menyelempangkan tas hitamku pada bahu kanan. Tanpa banyak kata atau sekedar meminta izin pada guru menjijikan –yang tengah menatapku yang berjalan melewatinya dalam diam- itu, aku keluar dari kelas.
.
.
.
Tok! Tok!
Aku masih punya cukup sopan santun untuk mengetuk pintu besar yang kini berada di depanku sebelum kubuka dengan perlahan. Ruangan di belakang pintu ini adalah ruangan kepala sekolah. Orang yang katanya ingin bertemu denganku entah ada urusan apa. Aku tidak terlalu peduli –tidak. Sekarang aku peduli.
Aku tersenyum dalam hati saat mataku menangkap tubuh tegak dengan surai hitam belakangnya yang melawan gravitasi. Orang itu lagi, seseorang yang bernama Sasuke itu tengah duduk membelakangiku. Nampak tidak peduli dengan kedatanganku barusan, tentu saja itu karena ia tidak melihat siapa yang melangkah masuk dan sekarang berdiri satu meter di belakangnya. Pandanganku beralih pada pria tua dengan satu mata tertutupi perban di seberang meja. Duduk dengan angkuhnya dikursi kebesarannya.
"Anda memanggilku, Danzo-sensei," ujarku pada laki-laki tua itu. Tapi perhatianku bukan padanya melainkan pada laki-laki bersurai raven dengan tubuhnya yang mendadak menegang setelah mendengar suaraku. Oh, ingatannya cukup tajam untuk mengingat bagaimana suaraku.
"Uzumaki Naruto, silahkan duduk," menganggukan kecil, selanjutnya aku duduk pada kursi di samping laki-laki raven itu. Mungkin hanya aku yang merasakan, tapi sangat jelas jika keberadaanku membuatnya tidak nyaman.
"Sekarang –" perhatianku kembali ke depan, "Aku ingin kalian jujur menjawab semua pertanyaanku. Tapi sebelum itu, apa benar ini tas milikmu, Uzumaki Naruto?" tanya pria tua itu. Tangan kirinya mengangkat sesuatu dari bawah –tasku- dan menaruhnya dimejanya. Aku mengangguk malas, sekarang aku tahu kenapa aku dipanggil kemari bersama laki-laki di sampingku ini.
"Aku akan bertanya pada kalian," pria itu terlihat lebih serius, "Apa benar kalian berada di ruang klub drama kemarin pagi sekitar jam sembilan?"
Diam-diam aku mengucapkan kata 'selamat' pada diriku sendiri karena telah menebak dengan benar kenapa aku dipanggil kemari. Aku hanya mengangguk untuk menjawabnya, sepertinya laki-laki di sebelahku juga mengangguk saat kulihat sekilas dari ekor mataku.
"Kalian bertemu dengan seorang siswi bernama Haruno Sakura?"
Pertanyaan yang ini lebih menjurus dari sebelumnya, tapi lagi-lagi kujawab dengan sekedar mengangguk. Pria itu nampak masih sabar dengan kediamanku dan laki-laki di sebelahku.
"Apa yang kalian lakukan di sana," raut termakan usianya nampak berpikir, "Dengan Haruno Sakura?"
Aku melirik laki-laki raven itu, otakku memberiku sedikit ide gila –cukup licik. "Jadi, apa yang kita lakukan saat itu, 'Sasuke'-sensei?" tanyaku padanya dan lihat itu, tubuhnya tersentak karena pertanyaanku barusan. Sepertinya tidak menyangka jika aku malah bertanya padanya.
"Saya tidak tahu maksud anda ...Uzumaki-san. Dan Danzo-sama, Saya memang berada di ruang klub drama saat itu. Bersama Haruno Sakura," jika saja hanya ada aku dan laki-laki ini mungkin sekarang aku sudah menyeringai lebar.
"Lalu?" tanya pria tua ber-title Kepala Sekolah itu lagi.
"Tidak ada yang kami lakukan di sana, Danzo-sama,"
"Bohong!" teriakan itu seketika membuat pandanganku beralih, alisku terangkat sebelah melihat seorang perempuan berambut pink yang keluar dari pintu lain di samping belakang meja Kepala Sekolah. Bibirku melengkung tipis. Begitu rupanya, gadis itu mendengarkan semuanya sejak awal, eh? Butuh kata 'wow!' lagi di sini.
"K –kau... Sa –Sasuke-sensei ... hiks... kau memperkosaku!" teriak gadis itu histeris, tangannya memeluk erat tubuhnya seakan begitu ketakutan.
"Tenangkan dirimu, Haruno-san." pria tua itu kembali bicara, "Nah, Sasuke-sensei. Kau sekarang tahu apa alasanku memanggilmu –kalian berdua kemari. Sekarang akui semuanya, dengan jujur. Apa benar anda telah melakukan hal tidak pantas itu pada murid anda sendiri?"
"Tidak," terlampau singkat untuk menjawab pertanyaan itu. Tidak ada pembelaan di sana, hanya penyangkalan dari tuduhan. Aku sendiri bahkan heran bagaimana wajah pucat itu bisa setenang ini saat seorang gadis baru saja menuduhnya telah memperkosanya. Bagiku, siapapun dan setidak bersalah apapun orang itu pastilah setidaknya akan menyanggah dengan kebenaran yang terlintas dikepalanya. Bukan hanya kata 'tidak' tanpa penjelasan.
