Super Junior-Dont Leave Me
Sungmin menjerit bahagia tertahan didalam selimut. Semenjak sore kepulangannya bersama kyuhyun, sungmin tak henti-hentinya bersikap konyol hanya karena merasa bahagia. Berguling kesana kemari, membungkus tubuhnya dengan selimut.
Kibum yang merasa jengah hanya menatap malas sungmin yang tengah berbunga-bunga. Kemarin malam ia melihat sungmin menangis dan bersikap seperti orang gila karena frustasi, kini ia juga melihat sungmin seperti orang gila hanya karena bahagia. Tapi ini lebih baik dari pada melihat sungmin menangis fikir kibum.
"Hey, kau sudah tidak waras ya ?" Ledek kibum.
Sungmin mengerucutkan bibirnya tak suka, "Jahat sekali kau ini selalu mengatai ku." Sungmin langsung menyingkirkan selimut dari tubuhnya dan duduk diatas kasur. "Aku hanya sedang bahagia." Tambahnya sambil sumringah.
"Baguslah, setidaknya aku tidak lagi melihat wajah sembab mu." Cibir kibum.
"Hehehe..." Sungmin hanya menampakan deretan giginya begitu polos.
Kibum yang terlihat sibuk mengetikan sesuatu dilayar laptopnya langsung menghentikannya ketika ia masih merasakan keganjalan dihatinya. "Sungmin..."
"Ye ?"
Kibum ragu untuk menanyakan hal itu kembali namun ia hanya ingin memastikan jika sungmin sekarang benar baik-baik saja dan tidak berpura-pura. "Apa kau baik-baik saja ?" Tanyanya begitu cemas.
"Pertanyaan macam apa itu ? tentu aku baik-baik saja." Sungmin kembali menampakan senyum manisnya dihadapan kibum. Kibum sedikit mengerutkan dahinya, ia sedikit heran dimana letak otak sungmin saat ini. Kyuhyun bahkan sudah jelas-jelas menyakiti sahabatnya itu secara terang-terangan namun sungmin masih saja bertahan dengan namja dingin tersebut.
"Benar tidak apa-apa ?" Tanya kibum sekali lagi, ia ingin memastikan jika sungmin tidak tengah membohonginya. Jika iya, kibum sudah tahu gelagat sungmin ketika membohonginya.
"Sungguh, aku baik-baik saja ! Aku bahkan bahagia bersama kyuhyun." Semburat merah menjalar dikedua pipi cubby sungmin mengingat kejadian sore tadi. Dengan cepat ia meraih bantal dan menutupi sebagian wajahnya.
"Kau sedang tidak berbohong kan ?"
"Yaa ! Kau ini kenapa kibum ?" Sungmin langsung merengut dan beranjak dari tempat tidurnya.
"Eh, kau mau kemana min ?" Teriak kibum merasa diacuhkan sungmin.
"Aku haus !" Teriak sungmin kesal dan menutup keras pintu kamar mereka. "Ada apa dengan kibum ? aneh !" Sungmin menggerutu dan berjalan menelusuri lorong rumah kediaman cho tersebut.
Sungmin mengerutkan dahinya ketika melihat tubuh yang tengah berbaring diatas rerumputan taman belakang kediaman Cho. Rasa penasaran yang timbul begitu kuat dihatinya mendorongnya mendekati sosok tersebut.
"Kangin-ssi..." Gumamnya begitu pelan begitu mengetahui jika sosok yang tengah tertidur tersebut ternyata Kangin. Sungmin berjongkok mencoba lebih mendekat. "Hey kau tertidur ?"
Kangin masih tak bergeming dan masih memejamkan matanya tak merespon sungmin meski kenyataannya ia tidak sama sekali tertidur.
"Kangin-ssi kau bisa sakit tidur disini." Sungmin mencoba menyentuh pundak Kangin namun pemuda rakun tersebut seolah sudah bisa menduga dan mencekal tangan Sungmin sebelum ia bisa menyentuh Kangin.
"Eh ?"
"Jangan menyentuh ku, pergi !" Gumam kangin begitu dingin namun pemuda tersebut masih belum membuka matanya. Dengan kasarnya ia menepis tangan Sungmin.
"Kau ini kenapa ? Aku hanya-"
"Kau berisik sekali !" Bentak kangin. Sungmin terlonjak kaget sampai terduduk. Kangin membuka matanya dan menarik diri agar terbangun. "Sudah kubilang jangan mengganggu ku !" Kangin bangkit dan berjalan meninggalkan sungmin yang masih terlihat shock.
Sungmin terkesiap dan langsung mengejar Kangin. Gadis kelinci itu tidak menyerah begitu saja, dia terlalu tidak mengerti dengan sikap Kangin sekarang ini. Dia butuh penjelasan.
Dengan usaha yang cukup keras, akhirnya ia berhasil mencegat Kangin. "Kau ini kenapa ? aku salah apa pada mu Kangin-ssi ?"
"Menyingkir Sungmin ! Kau membuat ku muak !" Dengan kasarnya, Kangin kembali menepis tangan Sungmin dan mendorong tubuh Sungmin agar menjauh. Sungmin sedikit meringis mendapati perlakuan kasar Kangin. Meski ini bukan pertama kalinya Kangin berbuat kasar terhadapnya tetap saja ia merasakan keganjalan atas amarah Kangin padanya.
"Kau kasar sekali eoh ?" Teriak Sungmin begitu lantang. "Padahal aku hanya bertanya." Gumamnya begitu sedih.
Kangin begitu tercekat karena perkataan Sungmin. Dia baru tersadar jika ia memang sudah keterlaluan. Ia mengepalkan kedua tangannya, kesal pada dirinya sendiri kenapa ia begitu kasar terhadap gadis yang ia sukai. Harusnya ia melindungi Sungmin bukan menyakitinya, tetapi yang bisa ia lakukan hanya menyakiti Sungmin. Mungkin itu caranya sendiri untuk mencintai Lee Sungmin.
