A/N : hahaha... sumpah, fanfik ini penuh dengan ajang curcol dari authornya sendiri XDV

Enjoyed Ttebayo!

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto desu!

Genre : Hurt/Comfort, Romance, Psicological

Pair : (Main) NaruSasu

Slight : dunno...

Rated : M for this chapter

Warning!

Naruto & Sasuke's POV

Pedophilia.

Sexual content, Homosex, Yaoi, Sadistic-sexual, +/- BDSM, Rape, Lime, HardLemon, Typo, Ejaan Yang (T)idak Disempurnakan, and this Warning's for chapter alert...

UzumakiKagari's present

Can I Teach You, Sensei?

Chapter 4 : My Hurt, Your Hurt

.

.

.

Naruto : 18 Tahun/172 cm

Sasuke : 23 Tahun/178 cm

.

.

*********************** Kagari Hate HerSelf ************************

.

.

Sasuke's POV

"Tetaplah di sini Sasuke. Jangan kemana-mana sampai Aniki menyuruhmu keluar, kau mengerti,"

Mataku melihat raut gusar dari Kakakku, ia yang nampak gelisah dengan terus menyelimutiku dengan beberapa pakaian yang digantung. Menyembunyikan tubuh kecilku diantara sela baju dalam lemari. Aku menatapnya dengan bingung, kenapa aku harus berada di sini? Dan kenapa Kakakku terlihat sangat gelisah seperti ini?

"Ta –tapi Aniki..."

Tangan kecilku terjulur, menarik ujung kaus hitam yang dipakainya. Melihatnya yang seperti ini membuatku bertambah bingung. Namun sepasang tangan yang mengendurkan peganganku membuatku mendongak menatap wajahnya yang tersenyum.

"Tenanglah Sasuke, kau tetap di sini sampai Jii-san pergi ya," ucapnya padaku. Usapan halus pada kening dan sisi wajahku menyambut setelah itu. Aku hanya mengangguk meski belum sepenuhnya mengerti.

"Itachi! Jii-san datang, kau dimana sayang,"

Wajah Kakak memucat saat mendengar suara samar yang kukira dari lantai bawah. Ia bersiap menutup pintu lemari dengan aku di dalamnya saat tanganku kembali meraih ujung kausnya. Aku takut.

"Aniki..." panggilanku membuatnya kembali tersenyum, ia melepaskan tanganku dan mengecup pipiku singkat. Setelah itu ia mengusap kepalaku, sentuhan yang selalu bisa menenangkanku.

"Kau harus janji padaku, jangan bersuara. Kau mengerti, Otouto?"

Aku mengangguk. Setelah itu pintu tertutup, membuatku berada dalam gelapnya lemari pakaian kamar Kakakku. Sebenarnya aku sangat bingung, kenapa Itachi-nii menyuruhku untuk masuk ke sini. Apa aku melakukan suatu kesalahan hingga ia marah dan menghukumku?

Lelah berdiri, aku berjongkok dan menyandarkan punggungku pada lemari. Mataku beredar kesekeliling meski yang kulihat hanyalah gelap tanpa cahaya. Lemari ini sedikit sumpek sebenarnya, tapi jika Kakak menyuruhku untuk berada di sini, maka aku akan melakukannya.

Klek...

"Ah, Itachi. Kau di sini rupanya,"

Kepalaku terarah pada pintu lemari di depanku saat telingaku mendengar suara pintu yang terbuka dan suara berat seseorang. Aku mengernyit, 'Apa itu Jii-san?'

"Jii-san, ada perlu apa denganku?" kali ini aku mendengar suara Kakak. Sepertinya benar, suara tadi adalah orang yang Kakakku sebut dengan Jii-san.

"Memangnya tidak boleh jika aku mengunjungimu, Itachi?"

"Bukan begitu, tapi tidak biasanya Jii-san datang hari Rabu," –Kakakku berucap lagi. Aku memiringkan kepalaku, rasa penasaran mencubitku. Jii-san itu seperti apa, orang yang bagaimana? Karena sebenarnya tak sekalipun aku bertemu dengannya. Tidak, karena Kakakku bilang aku tidak akan suka padanya. Kakak bilang dia itu pria gendut yang akan memakan semua makananku tanpa sisa kalau aku bertemu dengannya.

"Hahaha... kemarilah Itachi, aku merindukanmu,"

Wajahku merengut seketika, kenapa hanya Kakak yang Jii-san rindukan dan aku tidak. Aku harus terkurung di sini sementara Kakak malah bersamanya.

"Aku merindukanmu,"

"J –Jii-san, aku sedang tidak bisa –"

"Sssst... aku merindukanmu sayang. Dan saat aku bilang rindu, artinya aku sedang membutuhkanmu,"

Setelah itu, lama aku tidak mendengar lagi pembicaraan mereka lagi. Seperti sunyi, tapi aku juga tidak bisa bilang kalau itu benar-benar sunyi. Sejak mereka tak lagi bicara, aku mendengar beberapa suara lain. Suara yang seperti milik Kakakku. Tapi, sedikit berbeda.

Aku menimbang-nimbang cukup lama seraya menatapi lurus pintu lemari di hadapanku. Hanya berjarak satu jengkal tangan dari tempatku meringkuk di dalamnya. Aku memutuskan untuk membuka pintu itu, sedikit saja. Lagi pula, Kakak tidak melarangku untuk melihat sedikit kan? Dia hanya bilang aku tidak boleh keluar dan bersuara.

Tanganku menggeser pintu lemari dengan sangat pelan, yang pertama kulihat hanya beberapa kantung belanjaan dengan benda seperti pakaian yang sedikit mencuat. Tidak ada Kakak atau pun Jii-san. Aku menoleh sedikit kearah lain, sedikit sulit karena celah yang kubuka tak lebih lebar dari dua buku jari tangan kecilku.

Lalu aku melihatnya, di atas tempat tidur yang biasa kugunakan dengan Kakak saat aku ke kamarnya. Tempat aku bermain saling lempar bantal dengannya. Aku melihat Kakak dengan seseorang –itu Jii-san, itu yang pertama kupikirkan. Laki-laki bertubuh besar dengan pakaian jasnya. Aku mengerut sebal, Jii-san memang besar tapi tidak gendut. 'Kakak bohong padaku,'

Tapi ada yang aneh, kenapa Kakak tidak pakai baju? Lalu, kenapa Jii-san menjilati badan Kakak begitu? Itu kan jorok.

