Halo!
Sebelumnya aku menjanjikan fanfict ini direpost hari kamis kemarin, namun terlambat ya? Aku minta maaf sebesar besarnya u.u karena ada beberapa masalah, termasuk kemarin di kota aku lagi heboh asap Sumatera sampai diliburkan sekolah *ganyambung*. Btw, siapa disini yang juga kena asap? Oke, lupakan. Langsung baca aja ^^
Warning: rating T, genre masih dipertanyakan, repost~~
Boboiboy charas are Animonsta's
Happy reading!
.
.
.
Minggu sore. Biasanya, waktu ini digunakan oleh para keluarga untuk bersantai seperti berkumpul di halaman belakang. Atau bisa terlihat sepasang kakek nenek sedang menyeduh tehnya dan duduk di beranda rumah, bercengkrama tentang masa masa indah mereka. Di tanah lapang, banyak anak anak yang beradu layangan ataupun bermain petak umpet. Wajah mereka tergambar riang tak terkira, cerah seterik matahari. Bergeser mata sedikit ke taman, terlihat banyak muda mudi yang sedang kasmaran. Memanjakan diri berdua, dan jika sudah puas, mereka akan pulang.
Salah satunya adalah sepasang kekasih yang sedang berboncengan di sepeda motor itu, menembus jalan raya, menuju rumah. Tak berapa lama, motor itu berhenti di sebuah pagar rumah. Sang gadis yang berada di belakang turun, lalu seperti mengucapkan terimakasih, tersenyum, dan memasuki rumah, yang sepertinya itu rumah si gadis. Lelaki itu tersenyum lalu melaju dengan sepeda motorrya, menjauh.
Setelah melaju sekitar 1 kilometer, lelaki itu dihadang oleh beberapa orang yang sepertinya preman. Lelaki itu sempat memberikan perlawanan, namun akhirnya tak bisa menyambangi preman preman itu. Setelah lelaki itu terkapar tak berdaya, mereka merogoh kantung celananya dan mengambil dompet yang ada di sana. Lalu badannya ditendang dengan kasar dan keras sampai terpental jauh ke ujung sebuah gang, lalu para preman itu pergi membawa sepeda motornya.
Lelaki itu masih sadar dalam beberapa detik, lalu menutup matanya.
.
23.15 PM
Gadis itu terbangun dari tidur nyenyaknya. Matanya mengerjap perlahan seakan tak rela untuk membuka matanya, dan menyentuh lehernya. Ia merasa kerongkongannya kering sekali. Dengan terhuyung ia melangkahkan kaki ke dapur untuk mengambil segelas air dingin. Kesadarannya masih terkumpul setengah, bahkan ia berjalan sambil menabrak barang barang di sekitarnya. Ia tidak menghiraukan apapun saat ini, baik pandangan yang masih kabur ataupun suara suara tertahan di balik pintu kamarnya.
Pintu kamarnya?
Bukankah ia tinggal sendiri?
Tepat setelah ia membuka pintu itu, seseorang membekap mulutnya. Ia kaget, membulatkan matanya lebar-lebar dan meronta sekuat tenaga. Tetapi percuma, ia ditahan oleh orang tersebut. Ia digendong keluar dan dimasukkan ke sebuah mobil jeep. Ia melihat beberapa orang membawa barang-barangnya keluar rumah dan berhati hati meletakannya di bagasi mobil yang berada di belakang jeep tempat ia disandera. Hanya itu yang ia tahu sebelum kepalanya pusing dan pandangannya gelap.
-Remember-
Seorang pemuda mengerjapkan matanya. Kepalanya terhuyung-huyung dan merasa pusing sekali. Setelah pandangannya membaik, ia mendapati dirinya sedang berada di ruangan serba putih. Sepertinya ia berada di rumah sakit. Ia tak tahu mengapa ia bisa berada disini, dan mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Tetapi nihil, ia tidak ingat. Ia mencoba mengingat hal hal sederhana tentang dirinya.
Ia juga tidak ingat.
Apakah ia amnesia?
Namun anehnya ia bisa mendiagnosis dirinya sendiri. Ilmu ilmu dalam kehidupannya tidak ada yang hilang. Tetapi semua memori hidupnya hilang. Semua kemungkinan tersebut mengerucut pada pada dua hal.