Kangin berhenti sejenak dan tanpa menoleh ia berujar begitu kejam terhadap sungmin. "Aku tidak suka...karena kau begitu bodoh. Aku benci orang bodoh seperti mu !"
Sungmin tertegun, kata-kata kangin begitu menusuk dan benar-benar kejam ditelinganya. Rasanya benar-benar sakit hati, seperti ini rasanya. "Aku membenci mu kangin-ssi !" Sungmin langsung berlari melewati kangin terlebih dahulu sedangkan kangin hanya menatap punggung sungmin yang semakin menjauh.
"Dasar bodoh ! mulutnya itu, kejam sekali ! Aku benar-benar benci kau kangin-ssi !" Sungmin terus menggerutu sepanjang jalan. Rasanya sakit hati, meski kangin kerap kali mengatainya bodoh namun entah kenapa rasanya kali ini benar-benar berbeda dari biasanya.
Dengan sedikit kasar sungmin membuka pintu lemari es tersebut dan meraih salah satu botol air mineral dingin. Sungmin langsung meminum rakus sampai setengah botol tersebut tandas dalam sekali tegukan.
"Ahh kesal sekali..." Sungmin menarik nafasnya begitu dalam dan menghembuskannya begitu panjang. Tiba tiba saja ia begitu tertegun melihat botol kaca ditangannya tersebut. Potongan-potongan memorinya seolah terngiang-ngiang dikepalanya.
Memori itu, kapan ia mengalami itu. Kenapa ia tidak ingat memiliki kilasan tersebut. Rasanya itu sungguh menyakitkan. Tubuhnya terasa lemas seketika dan botol kaca tersebut merosot dari genggaman tangannya.
Prankkkkk
Tubuh sungmin merosot seketika dan duduk berjongkok. Rasanya tulang-tulangnya terlepas begitu saja dari tubuhnya dan isaknya pecah menatap pecahan kaca tersebut. Sungmin menangis tersedu-sedu ketika dirinya baru mengingat lengkap kejadian semalam. Rasa sesak memenuhi dadanya, hatinya begitu sakit merasakannya.
Kilasan itu begitu jelas dan terngiang diotaknya. Betapa kyuhyun terlihat kejam semalam dan kyuhyun yang tampak begitu tulus mengatakan cinta padanya sore tadi. Dirinya begitu dilema. Kebohongan apa yang kyuhyun lakukan padanya. Lalu mana yang benar, kyuhyun yang mengatakan menyukai Kim Taemin atau mencintai dirinya. Betapa bodohnya dirinya masih memikirkan itu, jelas jika Kyuhyun menyukai Taemin dibanding dirinya. Satu kesimpulan yang Sungmin dapatkan jika sore tadi Kyuhyun hanya mentakan kebohongan untuk menjaga hatinya.
Untuk apa Kyuhyun mengatakan itu jika pada akhirnya hanya menyakitinya. Sungmin berfikir jika lebih baik Kyuhyun tidak mengatakan itu dan memberikan harapan palsu padanya. Rasanya 100 kali lipat menyakitkan dibandingkan cinta bertepuk sebelah tangan.
"Hiks Hiks..."
.
.
"Hey kyu ! Kau tidak dengar ?"
"Apa ?"
Donghae tampak jenga melihat kyuhyun yang sedari tadi hanya melamun dan mengabaikannya yang tengah serius mendiskusikan sesuatu.
"Kau ini kenapa ? Aku tadi bertanya."
Kyuhyun menatap layar monitor laptopnya dan mengiharaukan donghae yang terlihat bersungut. Ia mencoba memfokuskan kembali otaknya pada laporan yang akan ia buat. Meski hati dan pikirannya masih tertuju pada Sungmin walaupun ia sudah mengatakan cinta pada gadis kelinci tersebut tak membuat kegundahan hatinya hilang begitu saja.
Prankkkk
"Apa itu ?" Donghae terlonjak dan refleks menghamburkan selembaran kertas ditangannya. "Aish !"
"Biar aku saja." Tawar Kyuhyun dan langsung beranjak dari tempat duduknya.
Perasaan tak enak mulai menghinggapi relung hati Kyuhyun. Semenjak kejadian sore tadi ia benar-benar tak tenang meski sudah mengungkapkan isi hatinya pada sungmin. Ia merasa ada yang salah dengan semua itu. Ya, dia tidak jujur dengan semua hal, ada bagian dimana dirinya sengaja membiarkan Sungmin melupakan ingatan buruk itu. Ingatan tentang ia mengatakan jika dirinya menyukai Taemin. Seharusnya ia mengatakan pada Sungmin tentang hal itu ketika gadis itu tak mengingatnya. Namun ia tak sanggup, dan membiarkannya berlalu tanpa ia tahu jika itu bisa menjadi bom dalam hubungan mereka nantinya.
Kyuhyun terperangah dan langsung menghampiri Sungmin yang tengah menangis tersedu-sedu memandang pecahan beling dibawahnya. Ia rangkul pundak Sungmin yang bergetar begitu hebat.
"Sungmin, kau baik-baik saja ?" Tanya Kyuhyun terlihat begitu khawatir.
Sungmin masih menangis dan menghiraukan Kyuhyun. Ia meraung kesakitan, bukan karena pecahan beling tersebut namun karena luka dihatinya yang terlalu parah. Sungmin bahkan tak tahu bagaimana menghentikan tangisnya.
"Hiks...hiks hiks"
Kyuhyun tampak kelabakan melihat reaksi kekasihnya tersebut yang semakin meraung seolah tengah sekarat. "Ya Tuhan katakan kau kenapa Ming ?" Kyuhyun raih jemari Sungmin dan memastikan jika gadis bermata foxy tersebut tak terluka karena goresan kaca tersebut. Tak ada luka bahkan darah hingga membuat Kyuhyun semakin bingung bukan main.
"Hiks...lepas !" Sungmin menyentak genggaman Kyuhyun dan membuat pemuda dingin tersebut kaget bukan main. "Kenapa ? hiks...kenapa kyu ?" Sungmin menutup wajahnya yang sudah tak lagi berbentuk karena tangisnya yang pecah.