"Nggh.. Jiisan.. a –aku benar-benar tidak bisa,"

Mata bulatku mengerjap, itu suara Kakak tapi kenapa suaranya jadi aneh seperti itu?

"Jangan membantahku Itachi. Nikmati saja seperti biasanya sayang,"

Alisku mengerut dalam, sampai-sampai kurasakan pusing karenanya. Aku tak bisa melihat Kakak dengan jelas dari sini, hanya bagian badan ke bawah. Sedangkan wajahnya tertutupi oleh rambut Jii-san yang ternyata sangat panjang dan warnanya hitam.

"Tu –tunggu Jii-san, kumohon jangan sekarang –"

"Ssst... kenapa kau jadi kaku begitu Itachi? Rilekslah, tubuhmu saja senang saat aku melakukannya, kan?"

Aku mengernyit. Melakukan? Melakukan apa? Apa yang sebenarnya Aniki dan Jii-san lakukan? Apa semacam permainan baru?

Tapi, Aniki harus tidak pakai baju dan dijilati begitu sebenarnya permainan apa yang mereka lakukan. Mataku menatap penuh rasa penasaran saat kaki Kakakku ditekuk oleh tangan Jii-san. Tangannya besar sekali sampai bisa menutupi separuh paha Kakak.

"Hha .. –ah Jii-san –kumohon –j –jangan hari ini –"

"Aku tidak suka ditolak, Itachi. Dan jangan sekali-kali kau menolakku saat aku sedang membutuhkanmu,"

Aku bingung. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Kakakku menolak apa? Aku hanya bisa memandangi Kakak yang tidur di sana, Jii-san juga –aku tidak mengerti. Terlebih saat tangan besarnya tak henti-henti bergerak naik dan turun dipaha Kakakku. Tubuhku merapat untuk melihatnya lebih jelas. Dan saat itu kakakku bersuara aneh lagi.

"J –jangan Jii-san... kumohon, aku akan melakukannya kapanpun ta –tapi jangan hari ini –hha –ahh –jangan masukan ..."

Telingaku mendengar geraman keras. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa takut mendengar suara geraman Jii-san. Mataku melebar saat jari tengah orang dewasa itu masuk disela pantat Kakakku. Aku mendengar Kakakku mengeluarkan suara jeritan tertahan. Jari itu seperti hilang diantara pantat kakakku. Lalu ada lagi dan lalu hilang lagi, dan setiap jari itu hilang dari pandanganku, Kakakku mengeluarkan suara aneh itu lagi.

"Ku –mohon ...aah –hah –Jii –san –aah!"

Plak!

Aku mendengar suara tamparan keras yang membuat telingaku pengang. Mataku tak lepas dari tubuh Kakak yang sudah dibalik dan sekarang aku melihat wajahnya –pipinya memerah, aku meremas ujung kaus yang kupakai. Tidak suka saat helaian rambut Kakakku ditarik dengan keras, ia meringis kesakitan.

"Kenapa kau membantahku, Itachi?"

Wajah Kakak dijilati, aku mulai merasa jijik dengan apa yang dilakukan Jii-san pada Kakakku. Wajah dewasa itu entah mengapa, aku tidak suka ekspresinya.

"Ta –tapi –Ahkh!" Jii-san menjambak rambut Kakak lagi.

"Aku tidak suka ditolak. Terlebih saat aku sedang menginginkanmu, Itachi!"

Aku mencengkram beberapa baju yang tergantung di dalam lemari. Ada yang salah, tapi aku tidak tahu apa itu. Yang jelas, aku –aku tidak suka apa yang dilakukan Jii-san pada Kakakku. Itachi, aniki di sana terlihat kesakitan. Dan itu membuatku marah.

"Sekarang, apa kau sudah rindu pada Si besar ini, Itachi? Ah... lihat, dia sudah benar-benar mengeras dan ingin sekali memasuki tubuhmu,"

"Akh –AAH! Jii –san –tikan –Sa –akhit!"

Brak!

"Apa yang kau lakukan pada Aniki!" Aku membentak, pintu lemari yang selama ini menghalangi tubuhku kubuka dengan suara keras. Mataku menatap marah pada laki-laki yang tengah memasukan sesuatu pada pantat Kakakku. Aku tidak suka. Aku tidak suka melihat wajah Kakakku yang seperti itu.

"Ah, siapa itu Itachi?" Mataku masih tetap memandang marah laki-laki di atas tubuh Kakak. Manikku sedikit melirik wajah Kakak yang tiba-tiba saja memucat, seperti darah sudah tak mengalir lama sekali diwajahnya. "Hmm, aku tahu. Apa dia Sasuke-chan?"

Aku tidak suka sebutannya padaku. "Jangan panggil aku seperti itu!" teriakku marah. "Lepaskan Aniki!" –tanganku terkepal dikedua sisi tubuhku. Tapi yang kulihat Jii-san hanya tersenyum padaku, senyum yang lama-kelamaan semakin melebar.

"Adikmu ternyata manis juga. Tidak kalah darimu, Itachi,"

Laki-laki itu melepaskan dirinya dari Kakakku. Aku membuang napas lega tanpa sadar karena Kakakku tidak akan merasakan sakit lagi kalau Jii-san melepaskannya. Tapi bukannya wajah lega yang terpancar dari wajah Kakak, aku malah melihat hal yang sebaliknya. Dia terlihat takut, tubuhnya gemetaran. Aku menatapnya dengan bingung, "Aniki?"

"Apa dia juga 'seenak' dirimu?" Pandanganku kembali pada Jii-san, matanya yang menatapku dengan lurus membuatku sedikit gentar.

"Ji –Jii-san... jangan –" ucapan itu begitu kental dengan rasa takut. Aku bingung, ada apa dengan Kakak? Kenapa sekarang dia malah memegangi tangan Jii-san? Bukankah Jii-san sudah menyakitinya?