"BOHONG! Hiks! ... akui .. akui saja Sensei! K –kau menyuruhku datang ketempat itu ...l –lalu tiba-tiba saja, tiba-tiba saja kau menci –hiks.. hikss... kenapa sensei..." aku ingin bertepuk tangan untuk acting-nya yang sangat natural itu, tapi saat ini aku lebih tertarik pada wajah tenang dengan tak bisa kupungkiri –tampan di sebelahku.
"Jangan membuat dirimu lebih menyedihkan dari ini Haruno. Jangan buat dirimu sendiri malu,"
"Cukup!" Suara yang naik satu oktaf itu datang dari pemilik wajah keriputan di seberang meja, "Sasuke-sensei. Perkataanmu barusan sangat tidak pantas dan tidak ada sanggahan, penjelasan atau apapun untuk membela dirimu, apa itu membuktikan jika semua yang dikatakan Haruno-san adalah benar adanya?" tanyanya.
Sekarang aku yakin laki-laki minim ekspresi ini butuh bantuanku. "Tunggu, Danzo-sensei," karena itu aku menyerobot bersuara saat ia akan menjawab pertanyaan itu, "Bisa anda lihat ini sebentar," ucapku padanya. Aku membuka resleting tasku dan mengeluarkan sebuah amplop coklat besar. Aku menyerahkan amplop itu pada Danzo dan tentu saja tidak perlu untuk kusuruh membukanya, pria itu membuka amplopnya.
"Itu untuk anda. Jika saja anda belum melihat 'mading' sekolah hari ini," ucapku dengan sedikit penekanan. Sekarang ini aku memang sangat beruntung –ah tidak. Tapi aku memang selalu benar dengan mencetak foto itu. Foto yang kuambil saat gadis yang saat ini sedang menangis tersedu-sedu itu tengah merobek-robek pakaiannya dengan sebuah gunting.
Lembaran foto sebesar kertas A4 itu teremas oleh jari berkulit kendur Danzo. Wajahnya nampak berubah sangar dimataku. Terlebih saat ini gestur tubuhnya menampakan amarah yang ditahan-tahan. "Haruno-san," ucapnya dengan nada dingin.
Aku melihat gadis –pelacur itu tersentak kaget dengan nada dingin yang dipakai Kepala Sekolahnya. Terbukti dari wajahnya yang menafsirkan kebingungan.
"Kemari dan lihat ini,"
"T –tapi –"
"Kemari!" suara yang naik satu oktaf lagi dan gadis itu berjalan mendekat dengan takut-takut. Ia berdiri di samping Danzo dan aku bisa melihat matanya melebar penuh keterkejutan. Tubuhnya yang mulai gemetaran.
"Tidak.. i –itu ... itu tidak b –benar! Sensei itu tidak benar! S –Sasuke-sensei memperkosaku! Foto itu ti –tidak benar!" kilahan yang sia-sia dari gadis itu. Orang dihadapannya kini tidak akan mempercayainya lagi dengan foto-foto yang kutunjukan. Bukti itu konkrit, nyata. Tidak seperti pengakuannya yang hanya meraung-raung layaknya orang sakit jiwa.
"Haruno Sakura. Aku akan memanggil kedua orang tuamu untuk membicarakan tentang kelakuanmu ini," ucapan itu masih tetap pada kadar dinginnya. "Dan kalian berdua, silahkan keluar dari ruanganku. Dan, aku minta maaf sebesar-besarnya atas kejadian ini," pria itu berdiri dari kursinya dan menunduk –hanya sekejap- kearahku dan laki-laki di sampingku. Aku mendengus dalam hati.
Aku menegakan tubuhku dan mengenyahkan beban tubuhku dari kursi kayu yang sejak tadi kududuki. Tanganku menyampirkan tas hitamku dibahu, "Boleh kuambil tasku?" tanyaku sekedar basa-basi. Tanganku mengambil tas di atas mejanya tanpa menunggu jawaban dari orang berpangkat paling tinggi di ruangan itu.
Kakiku berjalan menjauh dan segera mambuka pintu besar yang tadi sempat kulewati. Sebelum keluar, aku melirik laki-laki raven yang dalam penglihatanku tengah membungkuk pada orang di depannya.
.
.
.
Sasuke's POV
Aku membuka pintu ruang Kepala Sekolah yang sudah 'menyekap'ku selama kurang lebih dua puluh menit. Aku menghembuskan napasku setelah pintu di depanku ini sudah kututup dari luar. Setidaknya aku bisa merasa lega karena masalahku yang satu ini sudah selesai, meski dengan bantuan tak terduga dari –dari orang itu.
"Melamun, Sensei?"
Tubuhku menegang. Kepalaku menoleh keasal suara barusan dan napasku tercekat seketika. Rambut pirangnya, wajah, mata biru itu. Kenapa pemuda itu masih di sini? Sekarang apa yang harus kulakukan? Lari dari sini, diam, atau –semua pikiranku terhenti saat aku merasakan remasan kuat pada lengan kiriku. Hampir saja aku memekik sakit karena cengkraman dari jari-jari yang menekan lukaku.