Bom sudah meledak dan Kyuhyun sudah menduganya jika detik ini akan tiba. Dimana Sungmin mendapatkan potongan memorinya kembali. Kyuhyun hanya diam dan tak bergeming, ia merasa tak memiliki hak untuk berbicara untuk sekarang.
Rasanya ditusuk seribu pisau sampai membuat Sungmin tak mampu mengungangkapkan bagaimana rasa sakit itu. Sekujur tubuhnya lemas bukan main dan lidahnya terasa kelu.
"Sungmin-" Entah kenapa Kyuhyun merasakan lidahnya juga terlalu kelu untuk berkata dan yang keluar dari mulutnya hanya sepata kata nama Sungmin. "Maaf." Tambahnya begitu lirih.
Kyungsoo yang tak sengaja melewati dapur keluarga Cho tersebut pun ikut terkaget melihat sang kakak tengah menangis meraung dengan Kyuhyun yang berada disisinya tak melakukan apapun.
"Noona ? Hyung, apa yang kau lakukan ?" Kyungsoo dengan geram langsung menerjang tubuh Kyuhyun. Jangan sepelehkan kekuatan Kyungsoo dalam hal bela diri, mesti dia terlihat kecil dan lemah namun Kyungsoo ahli dalam urusan berkelahi terutama ilmu bela diri.
"Kyungsoo hentikan !" Jerit Lee Sungmin dengan pilu sambil menahan tangisnya. "Jangan lakukan, aku tidak apa-apa. Sungguh." Sungmin meraih sudut baju Kyungsoo dan menariknya.
"Lalu kenapa menangis Bodoh ?" Kyungsoo sungguh geram melihat tingkah Sungmin yang selalu bersikap baik-baik saja.
"Tidak papa. Aku hanya lelah.." Sungmin mencoba menstabilkan suaranya yang masih terdengar bergetar. "Tolong antar aku kekamar ku Kyung..." Sungmin masih melihat jika Kyungsoo benar-benar marah dan bersiap akan melayangkan tinjunya pada Kyuhyun. "Ku mohon.." Lirihnya.
Kyungsoo luluh dan melepaskan cengkramannya pada Kyuhyun dan memapah Sungmin kembali kearah kamar.
.
.
"Ya Tuhan Sungmin ! Apa yang terjadi Kyung ?" Kibum terlihat begitu panik melihat keadaan Sungmin yang masih menangis dan wajahnya terlihat sembab.
"Aku tidak tahu" Kyungsoo hanya mengedikan bahunya.
"Sungmin, katakan kau kenapa ?" Kibum terus memberondongi Sungmin dengan pertanyaan yang sama tanpa menghiraukan perasaan Sungmin saat ini. Ia hanya heran, bagaimana bisa Sungmin yang tadi ia lihat tengah tertawa kesintingan kini menangis meraung.
Semalaman akhirnya Kibum berusaha menenangkan Sungmin setelah Kyungsoo berpamitan dari kamar mereka. Kibum berusaha menenangkan Sungmin dengan memeluk sahabatnya tersebut berusaha memberikan ketenangan. Namun Sungmin masih bungkam dan merancau tak jelas semalaman hingga membuat Kibum diam tanpa berkomentar banyak. Meski ia ingin tahu alasan sebenarnya Sungmin menangis tapi ia urungkan bertanya dan lebih memilih diam mendengarkan keluh kesah Lee Sungmin.
.
.
*********CL*********
.
.
Tak jauh berbeda dengan Sungmin dan Kyuhyun, pasangan yang satu ini juga tengah menghadapi prahara yang cukup pelik dalam hubungan keduanya.
"Kau marah ?" Setelah beberapa menit bertatapan dengan Minho, akhirnya Taemin mengalah dan membuka suara terlebih dahulu.
"Apa ? aku ? Tidak." Jawab Minho begitu terlihat acuh. Taemin menatap begitu sedih akan sikap kekasihnya tersebut.
"Jangan begini, aku mohon minho." Taemin memeluk erat tubuh Minho namun tak ada reaksi apapun dari namja tersebut semakin membuat taemin begitu getir.
"Sudahlah, aku tidak marah sungguh." Jawab Minho dengan tenang sambil berusaha melepaskan pelukan Taemin. Bukan tidak suka, hanya saja ia merasa jika tempat mereka berpelukan terlalu terbuka meski memang tidak ada satu orang pun selain mereka disini.
Namun maksud Minho sepertinya tak tersampaikan dengan baik pada Taemin. Gadis bermata doe itu merasakan hatinya mencelos setelah mendapatkan penolakan halus dari sang kekasih.
"Kau-" Bibir Taemin tampak bergetar menahan tangisnya, ia sudah tidak tahan lagi dengan semua sikap Minho. "Kau selalu seperti itu. Apa kau masih memikirkan dia ?" Dengan sengaja Taemin menekankan kata 'Dia'.
Minho tampak tak senang dengan maksud Taemin yang masih membahas tentang hal itu.
"Ini tidak ada sangkut pautnya dengan itu !"
"Kau berbohong." Sangkal Taemin.
"Kau ini kenapa sih ? Kenapa menyebalkan seperti ini ?" Minho mulai tersulut dan seperti biasa pada akhirnya akan berujung pada pertengakaran mereka yang tak pernah tuntas dan kembali baik-baik saja. Itu yang membuat Taemin sakit hati. Minho selalu menghindar ketika mereka mulai membahas tentang itu. Tentang masa lalu mereka.
"Aku tidak tahan Minho ! Cukup, kau tahu aku tersiksa ! Aku hanya ingin kita-"
"Kau ingin kita berakhir ?" Tanpa menunggu Taemin menyelesaikan perkataannya Minho terlebih dahulu menyambung kata tersebut meski tak sejalan dengan apa yang akan diucapkan Taemin tadi.