"Jangan dia –ku –kumohon, aku akan lakukan apapun. A –aku akan lakukan apapun a –asal kau tidak menyentuhnya... jangan Sasuke –kumohon Jii-san –"

Tangan besar Jii-san mengelus rambut Kakak, aku menggeretakan gigiku. Sungguh aku tidak suka dia menyentuh Kakakku.

"Ssst... tenang sayang, aku akan memperlakukannya dengan baik. Kau diam saja ya, sepertinya hari ini aku mau bermain dengan Sasuke-chan dulu,"

"Ti –tidak! Tidak –jangan Sasuke! Jii-san, kumohon. Aku bisa melakukan apapun, apapun perintahmu. Tapi jangan adikku, jangan Sasuke. Kumohon, kumohon padamu Jii-sa –Akh!" Kakak berteriak lagi. Aku sudah tidak tahan. Aku tidak mau dia menyentuh Kakakku lebih dari ini.

Kakiku bergerak dengan cepat, aku berlari mendekati tempat tidur dan menghentakan tangan yang menjambak rambut Kakak. Mataku menatapnya penuh amarah, "Jangan sentuh Aniki!" teriakku.

"Sa –Sasuke,"

Aku menoleh, Kakakku terlihat mulai mengeluarkan air mata. Seketika aku menyentuh wajahnya, "Ani –"

"Lari..." ucapan itu tidak kumengerti.

"Lari –lari sekarang..."

"Ah... tidak, Itachi. Kenapa kau menyuruh Sasuke-chan untuk lari?"

Aku berjengit saat sebuah lengan menarik pinggangku menjauh dari Kakak. Tanganku mencengkram lengan itu, aku memberontak. "Lepaskan! Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!"

"Ma –Madara j –jii-san... kumohon –jangan Sasuke –"

"Nah, Sasuke-chan. Minum ini ya?"

Wajahku dicengkram dan didongakan, seketika aku merasakan sesuatu yang memasuki dalam mulutku dari benda seperti tabung yang Jii-san masukan setengah bagiannya dalam mulutku. Cairan itu mengalir melewati tenggorokanku –membuatku tersedak dan langsung terbatuk begitu tabung dimulutku ditarik keluar.

Lengan yang melingkari pinggangku terlepas. Aku masih terbatuk dengan sebelah tangan yang memukul pelan dadaku.

"Sa –Sasuke!"

"Sssst... kau diam saja di sini, Sayang. Tenang ya, aku akan mengikatmu pada sisi tempat tidur. Kau hari ini lihat saja,"

Mataku yang menggenang air mata melihat Jii-san tengah mengikat kedua tangan Kakakku ke belakang dengan sebuah tali. Aku menggelengkan kepalaku, penglihatanku memburam dan kepalaku –sakit.

"Jii-san! Kumohon –jangan Sasuke! Aku mohon –kumohon le –lepaskan dia! Aku akan melakukan apapun, aku akan menurut –aku a –aku akan melayanimu –tapi -"

PLAK!

"DIAM!"

Teriakan itu membuatku sangat terkejut. Mataku terbelalak saat melihat pipi kanan Kakakku memerah, setitik darah mengalir di ujung bibirnya.

"A –aniki –" Aku ingin menghampirinya, tapi tubuhku terasa sangat lemas. Bahkan saat ini aku hanya pasrah saja saat tubuhku jatuh ke tempat tidur. Kepalaku sakit.

"Nah, Sasuke-chan. Hari ini Jii-san akan bermain denganmu,"

Kakakku menangis. Aku mendengarnya berteriak dan terisak. Aku juga merasakan tubuhku ditindih sesuatu yang berat. Tanganku mencoba menyingkirkan beban berat yang ternyata tubuh Jii-san dari atasku, namun tanganku tarasa sangat lemas untuk sekedar menggerakan jari-jarinya saja.

Aku mengerang saat hembusan napas hangat dan sesuatu yang basah menyentuh leherku.

Tidak...

.

.

Tidak!

.

.

Tidak!

"AAAARGGGH!"

"Sasuke! Bangun, Sasuke! Buka matamu!"

Sekejap aku membuka mataku dengan cepat. Mataku membulat, napasku begitu sesak –aku kesulitan bernapas meskipun saat ini derunya terengah. Aku menatap seseorang di hadapanku dengan pandangan takut. Tanganku mendorong orang itu hingga terjungkal dari tempat tidur. Tubuhku beringsut hingga ujung satunya dari tempat tidur. Wajahku memucat. Tidak –aku tidak mau.

"Sasuke,"

"Menjauh! Menjauh dariku!" Aku berteriak. Kakiku menekuk dalam menutupi tubuh bagian depanku. Kedua tanganku menutupi wajah yang kutenggelamkan diantara kakiku. Jemarinya kugunakan untuk menjambak rambutku. "Menjauh! Jangan dekati aku! Pe –pergi!" teriakanku membuat tenggorokanku sakit seketika.

Dan saat aku merasakan cengkraman erat dikedua bahuku, aku memberontak. Kugunakan tanganku untuk memukul siapapun orang di hadapanku kini. Aku tidak mau. Aku tidak mau lagi!

"Lepas! Lepaskan!"

"SASUKE!" teriakan itu membuat tubuhku mematung, berhenti untuk memberontak. "Sadarkan dirimu! Lihat aku! Lihat siapa orang yang ada di depanmu!" suara itu kembali menggema.

Aku mulai memfokuskan penglihatanku pada orang di hadapanku. Mataku menatap kalut. Lalu aku melihat sepasang iris ular yang melihatku dengan tatapan tenang –membuat tubuhku sedikit melemaskan otot tubuhku.

"Siapa aku?" tanya orang itu.

Tenggorokanku sakit, -aku tidak menjawabnya. Tapi aku segera menepis tangan yang mencengkram bahuku. Wajahku berpaling dengan suara geraman.

"Maaf, aku tahu kau tidak suka disentuh," ucapnya. Aku masih bergeming meskipun dia sudah turun dari atas tempat tidurku. Baru setelah ia mengambil jarak cukup jauh, berdiri di ambang pintu kamarku yang terbuka. Aku kembali menatapnya.