Tapi tidak, saat ini yang harus aku khawatirkan adalah diriku yang ditarik kasar mengikuti langkah pemuda pirang itu. Langkah yang tidak bisa kubilang pelan dan terkesan menyeretku dengan paksa. Tapi itu memang kenyataannya. Ia menyeretku melewati koridor-koridor kelas yang sepi. Tapi tetap saja para siswa yang berada dalam kelas pasti akan melihat diriku yang diseret-seret oleh seorang siswa yang bahkan aku sendiri tidak pernah mengenalnya selama ini. Bahkan ada yang hingga melongok untuk melihat kearah kami.
Aku mengepalkan tanganku, mulutku bersiap untuk melontarkan bermacam kata dalam pikiranku kalau saja aku tidak kembali terdiam saat pemuda yang tengah menawan tanganku itu tidak memasuki salah satu kelas. Masuk. Dengan aku yang masih diseretnya.
Dari mataku aku bisa melihat pandangan heran dari para murid yang memandang kedatanganku dan pemuda itu. Terlebih dengan seseorang yang sangat kukenal, seorang rekan guru yang menatapku penuh selidik. Yang paling tidak membuatku nyaman, dia –Orochimaru.
Aku hampir-hampir menabrak pelaku penyeretanku jika saja aku tidak berhenti tepat sebelum aku benar-benar menabraknya. Aku mencoba untuk membendung rasa maluku dibalik wajah tanpa ekspresiku. Mataku menatap datar seorang murid laki-laki yang menatap penuh selidik padaku sebelum beralih pada pemuda yang masih menahanku untuk pergi.
"Apa maumu?" pertanyaan itu terkesan malas untuk dikeluarkan murid laki-laki dengan kuncir tinggi itu.
"Kunci mobilmu dan bawakan tasku," pemuda pirang itu menaruh tas hitam dan satu lagi tas berwarna senada dimeja depan murid itu. Tangan yang menyerahkan beberapa kunci dengan gantungan hitam mirip tasbih terulur pada tangan Si pemuda pirang.
Aku yang akan menyuarakan protes yang sempat terhenti kembali dikejutkan dengan seretan pemuda itu yang kembali berlanjut. Membawaku keluar dari kelas itu tanpa mengucapkan apapun.
Cukup. Aku tidak mau diseret-seret seperti seorang pelaku kejahatan seperti ini lagi. Aku menyentakan tanganku dan langsung menyesalinya karena sebuah erangan lolos keluar dari mulutku. "Ukh!" Terlebih saat kakinya berhenti dan menoleh kearahku. "Tolong, lepaskan tangan saya, Uzumaki-san," ucapku yang akhirnya bisa kusuarakan.
Mata biru itu menatapku datar, beradu pandang denganku, dengan langkah yang semakin dekat. Laki-laki yang sudah menyentuhku. Sangat dekat. Tidak. Aku harus tetap tenang, jangan kacaukan semua ini.
"..."
Setelah lebih dari satu menit ia diam tanpa mengucapkan satu katapun setelah permintaanku, aku kembali bersuara. "Lepaskan, uzumaki-san," ucapku, kali ini tanpa kata 'tolong'. Dan di sana, mataku mengerjap –tadi, dia menyeringai?
"Tidak," –BRUGH! Punggungku terasa sakit saat bertabrakan dengan sesuatu yang keras seperti dinding. Mataku tertutup rapat karena luka ditanganku terbuka lagi.
Aku membuka mataku perlahan dan melihat pemuda itu berdiri di depanku, dua atau tiga langkah di depanku dengan sesuatu seperti besi silver yang terlihat menutup di belakangnya.
Besi ...silver?
Tidak mungkin.
Tidak.
Jangan katakan jika pemikiranku sekarang ini benar. Jangan katakan jika sekarang aku berada dalam... –lift.
Mataku membulat sempurna. –Tidak. Aku mulai tak bisa mengatur deru napasku. –Tidak. Tidak. Aku... dalam lift. Aku dalam lift.
Penglihatanku memburam, semuanya nampak berputar-putar. Bahkan aku tidak tahu sejak kapan pemuda pirang yang tadinya masih berjarak beberapa langkah di depanku kini sudah berapa tepat dihadapanku. Aku menatapnya, namun tetap tidak bisa terfokus padanya. Saat ini, saat ini aku hanya ingin keluar dari ruangan ini. Keluar. Keluar. Keluar secepatnya.
"Jadi aku benar," aku mendengar pemuda itu berujar. Tapi itu hanya lebih terdengar sayup-sayup ditelingaku saat napasku yang mulai memburu dan pasokan oksigen yang seharusnya bisa kuhirup dengan mudah menjadi sangat sulit. Paru-paruku serasa ditekan saat ini. Kepalaku terasa dihantam dengan benda berat.
"Kau seorang pengidap claustophobia," aku merasakan kedua pipi bagian bawahku dicengkram, "Mata tidak fokus, napas yang terengah –kau sulit untuk bernapas? Tubuh yang gemetaran, dan apa saat ini kepalamu terasa pusing, Sensei?"