Air mata taemin jatuh begitu saja seolah refleks dari hatinya yang ikut menangis. "Kau selalu mengatakan itu ? Apa kau tidak tahu, itu rasanya menyakitkan !" Taemin menjerit tak tahan dan melupakan image-nya yang terkenal begitu dingin. Orang diluar sana tak tahu saja jika Taemin hanya menggunakan sikap dingin dan anehnya sebagai tameng ketika tak sedang berada didekat Minho.
"Apa kau begitu ingin bersamanya ? Kau ingin berpisah karena kau ingin kembali bersamanya bukan ?"
Minho sudah menduga jika pertengkaran mereka pasti akan selalu berujung pada masalah kasus perselingkuhannya dulu. Minho sudah terlalu jenuh akan hubungannya dengan Taemin. Taemin yang selalu menaruh rasa curiga padanya itulah yang membuat hubungan mereka semakin renggang. Meski ia memang mencintai kekasihnya tersebut namun jika hubungan yang mereka jalani seperti ini terus menerus ia fikir sudah tidak akan ada jalan lagi selain kata perpisahan.
"Bukan, rasa percaya... Itulah alasan kenapa kita harusnya mengakiri hubungan kita sejak itu, kau sudah tidak memilikinya lagi pada ku min.."
Taemin menatap kearah mata Minho yang penuh kejujuran. Dari sekian tahun yang mereka lewati bersama, baru kali ini Minho mau bersikap terbuka terhadapnya namun mungkin ini juga akan jadi akhir dari hubungan mereka.
"Kau juga harus ingat, Sulli adalah sahabat kita yang kau buang." Lanjut Minho penuh dengan nada dingin yang begitu menusuk tapat dihati Taemin.
Taemin terduduk lemas dan menangis meraung melihat punggung Minho yang semakin menjauh meninggalkannya. Rasanya begitu lelah, menyimpan rasa sakit sejak dulu seperti membawa beban yang harusnya yang tak ia pikul sendiri namun Minho seakan mengatakan jika ini adalah kesalahannya.
Minho tak kalah terpukulnya dengan Taemin, namja yang terlihat urakan tersebut mengepalkan tangannya ketika ia terlihat bodoh. Dulu ia bahkan tidak bisa menyelamatkan persahabatan mereka dan membiarkan Sulli terbuang diantara mereka. Sekarang ia bersikap tengah membuang Taemin, gadis yang selalu ada untuknya dan sangat mencintanya. Gadis yang sangat takut kehilangnya.
Minho merenung menatap langit yang tampak cerah seolah mengejek dirinya seorang pecundang yang akan kelihangan segalanya.
Masih terpatri jelas dulu ia, Taemin dan Sulli adalah teman saat Junior High School. Awalnya ia memang sudah mengenal dekat Sulli karena mereka memang teman semenjak kecil berbeda dengan Taemin yang mereka kenal saat beranjak remaja saat itu. Sulli awalnya berteman dengan Taemin tapi karena seiring berjalannya waktu mereka bertiga akrab dan menjadi sahabat. Papatah itu mungkin benar, Tidak akan ada namanya persahabatan antara Lelaki dan Wanita. Ini juga yang mereka alami. Taemin yang sejak awal memang menaruh hati pada Minho namja urakan dan terlihat acuh pada sekitarnya. Namun bagai gayung tak bersambut, Taemin juga tahu jelas jika Minho menyukai Kim Sulli namun ia selalu berpura-pura tak melihat itu.
Sulli yang memang hanya beranggapan jika Minho itu sahabatnya tak pernah ambil pusing dengan sikap Minho yang memang kadang terlalu berlebihan terhadapnya karena ia berfikir jika sikap Minho hanya sekedar dari arti perhatian sebagai sebatas sahabat. Namun Taemin diam-diam terluka dan menyimpan rasa sakit itu sendiri. Sampai suatu ketika Sulli tidak sengaja menangkap sinyal jika Taemin menyukai Minho ketika Minho mendapatkan tantangan darinya untuk merayu seorang kakak kelas dan Taemin tampak tidak setuju dan berdebat dengannya.
Pada saat itu Sulli mencoba menyakinkan jika bukan hanya sekedar perasaanya saja dan dia mencoba menjebak Minho agar melakukan tantangnnya kembali yaitu menyatakan cinta pada Taemin. Awalna Minho menolak mentah-mentah karena menurutnya itu tidak masuk akal terlebih lagi mereka bersahabat. Namun karena bujukannya, akhirnya Minho menyetujuinya dan mereka dibuat tak percaya jika Taemin memang benar menyukai Minho. Minho kesal dan mengatakan jika ia akan memberitahu jika semua adalah tantantangan semata namun Sulli mencegatnya dan mengatakan jika Taemin adalah gadis yang tepat untuk mendampingi Minho.
"Jika itu Taemin, aku merestui kalian ! Minho-ya, Taemin sungguh menyukai mu."
Minho merasa kecewa saat itu namun seiring berjalannya waktu, ia benar-benar jatuh cinta pada sosok Taemin. Taemin yang begitu lembut dan tampak begitu sabar menghadapi tingkahnya yang urakan dan culas. Mereka bagai langit dan bumi, namun Sulli yakin jika Taemin adalah gadis yang tepat untuk melengkapi sisi buruk Minho yang berandalan.
Namun Taemin masih menaruh rasa sakitnya sendiri ketika melihat kedekatan Sulli dan Minho yang tampak begitu akrab. Meski ia dan Minho sekarang berkencan namun ia masih meresa jika hubungan mereka terlihat jauh lebih kaku dibandingkan mereka berteman dulu. Melihat kedekatan Sulli dan Minho malah semakin membuatnya beranggapan jika merekalah yang tengah berkencan.
Ditahun terkahir tingkat junior mereka masih terlihat akrab dan mereka masih bersahabat. Namun ada satu kejadian yang sampai saat ini yang tidak akan pernah Minho lupakan. Karena kejadian tersebut membuatnya kehilangan sahabat kecilnya sekaligus cinta pertamanya.