Laki-laki itu menghela napas, "Sudah kubilang untuk minum obatmu sebelum tidur. Setidaknya kau bisa lupa saat tengah beristirahat," ujarnya. Aku masih menatapnya dengan datar, tak mempedulikan saat cairan bening mengaliri pipiku. Kuyakin aku menangis saat tidurku lagi.

"Hari ini kau izin saja. Tidak usah ke sekolah,"

" –tidak," suaraku lebih terdengar seperti cicitan, " –tidak ada alasan untukku tidak bekerja," tubuhku beringsut dari tempat tidur dan berjalan menuju lemari besar yang merapat pada dinding. Aku hampir kehilangan keseimbanganku saat kepalaku terasa mengirimkan visualisasi berputar-putar dari apa yang kulihat.

"Hari ini kau tetap tidak kuizinkan untuk mengajar. Ok –kau sehat," laki-laki di ambang pintu kamarku kembali berujar, " –tapi akan lebih baik jika hari ini kau kunjungi dia. Ini sudah lebih dari seminggu kau tidak mengunjunginya,"

Aku menghentikan langkahku. Mengunjungi dia? Apa harus sekarang, saat hari ini aku memimpikan sesuatu yang buruk di masa laluku? Tapi memang, aku merindukan dia.

"Hn," Aku menjawab singkat dan tak ada balasan dari laki-laki itu. Yang kudengar hanya suara pintu yang ditutup.

Brugh!

Dan tubuhku langsung merosot, aku menjatuhkannya dengan posisi duduk. Sungguh, kakiku terasa sangat lemas dan terasa sangat sulit untukku tetap berpura-pura baik-baik saja jika kenyataannya aku tidak.

Kenapa? Aku sudah tidak melihat bayang-bayang itu beberapa Minggu ini. Aku sudah tidak lagi meminum obat-obatan itu untuk menekan alam bawah sadarku. Tapi kenapa? Kenapa mimpi itu datang hari ini? Apa yang membuatku memimpikan hal yang tidak ingin kuingat lagi. Aku tidak mau. Aku sudah berusaha sangat keras untuk melupakannya.

"Ugh..." tanganku terangkat, memegani kepalaku yang terasa sangat pusing. Hari ini tidak boleh. Bukan saatnya aku untuk berkutat dengan semua benda tajam yang selalu menenangkanku disaat seperti ini. "Satu saja," kepalaku mengangguk, menyetujui ucapan yang kukatakan.

Hari ini cukup satu saja luka yang akan kubuat. Tidak akan lebih. Aku tidak bisa terlalu banyak melukai diriku hari ini karena aku akan bertemu dia hari ini. Dan tentu saja tidak ingin dia tahu apa yang sudah terjadi padaku dengan semua ringisan dan mimik menahan sakit yang kutunjukan padanya.

Aku merangkak mendekati tempat tidurku lagi, kakiku terlalu lemas untuk dibawa berdiri. Tubuhku menyandar pada badan tempat tidur dan membuka laci di sampingnya. Seketika mataku disuguhi beberapa benda yang biasanya kugunakan sebagai penenang diri. Alat suntik, jarum, gunting kecil dengan gagang hitam, puluhan silet yang kusimpan dikotak plastik sebesar kaset.

Tanganku mengambil satu benda dari benda-benda di dalam sana. Kali ini aku menggunakan jarum. Aku memegang jarum itu ditangan kanan dan mendekatkannnnya pada lengan atasku. Tempat yang kupilih untuk kulukai. Hari ini aku harus hati-hati agar lukaku tak bisa dilihat sama sekali dan memilih tempat yang jarang untuk bersentuhan dengan orang.

Mataku menutup saat ujung dari benda silver kecil berujung tajam itu menekan dikulitku. Aku menekannya lebih kuat dan meringis. Rasanya seperti saat disuntik, hanya saja tempat yang kupilih bebas terserah padaku. Tanpa perlu memperhitungkan dekat tidaknya dengan pembuluh darah atau apapun.

Aku membuang napas lega namun penuh ringisan. Jarum itu sudah masuk setengahnya. Aku menarik jarum itu lagi secara perlahan lalu kutusuk lagi. Gigitan pada bibir bawahku menahan desah sakit yang keluar. Sejenak tanganku melepaskan jarung yang masih menancap dilenganku. Aku mengambil napas dan memegang jarum itu lagi, tanganku menekannya ke samping. Aku mencengkram pahaku dengan tanganku yang tengah kulukai sementara tanganku yang lain terus memiringkan jarum itu. Memberikan tekanan yang menyakitkan, rasa yang dikirimkan otakku pada seluruh saraf ditubuhku.

Jarum itu kutarik dengan cepat. Hari ini cukup, aku harus menahan diriku untuk hari ini saja. Meskipun aku sendiri tahu jika satu luka yang diakibatkan oleh jarum ditanganku ini tidaklah cukup. Tapi aku harus tetap berhenti jika tak ingin membongkar diriku yang seorang self-harm. Aku, self-injury. Orang yang dengan bodohnya menyakiti diri sendiri untuk kepuasan semu. Tapi aku punya alasan untuk menjadi salah satu dari orang bodoh itu, dan semuanya berada dimasa laluku.

Aku menggeram. Cukup. Aku tidak ingin menambah lukaku hari ini dengan mengingat semenyedihkan apa aku ini sekarang.

Tubuhku bangun dengan bantuan tangan yang bertumpu pada laci tiga tingkat tempatku menyimpan 'benda-benda' itu. Aku menyalakan korek api gas yang kuambil dari atas laci dan membakar jarum ditanganku. Warna silvernya diselimuti warna hitam. Setelahnya aku mengambil dua lembar tissue di laci yang sama dan mengusap permukaan jarum itu sampai bersih. Aku masukan kembali jarum itu ketempat asalnya.

Kakiku berjalan lagi kearah lemari untuk mengambil pakaian yang akan kupakai hari ini. Kemeja biru lengan pendek dan satu kaus putih dengan lengan panjang sebagai luaran. Aku mengambil jeans untuk bawahan. Hari ini aku hanya akan mengunjunginya, jadi cukup berpakaian seperti biasa saja.