"Hah... hah..." aku tidak bisa menjawabnya, untuk bernapas saja sudah sangat sulit bagiku saat ini.
"Bagaimana rasanya naik lift? Ini pengalaman pertamamu, bukan?"
Aku menggeleng, berusaha melepaskan cengkraman pada pipiku. Namun cengkraman itu malah semakin keras. Ya Tuhan, kumohon biarkan aku keluar. Aku tidak bisa. Aku bahkan bisa merasakan aliran asin yang tak sengaja memasuki mulutku yang terbuka. Keringatku yang sudah bercucuran deras.
"Aku –hah... tidak bisa... hah –ha.. Ah –niki..." satu tanganku menggapai-gapai apapun yang bisa kujadikan pegangan saat ini. Dan aku bisa merasakan permukaan kain yang membungkus tubuh pemuda itu. Aku tidak peduli. Saat ini kakiku terasa sangat lemas sekali, aku akan jatuh dan karena itu aku butuh sesuatu untuk berpegangan.
Aku mencengkram kain –yang kuyakini jaket orange- yang dipakai pemuda itu dengan kuat. Aku menggeram dengan napas yang sesekali tercekat ditenggorokan. Sulit, sulit sekali untuk bernapas. Dan paru-paruku seakan tak lagi bisa menerima pasokan oksigen saat mulut yang kugunakan untuk mencari udara terbungkum oleh sesuatu. Membasahi mulutku, melumat bibirku yang semula begitu kering.
Apa? Apa yang dilakukan pemuda pirang itu pada bibirku? Kenapa aku semakin sulit bernapas? Saat ini yang kuinginkan adalah pemuda itu melepaskan mulutku. Membiarkan aku untuk mencari pasokan oksigen untuk paru-paruku.
Aku membuka mulutku, berharap jika kulakukan itu aku dapat kembali menghirup udara, "Anggh..." kenyal, sesuatu dengan cepat masuk ke dalam mulutku. Menggelitik langit-langit mulutku. Aku mencengkram jaket pemuda itu semakin kencang, rasa ini –mual.
"Ngghh..." mataku berair, rasa pusing yang menyerang kepalaku semakin lama semakin membuat kesadaranku menjauh. Tubuhku yang terasa begitu lemas dan cengkramanku mengendur bersamaan dengan mataku yang hampir menutup.
"Easy, Sensei. Don't be sleepy here," pandanganku kembali saat pipiku merasakan beberapa tamparan ringan. Napasku masih memburu oksigen saat mataku menangkap samar-samar seringai diwajah pemuda itu.
Bibirku kembali merasakan permukaan lembut yang tadi menawanku meski hanya sebentar karena berikutnya, bagiku semuanya menjadi gelap.
.
.
.
.
.
.
.
Naruto's POV
Aku menatapnya, memandang tanpa jemu sosok yang kini tertidur di tempat tidur berukuran doble bed dihadapanku. Sosoknya yang tertidur pulas dengan wajahnya yang terlihat sudah kembali tenang. Tidak ada cucuran keringat yang membasahi wajahnya, napasnya yang tersengal-sengal kini nampak begitu teratur. Wajah damai dalam tidurnya.
Pandanganku teralih untuk melihat deretan kata pada kartu kependudukan ditanganku. Uchiha Sasuke, dua puluh tiga tahun dengan alamat dan beberapa hal lainnya. Cukup untukku tahu sedikit tentang laki-laki itu.
Bebanku terangkat dari sofa panjang yang tadi kududuki. Kakiku melangkah mendekati tempat tidur. Mataku tak lepas untuk melihat setiap inchi dari pria tampan yang baru saja aku 'culik'. Kata apa lagi yang harus kugunakan untuk mengatakan apa yang kulakukan ini? Aku yang menyeret laki-laki ini semenjak ia keluar dari ruang Kepala Sekolah, mendorongnya ke dalam lift hingga ia pingsan dan membawanya pergi dengan mobil yang kupinjam dari Shimamaru. Terakhir, aku membawanya kemari. Apartemen Shikamaru yang jelasnya aku memiliki duplikat kunci apartemennya.
"Nggh..."
Pikiranku buyar begitu telingaku mendengar suara lenguhan lirih khas orang bangun tidur dari sosok di depanku. Aku berjalan ke samping tempat tidur dan mendudukan diriku di sana. Tanganku bergerak untuk mengusap helaian poni yang terlihat terlalu panjang hingga sedikit menutupi kelopak matanya. Ia terlihat tidak terlalu nyaman dengan gerakan yang kulakukan.
"Nggh..."
Ia melenguh sekali lagi sebelum kelopak matanya terbuka perlahan. Iris hitam, seindah batu obsidian yang bercahaya terkena matahari –bedanya obsidian miliknya memantulkan cahaya lampu ruangan ini. Matanya nampak mengerjap beberapa kali sebelum menyadari keberadaanku di sampingnya. Tapi sepertinya belum terfokus sepenuhnya.