Saat itu Minho hanya berusaha mencoba menenangkan Sulli yang tengah patah hati karena gadis tomboy tersebut baru saja ditolak seorang namja. Minho yang selalu mempunyai kebiasaan mencium pipi Sulli ketika yeoja berpipi cubby itu menangis namun Taemin yang tidak sengaja melewati taman kompleks perumahan Minho dan Sulli melihat kejadian tersebut dan beramsumsi jika Minho tengah menghianati hubungan mereka.
Semenjak kejadian tersebut sikap Taemin berubah menjadi dingin seperti saat sekarang. Minho yang tak mengertipun hanya selalu kebingungan melihat Taemin yang selalu menghindari mereka.
Minho kehilangan sosok Taemin yang selalu berada disampingnya dan ia benar-benar rindu pada saat itu. Seperti ada ruang kosong dalam hatinya, begitu hampa. Minho mencoba mencari alasan dibalik sikap dingin Taemin terhadapnya dan bertapa terkejutnya Minho saat mengetahui jika Taemin sakit hati melihat Minho bermain dibelakangnya. Minho mencoba menjelaskan jika semuanya hanyalah kesalah fahaman semata namun Taemin tetap bersikeukeh dan membuat pilihan jika Minho harus memilih diantara mereka. Sulli atau dirinya.
Sulli memilih mengalah dan mengatakan jika hubungannya dan Minho lebih dari sekedar cukup saat ini. Tahun-tahun yang dilewatinya bersama Minho cukup baginya untuk menyimpannya dalam hati. Demi kebahagian Minho, Sulli rela jika dirinya harus mundur dan menjauh dari mereka. Minho menolak dan sekuat tenaga agar hubungan persahabatan diantara mereka bertiga tidak pecah namun baik Sulli dan Taemin sudah menentunkan pemikirannya tanpa mengetahui betapa kecewa dan hancurnya perasaan Minho saat itu melihat persahabatan mereka hancur begitu saja.
.
.
************CL************
.
.
Kibum menghela nafasnya melihat tingkah Sungmim yang tak ubahnya dengan mayat hidup. Mata foxy gadis ceria itu meredup dan tergantikan kantung mata panda. Kibum begitu miris melihatnya, meski ia begitu suka mengganggu Sungmin namun kali ini ia benar-benar tak berani mengganggu sahabatnya tersebut.
"Sungmin ?"
Sungmin masih tak bergeming dan masih menatap kosong kedepan hamparan sawah didepannya.
"Lee Sungmin ! Dasar tidak berguna ! Apa yang kau lakukan bodoh ?" Kangin yang kali ini geram melihat tingkah teman sekelompoknya tersebut yang tak melakukan apapun.
Meski dalam situasi canggung dan tegang seperti ini, mereka masih mengerjakan penelitian tersebut demi nilai yang akan mereka peroleh.
Kangin langsung menarik lengan Sungmin agar berdiri dan tidak berjongkok. Betapa terkejutnya Kangin melihat wajah Sungmin yang sembab tengah mengeluarkan air matanya.
"Kau-" Suara Kangin begitu tercekat.
"Jangan melihat ku seperti ini hiks..." Sungmin langsung menutup sebagian wajahnya dengan satu tangan.
Kangin perlahan melepaskan cengkaramannya dan betapa ia ingin memeluk Sungmin saat ini namun ia tidak bisa melakukannya. Ia begitu tampak seperti pecundang saat ini. Miris.
"Maaf, aku-"
Sungmin berbalik meninggalkan Kangin dan Kibum. Ia hanya tidak ingin orang lain melihatnya dalam keadaan seperti ini.
"Bodoh !" Umpat Kangin begitu keras sampai membuat Sungmin menghentikan langkahnya. Sungmin masih tak bergeming dari tempatnya, menunggu Kangin melanjutkan kata-katanya. "Sudah ku bilang, jangan menangis lagi karena orang itu. Karena itu kau bodoh dan aku tidak suka."
Sungmin begitu tercekat dan semuanya terasa keluh. Sudah tidak ada lagi pembelaan untuknya saat ini, mungkin Kangin benar. Dia terlalu bodoh, sudah terjatuh berkali-kali ditempat yang sama namun dirinya masih saja tak ingin bergerak. Betapa menyedihkan dirinya bahkan bagian tercekil didalam dirinya tertawa mengejek betapa lemah dirinya.
Kangin dan Kibum diam menunggu respon yang akan diberikan Sungmin, namun gadis kelinci tersebut hanya mengabaikannya dan berlalu begitu saja.
Kangin menghela nafasnya begitu kasar. Dia bahkan merutuki mulutnya sendiri kenapa bisa bertindak sejauh ini dan begitu jelas memperlihatkan isi hatinya dan lebih menyedihkannya ia hanya mendapatkan penolakan secara tidak langsung.
Sungmin terus berjalan tak menentu, pikirannya begitu kacau yang terpenting adalah menghindari orang lebih baik saat ini. Ia tidak ingin orang melihatnya tengah menangis seperti ini. Sungguh memalukan. Sesekali Sungmin menyeka air matanya agar tidak jatuh namun sepertinya air matanya jatuh sendiri tanpa bisa ia kontrol.
Tanpa terasa kakinya membawa kesuatu tempat beberapa hari lalu mereka kunjungi. Tempat dimana kenangan indah itu masih jelas terekam diotaknya. Tapi saat ini semuanya seperti terasa menyakitkan dan hanya palsu dimata Sungmin. Semua kata-kata Kyuhyun hanya sebuah kebohongan belaka. Sangat menyakitkan. Sungmin kembali terisak dan tubuhnya merosot menangis tersedu-sedu. Daun mapel berjatuhan diatas kepalanya seoalah menemani Sungmin yang ikut menitihkan air matanya.
.
.
1 Jam telah berlalu dan Kangin masih belum menemukan Sungmin dimanapun. Ya, Kangin mengejar Sungmin setelah beberapa menit yeoja kelinci tersebut berlalu dari hadapan mereka. Meski ia hancur sekalipun tapi entah kenapa hati kecilnya masih mengkhawatirkannya.