Aku membalik langkahku menuju kamar mandi. Meringis saat membuka pintunya, ternyata luka yang kubuat terlalu dalam meski hanya satu dan tak banyak mengeluarkan darah. Sepertinya ada darah yang tertahan di dalamnya. Aku harus mengeluarkannya seraya membersihkan tubuhku setelah ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Bagaimana kabarmu, Sasuke?"

Tanganku menyuapkan sendok dengan sup ayam di atasnya ke dalam mulutku. Aku masih diam bebrapa saat untuk mngunyah dan menelan makananku sebelum menjawab pertanyaan dari sosok laki-laki yang duduk terhalang meja, terlampau jauh dariku. "Hn, bagaimana denganmu?"

Bibir pucat itu tersenyum tipis –padaku. Dadaku terasa sangat sesak melihatnya. Bagaimana dia masih bisa tersenyum seperti itu? Setelah, -setelah semua yang kami lewati?

"Aku baik. Kyuubi juga bilang begitu," ia menjawab pertanyaanku –aku benci basa-basi ini. Aku tidak suka melihat Kakakku berpura-pura tegar didepanku.

Aku mengambil serbet di samping piring di depanku dan mengusap bibirku, "Terima kasih makanannya –kalau begitu aku harus banyak berterima kasih pada Anda, Sir Kurama. Anda menjaga Kakakku dengan sangat baik," mataku merilik pemilik nama yang kusebutkan.

Namikaze Kurama, seseorang yang Kakakku panggil dengan Kyuubi. Laki-laki tiga puluh tahun dengan surai dan mata merahnya. Dia seorang psikiater yang dibayar untuk merawat Kakakku. Merawatnya dengan 'sangat baik' hingga dapat dengan mudah Kakakku merenima orang selain aku untuk menyentuhnya. Dia.

Aku kembali menatap piring kosong di hadapanku. Pura-pura tidak melihat sepasang tangan yang saling menggenggam di depan sana.

Aku tidak suka Kurama, terlebih karena satu hal yang sangat aku sesali sebab Kakakku ada dalam alasan aku tidak menyukainya.

"Sasuke?" suara Kakak kembali memanggilku. Aku menjawabnya dengan gumaman, kali ini tanpa menatapnya. "Apa kau akan menginap?"

Itachi –Uchiha Itachi, Kakakku satu-satunya menatapku dengan pandangan penuh harap. "Sekarang tidak bisa. Aku harus bekerja besok," jawabku padanya. Raut kecewa langsung hampir diwajah pucatnya, namun senyumnya kembali dalam beberapa detik. "Kalau begitu nanti kau akan melihatku terapi?" ia bertanya lagi.

"Ya, aku juga harus menjagamu dari 'Dia'," Aku berucap, dan aku tahu jika ucapan itu mengusik seseorang yang duduk di sebelah Kakakku. Tapi aku tidak peduli, aku memang harus menjaganya. Bahkan dari seorang psikiater seperti Kurama.

"Selama ini aku sudah menjaganya dengan baik, seperti yang kau ucapkan Sasuke. Dan, tidak perlu menyindirku," Lelaki bersurai merah itu menatapku. Tak perlu waktu untuk tatapan dinginku mengarah padanya.

"Oh –ya, aku sangat tahu kau bisa menjaga Kakakku –dengan sangat baik sebagai 'kekasih homo-nya'," tekanan pada ucapanku tak lagi kututup-tutupi kali ini. Aku tahu, meski wajah sedingin es Kurama itu tetap tak menunjukan ekspresi apapun. Tapi genggaman tangannya pada Kakakku menguat, sudah jadi bukti psikiater itu berusaha menahan diri atau –mungkin Kakakku yang saat ini sedang menahan dirinya.

"Sasuke,"

Pandanganku berpaling pada Itachi, ia memandangku lurus. "Jangan mulai lagi,"

"..." Aku tidak menjawab, tidak juga memberinya anggukan. Hanya diam dan balas menatapnya. Dan satu ucapan yang kukeluarkan setelah lama diam, kuyakin saat itu Kakakku benar-benar berusaha untuk menahan dirinya. "Aku pergi. Aku tidak ingin lebih lama lagi berdekatan dengan kalian –"

"Sasuke –"

"Biar aku yang bicara padanya,"

Aku menghela napasku berat. Tetap berjalan menjauhi meja makan meski berkali aku ingin berbalik dan mengucap maaf. Tapi tidak, aku tidak akan melakukannya. Harga diriku tidak akan pernah mengizinkannya, sekalipun saat ini dadaku terasa sangat sesak.

.

.

.

Aku mematikan alarm mobilku dan membuka pintu kemudi, bersiap masuk namun sebuah suara membuatku mengurungkan niatku.

"Kenapa kau berkata seperti itu pada Kakakmu?"

Tubuhku berbalik menghadap laki-laki bersurai merah yang berdiri lima langkah di depanku. Tatapannya datar, tidak sekalipun bisa terbaca. Dia seorang psikiater, tentu dia harus pintar mengendalikan emosinya.

"Yang kau lakukan hanya membuatnya sulit untuk mendekati 'normal'," kata laki-laki itu.

Aku mendengus, "Kau sedang berkaca pada dirimu,"

Psikiater itu tetap memasang wajah palsunya, dan aku mulai jengah.

"Kau ingin dia normal. Kalau begitu tinggalkan Kakakkku,"

Kali ini dia menghela napasnya, "Kau tahu Kakakmu mencintaiku –aku tidak bisa meninggalkannya,"

"Dan kau tidak –" Aku meremas gagang pintu mobilku.

"Aku menyukainya –"

Aku memotong, " –itu berbeda. Kau tahu benar apa yang kukatakan ini. Jangan berlaga menjadi orang dungu di depanku dan membuatku harus bicara panjang lebar tidak berguna," aku marah. Dan orang di depanku sangat tahu kenapa.

"Urusanmu lebih pelik dari pada harus mengurusi hubungan percintaan kami,"

Aku menekan kuat-kuat gigiku, menahan semua perasaan yang mampu melunturkan ekspresiku saat ini. Wajah dinginku.

"Kau tidak dibayar untuk mengurusku juga," aku berucap.