" ...siapa?" well, akan lebih biasa jika ia menanyakan dirinya dimana dulu bagiku. Tapi aku tidak menjawab pertanyaannya itu. Aku memilih menggunakan tanganku untuk mengusap wajahnya yang terkesan bingung.
"Menurutmu siapa?" tanyaku padanya. Tubuhnya seketika terlihat menegang dan langsung bangkit dari tidurnya. Ia duduk dengan tangan yang refleks memegangi kepalanya, mungkin efek dari terburu-buru bangun hingga kepalanya itu sakit.
Aku mengambil gelas berisi air putih di atas meja di samping tempat tidur dan menyodorkan gelas itu padanya. Tanganku menuntunnya untuk meminum air putih itu dengan pelan sebelum ia menjauhkannya sendiri. Kutaruh gelas itu kembali di atas meja dengan sepasang obsidian yang tak melepaskan pandangannya dariku.
"Ini dimana?" aku mendengar nada datar miliknya sudah kembali. Aku duduk dengan tangan kiri yang menanggung sebagian beban tubuhku. Mataku menatap wajahnya, ternyata sudah kembali juga.
"Rumah temanku," jawabku sekenanya. Namun eratan tangan pada bantal yang kini berada di belakang tubuhnya membuatku sedikit ...heran. "Kau pingsan dan aku tidak tahu dimana rumahmu," jelasku saat tak ada ucapan lain darinya. Tentu saja bohong, karena baru saja aku melihat identitasnya.
"Saya sudah bangun. Jadi, sekarang Saya akan pergi,"
Ia beringsut turun dari tempat tidur, melewatiku. Ketika ia siap untuk melangkah menjauhiku, aku menarik tangannya keras hingga tubuhnya limbung kearahku.
–Bugh!
Ia jatuh dengan tubuh yang bertumpu padaku, sedangkan kepalanya bersandar pada bahuku. Aku memang tidak melihat bagaimana wajahnya saat ini, tapi kuyakin saat ini mata hitamnya itu tengah terbelalak dengan wajah terkejutnya.
Dorongan keras pada dadaku membuat punggungku menimpa tempat tidur. Tangannya menyentak dan melepaskan cengkramanku. Kulihat ia berjalan mundur sebelum berbalik dan berjalan mendekati pintu yang diyakininya sebagai pintu keluar.
"Pintu itu terkunci, jika kau ingin tahu," gerakannya terhenti tepat di depan pintu. Aku meliriknya dengan masih dalam keadaan terlentang. Aku mengacungkan tanganku, sebuah kunci berwarna silver menggantung pada jari telunjukku.
"Apa yang Anda inginkan?" tanya laki-laki itu. Masih tetap menghadapkan dirinya pada pintu.
Aku bangkit dan mengantungi kunci rumah Shikamaru pada jaketku. Aku menatap tubuh tinggi di depan sana dengan sebuah kerutan. Apa yang kuinginkan? Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang kulakukan saat ini, bagaimana bisa aku tahu apa yang kuinginkan? Maka dari itu aku diam. Mataku tetap tak lepas dari punggungnya.
"Jika tidak ada, maka tidak ada alasan bagi Anda untuk menahan Saya, Uzumaki-san,"
"Aku tidak tahu seorang pengidap claustophobia akan begitu sangat tidak berdaya dalam lift," jemari tangan laki-laki itu mengepal setelah mendengar ucapanku, "Kenapa kau bisa mengidap fobia itu?" aku tidak tahu lagi kenapa aku bertanya hal ini padanya.
"Seorang pengidap claustrophobia atau bukan, yang pasti tidak akan ada hubungannya dengan Anda," ucapnya.
Aku diam.
Semua ucapannya benar. Memang semua itu tidak ada hubungannya denganku. Tapi karena itu, aku ingin tahu. Kenapa dan bagaimana. Semacam –sebut saja ini penasaran. "Karena penyakit keturunan atau pengalaman traumatik, sesuatu yang umumnya membuat seseorang bisa mempunyai suatu fobia," ujarku.
Tubuh laki-laki itu berbalik menghadapku, menatap mataku langsung dengan mata itu. Mata yang terkesan menyembunyikan sesuatu dibalik tatapan datarnya. Mata yang lebih redup, lebih gelap dibandingkan cerminan mataku. "Apa mau Anda, uzumaki-san?" kesan dingin nampak begitu jelas dari kata-katanya.
Aku mengenyahkan tubuhku dari tempat tidur dan berjalan mendekatinya. Melihat betapa dengan susah payahnya ia untuk mempertahankan wajah tanpa ekspresinya. Namun bagiku ia sudah gagal. Tangan-tangannya yang mengepal seakan melunturkan bentuk pertahanannya.
"Sensei, kenapa kau terlihat takut padaku?" tanyaku padanya. Langkahku berhenti dua langkah di depannya.
"..."
Aku melihat wajahnya semakin dingin, tapi bibir terbungkamnya nampak begitu pucat pasi saat aku mengambil satu langkah maju. Kuyakin mataku berkilat tertarik melihat berubahan sikapnya lagi. Aku menjilat bibir bawahku, ia nampak menatap apa yang kulakukan dengan penuh selidik.