Nafasnya sedikit tersegal-segal efek berlari dari persawahan tadi sampai hutan seperti tempat ini. Ia begitu sangat takut jika yeoja ceroboh seperti Sungmin itu akan membuat masalah.
Kangin menghela nafas leganya karena melihat Sungmin yang berjalan mendekat kearahnya sambil menundukan wajahnya. Setidaknya Sungmin tak lagi menangis seperti tadi, itu sedikit membuat dirinya lega.
"Sungmin.."
Sungmin mendongak dan sedikit terkejut karena menemukan Kangin dihadapannya. Ia bertanya dalam hati apa yang tengah Kangin lakukan disini.
Tanpa banyak kata, Kangin langsung merengkuh tubuh mungil Sungmin sampai membuat sang empuh terkaget. Sungmin bahkan masih belum bisa mencerna apa yang tengah terjadi diantara mereka saat ini. Keduanya diam tanpa kata, Kangin masih setia memeluk Sungmin yang tak sama sekali memberontak mulai melepaskan pelukannya.
Sungmin merasakan getaran halus dihatinya mendapatkan perlakuan manis Kangin saat ini. Entah perasaan seperti apa ini, rasanya Kangin seolah datang disaat dirinya mulai lelah dan membutuhkan sandaran. Kangin selalu ada seolah menawarkan bahunya untuk menjadi sandarannya.
"Kajja..." Tanpa menunggu jawaban Sungmin lagi Kangin menggenggam erat jemari Sungmin dan menuntun gadis tersebut. Sungmin menatap bingung kearah tautan tangan mereka tanpa bisa berkata-kata lagi.
.
.
***********CL************
.
.
Kyuhyun berdiri diambang pintu gerbang kediaman Cho tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk. Dia bahkan sempat merasa gila dan berlari begitu saja saat mendengar penuturan Kibum yang mengatakan jika Sungmin masih belum kembali setelah gadis itu berlari dari persawahan tadi. Namun saat ini, dengan mata kepalanya sendiri melihat Sungmin dan Kangin saling menautkan tangan mereka dihadapannya. Rasanya seseorang tengah menggoreskan pisau dihatanya. Perih.
Sungmin dan Kangin masih menautkan jemari mereka tanpa mereka sadari jika dari kajauhan Kyuhyun tengah memperhatikan mereka berdua. Sungmin yang mulai sadar ketika samar-samar melihat wajah dingin Kyuhyun mulai merenggangkan tautan mereka. Kangin menolak dan semakin mengeratkannya.
"Kangin-ssi, lepaskan." Pintanya begitu memelas.
Kangin membulatkan tekadnya, takan melepaskan Sungmin saat ini. Dia akan mengatakannya dengan jelas pada Kyuhyun jika dirinya menginginkan Sungmin.
"Tidak, aku tidak akan melapaskannya."
Sungmin semakin bergerak gelisah ketika semakin mendekat kearah Kyuhyun. Namun Kyuhyun tak sedikitpun bergerak menghalangi langkah mereka. Membiarkan mereka berlalu begitu saja. Sungmin terluka atas sikap kekasihnya tersebut dan hampir kembali menitihkan air matanya.
'Kenapa jadi seperti ini Kyu ?' Sungmin membatin pilu.
.
.
Sungmin kembali termenung ditempat perbaringan kayu dibelakang rumah kediaman Cho tersebut. Ia sudah tak bisa lagi menangis seperti beberapa hari lalu. Tampaknya airnya matanya habis atau terlalu lelah hingga membuatnya tak bisa lagi menangis.
Ia memikirkan sikap Kangin terhadapnya yang begitu lembut. Ia benar-benar tak mengerti kenapa Kangin harus sampai bersikap seperti itu, bukankah Kangin begitu membenciya kenapa namja rakun itu harus bersikap baik terhadapnya.
Sungmin dibuat frustasi dan mengacak kasar rambut ikalnya. "Ah benar-benar membuat ku gila." Umpatnya.
.
.
Hari ini merupakan hari 7 mereka berada dipulau heuksan. Rasanya terlalu panjang dan melelahkan bagi Sungmin. Ingin rasanya ia kembali ke seoul dan berbaring diranjang kesayangannya tanpa bertemu halmoni yang setiap hari memarahinya. Terlebih lagi ia tidak ingin bertemu dengan Kyuhyun dan Taemin. Melihat wajah mereka selalu membuat mata dan hatinya menjadi perih tanpa sebab. Bahkan beberapa hari ini ia jarang sekali bertemu dengan Kyuhyun walau mereka saat ini berada dalam satu atap.
Entah disengaja atau tidak, mereka selalu berselisih waktu dan kelompok mereka bahkan tak melakukan satu tempat untuk melakukan observasi lagi.
"Hey Sungmin, cepatlah. Hari sudah sore !" Teriak Kangin dari sisi lain.
Sungmin memutar kepalanya sedikit agar menghadap Kangin. "Oh !" Tentang hubungan mereka, Sungmin dan Kangin tampaknya semakin membaik. Kangin sudah tak lagi berbuat jahat terhadapnya dan bahkan melakukan kebalikannya hingga membuatnya semakin bertanya-tanya.
Sungmin semakin bergegas menyelesaikan tugasnya namun seketika pandangannya tercekat melihat dari kejauhan kelompok Donghae tengah menghampiri mereka.
"Oi !" Teriak Donghae dari kejauhan menyebrangi tanggul sawah tersebut. Sedangkan Taemin dan Kyuhyun berjalan dibelakangnya.
Sama seperti Kyuhyun dan Sungmin, hubungan Taemin dan Minho juga tak jauh berbeda saat ini mereka tengah berperang dingin semenjak kejadian beberpa hari lalu. Dan Minho tak tampak diantara mereka semua karena ia tidak ingin membuat suasana semakin canggung dan pemuda jangkung tersebut memutuskan untuk berjalan-jalan bersama Kyungsoo.