Dia menghela napasnya dengan tangan yang mengait di depan dadanya, "Kau lebih parah dari dugaanku,"

Tak ada respon dariku. Bahkan setelah ia maju dua langkah lebih dekat, "Anemia bisa menjadi sangat berbahaya, Sasuke." tanganku mengepal erat. " –aku tidak perlu membuka seluruh pakaianmu untuk tahu berapa goresan yang ada dibaliknya, dengan melihat wajah pucatmu –aku tahu,"

"Jangan so tahu segalanya tentangku. –kau hanya orang luar yang memasuki kehidupanku. Kehidupan Kakakku," tanpa menunggu responnya, aku masuk ke dalam mobil. Menyalakan mesinnya dan membunyikan klakson berkali-kali agar laki-laki Namikaze itu menyingkir dari jalan.

Aku melesat pergi setelah dia bergeser. Tak sekalipun memandang dirinya lagi. Aku tidak ingin menambah rasa kesalku saat ini. Tidak ingin menambah pelik pemikiranku.

.

.

.

.

.

.

.

.

Naruto's POV

Aku menatap bangunan di depanku dengan sedikit takjub. Pagar yang tinggi menjulang hingga lima-enam meter berwarna hitam pekat. Dan kuyakin pagar ini otomatis, karena itu tak ada yang menjaganya di sini. Dua buah CCTV disetiap sisi atas pagar sudah cukup untuk mengetahui keadaan di depan sini. Dan lagi, rumah dengan gaya eropa kuno di depanku lebih membuatku heran lagi.

Jadi, ini rumah laki-laki itu? Dia orang kaya, tapi kenapa memilih bekerja sebagai guru? Apa mungkin hanya sekedar pengusir bosan?

Aku berjalan mendekati layar sebesar kotak makan siang di samping gerbang. terpasang dengan apik pada tembok di sana. Layarnya ditutupi lapisan kaca tebal –anti maling mungkin- juga beberapa tombol di bawahnya. Aku memencet tombol itu dan menunggu.

"Kediaman Uchiha, siapa dan ada keperluan apa Anda datang kemari, Tuan?" Suara seorang wanita –rumah ini sudah seperti hotel saja.

"Aku Uzumaki Naruto, murid dari Sasuke-sensei. Aku ingin bertemu dengannya,"

"Mohon tunggu sebentar, Uzumaki-san," Aku tidak menanggapi.

Beberapa saat kemudian gerbang besar di depanku terbuka dengan seorang perempuan berpakaian pelayan menghampiriku. "Uzumaki-san, silahkan ikuti saya," pelayan itu berjalan lebih dulu. Aku mengikutinya dengan mata yang memandang sekitar. Rumah ini cukup mewah, tapi juga terkesan sederhana karena pekarangannya hanya ditumbuhi rumput hijau. Tidak ada pohon, tidak ada tanaman hias lainnya.

Pelayan di depanku membuka pintu besar rumah itu dan ia masuk setelah mempersilahkan aku. Aku terus berjalan dan berhenti diruangan dengan beberapa kursi yang mengitari sebuah meja panjang berbentuk persegi panjang.

"Maaf sebelumnya, tetapi Sasuke-sama sedang tidak ada di rumah. Apa keperluan Anda mendesak? Saat ini Sasuke-sama sedang dalam perjalanan pulang," –ujar pelayan itu.

"Siapa yang datang?"

Kepalaku memutar ke belakang, seseorang tengah menyandarkan bahunya pada pinggiran pintu. Ditangannya terdapat sebuah buku dengan sampul merah –entah apa tulisan yang tertera di sana. Tapi yang membuatku tertarik adalah orang yang memegang buku itu, pemilik mata beriris ular yang terbingai oleh kacamata bacanya. Orochimaru.

"Uzumaki Naruto? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya pria itu. Kacamatanya dia lepas dan menyerahkan buku ditangannya pada pelayan yang tadi mengantarku. Dia berjalan masuk ke dalam ruangan dan mendudukan dirinya di salah satu kursi berlapis pernis emas di ruangan. Matanya tak jemu untuk menatapku.

Apa yang dilakukan orang ini di rumah Sasuke? Satu pertanyaan dalam pikiranku.

"Silahkan duduk Uzumaki-kun,"

Aku mengangguk dan menggeser kursi kayu, mengambil duduk berjarak tiga kursi darinya. Memutuskan kontak mataku dengannya dengan memilih untuk melihat jendela besar yang ditutupi tirai putih transparan. Tirainya bergerak-gerak saat angin berhembus menerpanya.

"Apa kau ada perlu dengan Sasuke-kun?" pertanyaan itu membuatku kembali menatap pria bermata ular itu. 'Sasuke-kun?' panggilannya terdengar terlalu akrab ditelingaku untuk sekedar orang yang sama-sama bekerja sebagai guru. Dan kenyataan tentang Orochimaru yang berada di rumah Sasuke juga menjadi pemikiranku.

"Ya. Ada yang harus Saya berikan padanya," setelah itu tidak ada yang bicara. Ia hanya mengangguk dan membaca lembaran koran yang tersedia di atas meja. Pria yang suka membaca.

"Orochimaru, pelayan bilang ada yang mau berte –"

Aku menoleh saat suara yang kukenal merambati pendengaranku. Uchiha Sasuke. Berdiri dengan mulutnya yang mendadak membisu setelah obsidiannya melihatku.

"Aku akan tinggalkan kalian berdua," Orochimaru menggeser kursinya dan berjalan keluar ruangan. Aku sempat melihat kilatan aneh dari sepasang mata Sasuke saat pria itu melewatinya.

Tidak ada dari kami yang bicara selama lebih dari sepuluh menit Sasuke berdiri di ambang pintu dan aku mulai bosan. Laki-laki ini benar-benar tidak mau berdekatan denganku.

"Ini rumahmu, Sensei. Kau yakin tidak ingin duduk sementara tamumu terus menunggu untuk menyampaikan maksud kedatangannya?" Aku memulai untuk bicara. Ia terlihat sedikit terkejut karena itu dan melangkah masuk ke dalam ruangan.

Saat melihatnya duduk jauh dariku –ditempat Orochimaru duduk sebelumnya, aku yakin laki-laki itu benar-benar tidak nyaman dengan kehadiranku di dekatnya.

