Halo!
Chapter 2 ff ini beda sama versi oldnya. Kalau dulu ngebingungin kan ya, nah sekarang aku buat sistem selingan. Satu chap ceritain full taufan/hali, baru setelahnya yaya/hanna, dan seterusnya. Aku harap aku bisa nerusin ff ini dengan baik xD
Warning: rating T, genre masih dipertanyakan, repost~~
Boboiboy charas are Animonsta's
Happy reading!
.
.
.
Pagi hari.
Ia terpekur di atas ranjang putih yang ia tahu adalah tempat tidur untuk orang orang yang sakit. Ia sakit kah? Tidak, di tubuhnya tidak terdapat perban seperti orang orang di sana, tapi... oh iya, dia memang bukan sakit, tapi seorang pesakitan. Ia tertawa hambar ketika menyadari kata pesakitan sangat cocok untuk menggambarkan dirinya. Pesakitan? Apa apaan itu? Kemarin sore ia normal dan paginya ia terduduk kehilangan arah hidup seperti ini. Hidup sungguh selucu itu.
Otaknya terus memerintahkan para syaraf untuk membongkar sesuatu yang dapat ia gunakan sebagai petunjuk tentang dirinya. Oh ayolah, bahkan hanya sekedar nama. Tapi hasilnya nihil, yang ada kepalanya semakin berdenyut denyut saja. Mungkin setelah keluar dari sini ia akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
Lamunannya memudar ketika telinganya menangkap gelombang suara pintu kamar yang dibuka. Saat pandangannya berputar ke arah jam 7, matanya menangkap sesosok lelaki paruh baya berjas putih dan seorang pria seumuran dengannya memasuki ruangan. Yang satu ia tahu itu dokter yang menanganinya. Tapi yang satu lagi? Oh, apakah pria itu penjaga rumah sakit jiwa? Tampang pria itu berkata begitu, menurutnya.
"Oh, selamat pagi."
Ia menyapa dokter itu sekenanya. Bukan karena tak sopan, tetapi ia masih kurang menangkap tentang situasi yang terjadi. Tampaknya, selain amnesia otaknya juga bekerja sedikit lebih lambat dari sebelumnya.
"Hari ini anda akan keluar dari rumah sakit, dan anda akan dibawa ke pusat rehabilitasi."
Kan, benar. Pusat rehabilitasi itu ya sama saja dengan rumah sakit jiwa. Terkutuklah.
Pria yang di sebelah dokter paruh baya tersebut langsung menyela. "Tidak, tidak. Rehabilitasi berbeda dengan rumah sakit jiwa—"
Ia hanya menatap pria itu dengan dahi berkerut.
Pria itu kembali menyela. "—maaf, seharusnya saya menyapa anda terlebih dahulu. Selamat pagi, nama saya Gempa. Maaf saya membuat anda kaget tadi, karena saya rasa anda sedang menyamakan pusat rehabilitasi dengan rumah sakit jiwa. Eh, maaf kalau saya salah. Saya benar benar minta maaf."
Kesan pertama dirinya tentang pria ini: suka kelepasan bicara.
"Tidak apa apa. Lagipula, saya sudah tahu maksud dan tujuan anda kemari. Oh ya, apa kita akan ke pusat rehabilitasi sekarang?"
Ia mencoba untuk terlihat sesopan mungkin dengan orang yang baru ditemuinya, meskipun ia adalah seorang pasien, dan meskipun ia tahu mereka akan memaklumi perbuatannya ketika ia membuat kesalahan. Tentu, ia kan terlihat sakit jiwa. Dan itu memang benar, tapi ia juga tidak sesakit itu.
"Iya. Silahkan bersiap, saya tunggu diluar."
-Remember-
Matanya bergerak ke arah plakat besar yang bertuliskan 'PUSAT REHABILITASI KUALA LUMPUR'.
Ya, disinilah ia sekarang.
Walau ini bukan rumah sakit jiwa, tetap saja tempat ini bukan tempat orang yang berkehidupan normal. Dan sekarang, ia termasuk ke dalam golongan itu.
Ia menyeret langkahnya masuk, dipandu dengan Gempa yang berjalan di depannya. Ia memerhatikan Gempa, dan ia merasa Gempa seumuran dengannya. Tapi kalau memang seumuran dengannya mengapa ia bekerja disini bukannya kuliah?
Ngomong ngomong, ia mengapa menjadi sok tahu bahwa seseorang yang 'sepertinya' berumur sama dengannya sedang menjalani kuliah. Lucunya, ia bahkan tak tahu umurnya berapa.
Namun, ia tetap penasaran juga dan merasa agak yakin dengan kedua hipotesisnya yang aneh tadi: pertama, dia seumuran dengan Gempa dan kedua, orang seumur Gempa seharusnya sedang kuliah sekarang.
"Saya sedang magang, karena jurusan saya psikologi."
Oh, begitu. Tapi, benar kan, jurusan dia saja psikologi. Kalau psikologi kan kerjanya mengurusi manusia berpenyakit jiwa.
"Tapi rehabilitasi bukanlah tempat orang yang sakit jiwa. Disini adalah tempatnya orang orang amnesia, pemulihan kecanduan narkotika, dan lain sebagainya. Intinya, masih tergolong normal. Hm, seharusnya yang menangani disini adalah mahasiswa jurusan sosial, tapi entah mengapa yang mendominasi disini adalah mahasiswa psikologi padahal 60% dari angkatan kami sudah disalurkan untuk magang di beberapa rumah sakit jiwa di Malaysia dan Singapura."