'Apa yang terjadi dengan diriku?'
Namun hal yang lebih penting dari hal itu adalah...
'Siapa aku?'
-Remember-
Seorang gadis merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Ia merasa tak mampu untuk bangun, namun ia tetap berusaha sekuat tenaga. Setelah kesadarannya sudah cukup terkumpul, ia menyadari kondisinya cukup mengenaskan; baju yang tidak rapi, badan yang lebam sana sini, dan kemaluannya ngilu sekali. Ia mencoba untuk berdiri, namun kakinya tidak dapat menopang bobotnya, dan ia kembali terjatuh.
Ia meringis, lalu sekejap merasa kebingungan. Dia kenapa? Apakah ia diperkosa? Dan sekarang bahkan ia ada di sudut jalan yang sepi, dan ia tak tahu ini dimana. Dengan susah payah, iya mencoba untuk bangkit dan mencari keberadaan penduduk sekitar lalu menanyakan dimana ia, agar ia bisa kembali ke asalnya?
Asalnya?
Tunggu. Ia sedang berpikir dimana asalnya. Tetapi tidak mengingat apapun.
Ia terus berpikir sembari berjalan terseok seok ke daerah yang lebih ramai. Kakinya melangkah tak tentu arah, seperti pikirannya yang sedang mencari sekeping memori tentang apa dan bagaimana. Sejenak kemudian, ia melihat tanda tanda keramaian. I melihat sebuah halte bis, lalu melangkah kesana dan mendudukkan dirinya disitu. Ia melamun masih tak mengerti apa yang terjadi, sampai baru tersadar bahwa ada seorang wanita separuh baya menghampirinya.
"Yaampun, anda kenapa nona?" Raut wajah wanita itu khawatir. Wanita itu melihat penampilan si gadis dari ujung kepala sampai ujung kaki yang tak ada beresnya sedikitpun. Mata sang gadis terlihat kosong, menggambarkan rasa sakit bercampur kebingungan yang amat sangat.
"Ha? Saya—" Netra sang gadis bergerak gerak, masih bingung. "Saya... juga tidak tahu."
"Bagaimana anda bisa tidak tahu? Anda tinggal dimana?"
Tempat tinggal? Ia bahkan berpikir tentang itu sedari tadi, tapi tidak menghasilkan apapun. Rasanya otaknya sudah tidak berfungsi lagi di dalam sana. "Ti— tidak tahu."
"Loh?" Muka wanita itu keheranan luar biasa sekilas, namun sekejap kemudian ia bisa menangkap sesuatu.
"Kalau namamu siapa?"
Nama? Siapa namanya? Apa itu nama? Ia tahu itu apa, tapi ia tak tahu siapa namanya. Ia juga tak tahu siapa dirinya, umurnya berapa, dimana tempat tinggalnya. Sungguh mustahil jika ia sedari lahir tak memiliki itu semua, sekalipun ia anak terbuang sekalipun. Ia mencoba mengingat 1 dikali 1, 1 dikali 2, ataupun analogi ilmu pengetahuan, dan ia dapat menjawabnya. Namun ia tak ingat dari mana ilmu ilmu itu berasal. Semua yang berkaitan tentang dirinya seperti hilang disapu ombak. Ia mencoba mencari tahu di kepalanya apa yang terjadi padanya. Matanya membelalak, tak menerima kenyataan dari otaknya sendiri.
Ia... amnesia?
.
.
.
TBC
A/N: aku... sebenarnya bingung cara ngerepost ff ini. Sumpah. Rasanya aneh aja-_- tapi kenapa pada minta repost cobaa~~~ aku jadi pusing sendiri xD
Yaaaah, tapi akhirnya jadi juga. Ada beberapa perubahan yang terjadi, kalian bisa lihat sendiri. Jadi, aku harap kalian bisa membaca versi repost ini dengan lebih baik(?) #abaikan
Dan, terimakasih buat yang udah baca ff ini, baik pembaca dari versi lamanya maupun yang baru baca sekarang. Aku tahu, kekurangan selalu ada pada sebuah karya, jadi aku mohon jika ada yang salah silahkan berikan saran di kotak review!