"Apa yang membawamu kemari?" ia bertanya.

Tanganku mengambil dompet hitam di balik jaket orange yang kupakai dan menaruhnya di atas meja. Ia tak terlihat terkejut saat aku mengeluarkannya. Mungkin sudah tahu jika aku memang mengambil dompetnya, "Dompetmu 'tertinggal'," ucapku.

Ia melirik dompet yang kutaruh sebelum menatapku lagi, "Terima kasih sudah mengantarnya. Apa ada hal lain lagi yang ingin kau sampaikan? Jika tidak –aku sedikit lelah hari ini,"

Dalam hati aku mendengus. Dia mengusirku dengan cara halus seperti itu?

"Ada, Sensei," Aku meneruskan saat tak ada tanggapan darinya, "Apa hubunganmu dengan Orochimaru-sensei?"

"Bukan kah itu tidak ada hubungannya denganmu, Uzumaki-san?"

Aku menumpu siku tanganku pada meja dan menjadikannya tumpuan dagu, "Ada. Karena kau,"

Sasuke's POV

Pandanganku buram. Penglihatanku seakan terhalang oleh kaca berpetak dengan campuran warna-warna disekelilingnya. Bahkan saat ini aku mencoba untuk tetap duduk tegak tak menyandar pada badan kursi. Pemuda ini, aku benar-benar ingin ia segera pergi agar aku bisa mengistirahatkan tubuhku.

Saat ini. Tanganku sakit dengan cucuran darah yang terus keluar. Kuyakin dibalik kemeja dan kaus yang kukenakan ini sudah basah oleh darahku.

"Maaf, tapi itu adalah urusan pribadiku,"

" –Oh ya, Sensei. Kusarankan kau untuk memakai baju berlapis jika tidak ingin darahmu itu keluar terus –"

Deg!

Jantungku kehilangan detaknya membuat darahku tersendat untuk mengaliri wajahku yang kini kupastikan sangat pucat. Kenapa... dia –aku menunduk dan mendapati lengan kaus putih yang kukenakan sudah berubah merah dibagian dalamnya. Darah menetes dari sana, menjatuhi lantai dengan beberapa tetesannya. Aku mematung. Se –sejak kapan, kenapa aku tidak menyadarinya –kenapa –

" –terlalu banyak yang kau sembunyikan dari orang lain. Nee, Sensei..."

Aku terperanjat dan berdiri dari tempat duduk. Kursi yang kutinggalkan terjungkal jatuh. Tengkukku meremang saat suara itu begitu dekat dengan telingaku. Sejak kapan pemuda itu berada tepat di sampingku. Tanganku refleks memegangi leherku yang terasa panas.

"Claustophobia, and what is now, Sensei?"

Aku mencengkram lengan kiriku erat, tanganku gemetaran. "Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?" tanyaku padanya. Cukup untukku bersikap acuh dengan semua gangguan yang dilakukan pemuda ini padaku. Aku yang bahkan tak mengenal siapa pemuda ini jika saja insiden Minggu lalu tak terjadi. Dan kelakukannya benar-benar meggangguku.

"Keinginanku?"

Satu tangannya masuk ke dalam kantung jaketnya, ia mengeluarkan sesuatu –amplop berwarna putih dan menaruhnya di atas meja. Aku menatap amplop itu sejenak dan kembali menatapnya.

"Minggu, jam tujuh malam. Dan aku tidak suka menunggu,"

Alisku mengernyit. Apa maksudnya –dia ingin aku menemuinya, nanti?

"Datang, atau kau memilih aku menyebarkan semuanya,"

" –sampai jumpa, Sensei,"

"..."

Tidak ada kata yang keluar dari mulutku. Aku masih diam, berdiri ditempat yang sama. Amplop putih di atas meja menjadi tumpuan mataku. Tidak perlu untuk bertanya-tanya dalam benakku mengenai apa isinya, aku berjalan mendekati meja. Mengambil amplop itu dan membukanya.

Mataku melebar. Kapan –kapan pemuda itu mengambilnya? Ditanganku, isi amplop itu adalah lembaran fotoku. Aku dan pemuda itu saat berada di dalam lift. Saat dia menciumku.

Menyebarkan semuanya.

Apa maksudnya adalah mengancamku dengan ini. Sesuatu yang bisa membuatku dipecat dengan tidak hormat sebagai guru.

Aku meremas amplop putih ditanganku dengan kencang. Apa yang diinginkan pemuda itu dariku dengan menyebarkan semua ini? Dia, aku bahkan mengenalnya hanya dari sekedar nama. Selebihnya, tidak. Tetapi kenapa aku harus berurusan dengannya lebih jauh seperti ini.

Kepalaku pusing. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan setelah ini.

.

.

.

.

.

.

.

Mobil yang kukendarai sudah berhenti sekitar satu menit yang lalu. Mataku menatap sekeliling di luar mobilku. Tempat dari alamat yang ditinggalkan pemuda itu bersama dengan lembaran fotoku beberapa hari yang lalu. Sebuah bangunan yang cukup besar, disekelilingnya dipagari oleh tembok berwarna putih tinggi –dua atau tiga meter tingginya. Hanya gerbang besi yang membuatku bisa melihat bagaimana rupa bangunan itu dengan jelas.

Dan aku melihat pemuda itu keluar dari pintu depan rumah itu, berjalan melewati pagar besi yang memang sudah terbuka sedikit tanpa melebarkannya.

Aku meremas setir mobilku semakin kuat. Firasatku buruk.

"Jangan melamun Sensei," pemuda itu menunduk dipintu sampingku. Aku meliriknya, namun tetap diam.

"Masuk?"

"Apa yang sebenarnya anda inginkan dariku, Uzumaki-san?" tanyaku langsung. Saat ini aku tidak sedang ingin berbasa-basi.

"Kau tahu, tidak sopan jika tamu bicara di luar rumah seperti ini. Masuk, Sensei. Aku memaksa," ucapan itu membuatku menatapnya. Sekilas, lalu membuka sabuk pengamanku sebelum membuka pintu mobil di sebelahku setelah pemuda itu mundur beberapa langkah.