Ia manggut saja mendengar penjelasan yang disampaikan oleh Gempa. Dan padahal ia tidak bertanya asal usul Gempa sedari tadi bahkan tidak mengajaknya berbicara. Tetapi, mungkin saja Gempa memang sedang berusaha memecahkan kesunyian di antara mereka berdua, terlihat dari bahasa tubuh Gempa yang terlihat agak kikuk setelahnya.
Ia menoleh ke kiri dan kanan sembari berjalan menyusuri tempat tempat di sini. Sepertinya ia akan diajak Gempa untuk melihat lihat. Arsitektur dan tata letak tempat ini boleh juga, pikirnya. Taman taman kecil yang menghiasi bagian depan halaman yang terbilang cukup luas terlihat menyenangkan, ditambah kursi putih yang memanjang disana. Terlihat banyak orang –kebanyakan lelaki yang sepertinya seumuran dengannya— sedang beraktivitas. Ada yang bercengkrama, memotong rumput, sampai yang bermain bola pun juga ada.
Kini ia masuk ke dalam lorong yang lumayan besar dan memanjang. Ada deretan loker dan tempelan berisikan tulisan tentang kesehatan terpajang disana, terlebih tentang narkotika dan kb. Ia juga melihat banyak pintu pintu di sepanjang lorong dan terdapat plat nomor di depan pintunya.
"Kamar disini ada 2 macam. Yang butuh penanganan khusus mendapat kamar pribadi dan yang dianggap aman akan tidur berdua dalam satu kamar. Nanti saya berikan kunci kamar, namun sekarang kita harus ke kantor dulu untuk mengurus berkas anda."
Di benaknya, kantor disini hanyalah sebuah ruangan pribadi, persis seperti ruangan 'ibunda' di panti asuhan, namun ternyata tidak. Saat pintu ruangan yang disebut Gempa kantor dibuka, matanya menangkap sekitar 5-7 orang tengah bertugas didalam sana, entah apa tugasnya. Kakinya tetap mengikuti Gempa hingga Gempa berhenti dan duduk di satu sub-ruangan yang kosong, dan sepertinya miliknya (sementara menjadi magang).
Gempa mempersilahkan dirinya untuk duduk di kursi yang berada di hadapannya sembari menyodorkan sebuah map. Ia lalu duduk dan membuka map tersebut dengan hati hati. Setelah ia menarik berkas yang terdapat di dalamnya, terlihat kertas bertuliskan 'DATA DIRI '. Ia melihat lembar lembar lainnya dan terdapat kertas seperti 'RIWAYAT PENDIDIKAN' dan lembar lainnya yang malas ia baca.
"Tidak perlu mengisi semuanya, yang perlu anda isi hanyalah data diri saja. Jadi, lembar yang lainnya serahkan pada saya."
Ia menyerahkan seluruh berkas yang ia buka tadi, kecuali bagian data diri. Setelahnya, ia sudah di berikan Gempa sebuah pulpen dan ia berterimakasih pada Tuhan karena masih membiarkannya mengingat bagaimana cara menulis. Ia melihat baris teratas pada kertas tersebut, tepatnya baris kedua setelah tulisan judul 'data diri' yang dicetak tebal dan sedikit lebih besar.
Nama...
Ia membuat nama baru?
Wah, ia yakin di kehidupannya yang lalu ia tak pernah berpikir untuk memiliki 2 nama resmi, namun itulah yang terjadi sekarang. Entah harus sedih atau senang karena hal itu, ia tak tahu. Masalahnya... ia mau membuat nama yang bagaimana?
Matanya bergulir ke luar jendela, mencari sedikit inspirasi. Tak mungkin ia menamakan dirinya dengan 'Daun' atau malah 'Bunga'. Hoek, dia laki laki, tahu. Jadi apa? Bintang? Awan? Matahari? Entah kenapa dia ingin menamakan dirinya dengan nama alam, ia tak tahu mengapa dan ia juga tak tahu nama seperti apa yang dia pakai. Sementara Gempa yang berada di hadapannya merasa biasa saja, mungkin sudah paham dengan kasus pasien labil seperti ini.
Ia termenung, memandang pohon yang daunnya tertiup angin. Imajinasinya membayangkan angin itu bertiup semakin kencang, kencang, dan berputar seperti Taufan.
Tunggu.
Taufan?
Kata itu... bisa dijadikan sebuah nama, kan?
Ia menoleh ke arah Gempa. "Gempa, apakah 'Taufan' bisa dijadikan sebuah nama?"
Dahi Gempa mengernyit, mencoba memahami apa yang merasuki pikiran orang yang dihadapannya ini sampai bisa berpikir ingin menamakan dirinya Taufan. "Ya, bisa saja sih. Namaku juga dari nama alam, kan? Gempa."
Ia manggut manggut dan melihat lembar formulir. Tangan kanannya bergerak dan ujung pulpen sudah menyentuh permukaan kertas. Kemudian tangannya bergerak, menyebabkan terjadi goresan tinta di atas sana.
Goresan yang membentuk sebuah kata.
Taufan. B.
.
.
.
TBC