"Hae, apa kau sudah cukup mengumpulkan data ?" Tanya Kibum saat mereka tengah beristirhat di gubug terdekat.
Percakapan tersebut kemudia berlanjut dan tanpa mereka sadari jika Sungmin dan Taemin tak ikut serta dalam percakapan mereka.
.
.
Taemin menghampiri Sungmin yang tengah sibuk melakukan sesuatu. Sungmin sebenarnya sadar jika Taemin tengah berdiri disampingnya, namun ia hanya menghiraukannya saja. Ia tidak ingin bertemu apalagi berbicara dengan Taemin saat ini. Ia masih belum bisa menerima kenyataan jika Kyuhyun lebih menyukai Taemin dibandingkan dirinya. Wajar saja dia sakit hati.
"Sungmin-ssi, bisahkan kita berbicara sebentar ?"
Sungmin menghentikan kegiatannya dan berdiri. Sungmin menatap dingin kearah Taemin dan berlalu begitu saja tanpa berniat menjawab Taemin. Taemin dengan sigap mencekal lengan Sungmin. Jika bukan karena kata-kata Kibum yang membuatnya tersentuh mungkin ia tidak akan sadar jika dibandingkan dirinya masih ada seseorang yang lebih terluka.
"Sungmin adalah sahabat ku, meski aku sering membuatnya kesal tapi ketika melihatnya menangis, itu membuat ku jauh lebih marah. Saat ini, tidak ada orang yang bisa menyakinkan lagi dibandingkan dirimu Taemin-ssi. Tolong kau fikirkan orang disekitar mu juga."
"Itu tidak ada urusannya dengan ku."
"Seumur hidup mu, apa kau tidak pernah perduli dengan orang lain ? Kau seharusnya tahu jika Sungmin, selama ini sudah terlalu banyak melewati kesakitan. Kau, apa kau tahu jika Sungmin sudah sejak lama mengetahui jika Kyuhyun banyak menyukai mu dibandingkan dirinya."
"Sungmin..."
Taemin ingat dengan jelas perkataan kibum tersebut. Dari situlah ia mengerti jika dibandingkan dirinya Sungmin memang jauh lebih menyedihkan. Taemin bahkan merasa seperti bercermin, Sungmin dan dirinya seperti memiliki kesamaan.
"Dengarkan aku-" Taemin mecekal keras lengan Sungmin. "Beri aku waktu untuk berbicara." Bujuknya.
Namun Sungmin masih bersikeukeh menolak menatap dan berbicara dengan Taemin untuk saat ini. Gadis kelinci tersebut lebih memilih beranjak meninggalkannya. Tak perduli, yang ia inginkan saat ini adalah menjauh dan tak melihat wajah Taemin. Sungguh menyakitkan.
Taemin sedikit gusar namun gadis berwajah dingin tersebut juga tak hilang akal. Dia terus mencoba mencegat Sungmin. "Kita har...akrhhhh"
Jerit refleks Taemin lantang ketika Sungmin tak sengaja terlalu keras menepis tangan Taemin hingga membuatnya limbung dan terjatuh diantara lumpur persawahan yang baru saja ditamani tanaman padi tersebut.
Sungmin terkaget karena tindakannya tersebut. Ia benar-benar tak sengaja melakukannya. Tanpa perduli apapun Sungmin langsung ikut menceburkan dirinya diantara lumpur basah tersebut.
"Taemin...Taemin kau baik-baik saja ?" Sungmin mengoyangkan badan Taemin yang terlihat hanya diam saja. Taemin tak sadarkan diri. Dan betapa terkejutnya Sungmin ketika melihat ada darah yang merembes dari sebelah kepala Taemin. Ia menangis dan menjerit sejadinya meminta bantuan.
Ia tak akan menyangka jika semua menjadi semakin buruk seperti ini, niatannya hanya ingin menghindari Taemin tetapi malah sekarang membawanya kemalapetaka.
Kibum, dan lainnya yang mendengarkan jeritan lantang tersebut langsung bergegas menghampiri sumber suara tersebut. Mereka tak kalah terkejutnya dengan Sungmin beberapa saat lalu. Ia melihat Sungmin yang tengah berusaha memangku tubuh Taemin yang terkena lumpur dan kepalanya bercambur darah segar.
Dengan sigap Kyuhyun langsung merengkuh tubuh Taemin dan bergegas. Untuk saat ini nyawa Taemin jauh lebih penting. Mungkin semua akan sependapat dengannya.
.
.
********CL********
.
.
Tak henti-hentinya Sungmin menangis, ia begitu merasa bersalah. Jika saja ia tidak sekeras kepala tadi. Jika saja ia mau berbicara dengan Taemin, mungkin Taemin tidak akan seperti ini. Berujung didalam ruang operasi. Benturan dikepalanya cukup lumayan serius. Dokter mengatakan jika Taemin memerlukan operasi.
Semua menunggu didepan ruang UGD tersebut dengan wajah ketar-ketir. Tampak Minho yang setengah frustasi dan mengacak rambutnya kasar mengkhawatirkan keadaan Taemin saat ini.
Rasanya baru kemarin mereka bertengkar, namun sekarang ia melihat jika Taemin tengah sekarat berjuang antara hidup dan mati. Ia sekarang begitu takut jika tak bisa melihat lagi kekasihnya tersebut. Ia berjanji dalam hatinya ia tidak akan menyakiti Taemin lagi jika Yeoja tersebut selamat dan sadar. Selamanya Minho akan menjaga Taemin, janjinya dalam hati.
Tak jauh dari mereka, Kyuhyun tampak bersender pada tembok rumah sakit tersebut tengah memikirkan sesuatu. Dahi Kyuhyun sampai berkerut karena memikirkan hal tersebut. Ia menjadi sinting dan menduga-duga karenanya.
Sekilas Kyuhyun melirik kearah Sungmin yang tengah menangis tersedu-sedu dipelukan Kibum. Kyuhyun menghela nafas kasarnya. Ia harus bertanya sekarang jika ingin menuntaskan semua keingin tahuannya.