Tatapanku masih mengarah padanya. Sama halnya dengan dia yang menatapku. Menatap keseluruhan dariku, aku bisa melihat bola matanya terus bergerak ke bawah dan ke atas. Aku tidak suka tatapan orang ini. Tatapan yang seolah tengah menelanjangiku bulat-bulat. Sama halnya dengan aku tidak suka berada di dekatnya.

Pemuda itu berbalik dan berjalan mendekati gerbang. Aku masih diam ditempatku berdiri sampai ia kembali berbalik, menatapku dengan tangannya yang membuka lebih lebar gerbang besi itu. Tatapannya seolah menyuruhku untuk masuk. Aku melangkah mendekatinya, masuk melewati gerbang itu dan sebisa mungkin tetap mengambil jarak dengannya.

"Masih takut padaku, Sensei?" pertanyaan itu hanya kujawab dalam hati. Takut? Tidak, aku hanya waspada. Aku tidak takut pada pemuda ini, tapi kelakuannya yang lalu terhadapku membuatku harus memasang lebih banyak alarm dalam otakku saat dia mendekat.

Tak menungguku untuk menjawab. Pemuda itu kembali berjalan, memasuki rumah besar di depannya. Aku mengikutinya dalam diam karena memang tidak ada yang harus kukomentari. Terlebih saat aku melihat dalam rumah itu. Cukup bersih. Bahkan terlampau bersih untuk rumah besar yang ditinggalkan –karena semua barang dirumah sudah ditutupi oleh kain putih besar, karena itu kupikir rumah ini jarang bahkan tidak ditinggali.

"Bisa kau katakan sekarang apa maumu sebenarnya, Uzumaki-san? Maaf, tapi kenyataan jika kau menggangguku sudah tidak bisa –"

"Sssst..." Aku diam saat pemuda itu mendesis dengan telunjuk yang menyilangi bibirnya. Tangan yang memutar kenop pintu putih berdaun dua terlampau sederhana tanpa hiasan apapun menjadi perhartianku berikutnya.

"Kau akan membangunkannya jika terus ribut, Sasuke-sensei,"

Pintu itu terbuka dengan lebar, cukup untuk memperlihatkan bagaimana rupa dari ruangan dibaliknya. Semuanya merah, cat dinding, lantai, lemari dipenuhi dengan warna merah pekat. Aku ragu untuk mengikuti langkah pemuda itu masuk ke dalam, namun tetap kulakukan meski jarak yang kuambil darinya semakin jauh.

"Jika dia bangun –aku sulit untuk menidurkannya kembali,"

Pandangan pemuda itu mengarah ke samping. Aku mengikuti kemana arahnya memandang. Mataku melebar sempurna saat tahu apa yang tengah menjadi objek penglihatannya. Perutku melilit, mual.

Kenapa –di sana. Terdapat sebuah ranjang dengan ukuran queen size dengan dominasi warna serba putih. Dan apa yang ada di atas ranjang itu membuat seluruh tubuhku menegang, tenggorokanku serasa kering mendadak.

Ada seseorang, -kedua tangannya diikat pada setiap ujung tempat tidur dengan tali tambang berwarna merah. Tali yang mengikatnya melilit dari pergelangan melingkari lengannya. Leher, juga tubuhnya penuh dengan ikatan simpul –mati- terus melilitnya hingga paha dan berakhir dengan kedua pergelangan kakinya yang mengangkang lebar diikat dikedua sisi tempat tidur.

Tubuhnya yang tak mengenakan apapun dipenuhi oleh luka gesekan dari tali tambang yang mengikat tubuhnya. Ada memar di sana sini juga jejak seperti darah mengering dikulitnya yang putih. Kedua pucuk dadanya terlihat dijepit oleh sesuatu –tidak, bukan dijepit, tapi ditusuk oleh sesuatu karena kulihat darah mengalir dari sana.

Aku meneguk ludahku yang terasa amat pahit. Perutku bergejolak hebat saat mataku melihat selangkangannya. Kejantanannya dibelit oleh tambang yang sama dengan yang melilit tubuhnya. Memaksanya mengacung.

Siapa orang di atas tempat tidur itu semakin membuat pikiranku terasa berputar-putar.

Dia-

–Sabaku Gaara.

Aku jatuh terduduk, kakiku sudah tak mampu lagi menopang berat tubuhku saat ini. Tanganku ikut gemetaran. Apa yang kulihat ini terlalu –

"Kau suka dengan apa yang kau lihat, Sensei?"

Hembusan napas yang kurasakan di belakang leherku membuatku terperanjat dan bergerak menjauh dengan sekali dorongan dari kakiku. Tanganku tergelincir saat mencoba menarik tubuhku lebih jauh.

"Ap –apa yang –dia –Sa –Sabaku –" Aku tidak bisa menghentikan kegugupan dari setiap ucapan yang keluar dari bibirku. " –ke –kenapa –Uzumaki –kau –"

Bibir pemuda itu melengkung keatas, dia menyeringai. Dan –aku... aku tidak bisa menahannya. Perutku mual –

"Tenanglah –" Aku tak sempat menghindar saat pemuda itu dengan cepat menerjang tubuhku hingga terdorong keras ke lantai. Kepalaku terasa pening karena harus membentur keramik merah di bawahku. " –kau juga akan kuajari bagaimana menjadi mainan yang baik, Sensei,"

Sesuatu menutupi mulutku, -kain dan aku merasakan pandanganku memburam hingga berakhir dengan gelap.

.

.

.

.

"Kau akan jadi mainan yang menarik, Sasuke,"

.

.

.

.

To Be Continue~

A/N : Asdfghjkl?! #Tepar

Emak! Bapak! Anakmu jadi orang termesum di dunia... Twooooolyoooooong!

Hahaha... XD

Maaf ya, A/N ini jadi gaje. Tapi sumpah deh, aku serasa nggak mau lanjut chap depan karena nggak PD bikin BDSM yang sepet. Aku awam banget dengan semua peralatan BD dan SM... jika ada yang bisa bantu untuk referensi alat macam apa yang ingin kalian masukan untuk nge –ekhem-in Sasuke. Silahkan katakan dikolom review ya!

Terakhir, Review?

.

.

Rabu, 28/05/2014 jam 12 . 24 malam