"Aku ingin tahu, Sensei. Bagaimana rasanya seseorang menyentuh bagian pribadimu, hingga kau mencapai klimak ditangannya?" tanyaku. Kedua tanganku terentang dan memerangkap tubuhnya diantara tubuhku dan permukaan pintu. Aku mendongak melihat ekspresi tidak nyamannya dengan apa yang kulakukan.
Ia memang lebih tinggi dariku, tapi rasanya sekarang nyalinya tak lebih besar dariku. Terbukti dari matanya yang mulai menjelalat kemana-mana, tetapi tidak kepadaku. Aku mendekatkan wajahku padanya. "Untukku, rasanya luar biasa saat kau menyemburkan sperma ditanganku," dengan sengaja kuhembuskan napas hangatku ditengkuknya. Tubuhnya mengejang dengan sempurna. Aku menyeringai.
"Sayang kau tidak bisa bertahan lebih lama dengan tanganku yang memijat penismu,"tubuhku merapat dengan tubuhnya. "Aku merasakan setiap otot-otot di bawah kulit penismu berdenyut diremasan jariku,"
Sasuke' POV
"Aku merasakan setiap otot-otot di bawah kulit penismu berdenyut diremasan jariku,"
Hentikan. Jangan katakan lagi. Aku tidak ingin mendengarnya, aku tidak ingin mendengar hal vulgar menjijikan seperti itu. Jangan buat aku mengingat apa yang telah diperbuatnya, apa yang telah kualami. Jangan ingatkan aku.
"Kau cukup agresif dengan mengigit bahuku. Sensei," tubuhku menegang, napasku tercekat saat kurasakan napas hangat dan sapuan lembut disekitar leherku. Dan sapuan dari sesuatu yang basah dikulitku, perutku langsung memberikan tekanan keras, memompa sesuatu untuk naik. Aku merasa mual. Tubuhku mulai bergetar, aku tak bisa menghentikan gemeletukan antara gigiku. Dadaku terasa sangat panas dan sesak.
Aku ingin muntah.
"Katakan sesuatu, Sen –"
"Menying –kir," tanganku bergerak untuk menekan perutku, berusaha menyingkirkan rasa mual yang terus-terusan mendorong isinya untuk ke atas. Tidak. Ini sangat menjijikan. Dia menyentuhku lagi, menyentuh tubuhku lagi. Lututku terasa begitu lemas untuk membuatku tetap berdiri tegak.
"Hei, Sensei? Kau kenapa?"
Aku tidak peduli lagi dengan apa yang dikatakan pemuda pirang dihadapanku. Perutku yang mual memaksaku untuk membungkuk saat pemuda itu perlahan memberiku ruang, tidak lagi menghimpit tubuhku. Mataku terpejam erat, aku tidak bisa menghentikan rasa ini. Hingga aku jatuh terduduk dan akhirnya memuntahkan cairan lambungku. Membasahi pakaianku dan celana pemuda itu. Aku muntah sekali lagi, kali ini hingga menciprat ke lantai.
Telingaku mendengar decihan jijik, tapi aku tidak peduli. Perutku masih saja seperti dikocok-kocok, aku masih merasa mual.
Cengkraman pada kedua bahuku membuatku meringis di tengah muntahanku. "Bernapas. Tenangkan dirimu," aku mendengar suara itu bersamaan dengan cengkraman yang semakin menguat.
"Tarik napas, dengan perlahan," aku menurutinya. Aku menarik napasku dan membuangnya dengan terengah. "Perlahan, Sensei," ia kembali berucap. Aku kembali menghirup oksigen dan menghembuskannya, lebih pelan dari yang tadi. Menarik napas dan mengeluarkannya lagi, terus kulakukan secara berulang-ulang.
"Seperti itu. Bernapas dengan teratur," Napasku mulai kembali seperti biasa. Aku memejamkan mataku dan membiarkan hidungku menghirup lebih banyak aliran oksigen. Aku bisa mencium bau asam lambung dari cairan yang baru saja kumuntahkan menusuk penciumanku.
Mataku terbuka dikala tubuhku sudah bisa merespon dengan baik perintah dari otakku. Aku menegakan posisi dudukku dan mengusap sisian bibirku yang basah oleh cairan kekuningan. Mataku kini dapat melihat kekacauan yang kubuat. Pakaianku basah oleh cairan menyengat itu. Lantai tempatku duduk juga terciprat cairannya.
"Cih! Lihat apa yang kau lakukan pada tempat ini," Mataku melirik celana pemuda yang ikut mendudukan dirinya di depanku. Melihat bagaimana cairan–muntah-ku juga ikut mengotori celananya.
"Jika tahu akan menyusahkan seperti ini, tadi aku tidak akan membawamu," ucap pemuda pirang itu. Aku menatapnya dengan datar, jadi ia menyalahkan semua ini padaku. Aku yang dibawanya kemari itu salahku?
"Saya tidak meminta untuk diseret-seret dan dibawa ketempat ini," ucapku, lidahku masih terasa tidak nyaman dengan sisa cairan asam yang masih berada dalam mulutku.