"Sungmin..." Kyuhyun mengulurkan tangannya agar Sungmin sambut. Sungmin hanya mendongak sekilas dan tak langsung menyambutnya. Kyuhyun memanggil namanga sekali lagi dan akhirnya Sungmin mengikuti kemauan Kyuhyun.
"Minumlah..." Kyuhyun memberikan sebotol air mineral setelah mereka menjauh dari dari ruang UGD tersebut. "Tenang dan minumlah..." Bujuk Kyuhyun sekali lagi.
"Aku tidak haus...hiks..." Bahu Sungmin kembali bergetar. Bagaimana bisa ia minum ataupun memakan sesuatu ketika seseorang disana tengah berjuang antara hidup matinya karena dia.
Tangan Kyuhyun terulur hendak merengkuh bahu Sungmin kedalam pelukannya namun ia urungkan niatnya dan berpindah menyentuh pucuk kepala Sungmin kemudian membelainya dengan sayang. Rasanya ingin sekali memeluk gadis didepannya tersebut tapi rasanya ia tak bisa dan tak pantas setelah semua apa yang ia lakukan terhadap Sungmin.
Tapi satu hal yang Kyuhyun tidak mengerti kenapa sampai terjadi hal seperti ini. Terlebih lagi Taemin melirihkan nama Sungmin sebelum gadis pendiam itu tidak sadarkan diri. Kyuhyun mempunyai fikiran jika Sungmin yang melakukannya. Mengingat dulu Sungmin memang kerap membully beberapa yeoja yang mendekatinya.
Kyuhyun masih bergulat dengan fikirannya namun ia harus memastikannya sendiri dari mulut Sungmin. "Apa yang terjadi sebenarnya ?"
Sungmin menatap mata onyx milik Kyuhyun. "Aku hiks...tidak tahu...semuanya terjadi begitu saja hiks..."
"Kenapa kau melakukannya Sungmin ?" Kyuhyun menatap kecewa atas jawaban yang Sungmin berikan seolah semua mempertegas praduganya. Jika semua benar, maka Kyuhyun benar-benar kecewa.
"Apa ?"
Secara perlahan Kyuhyun menghentikan belaiannya dari atas kepala Sungmin. "Katakan, apa kau yang melakukan semua ini ?"
Tatapan Sungmin seketika meredup, ia mungkin tak secara langsung menjadi penyebabnya tapi tak sedikitpun diotaknya ada niatan seperti itu. "Aku tidak melakukannya, sungguh bukan aku." Rasanya pelupuk matanya penuh akan air mata yang siap turun begitu saja.
"Kau selalu bertindak seperti ini, rasanya sudah terlalu melelahkan. Bisakah kau berhenti melakukan ini semua ?"
"Sungguh bukan aku, aku juga tidak tahu." Bela Sungmin dengan derai air mata.
"Aku tahu," Rasanya terlalu sulit untuk mempercayai Sungmin saat ini. "Seharusnya aku mengatakan ini sebelumnya, agar tidak terjadi hal ini."
DEG
Hati Sungmin serasa mencelos menunggu kelanjutan kata-kata Kyuhyun. Seakan bom yang siap meledakan hatinya dan membuatnya hancur seketika.
"Kyu-"
"Baiknya memang kita akhiri saja..."
Keduanya terdiam untuk sesaat, saling menatap dengan pandangan terluka. Kyuhyun tak sanggup jika terlalu berlama dengan Sungmin dan memutuskan lebih dahulu melenggang.
Rasanya dunia runtuh seketika dimata Sungmin. Tak ada kata yang lebih menyakitkan lagi selain kata perpisahan tersebut.
Sungmin bergerak mengejar langkah Kyuhyun. Dengan ketidak warasannya, Sungmin memeluk tubuh namja yang beberapa saat lalu telah memutuskannya tersebut dari belakang. Sungmin benar-benar sinting dan berharap Kyuhyun akan kembali padanya jika ia merendahkan harga dirinya.
"Aku...aku bersalah hiks...Aku bersalah, aku yang melakukannya. Jadi kumohon, jangan berpisah dengan ku. Maafkan aku Kyuhyun...ku mohon..." Sungmin meraung menangis dipunggung Kyuhyun. Namun namja Stoic tersebut tak berkata sepatah apapun setelah Sungmin mati-matian merendahkan harga dirinya mengaku bersalah atas tindakan yang tidak pernah ia buat.
Kyuhyun perlahan melepaskan jemari Sungmin yang melingkar kuat diantara perutnya dengan perlahan. Rasanya hatinya sudah tak lagi bisa dikembalikan seutuhnya. Semuanya telah hancur dan tak mungkin kembali utuh. Rasa lelah sudah mendera hati dan pikirannya. Bahkan tubuhnya tak bisa lagi berusaha menahan lebih lama lagi Kyuhyun. Ia menyerah dan mungkin sudah saatnya ia melepas Kyuhyun.
Tubuh Sungmin merosot begitu saja dan dapat ia rasakan betapa dinginnya lantai rumah sakit tersebut. Ia kembali menangis meraung melihat punggung Kyuhyun yang semakin menjauh dan tak akan mungkin kembali padanya. Rasanya lubang dihatinya semakin membesar.
.
.
TBC
Hehehh nongol lg XD
Maaf ya kalo chap ini gk dapet feelnya...Aku gk tau kenapa pas pertengahan agak blank...
Akhirnya...Mereka Putus juga XD *siap" daftar jd pacar kyu *digaplok min mom...
Kekekk gk kerasa 2 Chp lg end yawwww...Tenang aja gk ush ada yg protes knpa mereka putus XD ntr bakal tau kok end.y gmna...
Sorry ni selalu telat updet berhubung wktu istrh aku yg emang gk memadai...jd mohon kerja sama.y :(
Dan maksh yg msh nunggu kelanjutan ff ku ini ^^
Buat tau kapan aku updet aku sering share info.y d FB ku...ok sekian cuap"y
See next Chap...
Give me ripyu ?