"Saya sudah ingin pergi. Jadi, bisa sekarang buka pintu itu dan biarkan saya pergi. Saya akan bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan pada pakaianmu dan tempat ini," ucapku. Yang kupikirkan saat ini adalah pergi secepatnya. Pergi sebelum tubuhku kembali gemetaran dan membuat pemuda itu curiga. Tidak. Pemuda itu tiak boleh tahu jika claustrophobia bukanlah satu-satunya yang menyiksa hidupku. Tetapi ketika mataku melihat kedua sudut bibir pemuda itu tertarik ke atas, aku merasakan firasat buruk.
"Pakaianmu kotor semua, Sensei," aku menubrukan punggungku pada pintu di belakangku saat tangannya berusaha menyentuh wajahku. Aku ingin menjauh dari pemuda ini. Tapi apa yang bisa kulakukan sekarang. Aku terkunci ditempat ini bersama dengannya. Dia, yang kini menyeringai kearahku.
"Mau kubantu membersihkannya, Sa-su-ke?"
Belakang leherku terasa panas saat ia menyebut nama kecilku. Aliran darah kepalaku serasa berhenti hingga tak ada rona sekalipun selain putih yang memucat. Dan mataku terbelalak saat ia menerjangku. Aku memberontak dan meronta saat tangannya berusaha mencengkram tanganku.
"Apa yang kau lakukan!" suaraku meninggi. Kepalaku yang berdenyut sakit akibat terlalu banyak mengeluarkan cairan tubuh menjadi salah satu penghalangku untuk mengenyahkan tubuh yang berusaha menimpakan bebannya padaku. Aku memukul wajahnya dengan punggung tanganku, dan berhasil. Dia tersungkur ke belakang. Aku segera berdiri dan menjauh darinya. Ia berdecih dan menatapku dengan mata beriris birunya. Menatapku tidak suka.
"Aku masih seorang guru, jaga sikapmu Uzumaki-san!" ucapku, terengah mengatur napasku yang kembali memburu.
Klek...
"Ada apa ini?"
Kepalaku bergerak, menoleh pada suara bertanya yang baru saja kudengar. Di sana, di depan pintu yang terbuka aku melihat pemuda berkuncir tinggi yang kulihat di kelas waktu itu. Memasang wajah heran dengan satu alisnya yang terangkat tinggi.
Pintu itu terbuka. Dan tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk pergi dari tempat memuakan ini. Pergi jauh dari Uzumaki Naruto.
Kakiku melangkah dengan cepat, setengah berlari melewati pemuda pirang yang masih terduduk di lantai dan aku juga tidak peduli saat tubuhku menubruk pemuda kuncir di depan pintu. Yang kutahu saat ini adalah kakiku mengayuh semakin cepat untuk meninggalkan tempat itu, meninggalkan gedung itu dan pergi. Aku tidak peduli saat orang-orang menatapku dengan pandangan heran dan kernyitan dahi karena penampilanku yang sungguh berantakan, apalagi dengan bau muntahan yang semakin tercium.
Aku terengah dengan badan yang sedikit membungkuk. Mencari suplai oksigen yang sempat berkurang karena berlari. Saat ini aku berada di taman–entah dimana- dan langit yang sudah berwarna kejinggaan menyadarkan diriku akan waktu yang berlalu.
Tanganku merogoh kantung belakang celanaku, dan tak menemukan apa yang kucari di sana. Dompetku tidak ada. Aku meruntuki diriku sendiri karena bisa kehilangan benda berharga seperti itu. Tanganku kembali bergerak untuk masuk pada kantung celana depanku, berharap jika ponselku masih ada –aku menghela napas lega begitu tanganku menyentuh permukaan ponselku. Aku menarik keluar ponsel itu dengan segera dan langsung mencari satu kontak nama dalam ponselku.
Satu-satunya jalan adalah menghubungi 'dia' untuk menjemputku. Karena aku tidak tahu dimana diriku berada sekarang dan yang lebih gawat lagi –tubuhku mulai gemetaran.
.
.
.
.
.
.
.
.
Naruto's POV
Tubuhku menyentuh permukaan tempat tidur dengan sedikit suara debaman. Tidak kupedulikan gerutuan Shikamaru tentang tempat tidurnya yang basah karena tubuhku yang basah sehabis mandi. Sekarang ini pikiranku sedang melayang ketempat lain, tepatnya pada seseorang. Siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke.
Ada yang aneh dengannya –maksudku bukan masalah claustrophobia yang diidapnya. Tapi hal lain, yang lebih dari pada itu. Sikapnya yang terkesan tertutup dan dingin itu, kurasa itu bukan sifat aslinya. Itu semacam –topeng? Bentuk pertahanan, kurasa. Tidak berbeda denganku. Bahkan mungkin sama, karena hal yang paling membuatku penasaran adalah matanya yang begitu kelam. Mata yang memancarkan sesuatu yang sama dengan mataku.
"Bersihkan lantaiku, Naruto,"
Aku melirik Shikamaru, wajah malasnya terlihat mengernyit jijik. Aku tidak lupa dengan apa yang kukatakan beberapa saat lalu sebelum masuk ke kamar mandinya untuk membersihkan bekas muntahan di lantai depan pintunya. Tapi aku terlanjur malas sekarang.
"Nanti juga kering sendiri," jawabku malas. Tubuhku yang masih mengenakan handuk seadanya berbalik tengkurap dan menarik satu guling sebagai bantalan. Telingaku mendengar suara berdecih sebelum merasakan tempatku berbaring menerima beban lain.
"Kenapa kau bawa guru itu kemari?" tanya Shikamaru, dengan topik yang lain. Aku memberikan gumaman tak jelas karena teredam bantal guling sebelum membalikan tubuhku lagi. "Entah –mungkin karena dia menarik,"
Shikamaru menggeleng dengan wajah lelahnya, "Pertama Haku, lalu gadis bernama Ino, berlanjut dengan Sabaku dan sekarang Uchiha Sasuke kau bilang menarik," baiklah, aku harus bersiap kena ceramahan panjang Shikamaru kali ini.
"Lihat perubahan hidupmu sekarang," ucap Shikamaru. Aku memutar bola mataku, terlampau bosan.
"And then, kau sepertinya buta untuk dapat menceramahiku," ucapku padanya. Serius, orang yang juga punya kehidupan tidak lebih rumit dibandingkan aku sedang berusaha menasehati. Aku saja masih heran dengannya yang memilih meninggalkan kehidupan sempurnanya di Konoha dan datang kemari. Ok –itu biasa. Tapi, pelacur –no, entah transisi seperti apa yang dialami Shikamaru di sini selama aku koma.
"Okay. Tapi sekarang kau harus pergi,"
Aku mendongak menatap wajah malasnya, berbalas dengannya menatapku dengan wajah bosan hidup, "Sudah ada janji. Jam tujuh nanti," jelasnya tanpa perlu kutanya.
Tanganku terentang dikedua sisi kepalaku, merenggangkan otot-otot kaku dibeberapa sisi tubuhku sebelum menjadikannya tumpuan untuk bangun. Aku beranjak dari tempat tidur dan berkalan menuju lemari satu pintu yang berada di sudut ruangan. Tanganku membuka pintu lemari itu dan mengambil baju dan celana yang akan kupakai nanti –tentu saja itu milik Shikamaru.
"Jadi, who is now?" tanyaku dengan tangan sibuk memakai pakaian. Tubuh polosku sudah memakai pakaian Shikamaru saat aku berbalik menghadap pemuda itu. Tidak heran saat melihat Shikamaru tengah menatap kearahku –dari tadi mungkin.
"A man. Really young man," jawabnya.
Aku mendengus geli dengan jawabannya itu, aku berjalan mendekatinya dan duduk di sampingnya, "Berencana untuk meraup keuntungan lebih dengan anak-anak, huh?"
"Pekerjaanku bukan hanya 'bertemu' dan 'ranjang'. Konsultan juga termasuk," ucap Shikamaru, sepertinya tidak terima dengan ucapanku.
"Maksudmu kau jadi tempat sampah curhatan klienmu?" aku mendengus dan mengangkat tanganku di depan wajahnya. Tanda jika aku tidak perlu jawaban darinya. Aku beranjak dan berjalan menjauh, sebaiknya aku pergi sebelum permbicaraan ini menjadi hati kehati. Aku mual dengan pikiranku barusan. Lebih baik aku pergi sekarang.
Tok! Tok! Tok!
Aku menatap pintu coklat lima langkah di depanku dengan alis terangkat. Apa orang yang ditunggu Shikamaru itu sudah datang kah? Kepalaku menoleh padanya, meminta jawaban tapi pemuda itu malah beranjak dari tempat tidur dan berjalan melewatiku.
Klek,
Ia membuka pintu itu, hanya sedikit hingga aku tak bisa melihat siapa orang di balik pintu itu. Aku hanya melihat Shikamaru mengucapkan sesuatu dan mengangguk, lalu membuka pintu lebih lebar. Sekarang aku bisa melihat orang yang mengetuk pintu Shikamaru. Dua laki-laki memakai jas dan celana berwarna biru tua tersenyum ramah kearahku.
"Bersihkan itu,"
Mataku menatap Shikamaru dalam diam, "Uchiha Sasuke mengirimnya, tanggung jawab katanya," –aku tidak berkomentar. Dalam hati aku mendengus mendengar penuturannya. Jadi ini yang dimaksud tanggung jawab itu, dengan mengirimkan petugas pembersih. Terlalu aneh jika kuambil kesimpulan kasarnya.
Siapa yang menyangka jika ucapannya itu benar-benar dilakukannya, huh? Lagi pula, siapa juga dia sampai-sampai bisa mengirim dua orang ini hanya untuk membersihkan 'kecelakaan' kecil yang dilakukannya?
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
A/N : No lemon! Aye-aye! #digiles –iyalah, lemon itu nanti aja. Bosen kali kalo tiap bikin fic, lemon kukupas di awal mulu *berusaha ngubah kebiasaan*
Oop! Tapi tenang, aku nge-Rated M fic ini tentu saja pasti karena apa.. Bwahahahaha -#dibuang
Perdalam dulu kedua sosok karakter utama, baru deh 'anu-anu'.
Then, Review Minna?
